Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

pernikahan beda agama


Banyak macam persoalan terkait dengan menjalin hubungan, memilih pasangan hidup, menikah dan membangun keluarga. Berbagai macam tuntunan, standar, norma dan etika terkadang tak lagi dijadikan acuan, karena hal yang satu ini sangat terkait dengan perasaan. 

Dewasa ini, makin banyak saya temui dalam lingkup hidup saya orang-orang yang menjalin hubungan yang menjurus ke pernikahan dengan perbedaan agama. Makin pluralnya masyarakat Indonesia, makin bebasnya pola hidup masyarat modern, makin tingginya mobilitas manusia dan interaksi antar budaya, semua mengarah ke peningkatan probabilitas pernikahan beda agama.  

Berikut ini saya akan mencoba menyajikan pandangan dari berbagai sisi mengenai hal ini.

Peraturan Negara

Secara administrasi ada kesulitan untuk melangsungkan pernikahan beda agama di Indonesia, karena urusan pernikahan diakomodir oleh kantor urusan agama, sehingga KUA untuk orang beragama islam tidak mau menikahkan orang yang berbeda agama dengan islam, demikian pula kantor urusan agama lain, sehingga salah satu harus beralih ke agama pasangan. Atau harus melangsungkan pernikahan di luar negeri untuk kemudian mencatatkannya ke kantor catatan sipil.

Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini bisa dilihat pada referensi berikut ini

Psikologi

Perbedaan agama, dari sisi psikologi dinyatakan sebagai sesuatu yang rawan konflik. Banyak pelaku pernikahan beda agama yang datang ke psikolog untuk mendiskuskan mengenai pernikahannya yang sedang bergejolak karena berbagai permasalahan. 

Pernikahan adalah penggabungan dua keluarga, bukan sekedar dua orang. Jika pernikahan antara dua orang dengan akar budaya yang berbeda sering mengalami friksi, apalagi dengan nilai agama yang berbeda. Ada kecendrungan bahwa pihak keluarga tidak merestui pernikahan itu, konflik ini biasanya terus berlanjut. 

Menikah adalah penggabungan pola hidup dan kebiasaan-kebiasaan, dari sendiri-sendiri menjadi bersama-sama, sehingga apabila agama berbeda, maka pola kebiasaan ibadah akan menjadi sendiri-sendiri, jika muslim akan sholat, puasa dan berlebaran sendiri, jika Kristen akan ke gereja dan merayakan natal sendiiri. Hal ini disinyalir mengurangi kebahagiaan dan rasa kebersamaan. 

Setelah memiliki anak, akan terjadi konflik antara orang yang berbeda agama, ayah ingin anak itu mengikuti agamanya, ibu ingin anak itu mengikuti agamanya, sehingga jika suatu saat anak memilih salah satunya, salah seorang pasangan akan merasa kecewa. 

Konflik-konflik itu cenderung perlahan-lahan mereduksi perasaan cinta, sehingga pada akhirnya menyebabkan mati rasa dan berujung pada perceraian. Penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini bisa dilihat di referensi berikut ini.  

Islam

Bagaimana pandangan islam untuk pernikahan beda agama? MUI sudah memfatwa haram pernikahan beda agama, dengan keputusan MUI Nomor:  4/MUNAS VII/MUI/8/2005. Seperti dalam link berikut ini

Sumber hukum untuk fatwa haram tersebut diungkapkan dengan jelas di dalam Al Quran surat Al Baqarah: 221, Al Maidah: 5 dan Al-Mumtahanan: 10. 

Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan prempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (QS Al Baqarah: 221) 

Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu, dan makanmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia-sia amal mereka dan si akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS Al Maidah: 5) 

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu Telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang Telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang Telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang Telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Mumtahanah: 10)

Pernikahan beda agama untuk wanita muslim dengan lelaki non muslim adalah HARAM, sedangkan pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab masih menjadi perdebatan. Salah satu yang mendebat adalah kelompok Jemaah Islam Liberal (JIL) dengan beberapa argumen yang tidak jelas. Yang biasanya menjadi perdebatan adalah pendefinisian kafir, musyrik dan ahli kitab. Berikut ini salah satu link nya. Yang jika diteliti, membenarkan ketakutan umat muslim di Indonesia bahwa JIL adalah sekelompok orang yang berbahaya bagi kehidupan beragama umat islam.  

Konsep pernikahan beda agama dalam islam ada di link berikut ini dan ini.

Pribadi

Dan.. bagaimana dengan pendapat saya pribadi? Kali ini, saya hanya akan menguraikan pendapat pribadi berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya selama ini. 

Perasaan manusia adalah sesuatu yang rapuh, manusia bisa merasa suka pada sesuatu saat ini dan beberapa waktu kemudian membencinya, manusia sering memandang baik apa yang buruk baginya, dan memandang buruk apa yang sebenarnya baik baginya, sehingga menurut hemat saya, perasaan dan pikiran manusia tidak bisa dijadikan pegangan yang kuat untuk selamat. Sehingga hanya agama yang bisa dipercaya, untuk dijadikan pegangan. 

Untuk mahasiswa Indonesia yang tinggal di luar negeri yang banyak berinteraksi dengan orang barat kasus-kasus ini semakin sering terjadi. Orang Indonesia kebanyakan adalah islam, orang barat kebanyakan adalah Kristen dan sebagian lain adalah atheis. Sehingga setiap kali melihat ada orang Indonesia yang sedang menjalin hubungan dengan bule saya selalu menaruh curgia menanyakan, apa agamanya? 

Setiap kali mendengar ada orang berpacaran beda agama, hati saya menjadi sedih. Terlebih lagi ketika mendengar seorang wanita muslim yang menikah dengan seorang non muslim, hati saya jadi bertanya-tanya apakah wanita ini masih dengan akidahnya. Beberapa waktu kemudian, wanita yang dulu saya kenal mengenakan jilbab dengan sopan ini lantas tidak lagi mengenakan jilbab, sehingga semakin perih lagi hati ini. 

Menurut saya, ada beberapa faktor kenapa pernikahan beda agama ini harus dihindari, yaitu faktor perasaan cinta yang tidak bisa diandalkan, faktor pengabdian terhadap orang tua, dan faktor pernikahan sebagai ibadah. 

Setiap melihat pasangan beda agama dalam hati saya sering timbul pertanyaan, apakah tak bisa lagi kita mencari pasangan yang seagama? Katakanlah itu kualitas fisik, kualitas kekayaan, kualitas kebaikan hati, kualitas perasaan, apakah tak ada lagi sesama muslim yang bisa memenuhinya? Apakah alasannya itu perasaan cinta, yang katanya tak bisa dicegah bisa datang dari dan kepada siapa saja. Alasan yang menurut saya sangat naïf, karena perasaan cinta adalah sesuatu yang rapuh yang sama sekali tak bisa dijadikan acuan atau standard. Berapa kali seorang manusia mengalami perasaan jatuh cinta dalam hidupnya? bukankah rata-rata lebih dari sekali. Menurut saya, perasaan cinta bisa dibangun melalui proses, yang bisa hilang melalui proses lainnya. 

Yang kedua adalah faktor orang tua, menurut saya seorang anak harus berterimakasih atas karunia dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtuanya, ucapan terimakasih itu berupa bakti untuk membahagiakan mereka, menuruti sejauh apa keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan tuntunan agama. Yang saya pahami, salah satu yang diajarkan agama islam adalah bahwa anak menjadi penerus amal orangtuanya, dalam bentuk doa dari anak yang sholeh. Sehingga tentu saja orang tua (yang menjadikan agama sebagai pegangan) tidak akan merestui anaknya menikah dengan beda agama, apalagi jika sampai anaknya pindah agama, karena itu akan berarti sama saja orang tua tersebut tidak memiliki anak yang biasanya menjadi tumpuan harapan untuk menjadi penerus amal kebaikannya kelak jika dia telah tiada. 

Yang ketiga adalah konsep pernikahan sebagai ibadah, apabila telah dinyatakan haram, maka pernikahan yang bagi umat muslim bisa menjadi sarananya untuk beribadah tentu akan kehilangan esensinya. Katakanlah jika berhubungan badan, karena tidak sah secara agama maka yang seharusnya berupa ibadah menjadi haram atau dosa untuk selamanya. Bagi orang yang percaya kehidupan akhirat, sungguh mengerikan hal ini, semoga kita semua selalu dijauhkan darinya. 


Saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang sudah menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama dengan sebaik-baiknya. Namun, menurut saya, yang konservatif namun agak moderat ini, tak apa jika seseorang berbuat salah, sesekali berbuat dosa, sesekali melanggar aturan, karena bagaimanapun itu manusiawi, asal jangan melanggar akidah, atau mendekati melanggar akidah.

Dalam kehidupan dunia yang fana ini, dimana terdapat simpang siur aturan, norma, argumen, pengetahuan dsb hanya satu yang bisa dijadikan pegangan, yaitu nilai agama.  Dalam kehidupan yang fana ini, salah satu yang harus dijaga adalah agar senantiasa dalam keadaan beragama islam hingga akhir hayat.  


Referensi gambar:
http://www.wartakota.co.id/read/news/56907

Monday, January 30, 2012

seribu kata untuk ayah

Ayahku, sekarang sudah berpulang ke tempat yang dituju semua manusia. Rangkaian peristiwa yang mengiringi kepergiannya berjalan begitu cepat, sehingga kami sekeluarga terkadang masih merasa heran, seperti sedang mengalami mimpi buruk dan berharap akan ada orang-orang yang terjaga yang segera membangunkan.

Ayahku, semasa hidupnya adalah orang yang polos dan sederhana. Beliau selalu berkata-kata dengan lugas. Memaksudkan apa yang dia ucapkan dan mengucapkan apa yang dia maksudkan. Selalu mengajarkan kejujuran dan kerendahan hati. Seorang yang terkadang tak terlalu banyak bicara, tetapi sering mengajak kami bercanda-tawa.


Ayahku, semasa hidupnya seorang yang selalu memiliki teman di mana saja, kemana kami pergi selalu ada satu dua orang yang akan bertegur sapa dengannya, selalu ada satu dua orang yang akan diajaknya berbicara. Selalu ada orang-orang yang memandang suka padanya dan bercanda-tawa. 

Ayahku disamping pekerjaannya yang baru setahun menjalani pensiun, telah didaulat menjadi seorang ketua RT seumur hidup oleh para tetangga, tentu saja bukan karena beliau sangat cocok untuk jabatan itu, tapi sejak beliau terpilih tak direlakan untuk melepas jabatannya dan tak ada yang mau bersusah-susah menggantikannya. Seperti para pemilihnya memilih cuci tangan. Sehingga panggilan Ibu RT masih melekat pada ibu sampai jauh hari setelah kepergiannya.

Ayahku, terlihat seperti sudah ingin memiliki cucu, selalu mengajak bermain anak-anak yang datang ke rumah. Sesekali menyindir abangku kenapa tak segera menikah, juga menanyakan padaku apakah tak ingin segera punya anak. Aku yang tak terlalu menanggapi dan belum sanggup menyanggupi perkatannya dulu.

Ayahku, senang mendengarkan lagu-lagu berirama nostalgia, lagu-lagu berbahasa jawa atau Qur’an Syeikh  Gomidi di waktu senggangnya. Sesekali mendendangkan lagu-lagu itu dengan cara yang sangat kurindukan, sesekali mengikuti melantunkan bacaan-bacaan Qur’an. Sekali waktu dia akan menanyakan padaku ini itu ini itu tentang permasalah agama yang sedang dikajinya, yang kujawab dengan itu ini itu ini sepengatahuanku. Sesekali dia akan menanyakan apa-apa yang ku kerjakan, yang tak selalu ku jawab dengan cara yang benar.

Ayahku, dalam pada itu selalu dalam kondisi sehat. Badannya yang berisi, yang selalu mengisi waktu senggang dengan berkebun. Beliau yang mulai menceritakan mimpinya untuk kembali ke desa tanah kelahirannya yang katanya sangat subur dan hijau, untuk menjadi seorang petani. Sampai kami menyadari, ternyata dalam fisik yang terlihat sehat itu terdapat sebuah penyakit yang berbahaya, yang sudah menggerogoti lima tahun lamanya. 

Ayahku, ketika keluar dari ruang dokter bersama ibu, terlihat tertekan karena diagnose tumor ganas itu. Namun dalam perjalanan pulang beliau hanya mengajak kami bersenda gurau dan tertawa-tawa, sehingga tak terasa pedih lagi hati kami akibat berita itu. Sehingga bisa kami tersenyum meski sebelumnya mata memerah. Sehingga kami belajar bagaimana tegar terhadap suatu masalah.

Ayahku, akhirnya berjuang dengan mencari berbagai pengobatan, tapi tak sabar menunggu hasilnya karena tekanan perasaan sakit itu. Kejadian-kejadian rumit yang sebegitu rupa sehingga pada akhirnya membuat kami menyerahkan semuanya pada ilmu kedokteran modern yang pada kenyataannya selalu mengutamakan opsi operasi dibanding yang lainnya.

Ayahku, akhirnya dirawat di rumah sakit pusat negeri ini. Sampai suatu waktu datang sebuah surat persetujuan operasi yang terpaksa ayah dan aku tanda tangani untuk menerima semua resiko yang bisa terjadi. Hingga akhirnya beliau terbaring lemah tak bisa berbicara lagi setelah operasi yang kelihatannya berhasil itu. Hingga begitu banyak dan macam obat yang harus diterimanya. Sampai ginjalnya gagal berfungsi, sehingga racun menyebar diseluruh tubuhnya. Air matanya menetes dan hanya menggeleng setiap kali ibu usap. Sehingga kami yakin ada dosanya yang diluruhkan karena perjuangan atau kesabarannya menahan perasaan sakit itu, selama dua bulan di rumah sakit itu.

Ayahku, seolah-olah hanya memikirkan kami pada masa terakhirnya, setelah beberapa hari dinyatakan kritis itu. Sehingga ketika ibuku mengatakan merelakannya, beliau baru bersedia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Untuk menghilangkan sama sekali rasa sakitnya, dalam keadaan tenang. Selama masa itu ibu menjaga dan memaninya tanpa pernah merasa lelah, tanpa pernah satu kalipun mengeluh, juga tak pernah menunjukkan rasa putus asa akan sebuah kesembuhan.

Ayahku, mungkin tak tau isi pikiranku, bahwa aku merasa tak mungkin bisa menjadi seorang dokter yang layak untuk merawatnya. Yang sangat menghargai arti sebuah nyawa. Yang bisa menganggap seorang pasien seperti keluarganya sendiri. Yang bersedia meluangkan waktu untuk berbicara seperti seorang teman. Yang tidak membedakan seorang pasien berdasarkan uang yang dimiliki. Yang bersedia memberikan senyum yang tulus bukan karena pekerjaan. Yang bisa memilih kata-kata agar tidak menjadi bualan karena berusaha menentramkan dan tidak pula menyakiti karena menyampaikan kebenaran. Yang tidak memberi solusi dengan memberikan obat bagi setiap gejala secara parsial. Yang memahami ada faktor psikis dalam setiap tindakan fisik. Yang tidak menganggap memahami probabilitas, dan menyampaikannya dengan layak, sebagai kemewahan.

Ayahku, mungkin tak mengetahui perasaan anak-anaknya. Perasaan yang campur aduk karena kehilangan. Yang sedang belajar menerima setiap musibah meski kelihatannya selalu bertambah. Yang berusaha memandang semua dari sudut paling baik yang mungkin dilakukan. Yang terkadang merasa menyesal karena belum bisa mempersembahkan apapun yang terbaik seperti yang beliau inginkan.


Ayahku, mungkin tak bisa melihat. Masa-masa ketika aku memeluk dan menenangkan kakak perempuannya yang meratapi kepergiannya. Masa-masa ketika aku menenangkan ibuku yang menangisi kepergiannya. Masa-masa ketika kami terduduk lesu dan tak berdaya mengubah satu dua tindakan di masa lalu. Masa-masa ketika mereka melamun sejenak ketika membicarakannya. 

Ayahku, tentu tak bisa melihat rumahnya yang ramai didatangi oleh para tetangga selama seminggu penuh setelah kejadian itu. Tamu-tamu yang datang sampai memenuhi halaman pada hari ke-empat puluh sejak kepergiannya. Orang-orang yang membacakan ayat suci Al Quran dan mendoakan kebaikan baginya. Pak Lurah kenalannya yang selalu datang di setiap kesempatan. Teman-teman dekatnya yang turut menyesal merasa kehilangan. Anaknya yang berkelimpahan air mata saat mengingat dan mendoakannya.

Ayahku, pasti mengetahui betapa sempurna dan mulianya agama kami. Bahwa ketika buku hidupnya telah ditutup masih akan ada amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang bisa menambah catatan kebaikannya. Bahwa suatu saat akan ada masanya ketika dia dan keluarganya bisa dipertemukan kembali. 

Ayahku, mungkin bisa merasakan kehadiran anak-anaknya di sekitar pusaranya. Yang terkadang berbicara sendiri seolah-olah beliau ada dan mendengar, yang dalam bicaranta sering mendadak terbata dengan mata berkaca-kaca, yang hanya bisa menyampaikan rindu dengan taburan bunga-bunga yang basah, yang hanya memperlihatkan bakti dengan membersihkan rumput-rumput liar, yang hanya menyampaikan salam dengan doa dan harapan.

Ayahku, boleh jadi bukanlah ayah terbaik di dunia. Tapi tentu saja beliau tetap ayah terbaik untukku, yang telah melimpahkan kasih sayang, perhatian, pengetahuan, harapan dan segala yang dia punya kepada anak-anaknya. Yang menatap anak-anaknya dengan perasaan senang dan bangga, meski tak selalu mengatakannya...


Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Ampunilah kesalahan dan kekhilafannya, dengan ampunan yang menyeluruh
Limpahkanlah rahmat kepadanya, dengan rahmat yang luas
Peliharalah dia dari siksa kubur dan azabnya dengan nikmat, rahmat, cahaya, dan keindahan hingga hari berbangkit nanti.

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Jadikanlah Al-Qur’anul Karim dan amalnya sebagai penghibur di alam kuburnya,
Sebagai pemberi syafaat di hari kiamat
Sebagai sinar, naungan dan penunjuk jalan pada hari perhimpunan semua makhluk
Sebagai pemberat amal baiknya pada hari penimbangan
Sebagai cahaya dan penuntunnya pada shirath
Sebagai penutup dan penghalang terhadap siksa neraka
Dan sebagai temannya di dalam surga.

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Engkaulah sebaik-baik pemberi peristirahatan, sebaik-baik pemberi nikmat, sebaik-baik pemberi rahmat.
Kami memanjatkan doa dengan penuh pengharapan kepadamu agar dia senantiasa mendapatkan syafaat, nikmat, dan rahmat.

Amin, Yaa Rabbal’alamin

Friday, January 20, 2012

Dialog Isa AS dengan Iblis

Yesus menjawab:  “Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, aku mempunyai rasa welas asih kepada setan, setelah mengetahui keterusirannya dan aku juga mempunyai welas asih kepada umat manusia yang tergoda oleh setan sehingga berbuat dosa. Oleh karena itu, aku berdoa dan berpuasa untuk Tuhan kita, yang telah berfirman kepadaku melalui malaikat-Nya, Gabriel: “Apa yang ingin engkau peroleh, O Yesus, dan apa permohonanmu?” Aku menjawab: ”Rabb, engkau mengetahui apa yang menyebabkan setan berbuat kejahatan, dan bahwa melalui godaan-godaannya, banyak umat manusia yang binasa; dia adalah makhluk-Mu, Rabb, yang telah Engkau ciptakan; oleh karena itu, Rabb, berilah dia Rahmat-Mu.”

Tuhan menjawab:  ”Yesus, perhatikanlah bahwa aku akan mengampuni dia. Hanya dengan mengucap:  “Rabb, Tuhanku, aku telah berdosa, berilah aku rahmat-Mu.” dan Aku akan mengampuninya dan mengembalikannya dalam keadaan semula.”

“Aku merasa sangat gembira,” Kata Yesus, “Ketika mendengar ini, merasa yakin bahwa aku telah membuat perdamaian ini. Oleh karena itu, aku memanggil setan, yang kemudian datang berkata: “Apa yang harus aku lakukan untukmu, O Yesus?”

Aku menjawab: “Engkau akan melakukan ini demi dirimu sendiri, O setan, karena aku tidak menyukai layananmu, tetapi demi kebaikanmu sendiri, aku memanggilmu.”

Setan menyahut: “ Jika engkau tidak menghendaki layananku, maka begitu pula aku, tidak menghendakimu; karena aku lebih mulia daripada engkau, oleh karena itu, engkau tidak layak melayaniku-engkau tercipta dari tanah, sedangkan aku dari ruh.”
“Marilah kita tinggalkan ini,” Ucapku, “dan jelaskan kepadaku apakah tidak sebaiknya jika engkau kembali kepada keindahanmu dan keadaanmu pertama kali. Harus engkau ketahui bahwa Malaikat Michael di hari pengadilan nanti, mau tidak mau, akan menebasmu dengan pedang Tuhan sebanyak seratus ribu kali, dan setiap tebasan akan memberimu rasa sakit yang pedih setasa dengan kepedihan sepuluh neraka.” 

Setan menyahut: “Kita akan lihat nanti, siapa yang dapat berbuat lebih; pastinya, aku mempunyai banyak malaikat di sampingku dan para penyembah berhala yang paling potensial. Yang akan mengganggu Tuhan, dan Dia akan mengetahui betapa besar kesalahan yang Dia buat dengan mengusirku demi segumpal tanah yang hina.”

Kemudian aku berkata: ”O setan, pikiranmu sangat lemah dan engkau tidak menyadari apa yang engkau ucapkan.”
Kemudian setan, dengan nada mengejek, menganggguk-anggukkan kepala, berkata: “Baiklah, sekarang marilah kita buat perdamaian antara aku dengan Tuhan, dan menurutmu, O Yesus, apa yang harus dilakukan, karena engkau berpikiran cerdas.”
Aku menjawab: “Hanya dibutuhkan dua kalimat untuk diucapkan.”

Setan menyahut: “Dua kalimat?”

Aku menjawab: “Begini: Aku telah berdosa; berilah aku rahmat.”

Setan kemudian berkata: “Sekarang, aku akan berdamai jika Tuhan mengucapkan dua kalimat itu kepadaku.”

“Sekarang, pergilah dariku,” kataku, “O makhluk yang terkutuk, karena engkau adalah dalang kejahatan bagi semua ketidakadilan dan dosa, tapi Tuhan-lah yang Maha Adil, tanpa suatu dosa.” Jawab Yesus.

Setan pergi sambil tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Tidak demikian halnya, O Yesus, tapi engkau menjelaskan suatu kebohongan untuk menyenangkan Tuhanmu.”

“Sekarang pikirkan,” kata Yesus kepada muridnya, “Bagaiman dia akan memperoleh Rahmat.”

Catatan:
Dialog ini adalah pengajaran Yesus kepada murid-muridnya, yang dikutip dari buku terjemah Injil Barnabas. 

Tuesday, May 24, 2011

Jeff the Atheist

Sebuah percakapan dengan seorang asing sepanjang Bandara Soeta sampai Gambir beberapa waktu lalu membuatku berpikir kembali tentang keberadaan islam di negeri ini. Orang itu kuketahui kemudian bernama Jeff, seorang pria usia sekitar empat puluh yang katanya berasal dari Canada. Dia tidak bisa bahasa Indonesia, sehingga dengan bahasa inggris yang seadanya aku menanggapi berbagai pertanyaanya tentang islam.

Dia berpenampilan resmi, duduk disebelahku dengan kemeja rapi ke dalam celana bahan dan bersepatu kulit. Saat dia itu sedang membaca sebuah buku dari tablet PC nya, sebuah buku filsafat entah apa, yang menjadi awal percakapan kami ketika kutanyakan buku apa yang sedang dibacanya. Kukatakan bahwa aku juga suka membaca buku, beberapa buku filsafat juga kubaca saat waktu senggang. Dia terlihat sedikit terkejut, katanya orang Indonesia tidak suka membaca, dilanjutkan dengan orang Indonesia tidak suka mengajukan pertanyaan. Kukatakan bahwa beberapa orang Indonesia suka membaca dan beberapa mengajukan pertanyaan. Lalu dia menanyakan adakah filsuf yang berasal dari Indonesia, kukatakan bahwa beberapa yang kuketahui mendasarkan filsafatnya pada islam. Dari situlah bermulanya perdebatan kami mengenai islam.

Dia menunjukkan ekspresi heran ketika kukatakan bahwa aku beragama islam. Kenapa? Tanyanya, dia mengatakan bahwa kebanyakan orang Indonesia beragama islam karena orangtuanya islam, itu tidak adil. Kukatakan bahwa pada awalnya memang kami memeluk islam karena keturunan, lalu kami mulai mencari, dan mempelajari agama kami, dan mulai memberi makna pada keberagamaan kami. Kukatakan bahwa aku juga sudah mempelajari agama lain, aku membaca perjanjian lama, perjanjian baru, injil barnabas, juga cerita tentang Budha.

Ketika dia bertanya apakah aku membaca Quran, kata demi kata, kujawab bahwa tentu aku membacanya, secara bertahap. Lalu dia memintaku  untuk memberitahu jika memang ada ajaran moral dalam Quran? Ku kutip salah satunya, bahwa Al Quran menganjurkan untuk menyayangi anak yatim, dan memberi makan orang miskin, seperti dalam surat Al Ma’un. Lalu dia membantah bahwa tanpa membaca Quran dia sudah mengatahui bahwa tidak baik untuk mengambil harta anak yatim, itu ukuran moral yang sudah disepakati banyak orang. Lalu dia mulai mengutip beberapa ayat, yang menurutnya berarti bahwa orang islam dianjurkan untuk membunuh orang yang berbeda keyakinan. Dia mengatakan bahwa agama merupakan salah satu penyebab kehancuran peradaban. Dia mengutip terjadinya pembunuhan terhadap Jemaah Ahmadiyah oleh sekelompok massa baru-baru ini, yang pelakunya tidak diadili.

Permasalah ini membuatku cukup bingung untuk menjawab, karena itu adalah massa yang marah disebabkan oleh sekelompok orang yang dianggap melanggar aqidah, dan mungkin penyebabnya lebih kompleks dari itu. Kukatakan bahwa aku tak akan membunuhnya karena dia berbeda keyakinan. Kukatakan bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang benar terhadap ayat Quran harus dengan cara yang benar, sesuai dengan latar belakang turunnya dengan membedakan makna yang tersirat dan tersurat.

Dia menanyakan, jika dia mengatakan bahwa dia mendengar suara-suara dari Tuhan, dan mengatakan bahwa dia adalah seorang nabi, akankah aku percaya? Kubilang bahwa aku tak mengenalnya, dan tentu tak akan percaya. Dia lalu mempertanyakan berbagai peristiwa yang dipercayai umat muslim, seperti tidak mungkin bahwa bulan pernah terbelah. Hanya sedikit pengetahuanku tentang itu, sehingga kukatakan bahwa, hanya karena belum ada pembuktian menganainya, bukan berarti hal tersebut tidak pernah  terjadi.

Kutanyakan padanya, dalam keberagaman cara pandang dan berpikir manusia, tidakkah dia membutuhkan sesuatu yang benar-benar bisa dipercaya, sesuatu yang mengandung kebernaran universal? Ajaran moral yang universal seperti dalam agama? Dia mengatakan bahwa dia hanya mempercayai apa-apa yang dirasakan oleh indra, logika, dan dibuktikan oleh science. Kutanyakan padanya, apakah dia percaya cinta? Tidakkah dia merasakannya tanpa harus melihatnya? Dia mengatakan bahwa cinta tidak eksis, bahwa itu hanyalah salah satu bagian dari syaraf.

Dia mengatakan bahwa islam tidak mendukung ilmu pengetahuan, hal itu ditunjukkan dengan tingkat illiteracy di Indonesia yang sangat tinggi, perempuan di Iran yang tidak bisa sekolah, dibandingkan dengan di Norwegia yang 98 persen penduduknya mendapat kesenangan dari membaca. Dia juga mengatakan bahwa islam memilih antara fakta sejarah yang diajarkan dan disembunyikan, dia menyinggung teori evolusi Darwin yang disanggah secara tidak tepat atas nama agama, dia menyinggung Averos, membandingkan dengan Socrates dan sebagainya.

Dia lalu menunjuk, lihatlah orang-orang miskin yang dipinggir jalan itu, dan tanyakan apa agamanya. Juga Gayus tambunan, tanyakan apa agamanya. Dilanjutkan dengan mengemukakan bahwa agama tidak membawa kebaikan bagi kehidupan, justru membawa kehancuran dan menghambat ilmu pengetahuan. Aku hanya bisa terdiam, kukatakan bahwa tidak adil membandingkan antara Indonesia yang pada saat di Eropa sudah memulai revolusi industry, Indonesia masih terpecah belah merangkak berjuang dari penjajahan, lantas menyalahkan islam atas itu semua. Kupikir islam bukanlah orang-orang yang ditunjuk itu, atau negara Indonesia, atau negara-negara Arab itu.

Setelah percakapan panjang yang tidak memiliki titik temu itu, sampailah kami di Gambir, dia menganjurkanku untuk membaca sebuah buku berjudul “Why I’m not muslim?” karangan Ibn Warraq. Kukatakan bahwa aku akan mencobanya dan menyarankannya untuk melihat islam dengan lebih baik, dia harus melepas kacamatanya itu. Harus mulai melihat dari sumber-sumber yang bukan hanya berasal dari barat, karena mungkin sejarah agama dan kekuasaan di barat tidak begitu baik, dan orang yang menulis apa-apa yang dibaca orang barat bisa jadi terlalu menggunakan sudut pandang yang mendiskreditkan islam. Dia bahkan belum membaca satupun buku yang ditulis Karen Amstrong.

Nice to meet you.” katanya. Aku turun dari Bus dengan menyisakan banyak pertanyaan dan beban pikiran. Ini bukan pertama kalinya aku berdialog mengenai topic ini dengan orang barat, tapi kali ini aku merasa tidak terlalu berhasil membela agama ini, karena keterbatasan penguasaan bahasa, keterbatasan pengetahuan, karena keadaan beragamaku yang belum baik, serta keterbatasan kondisi dimana memang beberapa hal yang dijadikan acuan adalah hal-hal yang di permukaan terlihat benar.

Lihatlah kondisi di negeri ini sekarang, dengan mayoritas warganegaranya muslim ternyata tingkat korupsinya juga mayoritas. Ditambah dengan pergeseran nilai belakangan ini, dimana kelompok pengajian tertentu malah identik teroris. Orang-orang yang memandang dengan kacamata barat yang skeptis, tentu sulit untuk memahami bahwa agama islam adalah rahmat bagi seluruh alam, karena ciri-ciri yang muncul dipermukaan belum menggambarkan itu semua. Jika kita melihat sebuah rumah yang dari halamannya saja terlihat berantakan bukankah akan berasumsi bahwa bagian dalam akan tidak kalah berantakan. Bukankah kaum muslim di negeri ini perlu meninjau kembali identitasnya sebagai muslim?

Monday, May 17, 2010

ar rahmaan



Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang kesan. Karena yang saya bicarakan adalah sebuah surat di dalam Al Qur’an, maka saya hanya berani mengungkapkan sebagai kesan. Penguasaan bahasa yang terbatas serta penelusuran historis dan simbolik yang belum bisa saya lakukan, ditambah kondisi beragama saya yang tidak terlalu baik, membuat saya tidaklah dalam kapasitas yang tepat untuk membuat sebuah tafsir.

Meski begitu, saya sudah memutuskan untuk maju satu langkah, dengan mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Saya maju dua langkah dengan mempercayai kebenaran ajaran islam, para rasul, para malaikat, Al Quran berikut kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, keberadaan alam akhirat serta takdir.

Dan ini adalah kesan menurut saya. Sesuatu yang terlintas di kepala berdasarkan sesuatu yang lainnya yang telah lebih dahulu mengendap di kepala saya sebagai pengalaman dan pengetahuan. Kesan saya ketika beberapa tahun yang lalu, membaca surat ini adalah betapa indahnya. Keindahan itu terasa dari nada-nadanya saat membaca dan ketika melihat terjemahnya keindahan itu saya rasakan juga dari makna kata-katanya. Berikut ini sebagian kutipan nya.

(Tuhan) Yang Maha Pemurah (1)
Yang telah mengajarkan Al Qur'an (2)
Dia menciptakan manusia (3)
Mengajarnya pandai berbicara (4)
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan (5)
Dan bintang-bintang dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya (6)
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) (7)
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (9)
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya) (10)
Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang (11)
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya (12)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (13)

Sang Maha Pemurah yang telah menciptakan manusia, mengajarkan kepada isi Al Qur’an dalam rangka menuntun kita menjalani kehidupan. Sang pencipta memberikan petunjuk kepada ciptaannya, karena tanpa petunjuk, manusia akan kebingungan menjalankan peranannya di bumi ini. Sang pencipta juga telah menjadikan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang bisa mengekspresikan isi pikiran dan kemauan dengan cara berbicara. Berbicara atau berkomunikasi merupakan symbol dari pengetahuan dan kecerdasan pikiran manusia dibanding makhluk hidup lainnya.

Matahari, bulan, bintang dan seisi alam semesta berjalan berdasarkan aturan, sesuai perhitungan yang telah ditetapkan. Dan diantara bumi dan benda langit telah ditetapkan keseimbangannya yang belakangan telah diformulasikan dalam rumus-rumus oleh fisikawan. Agar manusia tetap menjaga keseimbangan tersebut. Agar manusia tidak merusak hukum kesetimbangan tersebut, hidup dalam harmoni. Bumi ini telah diciptakan dan dipersiapkan untuk kedatangan manusia dengan kondisi ideal, sumber makanan dari tumbuhan yang kaya variasi yang bukan hanya mengandung gizi, tetapi memuaskan indra pengecap dan pengihatan kita, untuk mendukung kehidupan kita dan seluruh makhluk hidup lainnya.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat inilah yang menjadi penekanan dalam surat ini, yang diulang berkali-kali pada ayat-ayat berikutnya setelah menceritakan mengenai penciptaan, surga, dan neraka, yang kalau dirangkum hanya seiktar sepertiga yang menceritakan kehidupan dunia dan dua pertiga sisanya adalah kehidupan akhirat. Kalimat ini ditafsirkan dengan beragam makna dengan kekayaan kata-kata bahasa arab dari kata “nikmat” dan beragam penjabaran pada kata “dustakan”.

Nikmat, bisa juga diterjemahkan sebagai manifestasi, mukjizat, atau kekuasaan Tuhan dalam konteks yang berbeda pada ayat-ayat selanjutnya. Sedangkan mendustakan bisa terjadi dalam beberapa tingkatan antara lain: Tidak mengakui keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta yang biasanya kita temukan pada penganut materialisme, tidak mengakui kebenaran ajaran agama atau atheis yang belakangan semakin banyak kita jumpai, dan pada tingkatan yang lebih terselubung adalah tidak berterimakasih atas nikmat yang telah diperoleh.

Tetapi mengapa pertanyaan ini bernada negatif? Dalam bagian lain disebutkan karakter yang dominan pada diri manusia adalah makhluk yang cenderung zalim, tergesa-gesa, bodoh, banyak membantah dan mendebat, serta tidak berterima kasih. Seperti dalam surat Al Ma'arij (70: 19, 20, 21) dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung berkeluh kesah, apabila ditimpa kesusahan ia mengeluh dan apabila mendapat kebaikan ia menjadi kikir, dengan beberapa perkecualian yang salah satunya adalah orang-orang yang mengerjakan sholat dan sebagainya. Itulah salah satu yang menyebabkan manusia membutuhkan penuntun dalam menjalankan kehidupannya.

Kehidupan kita selalu berputar, terkadang hal-hal yang kita inginkan tak selalu berjalan sesuai kehendak kita, selain kenyataan bahwa apa-apa yang kita ingingkan belum tentu benar-benar baik bagi diri kita. Maka seberapa sering kita mengeluh terhadap kehidupan ini dan merasa semakin tidak bahagia dari hari kehari. Oke mungkin bahasa saya terlalu negatif. Seberapa sering kita tidak bersyukur atas apa-apa yang kita miliki? Dalam bahasa yang lebih positif lagi, seberapa sering kita bersyukur atas semua nikmat yang telah kita peroleh?

Jika boleh mengeluh, saya seringkali merasa iba jika melihat berita di televisi dimana sering meliput pertikaian antar manusia karena hal-hal sepele yang dilanjutkan pertikaian antar keluarga dan antar kampung bahkan antar Negara karena konflik kepentingan. Okelah, mungkin memang sudah semestinya begitu, karena toh manusia sama-sama memperjuangkan kepentingan yang menurutnya layak diperjuangkan dan itu semua bisa berbeda-beda tergantung pada sudut pandang, latar belakang pengalaman dan pendidikan. Tapi bolehlah jika saya merasa heran pada status orang-orang yang memprotes kedatangan hujan misalnya, atau mengeluhkan sejumlah hal-hal remeh lainnya.

Bukankah sudah ditakdirkan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung berkeluh kesah, jadi kenapa harus protes? Benar sekali, tapi telah diajarkan juga kepada kita untuk bisa memanfaatkan potensi kita untuk lebih cenderung bersyukur daripada kufur. Menurut saya, tak apalah sesekali mengeluh, karena itu memberi ruang bagi seseorang lain dalam kehidupan kita untuk menjalankan peranannya menentramkan kita, untuk saling berbagi. Tapi jika setiap hari kita terlaru larut dalam keluhan-keluhan, rasanya lambat laun itu akan menjerumuskan kita, yang pada akhirnya bisa membuat kita lupa untuk berterima kasih pada karunia Tuhan atas diri kita.

Dalam rangka inilah, kesan saya terhadap surat yang indah ini, lebih spesifik lagi, terhadap ayat: “Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” ini, saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri. Agar lebih mensyukuri nikmat di sekeliling saya, lebih fokus pada apa-apa yang saya miliki, daripada terus menyesali apa-apa yang tidak ada dan yang telah hilang dari kehidupan saya. Jika suatu saat saya terlupa, apa boleh buat? toh itu bukan berarti saya tidak berusaha...