Showing posts with label Jim Morrison. Show all posts
Showing posts with label Jim Morrison. Show all posts

Saturday, October 13, 2012

Ode to Jim Morrison

Suatu malam sekitar tahun 2004, aku pernah bermimpi. Dalam mimpiku, tergambar komplek pekuburan besar dengan bebatuan aneh, orang-orang berbondong-bondong memasuki dan berjalan diantaranya. Aku mengikuti, dan tiba pada sebuah makam dimana orang-orang berdiri menunjukkan kesedihan. 

Selang seminggu kemudian, saat pagi-pagi duduk di dipan depan himpunan HMS ITB sambil membaca koran Kompas jumat, pada bagian muda, terdapat artikel bahwa orang-orang dari seluruh dunia datang dan berziarah ke makam jim Morrison, terlihat foto sebuah makam dengan patung dan berbagai rangkaian bunga pada artikel itu yang terasa seperti yang dalam mimpiku. 

Mimpi itu mengendap di benakku dengan beragam pertanyaan. Kenapa pula sampai memimpikan pergi ke sana? Apa sebegitu sukanya aku dengan Jim Morrison ini, sehingga harus bermimpi datang ke kuburannya. Seberapa jauh seorang Jim telah masuk dan memperngaruhi alam bawah sadarku. Ku simpan gambaran itu hingga bertahun-tahun kemudian. 

Itulah sebabnya begitu menjejakkan kaki di Paris, maka hal pertama yang terpikirkan di benakku adalah mengunjungi Pere Lachaise tempat dimakamkannya Jim Morrison. Lokasinya ternyata tak jauh dari hotel, sehingga kutempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam menuju ke sana. 

Setelah bertanya sana sini yang terkadang dijawab terkadang diacuhkan. Akhirnya sore itu jam tiga, seiring langit yang mendadak mendung, kulangkahkan kaki memasuki komplek pekuburan yang mencekam. Tak pernah kusangka, bahwa kompleks ini begitu luas. Berbagai peziarah lain terlihat berjalan ke tujuannya masing-masing. 

Dari papan petunjuk, tertera makam Morrison ada di no 30. Pada peta sebelah kiri, kudapati blok pekuburan no 30. Makam orang-orang terkenal mulai dari seniman, filosof, ilmuwan, dan tokoh politik lokal, aku tak peduli pada semua itu yang tidak relevan dengan tujuanku. Maka kulangkahkan kaki menelusuri. Telusuri semakin ke dalam, semakin banyak bentuk pekuburan yang aneh-aneh, sebagian besar, semakin berwana gelap, dengan berbagai coret-coretan atau patung-patung aneh.

Ada kuburan tua berlumut dengan salib besar, dengan patung bidadari bersayap, dengan tonggak iluminati, dengan patung tokoh yang bersangkutan, patung perempuan meratap, filsuf duduk dan sebagainya. Sambil jalan kutemukan ada orang gila yang berteriak-teriak bermonolog, ada dua orang berpakaian hitam-hitam seperti drakula atau sekte pemuja setan, beberapa anak muda dengan kaos Jim Morrison, seorang berseragam pastor. Pohon-pohon besar dan rindang dengan kepak sayap dan jeritan burung gagak membuat suasana semakin muram. Dari langit yang gelap berjatuhan rintik-rintik gerimis.

Salah satu kemampuan yang biasanya bisa kuandalkan adalah kemampuan orientasi dan membaca peta, namun kali ini aku tersesat. Terlalu sulit untuk menemukan arah diantara lorong-lorong kecil, bentuk pekuburan yang kelihatan sama dimana-mana, suasana mencekam. Akhirnya setelah sejam berjalan, kudapati blok no 30, namun setelah kutelusuri satu persatu makam di sana, membaca nama pada batunya, tak terlihat Jim Morrison. Jika bukan karena sudah begitu jauh perjalanan yang kutempuh dari Indonesia ke Inggris ke Perancis, ingin rasanya aku pulang saja.

Sambil menguatkan hati, akhirnya ku telusuri lagi, sambil bertanya kepada tiga orang berbeda, tidak ada yang mengetahui, aku mencari dan berputar-putar di sana sampai tiga kali, tetapi tak kudapati juga. Jangan-jangan memang bukan takdirku menemukannya. Ada sepasang orang berpacaran sambil berciuman di salah satu pojok sepi sambil duduk di atas batu makam, sungguh terlalu, tak mungkin bertanya pada mereka.

Selang beberapa lama akhirnya kutanyakan pada dua orang yang kebetulan berpapasan, ternyata mereka salah satu peziarah ke Jim yang baru saja mengalami masalah serupa, bahwa makam Morrison bukan di blok no 30, melainkan di makam no.30. Akhirnya ku cek dan menemukan kebodohanku bahwa ada dua angka 30, satu untuk blok dengan tulisan warna biru, satu untuk identifikasi makam tertentu dengan warna hitam. Ibu itu memberi petunjuk ke arah makam Morrison di blok 6, akhirnya kususuri dengan langkah penuh harapan baru. 

Menjelang semakin dekat dengan makam, perasaan agak tidak karuan. Sebentar lagi aku akan tiba di tempat tokoh idola bersemayam, musisi favorit, filosof, penyair dan seorang jenius yang mengisi perjalanan musikku, yang sekian lama menemani hari-hariku. Akhirnya aku tiba, ternyata ada banyak orang di sana yang bertujuan sama. Beberapa mengenakan attribute kaos Jim Morrison, bahkan ada yang meniru gaya rambutnya yang ala Alexander the Great. Kulihat seorang wanita muda yang menangis sesenggukan di pojokan. Tentu aku tak akan menangis.

Tadinya, kuniatkan untuk membacakan sebuah surat berisi ode kepada jim Morrison yang telah ku tulis. Namun terlalu banyak orang di sana, yang sibuk mengambil foto dan hadir dengan aura takjub dan hikmat. Sehingga, ku urungkan niat untuk membaca, ada perasaan sungkan, karena bacaan ku bukan berisi pujian, melainkan perpaduan pujian, cacian dan salam perpisahan. 

Akhirnya kukeluarkan kertas ku, kubaca saja dalam hati, suratku berikut ini.

an ode to Jim Morrison, an adieu to my youth idol.

Dear mr mojo rising,
Our interaction began when i was introduced to your music light my fire.  It strengthened when a teenager, with your face printed on his t shirt, was yelling striving for freedom on a music ceremony. What kind of freedom was it? Why it has something to do with you, i thought at the time. 

I listened to all your song, i read your biography, an American prayer books, film about you, many things intensified my adoration. Your music, poem, performance all were so unique, so unexplainable. At the stages you caused a riot, wanted to cure what so called sexual neuroses of people on the crowded. At an empty room you whispered the absurdity of poetry to open eyes and ears to inner self, to a freedom of the mind, body and soul. All made me wanted to care for you as much as i wanted to run away. 

During the time i asked myself many questions. Could it be untrue? Could you be a liar? For that invitation for celebration of the freedom, how could people got their freedom while they were following you? Why you told anyone something you did not surely know anything about. You did break on through to the other side leaving behind generation of followers, have you found what you were looking for? a flashing chance at bliss? Your risk all of the transcendental while you hardly tried to figure it out. Your risk the life and death of your entire follower. 

I'm more than 27 now, while your age stopped at this mystical number. Fortunately, i already have the most precious person to follow rather than following you, the greatest person of mankind, the prophet, peace be upon him. Then i started a trip to greet you here as i wanted to say goodbye. From now on, I don’t want to adore you no more. 

Regards

Sunday, June 12, 2011

No One Here Gets Out Alive (Biografi Jim Morrison)

Judul Buku: No One Here Gets Out Alive (Biografi Jim Morrison)
Penulis: Jerry Hopkins dan Danny Sugerman

Mungkin nama The Doors tidak terlalu banyak dikenal di tanah air, tertutupi oleh nama Kangen Band, Unju, atau Dygta. Di seantero bumi pun The Doors mungkin masih kalah popular dibandingkan musisi seangkatannya The Beatles, Rollingstones, Led Zeppelin, dsb. Meski demikian, The Doors dan Jim Morrison adalah legenda rock n roll terbaik yang pernah ada. Inilah buku yang telah lama ditunggu oleh para penikmat musik The Doors di tanah air, terutama para penggemar Jim Morrison. Buku setebal 498 halaman yang menggambarkan kehidupan Jim Morrison yang ditulis berdasarkan investigasi yang mendalam. Buku ini sudah diterbitkan sejak tahun 1980 di Amerika dan baru diterbitkan edisi terjemahannya di Indonesia sejak April 2010.

James Douglas Morrison, yang dikenal panggilan Jim, dilahirkan pada tanggal 8 Desember 1943 di Florida USA. Jim memiliki ayah seorang perwira angkatan laut yang sering bepergian, kehidupan masa kecilnya dilalui dengan sering berpindah-pindah. Jim memiliki kecerdasan tinggi, IQ nya 149 dan nilainya di sekolah melebihi rata-rata dengan usaha minimal. Buku-bukunya yang dibaca sewaktu SMA mengungkapkan banyak tentang minat pemikirannya, dia melahap Frederich Nietsche, filsuf puitis jerman yang pandangannya tentang estetika, moral, dan dualitas Apollonian-Dionysian selalu muncul dalam pembicaraan, puisi dan lagunya. Dia jatuh cita pada Alexander Agung, membaca Arthur Rimbaud, William Blake, dan berbagai penulis lain. Jim bisa memahami secara intuitif apa-apa yang diberikan oleh karya-karya yang sulit dipahami ini.

Jim lalu melanjutkan kuliah di Florida State University, lalu pindah ke UCLA California dan menamatkan diplomanya pada jurusan cinematografi. Lalu pada Tahun 1965 dia membentuk band bersama Ray Manzarek, dinamakan The doors, nama yang diambil dari judul buku Aldous Huxley yang dimulai dengan kutipan dari penyair William Blake, "If the doors of perception were cleansed everything would appear to man as it is, infinite."

Pada 1967 The Doors, merilis album perdana yang mempopulerkan Light My Fire hingga ke seluruh amerika dan tak lama kemudian menduduki puncak tangga lagu. The Doors memulai konsernya dengan tampil di Club kecil dan meraih popularitas dengan cepat. Beberapa lagu mereka yang panjang, seperti When the Music is Over, lagu yang berlangsung selama sebelas menit, ditampilkan di panggung dengan menggabungkan unsur teatrikal dan musical. Teriakan Jim yang tiba-tiba, serta puisi-puisinya yang mengisi jeda, Ray yang menyelipkan not-not organ yang menusuk, dengan Robbie Krieger yang melengkingkan jeritan gitar dengan irama blues dilengkapi dengan Jhon Densmore yang mengisi hentakan drum dengan metronomic. Semua menyatu dalam pertunjukan yang membuat penonton hanya bisa duduk terpaku, terdiam dan terpesona.

Mereka segera dikenal luas dengan jadwal konser di seantero Amerika ditambah tour ke Eropa. Jim yang kecanduan alcohol dan obat-obatan terlarang selalu memprofokasi para penontonnya, untuk membuktikan teorinya tentang psikologi massa, bahwa massa memiliki neorosis seksual sebagaimana individu, dan gangguan ini bisa didiagnosa dan disembuhkan dengan cepat dan efektif. Sekumpulan manusia sebagai satu kesatuan untuk dikendalikan.

Orang-orang memahami yang bisa mereka dapat dari konser The Doors adalah kerusuhan dan transenden. Selalu terjadi kerusuhan, penonton menyerbu ke panggung yang dijaga oleh polisi hingga terjadi bentrokan. Jim menganggap perilakunya yang memacu hal tersebut sebagai memberikan kesempatan bagi para remaja untuk bersikap kritis terhadap pihak otoritas.

Pada awalnya Jim dan Ray menciptakan The Doors sebagai sebuah karya yang cerdas, perpaduan antara teater, puisi serta musik yang eksploratif dan dimainkan dengan sungguh-sungguh. Konsep ini dimatanya semakin tenggelam di tengah audiens yang sebagian besar hanya tertarik pada sisi sensasionalitasnya. Jim makin menyadari bahwa lirik dan musiknya tidak diperhatikan, ia juga semakin lelah dengan tingginya ekspektasi penonton, dan frustasinya semakin meledak di dalam maupun diluar panggung. Hal ini lalu dimanifestasikan dengan menghina penggemarnya, untuk menolak citra dirinya sebagai sosok gila yang menuntun pada kesesatan.

Jika bukan seorang penggemar musik The Doors, buku ini termasuk buku sulit, disamping terjemahannya yang tidak begitu baik, juga karena sulit untuk mengungkapkan kepribadian Jim yang penuh kompleksitas, disatu sisi dia adalah seorang penyair yang jenius dan disisi lain pengaruh alkohol membuatnya menjadi seorang liar yang tidak megenal aturan, yang tertarik hanya pada chaos and disorder, bahkan terkadang dalam penampilannya dia merasa dirasuki oleh seorang Shaman, dukun suku Indian.  Terlepas dari semua kontroversi dan kelakuan buruk Jim Morrison, musik yang dihasilkan The Doors adalah karya yang kaya akan eksplorasi, special dan tak lekang oleh zaman.

Boleh dikatakan buku ini sejenis atau sangat mirip dengan Heavier than Heaven, biografi Kurt Cobain vokalis dan pencipta sebagian besar lagu-lagu Nirvana. Sebuah perasaan yang kita dapat ketika mendekati bagian akhir dari kedua buku ini adalah perasaan mencekam, penasaran tentang bagaimana mereka mengakhiri hidupnya. Seperti halnya Kurt Cobain, umur Jim berhenti pada usia 27 tahun, dan menjadi legenda. Berbagai spekulasi merebak tentang kematian Jim di Paris pada 3 Juli 1971, disebabkan oleh gagal jantung, overdosis heroin, kebanyakan obat tidur, bahkan ada yang menganggap bahwa Jim memalsukan kematiannya.

Setelah Jim tiada, musiknya masih terus didengarkan, jumlah penggemar setiap tahun terus bertambah di seluruh penjuru dunia. The Doors masih memproduksi beberapa album lagi dan pada Tahun 1991 kisah tentang The Doors diangkat menjadi film oleh Oliver Stone, dengan Jim Morrison diperankan oleh Val Kilmer dan pacarnya Pamela diperankan oleh Meg Ryan. Pada Tahun 2009 sebuah film dokumenter tentang The Doors yang berjudul When You’re Strange dibuat, Jhonny Depp sebagai narrator ysng menceritakan dan membacakan puisi Jim Morrison. Bisa disimpulkan bahwa kehidupan Jim sesuai dengan ekspektasinya yang terangkum dalam kumpulan puisi an American Prayer dengan judulnya The Movie.

The movie will begin in five moments
The mindless voice announced
All those unseated will await the next show.
We filed slowly, languidly into the hall
The auditorium was vast and silent
 As we seated and were darkened, the voice continued.
The program for this evening is not new
You've seen this entertainment through and through
You've seen your birth your life and death
you might recall all of the rest
Did you have a good world when you died?
Enough to base a movie on?