Friday, March 11, 2005

Perjalanan Cinta Penuh Konflik: Bag1

Cinta, selalu ada dalam kehidupan manusia. Cinta bisa membuat hari menjadi indah, cinta terkadang juga membuat sebuah hari menjadi tak menentu, aneh dan membawa derita dengan beban rasanya.
Bandung, 2004
Entah cinta atau bukan yang Yow rasakan, ketika berkenalan dengan seorang wanita disebuah taman. Taman Ganesha.
Yow duduk di taman, sambil makan batagor, lagi mikirin pengurusan KP yang tak kunjung usai. Disebelah ada seorang wanita manis lg duduk sendirian, sambil nulis. Iseng, yow bertanya.
”Lg ngapain Mbak?”
“Lg nulis”
“Wah asik ya, nulis di taman yang banyak pohon rindang gini, bisa dapet banyak inspirasi nih. Emang nulis apaan?”
“Mm, nulis tentang kehidupan, banyak yang ga aku ngerti, bikin aku bertanya-tanya.”
“Berat nih, kehidupan. Kehidupan itu ga akan bisa selesai dibahas dengan pemikiran sekian menit kaya gini lagi. Terlalu luas. Kita harus banyak belajar dulu, sebelum bisa mendefinisikannya dengan baik. Paling sekarang kita Cuma bisa melihat hidup dari sebuah sudut pandang yang masih dangkal dan selalu masih butuh penyempurnaan.” (damn!! Kenapa gw jadi ngomong berat-berat gini di depan cewe?)
Brol diobrol obrol akhirnya si cewe curhat dan yow memberikan beberapa masukan yang sok sok bijak sekali.
Brol diobrol obrol, akhirnya terjadi perkenalan.
“Yow sipil 2001”
“Iren (bukan nama sebenarnya) Biologi 2001”
Brol diobrol obrol lagi akhirnya terjadi tukar meukar alamat email dan friendster…
Sekian hari berlalu, Yow berangkat ke Surabaya untuk menjalani masa-masa kerja praktek (akhirnya), dan tetap menjalin komunikasi dengan Iren,
Diketahui: Bahwa Iren telah memiliki pacar dan sedang bermasalah dengannya,
Ditanya: Apakah yang akan terjadi berikutnya?
Sebulan kemudian, saat Yow sedang menikmati masa-masa kuliah kembali setalah masa-masa berat di Kerja Praktek, tiba-tiba terdengar nada sms masuk.
Read: “Yow, gi ngapain? Mo makan siang bareng ga?”
Send: “Oke, abis sholat jumat aja ya, ktmu di taman aja”
Read: “Oke, ditunggu ya”
Yow sholat jum’at dalam keadaan riang gembira. Jarang-jarang nih, ada cewe, anak biologi lagi, ngajakin makan siang bareng. Beberapa teman segeng yang sholat jumat bareng, ngajakin makan bareng.
“Wah sori, gw lagi ada urusan nih. Kalian duluan aja.” Dengan sok diplomatisnya Yow mengelak, ekspresi wajah menunjukkan tidak ingin ditanya lebih jauh. Misteri bagi teman-temannya.
Bertemu dengan Iren di taman. Kemudian berjalan bariringan, menuju kantin timur laut. Di pinggir taman, mata Yow menangkap sesosok bayangan, yang seperti memperhatikan mereka. Pandangannya aneh.
Yow dan Iren berjalan melewati lapangan basket, sambil bercerita.
“Iren, kabar cowonya gimana?”
“Udah putus ko.”
“Oh” (dalam, penuh makna)
Berjalan menuju departemen informatika, ketika di depan himpunan mahasiswa If, tiba-tiba sebuah tepukan di bahu mengagetkan Yow. Disusul suara berdesibel tinggi.
“Hoy, lo siapa??”
Yow berbalik, menatap seorang pria sebaya yang keliatan begitu emosi. Sesosok bayangan samar yang dilihatnya tadi. Iren ikut berbalik, mendapati mantan pacarnya ada disana. Refleks Yow menjulurkan tangan.
“Gw, Yow, kenalan dong. Lo siapa?”
“Gw cowonya Iren, ngapain lo ama cewe gw?” Dijawab dengan ketus.
Beberapa orang berlalu lalang seperti tidak terjadi apa-apa, tapi suasana ramai disana membuat Yow merasa seperti seorang penjahat yang telah merusak sebuah rumah tangga bahagia dan segera akan mendapat kutukan, menjadi bakwan. Respon saraf menginstruksikan agar tetap tenang, dan bersikap cool seperti biasa.
“Oh, kita berdua mo makan siang, Mo ikut? Tapi, bukannya kalian udah putus?”
“Apa urusan lo, gw ga suka ngeliat lo jalan ama dia” Nyolot
Iren keliatan bingung. Ekspresi bersalah seolah-olah telah memicu perang dunia ketiga.
“Loh, bukannya kalian sudah putus?” Kebingungan, yang bisa bikin seorang wiro sableng menggaruk-garuk kepalanya, seekor kucing menggaruk-garuk karpet dan seekor monyet menggaruk-garuk pantatnya.
“Gw ama dia baru putus dua minggu, Lo ngajak ribut ya?” Dengan tangan dikepal dan siap diaktifkan. Beberapa orang yang tadinya tidak peduli, menyiratkan ekspresi menyimak setiap episode menjelang sebuah pertempuran.
“Sudah, sudah, Iwan, jangan berantem.” Iren menenangkan mantan pacarnya.
“Gw ga ngajakin ribut ko. Gw malah ngajakin lo makan bareng tadi. Gini aja, klo emang lo mau, kita selesaiin ditempat laen, yang sepi, jangan disini, disini rame!” Yow mulai terpancing jiwa kelelakiannya. Harga diri. Yang akan berkurang drastis saat diketahui khalayak ramai, bertarung demi merebut mantan pacar orang, yang masih merasa dimiliki oleh orang ybs. Disebuah keramaian.
“Lo nantangin gw ya?” Siap beraksi.
“Sudah! Sudah! Iwan sudah!!!” Iren melerai ditengah-tengah. Tangis segera akan meledak.
“Awas lo ya! Klo masih jalan ama dia!” Makhluk dengan inisial Iwan itu mengancam seraya membalikkan badan, berjalan menjauh, tapi belum pergi, masih menunggu situasi yang akan berlanjut. Iren berjalan menyusulnya, sepertinya menjelaskan apa yang terjadi. Kemudian berjalan kembali kepada Yow.
“Sori ya Yow, aduh gimana nih, Iren jadi ga enak..”
“Iren, sebenarnya ada apa sih? Klo kalian punya masalah, sebaiknya selesaikan dulu berdua, jangan malah ngelibatin orang lain diantaranya.”
“Aduh, sori ya Yow... gimana nih, makan siangnya lain kali aja ya...”
Wah, terancam nih jadwal makan siang gw.
“ya udah deh, kmu selesain aja dulu masalah ama dia. Kapan-kapan aja kita makan siang bareng.”
“Iya, sori banget ya Yow…Aku duluan aja ya” Iren pergi ke arah pulang. Dalam dilema. Yang seorang wanita biasa, akan segera melepaskan bebannya dengan tangis.
Yow pergi ke arah lain, dalam dilema. Berpapasan dengan mantan pacarnya Iren, beradu pandang dengan seorang emosian, yang menatap dengan tatapan “awas lo!” Yang kemudian pergi juga kearah lain , dalam dilema juga. Tiga orang berjalan ke arah yang berbeda, dalam dilema.
Untuk mencari sebuah kebenaran, atau mencari siapa yang salah, sepertinya terlalu sulit. Semua benar secara relatif. Seorang wanita yang mencari pelarian setelah putus dengan pacarnya, seorang pria yang mencari eksistensi dengan mempertahankan cintanya, seorang pria lain yang mencari jawaban kenapa harus terlibat dalam sebuah persoalan seperti ini. Ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Intinya sih, jangan pernah makan siang bareng dengan seorang wanita yang tidak diketahui dengan pasti statusnya, kalau tidak mau menerima tepukan dari belakang dan sebuh pertanyaan “Lo siapa?” (dangkal ya kesimpulannya). Meskipun dangkal, tapi peristiwa seperti itu bisa membuat dongkol selama seharian. Benar-benar dongkol, sembari berusaha mencari jawaban, “kenapa, kenapa, kenapa?”

1 comment:

  1. “Iren, sebenarnya ada apa sih? Klo kalian punya masalah, sebaiknya selesaikan dulu berdua, jangan malah ngelibatin orang lain diantaranya.”

    see, bahkan dulu awak ga mo jadi orang yang ngerebut pacar orang lain.

    ReplyDelete