Sunday, October 30, 2011

25 jam sehari

Mungkin ada beberapa orang yang diantara pekerjaannya yang menumpuk dan waktu yang mendesak, akhirnya mengucapkan doa, harapan, atau pengandaian.

“Seandainya aku punya waktu lebih dari 24 jam sehari..”

Tadaaa!

Mendadak harapannya itu terkabul. Karena hari ini, beberapa Negara di Eropa dan Amerika memiliki waktu 25 Jam sehari. Hari ini pada pukul 2 dini hari, jam akan diputar kembali ke pukul 1, sehingga resmilah dalam satu hari ini kita memiliki waktu 25 jam. Aneh.

Sebenarnya ini adalah sistem yang diterapkan oleh beberapa Negara dengan alasan terutama untuk memaksimalkan aktivitas yang memanfaatkan cahaya matahari pada musim panas. Sistem ini dikenal sebagai Daylight Saving Time, dimulai menjelang musim panas yaitu ketika jam di majukan satu jam dari standar waktu setempat dan diakhiri menjelang musim dingin dengan memundurkan kembali satu jam dari waktu yang ada. Di United Kingdom, system waktu ini dikenal juga dengan British Standard Time (BST) atau sama dengan GMT+1. Hari ini adalah hari dimana jam itu dimundurkan kembali, kembali ke standar awal yaitu GMT+0 yang menandai dimulainya musim dingin.

Sebenarnya pengguna komputer dan handphone canggih tidak merasakan perubahan apa-apa karena penambahan jam itu dilakukan pada pukul 2 pagi dan software di hp akan menyesuaikan waktunya secara otomatis. Hanya pengguna tangan dan jam dinding yang perlu mengubah setelan jamnya secara manual.
Suatu saat nanti, mungkin ada beberapa orang yang diantara harinya yang membosankan, tak sabar menunggu hari besok, akhirnya mengucapkan doa, harapan, atau pengandaian.

“Seandainya hari ini cepat berlalu.”

Tadaaa!

Mendadak harapannya itu akan dikabulkan juga, karena hari itu hanya memiliki waktu 23 jam satu hari. Hari dimulainya musim panas yang pada tahun depan jatuh pada tanggal 25 Maret 2012. Namun, saat harapan itu tercapai mungkin tak banyak manfaat yang bisa kita rasakan, karena itu terjadi saat kita sedang tertidur..

References:
http://www.timeanddate.com/worldclock/clockchange.html?n=136
http://www.webexhibits.org/daylightsaving/b.html

Saturday, October 22, 2011

Kereta Pagi


Pagi yang berseri, angin dingin menyapu wajah-wajah yang mengejar hari. Seperti angin, tak ketinggalan kusapu juga wajah-wajah disekelilingku, wajah-wajah yang menurut perhitunganku lebih kurang kekurangan pigmen.

Dari jauh terdengar suara sesuatu mendekat, cukup asing di telinga, sehingga susah pula dideskripsikan dengan kata-kata. Lama-lama terlihat sebuah kereta berwarna biru nyaris unyu yang, entahlah apa itu bisa dinamakan kerata api, karena tak kelihatan ada asap bergulung-gulung dari depannya, sejauh yang kutau jika tak ada asap maka tak ada api. Ketiadaan kuda di depannya juga menegasikan anggapan bahwa ini adalah kereta kuda. Bahkan bentuk bagian kepala dan bagian ekor sama saja, sehingga bisa dikatakan kepala itu adalah ekor dan ekor itu adalah kepala, kuketahui kemudian bahwa dia bisa berjalan kedepan dan kebelakang sesuka hatinya, sungguh janggal memang.

Sebenarnya, ini bukanlah kereta yang seharusnya kutunggu. Keretaku sudah berangkat tadi. Keretaku tercepat selama lima menit, yang sama artinya aku terlambat lima menit juga relatif terhadap kereta itu. Kereta itu tak mau menunggu, karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan baginya, padahal jika dia terlambat dua jam saja seperti di negeriku, aku masih mau menunggunya, menunggu adalah sesuatu yang lumrah buatku. Sehingga aku yang tadi berlari-lari mengejar merasa kecewa. Untunglah seorang petugas yang baik hati melihat raut susah pada wajahku, sehingga memberikan tanda pada tiket bahwa pemiliknya bisa berangkat dengan kereta berikutnya.

Sebenarnya sedikit banyak gara-gara tiket tercela itulah kenapa aku sampai terlambat lima menit. Metode pembelian tiket memanfaatkan teknologi internet yang cukup canggih dengan sedikit pencet-pencet, lalu datang ke mesin tiket otomatis. Namun ternyata sebagai seorang pemula pencet-pencet di mesin tiket otomatis tidak berjalan dengan lancar, sehingga mesin tidak mau mengeluarkan tiket, sehingga harus kuhubungi seorang petugas untuk meminta petunjuk praktis, sementara kereta itupun berlalu.

Beberapa orang yang sama menunggu kereta terlihat santai. Kereta lalu berhenti, pintu terbuka, beberapa orang keluar. Lalu dengan melenggang santai aku masuk. Sungguh aneh mereka ini, tidak ada yang berdasak-desakan, tidak ada yang berburu kursi, tak terasa aroma persaingan perebutan kursi kereta, masing-masing dengan dengan gerakan sewajarnya. Sehingga pengalaman memenangkan persaingan di kereta ekonomi di salah satu stasiun di Indonesia dahulu kala terasa tak berguna.  Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga, pada tempat dan waktu yang bukan sekarang, tidak di tempat ini.

Ya sudahlah, aku duduk saja dengan agak menyesal, tak bisa mempertunjukkan ilmu meringankan tubuh atau ilmu belut putih menelusup diantara penumpang yang padat berdesakan. Duduk di sebelahku seseorang. Kali ini aku tak sendiri, karena di sebelahku ada teman seperjalanan, orang ini.. nanti saja diperkenalkan.

Di depanku terpisah oleh sebuah meja, dua orang anak muda duduk santai. Seorang membaca buku “the girl with the duck tattoo” atau yang semacanya, seorang membaca koran yang halaman judulnya “We can still rely on Robin, says Wenger”. Bolehlah ku paraphrasekan headline itu sebagai, “We don’t have anyone else except Robin to rely on, cries Wenger” hahaha aku, tertawa-tawa dalam hati. Kulayangkan pandang ke sekeliling, ada yang sedang menghidupkan laptop, ada yang melamun, seorang sedang menelepon dengan suara pelan, beberapa berbincang ria dengan logat british kental. Dengan dialek yang terdengar intelek, yang sering mengurangi dua huruf t pada kata letter atau matter dan menebalkam hurut r di ujung kalimatnya. Kecepatannya berbicara, bisa diasumsikan lebih cepat dari kecepatan suara, sehingga telinga terkadang tak bisa menangkapnya. “Yu be’e tu rimemba baut d nambe, d weda iz dazn ma’e.

Agak jauh di sebelah sana terlihat seorang british dengan jaket almamater Cambridge University. Hooph, aku pura-pura tak melihatnya, takut jika suatu saat mata kami bertabrakan, takut dikenali keberadaanku.  Karena sudah menjadi aturan, adalah dilarang untuk menatap langsung orang yang mengenakan jaket almamater dengan strata lebih tinggi. Sehingga jika seorang dari Universitasku bertemu dengan orang dari Universitas Cambridge atau Oxford saat sedang mengenakan jaket almamater, maka sudah selayaknya orang itu memberi hormat. Itu belum seberapa, ada mahasiswa dari Universitas yang harus berjalan jongkok, bahkan kebanyakan harus merayap jika bertemu dengan mahasiswa dari Universitas Cambridge ini. Yang demikian ini adalah aturan yang baku, untuk menjaga kewibawaan dari salah universitas terbaik di dunia. Untunglah aku sedang tidak mengenakan jaket universitas, sehingga tak harus menerapkan aturan tersebut.

Duduk di sebelahku, adalah seseorang. Yah boleh juga jika hendak diasumsikan bahwa dia adalah seorang wanita melayu berambut sebahu dikepang dua yang bercerita sambil tertawa-tawa riang sepanjang perjalanan. Atau boleh juga jika mau dibayangkan bahwa dia adalah seorang yang wanita manis dengan kerudung bunga-bunga yang senyumnya indah merekah. Atau baik juga untuk dikatakan, dia adalah wanita berkulit kuning berambut pirang yang menghabiskan masa kecilnya yang berbahagia sebagai boneka Barbie. Nanti saja kuceritakan perihal orang disebelahku ini, untuk mengakhiri cerita dengan romantis.

Tak berapa lama datanglah seorang berseragam untuk mengecek karcis karcis. Petugas meminta karcis dengan sopan. Jika tak membawa tiket, jangan harap untuk membayar dengan cara sim salabin, karena petugas tiket ini juga membawa mesin yang dapat mengeluarkan tiket kapan dan dimana pun. Tinggal pencet pencet sedikit, maka tiket akan keluar diiringi bunyi tret tret. Saat petugas menghampiri, terinspirasi dari Amelia Poulain, refleks kukatakan “Without you, today's emotions would be the scurf of yesterday.” Petugas terbengong sejenak, “Pardon.. ticket please.”  Maka kuserahkan saja tiket berikut kartu sakti untuk mendapat diskon karcis kereta.

Kereta masih berjalan dengan kecepatan sedang, sekitar sekilo semenit, adegan-adegan di jendela datang dan pergi silih berganti, Sewaktu-waktu terlihat sapi yang berpadu dengan biri-biri diselingi kuda-kuda besar di padang rumput yang sunyi, di kali lain jajaran rumah kuno berwarna merah genteng yang berjejer rapi yang diiringi bunga yang warna-warni. Di atas sama, matahari bersembunyi di balik awan tebal yang berterbangan setelah diberi warna kelabu.

Melihat sapi-sapi di luar, kawan seperjalananku bercerita tentang temannya yang jatuh cinta pada seekor sapi, yang temannya itu seorang lelaki, bukan berarti tidak suka wanita, karena ternyata yang disukainya juga adalah sapi betinanya. Cinta memang tidak mengenal fisik, cinta memang perasaan yang murni yang muncul dari hati. Muncul pertanyaan penting dalam benakku, sehingga kutanyakan padanya. “Siapakah nama sapi betinanya itu?” Dia tak bisa menjawab, lalu segera menanyakannya kepada om google, tempat dimana hampir semua pertanyaan tidak essensial menemukan jawaban. Tak berapa lama diapun terlupa pertanyaan itu, karena terlarut keasyikan berselancar menggunakan blackberrynya. Alat yang sangat berguna memang, untuk mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Maka kucari saja sebuah lagu di kepala, dan mulai mendendangkannya dengan sumbang. Sebuah lagu dari Iggy Pop yang judulnya the passenger.
"I am a passenger
I stay under glass
I look through my window so bright.."

Kereta tak terlalu sering berhenti, tiap menjumpai stasiun dan harus berhenti, kereta ini hanya memakan waktu kurang dari semenit. Dia berhenti, membuka pintu, mengeluarkan penumpang, menutup pintu dan berjalan lagi. Cukup berbeda dnegan kereta kebanggaanku dulu yang terbiasa berhenti di tengah jalan dan lama sekali, sehinggalah tak kujumpai ada pedagang-pedagang yang datang menawarkan tahu sumedang, tak adalah orang yang menawarkan salak dalam karung, tak ada juga yang membawa gitar dan menyanyikan lagu roma irama. Sehinggalah terbesit juga sedikit rindu pada pedagang tahu sumedang, serta salak dan ksatria bergitar itu. Ingin kubawa kereta ini pulang sehingga bisa kuberikan kesempatan kepada pedagang-pedagang itu untuk mencoba peruntungannya di kereta seperti ini.

Akhirnya kereta melambat, stasiun besar terlihat di depan mata, dari jauh sekelompok remaja hooligan dengan kaos merah-merah sedang bernyanyi dengan bersamangat untuk menyambut pertandingan nanti siang.
"He's only a poor little scouser
 His face is all tattered and torn
He made me feel sick
So I hit him with a brick
And now he can't sing anymore!"

Kereta berhenti. Di papan informasi di luar sana terlihat kata Manchester, seperti juga tertera di papan informasi yang terdapat di dalam kereta. Teman seperjalananku yang lupa untuk kuceritakan, sedang tertidur pulas, maka kubangunkan dengan tendangan.
Jon, Joni, bangun Jon. Udah sampe.
Joni menguap lebar seraya celingukan kebingungan. Kami pun segera menyusul iring-iringan untuk turun dari kereta, mendapati kembali udara peralihan ke musim dingin yang terlalu sejuk dan langit yang terlalu sering dicat dengan warna kelabu.

related story: Kereta Malam

Monday, October 17, 2011

the art of loving

Dalam cinta, kebanyakan orang melihatnya sebagai persoalan dicintai daripada mencintai. Hal yang penting bagi seseorang adalah bagaimana agar dicintai. Demi tujuan itu orang-orang menembuh beberapa jalan. Bagi kaum laki-laki biasanya bagaimana agar sukses, kaya, berkuasa, dengan tidak melanggar batasan sosial yang ada. Sementara bagi wanita dengan membuat diri semenarik mungkin, dengan merawat tubuh, pakaian, penampilan dsb. Dan cara yang ditempuh keduanya adalah dengan mengembangkan tingkah laku yang menyenangkan, percakapan yang mengesankan, suka menolong, serta menjauhkan diri dari hal yang jelek dan norak.

Manusia juga cenderung menganggap cinta adalah objek, bukan sebagai kemampuan. Mereka berpikir bahwa mencintai adalah persoalan mudah, yang sulit adalah mencari objek yang tepat untuk dicintai. Pada manusia modern perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya komoditas-komoditas yang bisa dipertukarkan. Jadi dua sosok manusia akan jatuh cinta jika mereka telah menemukan obyek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas-batas nilai tukar yang mereka miliki.

Pengalaman jatuh cinta biasanya dialami dalam kasus di mana dua orang yang sebelumnya merupakan orang asing satu sama lain, sepakat untuk meruntuhkan tembok yang selama ini memisahkan mereka, sehingga semakin dekat. Mereka merasa menjadi satu dan momen kesatuan ini menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan dan mempesonakan dalam hidup. Terutama bagi pribadi yang selama ini tertutup, terisolasi dan tanpa cinta. Keajaiban dari keintiman ini menjadi semakin dahsyat dipicu oleh daya tarik seksual serta pemenuhannnya. Dalam proses berikutnya dua pribadi itu akan saling mengenal dengan lebih baik, sehingga keintiman yang mereka rasakan akan kehilangan keajaibannya. Akhirnya segala pertentangan, kekecewaan serta perasaan bosan akan membunuh segala yang tersisa dan pesona yang sebelumnya menyelimuti mereka akan sirna. Namun hal ini sering tidak disadari karena tertutupi oleh hasrat akan birahi, cumbu rayu, saling terpesona dan tergila-gila, untuk menunjukkan betapa dalamnya cinta mereka. Padalah semua itu tidak membuktikan apa-apa kecuali rasa kesepian yang mereka derita sebelumnya.

Namun pada kenyataannya hampir tidak ada aktifitas atau usaha yang dimulai dengan bermacam impian dan harapan yang begitu luar biasa, namun mengalami kegagalan begitu saja sebagaimana cinta. Ada satu cara untuk mengatasi kegagalan tersebut, yaitu memeriksa sebab-sebab kegagalan tersebut, dan mempelajari cara untuk memperbaikinya. Harus disadari bahwa cinta adalah seni, jika kita ingin belajar bagaimana cara mencintai kita harus memulai dengan cara yang sama seperti mempelajari seni. Yaitu pertama, menguasai teorinya kedua menguasai prakteknya.

Manusia dikaruniai akal budi, adalah kehidupan yang sadar akan dirinya. Ia dilahirkan diluar kemauannya dan akan mati diluar keinginannya. Manusia menyadari kesendirian atau keterpisahannya, kelemahannya dalam menghadapi kekuatan alam dan masyarakat (disunited existence) ini merupakan sebuah penjara yang mengerikan. Sehingga dia harus keluar dari situasi tersebut dan mencari pertalian baru dengan manusia lain dan dunia luar. Bagaimana cara mengatasi keterpisahan ini, meraih kesatuan, mentransendensikan kehidupan? Salah satu cara yang kemudian ditempuh adalah menenggelamkan diri dalam keadaan orgiastic. Seperti trance yang bisa muncul dari dalam atau karena pengaruh obat bius. Pengalaman lain yang memberikan efek yang sama adalah dengan pengalaman seksual. Cara lainnya adalah dengan penyatuan dengan kelompok yang lebih besar. Untuk mencari ketentraman dan keselamatan, dengan prinsip: jika aku tak berbeda dari orang lain, hika aku tidak memiliki perasaan atau pemikiran yang berbeda dengan orang lain, jika aku menundukkan diri pada kebiasaan, pakaian, gagasan dan pemikiran yang serupa dengan orang lain, maka aku akan selamat dari situasi kesendirian yang mencekam (frightening experience of aloneness).

Cara lain untuk mendapatkan kesatuan terletak pada tindakan kreatif. Seperti yang dipraktekkan oleh seniman dan para tukang. Seeorang bisa menyatukan dirinya dengan bahan-bahan yang merepresantasikan dunia di luar dirinya. Namun demikian, hal-hal demikian hanya bersifat sementara, hanya merupakan jawaban parsial atas problem exsistensial. Jawaban atas problem ini terletak pada kesatuan intrapersonal, dalam peleburan dengan orang lain, dalam apa yang sering disebut sebagai cinta. Cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia.

Beberapa jenis cinta antara lain:
Cinta orang tua dan anak, dimana cinta ibu merupakan peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan kebutuhan-kebutuhan seorang anak.
Cinta persaudaraan, cinta terhadap semua manusia. Merupakan sebuah rasa tanggung jawab, perhatian, pernghormatan serta oemahaman akan setiap manusia yang ingin kita majukan hidupnya.
Cinta erotis, penyatuan dan peleburan antar pribadi yang bersifat ekslusif dan tidak universal.
Cinta diri, yaitu cinta kepada diri sendiri identik dengan narsisme.
Cinta Tuhan, yaitu cinta kepada nilai tertinggi yang paling didambakan yang merupakan kebutuhan dasar dari manusia.

Cinta adalah sebentuk kapasitas yang terlahir dari karakter yang matang dan produktif. Namun kedudukan dari cinta yang sebenarnya digantikan oleh sederatan cinta semu yang mencerminkan terjadinya disintegrasi cinta dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Eksistensi masyarakat kapitalis didasarkan atas pasar, dimana segala sesuatu atau kepandaian yang dianggap berguna diubah menjadi komoditas yang diperjual belikan. Sehingga hasilnya adalah membentuk kepribadian manusia modern yang terasing dari dirinya, dari sesamanya dan dari alam semesta.

Manusia modern menjadi semacam komoditas yang menempatkan kekuatan dirinya sebagai investasi yang harus membawa keuntungan. Namun mereka tidak menyadarinya karena peradaban membuat rutinitas yang luar biasa ketat. Lalu sebagai akibatnya mereka berusaha mengatasi keputusasaan bawah sadarnya dengan cara menenggelamkan diri dalam hiburan rutin serta konsumsi pasif, membeli barang-barang dan kebutuhan untuk selalu tampil baru. Hal itu pada akhirnya menyebabkan manusia modern menjadi manusia yang tak sanggup mencintai, hanya bertukar paket kepribadian sambil berharap mendapat imbalan yang sepadan.

Dalam menyingkapi kegagalan tersebut beredar buku-buku tentang petunjuk dan nasehat tentang perilaku seksual. Hal ini terjadi didasarkan atas ide pokok bahwa jika dua orang saling memuaskan kebutuhan seksual masing-masing maka mereka akan sanggup mencintai satu sama lain. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Freud, yang menyatakan bahwa Pemuasan atas semua hasrat instingtual secara total akan membawa pada kesehatan mental dan kebahagiaan. Namun semua ini hanya ilusi karena cinta bukanlah hasil dari kepuasan seksual, melainkan sebaliknya. Konsep Freud itu bisa dibandingkan dengan gagasan psikoanalis lainnya bahwa bahwa cinta dimulai apabila seseorang merasa kebutuhan orang lain menjadi sepenting kebutuhannya sendiri.

Untuk menuju ke arah itu, kita perlu mempelajari apa-apa yang diperlukan untuk praktek mencintai. Untuk bisa mempraktekkan suatu seni, dalam hal ini, seni mencintai ini pertama-tama dibutuhkan kedisiplinan dalam mempelajari dan melatihnya. Disiplin bisa dilatih dengan tidak memanjakan diri, dan memanfaatkan waktu dengan teratur untuk kegiatan seperti meditasi, membaca, mendengar musik dan berjalan-jalan.

Lalu dibutuhkan konsentrasi, karena duduk diam tanpa bicara, membaca atau makan dan minum selain hanya berkonsentrasi merupakan hal yang sulit bagi manusia modern. Melatih konsentrasi dengan belajar berdiam diri, seperti dalam meditasi atau beribadah. Dalam mendengar musik, membaca buku, berbicara, atau menikmati pemandangan dimana perhatian seseorang dicurahkan sepenuhnya. Hal-hal yang penting dan tidak penting akan memperoleh dimensi baru. Berkonsentrasi berarti hidup sepenuhnya saat ini, disini dan sekarang ini. Aktif dalam pikiran dan perasaan serta menggunakan mata dan telinga sepanjang hari. Lalu dibutuhkan kesabaran, disaat seluruh sistem industri modern menekankan prinsip kecepatan yang sangat bertentangan dengan kesabaran. 
 
Disamping itu syarat utama untuk mencapai cinta adalah mengatasi narsisme. Yaitu orientasi dimana seseorang hanya menganggap riil, benar, dan nyata apa-apa yang ada dalam dirinya sendiri, sementara fenomena diluar dirinya dianggap tidak mempunyai realitas selain sejauh berguna atau berbahaya bagi dirinya. Yang harus dikembangkan adalah lawan dari narsisme adalah obyektifitas, yaitu kemampuan untuk melihat orang lain atau benda-benda sebagaimana adanya. Namun senantiasa harus ada cinta terhadap diri sendiri pada orang-orang yang mampu mencintai orang lain.

Kemampuan untuk mencintai juga tergantung pada kapasitas kita untuk tumbuh dan mengembangkan orientasi produktif dalam berhubungan dengan dunia dan diri kita sendiri. Mereka yang memperhatikan cinta sebagai jawaban bagi masalah eksistensi manusiawinya, harus sampai pada kesadaran bahwa diperlukan perubahan radikal dan berani dalam struktur sosial jika menginginkan cinta bisa terwujud sebagai fenomena sosial, bukan fenomena marginal yang ada dalam diri personal. 
 
Referensi:
Fromm, Erich. 2005. The Art of Loving. Fresh Book, Indonesia.

Saturday, October 08, 2011

27 club

Dalam dunia musik, ada yang disebut dengan 27 Club, yaitu kumpulan musisi jenius yang menjadi legenda dan berhenti pada usia 27 Tahun. Anggotanya antara lain, Brian Jones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morrison, Kurt Cobain dan yang baru-baru ini bergabung Amy Winehouse. Semua adalah pribadi independent yang menolak mainstream, yang secara musik menginspirasi sebuah generasi, menciptakan tren sendiri dan tanpa kompromi. 

Sejak 1997, Kurt Cobain bersama Nirvana adalah favoritku, waktu itu pikirku tak ada musisi yang sebagus dia. Lirik-lirik sarkasme berisi kemarahan, gitar yang kasar dan melodi yang tidak harmonis dalam Nirvana selalu menemaniku dan mengispirasi untuk membuat sebuah band serupa. Lalu sejak 2002, saat pertama kalinya mendengar Jim Morrison bersama The Doors secara kebetulan di rumah seorang teman, aku juga langsung jatuh cinta seperti pada Nirvana. Jatuh cinta pada musik yang merupakan perpaduan jazz, blues dan rock dilengkapi dengan lirik yang puitis filosofis dan mendalam. Mereka adalah sebagian dari musisi yang menyalurkan emosi dan refleksi dengan baik pada sebah lagu.

Lalu mulailah aku membaca artikel dan buku-bukunya, biografi Kurt Cobain: Heavier than Heaven serta biografi Jim Morrion: No One Here Get Out Alive. Dan disamping kekaguman, muncul pula keprihatinan betapa hancurnya kehidupan pribadi-pribadi ini, yang tak pernah merasa cocok dengan lingkungannya, yang merasa sosok diri mereka yang dikenal orang banyak adalah palsu, yang berujung pada rasa frustasi hingga mereka tutup usia pada 27 Tahun. 

Dulu, sesekali ada juga perasaan mencekam yang dalam, entahlah jika setiap seniman merasakan itu, bahwa aku tak terlalu cocok dengan lingkungan sekitar ini, bahwa semua kompromi yang kutunjukkan adalah palsu, hingga pernah terbesit bahwa mungkin saja aku juga akan berakhir seperti mereka-mereka itu yang berumur 27 tahun. 

Syukurlah seiring waktu semua perasaan galau itu hilang sendiri, dan sampailah aku pada hari untuk merayakan perpisahan dengan Jim Morrison dan Kurt Cobain. Hari ulang tahunku yang ke-28, sudah tidak muda memang, tapi aku sangat bersyukur bisa melalui usia 27 Tahun dengan selamat. Selamat tinggal Jim, selamat tinggal Kurt, aku tidak akan masuk dalam jajaran orang-orang yang menjadi legenda pada usia 27 Tahun seperti kalian. 

Monday, October 03, 2011

metropoly

Metropoly adalah sebuah permainan yang diselenggarakan departemen Institut for transport Studies di Leeds University untuk mahasiswa barunya. Aturannya adalah mahasiswa dibagi menjadi beberapa group kecil yang dibekali metro day rover family ticket. Ticket tersebut bisa digunakan untuk bepergian menggunakan public transport kemana saja  di seluruh area west Yorkshire selama satu hari penuh. Tiap kelompok berusaha untuk mendapat point sebanyak-banyaknya melalui setiap stasiun atau objek wisata yang dituju sesuai dengan peta yang diberikan. Tim hanya boleh menggunakan kereta, bus dan berjalan kaki dan memberikan bukti foto dengan latar belakang lokasi tujuan berdasarkan pepatah no pix=hoax, perjalanan dimulai dan berakhir di kampus dari jam 9.30 sampai jam 16.30.

Jadilah aku sebagai salah satu peserta, ambil bagian dalam sebuah group kecil bersama Lewis: asal Inggris, Vasileios: asal Yunani, serta seorang wanita cantik Jevgenija: asal Lithuania. Entah apa dan dimana itu Lithuania, yang jelas melihat dari penampilannya seperti orang-orang dari eropa timur.  


Beberapa website canggih sangat mendukung untuk merencanakan perjalanan ini, seperti metro website: www.wymetro.com, Transport Direct Journey Planning web site: www.transportdirect.info,  Nation Rail Web Site: www.nationalrail.co.uk atau web informasi lokasi wisata sesuai degnan yang tertera di peta. 

Dari Leeds, kami memutuskan untuk pergi ke Denby Dale demi mendapat banyak point dari mengunjungi tiap stasiun dengan kereta, sekian banyak kereta langsung menuju ke sana mengalami delay atau di cancel entah karena alasan apa. Sehingga itinerary yang sudah dibuat oleh Lewis dengan detail sampai ke menit harus diubah, kami memutuskan untuk memutar jalur. Kami menuju Wakefield dengan Kereta, lalu menaiki bus menuju Dewsbury, lalu ganti ke kereta lagi dari Dewsbury Huddersfield, dsb. Perjalanan yang rumit dengan nama-nama kota yang sulit, dan dengan pengalaman nilai geografi yang pas-pasan, tentu saja nama-nama itu sudah kulupakan lima menit setelah diucapkan. 


Singkat cerita singkat kata, sampailah kami di Huddersfield menjelang pukul satu siang. Hari sedang bernama Jum’at, syukurlah aku masih teringat pada salah satu ayat Al Jumu’ah yang memerintahkan untuk segera mengunjungi masjid dan meninggalkan segala urusan jika telah datang panggilan untuk sholat jum’at. Rekan-rekan seperjuangan menyetujui untuk meninggalkanku di Huddersfield dan bertemu lagi menjelang jam 3. Huddersfield adalah kota asing, tak ada peta, dan koneksi internet dengan BB yang canggih sedang error, sehingga ada kemungkinan aku tersesat.  “Do you know where the mosque is?” Tanya si british.  “No, but I’ll find the way.” Sahutku.

Saat mereka berlari menuju stasiun mengejar kereta berikut, aku berjalan menuju tempat segerombol taksi yang terlihat sedang mangkal. Kutanyakan masjid terdekat kepada seorang berwajah seperti India atau Pakistan, dia bilang akan mengantarku ke sana seraya mengajakku menuju taksinya. Sampai di pintu taksi ternyata ada seorang wanita yang ingin menggunakan taksinya juga, lalu entah kenapa dia menyuruhku menggunakan taksi di belakangnya, mungkin alasannya adalah ekonomi, mungkin pula sentimen agama. 

Sopir taksi di belakang, menggunakan Surban ala India, menanyakan padaku kenapa taksi di depan tidak mau mengantarku? “Entahlah.” kubilang. Dia lalu menanyakan masjid mana yang aku tuju? Ternyata ada banyak masjid di sekitar sana, terbagi-bagi sesuai jamaahnya. Aku minta diantarkan menuju masjid terdekat apa saja. Sambil jalan, dia mulai menginterogasi, kenapa sopir taksi tadi tidak mengantarku, dengan nada marah. Aku menangkap gelagat kurang baik, sehingga kukatakan saja “it’s oke, I have no problem with that.” “No, it is not oke, he is cheating!” Katanya. Demi menghindari konflik yang mungkin terjadi, yang mungkin melibatkan suku bangsa itu, kukatakan saja bahwa sopir tadi belum menyepakati untuk mengantarku, dia cuma  tau dimana masjid dan menyuruhku untuk mengikutinya. Bapak India ini masih kelihatan dongkol, entah kenapa. Sudahlah Pak, masalah kecil ini, pikirku. Tak berapa lama, sampailah di Masjid, ternyata sebuah Masjid jamah dari Pakistan. Dengan sukses ku ikuti khutbah berbahasa Arab yang dilanjutkan dengan bahasa Pakistan, dengan sukses pula usahaku menyimak berbuah kegagalan.  

Masih sesuai petunjuk Al Jumuah, selesai Shalat, maka betebaranlah di muka bumi untuk mencari karunia-Nya. Maka kulanjutkan perjalanan. Sesuai peta, ada beberapa objek wisata di Huddersfield yang bisa kutuju sambil menunggu teman-teman datang. Maka kutanyakan saja kepada salah seorang yang baru selesai sholat. “Oh, this Greenhead Park Conservatory is just 2 minutes from here, cmon brother, I’ll take you there.” Kata seorang berwajah mirip Thierry Henry dengan mobil sportnya. Demikianlah seharusnya persaudaraan sesama muslim di seantero bumi ini, maka dengan sumringah, tak kutolak ajakannya. 

Sambil jalan kami berkenalan dan dia bercerita soal ini itu tentang Inggris, Leeds dan Kota Huddersfield. Dia memberi petunjuk singkat dengan antusias mengenai cara menuju beberap lokasi seperti Emley Moor Transmitter dan Castle Hill, ternyata cukup jauh. “Goodluck brother” katanya saat sampai, sambil melambai tangan dan tancap gas. 

 
Maka berjalanlah diriku ke gerbang taman, minta di foto sebentar pada nenek-nenek yang kebetulan di sana, lalu berjalan lagi menuju terminal bis. Ternyata bis menuju ke Emley Moor hanya ada tiap setengah jam, tidak mungkin sempat, sehingga ku putuskan untuk berjalan kembali ke stasiun kereta menunggu teman-teman pulang dari  Denby Dale. Salah satu hal baik dari kota-kota di Inggris adalah integrasi antar modanya, dimana di setiap kota, stasiun kereta dan terminal letaknya berdekatan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki mengikuti papan-papan petunjuk yang tersedia. Kota-kota di Indonesia perlu juga meniru yang seperti ini.

Setelah lama menunggu di stasiun akhirnya kelihatan sebentuk bayangan orang berbaju orange berlari dari kejauhan, ternyata si Vasileios (ampun deh susah banged namanya, selanjutnya dipanggil Sile) yang sangat bersemangat sedang berlari sambil melambai-lambai. Waktu sudah menunjukkan pukul empat, sehingga kami segera naik kereta dan terburu-buru untuk kembali ke Leeds karena keterlambatan akan dikenai pengurangan point. Sesampainya di Leeds si Sile masih bersemangat dan mengajak kami berlari menuju kampus. “Cmon run run, lets run”. Sebagai seorang asia berkaki pendek tentu usahaku berlari harus lebih besar daripada orang-orang bule berkaki panjang ini. Dengan ngos-ngosan, sampailah kami di depan jurusan, saat yang lain sudah berkumpul, kami grup terakhir yang finish, akhirnya kalah dengan nilai total 17000 sementara grup pemenangnya mendapat point 18000. Permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan, sementara kalah menang tak penting buatku.