Showing posts with label hms itb. Show all posts
Showing posts with label hms itb. Show all posts

Saturday, June 27, 2015

Wisuda di HMS ITB


Setelah menyaksikan dan mengalami berbagai prosesi wisuda di berbagai universitas di dalam dan luar negeri, muncul keinginan untuk menceritakan salah satu prosesi wisuda yang pernah saya alami, salah satu yang terbaik, adalah prosesi wisuda di ITB, khususnya di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB.

Bagian 1 Persiapan 

Masa-masa kuliah di ITB itu adalah masa-masa sulit, masa-masa mengerjakan tugas-tugas kecil, tugas besar, tugas sangat besar, masa-masa menyelesaikan tugas kerja praktek, maupun tugas akhir, dalam  menjalaninya satu demi satu teman berguguran. Sebagian mahasiswa yang tabah sampai akhir, dengan sedikit keberuntungan akhirnya bisa menyelesaikan masa-masa sulit sampai tiba waktunya wisuda. 

Wisuda di ITB biasanya setahun tiga kali, periode bulan Maret, Juli dan Oktober yang dengan demikian membagi golongan wisudawan menjadi beberapa kategori.
  • Wisudawan periode juli (3.5 tahun) biasanya terdiri dari satu dua orang jenius di setiap angkatan;
  • Wisudawan periode Oktober (4 tahun) biasanya wisuda untuk mahasiswa taraf pintar sedikit dibawah jenius;
  • Wisudawan periode Maret (4 Tahun lebih sedikit) adalah untuk orang-orang berdisiplin tinggi,
  • Wisudawan periode Juli (4.5 tahun) adalah untuk orang-orang yang asyik, gaya, gaul, funky, trendy;  
  • dan wisudawan bulan dan tahun berikutnya adalah untuk mahasiwa yang terlalu menikmati menjadi mahasiswa, dst.
Waktu itu, saya dan beberapa teman seangkatan termasuk kategori yang berhasil lulus bulan Juli tahun 2006. 

Satu dua bulan menjelang hari wisuda, biasanya ketua himpunan menunjuk salah satu anggota angkatan paling muda dan paling sial, paling tumbal, untuk menjadi ketua panitia. Menjadi ketua panitia acara wisuda itu berarti harus menghadapi masa-masa sulit, dengan effort tinggi, penuh onak dan duri untuk mempersiapkan banyak hal terkait acaranya. 

Setelah persiapan matang, maka diundanglah para wisudawan untuk mengikuti presentasi. Biasanya panitia akan duduk rapat rapi di muka whiteboard kecil dan menelpon anggotanya satu-satu yang belum datang karena presentasi belum dimulai sebelum semua anggota panitia datang, atau setidaknya 50% dari satu angkatan hadir. 

Wisudawan yang biasanya terdiri dari dedengkot-dedengkot yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan seolah turun gunung, berdatangan satu persatu lalu duduk di tempat yang lebih tinggi seolah menunjukkan supremasi, di kursi, amben kecil di himpunan, duduk di tangga ke lantai dua, nangkring di jendela atau sekedar berdiri menutup pintu keluar, sehingga panitia kegiatan tidak ada yang bisa kabur. 

Presentasi itu biasanya diawali dengan pembukaan ketua panitia yang terbata-bata menjelaskan susunan panitia dan rencana kegiatannya. Proposal yang disodorkan ke para wisudawan biasanya akan dikembalikan dengan catatan dari salah seorang calon wisudawan: 
“Analisis kondisi, kebutuhan, latar belakang dan kosep acara yang kalian susun belum jelas! Tolong proposalnya diperbaiki.” Itu pastilah karena wisudawan tadi sering ditolak proposal tugas akhir nya, san mengalami trauma, sehingga mencontoh perilaku dosen pembimbing. 

Kalau acara yang disusun sedemikian parah biasanya akan ada satu dua wisudawan yang berkomentar, “Belom matang konsep kalian ini, belom sius (serius) awak tengok, kalo gini caranya kalian pakai lagi lah celana training dan kaos, kita ospek ulang.” Itu tentulah karena wisudawan itu dedengkot tim materi atau danlap pada saat kaderisasi himpunan. 

Tetapi jika konsep acara sudah bagus, dan persiapannya terlihat cukup matang, kendala ada pada bagian anggaran. 

Misalnya wisudawan diwajibkan membayar uang wisuda 150 ribu perorang, maka panitia akan dibantai sampai uang iuran itu menjadi separuhnya. Separuh sisanya harus panitia yang mencari dana dengan cara ngamen di warung pinggir jalan, jualan kue, jualan baju bekas, jualan diri dsb. Bahwa panitia kadang-kadang harus nombokin dari kantong pribadi, sudah menjadi ketentuan umum. 

Presentasi rencana acara wisuda yang dimulai jam 7 malam biasanya berakhir setelah mencapai sepertiga malam terakhir. Sampai terjadi kesepakatan antara pihak panitia dan pihak wisudawan, atau lebih tepatnya sampai panitia pusing, lelah, dan frustasi sehingga tunduk pada kemauan wisudawan, bahwa mereka harus tersiksa dan wisudawan harus bahagia. 

Setelah satu, dua, tiga kali presentasi yang kadang-kadang diulang, membahas kaos, plakat, dokumentasi, makanan, selokan mana yang akan dibendung, berapa ribu air plastik yang akan diisi, berapa ratus koran yang akan dilinting, dsb. 

Jika persiapan lancar, maka barulah diselenggarakan acara wisudanya. Wisuda biasanya terdiri dari dua acara besar, wisnite (malam wisuda) dan wisday (hari wisuda).


Bagian 2 Wisnite

Malam wisuda ada dua, yaitu malam wisuda yang dirayakan di himpunan untuk anggota himpunan yang akan wisuda dan malam wisuda yang diadakan oleh penyelenggara jurusan. 

Malam wisuda di jurusan biasanya mengundang orang tua untuk bersilaturahmi dan makan-makan, acaranya cukup standar: pembukaan, kata pengantar, organ tunggal dengan lagu-lagu kenangan untuk menghibur orang tua, pesan dan kesan wisudawan berprestasi, yang mana pastinya bukan saya.. 

Acara yang lebih menarik biasanya adalah wisnite yang dilaksanakan oleh himpunan. 
Wisudawan dihibur dengan sebuah panggung sederhana di depan sekretariat HMS ITB, aneka bakat-bakat terpendam muncul di permukaan pada acara ini. Tari-tarian entah apa, kabaret yang lucu-lucu, lagu-lagu dari band-band legendaris himpunan, aneka video profil wisudawan, video testimony untuk wisudawan yang kocak-kocak. 
Pada saat itu, ada beberapa adik kelas yang menyumbangkan video tribute kepada Yows Jambi Morrison. Bintang, Reza, Uto, Mono dalam band the widows, sebagai penghargaan kepada mantan Kepala Departemen Kesra yang menyukai band-band yang berawalan huruf the, the doors, the strokes, the brandals, dsb. 

Video pertama parody klip the strokes- last nite
 Video kedua paradoy klip the doors - light my fire

Pada acara ini biasanya wisudawan tinggal duduk manis di karpet yang digelar di depan panggung, menikmati semuanya. Saking eksklusifnya, wisudawan hanya perlu memanggil pendamping (LO) untuk mengambilkan aneka makanan dan minuman yang diinginkan. Wisudawan tinggal menunggu makanan itu datang. 
Setelah aneka pertunjukan hiburan, dilanjutkan dengan acara intinya, sepatah dua patah kata oleh para wisudawan. Wisudawan satu persatu naek ke panggung, duduk rapi dan mulai mengucapkan sepatah dua kata ajaib. Ajang ini menjadi media menceritakan pengalaman, keluh kesah, lelucon segar, bahkan kadangkala curcol kisah cinta abadi yang terluka selama berada di himpunan. Biasanya bos bos favorit akan mendapatkan sorakan paling kencang. Semakin malam acara akan berakhir, semakin syahdu cerita yang terungkapkan.  
Setelah berakhir seluruh acara, maka ditutup dengan band yang mengiringi lagu mars HMS ITB yang dinyanyikan beramai-ramai, semua anggota himpunan dan semua wisudawan pada bernyanyi, sambil berteriak, melompat, mengepalkan tangan ke atas dan moshing, apa yang di istilahkan oleh Jim Morrison sebagai penyembuhan neurosis komunal.

Bagian 3 Wisuda

Wisuda biasanya dimulai dengan pagi-pagi buta para wisudawati menuju salon untuk menata rambut dan merias wajah supaya menjadi sulit dikenali, tetapi bagi para wisudawan, langkah itu bisa di skip dengan mandi seadanya, berpakaian serapinya dan langsung berangkat ke Sabuga ITB. 

Satu hal yang harus menjadi catatan adalah, kenakan toga mu sesaat sebelum masuk gerbang, dan apabila ada fotografer jalanan yang memfoto saat berjalan memasuki sabugha, persembahkan senyum terbaikmu, jangan pura-pura cuek dan tidak mau difoto. Hal ini supaya setelah acara berakhir bisa mendapatkan beberapa foto manis dengan harga borongan. 

Acara wisuda dari rektor berjalan dengan khidmat, saat pertama kali masuk ITB diawali dengan penyambutan di Sabugha, dan saat selesai kuliah juga diakhiri dengan pelepasan wisuda di Sabugha. Rasa bahagia itu tak terbayangkan, tak terlukiskan. Kulminasi dari serangkaian kompleksitas perasaan dan perjuangan yang berakhir bahagia. 

Sehingga wajar jika hampir semua wajah terlihat bahagia, satu dua wajah yang terlihat tak bergembira itu mungkin hanya karena tak bisa menerima kenyataan bahwa cita-citanya untuk menjadi insinyur (Ir.) supaya namanya berubah menjadi penuh wibawa sebagaimana Ir. Soekarno harus berakhir dengan menjadi sarjana teknik (ST), Soekarno, ST? 



Wisudawan yang wajahnya lempeng, biasa-biasa saja, mungkin karena tidak punya pendamping wisuda (PW), seperti pada teman-teman saya itu, bukan pada saya. Seperti mereka yang telah menjalani berbagai varian fase yang tak menyenangkan selama masa kuliahnya, STMJ, Semester perTama Masih Jomblo, Semester Tiga Masih Jomblo, Semester Tujuh Masih Jomblo, Sudah ST Masih Jomblo, yang siap menghadapi ancaman Sampe Tua Masih Jomblo. 

Wisuda biasanya berjalan syahdu dengan aneka lagu paduan suara, orchestra, dan aneka macam pidato, sambutan, dsb. Setelah itu rektor yang baik hati menyelamati dan menyalami satu persatu wisudawan, terlihat makin lama senyumnya sedikit berkurang akibat bersalaman dengan seribu wisudawan, berat memang tugas beliau. 

Biasanya inilah acara puncak sebuah wisuda, yang ditutup dengan foto-foto bersama. Tetapi bagi anggota HMS ITB, acara utama baru menyusul setelah keluar gedung. Dari gedung kita diarahkan untuk berganti pakaian menggunakan kaos dan celana training. Lalu di luar sudah berkumpul pasukan pengawal dengan jaket hijau, mereka harus melalui masa-masa menjadi pengiring ini, harus memasang tampang garang.



Dengan tampang tidak kalah garang, kita para wisudawan pun mengajak mereka bertanding push up. Para wisudawan yang perutnya sudah mulai membuncit, sudah lama tak berolahraga.

Setelah itu diadakan acara arak-arakan untuk menggiring wisudawan ke lapangan kampus tempat pembantaian akan dilakukan. Kali ini jalurnya melewati Lapangan Sabugha – Terowongan – TVST – sampai ke depan tugu Soekarno – Fisika – hingga ke gerbang ganesha dan lapangan parkir sipil. 
Arak-arakan ini temanya berbeda-beda untuk setiap jurusan, biasanya jurusan seni rupa akan menampilkan atraksi seni dengan kostum terbaiknya, biasanya wanita-wanita jurusan biologi akan menjelma menjadi aneka kupu-kupu cantik, burung, atau makhluk indah lainnya untuk mengiringi wisudawan, senada dengan jurusan farmasi, industri, arsitek, dsb yang mempertunjukkan acara teatrikal tari-tarian demi mengiringi seniornya, para wisudawan yang mengendari mobil atau berjalan santai seraya melambaikan tangan dengan senyum sumringah layaknya iringan pejabat kenegaraan. 

Sedangkan untuk HMS ITB, tentunya hanya ada wajah-wajah garang yang belum sarapan dalam barisan yang berlari-lari sambil bernyanyi-nyanyi. Seolah hendak menunjukkan sisi maskulinnya jurusan yang sudah takdirnya kebanyakan populasi pria. Tentunya wisudawan harus ikut berlari dan bernyanyi, susah buat melambai sambil tersenyum ala pejabat kenegaraan. 

Di tengah jalan, bertemu pula dengan Himpunan Jurusan Tambang dan Geologi. Jurusan favorit yang dari dari kajian historisnya memang sudah suratan bermusuhan dengan jurusan Sipil. Karena jalannya sempit dan iringan tidak mau saling mengalah, berantamlah jadinya. Biasanya petugas keamanan kampus sudah mempersiapkan kamera untuk merekam aksi berantem mahasiswa, rektor sudah memberikan edaran siap men DO jika terjadi tawuran. Tetapi saat di lapangan, tetap gairah muda melawan semua aturan itu, akhirnya berantam antar jurusan, pengiring wisuda dengan pengiringnya, wisudawan dengan wisudawan. Setelah berantam selesai (entah bagaimana bisa selesai) baru arak-arakan dilanjutkan. 
Sampai di Aula Barat, mendekati area sipil, wisudawan mendapat instruksi jalan jongkok, seolah mengulangi ritual kegiatan ospek yang pernah dilalui, sambil jalan jongkok itu anggota HMS yang beserta para alumni yang hadir memukuli punggung wisudawan yang sedang berjalan jongkok dengan koran yang digulung hingga padat maksimal.


Lihatlah danlap nya yang menggunakan jeans belel sobek yang disambung kembali, yang kaosnya bergambar dirinya sendiri, orang-orang memanggilnya tiada tanding tiada banding. Wisudawan harus mengikuti setiap istruksi darinya. Berjalan jongkok menyeret kaki sambil mengaduh-aduh menahan sakit di punggungnya sampai tiba di lapangan sipil.

Di lapangan sipil sudah tersedia tumpukan bungkusan air yang akan digunakan untuk perang air, biasanya jumlahnya seribu bungkusan lebih, wisudawan harus bertahan di tengah-tengah lapangan digempur oleh lemparan air para anggota HMS. Makin tenar, maka makin habis lah kena lemparan rekan seangkatan, junior, atau senior yang sudah lulus. 






Setelah itu wisudawan diarahkan menuju tempat penghakiman, sambil terus dikelilingi oleh bos-bos yang masih memukul dengan gulungan korannya. Sementara orang tua para wisudawan yang mengenakan jas dan keaya rapi biasanya hanya bisa melongo, kadang ada ibu-ibu yang marah atau menangis dan tidak terima bahwa sudah datang jauh-jauh dari Siantar malah mendapatkan pemandangan anaknya yang habis kena lintingan koran. 

Beberapa orang tertentu yang difavoritkan biasanya akan diculik dan diproses, hingga punggungnya penuh bekas merah, hingga minta ampun. Seorang pendekar dari Sleman pun akan terlihat meringis merasakan ngilu di punggungnya.
 
Acara selanjutnya adalah penghakiman. Akan ada seorang yang dianggap paling berpengaruh, berwibawa, sekaligus lucu yang berperan menjadi seorang hakim, sekaligus jaksa penuntut, sekaligus pembela, membacakan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh wisudawan. Kertas yang dibacanya itu kadang-kadang bisa penjang sampai satu meter. Setelah dibacakan, barulah keluar kata-kata sakti.
“Dengan ini kalian dinyatakan Non-Him!!” yang menyatakan wisudawan sudah lulus dari HMS, menjadi nonhim, anggota luar biasa, atau apalah itu istilahnya. 
Setelah itu dilanjutkan dengan pesan dan kesan wisudawan, satu persatu mengampaikan pesan kesannya, terimakasihnya, atas segala yang pernah dilaui bersama. Atas kebaikan orang tua yang sudah membiayai anaknya hingga menjadi sarjana. Di sinilah sebenarnya momen terbaiknya, dimana setiap orang punya kesempatan untuk mengucapkan satu dua kata yang mencerminkan kulminasi perasaannya, yang tidak semua wisuda bisa mengakomodir. 

Terakhir, acara apapun harus ditutup dengan menyanyikan lagu Mars HMS ITB, sambil berteriak, melompat, mengepalkan tangan ke atas dan moshing..

Penutup

Wisuda itu adalah gerbang, seluruh civitas akademika telah mengantarkan para mahasiswa ke pintu gerbang, menuju sebuah hutan belantara, sebuah tempat yang tak diketahui apa yang ada di sana. Kebersamaan telah berakhir, masing-masing orang akan menempuh jalur hidupnya sendiri-sendiri, mungkin akan ada yang akan jadi tokoh nasional sebagaimana biasanya yang kampus ITB hasilkan, ada yang melanjutkan jadi akademisi, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi pekerja asing dengan bayaran dolar, ada yang menjadi pegawai negeri, ada yang akan jadi koruptor, ada yang jadi seniman, ada yang akan berlebihan dengan arogannya, ada idealis yang akan berubah menjadi pragmatis, dan ada satu dua gelintir yang tetap dengan idealisme nya. Nasib akan membawa ke arah yang berbeda-beda.

Tetapi, pengalaman bersama di kampus sampai dengan wisuda itu menitipkan pesan, suatu saat, ketika menghadapi sebuah kesulitan yang tak terlihat jalan keluarnya, titik wisuda itu mengingatkan, jangan lupa bahwa dulu kita pernah di wisuda di ITB, bahan di HMS ITB. Masuk ITB itu susah, belajar di ITB itu juga susah, soal ujian anstruk matriks elemen hingga itu susah, cari kerja setelah lulus ITB makin susah, jadi apalagi yang susah-susah yang belum kita hadapi? Bukanlah bagian yang susah-susah itu sudah biasa untuk kita lewati. 

Suatu saat, ketika terjatuh oleh realita hidup, ingatlah bahwa kita pernah bernyanyi, sambil mengepalkan tangan ke atas, dengan wajah tengadah menantang badai.. 

“Tak gentar akan rintangan dan cobaan, dengan semangat ayo maju terus, hidup HMS ITB!” 

****

Saturday, June 02, 2012

HMS ITB, Kaderisasi dan Sekitarnya

Pada 30 Mei lalu, HMS ITB merayakan ulang tahunnya yang ke 58, melihat berbagai ucapan di berbagai media sosial, terasa pula nostalgia dengan berbagai pengalaman selama berinteraksi dengan HMS ITB.

Ada yang bilang HMS ITB itu identik dengan OS nya keras.. emang iya. Ada yang bilang HMS ITB itu identik dengan orangnya seram-seram.. emang iya juga.

Secara pribadi, wajah HMS ITB dalam bayanganku mulai terukir sejak SMA. Sewaktu ada kakak kelas yang kuliah di jurusan Tambang ITB datang dalam penyuluhan mengenai ITB, sebagai adik kelas yang cupu, kutanyakan padanya.
“Kakak, bagaimana dengan jurusan sipil ITB, bagus kah?”
“Oh, sipil bagus kok, cewenya banyak, trus OSPEK himpunannya diajarin computer..”
“Horeee.”

Demikianlah, sehingga dalam bayanganku jurusan sipil ini begitu ideal, jurusan yang di impikan oleh pemuda dari berbagai belahan bumi Indonesia. Maka, masuklah aku ke Teknik Sipil dengan sumringah, penuh perasaan suka, impianku akan diajarkan komputer dan dikelilingi cewek-cewek trendi dari seantero Indonesia akan segera terwujud.

Demikian rasanya, sebelum mengetahui keadaan sebenarnya..

OSKM untuk seluruh mahasiswa yang disambut dengan spanduk “selamat datang putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia” berlangsung aman. Meski dimulai dari jam tujuh pagi sampai jam 12 malam setiap hari selama seminggu, tak masalah. Ada kegiatan lari-lari keci, berbalas salam, berbagai interaksi dan diskusi. Tak masalah, cocok banget nih kampus. Namun disitu mulai beredar desas-desus tak menyenangkan soal Ospek di himpunan mahasiswa sipil, yang katanya keras.

Atithesis pertama atas wajah jurusan yang kuharapkan datang saat mengetahui ternyata proporsi cewek cowok di jurusan jauh dari berimbang yaitu 1 : 5. Itupun kucing cewek yang berkeliaran di jurusan sudah dihitung. Okelah, masih ada harapan buat wajah berikutnya: diajarkan komputer.

INTERAKSI
Himpunan adalah tempat beraktivitas yang utama di kampus ditambah dengan legenda yang beredar bahwa non anggota himpunan akan dikucilkan, praktikum akan dipersulit, maka angkatan baru tertarik untuk menjadi anggota himpunan di jurusan, yaitu Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS ITB).

Hingga tibalah saat bertemu dengan para anggota himpunan, mereka menyebutnya OSPEKnya sebagai kaderisasi, mereka menyebut acaranya dengan nama interaksi. Kaderisasi adalah kegiatan untuk mengader, untuk mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader, yang diharapkan akan memegang pekerjaan penting dalam organisasi, dengan cara interaksi atau aksi timbal-balik.

Beberapa tahapan untuk menjadi anggota HMS biasa mengikuti pola:  
Peserta kaderisasi > calon kuya > kuya > Anggota biasa.
Masing-masing tahap itu dilalui dengan perjuangan dan pengorbanan yang (seringnya) tidak tak seberapa.

Interaksi biasanya berlangsung dua atau tiga kali seminggu, selama setahun. Diulangi, selama setahun. Ada interaksi ruangan sekali seminggu dimana isinya perkenalan dan pengetahuan, diajarkan mengenai kepemimpinan, teori organisasi, dsb. Interaksi ruangan ini boleh dikatakan: mendidik.

Ada juga interaksi lapangan, dimana peserta diajak beraktivitas fisik, dimulai dengan senam-senam kecil, diteruskan dengan lari-lari kecil keliling kampus atau keluar kampus, dilanjutkan dengan push up push up kecil, diselingi dengan teriakan-teriakan kecil. Biasanya dua kali seminggu, rabu malam dan minggu pagi.

Mahasiswa tahun pertama pada hari rabu biasanya mendapat tantangan degnan adanya kegiatan Ujian Tengah Semester (UTS), maka acara berikutnya: interaksi malam, tak kalah menantang, berlangsung dari jam tujuh malam sampai satu pagi. Seringnya dengan cuaca yang didominasi hujan, acara tetap dilanjutkan. Jadilah peserta dan panitia berlari-lari menembus hujan sambil menyanyikan lagu dan mars angkatan dengan bersemangat. Acara dilanjutkan dengan berbagai posisi push up, sit up, skot jump dsb.

Jika dilakukan dalam kondisi biasa, mungkin tak ada masalah, namun yang dilakukan di lapangan becek sehabis hujan ini agak menggiriskan juga. Alkisah, karena kehabisan baju putih akibat acara yang dua kali seminggu, pernah aku meminjam kaos putih dari seorang teman di kos. Lalu ikutlah acara minggu pagi itu, lalu ketika pulang, dengan sedihnya kudapati baju putih itu telah cokelat penuh lumpur. Dengan berbagai deterjen apapun, tak akan pernah menjadi putih kembali.   

Tingkat kesulitan acara didesain bertahap, layaknya sebuah film, game atau apapun yang memiliki flow, dengan irama yang sesuai. Makin tinggi tingkatan, makin berat acaranya. Jika pada mulanya kegiatan push up dan sit up biasa saja, maka berikutnya diperkenalkan kegiatan push up berantai. Seperti rantai, sambung menyambung menjadi satu, dari belakang barisan sampai ke depan, bobot teman yang berat ditanggung bersama.

Lalu diperkenalkan juga push up setengah, yaitu menahan posisi badan tetap di tengah-tengah pada saat push up, lalu ada juga seperempat, tiga perempat, seperdelapan dsb. Yang demikian disinyalir bisa mengakibatkan trauma dengan pelajaran berhitung dengan pecahan.  

Tidak hanya tiga posisi utama itu, para senior yang dipanggil dengan sebutan bos dan bis ternyata juga kreatif dengan memperkenalkan berbagai penindasan fisik lainnya. Maka, jadilah peserta melakukan jalan jongkok, jalan bebek, jalan anjing, jalan kepiting. Sebut saja nama salah satu binatang, maka taulah kami bagaimana bentuk jalannya. Semikian acara yang berlangsung setiap minggu. Sehabis berbagai aktivitas fisik, pernah pula disuruh berjalan jongkok di selokan, di tenggelamkan, lalu ketika naik ke atas diberi satu dua tamparan manis.

Salah satu kegiatan lainnya yang membekas adalah acara oleh para swasta. Swasta adalah kategori untuk yang angkatannya 3 tahun diatas atau lebih. Swasta lebih berkuasa, telah banyak manis pahit kehidupan kampus, disebut super bos, dewa dsb. Pada malam itu diadakan acara ruangan, yang dilakukan didalam ruangan, namun tak kalah kejam.

Di sebuah ruangan yang bernama LFM, dimana bangku memanjang berderet dengan ruang kecil untuk disela-sela meja dan tempat duduk. Para peserta harus masuk ke dalam celah diantara bangku itu setiap kali disuruh, dan keluar lagi setiap kali disuruh, sesuai hitungan komandan lapangan (danlap) untuk mencapai kesigapan yang ditargetkan. Tak cukup dengan itu, datang pula seorang senior bertubuh tinggi berambut gondrong yang berjalan diatas meja sambil menampari satu persatu peserta, dari kiri ke kanan depan ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak. Seiring tamparan manis itu, tertampar pula wajah jurusan yang tercinta ini di dalam benakku, yang kata kakak kelasku dulu Ospeknya akan diajarkan komputer.

Bisa disimpulkan bahwa interaksi yang dimaksud itu, aksi timbal balik itu, adalah senior menyuruh junior melakukan aktivitas fisik/mental yang akan disambut baik oleh junior tersebut dengan melakukan aktivitas fisik/mental dan akan berakibat pada tindakan fisik/mental lainnya.

KUNJUNGAN MALAM
Ada kegiatan yang dinamakan kunjungan malam, biasanya di malam minggu. Asumsinya adalah para bos di HMS banyak yang jomblo, sehingga membutuhkan mahasiswa baru untuk datang dan bercengkrama. Bagi seorang peserta, jika memiliki pacar pada masa-masa ini, maka ada dua kemungkinan: adalah pacarnya begitu penyabar sehingga rela dijadikan prioritas yang kesekian, atau hubungannya berakhir. Jika memiliki gebetan anak unpad jatinangor sepertiku saat itu, tak perlu berharap akan hasil gilang gemilang. Karena segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki, termasuk waktu, dipersembahkan kepada acara kaderisasi ini. 

Ada indikasi bahwa interaksi personal melalui kunjungan malam kepada para bos dan bis ini bisa membuat kader-kader menjadi lebih memahami kondisi himpunan dan menambah motivasi dan aspek positif lainnya. Bagi seorang ketua angkatan dan koordinator kelas, keadaan dilematis adalah saat disuruh menghadirkan lima belas orang untuk kunjungan malam.

Sulit rasanya memilih orang untuk mengemban tugas mulia ini, biasanya dipergilirkan. Saat itulah, dering telepon di kosan terasa sangat angker. Lebih baik berpura-pura tidak ada, pura-pura pingsan, daripada menjawab telepon yang biasanya tau-tau memberitahukan perintah kunjungan malam.

Pertemuan dengan bos saat kunjungan malam biasanya menggambarkan nasib baik dan buruk, ada yang bertemu bos ramah yang menyampaikan segala pesan dengan welas asih, adapula yang bertemu bos "unik" yang mengajak untuk terus berpikir dalam rangka mencerna berbagai doktrinnya.

Misalnya, suatu ketika ada setumpuk piring kotor di meja beranda himpunan. Adalah seorang kuya yang sedang sial disuruh mencuci piring, saat akan segera bergerak mencuci sang bos berkata.
“Eits, tunggu dulu, kenapa kau mau mencuci piring ini?”
“Karena disuruh sama bos.” Maka disentil telinga kiri.
“Kenapa?”
“Karena piringnya kotor bos.” Maka disentil telinga kanan.

Demikian berulang kali sampai telinga kiri kanan merah semua. Rasanya lebih baik mencuci seribu piring daripada ditanya kenapa harus menucuci piring, yang jawabannya sangat relatif itu. Ada juga yang diperintahkan ke jawa untuk membeli pecel lele, es teh dan sebungkus rokok, dengan dibekali uang lima ribu. Yang diperintah akan menatap uang itu dengan bingung, karena tidak akan cukup buat membeli semua itu, lalu sang bos akan membentak.

“Kow pikirlah gimana caranya, pergi sana, lima menit!” Maka yang diperintah akan segera lari ke warung, melakukan sesuai perintah, entah bagaimana pula caranya, hanya pelaku dan Tuhan yang tau.

Ketua kaderisasi pada waktu itu, bermuka sangat angker dan sangat konsisten dengan keangkerannya, tak pernah barang sekali kami melihatnya tersenyum. Demikian juga panitia lainnya, jarang menampakkan wajah bersahabat bila bertemu muka. Dan jika melewati teras depan himpunan, dijamin hari akan berakhir buruk.

Biasanya hal ini menimbulkan trauma untuk mendekati sekre himpunan HMS dan sekitarnya atau bertemu orang-orang berjaket hijau. Jika orang biasa melakukan trade off antara jarak perjalanan dengan biaya, maka kita akan mentrade off antara biaya, jarak perjalan atau apa saja dengan tidak bertemu orang berjaket hijau HMS. Lebih baik jalan berkilo-kilo atau membayar sejumlah tertentu daripada bertemu mereka.

BOIKOT
Tentunya sulit bertahan dengan kegiatan kaderisasi yang semacam itu, sehingga akhirnya satu angkatan memutuskan untuk memboikot. Kami tidak akan mengikuti acara kaderisasi lagi. Peduli amat dengan menjadi anggota himpunan atau tidak, kami ingin diperlakukan dengan lebih manusiawi. Berbagai pro dan kontra merangkai diskusi yang panas pada waktu pengambilan keputusan itu. Terjadilah boikot selama beberapa waktu.

Namun entah bagaimana, HMS ITB selalu pintar, selalu punya posisi tawar, pandai berdialektika, sehingga tak berapa lama akhirnya kami mengikuti lagi acara itu, dengan sukarela. Malah mengakibatkan pencopotan ketua angkatan dan penggantian berbagai koordinator kelas. Saat itu aku terpilih menjadi koordinator kelas untuk menggantikan koodinator sebelumnya. Dan jika menjadi peserta saja terasa berat, maka menjadi koordinator atau ketua angkatan berkali lipat bebannya.

Acara kembali dilanjutkan. Pada berbagai acara, setelah jiwa dan raga dalam kondisi begitu lelah setelah berbagai aktivitas fisik, harus pula meneriakkan pernyataan mengandung doktrin dahsyat.  
“Ilmu logika, jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku. Jika dan hanya jika aku menjadi anggota HMS, maka anggota himpunan adalah saudaraku. Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka yang nonhim, busuk! Cuih!”

Melalui itu semua, dengan semangat kebersamaan, kita tetap bertahan hingga memasuki acara akhir. Meski seiring berjalannya acara, ada yang berpikir, kenapa bisa begini salah memilih jurusan. Ada satu dua yang pergi untuk pindah kampus, mungkin karena alasan ini, mungkin juga dengan alasan lainnya.

ACARA AKHIR
Jika acara pengantarnya sedemikian rupa, tentu acara akhirnya tak akan kalah spektakuler. Acara akhir dilaksanakan di suatu desa, berupa bakti sosial memperbaiki jaringan irigasi. Tujuannya memang mulia, membantu penduduk desa memperbaiki jaringan irigasinya, tetapi dalam prosesnya berbagai bentakan, tamparan mengiringi ketertindasan, ketakutan, kelaparan dan kehausan.

Acara dimulai setiap pagi dan berakhir malam hari selama seminggu. Tak cukup dengan itu, dilanjutkan pula dengan long march dari bilangan Soreang, Bandung Selatan ke kampus di Bandung Utara di tengah malam, sekitar lima jam perjalanan dengan memanggul ransel besar.

Sampailah di ujung acara dimana kami dalam keadaan lelah dan hampir kehabisan tenaga, mendapatkan tenaga baru saat menyanyi sambil mengubah lagu mars, dari “kalian HMS ITB” menjadi “kami HMS ITB”. Semua lelah, derita, airmata, duka, tawa, semua emosi terangkum menjadi satu. Saat para bos memberikan jaket berwarna hijau, dengan lambang Himpunan Mahasiswa Sipil ITB di dada kiri. Pengorbanan segala emosi dan sumber daya seolah terbayar lunas dengan memakai jaket kusam, bau, berwarna hijau itu.

Terkadang, secara pribadi, aku masih heran bagaimana dulu bisa bertahan. Bagaimana bersama teman-teman seangkatan bisa sama-sama melalui berbagai proses kaderisasi yang berat secara fisik dan mental ini. Terutama untuk teman wanita, yang biasanya aspek perasaannya lebih menonjol, bagimana mereka bisa bertahan?  

Yang kusadari, bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang unggul, yang memiliki mekanisma pertahanan diri, dengan berbagai caranya. Bahwa saat sedang menderita, melihat wajah teman yang senasib sependeritaan menimbulkan perasaan terhibur tertentu, yang unik. Saat berjalan longmarch itu, bisa dilalui dengan motivasi akan menikmati es degan di ujung jalan. Kadang-kadang bisa pula dengan menganggap semua itu sebagai permainan peran dan sandiwara. Terkadang semangat dan emosi bisa naik hingga puncaknya, kadangkala juga menurun hingga jurangnya, namun satu dua kawan akan selalu ada untuk saling bantu. Mungkin itu yang menyebabkan satu angkatan bisa bertahan. Tentunya, realitas hidup bisa lebih kejam daripada simulasi-simulasi ini, kenyataan bahwa kami bisa dan selalu bertahan bisa menjadi motivasi dan memberi kekuatan baru untuk melalui semuanya.


Ada masanya ketika berbagai kegiatan, acara dan ketertindasan itu menjadi suatu cerita menarik, yang indah untuk diceritakan dan ditertawakan, meski tetap tidak ada yang bersedia untuk mengulang kembali.   

HIMPUNAN
Saat menjadi anggota himpunan, ternyata perasaan euforia oleh pelantikan hanya berlangsung sementara. Masih ada ketertindasan dari senior-senior, masih dipertanyakan kemampuannya, masih dipertanyakan kebersamaan dan militansinya, masih harus menunjukkan diri.

Berbagai kegiatan menjadi ajang pembuktian di himpunan, untuk membuktikan bahwa pelantikan dan pemberian jaket hijau itu terbukti layak. Itulah masa-masa kerja keras, menjadi panitia berbagai kegiatan. Suatu waktu masih sering tertindas. Sebut saja menjadi panitia wisuda, dimana biaya wisuda yang dibebankan kepada wisudawan telah dihitung secara seksama sebesar seratus ribu rupiah per orang. Melalui mekanisme presentasi dari panitia terhadap wisudawan, maka biaya itu bisa berkurang menjadi 50 ribu per wisudawan berkat keahlian mereka bersilat lidah. Maka panitia yang bekerja keras mengumpulkan dana serta mengurangi pengeluaran, dan seringnya berhasil.

Terkadang ada pula kesepakatan untuk menciptakan musuh bersama dari luar, sehingga sering terjadi perkelahian dengan himpunan lain seperti dari himpunan tambang dan geologi. Berbagai aksi saling berbalas pukulan karena masalah sepele sering tak terelakkan. Itulah salah satu penjabaran militansi, pada masa itu.

Secara historis, ada indikasi bahwa militansi himpunan ini akibat dari normalisasi kehidupan kampus (NKK) oleh rezim berkuasa dengan militernya pada tahun 1978. Sehingga basis kekuatan politik kampus dikembalikan ke kantong jurusan, untuk menjawab tantangan ini diperlukan kader yang tangguh yang harus melewati metode pengaderan yang tak biasa. Seiring waktu, ada anggapan bahwa metode kaderisasi ini tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun, tentunya kaderisasi yang terlihat sangar ini bukannya tanpa konsep. Setidaknya, latar belakang, tujuan, metode pelaksanaan, metode pengukuran telah dipertimbangkan melalui berbagai proses dialektika dalam forum-forum diskusi kaderisasi oleh panitia kaderisasi, pengurus himpunan serta swasta. Semua terangkum dengan jelas dalam materi kaderisasi, salah satu yang sering dijadikan referensi adalah metode pedagogi of the oppressed, pendidikan kaum tertindas, entah bagaimana proses penurunannya.

Yang jelas, metode dan teknis lapangannya telah disepakati secara komunal. Pernah terjadi diskusi luar biasa dengan tema sentral “Apakah akan dilakukan pengkoranan (pemukulan dengan gulungan Koran kepada peserta pada saat jalan jongkok, push up, sit up dsb) pada masa intensif menjelang pelantikan?” Untuk menjawabnya, terjadi diskusi semalam suntuk, ibarat pertunjukan wayang, di himpunan. Bahkan diskusi tidak selesai pada malam itu, sehingga harus dilanjutkan pada malam berikutnya. Metode pengambilan keputusan dengan cara voting untuk menutup diskusi dengan cepat adalah cara yang haram dilakukan.

Dengan menjadi anggota himpunan, muncul kesadaran bahwa lelah yang dialami peserta sebelas dua belas saja dengan lelah yang dialami panitia, bahwa panitia memulai lelahnya bahkan sebelum peserta diterima di teknik sipil.

Itulah HMS ITB dan sekitaran kaderisasinya pada masa itu. Entah bagaimana HMS pada masa kini, entah bagaiman kaderisasi saat ini. Belum ada kesimpulan bahwa pelaksanaan kaderisasi yang intensif, lama dan mengandung kekerasan menjadi faktor yang menentukan (atau tidak menentukan) militansi dan partisipasi anggotanya dalam berorganisasi maupun dalam menjawab berbagai tantangan untuk masa depan bangsa.




Yang jelas, hingga bertahun-tahun setelah itu, setiap kali memakai jaket hijau itu, tetap menimbulkan perasaan bangga, supremasi atas diri, bahwa perjuangan berat telah dilalui untuk mendapatkannya. Selalu hadir semangat dan emosi setiap menyanyikan mars nya, kepalan tangan diangkat, sambil melompat-lompat, sambil berteriak-teriak tak peduli nada, irama atau segala norma lainnya.  


Kami HMS ITB bersatu padu
Dibawah almamater ITB tercinta
Melangkah dengan gagah dan perkasa meraih cita-cita
Berbakti dan berkarya tuk negara Indonesia
Tak gentar akan rintangan dan cobaan
Dengan semangat ayo maju terus..
HIDUP HMS ITB!!!