Friday, December 20, 2013

pulang

Dialog imajiner yang sedang terjadi di benak. 

Adek: "abang, adek pulang, adek pulang ke hati abang."
Abang: "adek, sudah lama abang menunggu adek pulang, di depan pintu, di tengah halaman, abang tunggu adek pulang.."

Sunday, December 15, 2013

pak tani


Kereta bergerak menuju jakarta pagi ini. Suaranya riuh membelah udara yang tadinya sunyi lengang. Dari balik jendela, gambar bergerak ibarat film yang diputar, mulai mengisi bingkai jendela yang tertutup kaca.

Di ujung sana ada gunung yang menjulang angkuh diaraki awan yang bergulung, ditingkahi kelabu latar horizon. Di depannya hamparan menghijau sawah, sebagian sawah terlihat kosong, sebagian lagi sedang di tanami, ada petani yang membajak, ada yang menanam, ada yang kerja sendirian, ada yang kerja berkelompok. Ada pekerjaan yang memang lebih baik dikerjakan bergotong-royong diantara mereka.

Petani itu mungkin pekerjaannya rutin setiap hari, pagi pergi ke sawah, menjelang siang pulang. Petani itu mungkin penghasilannya hanya tergantung dari hasil sawahnya, apabila sawahnya luas berhektar mungkin penghasilannya besar, apabila sawahnya sepetak kecil, apalagi jika hanya sebagai petani penggarap, mungkin penghasilannya sulit untuk memenuhi asupan gizi sehari-hari.

Juga petani itu rejekinya sangat tergantung pada hujan, apabila hujan turun terlalu lebat bisa jadi tanaman padinya malah rusak, jika hujan tidak turun sepanjang tahun sawahnya bahkan tidak bisa ditanami. Seperti sawah-sawah dan perkebunan di gunung kidul yang datarannya tinggi, yang hanya mengandalkan hujan, sering terlihat tanahnya pecah-pecah tetumbuhannya menguning hilang kesuburan. Sawah yang didataran rendah masih memungkinkan untuk mendapat air irigasi dari waduk-waduk buatan.

Disanalah peran pemerintah yang harus menyediakan waduk dan saluran irigasi itu yang berfungsi menjaga debit air yang optimal untuk mengairi sawah. Tapi tak terbatas itu, pemerintah juga harus menyediakan sarana yang memudahkan petani bekerja, mungkin itu pupuk, mungkin itu peralatan, mungkin itu pembibitan rekayasa genetika yang unggul, mungkin itu sarana perasarana transportasi yang memadai untuk mengangkut hasil bumi, mungkin itu sistem penjualan yang tidak merugikan.

Setelah panen, mungkin petani masih harus dirisaukan oleh penjualan hasil taninya, terkadang harganya tinggi, terkadang harganya rendah sehingga terkadang hasil sawah lebih baik dijadikan sebagai bahan pakan ternak. Hasil panen biasanya lebih mungkin untuk berkurang daripada bertambah, karena tanah yang diolah tidak berubah, hanya berkurang kadar kesuburannya.

Bahkan jumlah lahan pertanian semakin lama ini semakin sedikit, selain profesi ini yang semakin tidak menarik. Petani mungkin tidak bisa menjadi kaya raya dengan hasil pertaniannya yang rutin itu, sehingga tidak semua anak petani ingin meneruskan usaha keluarganya. Ada yang lebih memilih belajar, atau pergi ke kota besar untuk mengadu nasib di sana. Ada yang belajarnya ilmu pertanian dan lebih memilih bekerja di kota sebagai pegawai bank. Gemerlap kehidupan kota yang sering ditayangkan di televisi tentu menggoda hasrat anak petani untuk ikut menyambangi, menjajaki atau justru menerjunkan diri.

Sesekali anak itu akan pulang, mengkritik bapak ibunya yang hanya berani bertani dan hidup seserhana sepanjang umur. Sambil mungkin akan membanggakan kehidupan kota besar yang dijalaninya, dimana segala sasuatu mudah diperoleh, segala barang dipoles cantik, segala jasa diukur dengan nominal. Bapak ibu tani hanya mendengarkan, tidak tau harus berkomentar apa, baginya lahan sawahnya yang menghijau saat tumbuh subur, yang menguning saat hendak dipanen itu yang cukup untuk menerbitkan rasa bahagia, yang membuat mereka semakin berterimakasih pada Tuhan.

Lahan sawah itu yang menjadi gambar hijau dengan gunung yang berdiri angkuh di belakangnya yang mengindahkan pandangan orang-orang yang duduk di kereta, pada pagi atau petang hari mungkin matahari akan ada dibalik gunung itu, seperti lukisan pemandangan yang paling sering digambar anak sekolah dasar.

Terlihat lagi dari balik jendela, sekelompok petani yang bekerja. Mereka mungkin tidak sadar sedang dilihat, termasuk bapak petani yang sedang mandi di air yang coklat di tepi sawahnya itu, yang dalam keadaan bugil. Mungkin dia merasa bebas, tak terkungkung jendela kaca seperti orang di kereta ini yang melihatnya.

Di kali lain, gambar di kaca jendela kereta mulai beralih saat kereta mulai memasuki kota. Sawah berlatar gunung berubah menjadi pemukiman yang memadat. Sepinggiran rel mulai terlihat rumah-rumah kecil bertumpuk tidak beraturan yang berdiri seadanya. Orang dan aktiflvitasnya pun semakin kompleks, ada yang terlihat berjualan, memungut sampah, mencuci pakaian, merenung, banyak ragam dan macamnya.

Semakin memasuki pusat kota Jakarta, semakin beralih lagi gambarnya. Kali ini diantara rumah kecil rapat berdiri gedung-gedung tinggi menjulang seolah berusaha mengalahkan gunung. Mungkin julang menjulangnya saling bersaing satu sama lain, mungkin di dalamnya berdiam raja-raja kecil yang menguasai ekonomi, yang menguasai kehidupan orang banyak, tentu raja-raja kecil itu saling bersaing juga satu sama lain. Dalam saing bersaing itu, tentu senyum yang ramah menjelma jadi barang mewah.

Lelah mata menatap gambar-gambar itu. Lebih baik mata yang terpejam, lebih baik telinga yang terbuka, mendengar sayup-sayup sebuah lagu berjudul Pak Tani, yang dibuat oleh salah seorang rekan aktivis di kampus. Dulu di kampus, lagu ini jadi penyemangat untuk tetap menjaga idealisme ketika selesai belajar, ketika keluar dari jendela kaca, memasuki dunia dan warna-warninya.

Pak Tani


Jika kulihat pak tani dan sawahnya
Teringat ku jelas akan pesan pertiwi
Lelah ku menuntut ilmu jauh di sini
Bersama janjiku pada bangsa..


Hai sobat-sobatku kaum yang terdidik
Pernahkah kau bermimpi akan damai negeri
Kala kau ditempa untuk tunas bangsamu
Ingatlah akan damai negrimu..


Hilang resah hatimu tegakkan dadamu
Derap satu langkah merdeka
Pupuk smangat tulus ikhlas kepal tanganmu
Abdikan diri tuk Indonesia


Abdikan diri tuk Indonesia

Abdikan diri tuk Indonesia
Abdikan diri tuk Indonesia

video lagu: Hokkop - Pak Tani (Youtube)

Monday, December 02, 2013

bila dan hanya bila

Saat bertemunya pertama kali, apakah kau bisa merasakan desir halus mengalun sampai pada hatimu?
Bila dia berbicara, apakah kau merasa akan melakukan apa saja untuk mendengarnya satu dua detik lebih lama?
Bila melihat binar matanya, apakah kau akan menunda kedipan matamu agar bisa melihatnya satu dua kejap lebih lama?
Bila melihat senyumannya, apakah kau merasa bunga sedang mekar diamana-mana, mengisi duniamu dengan warna merah jambu?
Bila melihat tawanya, apakah kau merasakan  aneka hormon endorpin, dopamine, dan oksitosin melimpah ruah, membuatmu merasa candu?

Bila merayunya, pernahkah kau merasakan cubitan-cubitan kecilnya pada perutmu?
Bila membuatnya malu, pernahkah kau merasakan gigitan kecilnya pada lenganmu?
Bila menatapnya yang tersipu-sipu, pernahkah kau ingin abadikan rona pipinya yang kemerahan, lalu menggodanya dengan panggilan yaa humairo?

Bila menjadi imam dalam sholatnya, tidakkah kau merasa ingin membaca surat-surat terpanjang dengan sujud yang terlama?
Bila tanganmu diciumnya setelah itu, tidakkah kau merasa ingin menjadi imam selamanya?
Bila mendengarnya mengaji, tidakkah kau merasa begitu damai di sanubari? 

Dalam sakit tak berdayamu, bilakah sosoknya yang seperti penjelmaan bidadari datang membawakanmu bakmoy?

Bila dia datang dengan masalah, bukankah kau selalu herhasil mendengarkannya dan memberikan penyelesaian?
Bila membicarakan masalahmu padanya, bukankah kau selalu merasa menjadi ringan?
Bila memarahinya, bukankah kau tak pernah mengucapkan kata-kata yang kasar?
Bila merasa emosi padanya, bukankah kau tidak akan pernah untuk selamanya melayangkan tangan?  

Bila melihatnya menangis, bersediakah kau memeluk dan merengkuhnya memberikan kata-kata yang menenangkan?

Bila menggenggam tangannya, benarkah kau merasa ingin punya kekuatan untuk menghentikan waktu?
Bila memeluknya, benarkah kau merasa bahwa tak ingin melepaskannya lagi, tak ingin berpisah lagi untuk selamanya?  
Bila mendapati kecup ciumnya, benarkah kau merasa bahwa dirimu melayang tak berpijak pada realitas bumi manusia?

Bila gelap malam datang, mungkinkah kau merasa bahwa dia rembulan?
Bila bulan menghilang, mungkinkah kau merasa bahwa dia bintang yang berpijar?
Bila pagi menjelang, mungkinkah kau merasa bahwa dia mentari ketika naik sepenggalahan?
Bila harimu muram, mungkinkah kau merasa bahwa dialah pelita yang Tuhan ciptakan untuk terbit dan bersinar pada hari-harimu?

Beradanya di hidupmu, sudahkah kau merasa lengkap, merasa tak akan kekurangan damai, tenteram dan sayang? sudahkah kau merasa ingin hidup bersamanya selama sisa umur?

Bila melihat dia berbalik, akankah kau menarik tangannya, memohonnya untuk tetap tinggal?
Bila melihat punggungnya menjauh, akankah kau mengejarnya, memintanya untuk datang lagi?
Bila dia pergi, akankah kau merasa apa yang kau lakukan menjadi kekurangan esensi?
Bila merasa tidak akan bertemu lagi dengannya, akankah bulir bening dari matamu melinang tak tertahankan?

Bila mengingat dan membicarakannya, pernahkah kau merasa tak pernah kekurangan puja puji?
Bila kau sepi sendiri, pernahkah tiba-tiba kau mendengar suaranya yang manja memanggil “Abaang”?
Bila melihat langit biru, pernahkah kau merasa bahwa bahwa wajahnya hadir di ufuk manapun kau arahkan pandang? 
Bila tertidur malam hari, pernahkah dirinya datang mengisi mimpi-mimpimu yang tak bisa kau terjemahkan apa artinya?

Bila membayangkannya bersama pria lain, sanggupkah kau merasakan dadamu membuncah, wajahmu memerah dan kepalamu berkunang? Sanggupkah kau merasakan tubuhmu kaku lidahmu kelu saat rindu dan cemburu jadi satu?
Bila pria lain itu mungkin lebih baik darimu, sanggupkah kau terjebak pada ambivalensi antara ingin meraihnya atau mengikhlaskannya?

Bila semua itu pernah kau rasakan, maka akan kutitipkan dia padamu..
Mungkin, kau lah yang berhak membahagiakannya..
Hanya, tolong sampaikan padanya, maafkan aku bila tak bisa berhenti mencintainya..


****
dan bait-bait diatas pun menjadi sebuah musik di sini

Sunday, November 17, 2013

jatuh cinta pada bukit nglanggeran

Bukit itu tak seberapa tinggi, hanya memerlukan satu dua jam saja untuk menelusuri dari kaki bukit hingga ke puncaknya, namun di bukit batu gunung purba itulah pada setahun yang lalu sebentuk cinta telah bersemi. 

Di kaki bukit itu, di sebuah pendopo, kita dapati beberapa orang bule bersama penduduk sedang berkreasi membuat topeng ala venesia dengan motif hiasan tradisional jawa. Kegiatan mereka memang menarik untuk diikuti, tetapi mendaki menuju puncak bukit lebih menarik hati kita. Sehingga kita berempat langsung meneliti rute pendakian yang tertera pada papan informasi dan melanjutkan perjalanan pendakian.

Kita berempat itu adalah saya sebagai fotografer tidak profesional, Astea sebagai fotografer lebih tidak profesional, Rani sebagai pendaki gunung agak profesional, serta Bli Putu selaku pendaki gunung profesional. Tujuan Rani dan Putu mungkin untuk mendaki gunung dan bercengkrama dengan alam, tujuanku dan Astea adalah untuk berburu foto yang bagus. Dengan itu semua, kita resmi bergabung menjadi tim pendaki.

Saat itu, Astea sedang dekat dengan saya karena sedang dalam proses pendekatan, sudah beberapa kali kita jalan-jalan. 

Pendakian dilakukan dengan melalui jalan setapak yang menanjak di sela undak-undak bebatuan. Entah apa penyebabnya hari itu Astea terlihat begitu lincah, begitu ceria, sebentar-sebentar dia tersenyum, sebentar-sebentar tertawa, tak ketinggalan bernarsis ria. Tawanya yang riang lepas serta senyumnya yang merekah seperti mentari pagi yang menghangatkan, menerangi sekelilingnya, menerangi hati saya. Sungguh waktu itu saya meleleh ketika melihatnya. Rasanya, suara tawanya itu yang saya butuhkan untuk mengembalikan hari-hari saya menjadi seperti masa kecil dulu, yang penuh canda tawa.

Sebelumnya saat diperjalanan, saya telah dibuat terpesona oleh ketenangan yang ditunjukkannya. Ketika ban motor yang kita naiki mendadak kempes dia tidak terlihat panik, dengan santainya membantu mendorong motor dan mencari tambal ban yang entah dimana. Dalam waktu itu saya berpikir, bersama wanita ini, tentu jika saya sedang kesusahan dia tidak akan menambah beban kesusahan saya. Terkagum saya dibuatnya. Waktu itu di tukang tambal ban, di tempat bapak tua yang selalu mengajak bicara dengan bahasa jawa, tak sengaja terucap bahwa “saya ingin punya calon orang jogja, supaya bisa mengajari berbahasa jawa yang halus. Saya yang keturunan jawa malu karena tidak bisa bahasa jawa.”

Perjalanan mendaki kita lanjutkan. Sampai di batu besar sebagai pos pertama, berfoto-foto, sampai dengan bukit batu pos kedua, dilanjutkan dengan berfoto-foto lagi. Cukup banyak pendaki lain yang sedang menikmati suasana dan berfoto. 

Selanjutnya kita mendaki lagi, kali ini lebih dalam ke hutan dan lebih sukar tanjakannya. Sebagai juru foto tidak profesional yang tidak pernah mendaki, tak bisa dihindari nafas kita langsung ngos-ngosan, otot yang tak terbiasa bekerja keras, dan paru-paru yang tidak biasa diforsir berusaha secepat mungkin menyuplai oksigen, keringat mulai mengucur deras. Namun kita tidak menyerah, tetap mengikuti langkah bli Putu dan Rani yang masih mantap mendaki. 

Setelah melewati jalan setapak menanjak, menerobos semak, pohon buah-buahan hutan, batu-batuan yang tercecer. Akhirnya kita sampai di puncak bukit ngelanggeran, bukit batu yang luas, yang lebih tinggi dari sekelilingnya. 
Berada pada puncak itu membuat kita merasa tinggi, merasa dekat dengan langit, merasa dekat dengan keagungan Tuhan. Angin yang segar menerpa wajah kita, mengeringkan keringat untuk jadi bagian warna kulit. Pemandangan alam yang sejuk segar menghijau menenteramkan perasaan kita. Tak ketinggalan, sebungkus buah sawo yang setengah matang membuat hari kita menjadi lebih ceria. Tak ada masalah apakah memakan dengan kulitnya langsung atau memakan dengan mengupas dulu kulitnya, yang terasa adalah kesegaran dan manisnya. Semua bergabung membuat kita euforia, membuat kita jatuh cinta, membuat kita dekat dengan alam. 

Matahari sore yang merasa cemburu pada bahagia kita akhirnya meredupkan sinarnya, lalu tenggelam di ufuk barat. Kekurangan sinarnya menyadarkan kita untuk segera turun, sebelum hari berangsur menjadi lebih gelap. Maka tergesalah kita menelusuri jalan pulang sambil meraba-raba jalan. Bersyukur perjalanan kita lancar dan tidak ada yang mendapat cedera. 

Sambil jalan pulang kita mampir di sebuah masjid, masjid yang sederhana di tengah sawah dan pedesaan, tetapi entah kenapa terasa begitu asri, sejuk dan indah. Air untuk berwudhu pun terasa begitu menyegarkan. Tak sengaja saya menjadi imam. Mungkin karena sisa energi yang terakumulasi akibat berjalan jauh tadi, entah kenapa kaki saya agak gemetaran, suara saya pun jadi agak bergetar. Getaran saat membaca Al Fatihah itulah yang menurut pengakuannya telah menyentuh hatinya, membuat dia jatuh cinta. Surat yang menjadi pembuka dalam Al Quran, sekaligus menjadi pembuka pintu hatinya. 

Selesai sholat magrib, kita lanjutkan perjalanan pulang, sambil bercerita-cerita tentang angan-angan. Sambil membayangkan bahwa hubungan kita akan berlanjut sampai jauh ke masa depan. Bahwa hubungan kita akan terus berlanjut dengan derai tawa dan surat Al Fatihah yang tak terhingga banyaknya.. 

Saturday, November 09, 2013

cerita pada bapak

Bapak, apakah dirimu kesepian atau dalam keramaian, saya tidak tau, tetapi saya anak lelakimu yang mulai terbiasa merasa sepi dalam keramaian. 

Bapak, lihatlah ini minuman, bahkan segelas estehmanis pun turut membentuk kesendirian ini, sehingga saya hanya bercerita kepadamu.  

Bapak, saya tau Bapak sudah menginginkan saya menikah meski belum ditemukan waktu dan keadaan yang tepat untuk itu, tetapi saya anakmu, akan selalu mencarikan calon terbaik sebagai menantumu.  

Bapak, saya pernah berbuat salah padamu, bersalah padanya dan orang lain, tetapi saya anak lelakimu, setiap membuat kesalahan saya berusaha memperbaiki. 

Bapak, saya tau perjalanan yang saya tempuh ini mungkin akan berakhir sia-sia, tetapi saya anak lelakimu, yang rela menempuh perjalanan panjang untuk tujuan hidupnya. 

Bapak, saya tau tak selazimnya seorang pria menangis, tetapi saya anak lelakimu yang akan menghargai setiap tetes yang terjatuh.  

Bapak, saya tau terkadang rintangan terlalu besar di depan kita, tapi saya anak lelakimu, akan bangkit setiap kali terjatuh, demi hidup dan cintanya. 
 
Bapak, saya tau bahwa ada cara yang baik dan cara yang buruk dalam menyelesaikan masalah dan saya anak lelakimu yang bisa selalu berusaha  memisahkan yang buruk dari yang baik. 

Bapak, saya tau saya tak sempurna, tetapi saya anak lelakimu, yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan untuk dunia. 

Bapak, saya tau bahwa menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita itu begitu sulit, tetapi saya anakmu yang pandai, saya akan selalu belajar menerima keadaan, kekurangan dan mengikhlaskan. 

Bapak, saya tau bapak sedang tidak ada di rumah, tetapi saya anak lelakimu yang setelah lelah berusaha akan tetap pulang ke rumah dengan kepala tegak.

Saturday, October 19, 2013

mimpi yang tak sempurna

Pernahkah kau mengalami bermimpi yang terasa nyata?

Jika pernah, tentu kau mengerti bagaimana rasanya, jika belum, mungkin kau akan dengarkan ceritaku tentang bagaimana rasanya bermimpi yang seperti itu. 

Semua dimulai dengan kedatangannya yang seperti mimpi pada suatu hari yang biasa, dia datang membawa bermacam godaan yang menarik hati. Itu adalah wajah cantiknya yang merangkum kejelitaan, kekanakan, keceriaan, keunyuan, juga idungnya yang seperti keturunan Uzbekistan, sorot matanya yang berbinar kekanakan, senyum diantara bibir tipisnya yang menawan, alisnya yang melengkung berbaris rapi, rambutnya dan sebagainya itu.  

Dalam mimpi itu dia mempersembahkan suaranya yang mengandung kebawelan yang manis, dia mempersembahkan tawanya yang tercantik, sambil menceritakan segala sesuatu yang remeh, yang jarang ada dalam dunia nyataku. Selain dengan pesona dan gaya bahasanya yang khas dan selalu bermanja-manja itu, dia juga memiliki kemampuan yang mengagumkan untuk menceritakan padaku detail-detail yang tak biasanya kuingat. 

Ternyata mimpi bisa begitu indah, bercampur baur antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan, yang semuanya hanya permainan jalinan-jalinan system saraf.  Kita bermain dengan imajinasi, tentang pertemuan, bermain dengan drama hidup dengan alur maju mundur, ada masa depan, bermain dengan anak yang akan bernama Curcuma Cocolatos yang cita-citanya mungkin ingin menjadi arsitek, dokter, atau bahkan ahli nuklir. 

Kehadirannya itu, dalam mimpi yang konsisten dari waktu ke waktu telah membuat kestabilan perasaanku terguncang, terbuka ruang-ruang yang baru yang sebelumnya tidak ada. Kehadirannya itu membawa semacam candu, membangkitkan berbagai hormon, membangkitkan perasaan tenang damai dan bahagia. 

Dia menawarkan rasa sayang, saat mendapati kisahku akan perasaan itu yang terkadang berakhir sendu. Dia menawarkan bahwa tak akan membiarkan ku terluka karena cinta lagi. Bagaikan dibuai-buai nyanyian seorang puteri, aku tersentuh, terjatuh sayang walaupun dia hanya berada di alam mimpi. Entah yang dinyanyikannya lagu-lagu yang nyata atau yang khayal belaka. 

Dalam pada itu dia memintaku untuk datang, menemuinya dan menjemputnya, untuk mencoba membawanya keluar dari alam itu, menuju alam nyata yang bisa dijalani berdua. Yang kuminta saat itu hanya waktu, waktu yang terbaik untuk mengawali semuanya. Tetapi waktu itu tidak pernah datang. 

Saat suatu hari terjadi sebuah pertemuan setelah dia sampai di alam nyata, keadaan tidak lagi sama. Bahwa apapun yang telah terjadi diantara aku dan dirinya adalah mimpi. Bahwa apa yang kami percakapkan selama ini tak lebih daripada bunga tidur. Meskipun sempat terasa nyata dan terasa indah, semua hanya mimpi yang tak sempurna yang akan terbenam di antara tumpukan memori.

Wednesday, October 02, 2013

Euro Trip Barcelona the city of Gaudi



Karya legendaris gaudi berikutnya terletak di puncak bukit, ada di utaranya pusat kota. Namanya Park Guell, yaitu sebuah taman di puncak bukit dengan bangunan-bangunan yang didesain oleh Gaudi. 

Menuju ke sana harus dengan melalui jalanan Baixada De La Gloria yang menanjak yang lumayan panjang lurus namun bertingkat-tingkat dengan anak tangga dan eskalator. Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya bisa juga sampai di puncak sana. 

Banyak orang yang duduk-duduk bersantai menikmati pemandangan kota Barcelona dari atas, sebagian lagi berfoto sana sini, sebagian berkeliling menikmati arsitektur dan interior karya gaudi. 




Arsitektur Gaudi masih aneh seperti biasanya, dengan ubin-ubin marmer aneka warna yang sering membentuk aneka hewan. Salah satunya mungkin air mancur yang keluar dari kepala kodok atau mungkin biawak. Tempat ini adalah salah satu yang dikunjungi si Vicky dalam film Vicky Christina Barcelona itu. 

Setelah puas menikmati selasar yang ramai itu, akhirnya aku menelusuri jalan setapak, naik ke puncak bukit. Sambil menikmati bukit itu, lewatlah didepan ku seorang wanita yang berjalan sendirian. Karena wanita itu cantik dan sendirian, muncullah keisengan untuk menyapanya dan minta tolong untuk memfoto. 

Setelah aku difoto dengan gaya cicak nemplok di dinding, kami berkenalan dan ngobrol-ngobrol. 



Obrolan dimulai dari tempat- tempat wisata yang dia datangi, sampai ke kehidupan pribadi kami masing-masing. Dia yang sarjana sejarah bekerja di sebuah museum di San Fransisco. Dia traveling sendirian berkeliling Eropa sepertiku. 

Wanita itu, yang namanya katherine, berperjalanan sendirian dari negeri asalnya San Fransisco, Amerika, mengambil jatah liburan dari kantor. Dia traveling sendirian menjelajah eropa dengan rute yang berkebalikan dengan diriku, melalui Italia, Perancis, sampai ke Barcelona. 

Lalu dia menceritakan tentang Katedral Gaudi dengan penuh antusias. Latar belakang pendidikannya yang sejarah dan minatnya pada budaya dan seni membuat pembicaraan kami menjadi seru. Melebar-lebar sampai dia menceritakan adiknya yang minggu depan akan menikah, sementara dia sendiri belum. Sampai kuceritakan perihal disertasiku yang sedang mentok, yang sedang kutinggalkan buat jalan-jalan. 

Sayangnya hari ini adalah hari terakhir liburannya keliling eropa sebelum pulang ke amerika, sehingga tidak bisa diajak bertualang sama-sama. Lama kami berbincang-bincang sampai akhirnya tak terasa matahari sudah akan terbenam. “I have to go now. Gotta bacak to my hotel and leave tomorrow in the morning. It’s very nice talking with you.” Katanya sambil tersenyum lebar, ah manis sekali. 

“Very nice to meet you too” kataku, yang sedang meleleh.

Dia berjalan pergi, menuruni batu-batu, dan menghilang di balik rerimbunan pohon. Ketika dia sudah hilang, barulah aku teringat pada hal-hal penting seperti, lupa mengajak foto bareng, lupa meminta email. Arrrgh!! sungguh menyesal, hampir bisa dipastikan bahwa kami tak akan bertemu lagi. 

Sambil memendam penyesalan, aku memendaki menuju puncak bukit batu, di atasnya ada salib besar yang entah menggarmbarkan apa, orang-orang sedang terkesima dengan pemandangan sekitar yang saling berfoto. Maka tak ketinggalan, aku juga berfoto dengan pose the crusification of tama. 

Selesai berfoto, aku pun mengamati pemandangan matahari yang hampir tenggelam. Semakin turun menuju ke antara bukit di kejauhan. Di sebelah sana, kota yang bangunan dan jalannya tertata dengan begitu rapi dengan blok-blok kotak dari jaman dahulu kala, dari ujung laut sampai ke gunung, semakin meremang kehilangan cahaya matahari. 

Ketika itu tak sengaja terdengar percakapan dua orang abege dari yang dialeknya begitu Amrik, seorang pria dan dua orang wanita. Mereka membicarakan tentang agama. 

Si wanita kelihatannya kristen dan si pria diragukan, entah beragama atau tidak. 

“I’m an agnostik, i dont believe in religion because it only bring teror for us human.” Katanya, yang bagiku, dari cara ngomongnya yang berlebihan, kelihatan seperti sedang berusaha menarik simpati dua wanita temannya ini, kalimatnya membuatku yang berada semeter di belakang mereka jadi ikut menyimak. 

“The religion is dangerous,” katanya “In muslim countries they wouldn’t allow woman to drive a car, they have to wear a scarf to cover the hair. They aren’t allowed to go outside without relatives. Could you imagine to have restriction such that” katanya. Kedua wanita temannya mengiyakan. 

Lalu dia melanjutkan. “If people read their book, they will become  extreme, like the terroris on WTC, It really is a dangerous book.” katanya lagi. Aku yang mendengarkannya menjadi panas hati, ingin ikut menyela percakapan mereka. Dan tepat saat kata “excuse me” sudah menggantung di bibirku, salah satu mereka bilang.“Its getting dark now, lets go to some other place” Dan merekapun pergi. 

Tinggal aku yang terbengong, tak jadi menyela. Haruskah aku kejar mereka, untuk mendebat bahwa yang mereka katakan itu tentang agama islam itu jauh dari kebenaran?

Matahari telah turun dari peraduannya di ujung barat. Hari telah gelap. Aku ikuti bayangan mereka yang berjalan menuruni bukit, tinggal aku yang terduduk merasa tidak membela agama sendiri. 

Hari yang gelap dan kesendirian membuatku beranjak dan berjalan pulang. Melewati cahaya diantara gedung-gedung kota yang temaram. 

Sunday, September 29, 2013

Yogyakarta

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Lagu Yogyakarta itu, tidak bisa tidak, akan membuat ingatan tentangnya hadir kembali. Hadir dengan berbagai cerita yang pernah tertulis ketika kita sama-sama menikmati suasana kota. Meskipun cerita itu tak melulu bahagia, meskipun selanjutnya akan membawa luka. 

Jika kita tau itu akan luka, mungkin aku tidak akan mengajaknya pergi waktu itu, di waktu bioskop sedang memutar film-film mulai dari Looper, Life of Pi, Habibie, Les Miserables, 5 cm dan yang lainnya. Dan tak mungkin pula akan aku katakan “tanganmu aku pinjam” di dalam gedung pertunjukan itu.

Tentu akan kularang juga pengamen yang pada malam hari itu menyapa kita untuk menawarkan lagu-lagu cinta, di salah satu angkringan yang ramai oleh muda-mudi itu. Didendangkan oleh pengamen itu lagu “kau cantik hari ini, dan aku suka” dengan suara yang ternyata cukup bagus, lagu yang membuatnya tersenyum-senyum dengan pipi memerah, yang membuat pengamen itu memanggilnya aisyah.

Siapa yang tak akan suka menangkap momen itu, momen tawa dengan pipinya yang memerah, sehingga tak kutampik ajakannya berburu foto di jalanan sekitaran keraton itu. Kita suka untuk menemukan hal-hal unik yang biasanya terlewat oleh mata biasa, termasuk itu zebra cross, atau gembok yang menggantung, anak-anak bermain, atau penjahit jalanan yang sudah bergaya untuk difoto meskipun yang tertangkap kamera hanya celana yang sedang dijahitnya.

Bila itu tak terasa menyenangkan, tentu tak akan berlanjut perjalanan kita hingga ke jalan-jalan jauh melewati gunung kidul, menemui gua dan bukit itu. Berlibur di alam yang tak biasa, sambil berjalan mendaki bukit kecil Nglanggeran, dengan nafas yang tinggal satu dua, entah bagaimana justru menambah cerianya, membuatnya tertawa-tawa kekanakan yang mempesona sepanjang jalur pendakian. Sampai nafas kita yang cepat itu mereda saat melihat pemandangan menghijau yang membawa kesegaran bermula dari mata hingga ke rongga data. Dan baginya, lelah itu terbayar oleh produksi kicau twitter di atas gunung. Dalam perjalanan pulang itu, ketika sholat magrib di masjid tepi jalan, jika suara lantunan Alfatihah itu kita tau akan menyentuh pintu hatinya, tentu akan kita cari imam yang lain.

Di kali lain, kita tembus lagi itu pegunungan selatan, menjelajah pantai-pantainya yang terkenal. Berjajar pantai-pantai mulai dari Baron, Kukup, Krakal, Drini dan entah apalagi. Sulit untuk diingat karena kita sibuk saling bercerita, bercanda dan bertengkar. Disela-sela angin yang berhembus kencang menerpa gubuk-gubuk reot yang menjajakan es degan itu, diantara hempasan ombak yang menerpa karang, kita sepakatkan untuk menghilangkan sementara keraguan, untuk berjalan bersama ke tempat yang lebih jauh, ke masa yang lebih mendatang.

Karena titik akhir belum kita ketahui, itulah sebabnya pada suatu ketika kita pergi lagi menembus bebukitan menuju kampung bapak, dua jam saja dari jogja. Untuk membaca Quran di tempat beliau beristirahat.

Perjalanan itu sulit untuk dilupakan, karena motor kita yang sudah lama itu kita paksa melewati jalan yang berkelak kelok, jalanan naik turun dan berlubang, menembus hujan yang membadai, perjalanan dua jam harus kita panjangkan hingga empat jam, betapa dinginnya udara, betapa tak bersahabatnya angin, betapa gelapnya malam. Satu dua pengendara yang berpapasan atau yang memotong jalan kita adalah teman, karena kita pengendara dalam badai yang berusaha entah bagaimana untuk sampai di rumah. Untuk mengusir udara dingin dan perasaan cemas terpaksa kita nyanyikan berbagai lagu-lagu, jika habis lagu lama, kita putarlah lagu cinta, jika selesai lagu cinta maka lagu nasional tak kita tinggalkan. Itulah kenapa kita banyak-banyak bersyukur bisa sampai juga di rumah, meski malam hampir larut.

Waktu itu kita menyadari betapa spesial masing masing kita bagi satu sama lain. Sehingga kupersiapkan juga dengan spesial perayaan hari kelahirannya. Sedari pagi kusiapkan tempat makan malam yang istimewa di kafe di teras gedung mall dengan live musik itu. Selesai kita makan, sunyi sejenak, sebelum tiba-tiba band itu membawakan lagu happy birthday to you, dan pelayan membawakan kue dan kado yang sudah kupersiapkan untuknya, membuat tersipu wajahnya, membuat kita jadi bahan penglihatan pengunjung lain, beberapa bertepuk tangan. Ketika dia tiup dan potong kue tar itu, potongannya terlalu banyak untuk berdua sehingga harus kita berikan juga ke meja yang lain.

Di kota Jogja kita sementara menjalani hidup, kita menikmati hidup, termasuk itu musik jazz di waktu hujan, irama jazz yang sulit dimengerti, seperti juga galeri seni yang kita kunjungi dan tak kita pahami. Ramai orang memadati, dari satu panggung ke panggung lain, irama jazz dan hujan adalah keserasian yang perpaduan manusia dan alam berikan untuk menjadi sumber bahagia kita. Untuk melengkapi suasananya, tentulah kita teguk pula wedang jahe hangat. Apakah waktu bisa berhenti di sini, yang begitu ternikmati? Tetapi waktu terus berjalan tak peduli kita menikmati atau meratapi.

Kita terus bersama mengesampingkan segala perbedaan yang ada diantara kita. Apalah arti berbeda selera makan, berbeda kesukaan, berbeda pengetahuan, berbeda pengalaman dibandingkan perasaan kita yang sedang euforia. Bukankah perbedaan itu yang membuat kita belajar saling menerima? Bukankah kita tetap berbahagia?

Masa-masa itu kita berbahagia, tetapi kita tak tau bahwa itu akan membawa luka. Karena pada suatu waktu tak bisa kucegah untuk mengucapkan kata bahwa tak tau hubungan ini akan dibawa kemana, ada dinding itu yang belum bisa kita tembus, ada kekecewaan itu yang belum bisa kita terima. Jikalau kita tau itu akan sebegitu luka meski sebelumnya bahagia, jikalau kita diberikan pilihan untuk mengulanginya, entah apakah kita masih akan menempuhnya atau justru akan menghindarinya.

Suatu waktu kudengarkan lagi lagu yogyakarta, terlintas pula bayangannya..

Walau kini kau telah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…