Showing posts with label UK. Show all posts
Showing posts with label UK. Show all posts

Sunday, April 06, 2014

Exploring the Leeds University Library

Langit buram dan awan mendung menggantung di langit Kota Leeds tak menghalangi langkah kakiku untuk menuju kampus Leeds University. Kulangkahkan kaki menelusuri trotoar jalan di Woodhouse Lane, mencapai pertigaan dan menyeberang melewati zebra cross setelah mendapati lampu petunjuk menyeberang jalan berwarna hijau. 

Di sebelah kanan adalah Parkinson Building, gedung yang berdiri megah dan menjadi Landmark Universitas, gedung yang berwarna kusam dengan latar belakang langit yang sering kelabu, beberapa mahasiswa santai duduk di tangganya yang besar-besar. Gedung-gedung universitas dinamai dengan nama ilmuwan, termasuk gedung ini yang namanya diambil dari seorang ahli ekonomi terkenal Northcote Parkinson, satu kalimatnya masih kuingat benar karena pernah dikutip oleh seorang dosen di kelas saat memberi tugas: “Work expands so as to fill the time available for its completion.” 

Salah satu contoh prakteknya adalah bahwa diberi tenggang waktu yang sepanjang apapun, mahasiswa masih akan bersantai dan mengerjakan tugasnya di akhir waktu, dan ujung-ujungnya tetap akan ada yang terlambat mengumpulkan tugas. Aku adalah penganut aliran menunggu dan mengejar deadline itu. Oleh karenanyalah tiap melewati gedung Parkinson, serta tiap mengumpulkan tugas di akhir waktu, selalu teringat kutipan manis itu.. 
Di dalam Parkinson Building terdapat berbagai fasilitas universitas: ruang pusat bahasa, museum seni dan Brotherton Library dsb. Perpustakaan yang ini dikhususkan untuk buku-buku ilmu sosial, hukum dan seni, beserta aneka koleksi buku-buku tebal tua dan manuskrip langka lainnya. Namun, perpustakaan tujuanku bukan di gedung ini, aku harus menuju perpustakaan lainnya, berbelok kanan melewati Parkinson Building, menelusuri jalanan di pinggiran gedung yang halamannya rumput hijau berhias aneka tanaman bunga. Jika matahari muncul, halaman hijau di sekitar gedung akan memutih karena mahasiswa-mahasiswi pada berjemur demi mendapatkan sedikit tambahan pigmen.
Universitas punya beberapa perpustakaan antara selain Brotherton Library, antara lain: The Health Sciences Library perpustakaan untuk ilmu-ilmu kesehatan, St James's University Hospital Library perpustakaan khusus kedokteran dsb, serta Edward Boyle Library. Edward Boyle Library adalah perpustakaan di jantung kampus yang dominan dengan koleksi ilmu pengetahuan, teknik, dan berbagai koleksi lainnya. Sebagai seorang yang mengaku berdarah engineer, tentunya di perpustakaan inilah harus menghabiskan waktu. 

Edward Boyle Library berlantai sampai dengan 13, yang dimulai dari lantai 8. Jangan ditanya letak lantai satu sampai dengan lantai tujuhnya, karena akupun tidak tahu ada dimana. Untuk memasuki perpustakaan, mahasiswa harus menggunakan kartu sakti KTM, tempel sedikit dan portal pengaman bisa didorong. Sungguh sakti kartu itu, kartu segala fungsi segala manfaat, yang awal-awalnya dulu sempat membuatku luar biasa terkesima. Salah satunya adalah untuk meminjam buku di perpus, hanya perlu menempelkan kartu pada mesin pemindai dan menscan barcode pada buku-buku yang diinginkan, selesai, langsung masukkan ke dalam tas dan melenggang pergi.

Memasuki perpustakaan, menghamparlah aneka rak-rak berisi lautan buku, komputer dan sebagainya. Biasanya pertama kali aku akan mampir ke pojok kanan, bagian literature dan sastra, membaca sedikit karya-karya Salman Rushdie yang banyak bertengger di sana, lalu menutupnya lagi dengan sedikit cacian hujatan, bukan apa-apa, cuma karena aku tak bisa memahaminya.
Setelah itu, biasanya aku akan masuk berjalan menelusuri lorong diantara rak buku, menuju ruang koleksi film dan melihat satu-satu aneka judul film itu. Berbagai film dari yang lama sampai yang baru bisa kita dapati di sini, termasuk itu film the Doors yang sudah sulit ditemukan DVD nya di pasaran. 

Karya sastra dan karya film itu selalu berhasil mendistraksi perhatianku dari tujuanku semula, apa tujuanku semula? Adalah pergi mencari referensi buku di bagian engineering, membaca sebanyak-banyaknya untuk mendapat sedikit pengertian pada landasan teori penelitian.

Buku adalah gudang ilmu, jika demikian, untuk menemukan satu gudang ilmu di dalam gudang besar berisi jutaan gudang ilmu lainnya ini kadang-kadang bukan perkara mudah. Pada papan informasi yang tersedia, ada petunjuk ringkas tentang keberadaan buku-buku di perpustakaan.
Dari lantai yang di pintu masuk, level 9 tempatnya buku-buku sejarah, tambang, literature, sastra dsb kita beranjak naik ke lantai atasnya melalui tangga, mengikuti kebiasaan mahasiswa lainnya. Kebanyakan mereka lebih suka sedikit olahraga turun naik tangga daripada naik lift yang tersedia.

Sampai ke Level 10 tersusun rapi rak-rak penuh buku mulai dari sejarah modern, biologi, hewan, dsb. Kadang aku mampir ke salah satu bagian ilmu psikologi dan mendapati beberapa buku yang cukup mencolok mata, salah satunya beberapa buku tebal dengan judul Essays on the Pleasure of Death. Luar biasa, sudahkah para penulisnya mengalami sendiri, sehingga bisa menulis esai tentang nikmatnya kematian? Pertanyaan itu belum terjawab karena aku terus menuju lantai berikutnya.

Beranjak dari lantai 10 ke lantai 11 rak-rak buku mulai terasa familiar, ada buku ilmu makanan dan engineering mulai dari kimia, ilmu komputer, sipil, minyak, material, matematika, mesin, tambang dsb. Sesekali dulu mampir ke bagian teknik sipil dan mencari referensi. 

Tetapi rak buku tujuanku tentunya tetap di Lantai 12, tempat ilmu-ilmu umum, biologi, sport, geografi, geologi, dan tentunya transportasi. Buku-buku yang sangat spesifik pada satu dua topik khusus ini di Indonesia bakal susah didapatkan. Beberapa rak buku transportasi itu sudah sering ku kunjungi dan sudah familiar dengan beberapa judulnya. Namun, untuk menemukan buku yang diinginkan dengan menekuri satu demi satu judul buku cukup membuang waktu. 

Oleh karenanya, jalan praktis yang bisa diambil adalah dengan mencari buku melalui katalog online yang tersedia pada komputer-komputer di dekat lift. Dengan menggunakan login mahasiswa, kita bisa mengakses library online, Jika mencari judul buku tertentu, pada bagian buku itu akan tertera judul, penulis, kode raknya, serta kode bukunya. Sehingga memudahkan kita mencari buku. Bahkan jika buku itu sedang dipinjam, kita bisa mengklik pemesanan sehingga orang yang sedang meminjam tidak bisa memperpanjang jangka waktu peminjaman, dan selanjutnya kita akan diberitahu jika buku itu sudah bisa diambil. Pada akun mahasiswa bisa dicek buku apa saja yang sedang dipinjam dan kapan harus diperpanjang atau dikembalikan. Akun tersebut juga sakti mandraguna untuk mendapatkan berbagai paper, jurnal, disertasi dan bermacam electronic resources lainnya dari dunia akademis, dengan sekali klik download. Luar biasa memudahkan, surga ilmu pengetahuan. 

Setelah menemukan buku yang kucari, ku ambil untuk menuju meja yang terdapat di sebelahnya, di lokasi silent study area. Area ini ditandai dengan tanda dilarang berisik, tidak perlu ada Rangga dan lemparan pensilnya, karena sepertinya kebanyakan orang mematuhi aturan yang tertera. Aku pun mulai membaca.
Perihal membaca buku itu, jangan dikira merupakan sebuah aktivitas yang bisa bertahan berjam-jam penuh konsentrasi. Biasanya beberapa lama melihat dan mempelajari rumus-rumus model matematika, di dukung penuh oleh ruangan yang terlalu sunyi senyap, hawanya yang terasa hangat dari penghangat ruangan yang ada di dekatnya, serta aroma-aroma buku-buku itu, akan membuat kantuk segera datang, rumus-rumus dan berbagai lambang matematika biasanya menjelma menjadi makhluk-makhluk kecil yang menggeliat keluar dari buku, dan pada ujungnya akupun jatuh ketiduran, kepala tertelangkup jatuh pada gudang ilmu yang sedang terbuka lebar. Itulah hal yang akan terjadi, setelah beberapa kali pembuktian secara empiris. 

Menyadari hal itu, aku sudah menyiapkan strategi: setelah membaca beberapa bagian akan ada sesi diskusi dengan seorang teman sekelas. Ruang diskusi ada di lantai paling bawah, lantai 8. Di sanalah seorang Arwa, wanita cantik berkerudung dari timur tengah yang jenius dan semua mata pelajaran mendapat nilai distinction, sedikit menjelaskan mengenai random taste of heterogeneity pada discrete choice modeling. Istilah itu tidak mungkin dinisbatkan pada sesuatu yang manis semanis potongan kue lapis legit, bahkan sepertinya bukan sesuatu bisa dimakan.. 

Satu dua jam diskusi dengan Arwa biasanya akan memberikan pencerahan pada satu dua persoalan yang tadinya mengganjal. Hal itu bisa menjadi bahan buat menulis bahan tugas atau landasan teori untuk thesis. Kesempatan yang baik setelah diskusi itu kugunakan dengan beranjak menuju ruang komputer cluster, di Lantai 10, membaca lagi, sambil mengetik rangkuman hasil bacaan. Jangan pernah menulis sesuatu yang sama dengan yang ada di buku, karena itu akan menjadi plagiarisme dalam dunia akademis. Kemampuan membolak-balik struktur kalimat dan mencari padanan kata sangat diperlukan. 

Sambil melirik kanan-kiri, berbagai suku bangsa pria dan wanita sedang asyik di komputer masing-masing, mungkin sedang mengerjakan tugas. Jika beruntung, selalu ada satu dua wanita blonde cantik yang rambutnya berpijaran keemasan terpapar sinar matahari sore. Pada musim ujian dan tugas-tugas besar biasanya ruang komputer selalu penuh. Pada hari-hari biasa, perpustakaan ini buka sampai jam 12 malam, dan pada masa-masa ujian akan buka selama 24 jam non stop. Tidak mengherankan jika pernah ada cerita orang hilang yang pengumumannya dimuat di halaman koran, setelah beberapa hari orang hilang itu ditemukan dalam keadaan mendekam di perpustakaan. Lost in the library, terdengar keren.

Tak terasa waktu pun berlalu, setelah berjam-jam berkonsentrasi, akhirnya jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih, mata sudah semakin sayu, baterai sudah low. Jika satu hari terasa produktif, apalagi jika mendapat sesuatu ide dan bahan yang bisa dimasukkan ke dalam penelitian, membuat semacam perasaan senang. Membuat ingin segera pulang ke rumah dan memeluk orang rumah. Okey, orang rumah itu belum ada, cuma ada tetangga kos yang akan merasa aneh jika mendadak dipeluk. Tapi hal ini tak mengurangi euforiaku ketika berjalan pulang. 

Aku melangkah dengan langkah-langkah panjang kali lebar kali tinggi. Orang-orang Inggris kebanyakan hobi berjalan kaki dengan langkah lebar dan panjang, boleh jadi dua kali kecepatan jalan orang indonesia kebanyakan yang sedang bergerombol, lama-lama kebiasan langkah cepat itu menular, membawa semacam rasa optimis.

Aku berjalan pulang melalui lorong, berbelok menelusuri bangunan-bangunan tua yang gelap dan bersuasana mencekam. Berbelok lagi mencapai Parkinson building, melewati beberapa taksi yang masih parkir di depan gedung. Mencapai lampu merah, dan berpapasan dengan serombongan orang-orang yang mabuk baru dari club atau bar setempat, mungkin mereka hendak pulang, mungkin juga hendak melanjutkan maraton ke bar-bar lain di kota. Berhadapan denganku seorang wanita agak gemuk, berambut pirang berkostum peri. Apakah di depanku ini semacam penampakan halusinasiku yang disebabkan karena aku terlalu lama belajar?

“Emiliii” Teriaknya ketika melihatku.

Lalu dia bergerak mengejar dengan langkah sempoyongan, diikuti rombongan wanita teman-temannya. Ada apa ini? Sejak kapan namaku berubah menjadi Emili? Kebetulan lampu hijau tanda boleh menyeberang sudah hidup, aku pun lari menyeberang jalan, pergi menghindari wanita mabuk dan delusinya soal Emili.

Agak kontras memang, nuansa akademis surga ilmu pengetahuan di dalam kampus yang berlangsung sampai pagi, bersanding dengan hingar-bingar suasana kehidupan malam menyambut weekend yang juga berlangsung sampai pagi ini..

Sunday, January 12, 2014

Liverpool dan Chelsea di Anfield

Pagi ini mentari bersinar lumayan terang untuk ukuran UK yang biasanya redup. Dengan riang dan semangat, aku untuk menempuh perjalanan dari Leeds menuju Liverpool, tiga jam perjalanan menggunakan kereta.

Pertandingan chelsea melawan liverpool di stadion Anfield akan dilangsungkan jam 7 GMT malam nanti. Tetapi aku sudah berangkat menuju liverpool sejak pagi, supaya bisa berjalan-jalan keliling kota Liverpool sebelum menuju pertandingan.
papan penunjuk arah
Dekat dari stasiun ada Walker Art Gallery, Central Library dan World Museum. Sebagai seorang yang sok nyeni, Walker Art Gallery tujuan pertamaku. Lazimnya negara maju, selain sejarah yang dikenal, seni juga menjadi salah satu bidang yang begitu dihargai, sehingga di setiap kota selalu tersapat musium atau galeri seni. Di dalam Walker Art Gallery bisa dijumpai koleksi-koleksi bagus bagus lukisan, patung, foto dsb. Sayang di dalamnya pengunjung dilarang menggunakan kamera.
Perseteruan Merah Biru di Liverpool
Tujuan berikutnya adalah perpustakaan kota. Di dalamnya terdapat berbagai buku (pastinya), video, dan.. tempat anak bermain. Perpustakaan sedang sepi di hari ini, hanya terlihat seorang kakek kesepian, yang lantas mengajakku ngobrol. Dia becerita bahwa telah lama berpisah dengan istrinya yang sekarang di negeri cina. Dia becerita bahwa waktu kecul dia sering menjadi anak-anak yang mengiringi pemain bola memasuki stadion sebelum petandingan dimulai. Masa-masa kecil yang indah, katanya. Akhirnya dia aku berpamitan kepada si bapak tua dan nostalgianya.
Bapak Tua di Library
Selanjutnya, kulangkahkan kaki menuju Liverpool World Museum yang cukup terkenal. Di dalamya terpajang berbagai koleksi dari berbagai peradaban di seluruh dunia, mesir, yunani, romawi, anglo saxon, dari jaman pra sejarah sampai peradaban modern. Sebutlah itu fossil, patung bata Moai Hava, batu bertulis, mummy, hieroglaf, sampai tak ketinggalan koleksi dari indonesia pun hadir: shadow puppet alias wayang kulit. Sangat menarik melihat satu-persatu koleksi dan membaca keterangan yang diberikan di bawahnya.
Supremasi Wayang dari Indonesia di Liverpool
Hal-hal menyangkut seni, buku, peradaban, adalah hal-hal yang selalu menarik bagiku, namun tak bisa berlama-lama, karena Si indra, seorang teman yang menyusul dari Leeds sudah tiba di stasiun untuk ikut menonton pertandingan bola.

Tiket pertandingan Chelsea vs Liverpool harganya 48 Poundsterling, hampir setara dengan 700 ribu rupiah. Biasanya pertandingan ini termasuk ditunggu, tiketnya akan sold out jauh sebelum pertandingan. Untungnya tiga hari sebelumnya Chelsea baru saja mengalahkan liverpool pada piala FA di Wembley, sehingga pertandingan liga inggris di akhir musim ini tidak terlalu istimewa, sehingga member club tingkat rendahan sepertiku masih bisa mendapat dua tiket di bangku away, tempatnya pendukung Chelsea. Tak terbayangkan jika harus nonton di bangku suporter Liverpool, berteriak Cmon Chelsea saat yang lain berteriak Liverpool?

Markas Liverpool bisa ditempuh sekitar 20 menit menggunakan bus dari pusat kota Liverpool. Karena berdekatan dengan Goodison Park markasnya Everton, maka kami memutuskan untuk turun di stadion Goodison Park dan berjalan kaki menuju Anfield. Goodison Park sore ini sepi, tak ada aktivitas. Cukuplah berpose di bawah lambang everton, nil satis nisi optimum, “Nothing but the best is good enough.”
the Blues from Liverpool
Arus lalu lintas kedatangan berbagai kendaraan mulai memadat ke arah Anfield. Stadion dengan kapasitas 45 ribu penonton itu mulai kelihatan, dari jauh terlihat sudah tua dan kurang terawat, konon dibangun sejak 1884. Mendekati stadion itu, sontak aku teringat beberapa teman SMA yang pendukung fanatik Liverpool, ingin mengajak mereka datang dan menunaikan perjalanan suci menuju stadion kebanggaan mereka ini, sambil sedikit menjelek-jelekkan tentunya.

Di depan stadion terdapat Liverpool FC Club Store yang menjual berbagai merchandise club, banyak fans terlihat antusias belanja jersey dsb. Aku yang mengenakan jersey chelsea dalam jaket harus tak menunjukkan antusiasme berlebihan.
Stadion Anfield
Di sekitar stadion terdapat berbagai jajanan dan berbagai merchandise pertandingan, sambil membeli sebuah syal, kita menunggu pintu penonton dibuka untuk bisa masuk. Kebetulan berpapasan dengan dua orang Indonesia, pengusaha yang baru saja datang dari Jakarta, mereka beruntung bisa membeli tiket sesaat sebelum pertandingan dimulai.
Pose Pipis di Lambang Liverpool
Stadion masih sepi ketika kita masuk, sehingga memungkinkan untuk berfoto kesana-kemari. Perlahan satu persatu kursi mulai terisi, kita duduk di Anfield Road Lowe, jajaran away supporter. 
 
Tak berapa lama pemain-pemain mulai melakukan pemanasan. Namun beberapa pemain kunci di Chelsea tidak kelihatan melakukan pemanasan, menimbulkan semacam firasat buruk.
Pemanasan
Tak berapa lama, setelah pemanasan, peluit mulai pertandinganpun berbunyi. Kursi tempat duduk kita tak berfungsi karena kita semua berdiri menyaksikan pertandingan, sambil bernyanyi-nyanyi dan meneriakkan yel-yel mendukung Chelsea. Sesekali yelnya menjelekkan pemain liverpool, pelatih dan penontonnya sekalian. Tangan mengacung berteriak-teriak. Sesekali terdengar umpatan kotor dari kiri kanan.
Menanyikan Lagu Liverpool Raya
Sebegitu besar dukungan yang kita fans Chelsea berikan, namun ternyata tidak demikian dengan pertandingan yang sedang berlangsung. Chelsea banyak menyimpan pemain utamanya, Ashley Cole, Lampard, Matta, Drogba dan Petr Cech tidak dimainkan. sepertinya pelatih Di Mateo mencadangkan pemain-pemain ini untuk mempersiapkan pertandingan final liga champion. Padahal finalnya masih cukup lama, yaitu tanggal 19 Mei 2012.

Fans yang Berdiri dan Bernyanyi Sepanjang Laga
Hasilnya, pada babak pertama Chelsea sudah ketinggal tiga gol, dari tendangan Suarez yang menyebabkan gol bunuh diri Essien, Henderson, dan Agger. Masih untung penalti dari Downing berhasil digagalkan. Turun minum ini, saat orag-orang pergi membeli minuman aku hanya terduduk lesu di kursi penonton.
Chelsea vs Liverpool
Babak kedua akhirnya Chelsea berhasil mendapat satu gol dari Ramires, dan Liverpool berhasil mendapat satu gol lagi dari Jonjo Shelvey. Berakhirlah pertandingan ini dengan skor 4 – 1, Chelsea kalah besar. Padahal selama musim ini Liverpool cuma menang 6 kali di kandangnya, dan sekarang ini Chelsea harus disingkirkan dari peringkat empat liga Inggris, sehingga tidak bisa mengikuti Liga Champion tahun depan kecuali memenangkan Liga Champion tersebut tahun ini melawan Bayern Munchen. Pekerjaan sulait bagi Roberto Dimateo yang baru enam minggu melatih Chelsea setelah pemecatan Andre Villas Boas.

Kecewa rasa hati ini, kami yang sudah jauh-jauh datang dari Indonesia demi menyaksikan Chelsea yang digdaya. Harapan itu harus sirna dengan menyakitkan di Anfield, dengan kekalahan telak, tanpa perlawanan berarti, tanpa pemain inti.

Selesai pertandingan, beberapa pemain Chelsea datang ke depan kami, seolah mengucapkan maaf tidak bisa membuat fans senang. Kemudian pemain-pemain liverpool beserta anak istrinya berkeliling memutari lapangan bola melakukan Lap of Honour, sambil melambai-lambaikan tangan pada para fansnya, sambil stadion memutar lagu you'll never walk alone. YNWA: You'll never win again Suuu, sungutku dalam hati.

Hari sudah pukul 10 malam, akhirnya kami keluar stadion dengan langkah-langkah lesu. Berfoto pun sudah tidak berminat lagi. Dalam hati mencemooh pelatih yang tidak menurunkan Mata, Lampard dan Drogba untuk pertandingan melawan tim sekaliber Liverpool. Pastilah Pak Pelatih tak tau bahwa kami ini jauh-jauh datang dari Indonesia untuk mengharapkan menyaksikan kemenangan.  

Sulit untuk Berekspresi Ceria Setelah Pertandingan
Kami pun kembali ke pusat kota dengan bus yang penuh sesak setelah antrian yang begitu panjang. Sambil jalan, beberapa orang mabuk mengejek kami yang mengenakan syal Chelsea "Look!! They are chelsea fans!" kata mereka sambil tertawa terbahak tidak jelas. Dalam hati kubuat catatan “Kalo ente suatu saat lewat depan rumah ane, bakal ane timpuk pake sendal.” Namun, kami berusaha cuek dan melanjutkan jalan ke stasiun untuk mendapatkan kereta menuju Leeds.

Kereta malam ini adalah kereta jam terakhir menuju Leeds, bangku-bangkunya banyak yang kosong. Sebentar-sebentar kereta berhenti untuk mengecek penumpang di stasiun-stasiun yang dilewati. Kekalahan barusan masih selalu terbayang, sehingga aku bermuram durja spanjang perjalanan pulang. 
Wajah Duka Lara
Aku terlalu mencintai Chelsea. Memang ada kecenderungan dalam diriku bahwa jika menemukan kesukaan pada sesuatu akan menyukai secara berlebihan, dan itu tidak baik. Lebih baik menjadi pendukung yang biasa-biasa saja, pecinta yang biasa-biasa saja, sehingga tidak punya harapan berlebihan dan tidak merasakan sakitnya perasaan akibat kekalahan, akibat harapan yang berhakhir. Sudahlah..

Dalam kesempatan lain kita akan menang, dalam kesempatan lain aku akan jaya. Bendera biru akan selalu berkibar tinggi di langit. Dalam hati, masih tetap kunyanyikan: “Flying high up in the sky, well keep the blue flag flying high..” 


Leeds, UK. catatan dan foto 8 Mei 2012

Thursday, August 16, 2012

sayonara Leeds

Belum sempat menulis blog lagi, jadi posting tulisan perpisahan buat group PPI Leeds seperti berikut ini..


Hai temans,

Sekedar ingin menyampaikan pengumuman tidak penting bahwa gw sudah sampai di Indonesia tercintah.

Sudah setahun lebih berlalu sejak pertama kali menjejakkan kaki di Leeds. Sungguh, jika Einstein mengemukakan teori relativitas bahwa waktu dan ruang hasil pergerakan sangat tergantung pada keberadaan pengamatnya (Sumber: Marthen Kanginan, 2001), mungkin berlaku juga buat kita bahwa waktu seringkali memuai ketika berada di kelas yang membosankan dan bisa tiba-tiba pula menyusut saat bercanda-tawa dengan teman semuanya. Bagi gw, setahun di Leeds terasa bagai sekejap saja.

Selama berada di Leeds, karena gw adalah seorang muslim, terasa ada jarak antra gw dengan kehidupan sosial mahasiswa internasional, jarak itu seringnya tergantung dari kadar alkohol di dalam gelas. Sehingga teman-teman PPI mengambil peranan penting bagi kehidupan sosial gw selama di Leeds.

Satu persatu dari kita datang, satu persatu juga yang akan pulang. Selama rentang masa setahun ini perkenalan, pengetahuan dan bermacam pengalaman baru hadir diantara kita.

Terimakasih gw ucapkan buat pengurus PPI Leeds. Cukup banyak acara yang telah diadakan pengurus PPI mulai dari silaturahmi, rapat-rapat, diskusi hangat, pertandingan olahraga, jalan-jalan dsb. Meskipun sebenarnya gw mengharapkan lebih banyak lagi acara yang bisa diadakan, jerih payah para pengurus patut diapresiasi.

Terimakasih juga gw ucapkan buat teman-teman semua atas acara-acara yang teman-teman adakan, ada acara ulang tahun, nonton bareng, foto bersama, cela dan canda, ada juga perang salju insidental.

Ada kebahagiaan yang kita bagi bersama, seperti bahagia ketika mendapati butiran-butiran salju jatuh dari udara pada musim dingin yang lalu, maka gw lemparkan sebagian salju itu kepada teman sekalian yang membutuhkan, semakin banyak salju yang muka teman sekalian terima mungkin mengindikasikan semakin banyak rasa sayang dan bahagia yang gw berikan. Mungkin benar bahwa kebahagiaan akan lebih terasa berarti jika kita bisa berbagi.

Ada juga masanya ketika adalah beban yang harus kita bagi bersama, karena terkadang tantangan yang kita dapat melebihi kemampuan yang kita miliki. Asumsinya kesulitan individual akan menjadi lebih ringan jika ditransformasikan menjadi beban komunal. Maka terimakasih banyak gw ucapkan terutama kepada rekan-rekan ITS atas diskusi-diskusi hangat seputar transport planning and policy, transport engineering, traffic management, road geometry and infrastructure, serta stated preference berikut continues interval dalam random taste of heterogeneity pada discrete choice modeling. Tanpa semua diskusi itu, beban kuliah di Leeds akan terasa lebih berat.

Bermacam peristiwa mengganti satu bagian gelap di ruang memori menjadi warna-warni, beberapa akan segera mengabur terdistorsi oleh bagian lain dari kenangan, mimpi dan angan, namun sebagian lain yang esensial akan melekat dan mengendap hingga tak berhingga lamanya.

Setelah meninggalkan Leeds, mau tak mau ada bagian dari perasaan gw yang tertinggal di sana, sehingga berharap suatu saat akan punya kesempatan untuk datang dan mengambilnya kembali.

Semoga nanti kita bisa bertemu lagi untuk sekedar berbagi cerita nostalgia atau merangkai cerita baru. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh selama ini dapat membawa manfaat untuk kehidupan kita di masa yang akan datang dan kehidupan indonesia kita tercintah.

Jika ada sumur di landang, boleh kita menumpang mandi, jika ada umur panjang, boleh kita menumpang mandi.. (lagi).

Salam
Tama
(Catatan di Soekarno-Hatta International Airport, sambil menunggu pesawat ke Jambi yang katanya delay sejam lebih, yang delay nya masih di delay lagi.. :p )

Sunday, June 24, 2012

dari balik jendela

Sepotong bulan kepagian menarik sepasang mata untuk melihat dari balik jendela, untuk memandangi yang ada di dekat sini atau yang dikejauhan sana demi sekedar menerbitkan berbagai rasa. 
Bulan yang pucat itu menggantung tanggung di langit yang kelabu. Lampu-lampu malam mulai dihidupkan, ritme kehidupan mulai menurun. Wahai bulan, kemana cahaya indah yang selama ini kau pancarkan. Kenapa gelap harus datang sebelum cahayamu menjadi terang. Kenapa kau hanya ada diluar sana, menatap dari kejauhan. Dedaunan masih hijau dan riang diwaktu engkau datang, memberi suasana sama di sini, di balik jendela. Seperti biasa datang dan pergi gelap gulitanya malam, terang benderang dalam siang juga hadir berhias langit kelabu daripada biru.

Suatu ketika dedaunan pohon itu segera menguning dan mulai berjatuhan, sebagaimana yang sudah tercatat pada buku besar kehidupan. Hanya bisa kutatapi satu persatu daun menguning itu, yang bersusah payah memberi perannya yang terakhir untuk menyuburkan alam. Ikut luruh perasaanku terkadang, dari sepasang mata yang menatap dari balik jendela.  

Seiring berlalunya waktu, bulan kembali datang, semakin dekat, semakin bercahaya. Semakin pula ia membangkitkan rasa sekaligus menghadirkan tanya, bulan yang ini apakah sama dengan bulan yang ada luar jendelanya? Saat bulan mengingatkan sepasang mata dari balik jendela padanya, apakah bulan itu mengingatkannya pada pemilik sepasang mata dari balik jendela? meski bulan selalu mengingatkan pada senyuman dan keindahan disela-sela hiruk pikuk pencarian pengetahuan dan pengejaran mimpi, namun bulan tetaplah bulan, malam tetaplah malam, sekajap dia datang lalu menghilang. Perasaan bahagia, sedih, siang, malam, teman dan segala sesuatu datang dan pergi sudah biasa dalam kehidupan. 
Di ketika lain angin begitu kencang meniup segala rupa seraya memperdengarkan desau-desau menggetarkan kaca jendela. Kupandangi pohon yang tanpa daun itu, yang meronta mencoba bertahan, jika daun-daun itu masih ada disitu, tentu sudah jatuh berdebam sang pohon mencium muka tanah yang basah. Seketika dari langit menjelma  butiran-butiran putih halus bagai kapas yang menikmati belai angin. Menciptakan momen syahdu pada mata di balik jendela yang tak menyanggupi ajakan menarikan nada alam. Mata itu sudah lelah, dinginnya yang membekukan segala raga dan rasa hanya mampu ditahan dengan berlindung di balik selimut yang nyaman. 

 
Dari balik jendela pula, ketika mentari pagi mencoba menyeruak menyinar memberi hangat, permadani putih menghampar menutupi segala sesuatu dalam arah pandang. Rasa ingin menjejaki dan menari-nari diantara tumpukan salju itu seketika tak terhankan, membuat mata dibalik jendela terlupa pada bulan, terlupa pada badai semalam juga bahkan pada bisik-bisik mimpi barusan.  

Berwaktu-waktu yang berlalu membuat salju lalu mencair, malam yang panjang perlahan menyusut. Tunas-tunas kecil mulai tumbuh di pohon itu, bunga-bunga kecil mulai menyebar di atas rumput, merekah dengan warna-warni ceria. Semua seolah-olah ingin memberi tahu bahwa harapan-harapan baru selalu akan muncul dari ketiadaan. Keindahan bunga akan muncul dari halaman yang semula membosan. Oleh karenanya mata dibalik jendela tak perlu khawatir akan ketiadaan bulan, masih banyak warna lain yang memberi arti wilayah pandang. 


Lama-lama tunas kecil di antara ranting-ranting pohon menjelma juga menjadi dedaunan, berubah warnanya dari muda hingga menua. Bertambah sedikit demi sedikit seiring waktu yang berlalu hingga menyebar menutupi ranting yang mulanya telanjang. Dengannya seruan angin dijawab dengan tarian penuh harapan akan kehidupan, akan kesegaran.

Dari balik jendela sepasang mata memperhatikan semua, hanya dari balik jendela. Bahkan saat daun-daun itu beralih dari ada, menjelang tiada, menuju ada lagi, mata yang menatap dari balik jendela seringkali merasa kosong, berusaha menemukan hiburannya dari hal-hal kecil. Dari sepasang burung yang membangun sarang dan bercanda mesra setiap pagi, semata-mata karena ketiadaan cahaya bulan.

Pada hati yang dimiliki oleh mata dibalik jendela, betapa musim telah berlalu dan berganti, belum ada daun-daun baru yang tumbuh, belum juga bunga-bunga baru yang mekar untuk mengundang getar akibat kupu yang menjejak langkah dalam tari dari satu putih ke putik lain. Musim harus berganti lagi, menyisakan satu dua tanya pada mata yang mengamati dari balik jendela.

Sunday, June 10, 2012

gelandangan dan pengemis di UK

Pada mulanya, kukira Negara maju seperti United Kingdom (UK) warga negaranya sejahtera, sehingga tak  ada yang menjadi tunawisma dan meminta-minta. Namun, rupanya di sepanjang jalan dari lingkungan kampus menuju ke city centre juga seringkali terdapat beberapa orang tunawisma yang duduk-duduk di pinggir jalan mengharap bantuan dari orang-orang yang lewat.

Secara statistik, jumlah gelandangan di seluruh UK sebanyak 380 ribu orang, atau sekitar 0.6 persen populasi.  Jumlah yang cukup sedikit jika dibandingkan dengan di Indonesia yagn diperkirakan mencapai 15 juta jiwa atau sekitar 6 persen populasi. Bagaimana cara pemerintah UK menanggulangi masalah gelandangan dan pengemis ini? Sebagai Negara maju, dengan tingkat pendapatan perkapita yang tinggi, tentunya UK cukup memiliki anggaran untuk kegiatan penanggulangan kemiskinan, hal yang erat kaitannya dengan potensi menjadi gelandangan.

Jika dilihat berdasarkan pendapatan dari pajak, UK menerapkan system pajak bertingkat berkisar dari 10 sampai 50 persen. Pendapatan pajak di UK mencapai 37.5 persen dari GDP, sementara pajak penghasilan adalah sumber utama pendapatan pajak yang mencapai 155 billion per tahun. Sebagai kompensasi untuk persentase pajak penghasilan yang besar, tentunya berbagai fasilitas umum untuk kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, kemudahan, keamanan, sarana dan prasarana warga negaranya sebesar mungkin disediakan pemerintah. Salah satunya berupa program yang menjangkau kalangan mansyarakat miskinnya, yaitu berbagai tunjangan.

Untuk pengangguran, dengan devinisi usia di atas 18 tahun yang belum bekerja atau bekerja dengan waktu kurang dari 16 jam seminggu, tersedia tunjangan berupa unemployment benefit yang disebut dengan Job Seeker Allowance (JCA). Besarnya tunjangan adalah 71 GBP per minggu atau sekitar satu juta dalam kurs rupiah.

Tunjangan ini diberikan dengan berbagai perjanjian seperti berusaha mencari pekerjaan, menghubungi beberapa perusahaan setiap minggu dsb dengan evaluasi bulanan. Bagi yang sudah 12 minggu tidak mendapat pekerjaan akan masuk ke bagian “the work programme”, untuk pelatihan peningkatan keahlian dsb. Program ini ideal, selain membantu keuangan untuk mencukupi kebutuhan hidup minimal, juga mendorong para pengangguran untuk terus mengembangkan diri dan mencari pekerjaan.

Selain tunjangan ini, ada berbagai tunjangan lain seperti income support yaitu tunjangan yang diberikan untuk orang yang berkerja namun penghasilannya rendah. Ada juga housing benefit, tunjangan yang diberikan untuk membantu orang-orang yang kesulitan membayar sewa rumah, serta berbagai tunjangan lainnya.

Kedengarannya sudah ideal, mungkin lebih baik daripada program serupa di Indoensia, jika memang ada. Namun mengapa masih ada yang menganggur dan berkeliaran di jalanan? Ternyata, meskipun Negara maju, perkembangan ekonomi dan tingkat penyerapan lapangan kerja tetap tidak sebanding dengan angkatan kerjanya, sehingga tetap banyak yang tidak bisa mendapat pekerjaan, disamping anomali bahwa ada sebagian kecil orang yang justru enggan bekerja. Selain itu, ternyata ada juga pengangguran yang tidak bisa menjangkau program ini karena tidak bisa memenuhi peryaratannya. Orang yang tidak punya tempat tinggal memiliki potensi untuk kesulitan mengklaim benefit ini. Akibatnya sebagian pengangguran terpaksa menjadi gelandangan dan pengemis. Orang-orang pada wilayah tersebut, yang rawan untuk menjadi miskin, menganggur dan menjadi tuna wisma, akan semakin mengalami kesulitan untuk keluar darinya.

Demikianlah, sehingga gelandangan tetap berkeliaran, dianggap sebagai salah satu masalah sosial dan sering menimbulkan kecemasan terhadap orang-orang di dekatnya. Orang-orang cenderung merasa enggan untuk mengambil uang di ATM atau menunjukkan uang atau barang kepemilikannya jika berada dekat dengan gelandangan.

Sebagian besar gelandangan juga sangat terkait dengan penyalahgunaan obat-obatan dan ketergantungan alkohol, salah satu penelitian menyebut persentasenya 80 persen dari populasi. Mungkin minuman dan obat-obatan tersebut bisa membantu mereka keluar dari kehidupan yang kurang besahabat ini, sehingga semakin sulit untuk keluar darinya.

Meskipun bukan tindakan kriminal, oleh pemerintah pernah diambil tindakan untuk menangkap para pengemis dengan alasan mengurangi kecemasan publik dari kemungkinan tindakan agresif saat meminta atau yang mengarah pada kriminal. Kebijakan ini dikecam oleh berbagai lembaga amal yang mengatakan bahwa kebijakan ini tidak tepat, tidak efektif dan tidak menyelesaikan akar masalah.

Selain regulasi dari pemerintah, berbagai lembaga kemanusiaan juga berusaha untuk menyelesaikan masalah gelandangan dan pengemis. Salah satunya adalah Thames Reach, yang berpusat di London, yang visinya sangat mulia untuk menolong orang-orang yang lemah, tidak punya rumah dan menggelandang dengan cara memberikan bantuan tempat tinggal, menyalurkan kepada pelatihan dan lapangan kerja, membangun kembali hubungan sosialnya, membantu memperbaiki kondisi mentalnya, membantu menghilangkan kebiasaan buruk, kecanduan obat-obatan dan minuman keras. Dilaporkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah 20 ribu orang ditolong untuk keluar dari kehidupan jalanan.

Betapapun idealnya, tak semua usaha bisa mencapai hasil yang sempurna. Masih banyak gelandangan dan pengemis berkeliaran di London, Leeds maupun kota-kota lain di UK. Setiap kali melihat satu dua gelandangan yang mengemis, terjadi dilemma untuk sedikit memberi atau untuk berlalu begitu saja.

Jika memberi uang, yang tentunya dilandasi oleh rasa kasihan, seringkali berarti membenarkan para pengemis untuk tetap menjadi pengemis. Terkadang memberi uang itu hanya akan dimanfaatkan untuk memanjakan mereka dengan ketergantungan pada obat-obatan dan minuman keras. Dalam hal ini, memberi uang kepada pengemis membuat kehidupan mereka lebih terancam karena mereka tidak akan berhenti mengemis dan tak berusaha memperbaiki kehidupannya.

Jika para pengemis tidak mendapatkan uang, mungkin timbul keinginan untuk merubah nasib dengan cara bergabung ke lembaga sosial yang bisa membantu mencari jalan keluar masalahnya dan membantunya mencari pekerjaan. Namun hadir juga kekhawatiran bahwa jika mereka tidak mendapat uang dari mengemis justru akan beralih menjadi pelaku kriminal, meski salah satu penelian menyebut bahwa angka kejahatan tidak bertambah ketika kegiatan mengemis dilarang.

Ada pengemis yang mengemis karena faktor sikap mental yang kurang baik, malas dsb, ada juga yang semata-mata karena keterpaksaan. Cukup sulit membedakan mana orang-orang yang benar-benar membutuhkan uang sekedar untuk makan dan bertahan hidup dan yang mana yang menjadikan mengemis sebagai profesi untuk mendapatkan uang karena memang malas bekerja.

Jika orang menjadi pengemis karena keterpaksaan, sekedar untuk bertahan hidup saat sudah mencoba berbagai cara untuk bekerja, tentunya ini menjadi salah satu dosa penyelenggara pemerintahan. Pemerintah yang belum sukses mengupayakan pendidikan atau membuka akses terhadap pekerjaan. Sehingga mau tak mau, pemerintahlah yang paling berkewajiban untuk menjawab permasalahan ini melalui berbagai upaya peningkatan ekonomi, penyediaan pendidikan dan pelatihan dsb. Tentunya bantuan dari organisasi-organisasi sosial yang didukung oleh bantuan keuangan dari orang-perorang tetap dibutuhkan agar jangkauan keberhasilanya lebih luas.

Jika di UK yang notabene adalah Negara maju dengan sumberdaya manusia dan finansialnya yang baik permasalahan ini belum bisa diselesaikan, ada indikasi menyelesaikannya di Indonesia dengan persentase dan jumlah yang lebih besar dan area yang sangat luas, bisa lebih sulit lagi. Dalam kasus pemerintah Indonesia, sebuah legenda bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara sepertinya hampir terlupakan.

Entahlah, dan kenapa pula aku sampai menulis tentang masalah ini? Mungkin karena setiap melewati satu dua pengemis yang dipinggir jalan, selalu muncul dualisme antara tega tidak tega, memberi tidak memberi, membantu tidak membantu. Setidaknya menulis tentangnya bisa setidaknya sedikit mengurangi beban pikiran..