Sunday, May 11, 2014

orientasi di infantri

Dear Adek, 

Maafkan abang tidak sempat memberi kabar sebelumnya, tidak bisa berkomunikasi dengan adek beberapa minggu ini karena ponsel dan segala macamnya disita, tidak boleh berhubungan dengan dunia luar. Abang sedang mengikuti sebuah acara orientasi salah satu kementerian di markas pelatihan infantri.

Baru datang setelah naek iring-iringan truk militer, sebagai pembukaan kita yang masih berpakaian rapi celana hitam kemeja putih sudah harus jalan jongkok mendaki jalanan melewati gerbang depan dalam suasana gerimis yang muram. Sungguh kesan pertama yang baik yang ingin mereka berikan.
 
Acara sehari-hari berlangsung dari pagi sampai malam, menguras segala fisik dan mental. Jalan, lari, push up, sit up, jalan jongkok, guling, serta materi pelajaran dan bernyanyi-nyanyi. Bagi abang, kegiatan ini seperti mengulangi lagi 3 tahun masa SMA yang penuh disiplin serta setahun masa ospek di kampus dulu.

Sampai semalam ini, sudah jam 11 malam, abang lihat orang-orang di satu barak memanjang dengan deretan dua baris kasur bertingkat, masih ramai beraktifitas. Umumnya membersihkan segala macam, mulai dari tubuhnya, sepatunya, tempat tidurnya, lemarinya, ada juga terdengar suara yang sedang mengaji.

Sementara abang, kepalanya yang baru berubah menjadi botak plontos teringat kepada adek. Oleh karenanya, sehabis beraktivitas, sesekali abang sempatkan untuk menulis surat buat adek. 

Jam empat pagi biasanya kita sudah terbangun, beberapa ke kamar mandi beberapa langsung membersihkan tempat tidur. Setelah sholat berjamaah di mesjid, kita berlari-lari memutari lapangan, memutari mako, sampai capek lari itu. Setelah lari, disuruh lagi push up, sit up dsb. Terkadang abang hanya menyempatkan menatap langit gelap yang berubah menjadi biru. Di ujung sana, di atas bukit-bukit hijau yang mengelilingi lokasi terlihat bulan bulat penuh yang perlahan memucat karena kesiangan.

barisan olahraga pagi

Pada suatu sore, kita diperintahkan untuk melaksanakan protap (prosedur tetap), evakuasi dari barak ke lapangan bola dalam waktu 3 menit. Setelah berlari-lari pontang-panting, ternyata terlambat setengah menit, diulang lagi, namun hasilnya lebih terlambat lagi, sehinggalah kita semua dihukum merayap dan berguling di lapangan bola. Capek adek. Esensinya bukanlah protap, adalah kegiatan merayap itu, apapun yang kita lakukan pasti akan selalu salah, dan berakhir dengan merayap.

sedikit sit up untuk mengencangkan perut

Setiap hari kita makan di ruang makan dengan teratur dan terpimpin, diawali laporan dan doa. Tetapi nasi dan lauk itu terlalu banyak dan harus habis. Abang yang tak biasa makan terlalu banyak dan makan cepat jadi kerepotan, seberapa cepat pun makan, selalu selesainya terlambat. Air sayur harus dicampur dengan nasi dan beberapa kunyah langsung meminum air untuk mendorong nasi supaya habis. Karena dalam waktu yang ditentukan makanan kita belum habis, akhirnya ompreng harus digeser ke teman sebelah, bertukar sisa makanan, untuk melanjutkan makan.

suasana makan yang terkadang mencekam

Pada masa-masa makan ini salah satu yang abang hindari adalah duduk di satu meja makan dengan wanita, adek mungkin senang mendengar ini. Karena biasanya mereka makan sedikit. Membuat satu meja kesusahan untuk menghabiskan nasi. Selalu muncul rasa senang saat satu meja makan dengan pria-pria gemuk besar yang terlihat kelaparan dan muncul rasa was-was saat semeja makan dengan wanita-wanita, walau bagaimanapun rupanya.

peserta yang mulai terjangkit stress

Seminggu pertama ini adalah tahap yang menurut istilah para pelatih tahap pembentukan. Sehingga kegiatannya begitu padat, berat, dan gawat. Sering abang tidak mandi pagi karena memang tidak ada waktu. Tidak mungkin untuk menjalankan gaya mandi adek yang satu jam lamanya di tempat ini, waktu buat mandi tak sampai lima menit. Mengelilingi bak mandi besar itu, setiap pagi akan bisa didapati para pria mandi bersama berbugil ria. Abang yang melihat saja jadi risih, sepertinya lebih enak memandang wanita mandi bersama berbugil ria daripada melihat para pria ini dengan barangnya masing-masing. Belum biasa dengan itu, abang mengambil air dengan ember, dan mandi dengan seember air di wc yang tertutup.

ritual makan snack
Pakaian yang kita gunakan bersih pada pagi hari biasanya akan segera kotor penuh keringat terkadang bercampur lumpur pada sore hari. Untungnya pada sore hari ibu-ibu warga sekitar datang berduyun-duyun mengambil pakaian kotor untuk dicuci dan diantar lagi keesokan harinya. Jika tidak, entah bagaimana kotor dan baunya pakaian kita.

push up tahan di atas

Waktu-waktu yang paling menyenangkan adalah waktu sholat lima waktu dimana bisa sedikit beristirahat menjelang sholat. Rangkaian acara membuat kita merasakan kenyamanan untuk dekat dengan Tuhan. Jika tujuan acara untuk mendekatkan diri peserta dengan Tuhan, sepertinya berhasil.

Selain perintah disiplin, baris-berbaris dan pergerakan ala Permildas yang juga tak kalah penting adalah PUDD (peraturan urusan dinas dalam), yang menyangkut kerapihan lipatan dan susunan baju di lemari serta kerapihan seprei kasur. Seprei itu harus rapi lurus tanpa lipatan yang begitu dijatuhi koin, koinnya akan memantul saking kuat ikatannya. Begitu pada suatu siang dicek oleh pelatih, seprei teman-teman banyak yang masih parah, lipatan baju yang tak beraturan, serta jemuran handuk yang tidak rapi.

Akibatnya, sebagian besar siswa harus berlari mengelilingi lapangan bola enam kali sambil mengangkat kasur, mengangkat aneka pakaian, mengangkat rak handuk, dan kebetulan abang kebagian mengangkat dua ember dan kain pel, karena lalai menjaga kerapihan ember. Kocak juga wajah-wajah yang sedang menggendong kasur itu, adek harus melihatnya.

Setelah hampir satu minggu acara yang penuh perintah disiplin dan usaha menjadi disiplin, itu wajah teman-teman terlihat menjadi hitam. Wajah mereka yang terkena panas, tersiram air, mulai membuat kulit kepalanya mengelupas, berkerak, berganti kulit. Wajah abang sendiri? Tidak kelihatan, abang sampai lupa pada wajah sendiri, tidak pernah melihat cermin. Semakin hitam, semakin kurus dan menjadi jelek, itu pasti. Bahkan ada indikasi bahwa semakin lama memakai helm baja berat itu, dan perintah yang tidak boleh dianalisa, dan bentakan, dan hukuman disinyalir telah membuat intelegensia peserta jadi menurun, setiap minggu turun sepuluh point.. 

latihan bela diri militer

Setiap pagi, salah satu yang menjadi perhatian abang adalah munculnya sebuah barisan baru diluar barisan kelas pada saat acara olahraga pagi. Satu kelas berlari dalam barisan sambil bernyanyi-nyanyi lagu yang bisa menambah semangat. Biasanya ada satu dua yang tidak bisa ikut berlari karena kakinya cedera, cedera lutut, cedera engsel, dsb. Mereka jalan tertatih di belakang, yang dikala pagi masih gelap dan terlihat menyeramkan, seperti zombie. Pada awalnya satu dua saja zombie itu, tetapi semakin hari semakin menular, pada akhirnya tim zombie membentuk barisan sendiri yang banyak jumlahnya, jalannya patah-patah tertatih, tinggal perlu ditambahkan musik horror yang mencekap sebagai soundtrack. Kaki abang pun tak ketinggalan mendapat lecet dan kapalan meskipun tidak sampai menjadi zombie.

Setiap orang pada acara ini pasti pernah mengalami apes, terlambat ini itu, salah menyampaikan aba-aba, semir sepatu yang kurang mengkilat, tidak bersih, tidak rapi, makan yang tidak habis, semua berujung pada konsekuensi hukuman fisik, demikian juga dengan abang. Pada suatu kali, saat berjalan pulang ke barak sendirian karena sedang bertugas jaga kamar, berpapasan dengan seorang pelatih. Dia bertanya ini itu, abang jawab itu ini sambil mengakhirkannya dengan kata “pak” yang dilarang, karena harus memanggil mereka dengan “pelatih” atau “komandan”. Alhasil abang harus berhutang 100 push up. Setelah selesai mencicil 35 push up dan lengan sampai pegel, dan sudah siap pamit, eh keceplosan lagi memanggil pak, sehingga ditambah 100 kali lagi. Abang mulai kesal waktu itu.

“Jadi, utang berapa push up?” katanya

“Siap, seratus kali.” Jawab abang

“Ditambah yang sebelumnya tadi, jadi berapa?”

“Siap, hitungan saya tidak begitu baik.” Sebenarnya mudah saja menjawab itu, tetapi abang mulai esmosi dan ingin melawan, males kan kalau harus menjawab utang 165 push up.

“Kamu sekolahnya dimana?”

“Siap itebe dan ugeem.”

“Nah, itu mungkin kamu lebih pintar daripada saya yang tidak kuliah.”

“Siap, iya.” Jawab abang dengan lantang, tegas dan tanpa ragu, sambil merasa sedikit puas berhasil membalas, dan terlihat wajah pelatih yang sedikit kesal. Sampai acara berarkhir, hutang push up itu tak pernah abang bayar. Dan sepertinya teman-teman yang lain yang berhutang push up karena kesalahan lainnya juga belum membayarnya.

Setelah satu minggu pembentukan disiplin, minggu berikutnya adalah pengisian materi. Setiap hari selain pelajaran baris berbaris di lapangan ada pelajaran di kelas, materinya dari kementerian serta materi kepemimpinan, kerjasama dsb dari konsultan psikologi. Biasanya di kelas ini adalah saatnya membalas jam tidur, saat pembicara di depan menyampaikan materi, saat itu pula peserta tidur, abang salah satu penganut mazhab tidur ini. Sesekali harus waspada terhadap pelatih yang wajahnya muncul dari balik jendela mencatat dan menghukum siapa-siapa yang tertidur. Setelah itu materi itu, diadakan ujian tertulis untuk mengetes pemahaman siswa, setelah tadi tertidur di kelas, apa yang mau diisi?

sempatkan untuk bertanya disela-sela tidur

Adek, jangan tertidur saat membaca cerita abang, belum selesai..


Akhirnya 18 hari berlalu, tiga hari terakhir kita akan menjalani kegiatan di ciwidey. Yang mulanya terseok-seok, yang semula sudah kelelahan, teman-teman semakin bersemangat ingin mengakhiri acara ini. Bahkan ada yang sudah berkeluarga dan meninggalkan anak kecil di rumah berniat menyanyikan lagu-lagu heroik selama acara ini untuk menidurkan anaknya.. “ninaa boboo” diganti “tanda-tanda medan cipatat..”

Udara ciwidey begitu dingin, saat tidur di tenda yang seadanya itu, saking dingiinnya  harus terbangun setiap satu jam, terdengar salah seorang teman yang menggigil dan mengigau sepanjang malam.

barisan siap tempur di ciwidey

Di ciwidey diadakan acara wira tangkas, aplikasi dan evaluasi materi yang telah dilatihkan seperti: rayapan tali satu, jaring pendarat, turun hesti, jembatan tali dua, naik toggle, snapling, uji beladiri militer, RJP (resistensi jantung paru) dsb. Tak masalah bagi kita, semua bisa melewati kecuali beberapa yang berat badanya berlebih.

wira tangkas
Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan menuju Kawah Putih, dan menginap di salah satu lapangan di dekat kawah putih. Udaranya lebih dingin daripada Ciwidey, saat pagi datang seluruh pakaian untuk tidur telah menjadi basah oleh embun, dingin sekali. Tetapi bintang-bintang di langit begitu indah dan bersih. Bukit-bukit kecil perkebunan teh yang hijau indah menyambut saat mentari datang.

pagi setelah malam dingin di kawah putih
Dari kawah putih, kita melakukan long march menuju situ patengan, sekitar sembilan kilo jaraknya, melalui jalanan menanjak menurun dan berbatu di antara hamparan perkebunan teh. Lumayan menyenangkan, bahkan rasanya ingin mengulangi lagi, bernyanyi-nyayi menikmati sejuknya udara dan hijau perkebunan teh, serta suasana desa dan rumah-rumah para petani yang asri.

melalui perkebunan teh
Selanjutnya kita menginap di perkebunan teh di atas Situ Patengan, sambil melaksanakan “war game” antara kelompok bendera merah dengan bendera kuning. Kelompok yang berhasil menurunkan dan mengambil bendera lawan akan menang. Kelompok abang, kelompok biru dengan para penyerangnya yang bersemangat dan daya juang tinggi melakukan briefing menyusun strategi, untuk menyergap sarang kelompok kuning pada saat mereka terlelap pukul tiga pagi, pada dinginnya udara yang menusuk kulit. Pada saat itu, tentu abang sedang berada di markas, menjaga bendera sambil terlelap, sambil berusaha menghangatkan diri di sela bebatuan di sela perkebunan teh. Pada dini hari terdengar sorak sorai penuh kemenangan dari teman-teman yang berhasil merebut bendera lawan setelah merayap, menyelusup diantara kebun teh, dan memanjat tebing. Tentunya, peristiwa penyerangan itu begitu heroik seperti heroiknya aksi tidur abang.  

war game diantara kebun teh

Selesainya simulasi perang itu, ternyata acara belum berakhir. Kita masih harus masuk ke danau Situ Patengan, guling-guling, bernyanyi, berendam di air yang berubah keruh dan beraroma rumput, berenang, merayap, namun tetap bersemangat, bahkan sambil bernyanyi kita bermain air, menyipratkannya kemana-mana. Di depan mata, telah menunggu pejabat yang akan memasangkan brevet tanda kelulusan kita.

masuk danau situpatengan

Akhirnya acara ditutup pada hari minggu siang, saat muda-mudi sibuk berpacaran di setiap penjuru situ patengan, kita berbaris dengan kepala plontos dan wajah tidak karuan karena tiga hari tidak mandi dan bekal sisa lumpur danau pagi hari. Acara ditutup dengan upacara, peragaan beladiri militer, serta persembahan yel yel. Setelah penutupan itu, diumumkan nama-nama peserta yang mendapat peringkat sepuluh besar, yang mendapat sertifikat kelulusan dan hadiah topi. Saat itu, abang katakan kepada seorang teman “Ah, kita sih ga usah berharap peringkat segala, yang penting lulus aja.”

pemasangan brevet
Tak dinyana tanpa disangka, beberapa detik kemudian nama abang dipanggil sebagai peringkat empat dari 144 orang peserta pria wanita tua dan muda.

penyerahan piagam peserta terbaik

Adek, bagaimana kabar adek? Terlalu panjangkah cerita abang sehingga menjelma jadi pengantar tidur adek? Apa yang abang ceritakan tadi, itulah masa-masa tiga minggu abang menghilang dari peredaran. Saat adek menanyakan “abang, kapan pulang.” Abang hanya bisa menjawab “segera abang pulang..”

Abang merindukan adek. Saat-saat sehabis sholat, sering terngiang alunan suara adek membaca hafalan surat Al fajr yang merdu dan berkelok mendayu pada bagian “sekali-kali tidak, sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin..” lalu suara itu bergulir hangat dan menentramkan pada bagian “wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan mu dengan hati yang ridho dan diridhoi..” Bacaan yang membuat abang jadi tenteram, menerbitkan rasa rindu.


Semoga adek selalu dalam kebaikan. Sampai di sini surat abang, sampai kita bertemu lagi..


Salam,

Abang

Foto oleh Karmila Waty

Sunday, April 06, 2014

Eurotrip: a very short trip to Pisa


Kereta yang kutumpangi dari Stasiun Roma Termini menuju Firenze S.M.N. di sebelah utara meluncur dengan cepat. Di hadapanku duduk sepasang remaja berwajah asia yang menyebalkan, sepanjang jalan mereka bermesraan tidak karuan, menyebabkan dua jam perjalanan terasa tidak menyenangkan, karena di sebelahku duduk pria tengah baya yang terlihat kurang ramah, sehingga tidak kuajak ngobrol. 


Sampailah di Florence alias Firenze alias Florentia alias Fiorenza, satu kota dengan banyak nama ini. Hari sudah pukul empat sore ketika kulangkahkan kaki ke luar stasiun. Seperti biasa, tempat pertama yang kutuju adalah tourist information, karena aku belum merencanakan itinerary untuk tempat-tempat wisata selama di kota ini. Maka berjalanlah ke tourist information di sebelah kanan stasiun. 


Di sana ada orang, karena ini informasinya memang untuk orang. Mereka bisa bahasa inggris seperti biasanya. Maka aku meminta peta, gratisan, lalu meminta petunjuk objek wisata di kota ini. Petugasnya, seorang wanita muda yang telah terbiasa mendapat pertanyaan serupa menjelaskan dengan cepat tempat wisata yang bisa didatangi selama satu hari liburan, sambil corat sana coret sini di peta.  


Kuketahui kemudian bahwa letak kota Pisa cukup dekat dari Florence, sehingga memungkinkan untuk berkunjung ke sana menjelang malam ini. Maka kutanyakan pada petugas. 


“Bagaimana menuju Pisa? Apakah hari ini aku bisa bolak-balik ke sana.” Petugasnya melihat jam sejenak dan menjawab. 


“Ke Pisa memakan waktu satu jam perjalanan dengan kereta, tetapi jika sudah jam segini, kamu tidak bisa lagi ke sana karena hari ini ada demo, sehingga kereta berhenti beroperasi pada pukul 7 malam, lebih cepat dari biasanya. Kalau mau ke Pisa, sebaiknya besok saja.” Katanya. 


“Baiklah, satu lagi, tahukah mbak alamat hotel ini?” Setelah obyek wisata, berikutnya adalah menanyakan letak hotel, petugas menjelaskan juga dengan cepat cara menuju hotel.


“Bisa ditempuh dengan jalan kaki 15 menit dari belakang McD sana.” Katanya, sambil menunjuk. 


“Terimakasih.” Kataku. Luar biasa bermanfaatnya sebuah tourist information di pusat kota. Kota wisata di Indonesia perlu juga menyediakan layanan informasi turis ini di dekat stasiunnya, untuk membantu turis-turis yang tersesat dan berpotensi tersesat, sepertiku ini.


Maka berjalanlah aku ke penginapan, belok sekali, tanya sana-sini dan sampai. Di penginapan, aku masih saja memikirkan ingin ke Pisa, karena ini kesempatan satu-satunya setelah jauh ke Italia. Sampai penginapan, setelah check ini, kutanyakan kepada resepsionis hotel.


“Jika aku ingin ke Pisa bolak-balik hari ini masih bisakah? Naik apakah?” Petugasnya disela-sela kesibukannya yang melayani banyak turis yang sedang menginap menjawab dengan singkat. 


“Naik kereta, kalo jam segini sih ga mungkin bisa bolak-balik” begitu katanya, sambil berailh melayani turis lain, hotel sedang padat dengan tamu-tamu dan berbagai pertanyaannya. Sialun abang ini, sudah jawabannya ga enak, melayaninya juga tidak melayani. 


Tetapi kata sulit, tidak bisa, tidak mungkin, hanya menjelma menjadi pematik yang membakar rasa penasaranku. Masa sih? Masa sih ngga bisa? Maka detik itu juga kuputuskan untuk menuju ke stasiun kereta, mencari kereta yang bergerak menuju Pisa. 


Kebetulan di Stasiun ada kereta yang sedang mangkal, hendak menuju ke Pisa. Aku mendapat kereta jam 5.30 sore, sehingga jam 6.30 sudah bisa sampai di Stasiun Pisa Centrale. Pada musim panas ini matahari tenggalam jam 8an sehingga kota jam segini kota masih terang. 


Aku menghubungi petugas di loket stasiun dan menanyakan kapan kereta terakhir berangkat dari Pisa menuju Florence, katanya kereta terakhir jam 7an, berarti setengah jam lagi. Aku pun ke luar stasiun dengan langkah tergesa. 


Di luar, kutanyakan pada seorang berkulit gelap yang memakai kupluk putih, bagaimana cara menuju menara Pisa. Dia menjawab dengan bahasa yang kurang jelas, yang intinya mungkin aku harus menunggu bis dari halte di dekat gedung situ. Perjalanan ke sana sekitar 15 menit, kalau jalan kaki bisa 30 menit. Setelah menunggu beberapa menit, aku pun menjadi gelisah, tidak mungkin berangkat menuju Menara Pisa dengan bis, tidak akan sempat. Aku bimbang, apa kembali ke stasiun saja menunggu kereta pulang karena kabarnya angkutan yang bisa diandalkan menuju Florence hanya jalur kereta ini. Masa sudah jauh perjalanan, cuma untuk kembali pulang?


Maka aku berlari ke arah taksi dan menyuruh anak muda necis berkacamata hitam pengemudinya itu ngebut menuju Menara Pisa. Tetapi ini adalah kota yang padat sehingga dia tidak bisa ngebut. Pada satu bagian yang kelihatannya tinggal lurus, si pengemudi malah belok sana-belok sini membuatku sedikit curiga bahwa dia memperpanjang rute perjalanannya. Setelah sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya sampailah di sana. Waktuku tinggal 15 menit sebelum kereta terakhir ke Pisa. 


“Bisa ga abang tunggu di sini sebentar, sementara saya foto-foto? Apa harus bayar?” tanyaku pada si anak muda. 


“Ya, argo harus tetap hidup.” Katanya, tidak mau meringankan bebanku. 


“Ya sudahlah, silahkan pergi, nanti aku cari taksi lain saja.” Kataku sambil membayar biaya taksi  8 Euro.  


Dengan tergesa-gesa aku berfoto di depan menara Pisa, jepret sana-jepret sini, tidak sempat naik, tidak sempat berjalan-jalan ke sekelilingnya, tidak sempat masuk ke gedung pekuburan antik di sebelahnya, tidak sempat menjelajah katedral di seberangnya, bahkan tidak sempat duduk-duduk di tamannya dimana orang sedang beraktivitas duduk santai, berpacaran, bermain frishbe, atau sekedar berfoto dengan aneka gaya yang aneh. Semua itu tidak sempat kulakukan. Hanya sempat meminta tolong foto orang yang lewat.

Melihat kaosku yang bertuliskan Oxford University, ibu berkacamaya yang kuminta tolong memfoto bertanya.


“Mahasiswa Oxford University mas?” tanyanya. Ingin kujawab dengan jawaban iya yang tegas dan berwibawa serta jumawa, tetapi tidak bisa. 


“Ngga siy, saya kuliahnya di Leeds University, UK.” Kataku sambil hanya senyum malu.


Sekitar lima menit berfoto, aku berlari menuju taksi yang sedang mangkal, sayangnya pengemudinya tidak kelihatan. Menunggu beberapa saat, untunglah ada taksi lewat, supirnya bapak-bapak berewokan bersurban, melompat, segera menuju ke stasiun. 

Dalam 10 menit aku sudah berada di stasiun, berlari-lari menuruni tangga menyeberang menuju Platform No.5 mencari kereta yang menuju Florence dan 5 menit kemudian pada pukul 7.15 kereta terakhir menuju Florence ini berangkat. Nafasku masih tersengal-sengal saat menaiki kereta itu. 


Namun aku puas, ternyata tetap bisa ke Pisa. Ternyata sifat keras kepalaku ada juga baiknya, jika tadi tidak bersikeras menempuh perjalanan ke Pisa, tentu hari-hari ke depan akan dihantui rasa penasaran tentang bagaimana menara itu. Meskipun hanya menghabiskan waktu lima menit di sana, meskipun lima menit berbuah sebuah foto itu seharga biaya taksi dua kali delapan euro, sekitar 200 ribu rupiah. 

Aku hanya tersenyum sambil menatap matahari terbenam dari balik jendela kereta. Kereta berjalan dengan kecepan lebih pelan daripada biasanya, melintasi padang rumput, hutan, perbukitan dan danau yang temaram. Di langit sana sekelompok burung-burung sedang terbang, mungkin hendak kembali ke sarang. Tentu menyenangkan beramai-ramai seperti mereka, kembali ke sarang..

Exploring the Leeds University Library

Langit buram dan awan mendung menggantung di langit Kota Leeds tak menghalangi langkah kakiku untuk menuju kampus Leeds University. Kulangkahkan kaki menelusuri trotoar jalan di Woodhouse Lane, mencapai pertigaan dan menyeberang melewati zebra cross setelah mendapati lampu petunjuk menyeberang jalan berwarna hijau. 

Di sebelah kanan adalah Parkinson Building, gedung yang berdiri megah dan menjadi Landmark Universitas, gedung yang berwarna kusam dengan latar belakang langit yang sering kelabu, beberapa mahasiswa santai duduk di tangganya yang besar-besar. Gedung-gedung universitas dinamai dengan nama ilmuwan, termasuk gedung ini yang namanya diambil dari seorang ahli ekonomi terkenal Northcote Parkinson, satu kalimatnya masih kuingat benar karena pernah dikutip oleh seorang dosen di kelas saat memberi tugas: “Work expands so as to fill the time available for its completion.” 

Salah satu contoh prakteknya adalah bahwa diberi tenggang waktu yang sepanjang apapun, mahasiswa masih akan bersantai dan mengerjakan tugasnya di akhir waktu, dan ujung-ujungnya tetap akan ada yang terlambat mengumpulkan tugas. Aku adalah penganut aliran menunggu dan mengejar deadline itu. Oleh karenanyalah tiap melewati gedung Parkinson, serta tiap mengumpulkan tugas di akhir waktu, selalu teringat kutipan manis itu.. 
Di dalam Parkinson Building terdapat berbagai fasilitas universitas: ruang pusat bahasa, museum seni dan Brotherton Library dsb. Perpustakaan yang ini dikhususkan untuk buku-buku ilmu sosial, hukum dan seni, beserta aneka koleksi buku-buku tebal tua dan manuskrip langka lainnya. Namun, perpustakaan tujuanku bukan di gedung ini, aku harus menuju perpustakaan lainnya, berbelok kanan melewati Parkinson Building, menelusuri jalanan di pinggiran gedung yang halamannya rumput hijau berhias aneka tanaman bunga. Jika matahari muncul, halaman hijau di sekitar gedung akan memutih karena mahasiswa-mahasiswi pada berjemur demi mendapatkan sedikit tambahan pigmen.
Universitas punya beberapa perpustakaan antara selain Brotherton Library, antara lain: The Health Sciences Library perpustakaan untuk ilmu-ilmu kesehatan, St James's University Hospital Library perpustakaan khusus kedokteran dsb, serta Edward Boyle Library. Edward Boyle Library adalah perpustakaan di jantung kampus yang dominan dengan koleksi ilmu pengetahuan, teknik, dan berbagai koleksi lainnya. Sebagai seorang yang mengaku berdarah engineer, tentunya di perpustakaan inilah harus menghabiskan waktu. 

Edward Boyle Library berlantai sampai dengan 13, yang dimulai dari lantai 8. Jangan ditanya letak lantai satu sampai dengan lantai tujuhnya, karena akupun tidak tahu ada dimana. Untuk memasuki perpustakaan, mahasiswa harus menggunakan kartu sakti KTM, tempel sedikit dan portal pengaman bisa didorong. Sungguh sakti kartu itu, kartu segala fungsi segala manfaat, yang awal-awalnya dulu sempat membuatku luar biasa terkesima. Salah satunya adalah untuk meminjam buku di perpus, hanya perlu menempelkan kartu pada mesin pemindai dan menscan barcode pada buku-buku yang diinginkan, selesai, langsung masukkan ke dalam tas dan melenggang pergi.

Memasuki perpustakaan, menghamparlah aneka rak-rak berisi lautan buku, komputer dan sebagainya. Biasanya pertama kali aku akan mampir ke pojok kanan, bagian literature dan sastra, membaca sedikit karya-karya Salman Rushdie yang banyak bertengger di sana, lalu menutupnya lagi dengan sedikit cacian hujatan, bukan apa-apa, cuma karena aku tak bisa memahaminya.
Setelah itu, biasanya aku akan masuk berjalan menelusuri lorong diantara rak buku, menuju ruang koleksi film dan melihat satu-satu aneka judul film itu. Berbagai film dari yang lama sampai yang baru bisa kita dapati di sini, termasuk itu film the Doors yang sudah sulit ditemukan DVD nya di pasaran. 

Karya sastra dan karya film itu selalu berhasil mendistraksi perhatianku dari tujuanku semula, apa tujuanku semula? Adalah pergi mencari referensi buku di bagian engineering, membaca sebanyak-banyaknya untuk mendapat sedikit pengertian pada landasan teori penelitian.

Buku adalah gudang ilmu, jika demikian, untuk menemukan satu gudang ilmu di dalam gudang besar berisi jutaan gudang ilmu lainnya ini kadang-kadang bukan perkara mudah. Pada papan informasi yang tersedia, ada petunjuk ringkas tentang keberadaan buku-buku di perpustakaan.
Dari lantai yang di pintu masuk, level 9 tempatnya buku-buku sejarah, tambang, literature, sastra dsb kita beranjak naik ke lantai atasnya melalui tangga, mengikuti kebiasaan mahasiswa lainnya. Kebanyakan mereka lebih suka sedikit olahraga turun naik tangga daripada naik lift yang tersedia.

Sampai ke Level 10 tersusun rapi rak-rak penuh buku mulai dari sejarah modern, biologi, hewan, dsb. Kadang aku mampir ke salah satu bagian ilmu psikologi dan mendapati beberapa buku yang cukup mencolok mata, salah satunya beberapa buku tebal dengan judul Essays on the Pleasure of Death. Luar biasa, sudahkah para penulisnya mengalami sendiri, sehingga bisa menulis esai tentang nikmatnya kematian? Pertanyaan itu belum terjawab karena aku terus menuju lantai berikutnya.

Beranjak dari lantai 10 ke lantai 11 rak-rak buku mulai terasa familiar, ada buku ilmu makanan dan engineering mulai dari kimia, ilmu komputer, sipil, minyak, material, matematika, mesin, tambang dsb. Sesekali dulu mampir ke bagian teknik sipil dan mencari referensi. 

Tetapi rak buku tujuanku tentunya tetap di Lantai 12, tempat ilmu-ilmu umum, biologi, sport, geografi, geologi, dan tentunya transportasi. Buku-buku yang sangat spesifik pada satu dua topik khusus ini di Indonesia bakal susah didapatkan. Beberapa rak buku transportasi itu sudah sering ku kunjungi dan sudah familiar dengan beberapa judulnya. Namun, untuk menemukan buku yang diinginkan dengan menekuri satu demi satu judul buku cukup membuang waktu. 

Oleh karenanya, jalan praktis yang bisa diambil adalah dengan mencari buku melalui katalog online yang tersedia pada komputer-komputer di dekat lift. Dengan menggunakan login mahasiswa, kita bisa mengakses library online, Jika mencari judul buku tertentu, pada bagian buku itu akan tertera judul, penulis, kode raknya, serta kode bukunya. Sehingga memudahkan kita mencari buku. Bahkan jika buku itu sedang dipinjam, kita bisa mengklik pemesanan sehingga orang yang sedang meminjam tidak bisa memperpanjang jangka waktu peminjaman, dan selanjutnya kita akan diberitahu jika buku itu sudah bisa diambil. Pada akun mahasiswa bisa dicek buku apa saja yang sedang dipinjam dan kapan harus diperpanjang atau dikembalikan. Akun tersebut juga sakti mandraguna untuk mendapatkan berbagai paper, jurnal, disertasi dan bermacam electronic resources lainnya dari dunia akademis, dengan sekali klik download. Luar biasa memudahkan, surga ilmu pengetahuan. 

Setelah menemukan buku yang kucari, ku ambil untuk menuju meja yang terdapat di sebelahnya, di lokasi silent study area. Area ini ditandai dengan tanda dilarang berisik, tidak perlu ada Rangga dan lemparan pensilnya, karena sepertinya kebanyakan orang mematuhi aturan yang tertera. Aku pun mulai membaca.
Perihal membaca buku itu, jangan dikira merupakan sebuah aktivitas yang bisa bertahan berjam-jam penuh konsentrasi. Biasanya beberapa lama melihat dan mempelajari rumus-rumus model matematika, di dukung penuh oleh ruangan yang terlalu sunyi senyap, hawanya yang terasa hangat dari penghangat ruangan yang ada di dekatnya, serta aroma-aroma buku-buku itu, akan membuat kantuk segera datang, rumus-rumus dan berbagai lambang matematika biasanya menjelma menjadi makhluk-makhluk kecil yang menggeliat keluar dari buku, dan pada ujungnya akupun jatuh ketiduran, kepala tertelangkup jatuh pada gudang ilmu yang sedang terbuka lebar. Itulah hal yang akan terjadi, setelah beberapa kali pembuktian secara empiris. 

Menyadari hal itu, aku sudah menyiapkan strategi: setelah membaca beberapa bagian akan ada sesi diskusi dengan seorang teman sekelas. Ruang diskusi ada di lantai paling bawah, lantai 8. Di sanalah seorang Arwa, wanita cantik berkerudung dari timur tengah yang jenius dan semua mata pelajaran mendapat nilai distinction, sedikit menjelaskan mengenai random taste of heterogeneity pada discrete choice modeling. Istilah itu tidak mungkin dinisbatkan pada sesuatu yang manis semanis potongan kue lapis legit, bahkan sepertinya bukan sesuatu bisa dimakan.. 

Satu dua jam diskusi dengan Arwa biasanya akan memberikan pencerahan pada satu dua persoalan yang tadinya mengganjal. Hal itu bisa menjadi bahan buat menulis bahan tugas atau landasan teori untuk thesis. Kesempatan yang baik setelah diskusi itu kugunakan dengan beranjak menuju ruang komputer cluster, di Lantai 10, membaca lagi, sambil mengetik rangkuman hasil bacaan. Jangan pernah menulis sesuatu yang sama dengan yang ada di buku, karena itu akan menjadi plagiarisme dalam dunia akademis. Kemampuan membolak-balik struktur kalimat dan mencari padanan kata sangat diperlukan. 

Sambil melirik kanan-kiri, berbagai suku bangsa pria dan wanita sedang asyik di komputer masing-masing, mungkin sedang mengerjakan tugas. Jika beruntung, selalu ada satu dua wanita blonde cantik yang rambutnya berpijaran keemasan terpapar sinar matahari sore. Pada musim ujian dan tugas-tugas besar biasanya ruang komputer selalu penuh. Pada hari-hari biasa, perpustakaan ini buka sampai jam 12 malam, dan pada masa-masa ujian akan buka selama 24 jam non stop. Tidak mengherankan jika pernah ada cerita orang hilang yang pengumumannya dimuat di halaman koran, setelah beberapa hari orang hilang itu ditemukan dalam keadaan mendekam di perpustakaan. Lost in the library, terdengar keren.

Tak terasa waktu pun berlalu, setelah berjam-jam berkonsentrasi, akhirnya jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih, mata sudah semakin sayu, baterai sudah low. Jika satu hari terasa produktif, apalagi jika mendapat sesuatu ide dan bahan yang bisa dimasukkan ke dalam penelitian, membuat semacam perasaan senang. Membuat ingin segera pulang ke rumah dan memeluk orang rumah. Okey, orang rumah itu belum ada, cuma ada tetangga kos yang akan merasa aneh jika mendadak dipeluk. Tapi hal ini tak mengurangi euforiaku ketika berjalan pulang. 

Aku melangkah dengan langkah-langkah panjang kali lebar kali tinggi. Orang-orang Inggris kebanyakan hobi berjalan kaki dengan langkah lebar dan panjang, boleh jadi dua kali kecepatan jalan orang indonesia kebanyakan yang sedang bergerombol, lama-lama kebiasan langkah cepat itu menular, membawa semacam rasa optimis.

Aku berjalan pulang melalui lorong, berbelok menelusuri bangunan-bangunan tua yang gelap dan bersuasana mencekam. Berbelok lagi mencapai Parkinson building, melewati beberapa taksi yang masih parkir di depan gedung. Mencapai lampu merah, dan berpapasan dengan serombongan orang-orang yang mabuk baru dari club atau bar setempat, mungkin mereka hendak pulang, mungkin juga hendak melanjutkan maraton ke bar-bar lain di kota. Berhadapan denganku seorang wanita agak gemuk, berambut pirang berkostum peri. Apakah di depanku ini semacam penampakan halusinasiku yang disebabkan karena aku terlalu lama belajar?

“Emiliii” Teriaknya ketika melihatku.

Lalu dia bergerak mengejar dengan langkah sempoyongan, diikuti rombongan wanita teman-temannya. Ada apa ini? Sejak kapan namaku berubah menjadi Emili? Kebetulan lampu hijau tanda boleh menyeberang sudah hidup, aku pun lari menyeberang jalan, pergi menghindari wanita mabuk dan delusinya soal Emili.

Agak kontras memang, nuansa akademis surga ilmu pengetahuan di dalam kampus yang berlangsung sampai pagi, bersanding dengan hingar-bingar suasana kehidupan malam menyambut weekend yang juga berlangsung sampai pagi ini..