Saturday, December 31, 2011

akhir tahun

Perkembangan tulis menulis ku semenjak aktif menjadi seorang blogger dari tahun ke tahun bisa terlihat dari catatan arsip berikut ini.
2005: 50 posting
2006: 16 posting
2007:   6 posting
2008: 10 posting
2009:   4 posting
2010: 17 posting
2011: 30 posting

Ternyata kecenderungan menulisku berfluktuasi dari tahun ke tahun, alias tidak konsisten. Pada tahun 2005 dimana baru mulai mengenal blog, terasa begitu bersemangat dengan dunia baru dan masih kaya akan ide-ide segar sehingga bisa menghasilkan 50 tulisan setahun, rata-rata seminggu satu tulisan. Lalu intensitas menulis mulai menurun seiring dengan kesibukan mengerjakan Tugas Akhir dan kelulusan.

Karena kesibukan bekerja sejak pertengahan tahun 2006 maka kegiatan menulis menjadi semakin berkurang. Selain faktor kesibukan itu, sepertinya punya pacar merupakan salah satu faktor yang juga dominan. Sampai dengan tahun 2009 sedang berpacaran dengan seseorang, sehingga dalam masa-masa itu berbagai remeh temeh dan cerita sehari-hari hanya kepada sang pacar itulah disampaikan. Hingga dulu pernah menulis surat yang panjangnya 20an halaman sebagai hadiah ulang tahun sang pacar yang ke-20an juga. Diperlukan waktu selama sebulan berangsur-angsur untuk membuat surat itu, serasa seperti mengetik laporan penelitian, laporan yang membuai-buai tentang cinta dan semacamnya.  

Jika melihat ke waktu yang lebih lampau, sebenarnya ini bukan pertama kali menulis, sejak kelas satu SMP aku sudah sering menulis. Waktu itu mulai menulis di kertas, dan diedarkan untuk dibaca oleh teman-teman sekelas, ceritanya melulu berisi lelucon dan humor yang panutannya adalah cerita Lupus oleh Hilman. Sejak kelas dua mulai menulis cerita bersambung di buku, bersama beberapa teman hingga menghasilkan dua buku tebal, selain mulai mengisi mading dengan berbagai pusisi abege dan gambar-gambar komik lucu.

Sewaktu SMA, aku menjadi staf OSIS untuk seksi keterampilan dan wiraswasta dimana salah satu pekerjaanya adalah mengurus penerbitan mading sekolah. Juga menulis untuk mading, beberapa buah cerpen dan gambar-gambar. Juga ditunjuk sebagai seksi dekorasi untuk membuat dan memasang rangkaian tulisan latar belakang panggung untuk berbagai acara-acara yang diselenggarakan.

Kembali ke masa kini, berhubung hati sedang sepi, tidak ada tempat berbagi, akhirnya blog menjadi salah satu media ekspresi. Mulai menulis lagi dengan panjang-panjang dan lebar-lebar. Mulai menggambar lagi di sela-sela waktu luang. Mulai membaca berbagai buku pegetahuan dan cerita berbahasa inggris. Mulai mendengar dan mengucapkan kata-kata bahasa Inggris sambil melatih logat british.

Tahun ini hampir berlalu. Setahun yang penuh warna-warni. Tahun depan sedang menanti, semoga membawa warna-warni cerita yang ceria. Akan kuceritakan lebih sering di sini, jika ada yang ingin mengetahui. Selamat tahun baru, sampai bertemu lagi, karena aku sudah harus bersiap-siap akan berangkant ke Scotland untuk merayakan akhir tahun di Edinburgh. Hal yang tahun lalu masih tak pernah terpikirkan akan terjadi tahun ini.

Tuesday, December 27, 2011

a tribute to Uun

14 April 21.30 WIB

“We could be so good together - morrison”
Melihat tanggal dan jam di sebelah kanan bawah komputer, mendadak teringatlah gw kepada seorang teman yang hari kelahirannya akan berulang beberapa jam lagi. Namanya Uun, biasa di tambahkan awalan “Kang” di depannya dan dilengkapi dengan akhiran “Haseup” di belakangnya. Jadi selengkapnya bisa dibaca Kang Uun Ha…ha..hatchiin, aih, kok gw jadi bersin sebelum tuntas melafalkannya?

Okelah, terlepas dari masalah pengucapan tersebut, gw sedang berpikir keras, hadiah apa yang bisa gw persembahkan bagi sobat satu ini. Apakah itu cincin emas bertatahkan permata bersulam berlian bersimbah darah? rasanya dia bukan orang yang membutuhkannya. Apakah itu sebuah mobil mewah, rumah megah, jam tangan indah? Aih, gw percaya bahwa harta benda duniawi tidak terlalu berarti baginya, zuhud cuy, disamping alasan paling utama dan sebenarnya adalah gw sendiri belum memiliki harta benda duniawi yang tersebut diatas. Akhirnya, sebagai seorang teman yang masih cenderung self centered, gw coba membongkar ingatan gw tentang manusia satu ini dan menuliskannya dalam beberapa paragraf dalam ejaan yang tidak disempurnakan. Bukankah kita bisa berkaca melalui mata seorang teman, berbicara melalui mulut seorang teman, dan makan-makan menggunakan penghasilan seorang teman.

Pertama bertemu, pada zaman dahulu kala, sewaktu manusia masih mempertahankan hidup dengan berburu dan meramu, bertemulah gw dengan orang ini. Di kelas T12. Orang sunda asli pencinta persib boi, jadi wae bahasana sunda pisan. Kalau sudah berkumpul dengan geng sesama sunda, anak baru merantau seperti gw bakalan berpikir mereka ngomongin sesuatu yang tidak bisa di makan. Asalnya dari SMU 5 Bandung, yang setiap kali berhasil meluluskan orang aneh ke kampus paling diminati sejagat raya, jurusan paling dihormati sejurusannya.

Sejak awal melihatnya, dengan cem cem celana gunung dan sweater slipknot kali ya? Pokonya yang belel ga karuan dan biasa dipakai orang-orang anti kemapanan lah, dengan walkman di telinganya yang pilihan aliran musiknya tidak lebih dari hard core, punk, british dan indie label, gw yakin banget orang ini bakal jadi temen akrab gw. Seperti prinsip kehidupan: sama angkot bisa saling mendahului, sesama pendekar di dunia persilatan bisa saling mengenali, sesama orang gila bisa saling menyayangi. Maka jadilah kita memulai perkenalan dan persahabatan.  

“Cobalah lihat itu kelakuan, disaat gw berpose memperlihatkan wajah menyesal karena tak bisa berada disebelah rahima (3 dari kiri 3 dari bawah) dia berpose dengan tidak memperlihatkan wajah sama sekali (tertutup buku kalkulus). Gw yakin itu bukan karena wajahnya tidak layak difoto, hanya sebentuk firasat bahwa dia akan mengulang kuliah kalkulus”
Sewaktu tahun pertama kuliah, hal yang gw sadari dari orang ini adalah rasa setia kawan dan rela berkorban. Setelah kudeta angkatan yang memakan korban perasaan itu, diikuti pelantikan ketua angkatan seorang febi febiola (feri bebi feri bebi olala), gw diangkat menjadi koordinator kelas dengan tidak hormat sedangkan uun diangkat menjadi wakil koordinator dengan hormat. Berjuanglah kita menghadapi ospek yang penuh belaian kasih sayang dari para senior. Gw dengan riang gembira bisa mendelagasikan tugas-tugas yang sangat berat kepada Uun yang sangat setia kawan dan rela berkorban ini, salah satunya adalah mengantarkan seorang rekan wanita ke tempat yang sangat jauh di ujung Bandung pada malam-malam yang dingin dan gelap tiga kali dalam satu minggu selama hampir setahun.
 
“Motor legendaries dengan rajah Rage Again the Machine, yang menjadi saksi perjalanan Uun yang seharusnya juga bisa menjadi saksi kisah asmaranya."
Pada tahun-tahun berikutnya dari kuliah, kita mendapat musibah ditempatkan dalam ruang yang sama karena memiliki wajah tidak ganjil. Satu hal yang saya sadari adalah manusia ini memiliki motivasi tinggi untuk menjadi orang sukses. Jika untuk menjadi orang sukses harus memiliki nilai yang baik, dan untuk mendapatkan nilai baik harus rajin belajar, maka dia akan rajin belajar. Gw sadar dia sering menghadiri kuliah dengan duduk di jajaran terbelakang seperti halnya gw atau sahrial, dan sering menghabiskan waktu dengan ngobrol tak tentu arah dan tak jelas tujuan. Tapi gw juga menyadari bahwa di rumahnya dia mengulangi pelajaran lebih banyak daripada gw, dan pada detik-detik yang menentukan seperti waktunya harus menyalin tugas dari Oscar, dia selangkah lebih maju daripada gw, dalam artian mendapatkan salinan edisi kedua, sementara gw biasanya baru edisi keempat dan sahrial edisi kesepuluh. Jika pada waktu menjelang ujian terlihat kepanikan pada wajahnya yang bertentangan dengan ketenangan pada wajah gw, maka itu hanyalah sebuah kamuflase, karena pada akhirnya nilainya sama atau lebih besar daripada nilai gw.

“ekspresi wajah penuh kamuflase seolah-olah stress sesaat sebelum ujian, dan akan segera menunjukkan kebalikannya sesaat setelah ujian.”
Kehidupan bersama uun pada masa lalu bisa diringkas menjadi sebuah judul “realita, cinta dan rock n roll.” Kita bisa mendapati banyak paradoks dalam sebongkah diri uun. Cobalah lihat julukannya semasa tingkat empat “Uun si punk belajar”. Meski wajahnya menyiratkan radikalitas pemberontakan terhadap hak-hak yang tertindas, hasil kekejaman preman yang sering memalaknya sewaktu di sekolah, tapi perasaannya yang halus mudah tergerak terhadap hal-hal yang bisa menyentuh perasaannya. Bahkan untuk masalah kebersihan, jika melihat lantai yang kotor dan tidak ada wanita berhati mulia yang sudi membersihkan, maka uun dengan serta merta akan menyapu atau mengepel.

“Lantai Himpunan yang bersih dan kinclong yang sering menang lomba kebersihan sekampus raya, menjadi pelampiasan bakat uun untuk menjadi mbok inem (gambar ini adalah asli, bukan tipuan kamera belaka).”

Tentu saja bisa kita pahami dan kita lihat niat tulus Uun dalam menjaga kebersihan tersebut dari keringat yang membasahi dahinya. Hal ini sangat berbeda dalam hal motif, dengan kasus lainnya, yang bisa kita telaah dari gambar berikut:
 
"sebentuk ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan sentuhan dari sang abang."
Setelah membicarakan tentang struktur yang menindas ditambah realita kehidupan dan kenyataan bahwa diperlukan revolusi dalam rangka mengakhiri kebobrokan di negeri ini, melalui pemusnahan terhadap generasi tua yang korup hingga ke akar-akarnya, dia segera akan mempertanyakan mengenai perbedaan islam sunni dan islam syiah, dan kenapa bisa terjadi pertikaian diantara mereka. Gw yang mendengar celotehnya hanya menganggap ada sedikit korslet dalam system sarafnya, dan bisa diperbaiki melalui terapi dengan disembur memakai air yang sudah dibacakan mantra-mantra.

“Ritual yang dilakukannya untuk memanggil arwah leluhur”
Meski dulu dia sering memakai kaos berwarna hitam atau merah terang dengan tulisan sick freak people atau lambang palu arit di siang hari, tetapi di malam hari mengajak kami mengikuti pengajian di Daarut Tauhid. Meski kami berangkat menuju perhelatan underground yang penuh wewangian alcohol, tapi dia segera menyeru ke masjid saat mendengar azan di Salman. Semua itu hanyalah sebuah contoh agar kita tak menilai sesuatu hanya berdasarkan penampakan luar.

Jika mendengar alunan musik yang menggugah hati, seperti irama kecapi suling, maka uun yang tadinya hanya duduk dan berhaha hehe di belakang, akan segera maju ke depan panggung, segera mengekspresikan diri dan emosinya dengan tarian yang oleh seorang pakar musik kenamaan berinisial bogel, disebut sebagai tarian lebah afrika, seperti gambar di bawah ini. Gejala yang dalam pandangan umum bisa disebut sebagai trance, bersentuhan dengan alam transcendental, bahasa orang baratnya siih kesurupan kali ya. 

“ups, sorry! Gw salah memasukkan gambar, ini sih orang yang ekspresinya rada-rada ‘gimanaa gitu’ ya. Kalo ketemu orangnya nanti gw complain deh ekspresinya yang rada ‘gimanaa gitu’ itu”
 
“ini dia yang benar, yiihaa! Lihatlah gayanya yang asyik dengan tunjuk kiri tunjuk kanan ituh (kaos hitam di depan panggung)”
Jika berbicara tentang cintanya pada wanita, orang ini pasti selalu mengidam-idamkan sesosok wanita cantik islami sholehah yang anggun perilaku, tuturkata dan penampilannya, tetapi pada saat yang bersamaan juga membicarakan seorang oriental yang berambut lancip dan berwarna merah dari film-film jepang atau korea. Pada waktu-waktu ini gw ingin menyembur lagi mukanya agar segera disadarkan. Namun demikian, saat pikirannya sedang normal, dia akan menunjukkan kebaikan dan kepeduliannya kepada orang-orang di sekitar. Salah satu hal terbaik yang pernah gw dapatkan dari uun adalah sebuah sms pada suatu hari: “Don’t ever u give up for love cause u have fuckn friend” untuk menghibur hati gw yang waktu itu sedang berhati-hati. Sementara itu, gw yakin dia akan bisa memperoleh apa-apa saja yang diinginkannya dalam kehidupan yang fana ini.
“Ciluuk baa!”
Pada intinya, kehidupan sosial gw di kampus sebagian besar adalah kisah persahabatan gw dengan uun, sahrial, sofyan, agung rock, febi, dsb. Pada tingkat akhir, kebersamaan kita mulai berkurang karena harus mengerjakan tugas akhir yang berbeda spesialisasi, serta kesibukan gw berkeliling kota dengan seseorang yang terlarang untuk disebutkan namanya. Hanya pada saat makan sianglah ada waktu untuk berkumpul di dodi derita, sekedar memesan nasi goreng telur kornet yang diikuti keributan tentang siapa yang akan membayarnya, sembari menceritakan tentang ini itu itu ini yang bisa mengurangi integensia, diakhiri dengan sholat bersama di masjid yang selalu menyejukkan hati kita.

“Foto keluarga: Seragam wajib bagi Uun (kedua dari kiri atas), jaket dan celana jeans belel, tapi ada bendera merah putihnya?"
Pada akhirnya, setelah lika-liku kehidupan penuh canda duka dan tawa lara itu kita bisa menyelesaikan semua dengan baik, memulai kuliah pada hari yang sama, sidang kelulusan pada hari yang sama, dan diwisuda pada hari yang sama. Sebenarnya gw bisa lulus lebih cepat daripada uun, tapi atas dasar rasa setia kawan dan tepo seliro gw memundurkannya, oke oke, gw berbohong dengan pernyataan barusan. Takdir menentukan apa yang terjadi dalam periode itu dan setiap periode lainnya dalam kehidupan manusia, tanpa tergantung pada apakah kita menghendakinya atau tidak. Tapi suatu pernyataan yang bisa dicari derajat kebenarannya adalah, bahwa teman pada masa kuliah akan menjadi teman selamanya.

“Ekspresi kebahagiaan sesaat setelah kelulusan, lihatlah wajah yang so.. sok imut itu, menyatakan: silahkan tempeleng saya tepat di arah jari telunjuk ini, gejala masochism kali ya?”
Demikianlah seringkas lalu mengenai Uun dimasa sama-sama berkuliah dulu. Sekarang tentu saja dia telah menjadi orang yang lebih baik daripada di masa itu, karena kita semua sebaiknya begitu.

salam

(Arsip Catatan Facebook, 15 April 2010)

Thursday, December 22, 2011

seribu kata untuk ibu


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu.. ibu..

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas.. ibu.. ibu..

Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas ibu.. ibu..

Ibu, Iwan Fals.


Ibu, semoga segala berkah selalu tercurah untuknya, adalah orang yang telah mengandungku dengan susah payah, orang yang melahirkanku dengan bertaruh jiwa, dan orang yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang. 

Ibu, semoga selalu dalam limpahan kasih sayang, tak pernah mengatakan menyayangiku, menyayangi anak-anak mereka, atau menyayangi siapapun, tapi menunjukkannya dengan tatapanya kepada anggota keluarganya. Menunjukkannya dengan ekspresi dan perbuatannya, dengan memanjakan kemauan anak-anak. 

Ibu, semoga senantiasa berada dalam keselamatan, seringkali terlalu mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya, sehingga melarangku mandi di kali yang airnya deras, melarangku bermain jauh-jauh, melarang pulang terlalu malam, melarangku mandi hujan karena akan membuatku demam. 

Ibu, semoga pengetahuannya cukup untuk menjadikannya bijaksana, tidak menyulitkan diri dengan membaca berbagai buku pedoman dan panduan. Semua peran dijalaninya seadanya dengan naluri yang sudah dimilikinya sedari awal. Dia mendapatkan perannya yang penting tanpa harus pula berteriak tentang emansipasi. Ibu tidak mencari peran dalam lingkup luas yang meliputi perjuangan nasional, pengentasan kemiskinan, pencerdasan bangsa, yang jelas semua peran untuk mendidik anak dengan baik telah dijalaninya dengan penuh pengabdian, dengan memberi kasih sayang dan tanpa pamrih. Dia yang hanya mencintai dengan sederhana, memberi contoh dengan perilaku, menjalani hidup dengan keikhlasan. 

Ibu, semoga selalu dimudahkan segala urusannya, merupakan pengelola kehidupan keluarga yang mengatur anggaran biaya dan berbagai perencanaannya. Perannya di rumah tidak hanya untuk mengasuh anak-anak dan memasak setiap hari, tetapi juga untuk membantu mencari nafkah untuk melengkapi kebutuhan keluarga. Langkahnya akan selalu tegar meski terkadang bersusah-susah.

Ibu, semoga yang terbaik selalu dilimpahkan Allah kepadanya,  selalu menuruti perintah dan kata-kata ayah, namun tidak jarang dia ada dibalik keputusan-keputusan penting yang ayah buat. Tidak jarang juga nasehat dan perasaannya terbukti benar, ketika ayah tak mendengarnya. Seperti ketika dia bilang untuk berhati-hati dalam menaruh kepercayaan pada seseorang, terbukti orang tersebut yang membuat kami sekeluarga harus bersusah-susah selama beberapa tahun.  

Ibu, semoga senantiasa bahagia dengan kesederhanaan, menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Bekerja, memasak dan membereskan rumah di siang hari, beristirahat di malam hari sambil duduk bercengkarama dan menonton cinta fitri. Sesekali dia akan berkomentar  ketika hal-hal tragis terjadi di televisi. 

Ibu, semoga tercukupi segala kebutuhannya, di sela-sela hari dia akan menanyakan masakan apa yang anak-anaknya inginkan, ia akan suka menatap keluarganya yang sedang makan dengan lahap. Sesekali dibelikannya kepiting, kerang, dan udang besar-besar favoritku. Sesekali dimasakkannya tumis ikan asin yang selalu kurindukan.  

Ibu, semoga selalu dimudahkan dalam urusannya, terbiasa dengan cara berpikir yang optimis yang selalu memandang ada jalan keluar dari semua permasalahan. Ketika aku dihadapkan pada pilihan antara keinginan ayah agar aku medaftar ke sekolah akademi seperti STPDN yang bebas biaya yang bertolak belakang dengan keinginanku untuk mendaftar perguruan tinggi yang membutuhkan biaya besar, Ibu mendukung kemauanku dengan tanpa syarat. “Dicoba saja.” Begitu selalu kata Ibu, hingga luluslah aku di ITB dengan mendapat beasiswa penuh.  

Ibu, semoga keselamatan senantiasa bersamanya, selalu mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang kesukaannya merantau jauh-jauh ini. Ketika berpamitan, terbesit kesedihan pada tatapan matanya, meski dia hanya tersenyum dan mengikhlaskan. Dalam malam-malamnya tanpa diminta dia selalu mendoakan.

Ibu, semoga selalu dikelilingi orang-orang yang menyenangkan, sehingga ibu-ibu di sekitar rumah selalu menyempatkan waktu mereka di pagi hari untuk datang sekedar bertegur sapa dan bercerita apa saja, yang mungkin menjadi pusat penghiburan mereka untuk mengisi waktu diantara kebosanan rutinitas sehari-hari. 

Ibu, semoga selalu dalam lingkungan yang damai dan menyenagkan. Dia selalu membutuhkan kehadiran anggota keluarga di sisinya. Jika adik belum pulang hingga sore menjelang malam, maka dia akan bertanya-tanya sendiri kemana adik pergi, menyuruh menelepon dan mengirim pesan. Bila abang tidak pulang selama beberapa hari, dia bertanya-tanya apa saja kegiatannya. Untuk mengisi waktu kosongnya dia akan berkunjung ke rumah sanak family, bermain dengan cucu-cucunya yang lucu sekaligus nakal. Dia selalu senang mendengar rengekan anak-anaknya, yang menandakan bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, bahkan ketika semua anak sudah besar. Terhadapnya, semua anggota keluarga selalu merasa bisa bermanja. Meski entah kenapa, ketika beranjak dewasa kita jadi terlalu kaku untuk memeluknya. Kelak jika memiliki istri, akan kuminta supaya sering-sering memeluk Ibu, atas namaku. 

Ibu, semoga selalu dilingkupi oleh kabar baik, sering menelepon hanya untuk menanyakan makan apa anaknya ini yang jauh dirantau, sering juga menerima telepon untuk mendengar bahwa anaknya sedang kekurangan uang, atau untuk mendengar berita bahwa anaknya sedang sakit demam. Dan seringnya dia hanya memberikan tawa yang menghibur, bahwa sekali-kali sakit sudah biasa dalam kehidupan ini, dan itu tidak akan berlangsung lama. 

Ibu, semoga senantiasa diberi kesabaran dan ketabahan, dia yang tak pernah mengeluh ketika harus selama dua bulan lebih menunggu dan menjaga ayah di rumah sakit. Dia yang menjaga optimismenya untuk mengejar kesembuhan. Dia yang menemani ayah hingga saat-saat terakhir yang tak bisa dihindari. 

Ibu, semoga airmata kesedihan tidak sering menetes jatuh di pipinya, hampir tidak pernah kulihat menangis. Dia yang hanya menangis saat keadaan benar-benar tidak tertanggungkan. Akhirnya tak ada yang berdaya untuk mencegah airmata itu jatuh di pipinya, karena itu airmata untuk ayah. Saat itu, betapa setiap anak akan berjanji dengan segala upaya untuk mencegah airmata kesedihan seperti itu jatuh lagi dari seorang ibu. 

Ibu, semoga kelak bisa bertemu kembali dengan ayah di dalam surga, tidak mengatakan betapa dia kehilangan atau betapa dia merindukan. Tapi menunjukkan perpaduannya ketika menatap foto ayah atau saat mendadak terdiam dengan menekan perasaan yang membuncah. 

Ibu, semoga senantiasa berada dalam damai dan cinta, selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Setiap kali kami merasa kalah, lelah dan butuh tempat mencari damai, ibu akan selalu menunggu di rumah, tempat dimana segala damai berasal, tempat dimana segala motivasi terkumpul. 

Ibu, semoga selalu mendapati anak-anaknya menjadi orang-orang yang berbakti. Anak-anak yang mendengarkan nasehatnya, yang tidak akan menyia-nyiakannya pada masa tuanya, yang menggantungkan kebahagiaan pada kebahagiaannya, yang menyisihkan penghasilan untuknya, yang bersuara lembut dan santun ketika berbicara kepadanya. 

Referensi:
Gambar, http://marcestrin.blogspot.com/2010/05/happy-mothers-day.html

Monday, December 19, 2011

Sherlock Holmes: A Game of Shadows


Premiere: 16 Desember 2011
Director: Guy Ritchie
Sherlock Holmes: Robert Downer Jr
Dr John Watson: Jude Law

Setelah sekian lama, akhirnya yang ditunggu datang juga. “Sherlock Holmes 2, A Game of Shadows”, sebuah film tentang tokoh ditektif terkenal di Inggris, yang ditulis oleh penulis terkenal Inggris Sir Arthur Conan Doyle dan difilmkan oleh sutradara inggris Guy Ritchie, serta tentunya didukung oleh pemeran film Inggris Jude Law. Akhirnya, kutonton juga film ini di Inggris. 

Dengan harga tiket bioskop yang setelah mendapat diskon untuk pelajar jika di kurs rupiahkan, setaraf dengan 90 ribu, maka kubuat catatan dalam hati untuk tidak sering-sering menonton film di bioskop. Tentunya jika ingin menonton bioskop sekali saja selama tinggal di Inggris, film itu adalah film asli inggris ini, Sherlock Holmes. 

Sementara Premiere di London berlangsung seru karena menghadirkan para bintang tenar di filmnya dalam berbagai wawancara, premiere di Leeds berlangsung biasa-biasa saja, tidak ada antrian sampai ke pintu keluar bioskop seperti yang biasa terjadi di Indonesia, juga tidak ada poster yang besar tempat untuk berfoto ria. Namun demikian, pada jum’at malam ini ternyata kursi cukup terisi penuh. Film pun dimulai, sialnya tidak ada subtitle, karena sudah sewajarnya ini film Inggris yang bebahasa Inggris dan ditayangkan di Inggris, sehingga mereka tidak perlu subtitle bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. 

Di sini Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) harus berhadapan dengan musuh besar yang kecerdasannya setaraf dengannya yaitu Professor Moriaty (Jared Harris), yang dikisahkan adalah seorang Professor jurusan Matematika dari Cambridge University. Moriaty yang juga seorang pemilik pabrik senjata, ada dibalik berbagai kejahatan yang bertujuan memicu terjadinya perang dunia pertama, demi meraih keuntungan besar dari penjualan senjatanya. 

Cerita dimulai dengan keterlibatan Holmes, tokoh detektif swasta yang terkenal dengan analisis yang tajam, kecerdasan dan pengetahunnya untuk menggagalkan salah satu kejahatan yang berasal dari Moriaty. Irene Adler (Rachel McAdams), wanita yang merupakan pasangan sejati Holmes, yang ditugaskan untuk misi itu oleh Moriaty harus berakhir dengan meminum racun. 

Perseteruan antara Holmes dengan Moriaty pun semakin memanas, Holmes menyelidiki kejahatan apa yang sedang direncanakan oleh Moriaty. Moriaty mengancam dan merencanakan pembunuhan terhadap Dr. Watson (Jude Law) pada saat dia berangkat untuk perjalanan bulan madunya. Kereta yang mereka naiki dibajak, bulan madu Watson beakhir dengan istri barunya Mary (Kelly Reilly) dilempar ke sungai oleh Holmes dari atas kereta ketika melewati sebuah jembatan. 

Dengan berbagai adegan perkelahian, yang seringkali dimulai dengan berbagai reka awal dan analisa oleh Holmes,  corak film ini masih seperti film “Sherlock Holmes” sebelumnya serta film-film seperti “Snatch” dan “Lock, Stock and Two Smoking Barrels” garapan Guy Ritchie sebelumnya, dengan plot yang berpindah-pindah dengan cepat. 

Ceritanya memang menyimpang dari cerita Holmes yang di buku atau yang sebelumya diadaptasi ke dalam berbagai film seri, dengan menghadirkan lebih banyak aksi dibandingkan analisis dan penarikan kesimpulan ala Sherlock Holmes. Bisa dikatakan ini adalah Holmes interpretasi dari Guy Ritchie dkk. Interpretasi yang menurutku menarik, menyenangkan dan mengundang gelak tawa. Secara umum, konflik dan intriknya tidak terlalu rumit sebagaimana seharusnya cerita detektif, akting tokoh Gypsy Simza (Noomi Rapace) juga terasa kaku dan tidak wajar. Sangat disayangkan peran artis di film “The Girl with the Dragon Tattoo” ini yang mungkin dipilih untuk memperoleh ke-Eropaannya. Namun aksen Robert Downer Jr cukup bagus dan aksen British Jude Law tetap brilliant seperti biasanya, sehingga tanpa subtitle banyak kata-kata yang lewat dari ditangkap telinga. Secara umum, tentu saja film ini layak ditonton demi mendapat hiburan segar dan pintar.

Monday, December 12, 2011

kesetaraan

Beberapa waktu lalu, aku harus menghadap seorang koodinator disertasi untuk mendiskusikan topic disertasi dan calon pembimbing. Sampai di depan gedung jurusan, ternyata pintu sudah dikunci karena sudah pukul 5pm lewat. Setelah memencet bel, berharap orang di dalam gedung membukanya. Pintu lalu dibuka dari dalam oleh seorang pria muda yang tidak bisa melihat, tunanetra. 

Dia menyapa, kukatakan padanya bahwa aku akan menemui Jeremy. “follow me”, Katanya kemudian, sambil mencari jalan dengan menggunakan tongkat. Maka ku ikuti langkah kakinya, dengan perasaan lucu bahwa orang yang bisa melihat dengan normal dituntun oleh orang yang tidak bisa melihat. Dunia terbalik, orang-orang bertukar peran, dengan menyenangkannya.  

Setelah masuk lorong, belok kanan dan belok kiri, akhirnya dia menunjuk sebuah tangga dan menyuruhku naik dan mengetuk pintu di ujung tangga. Ku ucapkan terimakasih, lalu dia pergi. Kupikir mungkin dia salah satu karyawan di sini, atau mungkin salah seorang mahasiswa master tahun sebelumnya, atau mungkin mahasiswa program doctoral. 

Dua minggu kemudian, aku harus kembali menghadap calon dosen pembimbing, saat berjalan keluar berpapasan lagi dengan orang itu. Kali ini ku sapa dia, dan kami berkenalan. Kami berbicara sebentar yang menimbulkan kesan bahwa dia sangat ramah. Namanya Bryan, ternyata dia adalah salah satu seorang staf peneliti dan pengajar di universitas. Selain mengajar beberapa mata kuliah tentang equity dan transport ekonomi, supervisor untuk mahasiswa master dan Doctoral, dia juga pembicara untuk berbagai seminar. Usia masih muda, mungkin tidak sampai sepuluh tahun di atasku. Kelihat fakta itu, aku pun terbengong-bengong, menatap takjub, sumringah. 

Banyak orang-orang yang dilahirkan dengan sempurna, menjalani hidup dengan sempurna, tapi seringkali tak mau memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya, seringkali justru mengeluh pada hal-hal kecil. Ada juga orang yang dilahirkan dengan kekurangan tertentu, yang menyebabkan dia berputus asa akan berbagai kelebihan lainnya, yang lantas menyalahkan takdir buruk yang menimpa dan sering berharap belas kasihan dari orang lain, bisa dikatakan pandangannya negatif terhadap kehidupan. 

Sosok Brian ini, adalah sedikit dari orang yang berhasil mengendalikan dirinya, menerima kekurangan yang ada dan berjuang dengan memanfaatkan kelebihan yang dia miliki untuk mencapai sukses, orang yang pandangannya positif terhadap hidup. Sosok yang mengagumkan, sosok yang kuhormati. Suatu saat nanti akan ku upload foto bersamanya disini. 

Selain keberadaan dia yang istimewa, tentunya lingkungan tempat dia berada juga kondusif untuk mendukung kegiatannya, dimana orang-orang dengan kekurangan fisik tertentu memiliki akses untuk pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan orang biasa, ruang-ruang yang accessible serta didukung oleh sarana dan prasarana lainnya. Prinsip kesetaraan untuk difabel sepertinya sudah sejak lama di aplikasikan oleh negara-negara maju, termasuk di universitas ini. Hal yang sudah “mulai akan” diperhatikan oleh Pemerintah negeriku, Indonesia Raya.

Sunday, December 04, 2011

30 days of drawing part III

Day 21: Something with stripe
"Bedding Set"
Di sisi tempat tidur selalu ada heater untuk menghangatkan saat dingin menyerang, tapi tidak terlalu efektif juga, sehingga masih perlu meringkuk di bawah selimut tebal. 


Day 22: what are you wearing today
"The Best University Hoodie"
Cita-citaku sewaktu kecil adalah kuliah di Universitas Oxford, kandas. Jadi semacam obsesi terhadap hal-hal berbau Oxford Unicersity, sehingga langsung ngeborong dua jaket, satu kaos, beberapa buku terbitan Oxford. Memakai hoodie nya saja sudah bisa membuat ku riang gembira. 


Day 23: something new
"New Drawing"
Seorang teman dari Iran, yang pandangannya masih netral terhadap Presiden Ahmadinejad, saat Iranian yang lain membencinya. Setiap kali bertemu orang Iran, maka yang pertama kali kutanyakan adalah padangannya terhadap Ahmadinejad, jika dia membencinya, maka itu merupakan akhir dari percakapan kami, karena aku termasuk penggemar Ahmadinejad, terlepas dari segala kontroversi dan politik dalam negeri Iran. 


Day 24: something outside your window
"The naked trees during the winter"
Disaat orang-orang mulai mengenakan pakaian musim dingin karena memasuki winter, maka pohon-pohon di halaman malah merontokkan daunnya. Hanya tersisa sebuah sarang burung di pucuk pohon, entah bagaimana cara mereka mencari kehangatan. 


Day 25: Something with your favourite color
"Chelsea New Player
Blue is the colour, Football is the game, Chelsea is the team. Sebenarnya nomer punggung sepuluh dipakai oleh MATA, tinggal dibalik-balik sedikit maka bisa jadi TAMA, anggap saja salah cetak.


Day 26: your shoes
"Brown nikeso"
Yang cocok dengan selera cuma sepatu-sepatu typical converse yang casual. Inilah pengganti converso yang dulu hilang, sebuah nikeso.


Day 27: Your eyes
"Inside the Eye"
Mataku, dulu agak sipit seperti mata orang cina, sekarang sudah mendingan. Mungkin karena mata juga, sering disangka orang Cina atau Jepang oleh orang-orang dari berbagai negara yang baru ketemu, padahal produk Jawa asli.


Day 28: your palm line
"Left Hand"
Ada seorang wanita pembaca garis tangan yang kata-katanya beberapa tahun lalu selalu terkenang. Dia bilang aku seniman dan menyarankan sebaiknya bekerja sesuai dengan bidang seni yang kusuka, kupikir itu saran yang aneh buat seorang engineer sepertiku. 


Day 29: Your imagination now
"Grows"
Imajinasi, seperti pohon, dia terus tumbuh memenuhi ruang-ruang kosong dengan arah yang tak terpredikis. Terus tumbuh dan tumbuh.


Day 30: What would you be someday
"Portrait on the wall"
Yah, sebuah potret di dinding yang bertulisan President Republic of Something kelihatannya keren. Suatu saat aku akan menggantung foto itu di dinding (bukan yang di dalam foto).

Yak, demikianlah 30 hari menggambar ini. Ternyata kegiatan ini cukup memakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal produtif seperti membaca buku dan jurnal-jurnal Ilmiah. Sehingga sejak saat ini, aku akan menggantung pensil seperti gitaris yang menggantung gitar. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terimakasih atas segala perhatian.