Sunday, September 09, 2012

eksperimen

Pada dasarnya gw adalah seorang yang anti kehidupan monoton, baik itu aktivitas fisik aktivitas pikiran harus selalu berhadapan dengan hal-hal baru, sehingga dalam setiap hal yang gw lakukan seringkali gw melakukan sedikit improvisasi. Salah satu contohnya adalah jika ketika berangkat kuliah gw lewat depan kampus, biasanya ketika pulang kuliah akan lewat belakang, menjalani rute yang berbeda untuk satu tujuan yang sama adalah bentuk minimal untuk proses anti kehidupan monoton itu. 

Pada dasarnya gw juga suka bereksperimen, seringkali eksperimen itu melibatkan makhluk-makhluk lain di sekitar kita. Seperti eksperimen apakah kucing jantan yang kumisnya dipotong akan kehilangan kegantengan, maka gw potong kumis kucing jantan gw, kemudian gw amati perilaku kucing betina terhadap kucing jantan yang tanpa kumis ini. Kadang-kadang eksperimen gw melibatkan manusia, kadang dengan mengeluarkan pernyataan tertentu yang profokatif, kadang dengan menunjukkan perilaku tertentu. Seringnya, eksperimen itu adalah demi kepentingan eksperimen itu sendiri. 

Beberapa waktu lalu, gw sukses membuat sebuah eksperimen kecil lain. Pada pagi itu, gw dengan seorang teman satu flat beda lantai dengan inisial Meru akan melakukan perjalanan dari Leeds ke London, tiket sudah dipesan dari jauh hari untuk kereta jam 10. Sewajarnya orang yang janjian, maka gw mengirimkan bbm berisi pertanyaan awal untuk bertemu. 

Tama (09:09): “Udah sampe mana mer?” (Maksudnya “sudah sampe mana persiapan buat berangkat?” karena akan berangkat bareng menuju ke stasiun kereta, namun gw sedikit bereksperimen dengan menghilangkan kata “persiapan buat berangkat”). Ransel dan segala macam barang sudah siap, sambil menunggu jawaban gw bersantai-santai, browsing segala macem. Ketika datang balasan bbm yang mengejutkan.   
Meru (09:24): “Masih Jalan”
Meru (09:24): “Jam 10 teng kan”
Meru (09:24): “Jam 10 teng keretanya”
Maka gw terkaget-kaget membaca jawaban itu, sementara gw masih nungguin di lantai atas, kenapa dia yang di lantai bawah berangkat duluan ninggalin gw? Maka gw balas, namun bbm di kala itu terjangkit pending sehingga agak terlambat sampai.
Tama (09:30): “Masih jalan kemana? Lah gw masih di rumah nungguin.”
Meru (09:32): “Lahh”
Meru (09:32): “Kirain dah jalan duluan”
Meru (09:32): “Jiah”
Meru (09:32): “Ni udah di city center”
Meru (09:32): “Bzzzz”
Meru (09:32): “Naek taksi aja bg dari Parkinson”
Meru (09:32): “Miskom”

Alamak, alamat ketinggalan kereta nih. Akhirnya gw kelabakan lari keluar kamar, turun tangga, berlari-lari ke halte bus, sudah tidak mungkin sempat menunggu bus, maka gw berlari lagi di pinggir jalan mencari taksi, harus naik taksi untuk ke stasiun yang jaraknya setengah jam jalan kaki. Beruntung saat sedang jalan, sebuah taksi melintas, sehingga langsung gw stop dan meluncur dengan lancar ke stasiun. Akhirnya harus membayar seharga lima pounds buat ongkos taksi. 

Merasa bersalah karena sudah meninggalkan gw yang beresiko batalnya perjalanan ke London, Meru menawarkan mengganti uang taksi lima pound itu, namun gw tolak dengan untuk menandaskan bahwa itu adalah harga eksperimen yang harus gw bayar. Meski gw sama sekali tak pernah menyangka bahwa akibat pertanyaan gw yang sederhana dan mengadung ambiguitas tinggi itu seorang Meru akan terjangkit panik, mengira gw berangkat duluan dan sudah menunggu di stasiun, sehingga bergegas berangkat menuju stasiun seorang diri.. Itu adalah harga sebuah eksperimen, dan eksperimen seringkali berharga mahal. 

Maka gw membuat catatan dalam hati, untuk tidak sering melakukan eksperimen lagi. Cukuplah sudah, karena ada biaya yang harus ditanggung untuk eksperimen tak bermanfaat itu, seperti eksperimen-eksperimen lain yang kadang-kadang gw lakukan. 

Thursday, August 16, 2012

sayonara Leeds

Belum sempat menulis blog lagi, jadi posting tulisan perpisahan buat group PPI Leeds seperti berikut ini..


Hai temans,

Sekedar ingin menyampaikan pengumuman tidak penting bahwa gw sudah sampai di Indonesia tercintah.

Sudah setahun lebih berlalu sejak pertama kali menjejakkan kaki di Leeds. Sungguh, jika Einstein mengemukakan teori relativitas bahwa waktu dan ruang hasil pergerakan sangat tergantung pada keberadaan pengamatnya (Sumber: Marthen Kanginan, 2001), mungkin berlaku juga buat kita bahwa waktu seringkali memuai ketika berada di kelas yang membosankan dan bisa tiba-tiba pula menyusut saat bercanda-tawa dengan teman semuanya. Bagi gw, setahun di Leeds terasa bagai sekejap saja.

Selama berada di Leeds, karena gw adalah seorang muslim, terasa ada jarak antra gw dengan kehidupan sosial mahasiswa internasional, jarak itu seringnya tergantung dari kadar alkohol di dalam gelas. Sehingga teman-teman PPI mengambil peranan penting bagi kehidupan sosial gw selama di Leeds.

Satu persatu dari kita datang, satu persatu juga yang akan pulang. Selama rentang masa setahun ini perkenalan, pengetahuan dan bermacam pengalaman baru hadir diantara kita.

Terimakasih gw ucapkan buat pengurus PPI Leeds. Cukup banyak acara yang telah diadakan pengurus PPI mulai dari silaturahmi, rapat-rapat, diskusi hangat, pertandingan olahraga, jalan-jalan dsb. Meskipun sebenarnya gw mengharapkan lebih banyak lagi acara yang bisa diadakan, jerih payah para pengurus patut diapresiasi.

Terimakasih juga gw ucapkan buat teman-teman semua atas acara-acara yang teman-teman adakan, ada acara ulang tahun, nonton bareng, foto bersama, cela dan canda, ada juga perang salju insidental.

Ada kebahagiaan yang kita bagi bersama, seperti bahagia ketika mendapati butiran-butiran salju jatuh dari udara pada musim dingin yang lalu, maka gw lemparkan sebagian salju itu kepada teman sekalian yang membutuhkan, semakin banyak salju yang muka teman sekalian terima mungkin mengindikasikan semakin banyak rasa sayang dan bahagia yang gw berikan. Mungkin benar bahwa kebahagiaan akan lebih terasa berarti jika kita bisa berbagi.

Ada juga masanya ketika adalah beban yang harus kita bagi bersama, karena terkadang tantangan yang kita dapat melebihi kemampuan yang kita miliki. Asumsinya kesulitan individual akan menjadi lebih ringan jika ditransformasikan menjadi beban komunal. Maka terimakasih banyak gw ucapkan terutama kepada rekan-rekan ITS atas diskusi-diskusi hangat seputar transport planning and policy, transport engineering, traffic management, road geometry and infrastructure, serta stated preference berikut continues interval dalam random taste of heterogeneity pada discrete choice modeling. Tanpa semua diskusi itu, beban kuliah di Leeds akan terasa lebih berat.

Bermacam peristiwa mengganti satu bagian gelap di ruang memori menjadi warna-warni, beberapa akan segera mengabur terdistorsi oleh bagian lain dari kenangan, mimpi dan angan, namun sebagian lain yang esensial akan melekat dan mengendap hingga tak berhingga lamanya.

Setelah meninggalkan Leeds, mau tak mau ada bagian dari perasaan gw yang tertinggal di sana, sehingga berharap suatu saat akan punya kesempatan untuk datang dan mengambilnya kembali.

Semoga nanti kita bisa bertemu lagi untuk sekedar berbagi cerita nostalgia atau merangkai cerita baru. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh selama ini dapat membawa manfaat untuk kehidupan kita di masa yang akan datang dan kehidupan indonesia kita tercintah.

Jika ada sumur di landang, boleh kita menumpang mandi, jika ada umur panjang, boleh kita menumpang mandi.. (lagi).

Salam
Tama
(Catatan di Soekarno-Hatta International Airport, sambil menunggu pesawat ke Jambi yang katanya delay sejam lebih, yang delay nya masih di delay lagi.. :p )

Tuesday, July 31, 2012

mentok

Kembali ke penelitian thesis. Pembimbing meminta hasil awal dari survey yang telah kulakukan. Setelah menginput data, membuat model dan mencoba menjalankan software. Ternyata hasil yang muncul sangat berbeda dari yang diharapkan. 

Value of travel time saving yang menurut penelitian sepuluh tahun lalu sebesar lima ribu, berdasarkan penelitian ini menjadi lima puluh ribu. Sepuluh kali lipat, apa yang terjadi? Apakah ini modelnya yang salah? Atau simulasi awal yang salah? Atau pembuatan kuesioner yang salah? Atau responden yang bias? Apa harus mengulang survey? Apa penelitian ini akan gagal. Sungguh stress dibuatnya.  

Jika kita mentok akan suatu hal, ada baiknya untuk keluar dulu dari hal itu sementara, untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda atau sekedar mendapatkan energy baru untuk menghadapinya kembali. Maka aku berjalan saja keluar rumah, rambut sudah panjang, terasa gerah hingga perlu dipotong, maka barbershop langganan untuk memotong rambut menjadi tujuan. Maka aku berjalan dengan langkah-langkah kecil penuh ketidakpastian, sambil menunduk menatapi jalan kecil beberapa meter di depan, sambil mendengar dan mendendangkan lagu-lagu blur dari mp3 player, sambil berpikir mau dibawa kemana ini hasil penelitian.

Where's the love song to set us free
Too many people down
Everything turning the wrong way round
And I don't know what life would be
If we stop dreaming now
Lord knows we'd never clear the clouds

And you've been so busy lately that you haven't found the time
To open up your mind
And watch the world spinning gently out of time
Feel the sunshine on your face
It's on a computer now
Gone to the future way out in space

And you've been so busy lately that you haven't found the time
To open up your mind
And watch the world spinning gently out of time

Tell me I'm not dreaming
But are we out of time
We're out of time

(Blur - Out of time)
Tak berapa lama, rambut sudah lebih pendek, kepada terasa lebih ringan. Pulang melewati taman, menikmati hijau segar dedaunan serta wewangian rumput. Maka berhentilah aku di salah satu bagian taman, duduk sebentar, lalu tiduran. Berbaring seorang diri tak peduli apa-apa. Mendengar kicau burung-burung dan sayup-sayup mobil seliweran. Menatap daun di atas sana yang bergoyang-goyang ditiup angin. Menatap langit-langit pagi yang kelabu seperti biasanya. Sungguh manusia terlalu kecil untuk merasa dirinya besar dan terlalu besar untuk merasa dirinya kecil. 


Sebentar kemudian aku pulang, kembali ke pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, yang harus diselesaikan bagaimanapun penyelesaiannya. 

Monday, July 09, 2012

hey there

Akhirnya target satu tulisan seminggu sekali tak terealisasi. Sedikit banyak karena ada target yang lebih penting, yaitu menyelesaikan kuliah dengan baik. Pada masa awal perkuliahan, devinisi "dengan baik" itu adalah mendapatkan semua nilai distinction (A) namun seiring waktu target distinction itu terasa sangat mustahil, hanya manusia Indonesia dengan kemampuan layaknya dewa yang bisa mendapatkannya. 

Alhamdulillah, meski tidak bisa mendapat distinction, yang mungkin karena faktor bahasa inggris yang belum begitu bagus, atau bahkan intelegensia yang tak mencukupi, namun semua mata kuliah masih mendapat nilai merit (B) nilainya para mahasiwa Indonesia biasa. Jika dihitung dari rata-rata kelas, sepertinya masih di atas rata-rata kelas dari setiap mata pelajaran, masih tergolong sepuluh teratas dari sebagian besar mata kuliah. 

Nah, berakhir sudah masa kuliah, sekarang tinggal berjuang untuk penyelesaian penelitian thesis (dissertasi). Ujian poster telah dilalui dengan nilai distinction, presentasi proposal sudah dilalui dengan nilai belum diketahui, target selanjutnya tinggal mensubmit laporan thesis dengan target nilai kembali merit. Biar ketika kembali pulang bisa segera merit. Semoga tidak ada interupsi untuk merit yang kedua.

Selama menempuh master, biarpun tidak terlalu maksimal juga usaha ku tapi rasanya sudah cukup lumayan, ada perbaikan pola belajar dibanding sewaktu kuliah sarjana yang tak tentu arah keasyikan bermain dan berorganisasi. Sekarang lebih menikmati belajar, menikmati malam-malam sepi sendiri membaca jurnal. Jadi, setelah hampir sepanjang tahun belajar, rasanya boleh memberi sebuah reward berupa jalan-jalan. Yak, dua minggu ke depan adalah waktunya jalan-jalan ke beberapa kota Eropa, merestart kembali pikiran untuk kembali dengan energi baru dan semangat baru.

Mungkin nanti ada cerita-cerita yang bisa ditulis di sini, berharap cerita tentang manisnya perjalanan. Meski tanpa tujuan wisata yang jelas karena tak memiliki cukup waktu untuk persiapan, selama ini pikiran hanya fokus untuk pelajaran dan mengejar berbagai deadline penelitian. Begitulah, hanya berharap menjadi manis karena penulis akan berpergian sendirian saja berkelana ke beberapa kota, beberapa negera dengan membawa tas punggung dan kamera. Dalam perjalanan itu, siapa tau bisa ditemukan seseorang yang bersedia dibawa merit bersama di Indonesia. Oke oke, posting seperti tulisan jurnal harian ini tidak layak baca. 

Sebenarnya ada rencana untuk menulis hal-hal bermanfaat seperti random taste of heterogeneity pada discrete choice modeling, tapi sepertinya kemampuan masih terbatas. Hanya ada niat dalam hati suatu saat membuat tulisan-tulisan analisis atau sekedar komparasi beberapa kasus transportasi ketika telah menjadi praktisi, sehingga teori tak sekedar teori. 

Sampai jumpa beberapa minggu lagi.

Salam manis selalu. 

Buat kamu.

Apa kabar dirimu?

Iya, kamu? 

Sunday, June 24, 2012

dari balik jendela

Sepotong bulan kepagian menarik sepasang mata untuk melihat dari balik jendela, untuk memandangi yang ada di dekat sini atau yang dikejauhan sana demi sekedar menerbitkan berbagai rasa. 
Bulan yang pucat itu menggantung tanggung di langit yang kelabu. Lampu-lampu malam mulai dihidupkan, ritme kehidupan mulai menurun. Wahai bulan, kemana cahaya indah yang selama ini kau pancarkan. Kenapa gelap harus datang sebelum cahayamu menjadi terang. Kenapa kau hanya ada diluar sana, menatap dari kejauhan. Dedaunan masih hijau dan riang diwaktu engkau datang, memberi suasana sama di sini, di balik jendela. Seperti biasa datang dan pergi gelap gulitanya malam, terang benderang dalam siang juga hadir berhias langit kelabu daripada biru.

Suatu ketika dedaunan pohon itu segera menguning dan mulai berjatuhan, sebagaimana yang sudah tercatat pada buku besar kehidupan. Hanya bisa kutatapi satu persatu daun menguning itu, yang bersusah payah memberi perannya yang terakhir untuk menyuburkan alam. Ikut luruh perasaanku terkadang, dari sepasang mata yang menatap dari balik jendela.  

Seiring berlalunya waktu, bulan kembali datang, semakin dekat, semakin bercahaya. Semakin pula ia membangkitkan rasa sekaligus menghadirkan tanya, bulan yang ini apakah sama dengan bulan yang ada luar jendelanya? Saat bulan mengingatkan sepasang mata dari balik jendela padanya, apakah bulan itu mengingatkannya pada pemilik sepasang mata dari balik jendela? meski bulan selalu mengingatkan pada senyuman dan keindahan disela-sela hiruk pikuk pencarian pengetahuan dan pengejaran mimpi, namun bulan tetaplah bulan, malam tetaplah malam, sekajap dia datang lalu menghilang. Perasaan bahagia, sedih, siang, malam, teman dan segala sesuatu datang dan pergi sudah biasa dalam kehidupan. 
Di ketika lain angin begitu kencang meniup segala rupa seraya memperdengarkan desau-desau menggetarkan kaca jendela. Kupandangi pohon yang tanpa daun itu, yang meronta mencoba bertahan, jika daun-daun itu masih ada disitu, tentu sudah jatuh berdebam sang pohon mencium muka tanah yang basah. Seketika dari langit menjelma  butiran-butiran putih halus bagai kapas yang menikmati belai angin. Menciptakan momen syahdu pada mata di balik jendela yang tak menyanggupi ajakan menarikan nada alam. Mata itu sudah lelah, dinginnya yang membekukan segala raga dan rasa hanya mampu ditahan dengan berlindung di balik selimut yang nyaman. 

 
Dari balik jendela pula, ketika mentari pagi mencoba menyeruak menyinar memberi hangat, permadani putih menghampar menutupi segala sesuatu dalam arah pandang. Rasa ingin menjejaki dan menari-nari diantara tumpukan salju itu seketika tak terhankan, membuat mata dibalik jendela terlupa pada bulan, terlupa pada badai semalam juga bahkan pada bisik-bisik mimpi barusan.  

Berwaktu-waktu yang berlalu membuat salju lalu mencair, malam yang panjang perlahan menyusut. Tunas-tunas kecil mulai tumbuh di pohon itu, bunga-bunga kecil mulai menyebar di atas rumput, merekah dengan warna-warni ceria. Semua seolah-olah ingin memberi tahu bahwa harapan-harapan baru selalu akan muncul dari ketiadaan. Keindahan bunga akan muncul dari halaman yang semula membosan. Oleh karenanya mata dibalik jendela tak perlu khawatir akan ketiadaan bulan, masih banyak warna lain yang memberi arti wilayah pandang. 


Lama-lama tunas kecil di antara ranting-ranting pohon menjelma juga menjadi dedaunan, berubah warnanya dari muda hingga menua. Bertambah sedikit demi sedikit seiring waktu yang berlalu hingga menyebar menutupi ranting yang mulanya telanjang. Dengannya seruan angin dijawab dengan tarian penuh harapan akan kehidupan, akan kesegaran.

Dari balik jendela sepasang mata memperhatikan semua, hanya dari balik jendela. Bahkan saat daun-daun itu beralih dari ada, menjelang tiada, menuju ada lagi, mata yang menatap dari balik jendela seringkali merasa kosong, berusaha menemukan hiburannya dari hal-hal kecil. Dari sepasang burung yang membangun sarang dan bercanda mesra setiap pagi, semata-mata karena ketiadaan cahaya bulan.

Pada hati yang dimiliki oleh mata dibalik jendela, betapa musim telah berlalu dan berganti, belum ada daun-daun baru yang tumbuh, belum juga bunga-bunga baru yang mekar untuk mengundang getar akibat kupu yang menjejak langkah dalam tari dari satu putih ke putik lain. Musim harus berganti lagi, menyisakan satu dua tanya pada mata yang mengamati dari balik jendela.

Sunday, June 10, 2012

gelandangan dan pengemis di UK

Pada mulanya, kukira Negara maju seperti United Kingdom (UK) warga negaranya sejahtera, sehingga tak  ada yang menjadi tunawisma dan meminta-minta. Namun, rupanya di sepanjang jalan dari lingkungan kampus menuju ke city centre juga seringkali terdapat beberapa orang tunawisma yang duduk-duduk di pinggir jalan mengharap bantuan dari orang-orang yang lewat.

Secara statistik, jumlah gelandangan di seluruh UK sebanyak 380 ribu orang, atau sekitar 0.6 persen populasi.  Jumlah yang cukup sedikit jika dibandingkan dengan di Indonesia yagn diperkirakan mencapai 15 juta jiwa atau sekitar 6 persen populasi. Bagaimana cara pemerintah UK menanggulangi masalah gelandangan dan pengemis ini? Sebagai Negara maju, dengan tingkat pendapatan perkapita yang tinggi, tentunya UK cukup memiliki anggaran untuk kegiatan penanggulangan kemiskinan, hal yang erat kaitannya dengan potensi menjadi gelandangan.

Jika dilihat berdasarkan pendapatan dari pajak, UK menerapkan system pajak bertingkat berkisar dari 10 sampai 50 persen. Pendapatan pajak di UK mencapai 37.5 persen dari GDP, sementara pajak penghasilan adalah sumber utama pendapatan pajak yang mencapai 155 billion per tahun. Sebagai kompensasi untuk persentase pajak penghasilan yang besar, tentunya berbagai fasilitas umum untuk kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, kemudahan, keamanan, sarana dan prasarana warga negaranya sebesar mungkin disediakan pemerintah. Salah satunya berupa program yang menjangkau kalangan mansyarakat miskinnya, yaitu berbagai tunjangan.

Untuk pengangguran, dengan devinisi usia di atas 18 tahun yang belum bekerja atau bekerja dengan waktu kurang dari 16 jam seminggu, tersedia tunjangan berupa unemployment benefit yang disebut dengan Job Seeker Allowance (JCA). Besarnya tunjangan adalah 71 GBP per minggu atau sekitar satu juta dalam kurs rupiah.

Tunjangan ini diberikan dengan berbagai perjanjian seperti berusaha mencari pekerjaan, menghubungi beberapa perusahaan setiap minggu dsb dengan evaluasi bulanan. Bagi yang sudah 12 minggu tidak mendapat pekerjaan akan masuk ke bagian “the work programme”, untuk pelatihan peningkatan keahlian dsb. Program ini ideal, selain membantu keuangan untuk mencukupi kebutuhan hidup minimal, juga mendorong para pengangguran untuk terus mengembangkan diri dan mencari pekerjaan.

Selain tunjangan ini, ada berbagai tunjangan lain seperti income support yaitu tunjangan yang diberikan untuk orang yang berkerja namun penghasilannya rendah. Ada juga housing benefit, tunjangan yang diberikan untuk membantu orang-orang yang kesulitan membayar sewa rumah, serta berbagai tunjangan lainnya.

Kedengarannya sudah ideal, mungkin lebih baik daripada program serupa di Indoensia, jika memang ada. Namun mengapa masih ada yang menganggur dan berkeliaran di jalanan? Ternyata, meskipun Negara maju, perkembangan ekonomi dan tingkat penyerapan lapangan kerja tetap tidak sebanding dengan angkatan kerjanya, sehingga tetap banyak yang tidak bisa mendapat pekerjaan, disamping anomali bahwa ada sebagian kecil orang yang justru enggan bekerja. Selain itu, ternyata ada juga pengangguran yang tidak bisa menjangkau program ini karena tidak bisa memenuhi peryaratannya. Orang yang tidak punya tempat tinggal memiliki potensi untuk kesulitan mengklaim benefit ini. Akibatnya sebagian pengangguran terpaksa menjadi gelandangan dan pengemis. Orang-orang pada wilayah tersebut, yang rawan untuk menjadi miskin, menganggur dan menjadi tuna wisma, akan semakin mengalami kesulitan untuk keluar darinya.

Demikianlah, sehingga gelandangan tetap berkeliaran, dianggap sebagai salah satu masalah sosial dan sering menimbulkan kecemasan terhadap orang-orang di dekatnya. Orang-orang cenderung merasa enggan untuk mengambil uang di ATM atau menunjukkan uang atau barang kepemilikannya jika berada dekat dengan gelandangan.

Sebagian besar gelandangan juga sangat terkait dengan penyalahgunaan obat-obatan dan ketergantungan alkohol, salah satu penelitian menyebut persentasenya 80 persen dari populasi. Mungkin minuman dan obat-obatan tersebut bisa membantu mereka keluar dari kehidupan yang kurang besahabat ini, sehingga semakin sulit untuk keluar darinya.

Meskipun bukan tindakan kriminal, oleh pemerintah pernah diambil tindakan untuk menangkap para pengemis dengan alasan mengurangi kecemasan publik dari kemungkinan tindakan agresif saat meminta atau yang mengarah pada kriminal. Kebijakan ini dikecam oleh berbagai lembaga amal yang mengatakan bahwa kebijakan ini tidak tepat, tidak efektif dan tidak menyelesaikan akar masalah.

Selain regulasi dari pemerintah, berbagai lembaga kemanusiaan juga berusaha untuk menyelesaikan masalah gelandangan dan pengemis. Salah satunya adalah Thames Reach, yang berpusat di London, yang visinya sangat mulia untuk menolong orang-orang yang lemah, tidak punya rumah dan menggelandang dengan cara memberikan bantuan tempat tinggal, menyalurkan kepada pelatihan dan lapangan kerja, membangun kembali hubungan sosialnya, membantu memperbaiki kondisi mentalnya, membantu menghilangkan kebiasaan buruk, kecanduan obat-obatan dan minuman keras. Dilaporkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir sudah 20 ribu orang ditolong untuk keluar dari kehidupan jalanan.

Betapapun idealnya, tak semua usaha bisa mencapai hasil yang sempurna. Masih banyak gelandangan dan pengemis berkeliaran di London, Leeds maupun kota-kota lain di UK. Setiap kali melihat satu dua gelandangan yang mengemis, terjadi dilemma untuk sedikit memberi atau untuk berlalu begitu saja.

Jika memberi uang, yang tentunya dilandasi oleh rasa kasihan, seringkali berarti membenarkan para pengemis untuk tetap menjadi pengemis. Terkadang memberi uang itu hanya akan dimanfaatkan untuk memanjakan mereka dengan ketergantungan pada obat-obatan dan minuman keras. Dalam hal ini, memberi uang kepada pengemis membuat kehidupan mereka lebih terancam karena mereka tidak akan berhenti mengemis dan tak berusaha memperbaiki kehidupannya.

Jika para pengemis tidak mendapatkan uang, mungkin timbul keinginan untuk merubah nasib dengan cara bergabung ke lembaga sosial yang bisa membantu mencari jalan keluar masalahnya dan membantunya mencari pekerjaan. Namun hadir juga kekhawatiran bahwa jika mereka tidak mendapat uang dari mengemis justru akan beralih menjadi pelaku kriminal, meski salah satu penelian menyebut bahwa angka kejahatan tidak bertambah ketika kegiatan mengemis dilarang.

Ada pengemis yang mengemis karena faktor sikap mental yang kurang baik, malas dsb, ada juga yang semata-mata karena keterpaksaan. Cukup sulit membedakan mana orang-orang yang benar-benar membutuhkan uang sekedar untuk makan dan bertahan hidup dan yang mana yang menjadikan mengemis sebagai profesi untuk mendapatkan uang karena memang malas bekerja.

Jika orang menjadi pengemis karena keterpaksaan, sekedar untuk bertahan hidup saat sudah mencoba berbagai cara untuk bekerja, tentunya ini menjadi salah satu dosa penyelenggara pemerintahan. Pemerintah yang belum sukses mengupayakan pendidikan atau membuka akses terhadap pekerjaan. Sehingga mau tak mau, pemerintahlah yang paling berkewajiban untuk menjawab permasalahan ini melalui berbagai upaya peningkatan ekonomi, penyediaan pendidikan dan pelatihan dsb. Tentunya bantuan dari organisasi-organisasi sosial yang didukung oleh bantuan keuangan dari orang-perorang tetap dibutuhkan agar jangkauan keberhasilanya lebih luas.

Jika di UK yang notabene adalah Negara maju dengan sumberdaya manusia dan finansialnya yang baik permasalahan ini belum bisa diselesaikan, ada indikasi menyelesaikannya di Indonesia dengan persentase dan jumlah yang lebih besar dan area yang sangat luas, bisa lebih sulit lagi. Dalam kasus pemerintah Indonesia, sebuah legenda bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara sepertinya hampir terlupakan.

Entahlah, dan kenapa pula aku sampai menulis tentang masalah ini? Mungkin karena setiap melewati satu dua pengemis yang dipinggir jalan, selalu muncul dualisme antara tega tidak tega, memberi tidak memberi, membantu tidak membantu. Setidaknya menulis tentangnya bisa setidaknya sedikit mengurangi beban pikiran..