Sunday, November 18, 2007

Sebenarnya cinta?


Udara sejuk yang menyapu hangat mentari senja tak luput dari membelai wajah mereka berdua, yang tengah duduk menikmati rasa dan aroma secangkir kopi hangat di bilangan Dago atas, Bandung. Suasana yang mengudara sesejuk udara yang mereka resapi.
Suasana, itulah yang ditunggu-tunggu oleh Randi Suranda, remaja pria yang telah sekian lama melakukan pendekatan intensif terhadap (tentu saja) remaja wanita (cantik) di hadapannya, Liyani.
“Suasana, ciptakan suasana yang tepat, dan bidikanmu akan mengenai sasaran.“ Itulah sebuah pesan yang sedang berdengung di telinga Randi, dari seorang teman bernama Dodon yang berprofesi sebagai konsultan cinta kecil-kecilan dan belum pernah (sama sekali) terbukti keabsahannya. Dan Randi tak punya orang lain yang sedikit lebih tepat untuk dimintai saran.
Suasana, inilah dia suasana yang tepat. Pekik hati Randi, sembari menatap pujaan di depannya yang terlihat menikmati dari anggukan-anggukan kecil yang dibuatnya seirama lagu lembut yang sedang di udara.
Saat Arjuna di benaknya menarik busur, Randi memulai kata.
“Yan, terus terang, sejak zaman dulu kala, aku udah nunggu momen ini, momen dimana aku pengen bilang…. Aku cinta kamu, aku padamu, I lop u.” Ucapnya, diikuti diam, berharap apa yang dia katakan akan menuai gema, setidaknya sebuah iklan telah menjanjikan itu, ‘percakapanmu pasti kembali’, katanya, yang membuat Randi tersugesti untuk mengganti kartu ponselnya. Randi memang bukan udang, tapi karena terobsesi oleh cintanya, dia hanya mampu berpikir setaraf teman-teman udang.
Tik tik tik… detik yang berjalan lebih lambat dari detak jantungnya terasa sangat sunyi, di depannya sang penguasa detik-detik yang barusan berjalan, masih terlihat tenang, matanya masih menerawang tak menatap Randi. Masa-masa ini adalah masa-masa wanita memegang kekuatan yang tak seorang pria pun bisa membantahnya. Tidak terdengar gema, Randi segera membuat catatan di hatinya untuk mengganti kartu ponselnya.
“Jadi, kamu gimana, Liyani ?”
Seraya mengembangkan senyum, Liyani malah menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain, yang sangat tidak relevan.
“Kamu tau ngga, lagu ini lagu siapa?”
“Aduh, Yan, jangan mengalihkan pembicaraan dong, aku ngomong serius tadi. Masa pertanyaan dijawab pertanyaan? Jeruk makan jeruk. Lagipula kamu udah tau kan, aku bukan penganut pop musik kaya gini, udah jelas aku penganut aliran the, the beatles, the doors, the strokes, tho jonis, mana aku tau ini lagu siapa, pasti ga ada the nya…”
“Aku suka banget lagu ini, ini lagu letto, sebenarnya cinta.”
“Oke, oke, karena kamu suka lagu ini, aku juga suka deh sama lagu ini, jadi mari kita kembali ke pokok permasalahan?”
“Naah, gini aja, aku bakal ngejawab pertanyaan kamu, setelah kamu bisa ngejelasin ini sebenarnya lagu tentang apa? Satu minggu, oke?”
“Duh Gusti!” Ucap ekspresi Randi.
***
Dan demikianlah, Randi lantas membeli kaset letto, mendengarkannya berjam-jam, berhari-hari, dan mulai mencari teman terdekat untuk berkonsultasi. Dan itulah sebuah kerugian berteman dengan manusia-manusia yang hidupnya semrawut dan membaktikan diri pada aliran musik anti kemapanan, mana mungkin menanyakan arti lagu letto kepada pecinta sek pistol, nirvana, dan saudara-saudaranya. Randi hanya mendapat celaan dari si Dodon,
“Sejak kapan maneh suka ama the letto? Malu dong men, sama mendiang Jim Morrison!”
Sebenarnya Randi tidak terlalu buta dengan puisi, dia pernah membaca Gibran, Rumi, atau penyair lain. Tapi itu sekedar membaca, dan jarang benar-benar mengerti apa yang dia baca. Setidaknya namanya yang khas sunda sudah mengandung puisi, walaupun tak memberi bantuan sama sekali.
Dan Randi pun harus berjuang keras dengan otaknya yang terbatas untuk menterjemahkan lirik lagu sebenarnya cinta tersebut sendirian. Setelah satu minggu kurang satu hari berlalu dengan penuh kontemplasi, akhirnya dia mulai menuliskan interpretasinya.
“Irama lagunya lembut, artinya lagu ini mungkin merupakan sebuah perenungan untuk hati, Randi malah mulai menyukainya, dia lalu memotong-motong menjadi bagian yang diterima akal dangkalnya.
Satu detik lalu
Dua hati terbang
Terlihat indahnya dunia
Membuat hati terbawa
Ini menceritakan kejadian yang baru saja terjadi, dua hati terbang adalah gambaran menyenangkan, seperti burung yang terbang, superman terbang, atau bisa jadi juga ekstase seperti ngefly, seperti yang sering dilakukan si Dodon, ya mungkin yang paling tepat adalah ekstase, mungkinkah ekstase karena pacaran karena yang terbang adalah dua hati? Di dunia memang banyak yang indah-indah, saat sedang terbang atau bahagia hal itu lebih keliatan jelas. Ya ya, artinya pasti dua hati terlena, just like a dandut song, jadi pasangan yang sedang terlena, oh terlena.
Dan bawa ku kesana Dunia fatamorgana
Termanja-manja oleh rasa
Dan ku terbawa terbang tinggi oleh suasana
Si pelaku terbawa ke tempat yang sama, atau sipelakulah satu dari dua hati tadi. Naah lho, kok dunia yang indah tadi dianggap fatamorgana? Sesuatu yang indah seperti yang diinginkan, tapi tidak nyata. Apa karena dunia penuh kebusukan, makanya sesuatu yang indah adalah fatamorgana?
Dari sudut mata
Jantung hati mulai terjaga
Bisik di telinga
Coba ingat semua
Dari sudut mata, artinya adalah sesuatu yang tidak dilihat secara penuh, dilirik, dilihat sekilas. Jantung hati pasti artinya intinya hati, mungkin hati nurani, yang tiba-tiba bicara agar dia kembali ingat untuk bangun dari dunia fatamorgana yang dibangunnya.
Dan bangunkanlah aku dari mimpi mimpiku
Sesak aku di sudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata
“Pada tahap ini dia ingin dibangunkan dari mimpinya, dunia fatamorgananya, untuk kembali ke dunia nyata. Dia sangat menginginkan itu, hingga dunia maya terasa sesak.”
Dan bangunkanlah aku
Dari mimpi indahku
Terengah-engah ku berlari
Dari rasa yang harus kubatasi
Disini dia berkata, bahwa dunia fatamorgananya adalah rasa itu sendiri, yang harus dibatasi, yang sangat ingin dia hindari setelah tersadarkan oleh bisikan hati kecil.
Dan kau menawarkan rasa cinta dalam hati
Kutak tau harus bagaimana untuk raba mimpi atau nyata
Dan bedakan rasa dan suasana dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya
Wah, mulai membingunkan nih, rasa cinta dalam hati apakah rasa tadi, atau rasa yang lain? siapa yang menawarkan, apakah satu dari dua hati tadi, atau sesuatu lain yang memberikannya rasa cinta, atau siapa lagi? Dia tidak tau lagi bagaimana membedakan antara maya atau nyatanya, atau mana rasa sayang atau cinta yang sebenarnya?
Dan bangunkanlah aku dari buta mataku
Jangan pernah lepaskan aku
Untuk tenggelam di dalam mimpiku
Sampai akhir dia masih merasa tidak bisa melihat dengan jelas mana yang harus dijalaninya, apakah dunia seperti mimpi, atau dunia nyata, dan tentu saja itu sepertinya adalah analogi untuk sebuah cinta, cinta yang sebenarnya.
Jadi cinta sebenarnya, cinta seperti apa?
Pasti itu cinta dengan derajat yang lebih tinggi. Lantas, bagaimana sebenarnya derajat-derajat cinta ini? Mungkin saja derajat yang paling rendah adalah mencintai untuk dicintai. Apa aku mencintai Liyani hanya agar dia bisa membalas cintaku dan pada akhirnya cintaku padanya hanyalah cerminan dari betapa aku mencintai diri sendiri? Betapa rendahnya cinta seperti ini saat banyak kisah orang bunuh diri untuk menyusul mati orang yang dicintainya?
Rasa yang sebenarnya, dengan derajat yang lebih tinggi, apakah itu cinta dimana kita mencintai seadanya, tanpa pretensi, tanpa balas budi, tanpa mencintai diri sendiri. Sudah tentu ini adalah lebih baik, layak menjadi perjuangan untuk digapai oleh seorang pecinta, bisa jadi inilah yang dimaksudkan oleh lagu itu.
Tapi mungkin ada derajat yang lebih tinggi lagi, yaitu cinta kepada sang pencipta, dimana Rumi merasakan cintanya? Cinta jenis ini tentu saja punya derajat tinggi, mencintai oleh karena kita sudah diberi cinta sejak diciptakan. Cinta yang universal, cinta kehidupan dan pemberi kehidupan. Mungkin saja. Tapi, ah, jaman sekarang mana ada cinta yang kaya gini, ga relevan. Jadi, apa maksud lagu ini sebenarnya? Kurang ajar siah, bikin ribet pikiran aja… “
Randi bingung dengan sangat, tak mampu menjawab pasti tantangan yang diberikan padanya. Dia jadi termenung, melupakan rutinitasnya, dan justru memikirkan kembali rasa cintanya pada Liyani. Kenapa harus dia jatuh cinta padanya? kenapa dia harus mengungkapkannya? Dan kenapa dia berusaha keras agar bisa mendapatkan ungkapan yang sama dari Liyani? Bahkan setelah merumuskan bagaimana tingkatan-tingkatan dalam cinta, dia belum tau pada taraf mana dia mencintai, selain kenyataan bahwa dia belum berhasil menjawa tantangan dari Liyani.
Besok dia harus memberikan jawaban, namun belum ada jawaban pasti untuk diberikan demi mendengar jawaban yang diinginkan, bahkan dia tak bisa menjawab keraguannya terhadap dirinya sendiri yang secara tiba-tiba. Dia benar-benar butuh jawaban. Larut malam semakin melarutkan perenungan Randi, dia pun tertidur. Menyerahkan semua urusan pada cengkeraman hari esok, dari ketak berdayaan hari ini.
Pagi-pagi, saat hendak keluar untuk bertemu Liyani, si Dodon teman setianya datang tanpa diundang.
“Kemana aja lo men, ga pernah keliatan? Mo kemana lo? Gw nebeng istirahat dong, pengen baca buku baru nih.”
“Biasa bro, gw abis bertapa, sok aja ke dalam, tapi gw mo pergi dulu ketemu Liyani. Lo di dalam aja. Emang buku apaan nih, setebel Gaban?”
“Ini men, bukunya Eco, mantap nih, lo pernah tau interpretasi atas interpretasi? Nah, ini dia salah satu penganutnya, masa dia bilang penulis harusnya mati setelah menyelesaikan tulisannya, agar karnya bebas, bebas diinterpretasi tanpa campur tangan penulisnya”
Randi mengambil buku dari tangan Dodon, membaca sinopsisnya, membolak-balik sebentar, lalu tersenyum.
“Oke bro, thanks, gw tinggal bentar yak, anggap rumah sendiri.”
***
Beberapa saat kemudian di tempat dan waktu yang dijanjikan, Randi memulai penjelasannya pada Liyani.
“Yan, sebelumnya makasih banget kamu udah ngasih aku kesempatan buat ngartiin lagu ini, aku antara suka tidak juga sih nerimanya. Bahkan pada akhirnya aku cuma bisa menyimpulkan kaya gini. Apapun arti yang aku dapat, itu tak terlalu penting untuk kamu atau untuk semua orang, dalam benar atau salah. Karena teks puisi harusnya bebas dalam penafsiran, aku bisa ngartiin begini, kamu bisa begitu, dan orang lain bisa sebagaimana mereka mau. Karena itulah puisi jadi lebih indah, bagi setiap orang, tidak cuma bagi pengarangnya.
Liyani menyimak dengan serius, karena kali ini Randi terlihat serius, berbeda dari kebiasaannya. Randi lalu menceritakan apa yang dia tangkap dan pahami dari lagu sebenarnya cinta tersebut. Liyani hanya mendengarkan, sembari memberikan senyuman kecil yang manis.
“Lalu,” lanjut Randi, “Pada titik aku mengambil kesimpulan ini, aku udah menyimpulkan bagaimana seharusnya cinta yang sebenarnya, tapi aku masih belum tau aku punya cinta yang bagaimana. Dan rasanya ga adil, jika aku pengen kamu balas cinta aku, padahal aku sendiri masih meragukan pada taraf apa aku memiliki cinta. Jadi aku pengen, untuk sementara ini, anggap saja aku ga pernah ngomong cinta sama kamu.”
Randi menyudahi penjelasannya, seraya bangkit.
“Pulang yuk, aku tadi ditungguin temen di rumah.”
Liyani menatap dengan aneh, mukanya mendadak cemberut.
“Randi, tunggu!”

Friday, May 25, 2007

Dia, Engkau dan Aku

Dia memulai hari dengan senyum. Seperti matahari yang memulai hari dengan kehangatan. Dia berjalan, terus berjalan, lalu berhenti sejenak untuk menatap ke belakang dan mendapati sekian banyak jejak yang dia tinggalkan telah mengatarkannya kesini. Ketempat dia berdiri. Mencermati bahwa tidak semua jejak itu dia yang buat, setidaknya ada yang lain yang telah membuatnya menapak disana.
Semua jejak, meski ada di belakang, membuatnya punya pertimbangan untuk langkah selanjutnya. Bahkan apakah itu harus dengan kaki kiri atau kaki kanan. Kaki kanannya yang telah terangkat dan menyisakan ujung-ujung jari menempel dibumi, membuatnya tak mungkin melanjutkan langkah dengan kaki kiri, kalau tidak hendak terjatuh. Pilihannya dibatasi. Bahkan keberadaannya sebagai seorang wanita telah memberi batasan awal yang tak bisa di hindari.
Dia tak pernah menyesal, setidaknya untuk jenis kelamin yang dia peroleh. Toh, buat apa pula itu disesali. Orang-orang yang tak sadar akan potensi kewanitaan yang melakukannya. Dia juga jarang mengeluh, silakan tatap matanya dan akan kau temukan ketegaran yang hidup berikan pada orang-orang yang bertahan. Meski begitu, semua getir dan pahit yang pernah dia kecap membuat lidahnya seringkali kelu untuk berbicara dengan bahagia, atau untuk menertawai dukanya. Tapi itu semua juga tak cukup untuk membuatnya menangis, meski air mata adalah anugerah yang tak disadari dimilikinya. Dia hanya tersenyum, dan itu cukup untuk menggambarkan betapa dia masih melihat dunia ini dengan sebuah kebaikan.
Dia tak punya banyak teman, karena teman inginkan tawa. Dia tak bisa. Dia hampir lupa akan tawa, dan itu mungkin membuatmu akan melupakannya. Tapi dia tetap dia, dan dia berbeda dengan mu seperti halnya kau berbeda dengannya. Dia menghargai itu.
Dia melanjutkan langkah. Hingga saat dia melihat sesuatu dari seseorang yang menatapnya. Dia menemukan dirinya dalam cinta. Bukan karena penampilan, bukan karena keberada an, bukan karena apa-apa selain dari pribadi yang dicintainya. Dia mencintai apa adanya, sebagaimana dia menjalani langkah sebagaimana adanya.
Lalu dia berjalan kembali, kali ini berdua. Tetap dengan langkahnya yang kecil-kecil dan pandangannya yang seringkali hanya menatap langkah berikutnya. Sesekali dia memperhatikan sekelilingnya. Dia lihat ada dunia yang gemerlap, banyak orang-orang yang bersenang-senang di dalamnya, bibir-bibir sampingnya turun sedikit. Dia juga melayangkan pandang pada kehidupan yang kelam. Terlihat seorang anak kecil yang hampir menangis, mengemis di tepi jalan. Anak yang manis, katanya, bagaimana bisa mengemis. Sungguh ironis. Dia mengembalikan senyum, senyum untuk dunia yang penuh ironi, senyum yang mengembalikannya pada pandangan yang realis. Senyum yang mengandung tangis.
Dia terus berjaan, berdua. Disampingnya aku berada, yang tak ingin menjadi aku. Tapi tak pernah bisa hanya melihat dia sebagai dia atau engkau sebagai kau. Yang ku lihat, bahkan, hanyalah dia menurutku dan engkau sebagaimana yang aku tangkap. Dan itu menjadikan dunia tetap penuh dengan ironi.

Sunday, April 29, 2007

Introduction to a Friend Named Sahrial

Sebuah permintaan dari seorang teman,
"Tolong kirimin dong apa yang lo inget dari gw waktu kuliah dulu?"

Dan berikut ini uraiannya,
Gw ga tau kapan pertama kali ketemu ini makhluk. Yang jelas sedari pertama mulai kuliah dan sekelas dengan Rahima indria hanifa dengan bonus sofyan, uun, dan febi febiola, tentu saja mengenal makhluk ini adalah opsi yang terakhir dari semua opsi atau tidak masuk dalam opsi sama sekali. Ya, keberadaannya waktu itu ibarat debu, seperti juga dia ibarat debu bagi wanita-wanita cantik yang sudah punya pacar tampan dan kaya.

Pada suatu hari semasa TPB, pernah ada yang nanya ke gw, ketua angkatan PN 2001.
"Sipil 2001 ya, kenal sahrial ga? Cacat tuh anaknya"
"Sahrial mana? Kayanya si kenal."

Maka gw mulai mengamati, sebagai satu angkatan, akhirnya gw terpaksa harus kenal, atau setidaknya tau. Ternyata makhluk ini yang dimaksud, gw liat punya komunitas sendiri, mungkin genk kelas, dan kayanya kerjaanya merokok terus. Dengan tambahan, rokok yang dihisap sepertinya melulu hasil tebengan saat seorang dua anak selesai Ospek mengeluarkan sebungkus rokok.

Demikianlah, akhirnya dua semester pertama berlalu dengan sukacita mengingat kegiatan ospek hampir berakhir. Kita memasuki acara akhir. Makhluk bernama sahrial ini cukup terkenal karena kejadian yang menyebabkan dia dijuluki KUTABOK (Kuya Takut Boker). Dan image itu masih melekat diantara anak-anak seangkatan hingga saat ini.

Kemudian saat kita di himpunan mahasiswa terbaik se Indonesia raya, gw tetap belum begitu kenal sama makhluk ini. Gw kebanyakan nongkrong di HMS dan makhluk ini adalah tipe-tipe ke himpunan kalau ada keperluan. Misalnya, ngopy master ujian beton, ngutang indomie mang godek, atau ditunjuk jadi koordinator plakat setelah menolak dengan keras, dsb.

Meski demikian, karena kita sesama nim genap, maka interaksi di kelas yang dikelompokkan genap ganjil tak bisa di hindari. Dan itu adalah musibah! Berhubung dia berisik dan pemalas, kuliah beton dan astruk kita sering duduk sama-sama, akhirnya banyakan ngobrol ke utara dan selatan daripada mendengarkan ocehan bu dosen soal bondan yang kekar dan mirip beckam.

Seingat gw waktu itu, yang ga siap buat ujian beton atau anstruk, gw tinggal liat aja tampang ini makhluk, maka ada dualisme keadaan yang akan terjadi gw akan tenang atau gw akan tambah panik. Ya iyalah, tampangnya tertindas penuh tipuan dan dengan tingkah laku grasak grusuk nyari master atau bikin contekan tanda belum belajar. Pasti nilainya lebih rendah daripada gw! Ini yang bikin gw tenang.

Ternyata eh ternyata, nilai keluar dan dia dapat nilai beton A dan gw cuman dapat C! Sial! Bangsat kodok beracun!

Meski begitu kita tetap teman, dan gw akui bahwa makhluk ini termasuk jajaran orang-orang jenius yang setingkat di bawah gw. Hal ini terbukti dari IPK nya yang belakangan lebih kecil sebanyak 0,01 poin dari gw dan terbaca dari begitu seringnya dia nyontek jawaban ujian gw, atau nyalin tugas yang baru saja gw salin dari Master Wong (Oscar).

Kegiatan kita yang rutin adalah ngospek bareng. Kegiatan incidental kita adalah menjelajahi bazaar dan konser, update ke toko kaset, absen ke distro-distro, serta ngeceng ke toko buku-toko buku indie label.

Waktu jadi panitia ospek makhluk ini adalah seorang anggota tim sweeper yang dimotori oleh Uun. Kelebihannya adalah punya motor dan "malas lari" sehingga tergabung dalam tim sweeper. Dan sepertinya Ospek bagi kita adalah untuk "memperhatikan" adek-adek kelas yang lucu serta jurusan lain yang manis-manis yang sering papasan lari pagi. Kadang kita terjebak dalam perdebatan penuh dilematika, pakai si bejot yang sering mogok di lampu merah atau si merry yang pemiliknya sayang bensin, buat cuci mata ke unpar dan melarikan diri dari kegiatan rutin nyiksa adik kelas.

Suatu hari setelah ospek (mungkin), kita (Agung, Sopyan, Uun, Sahrial dan Yows) sedang sibuk (iya, ini adalah kesibukan) membahas sebuah sinetron yang sedang "In". "Inikah rasanya", tentang kisah cinta-cintaan anak SMP. Tersebutlah tokoh yang dianggap sangat ganteng (oleh skrip sinetron) bernama Jason yang kumisan, memiliki sebuah genk bernama Geng Destrol. Dan demikianlah, bagaimana sinetron bisa berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis anak-anak, Sahrial memprakarsai berdirinya Genk Destrol meniru sinetron anak SMP. Yang kemudian nama Destrol disalah ejakan menjadi Destroy.
Kesibukan kita terus berlanjut, diantaranya yang paling sibuk, adalah ngeceng.

Demi ngecengin anak T. Lingkungan 2003, yang cantik-cantik kita menyelundup dalam sebuah kegiatan anak TPB Lingkungan bertajuk hari Ozon. Save the planet. Misi kita adalah mulia, kita tidak rela anak Tl yang manis-manis, kulitnya terbakar akibat pemanasan global karena menipisnya lapisan Ozon. Maka kita mengikuti barisan berkeliling kampus sembari menghapal Yel-yel dan bernyanyi-nyanyi.

"Kalau saja kita mematikan Ac Ozon tak kan begini, piker-piker daripada Ozon jadi bolong lebih baik kita kipas-kipas dong. Yeaah!" Akhirnya berhasil kenalan sama dua cewe diantara rombongan, yang paling cilun, Yows Sipil 2002 dan Iyal Arsitektur 2002.

Hari-hari tingkat tiga memang hari-hari ngeceng tingkat tinggi. Ngeceng berikutnya, bermula dari ajakan sahrial mengikuti gerakan seribu pohon di punclut. Maka, jadilah kita dua orang relawan Teknik Sipil yang berpartisipasi dalam penanaman pohon di daerah rawan longsor tersebut. Kita selalu rela menjadi relawan, kalau berkenaan dengan anak-anak lingkungan…

Makhluk ini penyuka musik spesifikasi koleksi kaset-kaset the best dari setiap band yang telah bubar, mungkin dia punya the best of Stinky. Dia juga termasuk seorang anak yang terjerumus pada aliran anti kemapanan, berbagai band local dan luar yang dia kenal menunjukkan hal itu. Hal ini sedikit banyak diakibatkan oleh pergaulan semasa SMA, dimana dia menjadi orang yang dizhalimi oleh genk yang lebih berkuasa.

Namun, aliran cadas yang disukainya, dinegasikan dengan kefanatikannya pada sebuah band bernama flanela yang liriknya merupakan ungkapan hatinya. "Cinta abadi yang terluka…."
Dulu, kalau bercerita tentang cinta, yang tergambar di otak " full of porn imagination" nya adalah seorang anak Plano 2001 bernama Astri. Semua lirik lagu putus cinta menggambarkan kisah cinta dirinya pada diri Astri. "Kau tercantik dalam hatiku, walaupun orang tak berkata begitu." Yang selalu dilanjutkan dengan "Ingin ku bunuh pacarmu.."

Kedesperate-an akan cinta ini juga berimbas pada selera buku yang dia punya. Saat kita mengunjungi toko buku kecil di Hegar Manah, atau Rumah Buku di Geger Kalong yang dicari adalah seri kisah cinta yang aneh. Misalnya: 10 Kisah cinta yang mencurigakan/Terlarang. Dan begitulah hari-hari yang dilaluinya semasa tingkat tiga. Desperate berteman dengan cinta abadi yang terluka.

Namun lambat laut dipenghujung semester, mulai terjadi perubahan, makhluk ini akhirnya dekat sama cewe yang bisa diajak berasyikmasyuk inisial Puri. Misalnya: "Duduk berdua di bawah pohon, membahas puisi atau sastra, di antara daun yang berguguran." Dan jadilah gw sering berperan sebagai nyamuk-nyamuk nakal.

Lalu tiba-tiba makhluk ini mengakhiri kejombloannya, dengan demikian intensitas ngeceng jadi berkurang, kecepatan motor tinggi dan rem mendadak waktu melihat ada cewe terlihat cantik di pinggir jalan, lalu gas cepat-cepat lagi karena cewe ybs ternyata tidak cantik, juga hilang. Yang krusial, makhluk ini tidak merokok lagi. Itulah dahsyatnya power of love. Tapi ternyata dia sekarang sudah merokok lagi setelah hubungannya berakhir… Itulah dahsyatnya power of desperate… hehe2.

Yah, demikianlah.
Sepercik tentang sahrial yang tertangkap indra dan berbekas dikepala. Selebihnya sangatlah luas yang hanya mampu diulik oleh wanita yang akan beruntung (atau mungkin sial?) mendapatkannya. Wakakak!

Selamat dan Semoga sukses buat Sahrial my bro!

Wednesday, April 04, 2007

cinta pergerakan atau pergerakan cinta?


Ini adalah sekelumit kisah dari masa kuliah dulu.

Alkisah pada suatu hari yang cerah, dimana hati Yows selalu gundah. "Kenapa tak ada yang mau singgah?" Demikian suara hatinya membantah kehidupan yang terasa begitu sampah.

Yows sedang berjalan bersama Edd Corp (pemilik anak perusahaan Yows Corp) melewati gerbang kampus. Terdapat kerumunan orang-orang yang sepertinya sedang ber-aksi (melakukan aksi, aksi = demonstrasi (melakukan demo), demo = pertunjukan jadi mereka sedang mengadakan pertunjukan). Terdapat di antara kerumunan tersebut, seorang wanita cantik putih berseri memakai jilbab, menyebarkan propaganda (Tolong pak polisi, dirinya jangan ditangkap).
"Mayan Edd" kata Yows
Edd no comment.
Mereka menghampiri, dan ketika wanita membagikan selebaran kepada Yows.
"Aksi apaan nih?" Sambil melihat wanita
"Ini, selebaran untuk aksi mengenai advokasi bla2)"
" Advokasi itu apa?" Belum mengerti dan melihat wanita
"Itu adalah Bla2 bla2" Tetap Yows tidak mengerti dan melihat wanita yang menjelaskan dengan canggung, pertanda dia juga tidak begitu mengerti (hehe).
"oo, iya makasih ya."
Kehabisan pertanyaan, Yows pun berlalu sambil tetap menatap wanita, mengerti tak mengerti tak masalah, yang penting bisa ngobrol.

Iringan-iringan yang melakukan pertunjukan akhirnya berjalan dalam beberapa baris hendak menuju Gedung Sate, dan selanjutkan melanjutnya pertunjukan di sana. Satu orang berteriak-teriak menggunakan Towa, yang biasa disebut sebagai Komandan Lapangan. Namun semua ini hanya dianggap pertunjukan bagi kebanyakan mahasiswa ITB, yang kebanyakan self oriented. Dan demikianlah, akhirnya Yows mengerti bahwa ini adalah rombongan dari Sosial Politik KM.

"Cewe yang itu anak mana Edd?" Tanyanya pada Edd Corp, makhluk jalang yang kadang-kadang cukup berpengetahuan.
"Kalo ga salah anak IF bang!" Ucap Edd Corp cukup yakin, padahal diketahui kemudian, jawabannya adalah SALAH!

Hari-hari berlalu,
Pada suatu hari yang sedang berlalu itu, Yows melihat sebuah spanduk : "Seminar Tentang Korupsi. Di Altim". Dengan berbekal harapan akan seperangkat konsumsi yang disediakan panitia, Yows pun melangkahkan kakinya kesana.

Ternyata penjaga meja tamu adalah wanita "mayan" tempo hari. Yows mengisi buku tamu, dan menatap wanita tersebut sekilas. Wanita (terlihat seperti) menatap Yows sekilas juga. Degh!
"Mayan nih cewe, aktif di pergerakan lagi." Ucap Yows dalam hati.

Beberapa bilangan waktu lagi berlalu, Yows bertanya pada Nani (inisial, bukan Nani dalam lagu Harapan Jaya: Kuliah Pagi), seorang adik kelas yang ikut berkecimpung di Sospol.
"Kenalkah dengan anak yang bla bla?"
"Oh, itu ely (inisial, belum tentu asli sunda) anak GX2003. Kenapa?" Katanya
"Oks d, gadapapa." Yows pun menitipkan harapan keselamatan bagi wanita tersebut.

Krisis BBM melanda negeri. Pemerintah, dengan perhitungannya, menerapkan ke(tidak)bijakannya menaikkan harga BBM. Mahasiswa yang memiliki papan nama rakyat kecil marah. Diskusi digelar, dan mereka sepakat untuk kembali ber-aksi. Tetap diprakarsai oleh bagian KM (Keluarga Mahasiswa) ITB. "Kenapa himpunan ga punya prakarsa ya? Mungkinkah, ini sudah kewajiban mereka yang secara struktural pada posisi untuk mengemban kewajiban?" Pikir Yows kala itu kebingungan, tapi bukan untuk memperdebatkan itu cerita ini bergulir.

Yows muda beranggapan bahwa, orang-orang yang sepertinya sedang membela rakyat itu perlu dibela, maka Yows ikut dalam sebuah aksi. Beragam almamater berkumpul di Monumen Perjuangan Bandung untuk kembali berjuang. Di antara mereka Yows tiba-tiba melihat wanita yang menarik hatinya kala itu. "Sambil menyelam minum sari apel nih.*" Pikir Yows.

Diantara kerumunan dan barisan yang sibuk bersuara gaduh, Yows mengambil kesempatan mendekati Ely yang sedang membagi-bagikan selebaran.
"Bagi-bagi selebaran lagi ya? sini dibantuin."
Tidak terjadi percakapan lanjutan di antara mereka, Ely memberikan sebagian selebaran yang isinya menuntut pemerintah membatalkan kenaikan BBM dan mengaudit korupsi di Pertamina, lalu mereka berdua sama-sama menyeberang jalan. Dan ini adalah Teklap (Teknis Lapangan) yang terencana oleh Yows.

Yows tidak berorasi, meskipun pada kapasitas yang seharusnya bisa berorasi (ya iyalah, masa mau mengambil Tows dengan kata-kata "aku padamu!"). Yows malah membagi-bagikan selebaran, sambil curi-curi pandang. Curi ke kiri curi kedepan curi ke belakang? Loh…

Sambil lalu Yows malah mengamati kerumunan berbeda dari Himpunan yang sepertinya membawa bendera bernuansa mahasiswa islam (you know what I mean?), yang malah memisahkan diri dan membakar ban. Banyak diantaranya yang justru berpenampilan ala underground dan punk, petugas kepolisian menertibkan mereka sebelum Yows melakukan sesuatu (Apakah sebenarnya ada yang bisa dia lakukan?). Dan begitulah adanya, ternyata kita tak bisa melihat inti sesuatu dari sebuah bendera, don't judge a thing by it's flag, karena seringkali… (Mari kembali ke inti cerita dan mengesampingkan kajian berbau politis).

Hari berputar-putar, masih dengan hari yang berputar, Yows (tak) sengaja membaca sebuah spanduk bertuliskan seminar (solusi) krisis energi. Dengan harapan mengisi banyak di perut dan sedikit di otak seperti biasa, ditambah harapan bertemu ely lagi tentunya, akhirnya Yows menghadiri.

Ternyata dirinya ada, Yes! Dengan sedikit ria akhirnya Yows bertanya pada pembicara seminar.
"Nama saya Yows (yang sebenarnya, pengucapannya diperuntukkan terutama sekali bagi si wanita) ingin bertanya bla bla…. ? Bagaiman dengan bla bla bla…?"
Brol diobrol obrol yang berlanjut dari pembicara, akhirnya seminar berakhir dan Yows keluar, sambil menenteng konsumsi yang cukup menghemat belanja harian perut, si Ely juga berjalan hendak pulang. Yows menghampiri.
"Ely ya, mau kemana?"
"Mau ke Salman"
"O, sama, bareng yuk" Padahal kalau dia menjawab mau ke BIP, akan dijawab sama juga (Hehehe).
Akhirnya mereka berjalan beriringan, dan brol diobrol obrol akhirnya terjadi perkenalan. What's amazing is, the girl already knows or memorize Yow's name.
Di Salman mereka berpapasan dengan Nani yang terkaget-kaget, dan belakangan mengajukan pertanyaan, "Kok bisa jalan berdua?" dan mengingatkan "jangan sering-sering ya!" (Terima kasih untuk Nani)

Dan demikianlah, hari masih berputar karena belum menemukan tempat pemberhentian. Yows masih mengikuti perputaran hari. Yows mengikutinya bersama semangat baru yang diwarnai dengan keberhasilan sebuah perkenalan.

Tibalah bulan yang dinanti bagi umat islam, bulan ramadhan.
Beberapa hari puasa, Yows mengajak Ely berbuka bersama. Ajakan pertama melalui SMS bertepatan dengan hari ulang tahun Yows, ditolak dengan halus. Ajakan kedua sekitar seminggu kemudian melalui telepon di pagi yang buta.
"Halo. Selamat pagi"
"Halo."
"Dah bangun blom?"
"Udah, ni baru aja bangun."
"Oo, blm sahur dong."
"Iya, blm."
"Eh, tar sore buka bareng yuk."
"Hayu."
"Ya udah, buruan sahur ya, keburu imsak."
"Iya."
Akhirnya Ely menerima ajakan berbuka bersama, padahal kelak diketahui dia pada hari itu tidak berpuasa karena sedang berhalangan. Hehehe.

Bulan ramadhan adalah benar bulan yang penuh berkah. Setidak nya bagi Yows pada bulan itu. Setiap hari berlalu dengan saling sapa, saling membangunkan, berbuka bersama, tarawih bareng. Mengingatkan akan sebuah lagu, bernuansa Jazz yang dinyanyikan seorang wanita. "Pergi tarawih bareng di bonceng naek vespa (lirik seingatnya dan bukan lirik sebenarnya: adakah yang tau lagu ini?)"

Minggu mengejar hari, bulang merangkum minggu, dan tahun merangkai bulan. Akhirnya hingga kini, mereka masih menjalin hubungan.
Terima kasih untuk semuanya.

Kadang-kadang apa yang kita ingat dari masa lalu, belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya (inti cerita film Banyu Biru) dan demikian juga apa yang ditulis disini. Dimana sedikit banyak mengalami distorsi ingatan, dan banyak sedikit dilatat belakangi self oriented. Semua untuk hiburan dan romantisme belaka, tanpa maksud untuk menyinggung satu atau dua pihak. Dan cerita ini belum tentu menyatakan bahwa Yows telah menodai pergerakan kemahasiswaan. (wakakak)

Seiring waktu penulis menyadari bahwa "aktivis" bukanlah orang yang banyak mengkaji berbagai permasalahan di kampus, dan meneriakkan ego komunitas nya agar semua berjalan sesuai sudut pandang kemahasiswaan. Tapi adalah orang-orang yang bisa melihat dan merenungkan sesuatu peristiwa untuk mendapati realitas dibaliknya, dan mengambil porsi untuk berjuang mempertahankan pemikirannya.

Telaga Air Keruh

Mungkin ini cerpen antah barantah:
Seorang pemuda belia menapaki jalan yang cukup panjang. Berbongkah-bongkah batu dan beragam aral ada di sepanjang jalan yang penuh liku dan tanjakan itu, namun terus ia berjalan. Nafas yang tadinya teratur mulai berubah seiring langkah, dirinya mulai terengah-engah merasakan lelah. Bekal yang dibawa pun hampir habis. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang tua yang berdiri di bawah sebuah pohon bramastana.

Si pemuda bertanya, "Kakek, dimanakah saya bisa mendapati sebuah sungai yang berisi air yang baik untuk diminum dan sesuatu untuk dimakan?"
Si kakek tersenyum, lalu menjawab. "Apa yang kamu cari itu, semua orang yang melalui jalan ini selalu mencarinya, sebagian orang menanyakannya padaku. Aku selalu memberi jawaban dengan apa yang aku ucapkan kepadamu ini."
"Apa yang kamu cari itu, tidak ada disini, atau di sekitar sini. Sedangkan apa yang tidak kamu cari tetapi dapat menggantikan apa yang kamu cari, kamu segera menjumpainya dengan melangkah lebih jauh kedepan sana. Disana akan kamu jumpai sebuah telaga yang keruh airnya, tetapi banyak ikannya. Namun, untuk sebuah perjalanan, engkau tidak harus memakan dan meminum dari air tersebut, engkau bisa mengambil buah dengan mengambil dari pohon-pohon yang sedang berbuah dan menyimpan sedikit air dari hujan yang turun. Sedangkan air hujan tidak selalu membasahi daerah ini. Engkau harus menampungnya dengan wadah yang cukup besar untuk mencukupi hingga perjalananmu berakhir. Tapi semua itu terserah padamu."

Si pemuda memikirkan sejenak apa yang dikatakan kakek di hadapannya. Dia percaya, bahwa apa yang dikatakan kakek itu benar adanya, raut mukanya bersih dan menampakkan kejujuran, tentulah dia penunjuk jalan yang baik, yang selalu menunjuki bagaimana cara menyelesaikan sebuah perjalanan.
"Terima kasih kek, atas petunjuk yang diberikan, sekarang saya ingin melanjutkan perjalanan." Ucap pemuda tersebut. Si kakek kembali tersenyum dan mempersilahkan.

Si muda belia kembali melanjutkan perjalanan. Bekal perjalanannya pun telah habis, waktu yang berlalu dan jejak langkah yang dilaluinya membawanya ke sebuah telaga tepat seperti yang digambarkan si kakek. Betapa keruhnya air di telaga itu, tapi si kakek tidak menggambarkan betapa ramainya orang yang berada di sana.

Kepada seorang Bapak yang baru muncul di permukaan setelah sekian lama menyelam, si pemuda bertanya. "Bapak, apakah air ini baik untuk di minum, dan ada ikan di dalamnya untuk dimakan?" Si Bapak kembali hendak menyelam terhenyak mendengar pertanyaan itu,
"Anak muda, kau pikir apa yang kami semua sedang lakukan?" ujarnya seraya menunjuk sekelompok orang, pria dan wanita, tua dan muda yang sibuk menyelam ada juga yang baru meminum air dari pinggir telaga seraya berusaha menangkap ikan yang ada di tepian.
"Kalau tidak dari air ini, bagaimana lagi mereka semua bisa makan, minum dan bertahan. Sudahlah, jangan ganggu waktu saya, lakukan saja seperti yang orang-orang lakukan."
Si Bapak kembali menyelam.

Si pemuda berpikir sejenak dan membenarkan perkataan orang di depannya, meski terbesit sebuah pesan yang orang tuanya selalu sampaikan, jangan pernah meminum air yang keruh selama di perjalanan. Perkataan kakek yang ditemuinya dipinggir jalan juga kembali menggema dalam ingatan, dia tidak harus meminum air dari tempat ini untuk sampai ke tujuan.

Si pemuda diselimuti rasa ragu, untuk mendapatkan lebih banyak pertimbangan dihampirinya seorang pemuda sebaya yang sedang meminum air dari tepian telaga. "Saudara, apakah air ini bisa di minum dan baik untuk menghilangkan dahaga kita?" Tanyanya.

Si pemuda sebaya menoleh sebentar, sebelum melanjutkan minum.
"Siapa bilang air ini tidak bisa diminum, air seperti inilah yang biasa saya minum dan membantu saya melewati hari-hari. Sudah lama hujan tidak turun dan kau akan mati kehausan menunggu airnya. Lagipula kita tidak bisa bertahan hanya dengan meminum air, kita harus menyelam di tengah sana untuk mendapat ikan besar. Hanya ikan kecil yang ada di tepian dan itu tak cukup untuk rasa lapar. Sudahlah, jangan kau tanya aku dengan sebuah pertanyaan bodoh" Ucapnya seraya terjun kedalam air.

Si pemuda bermuram durja dengan kebingungan yang melandanya. Tak ada lagi yang bisa ditanyai, semua orang kini meminum air sambil menyelam. Kerongkongannya sudah haus tak tertahankan dan perutnya sudah melilit memaksanya mengambil keputusan. Tanpa mengambil sesuatu dari telaga ini aku tak akan bisa bertahan. Sebuah bisikan terdengar di hatinya, Mari mengambil sedikit dan segera melanjutkan perjalanan. Bisikan kembali terdengar, kali ini lebih kuat gemanya. Si pemuda kembali berpikir, entah kapan hujan akan turun di tempat ini. Apa yang tersisa adalah yang saat ini di depan mata. Namun hati kecilnya bersuara
"Jangan! Jangan lakukan atau kau akan berkubang disini selamanya" sesuai pemiliknya, suara itu terdengar amat sayup.

Si pemuda mencecoki hati kecilnya dengan isi pikiran dan perkataan orang-orang yang baru saja didengarnya. Si pemuda menguatkan dirinya bahwa inilah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan orang-orang.

Dengan berjongkok, dengan mata yang terpejam, dengan kedua tangannya, diambilnya segenggam air. Perlahan kerongkongannya mulai terbasuh mengisi hingga ke dalam perut.
"Rasanya memang berbeda, dan semakin haus aku setelah meminum air ini." Ujarnya. "Mungkin aku harus meminum lebih banyak dan mencoba di bagian yang lebih dalam!" Ujarnya seraya terjun menyusul orang-orang. Sementara itu, gerimis mulai turun mengiringi usaha yang dilakukan semua orang yang berada di telaga berair keruh.