Monday, December 31, 2012

refleksi setahun ini dan resolusi setahun mendatang

Kehidupan setahun ini bisa digambarkan sebagai menyenangkan. Mendadak memiliki kesempatan kuliah di University of Leeds, United Kingdom, dan bisa menyelesaikannya dengan baik hingga mendapat gelar master of science and engineering MSc (Eng). Lalu di penghujung tahun bisa menyelesaikan kuliah di UGM dan mendapat gelar Master of Science (MSc). Dua gelar master dalam setahun, just too good to be true.

Selain keberhasilan secara akademis itu, ada juga kegagalan di tahun ini, yaitu kegagalan mendapatkan pasangan.. hahaha agak tragis memang, masa sepanjang tahun berlalu tanpa punya kekasih. Tapi tanpa berputus asa, tetap ada secercah cahaya harapan untuk tahun depan, bulan cinta kan bersinar lagi. 

Resolusi setahun mendatang, terkait gelar master transport setahun ini, tentu berharap setidaknya memiliki pekerjaan yang sesuai dengan bidang transportasi, berharap sebuah pekerjaan yang mapan dan stabil yang setidaknya bisa membawa manfaat buat orang banyak. Selain itu, resolusi tahun mendatang tak lepas dari harapan untuk bisa menikah, entahlah dengan siapa. Yang jelas, sudah terlalu banyak bagian dari umur yang dihabiskan sendirian. 

Mari menutup tahun lalu yang indah dan menjelang tahun depan yang cerah.. Selamat tahun baru Masehi.

Sunday, December 02, 2012

Euro Trip: Amsterdam, Kota Perayaan Euforia Hidup Part III


Amsterdam adalah kota kanal, tata kota terdiri dari separuh lingkaran yang dipecah-pecah oleh kanal-kanal kecil maupun besar. Konon kanal yang total panjangnya lebih dari 100 km ini dibuat abad ke-17 untuk memanajemen air dan sebagai banteng pertahanan alami, canggih juga mereka sudah mengatur air di zaman Indonesia masih baru akan dijajah. Keberadaan kanal ini tentu menyebabkan harus ada jembatan-jembatan yang kabarnya juga sampai seratusan jumlahnya. Entahlah, siapa yang pernah menghitung jembatan itu. Belum ditambah jumlah sepeda yang biasanya terparkir dalam keadaan digembok di sepanjang pinggiran jembatan. Keberadaan gembok-gembok itu mengandung indikasi sebuah usaha untuk mencegah berputar baliknya keadaan dari kondisi sepeda tak bertuan menjadi tuan tak bersepada.

Dengan kemiripan antara satu tempat dengan tempat lain dan keberadaan kanal-kanal ini dijamin orang-orang baru akan lebih mudah kesasar. Disitulah ponsel canggih dengan aplikasi google maps atau peta konvensional menjadi kebutuhan pokok untuk mengira-ngira sedang ada di kanal bagian mana, situ jugalah aku mengerti kenapa Dora selalu mencari peta.  


Kanal-kanal besar di kota bisa ditelusuri dengan kapal. Biasa disebut paket wisata Canal Tour. Harganya sekitar 12 Euro untuk satu dua jam perjalanan berkeliling, ada beberapa operator yang bisa ditemui di berbagai lokasi kota. Tiket bisa juga dibeli ditempat atau di lokasi-lokasi travel agen setempat. 


Berpikir bahwa perjalanan ke kota ini tak akan kulakukan sekali setaun, maka kuputuskan mengikuti tour. Teman seperjalan di kanal tour ini adalah dua wanita cantik asal Taiwan yang kuliah di Brazil dan sedang liburan keliling eropa. Saat kutanya apa mereka mengatahui Indonesia dan Bali mereka bilang tau, dan ingin liburan ke bali suatu saat nanti. Berbeda dengan wanita Taiwan teman kuliahku si Sandra yang bilang pernah ke pulau Bali sewaktu kecil tapi mengaku tidak pernah ke Indonesia. 

Tour kanal adalah menelusuri (tentunya) kanal dengan sebuah (katakanlah) perahu yang cukup nyaman. Rasakan hembusan angin segar dari jendelanya sambil menikmati pemandangan berbagai aktivitas di sepanjang kanal dan berbagai bangunan disekelilingnya. Tentunya tak ada pemandangan sampah bertebaran, atau bidadari sedang mandi di pinggir kali seperti biasanya sungai-sungai Indonesia. Seorang petugas mendeskripsikan berbagai bangunan bersejarah berikut cerita-cerita seputarnya selama kurang lebih satu jam.

Selesai keliling kanal, perjalanan kulanjutkan dengan berfoto bersama tokoh-tokoh terkenal di madame Tussaud. Musium seperti ini juga terdapat di London, Berlin, Hongkong, Bangkok, dsb. Di Amsterdam tiket masuknya 21 euro bisa didapat di travel agent terdekat untuk menghindari antrian di museum. 


Harga tiket ini cukup mahal sebenarnya, namun tak apalah demi melakukan berbagai kegiatan yang ingin dilakukan bersama tokoh pujaan. Maka aku masuk dan melakukan apa itu yang ingin dilakukan seperti meggelitiki Musolini, menghibur Anne Frank, mengangkat rok Moulin Moonroe, merenungkan teori relativitas bersama Einstein, Menari bersama Jacko, membantu Gandhi menyebrang jalan, Menabuh gendang bersama Bob Marley sambil curhat dengan lagu kesayangan “no woman no cry...” dsb. 


Ketika sore hari berjalan menuju museum Anne Frank aku berpapasan dengan dua orang wanita yang sepertinya baru pulang dari belanja-belanji. Dan inilah tipikal wanita yang bisa bikin bangkrut para lelaki, diliat dari kantung belanjaannya yang memenuhi tangan itu, dilihat dari tas yang dipegangnya yang bermerk Hermes itu.

Kami saling melihat, lalu senyum-senyuman, salah seorang dari mereka menyapa dan minta difoto. Ya sudah aku foto mereka, mulai dari pose standard, lalu salah satu mengecup sebelahnya, lalu mereka berciuman, lalu mereka semakin liar. Hmm, ternyata adegan terakhir hanya terjadi dalam bayanganku. Si rambut pirang mengatakan bahwa temannya adalah artis, sehingga fotonya tak bisa sembarangan beredar. Baiklah, hanya akan ku upload di blog.

Antrean untuk masuk museum Anne Frank rasanya terlalu berlebihan untuk seroang anak perempuan malang berumur 15 Tahun itu, sehingga urunglah niat untuk masuk ke sana. Di dekatnya terdapat sebuah monumen aneh yang disebut homo monumen, padahal setelah dicari-cari ternyata tak ada monumen, cuma sebuah lantai berbentuk segitiga. Tak perlu dipertanyakan apa maksud monumen ini, karena aku pun tak begitu paham. Bahkan anak kecil setempat yang kutanyakan perihal ini pun tak paham. Akhirnya kulanjutkan jalan-jalan ke berbagai tempat lain, seperti Bijbel Museum (Museum Injil), American book corner, dan restoran take away Indonesia, Kanjtil. Restoran yang terakhir ini, sangat recommended, yang termurah sebangsanya.

Kesan bahwa Amsterdam adalah kota penyiksaan kudapat saat berjalan-jalan dan melihat di pinggir jalan terdapat berbagai museum penyiksaan, mulai dari Torture museum, Medieval torture museum, hingga pertunjukan seram Amsterdam Dungeon, sungguh sesuatu yang terasa aneh bahwa siksa-menyiksa bisa dijadikan museum. Mereka ingin mengenang berbagai penyiksaan yang pernah dilakukan pada masa lampau. Penampakan museum ini dari luar saja sangat menyeramkan, ada berbagai alat penyiksaan seperti kursi listrik, dsb. Membayangkan bahwa dulu banyak yang disiksa dengan alat-alat itu membuatku bergidik dan segera melanjutkan perjalanan, tak akan mampir. Namun penampakan seorang wanita bertampang seram dengan busana unik jaman pertengahan sebagai penjaga dan tokoh utama salah satu pertunjukan membuatku tertarik untuk mengabadikan.
Lalu ku ajak dia berfoto bersama. Dia dengan tegas menolak.
“I can’t smile.” Katanya.
“It’s oke, you don’t have to smile.” Ucapku, tak putus asa. Akhirnya dia menyetujui, saat kami sedang difoto, dia sempat mengucapkan kutukan.
“I wish you a bad day!” Ucapnya lagi, entah benar-benar mengutuk atau hanya menyesuaikan dengan perannya sebagai wanita jahat penggerutu.
“I wish you a good day.” Ucapku, berusaha menabahkan hati.
Ketika melihat hasil foto wajahnya yang begitu cemberut, dan wajahku yang begitu sulit untuk cemberut, maka kukatakan.
“Please smile at least once, you’ll look beautiful.” Bujukku.
“No, i can’t smile.” Ya sudahlah, sepertinya harus aku yang menyesuaikan memasang tampang cemberut. Kupikir entah wanita ini aslinya adalah seorang yang benar-benar penyedih, penggerutu, dengan kelainan jiwa dan tak bisa tersenyum atau dianya yang terlalu menjiwai peran yang diberikan.
Akhirnya sudah saja kuucapkan terima kasih.
“Thank you, nice to meet you.”
“You’re welcome, have a nice day.” katanya, seraya kulihat sedikit senyum tergurat di ujung bibirnya, sekilas saja, sedikit sekali. Aku balas dengan senyum lebar-lebar. 


Amsterdam adalah kota yang melegalkan ganja, itu sudah pernah kudengar sebelumnya. Selain ada ganja museum gallery, banyak terdapat kafe-kafe tidak biasa yang menyediakan rokok ganja, kue ganja, atau apapun itu yang berhubungan dengan ganja salah satu yang paling terkenal adalah Buldog. Penasaran akan seperti apa tempat ini, maka kumasuki salah satunya yang kebetulan memiliki akses internet (merangkap warnet).

Di dalamnya terdapat meja kursi layaknya cafe dimana orang biasa makan kue atau minum kopi. Yang membedakan adalah asap yang mengepul memenuhi ruangan dan bau menyengat yang merebak. Orang-orang yang kebanyakan adalah anak-anak muda pria wanita terlihat sedang merokok, sambil berbicara riuh dan tertawa-tawa. Aku melihatnya sambil membuka internet mengecek kuesioner untuk penelitian. Terpikir juga untuk mencoba setidaknya sebatang rokok, namun melihat harga yang paling tidak 5 euro membuatku mundur teratur tak berdaya. Seperti coba-coba yang tak akan bermanfaat, sebatang rokok ganja beberapa menit untuk uang yang bisa dilarikan ke perut itu. Akhirnya setelah membayar biaya warnet kepada seorang yang dari penampilannya seperti dari Jamaika itu, kutinggalkan saja si warung ganja dan orang-orang yang bersukaria di dalamnya.

Bahwa Amsterdam adalah kota buku murah, itu baru ku ketahui saat memasuki salah satu toko buku. Banyak buku tebal tentang seni di sana, bayangkan sebuah buku tebal berisi karya lengkap Leonardo Da Vinci, Rembrandt atau VanGogh seharga 10-20 Euro? Jika tidak sedang jalan-jalan yang dibatasi oleh berat bagasi, tentu kebeli beberapa buku ini untuk koleksi. Selain buku-buku seni lukis itu terdapat juga aneka ragam seni lainnya, yaitu seni seksual. Kuhabiskan beberapa detik menatapi buku besar dengan berbagai pose wanita, ada buku yang khusus mengulas dan mengupas alat produksi wanita. Tentu sudah kutilik juga isi buku ini dengan hati-hati..

Salah satu yang paling kusuka dari kota ini adalah salah satu jalan dimana studio-studio seni bertebaran. Dari jendela kelihatan berbagai karya lukisan baik yang masih baru atau yang sudah lama. Terkadang seniman atau pelukisnya masih terlihat dari balik kaca, dengan pakaian belepotan cat minyak karena sedang menyelesaikan lukisan. Terpikir bahwa aku pernah ingin menjadi pelukis, melihat pemandangan ini menyenangkan. 

Amsterdam adalah kota perayaan euforia hidup. Itulah yang bisa kusimpulkan selintas lalu dari kota ini. Betapa orang-orang di kota ini sedang menikmati segalanya. Orang-orang diserahkan untuk berbuat sebebasnya sebagai sebuah perayaan atas kehidupan mereka. Mereka menulis, mereka melukis, mereka membangun peradaban dengan ilmu pengetahuan dan seni. Mereka mabuk, mereka menikmati minuman keras, mereka menikmati ganja, mereka menikmati sex bebas, mereka menikmati apa saja. Mereka mengaktualkan diri sesuai apa saja yang mereka mau. Mereka merayakan euphoria atas kehidupan, yang menurut anggapannya hanya sekali ini.

Entahlah, apa mungkin perayaan akan hidup itu adalah sebuah tahap dimana orang-orang tak lagi memikirkan makna. Setelah menikmati segala sesuatu, setelah puas merayakan mungkin sebagian akan merasakan kekosongan, mungkin sebagian akan mulai memikirkan akan kemana hidup ini setelah dirayakan begitu rupa. 

Saturday, November 10, 2012

Euro Trip: Amsterdam, Kota Perayaan Euforia Hidup Part II


Beranda Rumah Typical di Amsterdam
Pagi yang baru masuk ditandai dengan matahari yang bersinar ramah dari sela-sela gedung, melewati halaman taman di tengah bangunan hostel, menuju ruang makan. Ruang makan sudah penuh dengan turis dan backpacker dari berbagai Negara yang sedang menyantap sarapan pagi gratis sebagai salah satu fasilitas hostel dengan tipe layanan bed and breakfast ini. 

Ideal, bisa mengambil sarapan dengan porsi besar sekaligus makan siang, sekaligus makan malam, sekaligus makan pagi besoknya lagi jika memungkinkan. Maka kupenuhi piring dengan aneka roti, aneka selai, dua butir telur rebus, dan bergelas-gelas susu. Sambil menikmati, kuamati sekitar, kebanyakan orang berada dalam rombongan, ada satu dua orang yang sendirian, sayangnya tidak ada yang menarik yang bisa di prospek buat teman jalan, devinisi menarik sampai sejauh ini adalah gadis dengan senyum manis dan mengenakan hijab.

Selesai sarapan, waktunya jalan-jalan. Salah satu metode untuk berkenalan dengan sebuah kota adalah dengan menelusuri jalan-jalannya, dengan mengikuti belokan-belokannya dan memutari setiap lekuknya untuk sampai pada titik mula, sehingga terlukislah gambaran parsial kota tersebut. Namun dengan waktu kunjungan yang singkat, cara ini menjadi kurang efektif dibandingkan langsung menggunakan peta dan mengukur jarak salah satu bagian dengan bertelusur. 

Jalan Jalan Kota
Pada dasarnya, pusat kota Amsterdam tidak terlalu besar. Berbagai objek wisata tersebar dimana-mana pada berbagai arah dan lokasi. Seorang turis bisa menjelajah kota tanpa guide, tanpa teman dengan hanya berbekal peta. Dengan menyesal karena telah membeli peta di Bandara, ternyata kudapati banyak peta gratis dibagikan di tourist information center yang tersebar di berbagai lokasi strategis di pusat kota.

Pagi yang indah itu membuatku menelusuri jalan-jalan kota Amsterdam dengan sumringah. Berdasarkan informasi yang beredar di dunia maya, lebih spesifiknya dari foto-foto facebook teman-teman yang pernah ke Amsterdam, ada anggapan bahwa belum ke Amsterdam jika belum menunjukkan foto di landmark kota, rangkaian huruf besar berwarna-warni “I am sterdam”. Maka segera aku menuju ke sana, berjalan kaki sambil sesekali bertanya sana-sini. 

Jalan Kota dan Kafe
Kebanyakan orang menguasai bahasa Inggris, sehingga tak ada kesulitan berkomunikasi dengan penduduk lokal mulai dari yang muda hingga yang tua. Tentu guru bahasa inggris di sekolah merasa bangga dengan kondisi ini, sementara mungkin guru bahasa belanda mereka merasa prihatin. Yang jelas ini membuat turis dari berbagai Negara merasa nyaman karena dapat mengurangi penggunaan bahasa tarzan, sehingga kemungkinan besar bisa meningkatkan daya tarik pariwisata.
Berbagai Pose
Berjalan setengah jam, akrhirnya tiba di tulisan Iamsterdam tersebut. Berupa-rupa orang berfoto dengan berupa pose mulai dari berdiri, memeluk, memanjat, menungging dsb. Akhirnya aku berhasil mendapatkan celah dan berfoto juga, tak tanggung-tanggung, dengan berbagai pose untuk mendapatkan huruf TAMA. 

Tama was here in Amsterdam
Lokasi huruf iamsterdam dekat dengan beberapa museum, diantaranya Rijksmuseum, Stedelick museum, dan Van Gogh museum sehingga kulangkahkan kaki menuju ke sana. Apa daya, begitu sampai museum ternyata antriannya begitu panjang yang laju pengurangan antriannya tak terbaca, dengan harga tiket yang lumayan mahal.

Museum
Tiket untuk setiap museum 14 euro, padahal Van Gogh museum salah satu yang paling ingin kukunjujungi, seorang pelukis jenius yang akhinya menjadi gila dan memotong telinganya sendiri. Lalu kudapati fakta bahwa untuk makhluk yang berumur di bawah 18 tahun, masuknya gratis. Sungguh kejam penggolongan berdasarkan usia ini, biarpun wajahku masih seperti 17 tahun namun umurku tak bisa berbohong, sungguh malang nasib orang yang baru bisa berpergian ke Eropa dengan menanggung banyaknya umur. Betapa dunia terasa lebih ramah saat seseorang berumur belum genap delapan belas.

Harga tiket yang sebegitu menurutku terlalu mahal, kesimpulan dari pengalaman empiris bahwa di Inggris museum-museum dengan berbagai koleksi yang luar biasa hampir seluruhnya gratis. Maka aku mundur teratur, memutuskan berjalan-jalan di taman dan melihat-lihat aneka pedagang kaki lima. Terjaja di pedagang kaki lima berbagai kerajinan tangan, aneka kaos, buku serta berbagai kartu pos dari lukisan-lukisan terkenal cenderung muram karya Van Gogh.

Souvenir ala Van Gogh
Setelah mengamati berbagai koleksi itu tanpa membeli satupun, akhirnya aku menuju taman. Taman yang bersih menjadi tempat orang bersantai, tempat burung-burung hidup rukun, tempat orang-orang terlihat kesepian yang mengajak anjingnya jalan-jalan, tempat seorang nenek membawa cucunya untuk memberi makan burung-burung tersebut. Taman bernama Vondel Park yang luas merangkum pepohonan di kiri kanan, danau-danau kecil, kursi-kursi taman dan jalan sepeda di tengah-tengahnya. 
Burung-burung di taman
Hari yang begitu menyenangkan, akhirnya bisa menjalani libur setelah sekian lama begitu sibuk dengan perkuliahan, mengurung diri dalam kamar, menenggelamkan diri dalam lautan buku di perpustakaan, dan menyatu dengan tugas-tugas dan penelitian thesis (oke, mungkin deskripsi yang terlalu berlebihan). Demikian rupa sehingga dalam liburan ini metode yang kutempuh adalah bersantai se santai-santainya. Maka aku duduk santai di taman, sambil minum sambil mengamat-amati orang yang lalu lalang. 

Lalu-lalang di Taman
Siang hari, ternyata sarapan yang ditargetkan bisa mengenyangkan hingga malam tak berhasil menjalankan tugasnya. Perut sudah keroncongan, maka salah satu kebab yang berlabel halal menjadi sasaran. Seporsinya 10 euro, porsinya ukuran orang arab, buat orang Indonesia bisa dibungkus dan dibawa pulang buat dua kali makan.
Sepeda parkir dimana suka
Melanjutkan perjalanan ke arah utara, bisa disimpulkan bahwa Amsterdam adalah kota sepeda, dimana-mana saja sejauh mata memandang akan ada sepeda parkir berbanjar atau berbaris. Tidak cuma parkir, akan selalu ada juga yang menaiki sepedanya dengan bermacam kecepatan. Ada yang memburu waktu, ada yang menikmati suasana. 

Terkadang aku terpaku juga pada wanita berambut panjang yang rambutnya berkilapan diterpa sinar mentari, berkibaran ditiup angin, sambil bernyanyi kecil “here comes your woman” sambil mengayuh sepeda mininya yang memiliki anyaman keranjang di depannya. Saat itulah dunia yang berada disekitarnya bergerak relatif lebih pelan. Lalu kepalanya akan menoleh ke kiri kanan mengikuti lagu yang dinyanyikan. Lalu dia akan menabrak tiang listrik karena lupa melihat ke depan. Pada jenis pengendara sepeda dengan perilaku yang seperti ini para pejalan kaki harus menaruh waspada. 
cyclists
Pasar Bunga
Selain sebagai kota sepeda, Amsterdam juga adalah kota bunga. Sebenarnya ada taman bunga yang terletak agak jauh dari kota, dikenal bernama Keukenhof. Sebuah taman 32 hektar yang terkenal dengan bunga tulipnya, meskipun tulip yang identik dengan Belanda ini konon katanya justru berasal dari Turki. Di salah satu tepi kanal di pusat kota Amsterdam, terdapat Bloemenmarkt yang kira-kira isitilah Indonesianya adalah pasar kembang. Maka cukup layak untuk berkunjung ke satu dua toko bunga ini, menghirup wewanginya, menikmati warna-warni pink segar bertebaran dimana-mana. Cukup beruntung bahwa aku tak sedang berbulan madu, sehingga membeli sekuntum tulip warna unyu untuk dipersembahkan kepada si wanita tak ada dalam salah satu dari sekian banyak pilihan. Meskipun apa yang kukatakan ini belum tentu mengungkapkan maksud sebenarnya. 

Kusuka SIngkong kau suka keju
Di depan pasar bunga itu, dan di pojok-pojok lainnya terdapat aneka rupa toko oleh-oleh serta toko keju. Keju yang dijual berbentuk pipih bundar besar dipajang di etalase toko dengan wangi yang khas, khasnya seperti keju, yang masih hangat. Melihat bentuk dan ukurannya itu, tak terbayang bagaimana cara memakannya. Jika orang-orang disini menyantap keju sebesar itu sebagai kudapan, tentu dapat ditarik asumsi sementara bahwa makanan inilah salah satu faktor yang menyebabkan mereka bisa tumbuh sedemikan besar, tidak seperti orang Indonesia yang biasanya bertubuh kecil yang makanan utamanya singkong.

Scream
Lebih ke utara lagi, menjelang stasiun kereta, ada suatu plasa ramai diantara Koninklijk Paleis atau dalam istilah Jogjanya mungkin kekeratonan yang berdekartan dengan monument nasional. Entahlah monument nasional ini dibuat untuk memperingati pembebasan dari penjajahan oleh Negara mana, atau sekedar peringatan sehabis menjajah Negara mana lagi pula yang seperti Indonesia. Yang jelas, disana ada kerumunan orang, melingkupi inlander dan para turis memadati pertunjukan sirkus yang biasa diadakan. Ada anak kecil yang dihadapkan dengan pelempar pisau, dan berbagai pertunjukan lainnya. Di Indonesia, biasanya tempat seperti ini penuh dengan copet beredar diantara kerumunan sambil menjalankan operasinya. Disekitar situ juga terdapat orang-orang yang mengenakan berbagai kostum tokoh terkenal, super hero, tokoh film, bisa dijadikan objek berfoto bersama. Tentunya dengan membayar, sekitar dua euro.

Club mencurigakan
Bahwa Amsterdam kota Gay dan Lesbian menikah, itu sudah sering kudengar. Beruntungnya aku sehingga tidak melihat ada Gay yang melakukan perbuatan asusila di pinggir-pinggir jalan. Namun di salah satu lorong ada juga terlihat sebuah klub yang mengkhususkan mengadakan acara-acara aneh berbau-bau LGBT, "underwear party" katanya, "drop your pants and dance" katanya. dan tragisnya nama klub itu adalah church. Horor,  segera aku kabur, tak ingin melihat ada apa di tempat seperti itu.

Selain melegalkan pernikahan sejenis yang terkutuk itu, Amsterdam juga melegalkan sex sebagai komoditas yang bisa dipertukarkan dengan uang. Hal ini tergambar dari keberadaan museum sex, toko-toko yang menjual alat bantu sexual, serta red light district.

Patung dewi sex
Sex museum adalah salah satu museum yang termurah yang bisa ditemukan di kota ini, tikernya cuma 4 euro. Dengan pertimbangan itulah aku masuk. Isinya tentu saja, segala sesuatu yang berhubungan dengan sex. Mulai dari patung-patung, foto-foto, lukisan, suara-suara, apapun itu. Bahkan ukiran orang bersenggama yang didatangkan dari kuil mana di India ini.
bzzzzt

Sedangkan tempat prostitusinya Red Light District, sangat terkenal kemana-mana, menjadi landmark kota dan daya tarik pariwisata, walaupun muungkin tak sebesar yang di Thailand atau (sayangnya) Surabaya. Dengan berbekal keingintahuan tinggi akan seperti apa tempat itu, maka aku melangkahkan kaki mencari lokasi lokalisasi yang dimaksud.

Red Light di Musium
Menjelang sekitar jam tujuh malam, sore masih terang. Jalanan yang dikenal sebagai red light district mengapit sebuah canal. Banyak orang berdiri bersantai-santai sambil melihat dan mengambil foto diam-diam ke arah salah satu gedung yang menawarkan wanita malam (berbagai informasi mengatakan bahwa mengambil foto dilarang, dan akan berakibat kamera dihancurkan oleh geng setempat). Di muka pintu itu seorang wanita blonde hanya mengenakan bra dan cd warna pink melambai-lambaikan tangan bergaya seperti boneka.Aku terpaku sejenak.

Menelusuri jalan, semakin matahari terbenam, semakin banyak bermunculan wanita-wanita di ruang-ruang kaca di gedung-gedung semacam ruko itu. Ruang kaca itu memiliki pintu yang bisa dibuka jika hendak melakukan penawaran, ketika transaksi telah disepakati, orang tinggal masuk, korden pada jendela kaca ditutup, dan entah apa pun itu yang terjadi di dalam sana. Saat malam lampu warna merah akan menjadi penerang utama di sepanjang jalan. Sambil jalan kulihat satu-satu, ada wanita cantik langsing seksi dan entah deskripsi apalagi yang tepat mewakilinya, mengerling sambil tersenyum sambil menggerakkan jari telunjuk memanggil-manggil. Deg-degan juga hati jadinya, takut mendadak tergerak belok menawar atau malah masuk ke dalam salah satu ruang kaca itu. Padahal buat wanita yang secantik itu, dengan menyederhanakan hal-hal lain tentu aku bersedia membawanya ke rumah, lalu menjadikannya sebagai partner produksi aneka boneka Barbie. Menyimak salah satu orang yang kedapatan sedang melakukan penawaran, ternyata satu sesinya bervariasi sekitar 100 euro saja.
the Redlight dan the District
Sambil terus jalan melewati berbagai gadis di dalam kaca, ternyata sepanjang jalan terdapat berbagai pub, berbagai toko yang menjual peralatan-peralan sex yang dari etalase kacanya, menjual berbagai kostum-kostum aneh, boneka, gambar, alat bantu sex, dsb. Tak cukup dengan itu semua, bahkan ada juga club yang menyajikan live show sex. Perunjukan langsung orang bercinta. Berbagai orang muda-mudi tua-tui, pasangan maupun segerombolan datang untuk menyaksikan. Ketika aku mengamati iklan karena ingin tau kira-kira apa yang ada di dalam sana, bodyguard yang sangar botak dan berkulit legam memberi informasi. “seven live shows within an hour, come on, only 30 euros.” Duit segitu sih ada di kantong bukan jumlah yang terlalu banyak, alamak besar sekali godaan di sini, harus segera pergi, segera pulang dan sholat magrib.

bersambung saja lagi...

Saturday, November 03, 2012

Euro Trip: Amsterdam, Kota Perayaan Euforia Hidup Part I

Pesawat mendarat mulus di bandara Schiphol Amsterdam, entah bagaimana mengeja nama bandara ini, terlalu ribet buat lidah Indonesia biasa. Menjejakkan kaki diluar pesawat, terlihat langit yang biru terang, berbeda dengan langit yang biasa di Leeds. 
Bandara dan cuaca Inggris yang selalu muram
Dengan langkah ringan kuikuti saja iring-iringan orang yang berjalan keluar. Hingga ke bagian imigrasi, petugasnya seorang wanita cantik menanyakan beberapa pertanyaan semisal berapa uang euro yang kupunya, Akan tinggal dimana, berapa lama akan tinggal di Amsterdam, setelah dari Amsterdam hendak kemana? Kujawab semua dengan lugas dan senyum sumringah. Sampai akhirnya dibubuhkan juga cap di visa ku, dan dipersilahkan lewat. Tadinya kukira pertanyaan-pertanyaan itu sekedar basa-basi sebelum mengarah ke pertanyaan seperti kenapa aku bisa begitu ganteng? Sudah punya pacar atau belum? Dan berapa no telepon? Ah sudahlah, mungkin cuma prasangka baik ku saja..

Melewati pintu gerbang bandara, muncul juga pertanyaan esensial yang perlu segera dijawab. Hendak kemana aku sekarang? kenalan di kota tak punya, tujuan wisata yang jelas tidak ada, perjalananku hanya berbekal sebuah itinerary hotel di dalam ransel. Namun sebagai seorang engineer calon master, tentu aku tak kekurangan akal. Biasanya di setiap kota tujuan wisata di Negara-negara maju seperti UK atau Uni Eropa terdapat tempat yang disebut tourist information, yang tujuan lugas nan logisnya adalah memberi informasi kepada turis.

Pertanyaan berikutnya, dimana memperoleh informasi letak tourist information ini di stasiun? Maka kutanyakan pada seorang petugas yang tidak esensial untuk diceritakan. Dia menunjuk pada papan penunjuk yang memiliki huruf “i” akhirnya aku sadar bahwa i itu merangkum kata information di dalamnya, brilliant. Kuikuti petunjuk papan hingga tiba pada sebuah stand dimana para turis sedang mengantri, mungkin dengan tujuan yang serupa denganku. Giliranku, akhirnya kutanyakan pertanyaan besar dalam hidupku, dengan tanpa tedeng aling-aling.
“Maaf teh, kalau boleh sayah tau, sayah ini mau kemana yah?”

Setelah mengernyit sebentar, mengecek tingkat kewarasanku lalu mba mba tersebut membentangkan sebuah peta. “you need a map, everything’s here on the map, 2.5 euro.” Katanya. Maka kuambil saja peta tersebut.
“do you know where is this Hans Brinkers Hotel?” tanyaku dengan logat di british british kan.
“Here on the map, you can take bus number something, the bus station on that direction.” Katanya sambil mencoret sesuatu di peta. Aku tak menyangka seorang petugas informasi bisa sedemikan informatif dan efektif, sehingga langsung kuikuti secara intuitif.

Perjalanan dari airport ke pusat kota Amsterdam dengan menggunakan bus berlangsung dengan lama waktu yang relatif. Sebenarnya dalam tataran waktu standard mungkin bisa dibilang sejam, tetapi berhubung duduk di sebelahku seorang wanita cantik, juga pemandangan baru dengan sinar mentari bersinar hangat di luaran, perjalanan terasa sebentar saja. Sebentar-sebentar bertanya ke wanita di samping yang sedang mendengarkan musik, pura-pura jadi turis, pura-pura tak punya tujuan hidup.

Akhirnya sesuai dengan petunjuk yang tertera pada peta, sampailah di hostel yang telah dipesan, Hans Brinker Hostel. Setelah mendapat kunci kamar dan kunci loker dengan jaminan 2 euro, masuk kamar. Terdapat enam kasur, enam loker dan satu kamar mandi dalam setiap kamar. Yah, lumayan nyaman untuk biaya 20 euro per malam.

Karena musim panas ini matahari Eropa beredar agak lebih lama dari biasanya di Indonesia, maka jam 8 malam hari masih terang. Sehingga kumanfaatkan waktu untuk berkeliling sejenak, mengitari sekeliling kota yang mulai redup, berkeliling kanal, keluar masuk jalan dan gang.  

Restoran Indonesia
Berkeliling selintas kota, ternyata banyak rumah makan-rumah makan bertema Indonesia. Ada restoran Pelangi, ada Indrapura, segera ku songsong dengan penuh euforia, mata nanar dan air liur hampir menetes. Akan bisa ku nikmati seporsi nasi gulai, rendang atau soto, atau sate madura. Namun begitu melihat daftar menu yang tertera di pintu masuk, ternyata masing-masing menu itu seporsinya 15 euro. Hasrat makan yang berasal dari sinyalemen negatif pada perut memasuki otak dan oleh otak dikembalikan dengan perintah bersabar. Ah, sudahlah, toh sebentar lagi aku akan pulang ke Indonesia, jadi tak ada urgensinya buat makan rendang itu sekarang. Lagipula di salah satu menu terdapat babi panggang dsb yang menunjukkan biarpun restoran Indonesia, tapi telah bercampur dengan budaya lokal. Babi tidak umum dijual oleh restoran orang Indonesia asli. Bertambah kata-kata mutiara untuk menghibur diri sendiri. Sekian lama melongok berbagai tempat makan yang mencantumkan harga-harga di depan tokonya, akhirnya sampailah aku pada kesimpulan cemerlang bahwa McD adalah salah satu yang paling efisien untuk mencari pengganjal perut. 

Pesan moral #1: Kemampuan menahan nafsu duniawi seperti lapar akan citra rasa masakan Indonesia sangat penting bagi keberlangsungan hidup seorang budget traveller..

Standar Kafe
Hari berangsur gelap, maka aku kembali ke penginapan, menutup sekilas pandang pada kota Amsterdam. Besok hari masih panjang untuk menelusuri kota ini dengan sebenar-benarnya.
Di Penginapan, karena hendak sholat kutanyakan pada penjaganya, ada dua orang, satu pria satu wanita. Kutanyakan kepada si pria.
“Excuse me, do you know the direction of Saudi Arabia?” si pria keliatan heran ditanya begitu, sehingga menjawab.
“Why should i know that?”
“You don’t know anything.” Sahutku kesal.
Lalu penjaga wanitanya bilang.
“Do you want to take pray?”
“Yess, glad you know that. Do you know the direction?”
“Sorry, i don’t know.”
“Could you just tell me in which direction is north?” lalu dia menunjukkan arah utara. Dan bisa kudapatkan arah kiblat dengan kira-kira.

Pesan moral #2: Memiliki kompas, atau setidaknya handphone dengan aplikasi qibla compass sangat direkomendasikan kepada seorang traveller muslim.

Sampai dikamar, sedang sholat, mendadak segerombolan pemuda abege yang ternyata turis dari Australia datang, berjingkat-jingkat menuju kasurnya. Selesai aku sholat, kami berkenalan. Sebentar berbasa-basi ngobrol-ngobrol perihal asal, tujuan dsb. Ketika mereka saling bercerita tentang pengalaman mabuk dan minuman, lalu salah seorang mereka bertanya?
“what do you drink?”
“Errr, coca cola?” jawabku. Mereka tertawa.
“I mean, i don’t drink alcohol, because i’m muslim.” Demikian, lalu komunikasi seolah mengalami jalan buntu. 

Pesan moral #3: Penguasaan pengetahuan dan keterampilan perihal minuman-minuman beralkohol akan membantu dalam pembauran dengan turis lokal, selain menjauhkan diri dari islam..

Mereka mengajakku serta ke Red Light District, lokasi prostitusi salah satu dari yang paling terkenal sedunia raya itu, dan aku menolak dengan halus bukan karena tidak mau ke sana tapi lebih karena sudah mengantuk. Cukup untuk digarisbawahi, sebenarnya sudah lama aku sadar bahwa ada batas yang akan selamanya membatasiku dengan orang-orang berbudaya barat ini. Batas itu adalah ada atau tidaknya kadar alkohol dalam gelas, keharuskan memakan makanan halal serta kewajiban menunaikan sholat. 

Sambil berpikir begitu, akhirnya segera kusimpulkan bahwa badan yang letih ini perlu segera menjawab panggilan kasur. Hari ini akan berakhir, tak sabar menunggu hari esok, cepat datanglah..