Sebuah perjalanan dimulai dari sebuah pemikiran, sebuah pemikiran membuat kita bisa memanfaatkan hidup, hidup menuntut kita untuk terus menggali makna yang terpendam didalamnya. Disini kita mencoba menggapai sebuah legenda....

Saturday, December 26, 2009

When a man lost a woman

Tanyakan pada laki-laki itu tentang duka
akibat perpisahan, dia tidak akan menjawab apa-apa,
kecuali saputan mendung di wajahnya.
Tanyakan pada laki-laki itu perihnya pengkhianatan,
kau akan melihat kedua tangannya terkepal
dan rahangnya mengeras karena amarah.
Tanyakan pada laki-laki itu pedihnya kehilangan orang
yang disayang, dia masih bertahan dalam bisunya
tapi air matanya tak sanggup ditahannya lagi.
Tetapi… coba tanyakan padanya, mengapa sudi
dipecundangi cinta. Yakinlah, laki-laki itu pasti tertawa.
Menertawakan pertanyaanmu yang dianggapnya bodoh,
lalu berkata, “Kalau kau pernah mengecap cinta,
kau tak akan pernah bertanya,”

Dari bukunya ita sembiring

Tuesday, December 15, 2009

Perjalanan menyambut kenangan dan mengusir mimpi


Di pantai ini, di atas batu besar yang mengelilingi pantai aku menulis memoar perjalanan singkat ku. Perjalanan untuk memperjuangkan cintaku. Perjalanan yang hanya bisa sampai pada kenangan dan berakhirnya mimpi-mimpi. Sementara angin yang berhembus sejuk dan bebunyian sahdu ombak yang memecah pantai hanya bisa membuat dadaku terasa semakin sesak.

Kemarin siang aku mendarat di pulau ini. Pulau yang indah, taksi mengantarkanku sampai jalan sekitar rumahnya. Dia tak pernah memberikan alamat rumahnya. Berbekal sebuah foto yang aku punya dan suara yang pernah kudengar waktu menelponnya aku mencari kesana kemari menenteng tas yang beratnya mungkin mencapai sepuluh kilo. Berkeliling hingga akhirnya aku menemukannya. Dia tidak ada di tempat, entah kemana. Padahal dia sudah mengetahui perihal kedatanganku.

Aku beritahukan keberadaanku dan aku menunggunya selama hampir dua jam. Perutku terasa sangat lapar karena belum makan dari pagi, asam lambungku naik. Hingga aku dengan memelas meminta makan dari pemilik rumah tempat aku menunggu karena untuk berjalan ke tempat lain sudah tak ada tenaga ku.

Pada akhirnya dia datang, aku melihat tatapannya kepadaku berbeda sekali dengan tatapan yang dulu pernah aku kenal. Tak ada senyum yang biasa terangkai di wajahnya. Jantungku berdegup kencang, dia semakin cantik, lebih gemuk daripada dulu, dan terlihat berbeda dari yang pernah aku kenal.

Aku datang menyusulnya ke tempat kos, lalu kusalami. Dia menanyakan kabarku, dan aku bilang aku baik-baik saja. Padahal belum pernah aku merasakan keadaan setidak baik ini, mengingat hubungan selama empat tahun sebentar lagi mungkin akan menemui jalan buntu.

Kami duduk di teras dengan dua kursi biru yang terpisah meja berwarna hijau, sejauh sekitar satu meter. Dia mulai berbicara, aku mendengarnya. Dia menceritakan kesepian dan kesedihannya. Aku mendengarkannya, dan aku selalu menjadi pendengar yang baik baginya. Aku tak pernah memotong perkataannya dan selalu menanyakan kelanjutan ceritanya.

Dia menceritakannya dengan lirih, dengan hanya menunduk kebawah. Sementara aku menatapnya lekat-lekat tak ingin membuang satu momen pun darinya. Semakin lama kata-katanya semakin pelan, sehingga aku beringsut mendekatkan kursiku pada kursinya. Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan menghardikku untuk tidak melakukan itu. Aku pun menurutinya, memundurkan kembali kursiku. Saat itu aku merasa seperti binatang yang membawa najis padanya yang apabila terkena harus dicuci menggunakan pasir sebanyak tujuh kali. Perasaan dan harga diriku terluka, tapi aku diam saja.

Dia mengatakan bahwa dia sudah tak punya perasaan untukku. Dadaku sesak mendengarnya. Kukatakan bahwa aku masih sangat mencintainya. Lalu kutanyakan padanya apakah ada laki-laki lain yang sedang dekat dengannya. Dia mengatakan ada beberapa yang medekatinya, dan akhirnya ada satu orang yang berhasil membuatnya merasa nyaman sejak sebulan terakhir. Sementara selama setahun ini aku tak ada di sisinya. Sakit sekali hatiku mendengarnya, ternyata selalu saja ada orang ketiga yang menjadi penyebab berakhirnya sebuah hubungan. Tapi aku menanggapinya dengan tegar. Kukatakan padanya bahwa aku bersedia menunggunya. Bila hubungan dia dengan laki-laki itu tak berhasil, aku akan menerima dia kembali. Aku mengatakan bahwa aku berharap dia bisa mendapatkan laki-laki yang mencintainya lebih daripada aku mencintainya. Laki-laki yang bisa memperjuangkannya lebih daripada perjuanganku untuk mempertahankannya saat ini. Karena ku akui, bukanlah hal mudah untuk mempertahankan hubungan dengannya hingga empat tahun ini karena fluktuasi sikapnya. Aku selalu bersabar, memaafkannya, dan sangat mencintainya.

Dia mengatakan bahwa aku terlalu membesar-besarkan perasaan cinta. Dia bilang nanti juga cinta itu bisa hilang dengan sendirinya dan aku akan mendapatkan penggantinya. Padahal dulu dia sangat sering menanyakan kepadaku, apakah aku benar-benar mencintainya. Saat aku mengungkapkan perasaanku yang sebenar-benarnya ini, dia malah tak menghendakinya. Waktu memang bisa sangat kejam dalam membolak-balik perasaan manusia. Aku hanya diam mendengarkan perkatannya yang pelan tapi menyakitkan itu.

Dia mengatakan bahwa laki-laki sepertiku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya. Aku hanya menterjemahkan bahwa laki-laki sepertiku tak cukup baik untuk bisa mendapatkan dirinya. Dia telah kehilangan perasaannya padaku dan memberikannya pada orang lain. Aku menyadari, sedikit banyak hal ini akibat salahku sendiri, yang tak selalu bisa menghiburnya, tak selalu bisa menemaninya, tak bisa menemuinya selama satu tahun ini, tak bisa mengambil hati ibunya, hingga pada akhirnya aku tak bisa menjaga hatinya. Tapi tentu saja aku bukan tak berusaha untuk itu, aku selalu berusaha dengan usaha terbaikku untuk membahagiakannya dan tak pernah ingin menyakitinya walau sedikit saja. Tapi aku tetap merasakan kegagalanku, aku terdiam seperti anak kecil yang dimarahi ibunya, dan hanya menunduk menyesali mengapa keadaan ini bisa terjadi. Aku meminta maaf atas semua yang sudah kulakukan. Aku menunduk.

Dia sempat menanyakan kepadaku, apa menurutku yang sebaiknya dia lakukan. Aku hanya diam, tak bisa berkata-kata. Kalau aku menjawab dia harus kembali kepadaku dengan perasaannya yang sudah tak ada lagi, maka aku tak lebih dari seorang egois hina yang hanya mementingkan diri sendiri. Bila aku menjawab dia bisa pergi dan mencoba hubungannya dengan laki-laki lain dan membiarkan aku pulang dengan perasaanku ini, maka aku hanya akan menyakiti diri sendiri. Aku tak sanggup mengatakan itu. Aku sama sekali kehilangan ide untuk menjawab pertanyaannya. Aku hanya bisa berharap perasaan itu bisa kembali kepadanya atau masih bisa berjuang untuk mendapatkan perasaan itu kembali. Meskipun jauh dari dasar hatiku aku berharap dia bisa mendapatkan kebahagiaannya yang sejati, meskipun tidak bersamaku.

Setelah bebarapa lama, dia memintaku untuk pulang. Karena dia rasa semua ini sudah berakhir. Padahal aku masih ingin mendengarnya, masih ingin melihatnya, ingin menyentuh tangannya, masih ingin mencintainya. Masih ingin membuka lembaran baru dan memperbaiki semua yang telah terjadi. Dia memintaku pulang, aku tak kuasa menahan beban rasa ini. Aku mengatakan bahwa selama hampir setahun kita tak bertemu dan dia bahkan tak bisa membiarkanku sedikit saja mengobati rasa rinduku ini. Rindu untuk berada di dekatnya. Berada di dekatnya untuk satu atau dua detik lebih lama saja. Aku tak sanggup menahan air mataku. Aku seperti anak kecil yang tak tahu cara lain mengungkapkan perasaan kecuali dengan air mata. Aku menunduk tersedu. Aku hanya akan menjadi seorang yang tercampakkan dari kehidupannya.

Akhirnya aku berpamitan pulang. Aku tak pernah ingin memaksakan kehendakku. Aku mencari penginapan seorang diri dengan membawa bebanku. Perutku terasa sakit kembali. Aku berkeliling mencari makan. Aku makan beberapa sendok dan segera kehilangan seleraku. Aku berkeliling lagi seorang diri, tak ada siapa-siapa temanku di kota ini, aku kesepian sekali. Kulihat ada wanita-wanita malam di pinggir jalan, sempat terpikir untuk meminta mereka menemaniku. Tapi kubuang lagi jauh-jauh pikiran itu. Akhirnya aku pulang ke kamarku. Sakit lambungku datang lagi, aku putuskan untuk mencari makan lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku memesan nasi goreng seafood, makan beberapa suap dan tak sanggup menelan suapan selanjutnya. Kuminum obatku beberapa pil sekaligus.

Di depanku kulihat ada pasangan yang sedang makan sambil bermesraan. Mereka saling mencintai kupikir. Sah-sah saja jika mereka sedang berbahagia. Dadaku kembali sesak, mendapati diriku yang tak berbahagia dengan cinta yang telah kujaga selama hampir empat tahun lamanya. Betapa tak adilnya perasaan ini. Betapa cinta bisa berkuasa mempermainkan manusia. Aku laki-laki melankolis sentimentil yang katanya terlalu mengagung-agungkan perasaan cinta. Kuputuskan untuk pulang. Tidur adalah penyelesaian yang terbaik untuk permasalahanku ini.

Pagi-pagi sekali aku bangun. Kemarin sempat kuajak dia mengunjungi pantai parai, tetapi dia menolaknya. Jadi kuputuskan untuk pergi sendirian menggunakan sepeda motor. Kupacu motor dengan kecepatan tinggi. Angin yang menerpa kencang membuatku merasa lebih baik. Ditengah jalan perasaan sentimentil ku kembali datang. Aku sangat mengingat pesannya dulu, jika aku ke kotanya maka dia akan mengajakku ke pantai parai. Pantai ini adalah tujuan kami saat itu, dan saat ini aku berangkat sendirian. Ternyata hanya aku yang masih menjaga niat ini. Betapa menyakitkannya, bahwa sebagai teman saja dia tak mau pergi lagi denganku. Mataku terasa kabur dan berair. Kututup kaca helm agar tak ada orang yang melihatnya. Namun aku semakin sulit untuk melihat jalan, kuputuskan untuk berhenti di tempat yang sepi. Dan aku duduk di pinggir jalan menunggu mataku bisa melihat lagi. Aku laki-laki yang terlalu membesar-besarkan perasaanku.

Hingga akhirnya tibalah aku di pantai ini. Pantai yang dipenuhi batu-batu karang, yang pasirnya berwarna putih, anginnya bertiup lembut, dikelilingi juga dengan pepohonan sehingga membuatnya tak terlalu panas. Indah sekali, indah mempesona dan menyakitkan hatiku. Kutelepon dia dan kukatakan bahwa keindahan ini tak bisa menghiburku, malah tambah membuatku pedih karena tak bisa kunikmati bersamanya.

Aku duduk seorang diri di atas batu karang. Mimpiku, angan-anganku, pusat orientasiku, segera akan menjadi kenangan. Aku harus segera menyambutnya sebagai kenangan belaka. Aku berpikir andai mimpi ini bisa kutimbun dalam-dalam di bawah batu-batu besar, andai perasaan ini bisa ku buang ke laut dan hilang ditelan ombak. Atau untuk itu harus ku buang tubuhku juga? Aku berpikir andai perasaan ini tak pernah ada. Andai mimpi ini tak pernah ada sehingga tak akan menjadi kenangan yang menyakitkan bagiku.

Akhirnya aku putuskan untuk pergi. Aku ingin pulang dan membuang mimpiku. Pulang, karena aku hanya tahu jalan pulang dan tak punya tujuan lagi. Aku orang yang kalah dan hanya bisa pulang…

Lagu “I’ve got no distance left to run” mengalun lembut dalam benakku.

It's over
You don't need to tell me
I hope you're with someone
Who makes you feel save in your sleeping tonight
I won't kill myself trying to stay in your life
I've got no distance left to run

When you see me,
please,
turn your back and walk away
I don't wanna see you
'cause I know the dreams that you keep
that's where we meet
when you're coming down
think of me here
I've got no distance left to run

It's over
I knew it would end this way
I hope you're with someone
who makes you feel
that this life, is a life
Who settles down,
stays around,
spends more time with you,
I've got no distance left to run

I'm coming home
It's over
come on home
no more

Pantai Parai, 13 Desember 2009

Tuesday, December 01, 2009

keluh kesah kisah kasih

Manusia adalah makhluk yang cenderung berkeluh kesah, sedikit-sedikit aku masih manusia, sehingga perlu menyampaikan keluh kesahku entah pada siapa.

Wahai, izinkan aku menyampaikan keluhanku, yang mungkin akan menjadi risalah kepedihan, atau justru keindahan cinta ini.

Aku selalu berusaha untuk tak mempercayai bahwa cinta bisa terbatasi oleh dimensi, jarak, oleh ruang, waktu atau oleh apapun itu. Namun, terkadang kita telah melihat kenyataan dan tak mau kenyataan itu berada dalam arah pandang kita. Kita melihat kenyataan dan segera memalingkan muka sembari berusaha melupakan apa yang sudah kita lihat. Hingga kenyataan bisa datang seperti mimpi buruk di dalam tidur, menelusup dari alam bawah sadar dari sudut yang terlupakan, tanpa kita sadari, tidak pula kita kehendaki.

Meski seharusnya cinta masih bisa bertahan, karena kita melihat dengan menggunakan kacamata berwarna merah muda. Warna warni hitam kelam atau hijau muda masih bisa terbias. Pelan-pelan ku coba untuk melepaskan kacamata ku. Mencoba melihat semua seadanya, dengan jernih, meski perih.

Mencintai tidak selalu indah, pun tidak selalu pedih. Setelah kegembiraan akan ada kesedihan, setelah kesedihan akan ada kegembiraan. Kegembiraan muncul dari berlalunya kesedihan, dan setelah kegembiraan itu berlalu apa yang kita rasakan selain kesedihan. Apakah ada satu bagian lain rasa selain yang cenderung kepada keduanya, apakah ada keadaan kosong? Entahlah, jika kita tak merasakan kegembiraan lagi, atau tak merasakan kesedihan lagi meski hanya sedikit, mungkin berarti kosong. Tanpa rasa. Bahkan sepertinya tanpa rasa itu adalah keburukan, karena anugerah manusialah untuk memiliki rasa. Berarti mari kita anggap bahwa perasaan kosong tidak pernah ada.

Dengan siklus perasaan yang diakibatkan oleh cinta dari sedih menjadi gembira dan sebaliknya yang terjadi silih berganti, berarti mau tak mau kita harus mengakui bahwa waktu adalah elemen yang ikut berpengaruh dalam perasaan cinta. “aku mencintaimu untuk selamanya.” Sungguh naïf untuk didengar, karena si pembicara tak pernah bicara di luar dimensi waktu. “aku masih mencintamu.” Saat ini hanya itu yang bisa ku ucapkan.

“Aku masih mencintaimu dan ingin mencintaimu untuk selamanya.” Aku berusaha menghindari caci maki dengan mengucapkan itu. Apabila waktu dimundurkan sampai lebih dari tiga tahun yang lalu, kalimat itu masih relevan untuk didengar. Aku tidak tahu besok, lusa, setahun yang akan datang, atau yang lebih lama dari itu apakah kalimat tersebut masih belaku, karena aku akan menambahan anak kalimat: ”namun sekarang aku berusaha untuk melupakanmu.” “Aku masih mencintaimu, ingin mencintaimu untuk selamanya, namun sekarang aku berusaha untuk melupakanmu.” Sungguh aneh, ternyata keinginan ku berbeda dengan usaha ku.

Apalagi yang bisa kuusahakan, saat perasaanku begitu disakiti oleh perasaan cinta ini. Setelah titik puncak perasaan rinduku, cintaku, keinginanku, ternyata hanya berbalas kekecewaan. Jarak menunjukkan batasnya, dan waktu menunjukkan kekuasaannya. Hanya saja, jiwaku yang masih tak sanggup menanggungnya. Apakah tak dihargai lagi kerinduan yang belum ada obatnya ini, apakah tak bisa dihargai lagi usaha menahan waktu hingga titik bertemu di satu tempat pada suatu waktu di masa yang akan datang? Bahkan dalam bayanganku kita semakin dekat dengan tujuan kita untuk bersama. Tujuan kita bersama, bukan tujuan orangtua ku, tetangga ku atau presiden ku. Ternyata aku salah, kita bahkan seringkali tak memandang dengan kacamata yang sama, juga tak bicara dengan bahasa yang sama.

Betapa pedih hatiku ketika mengetahui itu.

Betapa sedih rasanya kehilangan cita-cita, kehilangan mimpi, kehilangan arah, kehilangan cinta. Betapa tak terbayangkannya harus kehilangan kamu, cita-cita, mimpi, arah hidupku, cinta ku. Tetapi aku sedikit-sedikit masih manusia, walaupun bukan manusia paripurna. Manusia sudah membuktikan eksistensinya sebagai spesies yang bisa mempertahankan peradaban di atas bumi ini. Tentu saja, aku harusnya bisa bertahan. Harusnya bisa bertahan. Seharusnya…

Sunday, February 22, 2009

nyanyian sunyi

Mentari pagi yang mengetuk lembut jendela membuatku mengingatmu kembali setelah gelap yang hanya diterangi hatimu dalam alam bawah sadarku. Lalu terang dalam hari yang melenyapkanku hanya menghadirkan sunyi tanpa kata yang terbalas dari bayanganmu. Pun senja yang sahdu hanya merangkum lamunan tentang kehadiranmu yang tak dinyana. Hingga lelah yang ditelan malam membuatku menikmati alam penuh corak keelokan mu.

Dalam irama itu waktu hanya berlalu, hanya aku yang tertawa dalam lara dan tersendu dalam gembira. Tak pernah merangkai sempurna tanpa menyentuh nyata dirimu yang hanya aku inginkan. Tentu saja aku akan bertahan, karena tak ada yang bisa menarik pasukan setia dari kesetiaannya melindungi benteng yang tersembunyi dari penyerang.

Aku hanya bisa memetik dawai dan mendendangkan dengan lirih bait-bait kerinduan, dalam rangkaian melodi yang nadanya adalah kesunyian.

Aku ingin kamu menyempurnakanku

Tak puas dengan itu aku akan mendeklamasikan dengan bingar setiap kenangan agar sepi tak merasuk hanya padaku. Dalam teriak-teriak ku, hanya kamu yang dapat menenangkanku.

Saturday, December 27, 2008

Tradisi tebang pohon

Di kampungku, ada beberapa kejadian yang setelah kuamati bisa disebut sebagai tradisi. Tradisi tebang pohon.

Acara tebang pohon ini hampir selalu terjadi saat ada anak gadis yang dinikahkan. Acara resepsi pernikahan berbiaya beberapa tahun menabung umumnya dilangsungkan di tempat mempelai wanita, karena halaman rumah yang biasanya cukup luas, maka halaman ybs disulap menjadi tenda biru.

Untuk itu, biasanya keluarga si wanita harus merelakan pohon-pohon yang ada di halaman menjadi korban. Itulah yang terjadi di halaman rumahku saat kakak perempuan menikah dengan seorang laki-laki (pastinya). Tetangga-tetangga sebelah berdatangan beberapa hari sebelum hari H untuk prosesi tebang pohon.

Seorang Bapak pemilik pohon yang dalam dilema biasanya tak kuat mengayunkan parangnya.
Bapak : “Yang ini jangan ditebang semua ya..” dengan memelas.
Tetangga : “Sayang sama anak apa sama pohon?” seraya mengayunkan parang dengan tertawa-tawa kejam.
Alhasil sebuah pohon sawo, jambu, rambutan, mangga harus menjadi korban. Selang setahun setelah itu mereka belum bisa berbuah. Si pohon jambu bahkan tidak pernah hidup lagi. Itulah salah satu wujud pengorbanan sebuah keluarga untuk melepas anaknya ke pelaminan.

Kali ini tradisi (atau mungkin tragedi?) tebang pohon dilaksanakan di rumah tetangga sebelah rumahku, maka tetangga-tetangga lain kembali berdatangan, beberapa siap membawa parang dari rumahnya sendiri yang sudah diasah dengan tajam. Tentu saja Bapak yang dua tahun lalu kehilangan pohonnya pun bertindak cukup agresif sebagai wujud pembalasan dendam. Ayunan demi ayunan dilayangkan untuk mengubah sebuah taman bunga berikut beberapa pohon sawo dan alpukat menjadi sebuah tenda. Bahkan pohon mangga tetangga lainnya juga harus menjadi korban. Mereka melakukannya dengan tertawa-tawa seraya mengucapkan slogan “Sayang anak apa sayang pohon?”

Aku hanya memperhatikan, dalam hati timbul pertanyaan, “Kapan dan dimanakah ada anak gadis yang keluarganya akan merelakan pohon berikut taman kecilnya untukku?”

Sunday, December 21, 2008

Biji Island

Kisah tentang pelarian adalah kisah yang menggambarkan pulau biji. Disanalah hidup beberapa orang yang oleh tangan takdir, bercengkrama dalam suasana yang sama setiap harinya.

Aku adalah salah satu diantara yang berjuang disana. Seperti juga orang-orang lain, tidak semua hal dalam hidup bisa dipilih, sehingga pilihan untuk menyambung hidup di pulau biji tak bisa dielakkan. Tak lepas dari pengamatan mengenai silih bergantinya warga pulau biji. Hampir setiap bulan ada wajah baru yang datang dan ada wajah lama yang menghilang. Seringkali bahkan wajah menghilang lebih banyak dari wajah yang datang, hingga pontang-pantinglah kami pekerja di pulau biji menerima beban kerja yang lebih banyak.

Ada kisah bung Teme yang sejak hari pertama menginjakkan kakinya disana selalu memikirkan rencananya untuk pergi ke pulau lain yang lebih subur. Bung Teme yang biasa makan siang bersamaku mengatakan di pulau ini tak ada kenyamanan, tak ada tantangan, hanya kebosanan yang hadir setiap hari. Sehingga jika saja kutanyakan kepada Bung Teme “Apa rencana mu hari ini?” dia akan menjawab: “Seperti hari-hari sebelumnya, melarikan diri dari pulau Biji.” Akhirnya beberapa bulan berselang Bung Teme berhasil mewujudkan rencananya, rencana itu terbungkus rapi dalam alasan sakit yang mendera dirinya, padahal dia berlayar ke pulau bali.

Penguasa pulau Biji kehilangan, dan mencari kemana Bung Teme, tapi Bung Teme telah terlalu jauh untuk dikejar. Kalau perasaannya tak bisa ditangkap, apa gunanya mengurung badannya, pikirku mengenai kejadian ini. Akupun merasa sangat kehilangan, tapi turut bergembira untuk keberhasilan Teme, karena tindakannya adalah perwakilan dari perasaan banyak orang di pulau Biji.

Ada juga kisah Bung Koco yang sehari-hari mendapat tekanan luar biasa dari banyaknya Biji yang harus dia hasilkan. Koco yang dibiasakan untuk makan ikan asin setiap hari, sangat gembira ketika datang tawaran serupa bandeng, Berlarilah Koco mengejar ikan Bandeng. Berkurang lagilah warga pulau Biji diikuti bertambahnya beban warga pulau yang tersisa. Pertambahan dan pengurangan selalu ditanggapi alam dengan mencapai sebuah kesetimbangan baru.

Demikian satu persatu warga pulau berkurang, dengan kecepatan yang lebih lambat, satu demi satu juga penguasa pulau menambah warga baru. Ditengah-tengahnya aku mulai merasakan getaran yang ditinggalkan oleh para pendahulu tersebut, getaran bosan luar biasa pada biji imajiner yang harus dikumpulkan setiap hari. Teriakan pendahulu juga terdengar sayup-sayup “bangkitlah!”. “Sekali-kali kita harus mengatakan tidak pada kehidupan statis”, ucapku pelan.

Hingga suatu ketika dimana angin tak bertiup, hujan tak turun, guntur tak terdengar, dan semua terlihat biasa saja. Yang tak biasa adalah sebuah kapal kecil hadir di pinggir pulau, mengajakku naik kesana. Aku tak bisa menahan diri, berjalanlah aku kesana setelah meminta sedikit restu dari penguasa pulau. Tiba dengan berjabat tangan, maka aku pun pergi dengan berjabat tangan, diiringi berbagai tatapan yang entah apa artinya. Suasana haru mungkin akan menyelimuti pulau biji setelah aku tinggalkan, bukan karena aku sangat berarti disana, tapi lebih banyak karena ketiadaanku berarti memberi warisan pekerjaan kepada warga pulau yang masih bekerja disana.

Selamat tinggal warga pulau biji, ketika aku sudah mencapai pulau harapan, akan kukirimkan kapal untuk mengajak kalian serta. Ucapku dalam hati…

Saturday, July 26, 2008

KELILING EROPA 6 BULAN HANYA 1.000 DOLAR!




Judul buku: KELILING EROPA 6 BULAN HANYA 1.000 DOLAR! Jalur Pertemanan
Pengarang: Marina Silvia K
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Pertama, ini adalah buku yang dikarang oleh seorang kenalan waktu di kampus. Jadi mudah-mudahan bisa menghindari kesan subjektif karena mengenal pengarangnya.

Buku yang ditulis dengan sangat baik dari Marina, diangkat dari jurnal perjalanan yang ditulisnya di blog friendster hingga akhirnya diterbitkan.

Judul yang dipilih kurang catchy, rada kepanjangan. Menurut saya pribadi, judul buku lebih baik satu atau dua kata, sehingga orang-orang akan mudah untuk mengucapkan dan merekomendasikannya ke orang lain, lebih mudah diingat, lebih mudah dicari di toko buku. Tapi judul buku ini bisa menarik orang-orang untuk melihat sejenak sambil berkata “Hah? Keliling Eropa 6 bulan hanya seribu dolar? Mana mungkin!” Lalu orang itu akan menilik sedikit isi bukunya dan kemungkinan besar membelinya. Dalam hal esensi menarik minat calon pembaca , judulnya sudah mengakomodir. Dan tentu saja kita boleh berkesimpulan Marina memang orang yang lebih mementingkan esensi daripada bentuk.

Menilik ke dalam buku ini, isinya bisa dikatakan berisi. Perjalanan ke Eropa yang dilakukannya adalah seperti mengubah sebuah mimpi menjadi nyata yang tentu saja bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dengan sebuah kalimat “Hey, itu semua mungkin!”. Mudah-mudahan pembaca akan mendapatkan kembali semangat untuk menggapai mimpi-mimpinya.

Yang luar biasa dari buku ini adalah cerita-cerita yang bisa memperluas persepsi kita agar lebih bersikap terbuka terhadap segala perbedaan. Memperkenalkan kita dengan beragam budaya di Eropa yang notabenenya adalah Negara maju yang ditulis dari sudut pandang seorang wanita dari Negara berkembang. Semua dirangkai dalam kesan-kesan berikut dialog-dialog cerdas yang asik untuk di simak dan tentunya mengutip bahasa seorang Marina, adalah “Menuju pencerahan”. Selain keindahan kebudayaannya isu yang sangat dibawa oleh Marina adalah satu dunia, beragam warna, satu tujuan, kabaikan bagi kehidupan umat manusia.

Buku ini dilengkapi dengan banyak gambar (meskipun kebanyakan kecil-kecil) yang bukan hanya membuka imaginasi kita tapi sekaligus juga menambah rasa penasaran kita akan objek yang sebenarnya. Salah satu kekurangannya adalah keterangan gambar tidak cukup memadai, sehingga pembaca akan sering bertanya-tanya, gambar ini dari cerita yang mana dari sudut pandang mana. Salah satu kekurangan lainnya adalah dengan merangkup pengalaman di 45 kota 13 negara dalam satu buku, jadilah rangkaian cerita yang pendek-pendek, sehingga jadilah kita penarasaran tidak mendapatkan detail pengalaman yang kita inginkan dari satu atau dua peristiwa.

Dengan bukunya ini Marina membuat kita semakin penasaran dengan dunia Eropa sana, Sial! Kita harus menginjakkan kaki di sana.


Labels: