Showing posts with label kuliah. Show all posts
Showing posts with label kuliah. Show all posts

Sunday, April 06, 2014

Exploring the Leeds University Library

Langit buram dan awan mendung menggantung di langit Kota Leeds tak menghalangi langkah kakiku untuk menuju kampus Leeds University. Kulangkahkan kaki menelusuri trotoar jalan di Woodhouse Lane, mencapai pertigaan dan menyeberang melewati zebra cross setelah mendapati lampu petunjuk menyeberang jalan berwarna hijau. 

Di sebelah kanan adalah Parkinson Building, gedung yang berdiri megah dan menjadi Landmark Universitas, gedung yang berwarna kusam dengan latar belakang langit yang sering kelabu, beberapa mahasiswa santai duduk di tangganya yang besar-besar. Gedung-gedung universitas dinamai dengan nama ilmuwan, termasuk gedung ini yang namanya diambil dari seorang ahli ekonomi terkenal Northcote Parkinson, satu kalimatnya masih kuingat benar karena pernah dikutip oleh seorang dosen di kelas saat memberi tugas: “Work expands so as to fill the time available for its completion.” 

Salah satu contoh prakteknya adalah bahwa diberi tenggang waktu yang sepanjang apapun, mahasiswa masih akan bersantai dan mengerjakan tugasnya di akhir waktu, dan ujung-ujungnya tetap akan ada yang terlambat mengumpulkan tugas. Aku adalah penganut aliran menunggu dan mengejar deadline itu. Oleh karenanyalah tiap melewati gedung Parkinson, serta tiap mengumpulkan tugas di akhir waktu, selalu teringat kutipan manis itu.. 
Di dalam Parkinson Building terdapat berbagai fasilitas universitas: ruang pusat bahasa, museum seni dan Brotherton Library dsb. Perpustakaan yang ini dikhususkan untuk buku-buku ilmu sosial, hukum dan seni, beserta aneka koleksi buku-buku tebal tua dan manuskrip langka lainnya. Namun, perpustakaan tujuanku bukan di gedung ini, aku harus menuju perpustakaan lainnya, berbelok kanan melewati Parkinson Building, menelusuri jalanan di pinggiran gedung yang halamannya rumput hijau berhias aneka tanaman bunga. Jika matahari muncul, halaman hijau di sekitar gedung akan memutih karena mahasiswa-mahasiswi pada berjemur demi mendapatkan sedikit tambahan pigmen.
Universitas punya beberapa perpustakaan antara selain Brotherton Library, antara lain: The Health Sciences Library perpustakaan untuk ilmu-ilmu kesehatan, St James's University Hospital Library perpustakaan khusus kedokteran dsb, serta Edward Boyle Library. Edward Boyle Library adalah perpustakaan di jantung kampus yang dominan dengan koleksi ilmu pengetahuan, teknik, dan berbagai koleksi lainnya. Sebagai seorang yang mengaku berdarah engineer, tentunya di perpustakaan inilah harus menghabiskan waktu. 

Edward Boyle Library berlantai sampai dengan 13, yang dimulai dari lantai 8. Jangan ditanya letak lantai satu sampai dengan lantai tujuhnya, karena akupun tidak tahu ada dimana. Untuk memasuki perpustakaan, mahasiswa harus menggunakan kartu sakti KTM, tempel sedikit dan portal pengaman bisa didorong. Sungguh sakti kartu itu, kartu segala fungsi segala manfaat, yang awal-awalnya dulu sempat membuatku luar biasa terkesima. Salah satunya adalah untuk meminjam buku di perpus, hanya perlu menempelkan kartu pada mesin pemindai dan menscan barcode pada buku-buku yang diinginkan, selesai, langsung masukkan ke dalam tas dan melenggang pergi.

Memasuki perpustakaan, menghamparlah aneka rak-rak berisi lautan buku, komputer dan sebagainya. Biasanya pertama kali aku akan mampir ke pojok kanan, bagian literature dan sastra, membaca sedikit karya-karya Salman Rushdie yang banyak bertengger di sana, lalu menutupnya lagi dengan sedikit cacian hujatan, bukan apa-apa, cuma karena aku tak bisa memahaminya.
Setelah itu, biasanya aku akan masuk berjalan menelusuri lorong diantara rak buku, menuju ruang koleksi film dan melihat satu-satu aneka judul film itu. Berbagai film dari yang lama sampai yang baru bisa kita dapati di sini, termasuk itu film the Doors yang sudah sulit ditemukan DVD nya di pasaran. 

Karya sastra dan karya film itu selalu berhasil mendistraksi perhatianku dari tujuanku semula, apa tujuanku semula? Adalah pergi mencari referensi buku di bagian engineering, membaca sebanyak-banyaknya untuk mendapat sedikit pengertian pada landasan teori penelitian.

Buku adalah gudang ilmu, jika demikian, untuk menemukan satu gudang ilmu di dalam gudang besar berisi jutaan gudang ilmu lainnya ini kadang-kadang bukan perkara mudah. Pada papan informasi yang tersedia, ada petunjuk ringkas tentang keberadaan buku-buku di perpustakaan.
Dari lantai yang di pintu masuk, level 9 tempatnya buku-buku sejarah, tambang, literature, sastra dsb kita beranjak naik ke lantai atasnya melalui tangga, mengikuti kebiasaan mahasiswa lainnya. Kebanyakan mereka lebih suka sedikit olahraga turun naik tangga daripada naik lift yang tersedia.

Sampai ke Level 10 tersusun rapi rak-rak penuh buku mulai dari sejarah modern, biologi, hewan, dsb. Kadang aku mampir ke salah satu bagian ilmu psikologi dan mendapati beberapa buku yang cukup mencolok mata, salah satunya beberapa buku tebal dengan judul Essays on the Pleasure of Death. Luar biasa, sudahkah para penulisnya mengalami sendiri, sehingga bisa menulis esai tentang nikmatnya kematian? Pertanyaan itu belum terjawab karena aku terus menuju lantai berikutnya.

Beranjak dari lantai 10 ke lantai 11 rak-rak buku mulai terasa familiar, ada buku ilmu makanan dan engineering mulai dari kimia, ilmu komputer, sipil, minyak, material, matematika, mesin, tambang dsb. Sesekali dulu mampir ke bagian teknik sipil dan mencari referensi. 

Tetapi rak buku tujuanku tentunya tetap di Lantai 12, tempat ilmu-ilmu umum, biologi, sport, geografi, geologi, dan tentunya transportasi. Buku-buku yang sangat spesifik pada satu dua topik khusus ini di Indonesia bakal susah didapatkan. Beberapa rak buku transportasi itu sudah sering ku kunjungi dan sudah familiar dengan beberapa judulnya. Namun, untuk menemukan buku yang diinginkan dengan menekuri satu demi satu judul buku cukup membuang waktu. 

Oleh karenanya, jalan praktis yang bisa diambil adalah dengan mencari buku melalui katalog online yang tersedia pada komputer-komputer di dekat lift. Dengan menggunakan login mahasiswa, kita bisa mengakses library online, Jika mencari judul buku tertentu, pada bagian buku itu akan tertera judul, penulis, kode raknya, serta kode bukunya. Sehingga memudahkan kita mencari buku. Bahkan jika buku itu sedang dipinjam, kita bisa mengklik pemesanan sehingga orang yang sedang meminjam tidak bisa memperpanjang jangka waktu peminjaman, dan selanjutnya kita akan diberitahu jika buku itu sudah bisa diambil. Pada akun mahasiswa bisa dicek buku apa saja yang sedang dipinjam dan kapan harus diperpanjang atau dikembalikan. Akun tersebut juga sakti mandraguna untuk mendapatkan berbagai paper, jurnal, disertasi dan bermacam electronic resources lainnya dari dunia akademis, dengan sekali klik download. Luar biasa memudahkan, surga ilmu pengetahuan. 

Setelah menemukan buku yang kucari, ku ambil untuk menuju meja yang terdapat di sebelahnya, di lokasi silent study area. Area ini ditandai dengan tanda dilarang berisik, tidak perlu ada Rangga dan lemparan pensilnya, karena sepertinya kebanyakan orang mematuhi aturan yang tertera. Aku pun mulai membaca.
Perihal membaca buku itu, jangan dikira merupakan sebuah aktivitas yang bisa bertahan berjam-jam penuh konsentrasi. Biasanya beberapa lama melihat dan mempelajari rumus-rumus model matematika, di dukung penuh oleh ruangan yang terlalu sunyi senyap, hawanya yang terasa hangat dari penghangat ruangan yang ada di dekatnya, serta aroma-aroma buku-buku itu, akan membuat kantuk segera datang, rumus-rumus dan berbagai lambang matematika biasanya menjelma menjadi makhluk-makhluk kecil yang menggeliat keluar dari buku, dan pada ujungnya akupun jatuh ketiduran, kepala tertelangkup jatuh pada gudang ilmu yang sedang terbuka lebar. Itulah hal yang akan terjadi, setelah beberapa kali pembuktian secara empiris. 

Menyadari hal itu, aku sudah menyiapkan strategi: setelah membaca beberapa bagian akan ada sesi diskusi dengan seorang teman sekelas. Ruang diskusi ada di lantai paling bawah, lantai 8. Di sanalah seorang Arwa, wanita cantik berkerudung dari timur tengah yang jenius dan semua mata pelajaran mendapat nilai distinction, sedikit menjelaskan mengenai random taste of heterogeneity pada discrete choice modeling. Istilah itu tidak mungkin dinisbatkan pada sesuatu yang manis semanis potongan kue lapis legit, bahkan sepertinya bukan sesuatu bisa dimakan.. 

Satu dua jam diskusi dengan Arwa biasanya akan memberikan pencerahan pada satu dua persoalan yang tadinya mengganjal. Hal itu bisa menjadi bahan buat menulis bahan tugas atau landasan teori untuk thesis. Kesempatan yang baik setelah diskusi itu kugunakan dengan beranjak menuju ruang komputer cluster, di Lantai 10, membaca lagi, sambil mengetik rangkuman hasil bacaan. Jangan pernah menulis sesuatu yang sama dengan yang ada di buku, karena itu akan menjadi plagiarisme dalam dunia akademis. Kemampuan membolak-balik struktur kalimat dan mencari padanan kata sangat diperlukan. 

Sambil melirik kanan-kiri, berbagai suku bangsa pria dan wanita sedang asyik di komputer masing-masing, mungkin sedang mengerjakan tugas. Jika beruntung, selalu ada satu dua wanita blonde cantik yang rambutnya berpijaran keemasan terpapar sinar matahari sore. Pada musim ujian dan tugas-tugas besar biasanya ruang komputer selalu penuh. Pada hari-hari biasa, perpustakaan ini buka sampai jam 12 malam, dan pada masa-masa ujian akan buka selama 24 jam non stop. Tidak mengherankan jika pernah ada cerita orang hilang yang pengumumannya dimuat di halaman koran, setelah beberapa hari orang hilang itu ditemukan dalam keadaan mendekam di perpustakaan. Lost in the library, terdengar keren.

Tak terasa waktu pun berlalu, setelah berjam-jam berkonsentrasi, akhirnya jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih, mata sudah semakin sayu, baterai sudah low. Jika satu hari terasa produktif, apalagi jika mendapat sesuatu ide dan bahan yang bisa dimasukkan ke dalam penelitian, membuat semacam perasaan senang. Membuat ingin segera pulang ke rumah dan memeluk orang rumah. Okey, orang rumah itu belum ada, cuma ada tetangga kos yang akan merasa aneh jika mendadak dipeluk. Tapi hal ini tak mengurangi euforiaku ketika berjalan pulang. 

Aku melangkah dengan langkah-langkah panjang kali lebar kali tinggi. Orang-orang Inggris kebanyakan hobi berjalan kaki dengan langkah lebar dan panjang, boleh jadi dua kali kecepatan jalan orang indonesia kebanyakan yang sedang bergerombol, lama-lama kebiasan langkah cepat itu menular, membawa semacam rasa optimis.

Aku berjalan pulang melalui lorong, berbelok menelusuri bangunan-bangunan tua yang gelap dan bersuasana mencekam. Berbelok lagi mencapai Parkinson building, melewati beberapa taksi yang masih parkir di depan gedung. Mencapai lampu merah, dan berpapasan dengan serombongan orang-orang yang mabuk baru dari club atau bar setempat, mungkin mereka hendak pulang, mungkin juga hendak melanjutkan maraton ke bar-bar lain di kota. Berhadapan denganku seorang wanita agak gemuk, berambut pirang berkostum peri. Apakah di depanku ini semacam penampakan halusinasiku yang disebabkan karena aku terlalu lama belajar?

“Emiliii” Teriaknya ketika melihatku.

Lalu dia bergerak mengejar dengan langkah sempoyongan, diikuti rombongan wanita teman-temannya. Ada apa ini? Sejak kapan namaku berubah menjadi Emili? Kebetulan lampu hijau tanda boleh menyeberang sudah hidup, aku pun lari menyeberang jalan, pergi menghindari wanita mabuk dan delusinya soal Emili.

Agak kontras memang, nuansa akademis surga ilmu pengetahuan di dalam kampus yang berlangsung sampai pagi, bersanding dengan hingar-bingar suasana kehidupan malam menyambut weekend yang juga berlangsung sampai pagi ini..

Saturday, June 02, 2012

HMS ITB, Kaderisasi dan Sekitarnya

Pada 30 Mei lalu, HMS ITB merayakan ulang tahunnya yang ke 58, melihat berbagai ucapan di berbagai media sosial, terasa pula nostalgia dengan berbagai pengalaman selama berinteraksi dengan HMS ITB.

Ada yang bilang HMS ITB itu identik dengan OS nya keras.. emang iya. Ada yang bilang HMS ITB itu identik dengan orangnya seram-seram.. emang iya juga.

Secara pribadi, wajah HMS ITB dalam bayanganku mulai terukir sejak SMA. Sewaktu ada kakak kelas yang kuliah di jurusan Tambang ITB datang dalam penyuluhan mengenai ITB, sebagai adik kelas yang cupu, kutanyakan padanya.
“Kakak, bagaimana dengan jurusan sipil ITB, bagus kah?”
“Oh, sipil bagus kok, cewenya banyak, trus OSPEK himpunannya diajarin computer..”
“Horeee.”

Demikianlah, sehingga dalam bayanganku jurusan sipil ini begitu ideal, jurusan yang di impikan oleh pemuda dari berbagai belahan bumi Indonesia. Maka, masuklah aku ke Teknik Sipil dengan sumringah, penuh perasaan suka, impianku akan diajarkan komputer dan dikelilingi cewek-cewek trendi dari seantero Indonesia akan segera terwujud.

Demikian rasanya, sebelum mengetahui keadaan sebenarnya..

OSKM untuk seluruh mahasiswa yang disambut dengan spanduk “selamat datang putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia” berlangsung aman. Meski dimulai dari jam tujuh pagi sampai jam 12 malam setiap hari selama seminggu, tak masalah. Ada kegiatan lari-lari keci, berbalas salam, berbagai interaksi dan diskusi. Tak masalah, cocok banget nih kampus. Namun disitu mulai beredar desas-desus tak menyenangkan soal Ospek di himpunan mahasiswa sipil, yang katanya keras.

Atithesis pertama atas wajah jurusan yang kuharapkan datang saat mengetahui ternyata proporsi cewek cowok di jurusan jauh dari berimbang yaitu 1 : 5. Itupun kucing cewek yang berkeliaran di jurusan sudah dihitung. Okelah, masih ada harapan buat wajah berikutnya: diajarkan komputer.

INTERAKSI
Himpunan adalah tempat beraktivitas yang utama di kampus ditambah dengan legenda yang beredar bahwa non anggota himpunan akan dikucilkan, praktikum akan dipersulit, maka angkatan baru tertarik untuk menjadi anggota himpunan di jurusan, yaitu Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS ITB).

Hingga tibalah saat bertemu dengan para anggota himpunan, mereka menyebutnya OSPEKnya sebagai kaderisasi, mereka menyebut acaranya dengan nama interaksi. Kaderisasi adalah kegiatan untuk mengader, untuk mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader, yang diharapkan akan memegang pekerjaan penting dalam organisasi, dengan cara interaksi atau aksi timbal-balik.

Beberapa tahapan untuk menjadi anggota HMS biasa mengikuti pola:  
Peserta kaderisasi > calon kuya > kuya > Anggota biasa.
Masing-masing tahap itu dilalui dengan perjuangan dan pengorbanan yang (seringnya) tidak tak seberapa.

Interaksi biasanya berlangsung dua atau tiga kali seminggu, selama setahun. Diulangi, selama setahun. Ada interaksi ruangan sekali seminggu dimana isinya perkenalan dan pengetahuan, diajarkan mengenai kepemimpinan, teori organisasi, dsb. Interaksi ruangan ini boleh dikatakan: mendidik.

Ada juga interaksi lapangan, dimana peserta diajak beraktivitas fisik, dimulai dengan senam-senam kecil, diteruskan dengan lari-lari kecil keliling kampus atau keluar kampus, dilanjutkan dengan push up push up kecil, diselingi dengan teriakan-teriakan kecil. Biasanya dua kali seminggu, rabu malam dan minggu pagi.

Mahasiswa tahun pertama pada hari rabu biasanya mendapat tantangan degnan adanya kegiatan Ujian Tengah Semester (UTS), maka acara berikutnya: interaksi malam, tak kalah menantang, berlangsung dari jam tujuh malam sampai satu pagi. Seringnya dengan cuaca yang didominasi hujan, acara tetap dilanjutkan. Jadilah peserta dan panitia berlari-lari menembus hujan sambil menyanyikan lagu dan mars angkatan dengan bersemangat. Acara dilanjutkan dengan berbagai posisi push up, sit up, skot jump dsb.

Jika dilakukan dalam kondisi biasa, mungkin tak ada masalah, namun yang dilakukan di lapangan becek sehabis hujan ini agak menggiriskan juga. Alkisah, karena kehabisan baju putih akibat acara yang dua kali seminggu, pernah aku meminjam kaos putih dari seorang teman di kos. Lalu ikutlah acara minggu pagi itu, lalu ketika pulang, dengan sedihnya kudapati baju putih itu telah cokelat penuh lumpur. Dengan berbagai deterjen apapun, tak akan pernah menjadi putih kembali.   

Tingkat kesulitan acara didesain bertahap, layaknya sebuah film, game atau apapun yang memiliki flow, dengan irama yang sesuai. Makin tinggi tingkatan, makin berat acaranya. Jika pada mulanya kegiatan push up dan sit up biasa saja, maka berikutnya diperkenalkan kegiatan push up berantai. Seperti rantai, sambung menyambung menjadi satu, dari belakang barisan sampai ke depan, bobot teman yang berat ditanggung bersama.

Lalu diperkenalkan juga push up setengah, yaitu menahan posisi badan tetap di tengah-tengah pada saat push up, lalu ada juga seperempat, tiga perempat, seperdelapan dsb. Yang demikian disinyalir bisa mengakibatkan trauma dengan pelajaran berhitung dengan pecahan.  

Tidak hanya tiga posisi utama itu, para senior yang dipanggil dengan sebutan bos dan bis ternyata juga kreatif dengan memperkenalkan berbagai penindasan fisik lainnya. Maka, jadilah peserta melakukan jalan jongkok, jalan bebek, jalan anjing, jalan kepiting. Sebut saja nama salah satu binatang, maka taulah kami bagaimana bentuk jalannya. Semikian acara yang berlangsung setiap minggu. Sehabis berbagai aktivitas fisik, pernah pula disuruh berjalan jongkok di selokan, di tenggelamkan, lalu ketika naik ke atas diberi satu dua tamparan manis.

Salah satu kegiatan lainnya yang membekas adalah acara oleh para swasta. Swasta adalah kategori untuk yang angkatannya 3 tahun diatas atau lebih. Swasta lebih berkuasa, telah banyak manis pahit kehidupan kampus, disebut super bos, dewa dsb. Pada malam itu diadakan acara ruangan, yang dilakukan didalam ruangan, namun tak kalah kejam.

Di sebuah ruangan yang bernama LFM, dimana bangku memanjang berderet dengan ruang kecil untuk disela-sela meja dan tempat duduk. Para peserta harus masuk ke dalam celah diantara bangku itu setiap kali disuruh, dan keluar lagi setiap kali disuruh, sesuai hitungan komandan lapangan (danlap) untuk mencapai kesigapan yang ditargetkan. Tak cukup dengan itu, datang pula seorang senior bertubuh tinggi berambut gondrong yang berjalan diatas meja sambil menampari satu persatu peserta, dari kiri ke kanan depan ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak. Seiring tamparan manis itu, tertampar pula wajah jurusan yang tercinta ini di dalam benakku, yang kata kakak kelasku dulu Ospeknya akan diajarkan komputer.

Bisa disimpulkan bahwa interaksi yang dimaksud itu, aksi timbal balik itu, adalah senior menyuruh junior melakukan aktivitas fisik/mental yang akan disambut baik oleh junior tersebut dengan melakukan aktivitas fisik/mental dan akan berakibat pada tindakan fisik/mental lainnya.

KUNJUNGAN MALAM
Ada kegiatan yang dinamakan kunjungan malam, biasanya di malam minggu. Asumsinya adalah para bos di HMS banyak yang jomblo, sehingga membutuhkan mahasiswa baru untuk datang dan bercengkrama. Bagi seorang peserta, jika memiliki pacar pada masa-masa ini, maka ada dua kemungkinan: adalah pacarnya begitu penyabar sehingga rela dijadikan prioritas yang kesekian, atau hubungannya berakhir. Jika memiliki gebetan anak unpad jatinangor sepertiku saat itu, tak perlu berharap akan hasil gilang gemilang. Karena segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki, termasuk waktu, dipersembahkan kepada acara kaderisasi ini. 

Ada indikasi bahwa interaksi personal melalui kunjungan malam kepada para bos dan bis ini bisa membuat kader-kader menjadi lebih memahami kondisi himpunan dan menambah motivasi dan aspek positif lainnya. Bagi seorang ketua angkatan dan koordinator kelas, keadaan dilematis adalah saat disuruh menghadirkan lima belas orang untuk kunjungan malam.

Sulit rasanya memilih orang untuk mengemban tugas mulia ini, biasanya dipergilirkan. Saat itulah, dering telepon di kosan terasa sangat angker. Lebih baik berpura-pura tidak ada, pura-pura pingsan, daripada menjawab telepon yang biasanya tau-tau memberitahukan perintah kunjungan malam.

Pertemuan dengan bos saat kunjungan malam biasanya menggambarkan nasib baik dan buruk, ada yang bertemu bos ramah yang menyampaikan segala pesan dengan welas asih, adapula yang bertemu bos "unik" yang mengajak untuk terus berpikir dalam rangka mencerna berbagai doktrinnya.

Misalnya, suatu ketika ada setumpuk piring kotor di meja beranda himpunan. Adalah seorang kuya yang sedang sial disuruh mencuci piring, saat akan segera bergerak mencuci sang bos berkata.
“Eits, tunggu dulu, kenapa kau mau mencuci piring ini?”
“Karena disuruh sama bos.” Maka disentil telinga kiri.
“Kenapa?”
“Karena piringnya kotor bos.” Maka disentil telinga kanan.

Demikian berulang kali sampai telinga kiri kanan merah semua. Rasanya lebih baik mencuci seribu piring daripada ditanya kenapa harus menucuci piring, yang jawabannya sangat relatif itu. Ada juga yang diperintahkan ke jawa untuk membeli pecel lele, es teh dan sebungkus rokok, dengan dibekali uang lima ribu. Yang diperintah akan menatap uang itu dengan bingung, karena tidak akan cukup buat membeli semua itu, lalu sang bos akan membentak.

“Kow pikirlah gimana caranya, pergi sana, lima menit!” Maka yang diperintah akan segera lari ke warung, melakukan sesuai perintah, entah bagaimana pula caranya, hanya pelaku dan Tuhan yang tau.

Ketua kaderisasi pada waktu itu, bermuka sangat angker dan sangat konsisten dengan keangkerannya, tak pernah barang sekali kami melihatnya tersenyum. Demikian juga panitia lainnya, jarang menampakkan wajah bersahabat bila bertemu muka. Dan jika melewati teras depan himpunan, dijamin hari akan berakhir buruk.

Biasanya hal ini menimbulkan trauma untuk mendekati sekre himpunan HMS dan sekitarnya atau bertemu orang-orang berjaket hijau. Jika orang biasa melakukan trade off antara jarak perjalanan dengan biaya, maka kita akan mentrade off antara biaya, jarak perjalan atau apa saja dengan tidak bertemu orang berjaket hijau HMS. Lebih baik jalan berkilo-kilo atau membayar sejumlah tertentu daripada bertemu mereka.

BOIKOT
Tentunya sulit bertahan dengan kegiatan kaderisasi yang semacam itu, sehingga akhirnya satu angkatan memutuskan untuk memboikot. Kami tidak akan mengikuti acara kaderisasi lagi. Peduli amat dengan menjadi anggota himpunan atau tidak, kami ingin diperlakukan dengan lebih manusiawi. Berbagai pro dan kontra merangkai diskusi yang panas pada waktu pengambilan keputusan itu. Terjadilah boikot selama beberapa waktu.

Namun entah bagaimana, HMS ITB selalu pintar, selalu punya posisi tawar, pandai berdialektika, sehingga tak berapa lama akhirnya kami mengikuti lagi acara itu, dengan sukarela. Malah mengakibatkan pencopotan ketua angkatan dan penggantian berbagai koordinator kelas. Saat itu aku terpilih menjadi koordinator kelas untuk menggantikan koodinator sebelumnya. Dan jika menjadi peserta saja terasa berat, maka menjadi koordinator atau ketua angkatan berkali lipat bebannya.

Acara kembali dilanjutkan. Pada berbagai acara, setelah jiwa dan raga dalam kondisi begitu lelah setelah berbagai aktivitas fisik, harus pula meneriakkan pernyataan mengandung doktrin dahsyat.  
“Ilmu logika, jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku. Jika dan hanya jika aku menjadi anggota HMS, maka anggota himpunan adalah saudaraku. Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka yang nonhim, busuk! Cuih!”

Melalui itu semua, dengan semangat kebersamaan, kita tetap bertahan hingga memasuki acara akhir. Meski seiring berjalannya acara, ada yang berpikir, kenapa bisa begini salah memilih jurusan. Ada satu dua yang pergi untuk pindah kampus, mungkin karena alasan ini, mungkin juga dengan alasan lainnya.

ACARA AKHIR
Jika acara pengantarnya sedemikian rupa, tentu acara akhirnya tak akan kalah spektakuler. Acara akhir dilaksanakan di suatu desa, berupa bakti sosial memperbaiki jaringan irigasi. Tujuannya memang mulia, membantu penduduk desa memperbaiki jaringan irigasinya, tetapi dalam prosesnya berbagai bentakan, tamparan mengiringi ketertindasan, ketakutan, kelaparan dan kehausan.

Acara dimulai setiap pagi dan berakhir malam hari selama seminggu. Tak cukup dengan itu, dilanjutkan pula dengan long march dari bilangan Soreang, Bandung Selatan ke kampus di Bandung Utara di tengah malam, sekitar lima jam perjalanan dengan memanggul ransel besar.

Sampailah di ujung acara dimana kami dalam keadaan lelah dan hampir kehabisan tenaga, mendapatkan tenaga baru saat menyanyi sambil mengubah lagu mars, dari “kalian HMS ITB” menjadi “kami HMS ITB”. Semua lelah, derita, airmata, duka, tawa, semua emosi terangkum menjadi satu. Saat para bos memberikan jaket berwarna hijau, dengan lambang Himpunan Mahasiswa Sipil ITB di dada kiri. Pengorbanan segala emosi dan sumber daya seolah terbayar lunas dengan memakai jaket kusam, bau, berwarna hijau itu.

Terkadang, secara pribadi, aku masih heran bagaimana dulu bisa bertahan. Bagaimana bersama teman-teman seangkatan bisa sama-sama melalui berbagai proses kaderisasi yang berat secara fisik dan mental ini. Terutama untuk teman wanita, yang biasanya aspek perasaannya lebih menonjol, bagimana mereka bisa bertahan?  

Yang kusadari, bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang unggul, yang memiliki mekanisma pertahanan diri, dengan berbagai caranya. Bahwa saat sedang menderita, melihat wajah teman yang senasib sependeritaan menimbulkan perasaan terhibur tertentu, yang unik. Saat berjalan longmarch itu, bisa dilalui dengan motivasi akan menikmati es degan di ujung jalan. Kadang-kadang bisa pula dengan menganggap semua itu sebagai permainan peran dan sandiwara. Terkadang semangat dan emosi bisa naik hingga puncaknya, kadangkala juga menurun hingga jurangnya, namun satu dua kawan akan selalu ada untuk saling bantu. Mungkin itu yang menyebabkan satu angkatan bisa bertahan. Tentunya, realitas hidup bisa lebih kejam daripada simulasi-simulasi ini, kenyataan bahwa kami bisa dan selalu bertahan bisa menjadi motivasi dan memberi kekuatan baru untuk melalui semuanya.


Ada masanya ketika berbagai kegiatan, acara dan ketertindasan itu menjadi suatu cerita menarik, yang indah untuk diceritakan dan ditertawakan, meski tetap tidak ada yang bersedia untuk mengulang kembali.   

HIMPUNAN
Saat menjadi anggota himpunan, ternyata perasaan euforia oleh pelantikan hanya berlangsung sementara. Masih ada ketertindasan dari senior-senior, masih dipertanyakan kemampuannya, masih dipertanyakan kebersamaan dan militansinya, masih harus menunjukkan diri.

Berbagai kegiatan menjadi ajang pembuktian di himpunan, untuk membuktikan bahwa pelantikan dan pemberian jaket hijau itu terbukti layak. Itulah masa-masa kerja keras, menjadi panitia berbagai kegiatan. Suatu waktu masih sering tertindas. Sebut saja menjadi panitia wisuda, dimana biaya wisuda yang dibebankan kepada wisudawan telah dihitung secara seksama sebesar seratus ribu rupiah per orang. Melalui mekanisme presentasi dari panitia terhadap wisudawan, maka biaya itu bisa berkurang menjadi 50 ribu per wisudawan berkat keahlian mereka bersilat lidah. Maka panitia yang bekerja keras mengumpulkan dana serta mengurangi pengeluaran, dan seringnya berhasil.

Terkadang ada pula kesepakatan untuk menciptakan musuh bersama dari luar, sehingga sering terjadi perkelahian dengan himpunan lain seperti dari himpunan tambang dan geologi. Berbagai aksi saling berbalas pukulan karena masalah sepele sering tak terelakkan. Itulah salah satu penjabaran militansi, pada masa itu.

Secara historis, ada indikasi bahwa militansi himpunan ini akibat dari normalisasi kehidupan kampus (NKK) oleh rezim berkuasa dengan militernya pada tahun 1978. Sehingga basis kekuatan politik kampus dikembalikan ke kantong jurusan, untuk menjawab tantangan ini diperlukan kader yang tangguh yang harus melewati metode pengaderan yang tak biasa. Seiring waktu, ada anggapan bahwa metode kaderisasi ini tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun, tentunya kaderisasi yang terlihat sangar ini bukannya tanpa konsep. Setidaknya, latar belakang, tujuan, metode pelaksanaan, metode pengukuran telah dipertimbangkan melalui berbagai proses dialektika dalam forum-forum diskusi kaderisasi oleh panitia kaderisasi, pengurus himpunan serta swasta. Semua terangkum dengan jelas dalam materi kaderisasi, salah satu yang sering dijadikan referensi adalah metode pedagogi of the oppressed, pendidikan kaum tertindas, entah bagaimana proses penurunannya.

Yang jelas, metode dan teknis lapangannya telah disepakati secara komunal. Pernah terjadi diskusi luar biasa dengan tema sentral “Apakah akan dilakukan pengkoranan (pemukulan dengan gulungan Koran kepada peserta pada saat jalan jongkok, push up, sit up dsb) pada masa intensif menjelang pelantikan?” Untuk menjawabnya, terjadi diskusi semalam suntuk, ibarat pertunjukan wayang, di himpunan. Bahkan diskusi tidak selesai pada malam itu, sehingga harus dilanjutkan pada malam berikutnya. Metode pengambilan keputusan dengan cara voting untuk menutup diskusi dengan cepat adalah cara yang haram dilakukan.

Dengan menjadi anggota himpunan, muncul kesadaran bahwa lelah yang dialami peserta sebelas dua belas saja dengan lelah yang dialami panitia, bahwa panitia memulai lelahnya bahkan sebelum peserta diterima di teknik sipil.

Itulah HMS ITB dan sekitaran kaderisasinya pada masa itu. Entah bagaimana HMS pada masa kini, entah bagaiman kaderisasi saat ini. Belum ada kesimpulan bahwa pelaksanaan kaderisasi yang intensif, lama dan mengandung kekerasan menjadi faktor yang menentukan (atau tidak menentukan) militansi dan partisipasi anggotanya dalam berorganisasi maupun dalam menjawab berbagai tantangan untuk masa depan bangsa.




Yang jelas, hingga bertahun-tahun setelah itu, setiap kali memakai jaket hijau itu, tetap menimbulkan perasaan bangga, supremasi atas diri, bahwa perjuangan berat telah dilalui untuk mendapatkannya. Selalu hadir semangat dan emosi setiap menyanyikan mars nya, kepalan tangan diangkat, sambil melompat-lompat, sambil berteriak-teriak tak peduli nada, irama atau segala norma lainnya.  


Kami HMS ITB bersatu padu
Dibawah almamater ITB tercinta
Melangkah dengan gagah dan perkasa meraih cita-cita
Berbakti dan berkarya tuk negara Indonesia
Tak gentar akan rintangan dan cobaan
Dengan semangat ayo maju terus..
HIDUP HMS ITB!!!

Monday, May 07, 2012

motivasi beasiswa (3)

Akhirnya aku pamit ke ibu untuk pergi ke Jogja, Jogja adalah kota terdekat kampung ayah yang bisa ditempuh dengan dua jam perjalanan, ibu merestui dan selalu mendoakan. Aku berangkat karena ingin merangkai harapan baru, mencari kehidupan baru, entah itu mencari pekerjaan, atau mendaftar kuliah S2, aku tak tau apa pastinya. Yang jelas, tujuan utamanya adalah agar aku bisa dekat dengan alm ayah, bisa sering berziarah dan bersilaturahmi dengan keluarganya.

Sambil melamar beberapa pekerjaan di Jogja akhirnya aku berangkat ke kampus UGM dan mencari informasi program master. Beberapa yang menarik minatku adalah arsitek dan transportasi, karena program di arsitek sudah lewat batas waktu maka kuputuskan untuk mendaftar transportasi saja.

Saat mendaftar, persyaratan yang diminta adalah membawa nilai Toefl dan TPA. Maka kuikuti test toefl dari lembaga bahasa dan test TPA dari Otto bappenas, Alhamdulillah keduanya memenuhi syarat. Saat membawa nilai tersebut ke Jurusan untuk mendaftar, petugas administrasi kelihatan terkesan dengan nilaiku, terutama dengan nilai TPA yang 660an dibanding persyaratan minimalnya 450. Lalu dia menghadap ketua jurusan, oleh ketua jurusan aku ditawarkan beasiswa unggulan dari Diknas dengan syarat lulus test psikotes, test akademis dan wawancara yang akan diadakan.

Saat wawancara, pengelola menanyakan motivasiku memilih kuliah di UGM, aku mengatakan dengan jujur bahwa aku memilih UGM karena lokasinya di Jogja yang dekat dengan kampung ayah. Beliau kelihatan bingung dengan jawabanku, namun apa daya. 

Selang beberapa lama kemudian, saat sedang beribadah puasa mejelang lebaran, datang pengumuman bahwa ternyata aku diterima dengan mendapat Beasiswa Unggulan dari Kementrian Diknas. Padahal tadinya aku ingin membiayai kuliah sendiri dengan sisa tabungan selama bekerja, yang sebenarnya cukup diragukan akan bisa mencukupi keseluruhan biaya kuliah yang 38 juta ditambah biaya hidupnya untuk dua tahun. Nikmat Tuhan yang manalagi yang aku dustakan.

Saat mengikuti kuliah, ada pengumuman bahwa beberapa mahasiswa akan dipilih untuk mengikuti double degree ke luar negeri, pilihannya negaranya adalah Inggris, Swedia dan Australia. Hal ini menambah motivasi belajarku sehingga bisa mendapat IPK 4 selama dua semester. Pada waktu inilah, kunci lemari dari mimpi-mimpi tak terealisasi dari masa kecilku itu tiba-tiba muncul begitu saja, sehingga kubuka lagi lemari itu, kubuka lagi harapan untuk melanjutkan kuliah ke Inggris Raya.  

Setahun setelah itu, akhirnya aku terpilih menjadi salah satu dari empat orang yang berangkat untuk kuliah di Univesity of Leeds, United Kingdom, untuk mendalami bidang studi transportasi. Jurusan Transportasi di universitas ini adalah salah satu terbaik yang reputasinya mendunia sehingga pelajar dari berbagai Negara di seluruh belahan dunia berkumpul di sini untuk mendalami materi atau melakukan riset.

Aku tak perlu bersusah-susah berkomunikasi dan melamar ke universitas karena sudah diatur oleh system yang baik di MSTT UGM, tak perlu bersusah mencari sponsor karena sudah ada yang menjamin biaya, tak perlu menunggu lama untuk pencairan uang beasiswa, semua mengalir dengan kelancaran nyaris sempurna. Maka nikmat Tuhan yang manalagi yang aku dustakan.

Aku tak terlalu pintar, motivasiku untuk keluar negeri tak terlalu besar. Saat ku evaluasi lagi kisahku, bertanya apa yang membuatku bisa sampai di sini, ku pandangi beberapa milestone yang telah kulalui. Jika aku tak putus dengan pacar waktu itu maka aku tak akan berhenti bekerja dan keluar dari zona nyaman. Jika ayah tidak berpulang dan dimakamkan di Wonogiri, maka aku tak akan pergi ke Jogja untuk mendaftar kuliah lagi. Jika aku tak mendaftar maka aku tak akan tau ada beasiswa dan tentunya tak akan mendapat beasiswa.

Sejak ayah tiada, aku menjalin silaturahmi yang baik dengan keluarganya, selalu memanjatkan doa untuk kebaikannya, sering berkunjung berziarah, membaca Quran dan tahlil untuk dipersembahkan kepadanya. Sepertinya Allah SWT menjawab doa itu dengan  mengabulkan doaku yang lainnya. 

Saat kujejakkan kaki di Inggris, saat kulangkahkan kaki berkeliling di Oxford Unviersity, terbayang lagi masa kecil, terbayang koper berisi paket pelajaran bahasa Inggris dari Oxford, terbayang ayah yang membelikannya, terbayang ekspresinya saat mengambil rapor juara umum di SMP, terbayang kesedihannya saat nilai-nilaiku turun, terbayang betapa senangnya dia saat aku masuk SMU Titian Teras, terbayang kebahagiaannya saat aku diwisuda di Sabuga ITB. Tak terbayangkan bagaimana perasaannya jika nanti (InsyaALlah) aku diwisuda dari University of Leeds, entah bagaimana perasaannya. 
Oxford University
Ada sebuah kutipan dari Andrea Hirata yang mengatakan bahwa “Ironi bukanlah persoalan substansi, ia tak lain hanyalah soal kompensasi. Itulah definisi ironi, tak kurang tak lebih.” Adalah ironi bahwa pada akhirnya aku berangkat menempuh studi di Inggris sebagai sebuah kompensasi atas kesedihan-kesedihanku karena kehilangan dua cinta yang porsinya besar dalam hidupku.

Dengan sekian banyak pengalaman beasiswa, terkadang aku berpikir, akan seberapa jauh kontribusiku bagi masyarakat sekitar atau Negara Indonesia nantinya. Sehingga dalam hati aku berjanji akan menjalankan amanah ini dengan sebaiknya dan kelak akan ikut berpartisipasi membangun masa depan yang baik bagi Indonesia dan orang-orang disekitarku. Dalam hal ini setidaknya ada sebuah prinsip yang kujadikan sandaran, jika tidak bisa membantu memperbaiki kehidupan bangsa, setidaknya aku tidak jadi bagian yang merusaknya.

Sekedar menutup dengan kesimpulan dan saran dari cerita yang panjang ini. Menurutku, intinya adalah berbakti kepada orang tua dengan selalu mendoakannya dan meohon doa restunya akan selalu menjadi salah satu penentu kesuksesan disamping segala daya upaya dan usaha. Juga untuk jangan pernah berputus asa dan larut dalam kesedihan jika mendapat musibah, selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Tentunya ditambah dengan jangan pula bersikap sombong saat mendapat anugrah. Penting untuk menjaga hati tetap membumi saat cita-cita melangit.

Ucapan terimakasih:
  1. Terimakasih kepada Biro SDM Departemen Perhubungan RI, atas beasiswa double degree di Unversity of Leeds, United Kingdom. 
  2. Terimakasih kepada Kementerian Pendidikan Nasional, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri atas program Beasiswa Unggulan untuk pendidikan di Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT) Program Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
  3. Terimakasih kepada Yayasan Damandiri atas BMU-UMPTN 2001 yang telah memberikan beasiswa penuh dan uang saku untuk pendidikan di program studi Teknik Sipil ITB periode 2001-2006.
  4. Terimakasih kepada Yayasan Pendidikan Jambi atas pendidikan dan latihan disiplin gratis di SMU Titian Teras Jambi periode 1998 - 2001.
  5. Terimakasih kepada SMPN 16 Jambi atas kesempatan mendapat pendidikan.
  6. Terimakasih kepada SDN 150/IV Jambi atas kesempatan mendapat pendidikan.