Saturday, November 03, 2012

Euro Trip: Amsterdam, Kota Perayaan Euforia Hidup Part I

Pesawat mendarat mulus di bandara Schiphol Amsterdam, entah bagaimana mengeja nama bandara ini, terlalu ribet buat lidah Indonesia biasa. Menjejakkan kaki diluar pesawat, terlihat langit yang biru terang, berbeda dengan langit yang biasa di Leeds. 
Bandara dan cuaca Inggris yang selalu muram
Dengan langkah ringan kuikuti saja iring-iringan orang yang berjalan keluar. Hingga ke bagian imigrasi, petugasnya seorang wanita cantik menanyakan beberapa pertanyaan semisal berapa uang euro yang kupunya, Akan tinggal dimana, berapa lama akan tinggal di Amsterdam, setelah dari Amsterdam hendak kemana? Kujawab semua dengan lugas dan senyum sumringah. Sampai akhirnya dibubuhkan juga cap di visa ku, dan dipersilahkan lewat. Tadinya kukira pertanyaan-pertanyaan itu sekedar basa-basi sebelum mengarah ke pertanyaan seperti kenapa aku bisa begitu ganteng? Sudah punya pacar atau belum? Dan berapa no telepon? Ah sudahlah, mungkin cuma prasangka baik ku saja..

Melewati pintu gerbang bandara, muncul juga pertanyaan esensial yang perlu segera dijawab. Hendak kemana aku sekarang? kenalan di kota tak punya, tujuan wisata yang jelas tidak ada, perjalananku hanya berbekal sebuah itinerary hotel di dalam ransel. Namun sebagai seorang engineer calon master, tentu aku tak kekurangan akal. Biasanya di setiap kota tujuan wisata di Negara-negara maju seperti UK atau Uni Eropa terdapat tempat yang disebut tourist information, yang tujuan lugas nan logisnya adalah memberi informasi kepada turis.

Pertanyaan berikutnya, dimana memperoleh informasi letak tourist information ini di stasiun? Maka kutanyakan pada seorang petugas yang tidak esensial untuk diceritakan. Dia menunjuk pada papan penunjuk yang memiliki huruf “i” akhirnya aku sadar bahwa i itu merangkum kata information di dalamnya, brilliant. Kuikuti petunjuk papan hingga tiba pada sebuah stand dimana para turis sedang mengantri, mungkin dengan tujuan yang serupa denganku. Giliranku, akhirnya kutanyakan pertanyaan besar dalam hidupku, dengan tanpa tedeng aling-aling.
“Maaf teh, kalau boleh sayah tau, sayah ini mau kemana yah?”

Setelah mengernyit sebentar, mengecek tingkat kewarasanku lalu mba mba tersebut membentangkan sebuah peta. “you need a map, everything’s here on the map, 2.5 euro.” Katanya. Maka kuambil saja peta tersebut.
“do you know where is this Hans Brinkers Hotel?” tanyaku dengan logat di british british kan.
“Here on the map, you can take bus number something, the bus station on that direction.” Katanya sambil mencoret sesuatu di peta. Aku tak menyangka seorang petugas informasi bisa sedemikan informatif dan efektif, sehingga langsung kuikuti secara intuitif.

Perjalanan dari airport ke pusat kota Amsterdam dengan menggunakan bus berlangsung dengan lama waktu yang relatif. Sebenarnya dalam tataran waktu standard mungkin bisa dibilang sejam, tetapi berhubung duduk di sebelahku seorang wanita cantik, juga pemandangan baru dengan sinar mentari bersinar hangat di luaran, perjalanan terasa sebentar saja. Sebentar-sebentar bertanya ke wanita di samping yang sedang mendengarkan musik, pura-pura jadi turis, pura-pura tak punya tujuan hidup.

Akhirnya sesuai dengan petunjuk yang tertera pada peta, sampailah di hostel yang telah dipesan, Hans Brinker Hostel. Setelah mendapat kunci kamar dan kunci loker dengan jaminan 2 euro, masuk kamar. Terdapat enam kasur, enam loker dan satu kamar mandi dalam setiap kamar. Yah, lumayan nyaman untuk biaya 20 euro per malam.

Karena musim panas ini matahari Eropa beredar agak lebih lama dari biasanya di Indonesia, maka jam 8 malam hari masih terang. Sehingga kumanfaatkan waktu untuk berkeliling sejenak, mengitari sekeliling kota yang mulai redup, berkeliling kanal, keluar masuk jalan dan gang.  

Restoran Indonesia
Berkeliling selintas kota, ternyata banyak rumah makan-rumah makan bertema Indonesia. Ada restoran Pelangi, ada Indrapura, segera ku songsong dengan penuh euforia, mata nanar dan air liur hampir menetes. Akan bisa ku nikmati seporsi nasi gulai, rendang atau soto, atau sate madura. Namun begitu melihat daftar menu yang tertera di pintu masuk, ternyata masing-masing menu itu seporsinya 15 euro. Hasrat makan yang berasal dari sinyalemen negatif pada perut memasuki otak dan oleh otak dikembalikan dengan perintah bersabar. Ah, sudahlah, toh sebentar lagi aku akan pulang ke Indonesia, jadi tak ada urgensinya buat makan rendang itu sekarang. Lagipula di salah satu menu terdapat babi panggang dsb yang menunjukkan biarpun restoran Indonesia, tapi telah bercampur dengan budaya lokal. Babi tidak umum dijual oleh restoran orang Indonesia asli. Bertambah kata-kata mutiara untuk menghibur diri sendiri. Sekian lama melongok berbagai tempat makan yang mencantumkan harga-harga di depan tokonya, akhirnya sampailah aku pada kesimpulan cemerlang bahwa McD adalah salah satu yang paling efisien untuk mencari pengganjal perut. 

Pesan moral #1: Kemampuan menahan nafsu duniawi seperti lapar akan citra rasa masakan Indonesia sangat penting bagi keberlangsungan hidup seorang budget traveller..

Standar Kafe
Hari berangsur gelap, maka aku kembali ke penginapan, menutup sekilas pandang pada kota Amsterdam. Besok hari masih panjang untuk menelusuri kota ini dengan sebenar-benarnya.
Di Penginapan, karena hendak sholat kutanyakan pada penjaganya, ada dua orang, satu pria satu wanita. Kutanyakan kepada si pria.
“Excuse me, do you know the direction of Saudi Arabia?” si pria keliatan heran ditanya begitu, sehingga menjawab.
“Why should i know that?”
“You don’t know anything.” Sahutku kesal.
Lalu penjaga wanitanya bilang.
“Do you want to take pray?”
“Yess, glad you know that. Do you know the direction?”
“Sorry, i don’t know.”
“Could you just tell me in which direction is north?” lalu dia menunjukkan arah utara. Dan bisa kudapatkan arah kiblat dengan kira-kira.

Pesan moral #2: Memiliki kompas, atau setidaknya handphone dengan aplikasi qibla compass sangat direkomendasikan kepada seorang traveller muslim.

Sampai dikamar, sedang sholat, mendadak segerombolan pemuda abege yang ternyata turis dari Australia datang, berjingkat-jingkat menuju kasurnya. Selesai aku sholat, kami berkenalan. Sebentar berbasa-basi ngobrol-ngobrol perihal asal, tujuan dsb. Ketika mereka saling bercerita tentang pengalaman mabuk dan minuman, lalu salah seorang mereka bertanya?
“what do you drink?”
“Errr, coca cola?” jawabku. Mereka tertawa.
“I mean, i don’t drink alcohol, because i’m muslim.” Demikian, lalu komunikasi seolah mengalami jalan buntu. 

Pesan moral #3: Penguasaan pengetahuan dan keterampilan perihal minuman-minuman beralkohol akan membantu dalam pembauran dengan turis lokal, selain menjauhkan diri dari islam..

Mereka mengajakku serta ke Red Light District, lokasi prostitusi salah satu dari yang paling terkenal sedunia raya itu, dan aku menolak dengan halus bukan karena tidak mau ke sana tapi lebih karena sudah mengantuk. Cukup untuk digarisbawahi, sebenarnya sudah lama aku sadar bahwa ada batas yang akan selamanya membatasiku dengan orang-orang berbudaya barat ini. Batas itu adalah ada atau tidaknya kadar alkohol dalam gelas, keharuskan memakan makanan halal serta kewajiban menunaikan sholat. 

Sambil berpikir begitu, akhirnya segera kusimpulkan bahwa badan yang letih ini perlu segera menjawab panggilan kasur. Hari ini akan berakhir, tak sabar menunggu hari esok, cepat datanglah.. 

Wednesday, October 24, 2012

Euro Trip: Introduction

Alkisah, lagi-lagi semua dimulai dari mimpi. Pada suatu malam itu aku bermimpi, lalu bangun pagi, lalu terus mandi, lalu tak lupa pula ku menggosok gigi, lalu membersihkan tempat tidurku. 

Selama beberapa waktu matahari sedang tidak ada di Leeds, meskipun sebenarnya musim sedang memasuki panas, the great british summer. Rasanya sudah lama mendekam di sebuah kamar kecil di flat kecil di kota kecil ini, mengerjakan tugas-tugas, thesis dan semacamnya, sehingga sebuah liburan tampak tak bisa terelakkan. Maka ku menghadap dosen pembimbing meminta izin. “I need a holiday, somewhere in the summer, sir.” Kataku dengan gaya seolah bukan berasal dari sebuah Negara berkembang yang berkecukupan panas. Dosen pembimbing maka memberikan izin. 

Dalam kurun waktu merencanakan perjalanan tersebut, timbul beberapa problema, dengan siapakah berangkat ke Eropa? Ada sebuah fakta tragis untuk orang seganteng diriku, bahwa pacar tidak punya. Sehingga tak ada teman wanita yang bisa diajak melakukan simulasi bulan madu di Eropa. Teman banyak, namun ketika ditanyakan kepada beberapa orang sesama Indonesia di Leeds, ternyata tak ada kesesuain jadwal. Sementara pilihan terakhir, berpergian ke Eropa dengan seorang Kiki the Explorer yang karena untuk alasan menghemat biaya transportasi merencanakan untuk membawa sepeda atau seminimal-minimalnya rollerskate terasa seperti bunuh diri. Maka sendirian saja sudah, kuputuskan berangkat sendirian, atau tidak sama sekali. 

Tujuan travelingku adalah Belanda, Perancis, Spanyol, dan Italia. Sementara aplikasi visa harus dilakukan di Negara yang terlama dikunjungi, sementara ada desas desus bahwa mengurus di kedutaan Belanda lebih mudah dan cepat selesai, maka berbekal dua premis itu kuputuskan memperlama waktu kunjungan di Belanda sebanyak empat malam sedang buat Negara lain sebanyak maksimal tiga malam. 

Maka ku menghadap ke kedutaan Belanda di Inggris Raya. Dengan waktu dua minggu sebelum keberangkatan dan padatnya aplikasi visa pada musim liburan ini, si Bapak orang Belanda berbadan gemuk dan besar itu meragukan visa akan bisa selesai. “Let us just crossed our finger.” Katanya, ga ada rasa-rasa bersalahnya bahwa bangsanya sudah menjajah Negara ku tercinta, untuk setidaknya memberikan kelonggaran buat warga Indonesia. Sekedar perbandingan, Negara-negara bekas jajahan Inggris tak membutuhkan visa untuk masuk dan tinggal di Inggris. 

Adapun syarat visa itu antara lain: Foto ganteng ukuran paspor yang membuktikan tidak akan fakir rupa selama di Eropa, bukti booking tiket yang membuktikan kemampuan mencari tiket termurah dari Jet 2, Easy jet atau Ryan Air dengan tanggal pulang dan pergi, bank statement yang membuktikan bahwa pemilik uang sudah berbulan-bulan mengirit belanja makan, booking hotel (itinerary) yang menunjukkan tidak punya hobi menggelandang serta surat keterangan pelajar dari universitas yang menunjukkan bahwa ybs hobi belajar. Adapun untuk syarat itu semua yang berhubungan dengan pembiayaan, harus disertai bukti pembelian/pemesan yang mencantumkan kartu kredit atau debit si calon traveler.

Setelah syarat-syarat itu semua terpenuhi dan menyilangkan jari selama beberapa hari. Akhirnya passport yang sudah ditempeli stiker visa Schengen tiba di alamat rumah, sebagai bonus diberikannya waktu kunjungan lebih lama, yaitu sebulan dari dua minggu yang diajukan. 

Ada sedikit permasalahan bahwa seorang mahasiswa yang studi oriented sepertiku tak punya waktu buat mempersiapkan perjalanan, apakah itu itinerary lokasi wisata mana saja yang akan dituju, tak punya waktu buat mencari hotel strategis, bahkan tak rela mengeluarkan uang untuk membeli buku Lonely Planet Europe. Bahkan sampai hari keberangkatan aku tak tau akan kemana, hanya berbekal lokasi hotel yang telah dibooking dengan bantuan pihak Sta travel dengan kriteria hotel termurah yang bisa dia dapatkan, serta sebuah Euro Rail tiket untuk perjalanan darat berbagai kota di Eropa. 

Setelah pagi-pagi packing seadanya, memasukkan berbagai pakaian seperlunya ke dalam ransel ala backpacker. Sekitar jam 12 siang aku masih baru saja menyebarkan lewat sosial media empat buah kuesioner online untuk thesis. Straginya adalah, selama diriku jalan-jalan, orang lain akan menyelesaikan pengumpulan data thesisku, jadi tak ada waktu yang terbuang bagi mahasiswa studi oriented ini. Tinggallah aku tersenyum-senyum sendiri memikirkan betapa cemerlangnya ideku. Lalu jam 1 siang membeli uang Euro sisa teman yang baru kembali dari Eropa. Lalu jam 2 siang berangkat ke Bandara International Leeds Bradford. Lalu jam 4 sore sudah berada di pesawat menuju Amsterdam. 

Oh hei thesis, selamat tinggal. Oh hei Amsterdam, aku datang..

Saturday, October 13, 2012

Ode to Jim Morrison

Suatu malam sekitar tahun 2004, aku pernah bermimpi. Dalam mimpiku, tergambar komplek pekuburan besar dengan bebatuan aneh, orang-orang berbondong-bondong memasuki dan berjalan diantaranya. Aku mengikuti, dan tiba pada sebuah makam dimana orang-orang berdiri menunjukkan kesedihan. 

Selang seminggu kemudian, saat pagi-pagi duduk di dipan depan himpunan HMS ITB sambil membaca koran Kompas jumat, pada bagian muda, terdapat artikel bahwa orang-orang dari seluruh dunia datang dan berziarah ke makam jim Morrison, terlihat foto sebuah makam dengan patung dan berbagai rangkaian bunga pada artikel itu yang terasa seperti yang dalam mimpiku. 

Mimpi itu mengendap di benakku dengan beragam pertanyaan. Kenapa pula sampai memimpikan pergi ke sana? Apa sebegitu sukanya aku dengan Jim Morrison ini, sehingga harus bermimpi datang ke kuburannya. Seberapa jauh seorang Jim telah masuk dan memperngaruhi alam bawah sadarku. Ku simpan gambaran itu hingga bertahun-tahun kemudian. 

Itulah sebabnya begitu menjejakkan kaki di Paris, maka hal pertama yang terpikirkan di benakku adalah mengunjungi Pere Lachaise tempat dimakamkannya Jim Morrison. Lokasinya ternyata tak jauh dari hotel, sehingga kutempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam menuju ke sana. 

Setelah bertanya sana sini yang terkadang dijawab terkadang diacuhkan. Akhirnya sore itu jam tiga, seiring langit yang mendadak mendung, kulangkahkan kaki memasuki komplek pekuburan yang mencekam. Tak pernah kusangka, bahwa kompleks ini begitu luas. Berbagai peziarah lain terlihat berjalan ke tujuannya masing-masing. 

Dari papan petunjuk, tertera makam Morrison ada di no 30. Pada peta sebelah kiri, kudapati blok pekuburan no 30. Makam orang-orang terkenal mulai dari seniman, filosof, ilmuwan, dan tokoh politik lokal, aku tak peduli pada semua itu yang tidak relevan dengan tujuanku. Maka kulangkahkan kaki menelusuri. Telusuri semakin ke dalam, semakin banyak bentuk pekuburan yang aneh-aneh, sebagian besar, semakin berwana gelap, dengan berbagai coret-coretan atau patung-patung aneh.

Ada kuburan tua berlumut dengan salib besar, dengan patung bidadari bersayap, dengan tonggak iluminati, dengan patung tokoh yang bersangkutan, patung perempuan meratap, filsuf duduk dan sebagainya. Sambil jalan kutemukan ada orang gila yang berteriak-teriak bermonolog, ada dua orang berpakaian hitam-hitam seperti drakula atau sekte pemuja setan, beberapa anak muda dengan kaos Jim Morrison, seorang berseragam pastor. Pohon-pohon besar dan rindang dengan kepak sayap dan jeritan burung gagak membuat suasana semakin muram. Dari langit yang gelap berjatuhan rintik-rintik gerimis.

Salah satu kemampuan yang biasanya bisa kuandalkan adalah kemampuan orientasi dan membaca peta, namun kali ini aku tersesat. Terlalu sulit untuk menemukan arah diantara lorong-lorong kecil, bentuk pekuburan yang kelihatan sama dimana-mana, suasana mencekam. Akhirnya setelah sejam berjalan, kudapati blok no 30, namun setelah kutelusuri satu persatu makam di sana, membaca nama pada batunya, tak terlihat Jim Morrison. Jika bukan karena sudah begitu jauh perjalanan yang kutempuh dari Indonesia ke Inggris ke Perancis, ingin rasanya aku pulang saja.

Sambil menguatkan hati, akhirnya ku telusuri lagi, sambil bertanya kepada tiga orang berbeda, tidak ada yang mengetahui, aku mencari dan berputar-putar di sana sampai tiga kali, tetapi tak kudapati juga. Jangan-jangan memang bukan takdirku menemukannya. Ada sepasang orang berpacaran sambil berciuman di salah satu pojok sepi sambil duduk di atas batu makam, sungguh terlalu, tak mungkin bertanya pada mereka.

Selang beberapa lama akhirnya kutanyakan pada dua orang yang kebetulan berpapasan, ternyata mereka salah satu peziarah ke Jim yang baru saja mengalami masalah serupa, bahwa makam Morrison bukan di blok no 30, melainkan di makam no.30. Akhirnya ku cek dan menemukan kebodohanku bahwa ada dua angka 30, satu untuk blok dengan tulisan warna biru, satu untuk identifikasi makam tertentu dengan warna hitam. Ibu itu memberi petunjuk ke arah makam Morrison di blok 6, akhirnya kususuri dengan langkah penuh harapan baru. 

Menjelang semakin dekat dengan makam, perasaan agak tidak karuan. Sebentar lagi aku akan tiba di tempat tokoh idola bersemayam, musisi favorit, filosof, penyair dan seorang jenius yang mengisi perjalanan musikku, yang sekian lama menemani hari-hariku. Akhirnya aku tiba, ternyata ada banyak orang di sana yang bertujuan sama. Beberapa mengenakan attribute kaos Jim Morrison, bahkan ada yang meniru gaya rambutnya yang ala Alexander the Great. Kulihat seorang wanita muda yang menangis sesenggukan di pojokan. Tentu aku tak akan menangis.

Tadinya, kuniatkan untuk membacakan sebuah surat berisi ode kepada jim Morrison yang telah ku tulis. Namun terlalu banyak orang di sana, yang sibuk mengambil foto dan hadir dengan aura takjub dan hikmat. Sehingga, ku urungkan niat untuk membaca, ada perasaan sungkan, karena bacaan ku bukan berisi pujian, melainkan perpaduan pujian, cacian dan salam perpisahan. 

Akhirnya kukeluarkan kertas ku, kubaca saja dalam hati, suratku berikut ini.

an ode to Jim Morrison, an adieu to my youth idol.

Dear mr mojo rising,
Our interaction began when i was introduced to your music light my fire.  It strengthened when a teenager, with your face printed on his t shirt, was yelling striving for freedom on a music ceremony. What kind of freedom was it? Why it has something to do with you, i thought at the time. 

I listened to all your song, i read your biography, an American prayer books, film about you, many things intensified my adoration. Your music, poem, performance all were so unique, so unexplainable. At the stages you caused a riot, wanted to cure what so called sexual neuroses of people on the crowded. At an empty room you whispered the absurdity of poetry to open eyes and ears to inner self, to a freedom of the mind, body and soul. All made me wanted to care for you as much as i wanted to run away. 

During the time i asked myself many questions. Could it be untrue? Could you be a liar? For that invitation for celebration of the freedom, how could people got their freedom while they were following you? Why you told anyone something you did not surely know anything about. You did break on through to the other side leaving behind generation of followers, have you found what you were looking for? a flashing chance at bliss? Your risk all of the transcendental while you hardly tried to figure it out. Your risk the life and death of your entire follower. 

I'm more than 27 now, while your age stopped at this mystical number. Fortunately, i already have the most precious person to follow rather than following you, the greatest person of mankind, the prophet, peace be upon him. Then i started a trip to greet you here as i wanted to say goodbye. From now on, I don’t want to adore you no more. 

Regards

Saturday, September 29, 2012

Edd Corp dan Sebuah Pernikahan


Sebuah Edd Corp beberapa waktu lalu mengirimkan sms berisi undangan pernikahannya. Tak cukup dengan sms, dipersembahkan pula undangan event di facebook. Merasa kurang, di kirimkan pula kepada awak sebuah email buat di sebarkan ke teman seangkatan. Belum puas dengan semua itu, di telpon nya lah awak pada suatu siang yang melengang.

Mendapat berita itu, yang tanpa tedeng aling-aling, sesuai karakteristik intrinsik sejumput Edd Corp, dunia awak yang tadinya berputar ramah pada porosnya mendadak berguncang. Betapa tidak, sebongkah Edd, yang dulu dijuluki makhluk jalang dengan inisial Edd, yang selama hidupnya penuh dengan pengembaran, yang idealisme nya anti kemapanan.. telah memutuskan untuk bergabung dengan kehidupan statis dengan cara memadukan rumah dengan tangga, menikah. Lalu dia sampaikan berita itu kepada awak dengan semerta-merta, terlalu semena-mena karena tak bisa dia wartakan dengan kehalusan budi pekerti dan sopan santun kata demi kata supaya tak terlalu kaget awak dibuatnya.

Tentu ada alasan kenapa awak merasa bagaikan mendengar petir di siang bolong, bolehlah awak jelaskan dengan memberikan sekilas deskripsi kehidupannya. Edd ini, pada hakikatnya hadir sebagai salah secuil adik tingkat tipikal kurang ajar yang dengan mukanya yang dibuat sesongong mungkin sering mendebat awak dengan dialektika minim intelegensia, itu sudah awak lupakan. Yang masih cukup terang bagi awak, bahwa percintaan sesama manusia adalah hal terakhir yang bisa melingkupi kehidupannya. Selama ini dia lebih cinta dengan alam, dia menjelajah dari gunung satu ke gunung lain, dia merambah hutan dan padang ilalang. Dahulu kala dia jatuh cinta kepada ikan_cupang. Ketika ikan cupangnya pergi, dia mengganti dengan setangkai Edelweis dari atas gunung. Ketika Edelweisnya hilang, dia jatuh cinta pada kaktus. Ketika kaktusnya meranggas, kemungkinan besar dia akan jatuh cinta pada batu kali, atau apapun itu, asal ada satu dua benda dari alam raya yang menjadi objek pengejawantahan cintanya. Sederhana saja kehidupan sekuntum Edd selama ini, di waktu dulu awak mengenalnya. Sesederhana semua perilakunya yang terangkai dalam kata-kata yang lugas, tawanya yang lepas, leluconnya yang khas, jiwanya yang bebas.

Lama kami tak bertemu. Lama tak kami nikmati sejuknya Bandung tempo dulu sambil duduk di jalan ganesha selepas menyantap lontong sayur yang lalu dilanjutkan menyeruput susu murni, sembari mengomentari anak-anak Teknik Industri yang jelita berlari pagi. Lama tak kami resapi segelas susu jahe angkringan yang sehangat pembicaraan tentang pengemudi mio putih yang merangkum keelokan budi dan keayuan wanita jawa, yang diiringi nada musisi jalanan yang beraksi di pojok-pojok kota Jogja. Lama pula tak kami tempuh perjalanan Bandung-Jogja menggunakan kendaraan perang tua diiringi sesosok polisi jujur imajiner Briptu Dadan.

Tentu ada mata rantai yang hilang dari transformasi sebuah, sebongkah, sejumput, secuil, sekuntum, sesuatu Edd yang biasanya menganut aliran kehampaan, menjunjung tinggi idealisme anti kemapanan sampai menjadi seorang Edd yang mengundang awak hadir ke pernikahannya. Dalam kebingungan awak akan realitas yang jungkir-balik ini, maka awak tanyakan kepada si Edd. “Bagaimana bisa kau tiba-tiba memutuskan menikah wahai Edd?”
Edd dengan lugas dan dialek melayu yang tak hilang menjawab “Karena awak suka, dia pun suka. Awak tak mau kehilangan dia, dia pun ingin selalu bersama awak. Maka kami putuskan untuk menikah, karena tak ada lagi ikatan yang lebih kuat selain dari ikatan persaudaraan atau suami-istri. Maka awak datangi rumahnya, rupanya Bapaknya pun restu, dikasihnya awak kalender.” 
Demikian pernyataan Edd menjelaskan alasan untuk menikah. Tak perlu kajian psikoanalisa Freud atau Jung, tak perlu jabaran the art of lovingnya Eric Fromm, tak perlu puisinya Gibran, tak ada dialektikanya Hegel. Segala kompleksitas dan probabilitas seolah terangkum menjadi sebuah silogisme sederhana. Sederhana saja semua itu, sebagaimana sesosok Edd yang awak kenal.

Dengan kesederhanannya ini pula, seperti agak sulit bagi Edd untuk menebak rasa hati awak. Bahwa tetiba mendapat undangan pernikahan darinya, terjadi dilema pada diri seorang pria tampan dan single seperti awak ini, perihal akan datang ke pernikahannya dengan siapa atau akan mengajak nikah siapa? Dilema ini bisa jadi hadir disebabkan oleh terlalu banyaknya kemungkinan atau mungkin karena ketiadaan pilihan.

Terlepas dari dilematika ini, terlepas juga dari kelakuan si Edd yang “selonong boi”, tanpa permisi, basa-basi dan tanpa persembahan pelangkah berani mendahului awak menikah. Tentulah awak masih harus menunjukkan penghargaan dengan menghadiri acara ini untuk mengucapkan selamat atas pernikahan yang akan berlangsung ini. Tak akan ketinggalan doa dan harapan yang awak panjatkan.

Agar penikahan ini diberkahi Allah SWT.   

Agar keluarga besar yang menyelenggarakannya berbahagia.

Agar keluarga yang akan didirikan ini menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Keluarga penentram hati, penuh cinta dan kasih sayang.  

Agar kelak keluarga ini dapat memberlangsungkan keturunan yang sholeh dan sholehah yang menjadi penerus amal kebajikan serta pelanjut langkah-langkah nan perwira dalam memajukan negara kita Indonesia.

Semoga keselamatan dan keberkahan senantiasa bersama kita Edd bro yo.

aamiin..