Sunday, January 12, 2014

Liverpool dan Chelsea di Anfield

Pagi ini mentari bersinar lumayan terang untuk ukuran UK yang biasanya redup. Dengan riang dan semangat, aku untuk menempuh perjalanan dari Leeds menuju Liverpool, tiga jam perjalanan menggunakan kereta.

Pertandingan chelsea melawan liverpool di stadion Anfield akan dilangsungkan jam 7 GMT malam nanti. Tetapi aku sudah berangkat menuju liverpool sejak pagi, supaya bisa berjalan-jalan keliling kota Liverpool sebelum menuju pertandingan.
papan penunjuk arah
Dekat dari stasiun ada Walker Art Gallery, Central Library dan World Museum. Sebagai seorang yang sok nyeni, Walker Art Gallery tujuan pertamaku. Lazimnya negara maju, selain sejarah yang dikenal, seni juga menjadi salah satu bidang yang begitu dihargai, sehingga di setiap kota selalu tersapat musium atau galeri seni. Di dalam Walker Art Gallery bisa dijumpai koleksi-koleksi bagus bagus lukisan, patung, foto dsb. Sayang di dalamnya pengunjung dilarang menggunakan kamera.
Perseteruan Merah Biru di Liverpool
Tujuan berikutnya adalah perpustakaan kota. Di dalamnya terdapat berbagai buku (pastinya), video, dan.. tempat anak bermain. Perpustakaan sedang sepi di hari ini, hanya terlihat seorang kakek kesepian, yang lantas mengajakku ngobrol. Dia becerita bahwa telah lama berpisah dengan istrinya yang sekarang di negeri cina. Dia becerita bahwa waktu kecul dia sering menjadi anak-anak yang mengiringi pemain bola memasuki stadion sebelum petandingan dimulai. Masa-masa kecil yang indah, katanya. Akhirnya dia aku berpamitan kepada si bapak tua dan nostalgianya.
Bapak Tua di Library
Selanjutnya, kulangkahkan kaki menuju Liverpool World Museum yang cukup terkenal. Di dalamya terpajang berbagai koleksi dari berbagai peradaban di seluruh dunia, mesir, yunani, romawi, anglo saxon, dari jaman pra sejarah sampai peradaban modern. Sebutlah itu fossil, patung bata Moai Hava, batu bertulis, mummy, hieroglaf, sampai tak ketinggalan koleksi dari indonesia pun hadir: shadow puppet alias wayang kulit. Sangat menarik melihat satu-persatu koleksi dan membaca keterangan yang diberikan di bawahnya.
Supremasi Wayang dari Indonesia di Liverpool
Hal-hal menyangkut seni, buku, peradaban, adalah hal-hal yang selalu menarik bagiku, namun tak bisa berlama-lama, karena Si indra, seorang teman yang menyusul dari Leeds sudah tiba di stasiun untuk ikut menonton pertandingan bola.

Tiket pertandingan Chelsea vs Liverpool harganya 48 Poundsterling, hampir setara dengan 700 ribu rupiah. Biasanya pertandingan ini termasuk ditunggu, tiketnya akan sold out jauh sebelum pertandingan. Untungnya tiga hari sebelumnya Chelsea baru saja mengalahkan liverpool pada piala FA di Wembley, sehingga pertandingan liga inggris di akhir musim ini tidak terlalu istimewa, sehingga member club tingkat rendahan sepertiku masih bisa mendapat dua tiket di bangku away, tempatnya pendukung Chelsea. Tak terbayangkan jika harus nonton di bangku suporter Liverpool, berteriak Cmon Chelsea saat yang lain berteriak Liverpool?

Markas Liverpool bisa ditempuh sekitar 20 menit menggunakan bus dari pusat kota Liverpool. Karena berdekatan dengan Goodison Park markasnya Everton, maka kami memutuskan untuk turun di stadion Goodison Park dan berjalan kaki menuju Anfield. Goodison Park sore ini sepi, tak ada aktivitas. Cukuplah berpose di bawah lambang everton, nil satis nisi optimum, “Nothing but the best is good enough.”
the Blues from Liverpool
Arus lalu lintas kedatangan berbagai kendaraan mulai memadat ke arah Anfield. Stadion dengan kapasitas 45 ribu penonton itu mulai kelihatan, dari jauh terlihat sudah tua dan kurang terawat, konon dibangun sejak 1884. Mendekati stadion itu, sontak aku teringat beberapa teman SMA yang pendukung fanatik Liverpool, ingin mengajak mereka datang dan menunaikan perjalanan suci menuju stadion kebanggaan mereka ini, sambil sedikit menjelek-jelekkan tentunya.

Di depan stadion terdapat Liverpool FC Club Store yang menjual berbagai merchandise club, banyak fans terlihat antusias belanja jersey dsb. Aku yang mengenakan jersey chelsea dalam jaket harus tak menunjukkan antusiasme berlebihan.
Stadion Anfield
Di sekitar stadion terdapat berbagai jajanan dan berbagai merchandise pertandingan, sambil membeli sebuah syal, kita menunggu pintu penonton dibuka untuk bisa masuk. Kebetulan berpapasan dengan dua orang Indonesia, pengusaha yang baru saja datang dari Jakarta, mereka beruntung bisa membeli tiket sesaat sebelum pertandingan dimulai.
Pose Pipis di Lambang Liverpool
Stadion masih sepi ketika kita masuk, sehingga memungkinkan untuk berfoto kesana-kemari. Perlahan satu persatu kursi mulai terisi, kita duduk di Anfield Road Lowe, jajaran away supporter. 
 
Tak berapa lama pemain-pemain mulai melakukan pemanasan. Namun beberapa pemain kunci di Chelsea tidak kelihatan melakukan pemanasan, menimbulkan semacam firasat buruk.
Pemanasan
Tak berapa lama, setelah pemanasan, peluit mulai pertandinganpun berbunyi. Kursi tempat duduk kita tak berfungsi karena kita semua berdiri menyaksikan pertandingan, sambil bernyanyi-nyanyi dan meneriakkan yel-yel mendukung Chelsea. Sesekali yelnya menjelekkan pemain liverpool, pelatih dan penontonnya sekalian. Tangan mengacung berteriak-teriak. Sesekali terdengar umpatan kotor dari kiri kanan.
Menanyikan Lagu Liverpool Raya
Sebegitu besar dukungan yang kita fans Chelsea berikan, namun ternyata tidak demikian dengan pertandingan yang sedang berlangsung. Chelsea banyak menyimpan pemain utamanya, Ashley Cole, Lampard, Matta, Drogba dan Petr Cech tidak dimainkan. sepertinya pelatih Di Mateo mencadangkan pemain-pemain ini untuk mempersiapkan pertandingan final liga champion. Padahal finalnya masih cukup lama, yaitu tanggal 19 Mei 2012.

Fans yang Berdiri dan Bernyanyi Sepanjang Laga
Hasilnya, pada babak pertama Chelsea sudah ketinggal tiga gol, dari tendangan Suarez yang menyebabkan gol bunuh diri Essien, Henderson, dan Agger. Masih untung penalti dari Downing berhasil digagalkan. Turun minum ini, saat orag-orang pergi membeli minuman aku hanya terduduk lesu di kursi penonton.
Chelsea vs Liverpool
Babak kedua akhirnya Chelsea berhasil mendapat satu gol dari Ramires, dan Liverpool berhasil mendapat satu gol lagi dari Jonjo Shelvey. Berakhirlah pertandingan ini dengan skor 4 – 1, Chelsea kalah besar. Padahal selama musim ini Liverpool cuma menang 6 kali di kandangnya, dan sekarang ini Chelsea harus disingkirkan dari peringkat empat liga Inggris, sehingga tidak bisa mengikuti Liga Champion tahun depan kecuali memenangkan Liga Champion tersebut tahun ini melawan Bayern Munchen. Pekerjaan sulait bagi Roberto Dimateo yang baru enam minggu melatih Chelsea setelah pemecatan Andre Villas Boas.

Kecewa rasa hati ini, kami yang sudah jauh-jauh datang dari Indonesia demi menyaksikan Chelsea yang digdaya. Harapan itu harus sirna dengan menyakitkan di Anfield, dengan kekalahan telak, tanpa perlawanan berarti, tanpa pemain inti.

Selesai pertandingan, beberapa pemain Chelsea datang ke depan kami, seolah mengucapkan maaf tidak bisa membuat fans senang. Kemudian pemain-pemain liverpool beserta anak istrinya berkeliling memutari lapangan bola melakukan Lap of Honour, sambil melambai-lambaikan tangan pada para fansnya, sambil stadion memutar lagu you'll never walk alone. YNWA: You'll never win again Suuu, sungutku dalam hati.

Hari sudah pukul 10 malam, akhirnya kami keluar stadion dengan langkah-langkah lesu. Berfoto pun sudah tidak berminat lagi. Dalam hati mencemooh pelatih yang tidak menurunkan Mata, Lampard dan Drogba untuk pertandingan melawan tim sekaliber Liverpool. Pastilah Pak Pelatih tak tau bahwa kami ini jauh-jauh datang dari Indonesia untuk mengharapkan menyaksikan kemenangan.  

Sulit untuk Berekspresi Ceria Setelah Pertandingan
Kami pun kembali ke pusat kota dengan bus yang penuh sesak setelah antrian yang begitu panjang. Sambil jalan, beberapa orang mabuk mengejek kami yang mengenakan syal Chelsea "Look!! They are chelsea fans!" kata mereka sambil tertawa terbahak tidak jelas. Dalam hati kubuat catatan “Kalo ente suatu saat lewat depan rumah ane, bakal ane timpuk pake sendal.” Namun, kami berusaha cuek dan melanjutkan jalan ke stasiun untuk mendapatkan kereta menuju Leeds.

Kereta malam ini adalah kereta jam terakhir menuju Leeds, bangku-bangkunya banyak yang kosong. Sebentar-sebentar kereta berhenti untuk mengecek penumpang di stasiun-stasiun yang dilewati. Kekalahan barusan masih selalu terbayang, sehingga aku bermuram durja spanjang perjalanan pulang. 
Wajah Duka Lara
Aku terlalu mencintai Chelsea. Memang ada kecenderungan dalam diriku bahwa jika menemukan kesukaan pada sesuatu akan menyukai secara berlebihan, dan itu tidak baik. Lebih baik menjadi pendukung yang biasa-biasa saja, pecinta yang biasa-biasa saja, sehingga tidak punya harapan berlebihan dan tidak merasakan sakitnya perasaan akibat kekalahan, akibat harapan yang berhakhir. Sudahlah..

Dalam kesempatan lain kita akan menang, dalam kesempatan lain aku akan jaya. Bendera biru akan selalu berkibar tinggi di langit. Dalam hati, masih tetap kunyanyikan: “Flying high up in the sky, well keep the blue flag flying high..” 


Leeds, UK. catatan dan foto 8 Mei 2012

2 comments:

  1. "Tak terbayangkan jika harus nonton di bangku suporter Liverpool, berteriak Cmon Chelsea saat yang lain berteriak Liverpool? "
    bisa2 remoookk..

    aku juga suka chelsea... tapi apapun yang terjadi... aku tetep happy

    ReplyDelete
  2. bagus mas Tri Arisma, memang perlu menjaga perasaan supaya tetap happy :D

    ReplyDelete