Sunday, February 16, 2014

Euro Trip: When in Rome

Ada sebuah pepatah sakti mandraguna yang mengatakan bahwa banyak jalan menuju Roma. Berbekal petunjuk itulah, akhirnya kutempuh perjalanan menuju ke Roma-Italia dengan menggunakan pesawat, supaya jalan-jalan tersebut bisa terlihat dari atas langit. Pesawatnya adalah bermerek Vueling dari Bandara El Prat Airport di Barcelona, menuju Leonardo da Vinci–Fiumicino Airport di Roma, walaupun panjang dan susah nama bandara ini, namun akhirnya bisa sampai juga, jam empat sore waktu setempat.
Pesawat Vueling di Barcelona
Dari bandara ke pusat kota harus meggunakan kereta. Setelah mencari keterangan kesana kemari barulah menemukan loket penjualan tiket dan kereta Leonardo Express yang dimaksud. Pegawai-pegawai di loket cukup tidak ramah sehingga menimbulkan cukup tidak simpati. Harga tiket 11 Euro, cukup mahal, dua kali lipat harga bis namun masih seperempat harga jika naik taksi, kereta berangkat tiap 30 menit, dengan jarak tempuh juga 30 menit, dengan judul lagu 30 menit aku menunggu. Sambil menunggu kereta tak lupa kusambar sebuah peta dari loket terdekat, harganya 2 euro. Seperti pada kota-kota tujuan perjalananku sebelumnya, ku biarkan diriku bebas dari tujuan, bebas dari pengetahuan akan pergi ke mana. Kubiarkan diriku bebas, hanya terikat pada alamat hotel, karena jika alamat hotel tidak ada, tidak bisa mengurus visa.

Perjalanan dari Bandara menuju Pusat kota dengan kereta berhiaskan pemandangan pemukiman kota yang kumuh dengan dinding di kanan kiri jalur kereta yang penuh dengan coretan-coretan grafiti vandal. Tentunya itu hasil kreativitas tidak pada tempatnya dari Leonardo-leonardo gagal. Setelah Barcelona yang begitu riang gembira, pemandangan ini menimbulkan kesan muram terhadap kota Roma.

Akhirnya sampai juga di stasiun di pusat kota Roma, stasiun Termini. Dari Termini dilanjutkan naek Metro alias kereta bawah tanah ke stasiun Bologna menuju hotelku Youth Station hostel. Berjalan sana-sini tanya sana-sini, tak berapa lama tiba di hotel. Kamar hotel tak terlalu bagus, berderet panjang dengan banyak kasur sepanjang lorong. Satu kamar berdelapan orang. Setelah menaruh barang, mengunci loker, dan sholat, aku segera berangkat melanjutkan perjalanan menuju Colosseum yang terkenal itu, dengan menggunakan Metro menuju stasiun Colosseo.
Suasana Sore di Sekitar Colosseum
Colosseum menjelang magrib cukup ramai (cat: mentari tenggelam sekitar jam 8pm), banyak orang jalan-jalan, bercengkrama dan berfoto di sekitar situ. Biasanya bisa masuk ke bagian tertentu dengan membayar 12 Euro, tetapi sepertinya sesore ini sudah tidak diperbolehkan masuk, menilik dari lorong-lorongnya yang mulai muram, tidak kelihatan ada orang di dalam Colosseum. Yang bukan orang? mungkin banyak, karena Colosseum yang kapasitas penontonnya mencapai 50 ribu orang ini, yang menurut sejarah dibangun sejak 72 M, merupakan arena mengadu binatang, tahanan, gladiator, dsb. Tentunya begitu banyak darah yang tertumpah di dalam arenanya  selama ratusan tahun.  
Colosseum dan lorong-lorong muramnya
Namun demikian, tetap menimbulkan rasa antusias mengelilingi bangunan ini yang pernah jadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini, yang juga jadi seting film Gladiator dan Jumper. Saat dulu waktu SD mempelajari IPS, dan melihat fotonya di buku pelajaran, tak pernah terpikirkan suatu hari akan menjejakkan kaki di sini, akan menyentuh dinding batunya yang berumur ribuan tahun.. Dengan noraknya aku pun menyentuh, menempelkan telinga, mencoba mendengarkan suara-suara sambutan selamat datang dari batu, dan tentunya, tidak terdengar suara apa-apa.. 
tama the explorer was here
Disekitar Colossum terdapat taman dengan reruntuhan bebatuan itu, tentu sangat eksotik untuk ditelusuri dan berfoto di siang hari. Tetapi saat aku mencoba masuk, dilarang petugas karena sudah tertutup bagi pengunjung, karena hari sudah malam. Tak jauh dari situ juga ada berbagai tempat wisata lainnya seperti Arch of Constantine, Palatine Hill, Roman Forum, Piaza Del Campidoglio peninggalan Micheangelo dsb. Menjadi sadarlah, bahwa satu hari tak akan cukup untuk selesai menjelajahi Roma. 
colosseum di waktu malam
Melewati jam 8 pm, setelah mentari tidur dan langit jadi redup. Lampu-lampu berwarna keemasan mulai menyala menerangi Coloseum, membentuk suasana yang syahdu. Tak heran banyak pasangan terlihat sedang pacaran di sekitarnya, serta banyak fotografer dengan tripodnya berusaha megabadikan momen ini untuk membidik hasil foto terbaik. Tanpa tripod, aku hanya berhasil mendapatkan foto seadanya.
colosseum di waktu malam dengan cahaya keemasan
Saat hari semakin gelap, aku putuskan untuk pulang, kabarnya Roma tidak terlalu ramah pada malam hari. Perut terasa lapar, maka mampirlah aku ke salah satu toko di dekat penginapan. Setelah meneliti menu, ada sebuah menu yang seperti nasi goreng yang ditaburi dengan aneka sayuran. Aku pesanlah menu itu, satu-satunya menu yang dipastikan halal.. Dan ternyata.. sungguh luar biasa, rasanya.. itulah menu paling tidak enak yang pernah aku makan seumur hidup, rasanya hambar, kelat, pahit, asem, rasa-rasa aneh tumpah ruah jadi satu. Kelak diketahui bahwa salah satu dari aneka sayurnya itu adalah buah zaitun..
menu yang sungguh wow
Sambil makan seadanya, kutatap orang-orang di sekitar, bagaimana bisa kalian makan makanan seperti ini, bagaimana bisa punya selera makan seperti begini, padahal mereka menyebarluaskan spagheti dan pizza.. Selesai makan seperempat bagian, langsung tidak bisa mengunyah lagi karena mulut jadi aneh, untunglah ada pahlawan pengobat pahit lidah, yaitu eskrim yang manis dan lembut. Di mana-mana di sudut kota terdapat toko eskrim, dan rasanya memang aduhai, enak.
Selesai makan, kembali ke hotel, di dekat tempat tidurku sedang bergerombol pemuda-pemuda turis lainnya. Anak-anak muda ini, diliihat dari penampilannya, sepertinya abege yang baru lulus SMA atau paling banter masih kuliah tingkat satu dua. Terpaksa berkenalan sebentar, mereka sibuk membicarakan tentang pengalaman minum, minuman favorit, kapan terakhir hangover, membanggakan berapa banyak minum sampai jadi mabuk, membuatku bosan membicarakan hal-hal itu, karena tidak punya pengalaman minum minuman keras, tidak bisa berbagi cerita, tidak nyambung..

Akhirnya aku keluar saja, menuju lobby. Di sana terlihat beberapa wanita sedang ngobrol, aku nimbrung di salah satu komputer untuk akses internet. Seorang wanita baik hati menyilahkanku menggunakan komputer yang sedang dipakainya, aku pun browsing mengecek jadwal perjalanan menuju florence untuk besok siang.  
Saat sedang browsing itu, tiba-tiba wanita yang tadi memberikan komputer datang menawarkan minum, orange jus, tumben ada yang minumannya manis begini, bukan sesuatu yang haram untuk ditolak. Maka kami pun berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Mereka ada bertiga, wanita-wanita wisatawan dari Rusia, bernama Alina, Anita dan Yanjima. Besok hari terakhir mereka di Roma sebelum pulang. Brol diobrol-obrol, kami pun memutuskan untuk bersama-sama menjelajah Vatikan sejak pagi.

“Are you sure you can wake up at 7 in the morning?” tanyaku, meragukan tabiat bangun pagi wanita-wanita ini.
“Yes, off course!” kata Alina sambil senyum meyakinkan.
Okey, jadwal untuk besok pagi telah ditetapkan, kembalilah ke kamar untuk beristirahat. Abege labil dari US yang saling membanggakan pengalaman minum sudah tidak ada, mungkin sudah beredar ke bar terdekat, untuk mabuk sampai pagi, kemudian membanggakannya lagi pada siang hari.

Sambil berbaring, terngiang sebuah lagu yang dulu diperkenalkan oleh seseorang yang pernah spesial, lagu berjudul home dari Michael Buble.

“Another summer day has come and gone away
In Paris and Rome but I wanna go home

May be surrounded by a million people 
I Still feel all alone I just wanna go home 
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two “I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat and you deserve more than that

Another aeroplane another sunny place
I’m lucky, I know, but I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside, when everything was going right
And I know just why you could not come along with me
This was not your dream, but you always believed in me”

Sampai mata semakin berat, sambil terbayang sedikit wajahnya, wanita cantik baik hati yang sudah menikah dengan siapa itu yang aku tak tau bagaimana orangnya, bukankah dulu adalah mimpimu untuk menjelajah Eropa, untuk sampai di Roma, kenapa tinggal aku sendiri yang melanjutkan mimpi itu, dan kenapa pula sudah sampai di Roma pun, aku teringat lagi akan rasa rindu padamu.. 

Monday, February 03, 2014

Euro Trip: the city of la vida Barcelona

Pagi yang cerah. Pagi yang cerah begini waktu yang tepat untuk melanjutkan petualangan menuju pantai. Pantai, aku mau ke pantai!
the famous street La Rambla
Jalan ke pantai bisa ditempuh melalui, La Rambla. The famous Street La Rambla, jalanan yang menurut beberapa klaim paling terkenal sedunia, membentang lurus menuju pelabuhan, semacam boulevard yang di kiri kanannya penuh dengan orang-orang berjualan aneka macam makanan, hiburan, barang, souvenir, bunga, lukisan, dsb. Jika di Indonesia, kurang lebih ini seperti Jalan Maliboro Yogyakarta. 
florist on the street
Dari cara berjalan orang-orang yang langkahnya ringan, dari ekspresi ceria para penduduknya, dari suara yang membahana, dari udara yang hangat dan cerah, menimbulkan kesan bahwa Barcelona adalah kota yang bersemangat, yang hidup, demikianlah sehingga keriangan itu juga menular kepadaku. Sambil berteriak dalam hati “La rambla viva la vida loka ole ole ole” kulangkahkan kaki dengan langkah-langkah panjang membaur dengan para turis, menelusuri jalan yang terkenal itu. Sesekali berhenti untuk mencari oleh-oleh dan mencermati beberapa barang dagangan atau lukisan di pinggir jalan.
Christopher Columbus Monument, Port Vell
Setelah berjalan satu kilometer, sampailah di ujungnya, sebuah monumen Christopher Columbus Monumen di Port Vell. Bagian atas monumen itu terdapat patung Columbus yang satu tangannya sedang menunjuk dunia baru yang ditemukannya sedangkan tangan kirinya memegang semacam peta.
an everlasting romance
Melewati monumen itu ada semacam dermaga kecil, Rambla Del Mar. Kapal-kapal terparkir dengan rapi berlatar langit biru membentuk pemandangan yang indah. Di sepanjang jalan menelusuri dermaga, aneka pohon palem tumbuh menjulang tinggi. Udara hangat dan tiupan angin sejuk segar, sungguh luar biasa kota ini, hingga pasangan kakek nenek pun terlihat begitu mesra berduaan bergandengan tangan. Jika itu pria wanita anak muda yang pacaran bergandengan tangan, itu sudah biasa, melihat kakek dan nenek yang sedang berduaan bergandengan tangan itu membuatku ketularan perasaan senang dan sayang, luar biasa.
the view of the parking ships
Akhirnya aku menelusuri tepian dermaga, menuju pantai Barcelonita, melewati bagian bawah pohon palem yang tertata rapi. Tetapi setelah lama berjalan, pantai yang diharapkan tak kunjung kelihatan, setelah bertanya sana-sini, ternyata masih jauh, sehingga harus ditempuh dengan naik bis. Waktu untuk turun dari bis ditunjukka oleh suara debur-debur ombak pada suatu daerah terbuka, akhirnya sampai.
a nice boulevard view
Terbentanglah pantai yang ramai di hadapan. Ramai sekali orang-orang pada berjemur bersantai di atas kursi, di bawah payung, bergeletakan, pria wanita, tua muda, semua tumpah ruah. Aku pun berjalan melintasi, sambil menikmati pemandangan. Sesekali belaian ombak menyentuh kakiku yang menjejak di pasir yang basah.
Barcelonita the beach beach beach
Tak berapa lama berjalan menelusuri garis pantai, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan kecil dari arah kanan, teriakan wanita, aku menoleh, dan terpampanglah pemandangan.. 

Hmm, pemandangan yang sungguh berkesan.. Adalah tiga orang wanita muda cantik berambut pirang yang sedang berlari di pantai yang landai ke arah tepi, ke arahku, sambil bermain, berteriak dan tertawa-tawa karena deburan ombak. Dan ketiga wanita muda itu, semuanya, bertelanjang dada, hanya mengenakan bikini yang berwarna-warni. Karena mereka lari, tentu bagian yang seharusnya disensor itu berguncang-guncang tak karuan. Dan aku pun terbengong menatapnya, melongo, langkah terhenti. Apakah ini surga, atau justru jalan menuju neraka.. Setelah beberapa kejap, kejapan yang ku sengajakan selambat mungkin, akhirnya kesadaranku pulih lagi, bahwa masih berada di bumi. Segera melanjutkan langkah menelusuri pantai. Tiga wanita muda bertelanjang dada itu masih tertawa-tawa bermain ombak.
tanning on the beach
Ku edarkan pandang ke sekeliling, barulah menyadari bahwa di pantai ini, dada wanita tidak dianggap sebagai aurat. Aurat mereka hanyalah bagian bawah itu yang biasanya tertutup segitiga kecil yang dikenal sebagai bikini. Bertebaran di pantai itu wanita-wanita mulai dari yang muda hingga yang tua yang telungkup atau telentang dan bertelanjang dada, sekedar berjemur, bersantai, membaca buku, bercengkrama dan sebagainya. Sambil jalan, terpaksa ku amati satu persatu bentuknya yang aneka rupa. Hal yang begini baru ini ku jumpai..

Di ujung pantai, akhirnya kutemukan tempat yang agak sepi, duduk di batu-batu sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan sekitar, sambil memikirkan mengenai nilai-nilai yang dianut yang berbeda antar manusia di pojok dunia yang berbeda.

Tidak boleh terlalu lama di pantai ini, menjelang tengah hari, aku pun pulang ke hotel.

Hotel agak sepi, beberapa orang masih tertidur, padahal sudah tengah hari. Tentu mereka kelelahan setelah semalaman berpesta, mungkin berpesta di tepi pantai. Aku pulang ke hotel untuk menunaikan sholat zhuhur, karena di luar sulit menemukan mesjid, sholatlah di kamar.

Arah kiblat menghadap ke ruangan, ketika sholat, datanglah beberapa wanita, dan kali inipun mendapat ujian lagi, mereka mulai membuka pakaian dan berganti baju di depanku yang sedang sholat dengan santainya. Dan betapa susahnya mempertahankan konsentrasi pada bacaan sholat..

Selesai sholat yang tidak khusuk, setelah makan siang burger ayam dari McD terdekat, perjalanan kulanjutkan untuk menuju Stadion Barcelona FC yang terkenal itu, Camp Nou. Perjalanan menggunakan Metro seperti biasa. Turun di stasiun Collblanc, tanya kanan kiri, dan melangkahkan kaki.
Camp Nou Stadium of Barcelona FC
Stadion ini cukup besar memang, namun untuk masuk ke stadion harus membayar 23 Euro dengan antrian yang panjang, dengan pertimbangan satu dan lain hal, akhirnya aku hanya berjalan melihat berbagai merchandise di Mega Store.
Megastore Barcelona FC
Jersey made in Indonesia itu, harganya mencapai 100 Euro, sejuta tiga ratus ribu rupiah, luar biasa. Untungnya tidak ada teman yang menitip oleh-oleh Jersey Barcelona.
Fernando Torest, Juan Mata and David Villa Junior
Setelah berkeliling, akhirnya aku beristirahat sejenak di sebuah kursi di depan mega store. Di depan sana terlihat dua orang wanita muda sedang berbisik-bisik mencurigakan sambil melihat ke arahku. Sebagai orang yang biasanya memperhatikan wanita, tentu aku jadi sadar jika ada wanita yang memperhatikan. Lama-lama aku jadi tidak nyaman, sehingga memutuskan untuk pergi. Maka aku bangkit dan melangkah ke arah gedung.

Kedua wanita itu juga bangkit, mengikuti langkahku. Kupercepat langkahku, untuk menghindari mereka. Mereka juga mempercepat langkah. Astaga, mereka mengejarku, apa yang harus aku lakukan.. Bagaimana jika mereka berniat buruk, ingin memperkosaku misalnya? Demikian pikiranku, terasuki oleh ke alayan ala remaja putri masa kini. Aku berusaha menghindar dengan memasuki lorong, mereka mengejar.

“Excuse me.” Oh, tidaaak.. Mereka memanggil.. Ah, sudahlah.. aku pasrahkan diriku, jika memang mereka berniat memperkosaku. Aku berbalik, menghadap ke mereka, toh mereka cantik juga..

“Yes?”

“Sorry, we would like to ask you something.”

“Yes, ask me anything..” anything.. yang kedua dalam hati. Mungkin nanti aku tinggal pejam mata, dan lama-lama bakal enak juga. Begitu pikirku..hehehe

“We would like to know, where do you find this H&M store here in Barcelona? Is it a new store? ” Kata salah seorang dari mereka, sambil menunjuk ke kantong plastik yang kubawa..

Owaladaaaah.. Ternyata mereka mengejarku sebagai orang yang gila belanja dan ingin bertanya dimana toko baju H&M yang plastiknya aku bawa-bawa untuk tempat kamera. Mungkin belum ada outlet H&M di Barcelona. Maka kujawab dengan terus terang.

“Oooh this bag, this is from Amsterdam.. ” dan mereka pun terlihat kecewa..

“Sorry about that..” kataku sambil mempersambahkan senyum manis. Mereka pun berterimakasih dan berjalan pergi, ternyata tidak sedramatis yang aku kira..

Hari sudah sore, aku pun pulang, berjalan-jalan lagi memutari kota dan segera beristirahat agar esok hari bisa melanjutkan perjalanan ke negara berikutnya, Italia.

Saturday, February 01, 2014

dialog antara Socrates dengan Pemuda yang mencinta

Pada suatu hari yang entahlah antara cerah atau mendungnya, seorang pria sudah agak tua dengan kepala bulat dan janggut tebal yang dikenal sebagai Socrates sedang berjalan-jalan di pasar. Badannya yang gemuk membuatnya bergerak dengan lamban di antara para pedagang yang sedang menjajakan barang. Sebagaimana biasanya, dia menghampiri salah seorang yang dilihatnya di jalan yang dilaluinya untuk berdialog, bertanya jawab, sekedar membuktikan kesalahan ramalan Apollo bahwa tidak ada orang yang lebih bijaksana daripada dirinya. Saat itu dilihatnya seorang anak muda sedang termenung, tidak sedang berusaha dagang sebagaimana yang lainnya di pasar, maka dihampirinya.


Socrates: “Hoi, apa kabarmu anak muda?”



Pemuda: “Hoi juga Pak Tua, bukankah Bapak ini Socrates yang terkenal bijaksana itu, maaf saya tak melihat kapan Pak datang.”



Socrates: “Kenapa kau tidak bekerja seperti yang lain, hanya termenung begini, hidup dengan pikiranmu sendiri di hari yang sepantasnya untuk bekerja.”



Pemuda: “Saya sedang kebingungan Pak Guru, berhubungan dengan suatu masalah, mengenai cinta dan pernikahan. Saya belum bisa memikirkan dan melakukan hal-hal lain karena persoalan ini.”



Socrates:  “Jangan panggil saya Guru, karena saya belum tentu bisa mengajarkan sesuatu, saya hanya bisa membantumu berpikir. Panggil saja saya sesuai nama. Hmm, sepertinya berat juga masalahmu. Pernahkah sampai ke telingamu, tentang dialog antara saya dan Plato pada suatu ketika saat pohon jambu di halaman tetangga sedang berbuah waktu itu?”



Pemuda: “Belum Pak Soc, mungkin Pak berkenan untuk menerangkan.”



Socrates: “Di musim yang lalu, Plato dan teman-temannya pernah datang dan bertanya, apa hikakatnya cinta itu? Mungkin dia menanyakan itu karena mengalami perasaan jatuh cinta. Sebagai yang lebih berpengalaman, aku katakan padanya untuk pergi ke dalam hutan, dan mencarikan sebatang pohon apapun yang paling indah, paling sehat, dan paling berkenan dalam penglihatannya, untuk dibawa kepadaku.”



Pemuda: “Selanjutnya apa yang terjadi Pak Soc?”



Socrates: “Setelah kembali, Plato datang dan mengatakan telah berjalan sepanjang hari ke hutan itu, melihat bermacam-macam pohon yang indah, kuat, dan sehat, tetapi saat akan memotongnya merasa ragu-ragu karena hatinya berkata hutan masih luas dan di dalamnya mungkin masih banyak pohon yang lebih indah, oleh sebab itu dia tidak mau memotongnya, tanpa terasa hingga sore datang dan harus pulang sebelum hari jadi gelap. Dia meminta maaf karena tidak bisa membawakan pohon seperti yang ku inginkan.”



Pemuda: “Apalah arti sebuah pohon itu Pak Soc, lalu apa yang Pak Soc bilang?”



Socrates: “Itulah dia hakikat cinta, ketika engkau belum puas dan menemukannya, maka kau akan terus mencari dan mencari, melihat sesuatu dan membandingkannya dengan yang lain, sehingga hanya kehampaan yang didapatkan.”



Pemuda: “Super sekali Pak Soc, setelah ke hutan apa Plato lalu ke pantai?”



Socrates: “Belum selesai, anak muda gila, karena besoknya Plato kembali datang, kali ini bertanya tentang hakikat pernikahan. Aku suruh dia kembali ke hutan lagi untuk melakukan seperti sebelumnya, setengah hari Plato sudah kembali dengan membwa sebatang pohon Zaitun yang elok dan segar kepadaku, sehingga kutanyakan kepadanya apakah ini pohon terbaik yang dia temukan? dia menjawab bahwa inilah pohon yang baik dan segar yang dia dapatkan, walaupun dia tahu bahwa pohon ini bukanlah pohon yang terbaik di dalam hutan sana, tetapi dia telah memilih pohon ini karena tidak mau terulang lagi seperti hari sebelumnya, yaitu pulang dengan tangan hampa.”



Pemuda: “Bagus pohon itu Pak Soc? Lantas apa maksudnya semua itu?”



Socrates: “Itulah hakikat pernikahan, dimana kau memutuskan memilih yang baik menurut pandanganmu dan walaupun engkau tahu bahwa itu bukanlah yang terbaik, engkau menentukan sikap dalam memilih, sebuah pengambilan keputusan yang berani dalam menerima kelebihan dan kekurangan.”



Pemuda: “Pak Soc, ceritamu membuat saya sedih.”



Socrates: “Kenapa jadi kau yang bersedih anak muda?“



Pemuda: “Betapa tidak Pak, sayapun telah mengalami kejadian sebagaimana ilustrasi tersebut. Saya pun telah mengalami berbagai peristiwa jatuh cinta yang tidak ada ujungnya, tiada habisnya, yang membuat saya sadar untuk menyudahi semua ini. Saya pun telah mengalami menentukan pilihan, untuk menerima segala sesuatu yang ada pada orang yang ingin saya nikahi.”



Socrates: “Bukankah itu bagus anak muda, lalu kenapa kau bermuram durjana?”



Pemuda: “Itulah masalahnya Pak Soc, itulah masalahnya, mungkin Pak Soc belum pernah mengalami sebuah penolakan yang pahit setelah perjalanan panjang yang ditempuh?”



Socrates: “Ceritakan anak muda, ceritakan.”



Pemuda: “Tak mau saya menceritakannya Pak Soc, karena baru ini mengalami peristiwa yang sedemikian langka. Telah saya tempuh jarak raturan kilo untuk menemui seorang wanita. Selama beberapa minggu Saya persiapkan dengan sebaiknya sebuah bingkisan untuk wanita itu yang saya cinta. Sebuah kotak besar, saya bawa sendiri dari rumah sampai stasiun, dari stasiun sampai ke penginapan, dari penginapan sampai ke rumahnya. Setiap yang melihat saya sepanjang perjalanan itu, selalu menatap kotak yang saya bawa, seperti bertanya isinya apa. Kalau mereka bertanya tentu saya jawab ini persembahan untuk cinta saya. Pak Soc, apa masih mendengarkan?”



Socrates: “Lanjutkan anak muda.”



Pemuda: “Jadi, saya bawa bingkisan itu ke rumahnya untuk dipersembahkan kepadanya dalam rangka memuliakan hari kelahirannya. Supaya kotak itu diterimanya tepat pada malam hari kelahirannya. Saya ketuk pintu rumah itu, dengan perasaan berdebar. Ayahnya menyambut saya dengan keramahan, dengan basa-basi sewajarnya. Tetapi yang tidak wajar, adalah sambutan dirinya, yang tidak menghendaki kedatangan saya. Katanya saya seorang yang egoisnya luar biasa yang sedang berniat buruk padanya. Dengan marahnya dia hanya mengirim pesan dan tidak mau datang menyambut saya. Tau Pak Soc apa yang saya rasakan saat itu? Rasa malu, pucat wajah saya, gemetar, tertunduk kepala saya, tidak tau apa yang akan saya katakan lagi kepada Ayahnya. Saya tau kedatangan saya yang tiba-tiba itu salah, tetapi tidak ada niat saya untuk berbuat buruk, saya hanya berniat baik menyampaikan hadiah.”



Socrates: “Lantas apa yang anak muda lakukan?”



Pemuda: “Saya memohonnya untuk keluar sebentar. Setelah dia muncul, terpaksa saya segera pamit pulang, dengan perasaan yang tidak karuan. Saya tau tak akan melihat rumah itu lagi, tertunduk jalan saya, tertatih langkah saya. Baru ini saya mengalami  begitu dilecehkan, begitu dipermalukan, terluka harga diri saya.”   



Socrates: “Lantas bagaimana perasaanmu anak muda?”  



Pemuda: “Saya merasa, inilah perasaan cinta yang saya rasakan, serta keyakinan untuk menempuh hidup baru yang pernah saya rasakan, saya tak tau kapan akan mendapatkan perasaaan yang serupa itu, sehingga mau tidak mau harus saya perjuangkan dengan membawa niat baik untuk datang ke rumahnya. Tetapi, saya juga sudah tau bahwa perjalanan itu akan sia-sia, tetapi tetap saya tempuh. Saya tau bahwa ini hanyalah persembahan terakhir dari saya, saya tidak mengharapkan balasan apa-apa, hanya menginginkan bisa menikmati saat-saat bersamanya yang terakhir kali, untuk menjadi sebuah kenangan manis, saya hanya tidak menyangka akan menjadi sebuah kenangan pahit.“



Socrates: “Kau tidak salah anak muda, karena jika engkau menginginkan kebaikan, harus dilaksanakan selagi engkau mampu, tidak ada kebaikan yang boleh dilakukan dengan cara yang buruk. Tetapi jika engkau menginginkan keburukan, segeralah hardik jiwamu karena telah menginginkannya. Apakah anak muda menyesal?” 



Pemuda: “Tidak, tidak akan saya menyesal. Itu semua yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan.”



Socrates: “Apakah cinta anak muda kemudian beralih menjadi benci?”


Pemuda: “Tidak, tidak mungkin saya membencinya, orang sepertinya selalu akan membuat saya jatuh cinta lagi dan lagi.. Saya hanya merasa bahwa kehidupan saya sedang diuji, pasti ada maknanya semua yang saya jalani ini. Pasti ada sesuatu yang baik setelah semua kejadian ini.”



Socrates: “Benar anak muda, akhirnya kau sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan yang belum teruji bukanlah suatu kehidupan yang layak dijalani. Dan ingatlah, hidup selalu berubah, tidak pernah ada kondisi manusia yang tetap. Sehingga kita tidak boleh terlalu gembira dengan nasib baik atau terlalu mengeluh dengan kemalangan.”  



Pemuda: “Iya Pak Soc, tetapi saya masih bersedih.”



Socrates: “Tak perlu kau bersedih lagi anak muda, kesedihan membuat akal terpana dan tidak berdaya. Jika kau tertimpa musibah atau kesedihan, terimalah dia dengan keteguhan hati dan berdayakanlah akal untuk mencari jalan keluar.”



Socrates: “Mungkin kau belum mendengar bahwa tubuh merespon cinta dengan dua cara, ada yang merespon secara buruk sehingga cinta berubah menjadi racun, merusak tubuh dan menyebabkan kematian, tetapi adapula bentuk cinta yang bekerja sebagai obat dan menyegarkan tubuh serta pemikiran. Tetapi apapun reaksi itu, konsep utamanya adalah cinta merupakan kekuatan yang mampu merubah sesuatu, mampu mentransformasi sesuatu. Tinggal bagaimana kau berusaha, agar perasaan cinta itu menjadi sebuah obat..”



Pemuda: “Tak perlu semua obat itu Pak Soc, saya ingin menikmati menjalani sakit ini, biarkan dia menyeret saya dalam kesucian atau kegilaan. Hanya saja, terkadang saya berpikir, apakah ini memang takdir saya, untuk selalu bermasalah dengan urusan percintaan.”



Socrates: “Segala yang terjadi padamu adalah hasil dari tindakanmu sendiri, tidak ada sesuatu yang disebut takdir itu, bahkan meskipun takdir itu ada, itu bisa ditulis ulang. Bahkan Oedipus yang diramalkan akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya pun, sebenarnya tak lebih dari kesalahan ibunya dalam membuat keputusan untuk membuangnya hanya karena sebuah ramalan. Nasib kita tergantung dari usaha kita, bukanlah karena ketidakpedulian Tuhan”



Pemuda: “Apakah mungkin ini karena doa saya belum didengar?”



Socrates: “ Doa apa itu anak muda, sebuah doa harusnya adalah mengharapkan kebaikan yang bersifat umum, karena hanya Tuhan yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi manusia.”



Pemuda: “Bisa jadi bisa jadi. Pak Soc, kenapa jadi terdengar religius.. Apa habis ikut tausiah Aa Gym?”



Socrates: “Pertanyaanmu perlu diteliti kembali anak muda.”



Pemuda: “Sepertinya memang benar Pak Soc yang paling bijaksana di Athena.”



Socrates: “Tidak demikian. Hanya saja, apa yang saya tidak tahu, saya tidak berpikir bahwa saya tahu.. orang yang bijaksana bukanlah orang yang mengetahui atau bersifat seolah mengetahui sesuatu, melainkan adalah orang yang tahu bahwa dia tidak tahu. Dan saya tahu bahwa saya tidak tahu..”

Pemuda: “Pak Soc, saya sedang bersedih, jangan saya dibuat berpikir hal-hal yang berat itu, Paradok tentang tahu itu, itulah kenapa saya selalu lebih suka tempe..”



Socrates: “Sia-sia ngomong denganmu anak muda, baiklah saya lanjutkan perjalanan. Lebih mudah mengajarkan kepada Plato tentang Idea daripada mengajakmu bicara. Ingatlah anak muda Jalan terdekat untuk meraih kemuliaan adalah dengan berusaha keras menjadi apa yang kamu inginkan dan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan.”



Pemuda: “Terimakasih Pak Soc, aku padamu, jangan diminum racun itu, mending Pak Soc lari..”



Socrates: “Kematian mungkin berkah yang terbesar untuk umat manusia. Untuk takut mati hanyalah berpikir bahwa kita bijaksana tanpa menjadi bijaksana, karena kebodohan adalah menganggap mengetahui sesuatu yang kita sama sekali tidak tahu..”



Setelah dialog itu si pemuda semakin bingung dan bersedih, sementara Socrates pun melanjutkan perjalanannya..