Monday, October 03, 2011

metropoly

Metropoly adalah sebuah permainan yang diselenggarakan departemen Institut for transport Studies di Leeds University untuk mahasiswa barunya. Aturannya adalah mahasiswa dibagi menjadi beberapa group kecil yang dibekali metro day rover family ticket. Ticket tersebut bisa digunakan untuk bepergian menggunakan public transport kemana saja  di seluruh area west Yorkshire selama satu hari penuh. Tiap kelompok berusaha untuk mendapat point sebanyak-banyaknya melalui setiap stasiun atau objek wisata yang dituju sesuai dengan peta yang diberikan. Tim hanya boleh menggunakan kereta, bus dan berjalan kaki dan memberikan bukti foto dengan latar belakang lokasi tujuan berdasarkan pepatah no pix=hoax, perjalanan dimulai dan berakhir di kampus dari jam 9.30 sampai jam 16.30.

Jadilah aku sebagai salah satu peserta, ambil bagian dalam sebuah group kecil bersama Lewis: asal Inggris, Vasileios: asal Yunani, serta seorang wanita cantik Jevgenija: asal Lithuania. Entah apa dan dimana itu Lithuania, yang jelas melihat dari penampilannya seperti orang-orang dari eropa timur.  


Beberapa website canggih sangat mendukung untuk merencanakan perjalanan ini, seperti metro website: www.wymetro.com, Transport Direct Journey Planning web site: www.transportdirect.info,  Nation Rail Web Site: www.nationalrail.co.uk atau web informasi lokasi wisata sesuai degnan yang tertera di peta. 

Dari Leeds, kami memutuskan untuk pergi ke Denby Dale demi mendapat banyak point dari mengunjungi tiap stasiun dengan kereta, sekian banyak kereta langsung menuju ke sana mengalami delay atau di cancel entah karena alasan apa. Sehingga itinerary yang sudah dibuat oleh Lewis dengan detail sampai ke menit harus diubah, kami memutuskan untuk memutar jalur. Kami menuju Wakefield dengan Kereta, lalu menaiki bus menuju Dewsbury, lalu ganti ke kereta lagi dari Dewsbury Huddersfield, dsb. Perjalanan yang rumit dengan nama-nama kota yang sulit, dan dengan pengalaman nilai geografi yang pas-pasan, tentu saja nama-nama itu sudah kulupakan lima menit setelah diucapkan. 


Singkat cerita singkat kata, sampailah kami di Huddersfield menjelang pukul satu siang. Hari sedang bernama Jum’at, syukurlah aku masih teringat pada salah satu ayat Al Jumu’ah yang memerintahkan untuk segera mengunjungi masjid dan meninggalkan segala urusan jika telah datang panggilan untuk sholat jum’at. Rekan-rekan seperjuangan menyetujui untuk meninggalkanku di Huddersfield dan bertemu lagi menjelang jam 3. Huddersfield adalah kota asing, tak ada peta, dan koneksi internet dengan BB yang canggih sedang error, sehingga ada kemungkinan aku tersesat.  “Do you know where the mosque is?” Tanya si british.  “No, but I’ll find the way.” Sahutku.

Saat mereka berlari menuju stasiun mengejar kereta berikut, aku berjalan menuju tempat segerombol taksi yang terlihat sedang mangkal. Kutanyakan masjid terdekat kepada seorang berwajah seperti India atau Pakistan, dia bilang akan mengantarku ke sana seraya mengajakku menuju taksinya. Sampai di pintu taksi ternyata ada seorang wanita yang ingin menggunakan taksinya juga, lalu entah kenapa dia menyuruhku menggunakan taksi di belakangnya, mungkin alasannya adalah ekonomi, mungkin pula sentimen agama. 

Sopir taksi di belakang, menggunakan Surban ala India, menanyakan padaku kenapa taksi di depan tidak mau mengantarku? “Entahlah.” kubilang. Dia lalu menanyakan masjid mana yang aku tuju? Ternyata ada banyak masjid di sekitar sana, terbagi-bagi sesuai jamaahnya. Aku minta diantarkan menuju masjid terdekat apa saja. Sambil jalan, dia mulai menginterogasi, kenapa sopir taksi tadi tidak mengantarku, dengan nada marah. Aku menangkap gelagat kurang baik, sehingga kukatakan saja “it’s oke, I have no problem with that.” “No, it is not oke, he is cheating!” Katanya. Demi menghindari konflik yang mungkin terjadi, yang mungkin melibatkan suku bangsa itu, kukatakan saja bahwa sopir tadi belum menyepakati untuk mengantarku, dia cuma  tau dimana masjid dan menyuruhku untuk mengikutinya. Bapak India ini masih kelihatan dongkol, entah kenapa. Sudahlah Pak, masalah kecil ini, pikirku. Tak berapa lama, sampailah di Masjid, ternyata sebuah Masjid jamah dari Pakistan. Dengan sukses ku ikuti khutbah berbahasa Arab yang dilanjutkan dengan bahasa Pakistan, dengan sukses pula usahaku menyimak berbuah kegagalan.  

Masih sesuai petunjuk Al Jumuah, selesai Shalat, maka betebaranlah di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Maka kulanjutkan perjalanan. Sesuai peta, ada beberapa objek wisata di Huddersfield yang bisa kutuju sambil menunggu teman-teman datang. Maka kutanyakan saja kepada salah seorang yang baru selesai sholat. “Oh, this Greenhead Park Conservatory is just 2 minutes from here, cmon brother, I’ll take you there.” Kata seorang berwajah mirip Thierry Henry dengan mobil sportnya. Demikianlah seharusnya persaudaraan sesama muslim di seantero bumi ini, maka dengan sumringah, tak kutolak ajakannya. 

Sambil jalan kami berkenalan dan dia bercerita soal ini itu tentang Inggris, Leeds dan Kota Huddersfield. Dia memberi petunjuk singkat dengan antusias mengenai cara menuju beberap lokasi seperti Emley Moor Transmitter dan Castle Hill, ternyata cukup jauh. “Goodluck brother” katanya saat sampai, sambil melambai tangan dan tancap gas. 

 
Maka berjalanlah diriku ke gerbang taman, minta di foto sebentar pada nenek-nenek yang kebetulan di sana, lalu berjalan lagi menuju terminal bis. Ternyata bis menuju ke Emley Moor hanya ada tiap setengah jam, tidak mungkin sempat, sehingga ku putuskan untuk berjalan kembali ke stasiun kereta menunggu teman-teman pulang dari  Denby Dale. Salah satu hal baik dari kota-kota di Inggris adalah integrasi antar modanya, dimana di setiap kota, stasiun kereta dan terminal letaknya berdekatan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki mengikuti papan-papan petunjuk yang tersedia. Kota-kota di Indonesia perlu juga meniru yang seperti ini.

Setelah lama menunggu di stasiun akhirnya kelihatan sebentuk bayangan orang berbaju orange berlari dari kejauhan, ternyata si Vasileios (ampun deh susah banged namanya, selanjutnya dipanggil Sile) yang sangat bersemangat sedang berlari sambil melambai-lambai. Waktu sudah menunjukkan pukul empat, sehingga kami segera naik kereta dan terburu-buru untuk kembali ke Leeds karena keterlambatan akan dikenai pengurangan point. Sesampainya di Leeds si Sile masih bersemangat dan mengajak kami berlari menuju kampus. “Cmon run run, lets run”. Sebagai seorang asia berkaki pendek tentu usahaku berlari harus lebih besar daripada orang-orang bule berkaki panjang ini. Dengan ngos-ngosan, sampailah kami di depan jurusan, saat yang lain sudah berkumpul, kami grup terakhir yang finish, akhirnya kalah dengan nilai total 17000 sementara grup pemenangnya mendapat point 18000. Permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sementara kalah menang tak penting buatku. 

Sunday, September 25, 2011

sesuatu

Jika sesuatu yang buruk terjadi, katakanlah itu sesuatu yang tak sesuai keinginan kita, biasanya kita akan bersedih. Itu naluri manusia, padahal seberapalah pengetahuan manusia ini, boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal sesuatu itu buruk bagi kita, boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita (1). Itulah kenapa kita dilarang untuk menyukai atau membenci sesuatu secara berlebihan. 

Dalam rangka mencegah diri dari bersedih, terhadap sesuatu yang tidak berdaya untuk diubah, beberapa teknik yang efektif untuk digunakan antara lain, beribadah dan berdoa, memikirkan hal-hal yang baik, melakukan hobi, mengingat kejadian menyenangkan, membayangkan sesuatu yang indah, berbicara dengan orang-orang terdekat, dsb. Ada banyak cara, saat ini mungkin aku perlu menerapkan salah satunya untuk mencegah diri dari bersedih. 

Salah satu yang sangat kuinginkan adalah bisa menceritakan sesuatu pada seseorang atau mendengarkan sesuatu cerita dari seseorang. Percakapan yang bermutu, adalah salah satu nutrisi penting bagi otak untuk menjaga agar kita tetap waras. Rumah sedang sepi, sehingga tak ada juga satu dua makhluk yang bisa diajak berdialog. 

Mungkin aku bisa melakukan cara lainnya, memikirkan hal-hal yang baik dan mensyukuri nikmat yang diberikan daripada menyesali apa-apa yang tidak ada. Sungguh, banyak sekali manfaatnya perasaan senantiasa bersyukur ini dan sudah seharusnya manusia selalu bersyukur. Jika kita ingin mencatat nikmat Allah yang diberikan kepada kita, maka tinta sebanyak air laut tidak akan cukup bagi kita, dan niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya. Itulah kenapa aku tidak suka pada orang-orang yang sering mengeluh dan menggerutu, apalagi untuk hal-hal yang kecil dan itulah kenapa aku ingin menghindari mengeluh. 

Sesungguhnya, apa yang terjadi pada manusia, bisa dipisahkan menjadi dua bagian. Ada realitas objektif dan ada realitas subjektif (2). Realitas objektif adalah sesuatu yang benar-benar terjadi, seusatu yang tidak bisa diubah, seperti musibah dan bencana, takdir, tidak ada yang bisa mengubahnya karena merupakan ketentuan dari Yang maha Kuasa. Sementara disisi lain, ada realitas subyektif, yaitu bagaimana manusia memandang sesuatu. Sehingga ada orang yang bisa tertawa saat sedang mendapat musibah, ada orang yang dilahirkan cacat yang bisa terus bekerja dan berkarya, dan ada juga orang lainnya yang ketika mendapat musibah terus meratapi nasib. 

Ada banyak kebaikan disekitar kita, dan kita seringkali hanya melihat sedikit yang buruk diantaranya, lalu terperosok terlalu dalam dengan meratapinya. Kejadian-kejadian buruk atau masa-masa sulit yang kita sedang jalani, ternyata hanya harus dilalui dengan berpikir positif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk bersedih karena sesuatu atau memilih untuk selalu berbahagia. Jika kita tak bisa berpikir jernih tentang apa saja kebaikan yang kita dapatkan, ingatlah selalu kalimat: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (3).

Referensi: 
(1)    QS: Al Baqarah

(2)    Rakhmat, Jalaludin. 2004. Meraih Kebahagiaan. Simbiosa Rekatama Media, Indonesia. 
(3)    QS: Ar Rahmaan

Friday, September 16, 2011

pesan moral

Seminggu ini musim sudah masuk ke autumn, dimana angin bertiup dengan sangat kencang. Sehingga adalah wajar jika menemukan perkiraan cuaca memberikan kata “windy”. Dengan angin yang kencang dan rambut yang cukup panjang, maka setiap kali keluar rumah, rambutku  selalu ditiup-tiup angin hingga berantakan. Sehingga pudarlah keinginan untuk memanjangkan rambut sampai sepunggung, rambut ini harus dipotong. 

Maka berjalanlah aku ke sebuah barbershop, menanyakan harga potong rambut untuk pelajar, lalu keluar lagi dari barbershop itu karena harganya terasa kemahalan. Maka berjalanlah aku ke sebuah barbershop lainnya, menanyakan harga potong rambut untuk pelajar, lalu kuputuskan untuk menyelesaikan permasalahan ini di situ, seharga 7 pounds, setaraf dengan seratus ribu rupiah. Yaah, harga ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan potong rambut di pangkas rapi Jogja seharga lima ribu rupiah (kalimat yang terasa cukup tidak logis). 

Lalu Bapak barber menanyakan model yang kuinginkan. Satu saja model yang terlintas di kepala, model rambut Damon Albarn bekas vokalis Blur, akan tetapi agak ragu juga bahwa Bapak ini tau model rambut itu, maka kukatakan “ just make it short” dengan English yang pas-pasan, aku tak tau kosakata untuk memotong pendek dibagian tepi dan sisakan lebih panjang berikut sedikit jambul di bagian tengah, apa bahasa inggris untuk jambul?  

Lalu sambil dipotong (rambutnya), kuajak si Bapak barber bercerita basa-basi. Kami mulai membicarakan tentang sepakbola, bahwa aku ingin menonton pertandingan bola. Lalu Bapak barber bercerita tentang anaknya yang ikut klub bola dan berharap bisa jadi pemain professional, meskipun sulit. Lalu Bapak barber bercerita tentang klub bola idola di kotanya, Leeds United, yang musim ini tidak membeli pemain baru. Bapak barber mulai akan memotong rambut bagian atas, ketika beliau memasuki emosi tingkat tinggi saat mengatakan bahwa manajemen klub kesayangan hanya mementingkan uang dan bukan meningkatkan kualitas klubnya. Bicara Bapak barber menjadi sangat berapi-api, sehingga aku jadi tidak berani menyelanya untuk mendiskusikan model rambut, yang tidak relevan dengan topic pembicaraan. Sehingga hanya sekejap saja, habis sudah rambutku dibuatnya. Terlalu pendek, tidak ada sedikit jambul, tidak mirip Damon Albarn dan jauh sangat dari Jude Law. Habislah sudah..

Saat berjalan keluar barbershop, ku catat sebuah pesan moral dalam hati, “Saat sedang berlangsung sebuah peristiwa penting , jangan pernah membicarakan topik yang sangat sensitif yang tidak relevan.”

Saturday, September 10, 2011

edensor

Wahai, sudahkah kamu membaca buku Edensor dari Andrea Hirata? Andrea adalah salah satu yang terbaik dari panulis-penulis yang ada di Indonesia, kata-katanya selalu indah, penuh makna dan membangkitkan imaginasi, salah satu favoritku. Malam ini, kubuka lagi lembaran-lembaran dari buku ini, yang dulu sejak pertama terbit sudah ku baca. Buku ini menceritakan tentang perjalanan Ikal dan Arai ke Eropa, mungkin karena sekarang aku sedang ada di Eropa juga, sehingga ku buka kembali buku ini. 

Kalimat yang tertera di halaman mukanya sebagai berikut:
Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan”, (Hirata, 2007). Rangkaian kata yang cukup menawan untuk mendefiniskan sebuah kata saja: takdir.
Cerita di buku ini masih sama, tentang pencarian cinta Ikal terhadap A Ling, serta pemujaan Arai terhadap Zakiah Nurmala.
Nanti, akan kujelajah separuh dunia, berkelana di atas tanah-tanah asing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rindu yagn menyiksa..” (ibid)

Adalah Arai yang menjadi sahabat sekaligus pemicu semangat Ikal, Arai yang pantang menyerah, yang katanya memperlihatkan jiwa yang besar, lebih dari siapapun yang dia kenal.
Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu", (ibid). Kata Arai suatu ketika. Adalah kebetulan, sama sepertiku, Arai ternyata adalah penggemar Jim Morrison, “Penyanyi kesayanganku Kal.. karena aku akan berjumpa dengannya, walau hanya pusaranya, di Perancis!” , (ibid).
Dan bahkan jauh sebelum membaca buku ini, sekitar tahun 2004 sudah besar keinginan ku untuk berkunjung juga ke Perancis sana, ke pemakaman Pere Lachaise, untuk mempersembahkan sebuah puisi kepada Jim Morrison, seperti yang Arai dan semua penggemar Jim Morrison dan The Doors lakukan setiap tahun di bulan Juli. Dengan anehnya, pernah suatu ketika aku bermimpi datang berkunjung kesana, ketika tak berapa lama kemudian kubaca di Koran Kompas bahwa minggu itu adalah hari untuk mengenang Jim. Seperti yang Arai lakukan ketika itu, membaca puisi.
Tak ada yang paham kalau puisi itu bukan untuk Jim. Namun, Jim Morrison dan Zakiah Nurmala adalah belahan hati Arai. Keduanya menempati kamar yang menyesakkan dadanya. Hari ini, Arai mengguncang-guncang kamar itu dengan cinta, rindu, harap dan putus asa yang lama bertumpuk di sana, terburai-burai, tumpah ruah di atas pusara Jim Morrison”, (ibid).

Selain tentang kuliahnya di Sorbonne, buku ini juga berisi tentang petualangannya menjelajahi Eropa. Darimanakah judul Edensor itu berasal? Ternyata itu adalah nama sebuah desa di Inggris. Dalam buku kenangan dari A Ling untuknya, If Only They Could Talk, karya James Herriot. Desa itu diceritakan dengan gambaran:
Lereng-lereng bukit yang tak teratur tampak seperti berjatuhan, puncaknya seakan berguling ditelan langit sebelah barat. Bentuknya laksana pita kuning dan merah tua. Pegunungan tinggi yang tak berbentuk itu lalu terurai menjadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah nan luas. Di dasar lembah sungai berliku-liku diantara pepohonan. Rumah-rumah petani Edensor yang terbuat dari batu-batu yang kukuh dan berwarna kelabu bak pulau di tengah ladang yang diusahakan. Ladang itu terbentang seperti tanjung yang hijau cerah di atas lereng bukit. Di pekarangan, taman bunga mawar dan asparagus tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Buah persik, buah pir, buah ceri, buah prem, bergelantungan di atas tembok selatan, berebut tempat dengan bunga-bunga mawar yang tumbuh liar…” , (Herriot, 1970 dikutip oleh Hirata, 2007).
Bus merayap, aku makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jejarak anggur yang terlantar dan jalan setapak yang berkelak-kelok. Aku terpana dilanda déjà vu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku.
Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberitahuku nama tempat ini?
“Sure lof, it’s Edensor”, (ibid).

Begitu katanya, ketika mengakhiri novel ini. Edensor, tentu saja, sudah dekat sekali tempat itu dengan tempatku berada ini. Hanya sekitar dua jam perjalanan saja jauhnya. Dan tentunya, suatu saat nanti, akan ada usahaku untuk ke sana. Mungkin akan kudapati tak akan seindah seperti yang digambarkan dalam kedua buku ini, Herriot dan Hirata, namun tetap layak untukku mengalami sendiri menemukan pedesaan itu dalam arah pandang, menghirup udaranya, menikmati suasananya, mengabadikannya dalam bentuk foto untuk dikirimkan kepadamu atau merangkumnya dalam seuntai kisah untuk diceritakan padamu. 

Ref:
Hirata, Andrea. 2007. Edensor. Bentang, Indonesia.

Sunday, September 04, 2011

tentang rasa

Sekali ini agak berat juga hal yang ingin kuceritakan. Membicarakan tentang rasa, tentang cinta, betapa rumitnya topik ini. Rasanya lebih baik membicarakan tentang filosofi, teologi, atau sustainable transportasi daripada yang satu ini. Kenapa menjadi berat? Karena membicarakannya membuat kita harus melihat jauh ke dalam-dalam hati, ke salah satu ruangnya yang penuh dengan kenangan, atau ke ruang lainnya yang penuh dengan harapan, serta ornamen-ornamen kepedihan dan kebahagiaan yang mengisinya. Seringkali hati berbicara dengan cara yang berbeda dengan pikiran, sehingga telah habis pun kemampuan otak yang kecil dan terbatas ini untuk memikirkannya, tak keluar juga solusi yang memungkinkan.

Mungkin, itu sebabnya aku belum menikah, belum punya tunangan, dan lebih parahnya tak punya pacar sekarang ini. Karena belum ada sinkronisasi pikiran dengan hati. Mungkin juga aku sendiri yang memperumit masalah yang seharusnya sederhana ini. Seiring waktu, semakin banyak undangan pernikahan datang, satu persatu teman-teman meninggalkan.

Sehingga suatu waktu, terjadi percakapan imaginer di pikiranku antara Pinky yang polos dengan Brain yang jenius, tokoh kartun favorit sewaktu kecil.

Pinky: Sebenarnya, ada masalah apa sih Brain, sehingga kita belum bisa pasang foto bayi di facebook? 
Brain: Kita terlalu sibuk ingin menguasai dunia Pinky.
Pinky: Sebenarnya, buat apa sih Brain, kita menguasai dunia?
Brain: Buat dipersembahkan kepada pujaan hati kita Pinky. 
Pinky: Sebenarnya, yang mana sih Brain, pujaan hati kita?
Brain: Yang perlu kita kasih dunia, baru bisa kita kuasai Pinky.
Pinky: Sebenarnya, ada ga sih Brain, yang bisa kita kuasai tanpa perlu kita kasih dunia?
Brain: Pertanyaanmu itu keluar dari konteks Pinky.
Pinky: Jadi, apa rencana kita malam ini Brain?
Brain: Sama seperti malam-malam sebelumnya Pinky, mencoba menguasai dunia!
Si Pinky Si Pinky dan si Brain Brain Brain Brain..

Yah, ga semua orang bisa menangkap isi dialog ini. Mungkin aku juga yang terlalu berbelit-belit. Sebenarnya ini adalah sebuah sindiran yang diungkapkan dengan sedikit citra rasa humor satire yang menunjukkan perasaanku, betapa aku sudah ingin membangun keluarga, lalu betapa sulitnya menemukan pasangan yang tepat, lalu kebiasaan atau keinginan yang menekankan pada aktualisasi diri sebelum berani menikah, pada sebentuk pencapaian, serta tujuan hidup yang seperti tujuan akhir tapi sebenarnya hanyalah tujuan awal dan kadang tak relevan.

Sebenarnya aku mungkin sudah akan telah berkeluarga sekarang ini, jika saja waktu itu tidak putus dengan seorang yang ku cinta. Seorang pembaca garis tangan yagn tak terpecaya pernah mengingatkanku, untuk tidak menikah sebelum berumur dua delapan, karena dia melihat ada perpisahan atau perceraian, aku waktu itu tidak mempercayainya. Lalu ternyata dua tahun lalu aku kehilangan kekasihku untuk orang lain, dan beberapa bulan kemudian kehilangan ayahku untuk selamanya. Kehilangan dua cinta yang besar, yang membuat ruang-ruang hatiku terluka, yang mengubah arah hidupku, sehingga aku tertatih-tatih untuk merangkai mimpi yang baru. Kupikir saat itu, akan sulit bagikku untuk menemukan cinta yang baru, ya ternyata memang begitu.

Mungkin permasalahan pernikahan ini akan menjadi lebih sederhana jika sekarang adalah zaman siti nurbaya. Dimana yang kita lakukan adalah belajar mencintai setiap hari. Belajar menemukan kebaikan-kebaikan kecil dari pasangan kita untuk bisa dicintai, belajar menerima kenyataan. Tidak kita serahkan kehidupan keluarga pada cinta eksotis yang rapuh, yang seringkali gagal seberapapun kita ingin mempertahankannya. Namun sayangnya sekarang bukan zaman siti nurbaya, sehingga harus kita temukan sendiri pasangan sejati kita.

"Dunia ini rupanya penuh dengan orang yang kita inginkan, tapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya. Kurasa itulah postulat pertama hukum keseimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat." (Andrea Hirata, 2009)

Betapa tidak romantisnya kata-kata di atas, mengungkapkan betapa sulit untuk menemukan pasangan yang tepat, setidaknya buat sebagian orang, salah satunya adalah tokoh dalam cerita Andrea Hirata, salah satunya adalah aku. Mari definisikan tepat itu sebagai saling mencintai dengan sepenuh hati hingga berani memutuskan untuk hidup bersama selamanya. Kenapa itu menjadi sulit buatku? Agak sulit juga buatku untuk jatuh cinta, sehingga aneh juga jika suatu waktu justu harus jatuh cinta pada orang yang sudah punya kekasih. Selain itu, tentunya agak susah juga menemukan yang bisa mencintaiku. Oke oke, mari anggap wajahku yang tidak dalam standar ganteng bukan sebagai variable yang berpengaruh. Tapi agak sulit juga menemukan orang yang siap menerimaku seperti ini, sifat yang keras kepala, perilaku yang sering tidak sesuai standar kebanyakan, pemikiran yang non linear, ditambah lagi salah satu variable yang mungkin berpengaruh adalah belum mapan. Jika ternyata ada kamu di luar sana yang jatuh suka padaku, mari kita sederhanakan permasalahan dengan kembali pada teorema empiris andrea hirata di atas.

Keberanian. Itulah kenapa salah satu yang kebanyakan orang kejar adalah karir, pencapaian, aktualisasi diri. Itulah kenapa orang ingin menguasai dunia, mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit, demi memiliki keberanian untuk bisa datang ke rumah seseorang, dan meminta anak gadisnya. Itulah yang kulakukan, dulu, tapi itu salah.

Sekali waktu ditengah-tengah kegiatan sehari-hari, timbul juga pertanyaan, yang mempertanyakan makna? Apa yang dicari dalam kehidupan? Standar apa yang membuat orang berbahagia dan tidak bahagia dalam hidup? Apa harus seperti Epicurus yang menyamakan kebahagiaan dengan kepuasan, atau seperti Betham yang menemukan menghitungnya dengan menjumlahkan kesenangan dan kesedihan, atau seperti Budha yang meraih dengan melepas keinginan, apa sepeti Al Ghazali yang menyerahkannya tidak untuk kehidupan dunia? (1). Ataukah itu hanyalah seperti burung. Lihatlah keluarga burung yang sedari pagi sudah terbang jauh mencari makan, tidakkah dia akan pulang sore hari menuju sarang, untuk memberi makan anak-anaknya, untuk memberlanjutkan kehidupan generasi penerusnya. Dan untuk tujuan yang sederhana itu, yang dilakukannya setiap hari sambil bernyanyi, burung menjadi salah satu yang mempercantik kehidupan.

Pulang. Sekali waktu kutanyakan juga pertanyaan itu, seperti burung yang memiliki sarang, kemana aku pulang? Kepada hati siapa hatiku merasa tenteram? Kepada siapa akan kuceritakan hari-hari? Kepada siapa akan kuceritakan mimpi-mimpi? Apakah kepadamu? 

Tentunya hanya sekali waktu kutanyakan pertanyaan itu, yaitu saat aku melihat ke dalam hati, ke dalam ruang-ruangnya yang telah ditinggalkan. Selebihnya biarlah hari-hari seperti hari-hari yang biasa. Yang akan kita lalui dengan berseri seiring ketukan sinar matahari pada jendela, yang akan kita tutup dengan selimut malam dan penjagaan bulan. 

Suatu saat nanti, ketika waktunya sudah tiba, kita akan damaikan pikiran dengan hati. Ketika waktu itu tiba, kita akan membicarakan tentang rasa, dengan nada yang bahagia. 

Ref:
(1) Schoch, Richard. 2008. The Secret of Happiness. Hikmah. Indonesia.

Sunday, August 28, 2011

puasa di UK

Sing: lebaran sebentar lagi, lebaran sebentar lagi..
Oh, ternyata lebaran sebentar lagi, sama artinya hari-hari berpuasa juga tinggal sebentar lagi. Puasa di Inggris Raya, khususnya di Leeds ini penuh dengan romantika masa muda yang berbeda dengan puasa di Indonesia.

Yang paling berbeda adalah waktunya, berhubung saat ini daerah Eropa sedang mengalami musim panas maka siang lebih lama daripada malam. Mmm.. mungkin kalimat di atas tak begitu tepat, kemungkinan besar, poros bumi yang miring 23.5 derajat terhadap bidang ekliptika mengakibatkan perubahan musim sepanjang tahun dan perubahan lamanya siang dan malam di berbagai belahan bumi. Saat ini, posisi bumi dalam gerak revolusinya membuat matahari lebih banyak menyinari bumi bagian utara, sehingga bagian utara khatulistiwa mengalami musim panas dan waktu siang yang lebih lama. Jika dilihat dari bumi, perubahan posisi matahari ini dikenal dengan istilah gerak semu tahunan matahari, matahari saat ini terlihat berada di rasi bintang cancer. Berbahagialah kamu yang berzodiak cancer, meskipun tidak cocok dengan air. Tentunya selain pelajaran zodiak kita perlu mengingat sedikit pelajaran geografi? (padahal googling). Cukuplah untuk hal rumit ini, yang penting pada intinya sekarang siang di Leeds mencapai lebih dari 12 jam, yang mana waktu berpuasa menjadi lebih dari 17 jam. 

Leeds City Center
Bagaimana rasanya berpuasa di musim panas seperti ini? Bagaimana berpuasa dengan waktu yang jauh lebih lama daripada di Indonesia, rasanya berbuka puasa menjelang pukul Sembilan? Rasanya.. aku sekaraat.. oke oke ini terlalu berlebihan. Ternyata apa yang disebut musim panas oleh orang-orang kebanyakan ini tidaklah sepanas itu buat orang-orang dari Indonesia, yah, buat kami-kami ini. Bahkan ini adalah musim dingin yang buruk. Suhu udara berkisar di 15 derajat saja. Angin yang sangat dingin bertiup dengan kencang dan terkadang dengan kejamnya menusuk-nusuk muka. Disaat penduduk lokal mengenakan pakaian musim panas dan bergelimpangan di taman untuk mendapat sinar matahari, jika kamu melihat ada sekelompok orang yang memakai seragam musim dingin, tentu itulah kami yang dari Indonesia ini, yang sukses mengalami culture shock.

Namun demikian, dengan waktu siang hari yang panjang bukan berarti lebih berat untuk menahan lapar, tidak seperti di Indonesia yang panas membakar kulit membakar lemak sehingga orang cepat merasa lapar dan haus. Di sini justru cenderung tidak begitu terasa lapar dan haus, biasa aja gitu. Agak susah dipahami juga sih apa istilahnya dalam ilmu kedokteran modern.  

Namun demikian, bukan pula berarti puasa berjalan semulus itu kawan. Banyak godaan yang lebih menantang ibadah puasa kita, kalau tidak mau dikatakan mengalahkan. Ada orang-orang bule jenis kelamin wanita seperti di film-film barat yang berambut blonde atau biru dongker yang menyambut riang musim panas dengan pakaian yang lebih terbuka lebar (mungkin bisa dicatat bahwa setelah kata terbuka itu masih ada kata lebar), juga ada orang-orang cina yang menuruti perilaku sama. Dan ada kami orang Indonesia yang berpuasa yang harus menahan pandangannya. Dilematis antara ingin melihat tapi tidak boleh yang kadang-kadang keliatan juga itulah yang membuat puasa lebih berat, terutama jika dijalani di luar rumah atau saat sedang belanja keliling city center. Yah, semoga saja masih ada pahala yang bisa dipetik.

Jika tiba waktunya berbuka, kemanakah mencari tajil? Ternyata salah satu fakta yang sangat penting untuk dipelajari sebelum berangkat ke inggris adalah: tidak ada yang berjualan kolak pisang, tidak ada tukang bubur kacang ijo atau es shanghai ditambah tidak ada nasi di warung KFC. Alhasil kami harus mempersiapkan sendiri aneka hidangan ala nusantara.

Sungguh baru disadari bahwa ibu yang memasak adalah pahlawan sesungguhnya dari keberlangsungan peradaban. Karena dialah yang telah mengelola berbagai bahan yang tak jelas entah apa  namanya, menjadi hidangan istimewa yang bisa disantap bersama keluarga, yang jelas namanya apa, yang membuat orang terbebas dari rasa lapar dan haus, sehingga Bapak bisa bekerja, anak bisa sekolah, dan petani bisa mengolah sawah. Sehingga Bapak bisa pulang membawa uang, petani bisa memanen padi, dan anak bisa menjadi bermasa depan cerah. Sehingga mereka bisa membeli bermacam bahan yang tak jelas namanya apa untuk dibawa kembali ke dapur, ke hadapan seorang ibu yang mulia, yang akan memasaknya lagi. Demikianlah siklus hidup hidangan istimewa di meja, tanpa seorang ibu yang memasak, tak berjalanlah siklus itu, tak berlangsunglah peradaban.

apapun masakanya..
Belum menemukan ibu yang tepat untuk calon anak-anak, jadilah di Leeds ini pengalamanku memasak untuk yang pertama kalinya. Saat siang hari, browsing menu di internet, lalu sore hari di praktekan. Tentunya memasak ini tidak dilalui sendiri, ada tiga orang rekan lainnya yang disatukan karena kepentingan yang sama: masakan ala Indonesia. Tersebutlah seorang Gom, tidak bisa diandalkan, karena citra rasa lidahnya tidak bisa mengenali rasa lain selain rasa pedas. Pernah suatu ketika, disuruh mencicipi sayu bayam, dan ditunggu komentarnya karena dia satu-satunya yang tidak puasa. Maka jawabnya:
“Kurang pedas.”
Ditambah persepsinya yang sangat salah kaprah, bahwa masakan itu berasal dari kata masak yang sama artinya dengan matang, yang implikasinya apabila sesuatu sudah direbus hingga matang itu artinya adalah sudah masak.

Tersebutlah seorang lainnya bernama Kiki, juga tidak bisa diandalkan. Orang yang gagal mengenali keberadaan daging babi pada roti karena mementingkan kuantitas dengan seharga satu pound padahal diluar dekat label harga sudah ada tulisannya PORK sausages tentunya perlu dicurigai kapabilitasnya. Persepsinya tentang masakan adalah mengandung nutrient yang lengkap, serta berharga murah, tak ada juga unsur rasa di sana.

Tersebutlah seorang lainnya, kali ini berjenis kelamin wanita, yang juga tidak bisa diandalkan, bernama Andin. Sebenarnya orang ini cukup bercitra rasa, bisa mengenali makanan yang enak, dan menyukai seni kuliner. Namun, moodnya untuk memasak setipis embun pagi, sekali waktu antusias untuk memasak dan di banyak waktu tak punya minat sama sekali. Dan sekalinya memasak, yang terlihat cekatan dan mengagumkan, bolehlah ditanyakan “wah, sering ya masak ini?”
“Ngga, ini pertama kali.”
Dan tentunya, menjadi kelinci percobaan agak membahayakan keberlangsungan generasi penerus bangsa.

menu maksimal
Itulah kombinasi tidak sempurna yang saling melengkapi untuk menyiapkan menu buka puasa kami. Tentunya tak boleh berharap terlalu banyak hidangan, selain ada nasi, segoreng-dua goreng ayam, dan sedikit tumis. Tumis, itulah menu andalan kami, sangat sederhana, karena hanya membutuhkan sedikit bawang putih, bawang merah, tambah irisan cabe, tambah goreng teri yang dipadu menjadi satu dalam wujud tumis. Kombinasi yang membuat seorang Spanyol entah siapa namanya terbatuk-batuk parah sampai mukanya merah karena kepedasan oleh aromanya. Katanya:
 “What kind of evil things do you cook? I’am dyiiiing…”

pengumuman
Syukurlah, hari-hari puasa bisa berlalu dengan lancar, hingga sepuluh malam terakhir. Saat reportase ini dibuat, tiga hari lagi menjelang lebaran. Di papan pengumuman tertera undangan untuk pesta, yang katanya dilengkapi dengan tarian ala amerika latin, Cha Cha, Tanggo, Salsa atau apapun itu namanya, kurang paham juga. Sementara di masjid Grand Mosque diumumkan ajakan untuk membaca Quran bersama dalam rangka menyambut kemungkinan datangnya malam Lailatul Qadr, malam yang istimewa yang seperti seribu bulan. Perpaduan informasi ini agak sulit juga untuk dikombinasikan. Agak susah dibayangkan jika pada malam ke-27 ini, ternyata adalah malam Lailatu Qadr dimana ribuan malaikat yang dipimpin oleh malaikat Jibril turun kebumi membawa berkah untuk manusia yang sedang beribadah, salah satu malaikat mungkin akan melihat satu orang Indonesia yang sedang menari Salsa di salah saty bar. Lalu malaikat itu mungkin akan mencatat amalnya sebagai menari salsa selama seribu bulan. Agak susah untuk dibayangkan.. Itulah yang menyebabkan aku atau kami-kami ini memilih tetap berada di kamar. Saat weekend, saat penduduk local atau teman sekampus sibuk dengan kegiatan party sana sini, tentunya kami hanya di rumah, memasak, berbuka puasa sampai jam sepuluh dan kembali ke kamar. Begitu saja hari-hari yang berlalu.

Lebaran sebentar lagi, sebentar lagi lebaran. Sayangnya kita tak akan bisa berjabat tangan saling mengucapkan selamat dan meminta maaf. Sehingga aku hanya bisa mendoakan semoga kita bisa meraih berkah yang sebanyak-banyaknya dari bulan Ramadhan ini. Semoga amal ibadah kita diterima, dan semoga doa-doa kita dijawab dengan jawaban yang terbaik. Salah satu doa beberapa malam yang lalu: "Yaa Rabb, dekatkanlah hamba pada jodoh yang baik bagi hamba, limpahkanlah kepada hamba kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat." Sepertinya cukup kecil kemungkinan untuk bisa mengatakan bahwa doaku melingkupimu atau doamu melingkupiku atau suatu saat kita akan bertemu karena doa-doa kita. Semoga yang terbaik untuk kita semua. Aamiin yaa Rabbal’alamin.