Showing posts with label roma. Show all posts
Showing posts with label roma. Show all posts

Monday, February 17, 2014

Euro Trip: a strange day in Rome

Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi tidak kutolong ibu membersihkan tempat tidurku, karena ini hotel.. Setelah sarapan roti seadanya aku bersiap di lobi bersama Alina dan teman-teman untuk melanjutkan petualangan menuju Vatikan. Vatikan adalah sebuah kota sekaligus negara kecil yang merupakan pusat pemerintahan gereja Katolik, sebuah republik yang dipimpin oleh seorang Paus yang dipilih secara demokratis.

Mereka sudah beberapa hari di Roma, tetapi belum sempat berkunjung ke Vatikan, mungkin karena mereka bukan fanatik agama. Sebagai wanita yang sebagaimana biasanya tidak bisa membaca peta, mereka malah mengandalkanku untuk menjadi penunjuk arah. Dengan sok tau dan jaga gengsi akupun membaca peta, menunjuk sana-sini stasiun metro untuk menuju ke Vatikan. Berangkatlah kami naik Metro ke Ottaviaro, sedikit berjalan mengandalkan peta, untungnya bisa sampai ke Vatikan.
Pemandangan di Plaza St Peter
Pagi itu Vatikan sudah ramai, banyak turis-turis yang datang dan berfoto di St Peter’s Square, plaza luas yang ditengah-tengahnya terdapat semacam tugu entah apa namanya, logisnya sih dinamakan tugu St. Peter.
Basilika St Peter
Di depannya ada Basilika St Peter, Gereja terbesar yang pernah dibangun. Gereja ini dibangun oleh Konstantine I, bukan, ini pasti bukan John Constantine yang diperankan oleh Keanu Reeves itu. Kita pun masuk bersama turis-turis lainnya ke bangunan yang besar dan megah itu. Berada di bawah tiangnya saja berasa sekecil semut.
Vatikan
Di dalamnya, suasana kunjungan berlangsung khidmat. Katedral itu begitu megah dengan atap yang tinggi berhiaskan aneka kreasi seni, kita berjalan-jalan dan berkeliling menelusuri patung-patung orang suci, lukisan-lukisan, dan sarana ibadah lainnya yang pencahayaannya temaram. Sepertinya orang-orang dari berbagai belahan dunia pada datang, melakukan perjalanan suci, untuk menyambangi tempat ini. 
Teman-teman seperjalanan
Pada salah satu patung, yaitu patung St Peter yang terbuat dari perunggu, terlihat antrian orang-orang untuk menyentuh kaki kanan sambil berdoa mengharapkan dibukakan pintu ke surga. Anita menyentuh kaki patung itu dengan syahdu, sambil berdoa, entah doanya apa..
Aneka Patung karya Para Seniman
Pada berbagai sisi banyak pintu-pintu, inilah yang disebut dengan istilah the doors (banyak pintu), entahlah pintu itu mengarah ke mana, salah satunya mengarah ke salah satu musium, untuk masuk harus membayar lagi sehingga kami urung masuk. Pintu-pintu lainnya ini tentu mengarah menuju lorong-lorong bawah tanah yang penuh dengan ruang-ruang rahasia, termasuk perpustakaan legendaris yang berisi buku-buku yang sama sekali tidak boleh dibaca oleh orang sembarangan, yang rak-raknya konon sepanjang 50 km, tak terbayangkan. Tentunya di dalamnya juga penuh konspirasi-konspirasi para Cardinal saat pemilihan Paus. Ah, mungkin arsip itu tak pernah ada, mungkin aku saja yang terlalu larut dalam imajinasi saat membaca Angels and Demon nya Dan Brown dan The Name of the Rose nya Umberto Eco.
Lukisan dan tempat beribadah
Yang jelas, berjalan-jalan di sana menimbulkan perasaan yang berbeda. Menatap satu demi satu karya seniman besar, termasuk patung Pieta buatan Micheangelo, seniman besar era Renaissance. Ada sebuah quote dari Micheangelo yang cukup menarik: “Tidakkah kamu tahu perempuan yang suci dari sentuhan lelaki akan jauh lebih muda daripada mereka yang tidak? Bagian mana lagi dari Perawan Suci, yang sama sekali tidak pernah mengalami gairah, yang bisa membuat umurnya menjadi tua? Sayang kami tak bisa mengunjungi Sistine Chapel, tempat beradanya masterpiece Micheangelo, sebuah lukisan besar di langit-langit gereja itu.
Tama was here
Selesai berkeliling, kami melanjutkan perjalanan. Jalur pejalan kaki yang lumayan bagus untuk ditempuh adalah dari Vatikan menelusuri jalan di depannya, Via Della Conciliazione menuju kastil St Angelo, menelusuri Sungai Fiume Tevere, menyeberang melewati Ponte Umberto I, menelusuri jalan Tomaceli, sampai ke Spanish Steps di Piazza di Spagna.
minum air liur naga di pinggir jalan
Sepanjang jalan aku dan Alina saling bercerita. Karena nama Alina terlalu panjang, dengan semena-mena ku panggil dia dengan panggilan Ali. Ali adalah seorang Aquarius (penting ga sih?), keturunan cina yang sudah lama menetap di Rusia, sehingga sedikit banyak tentu mengerti bahasa Cina, pada suatu waktu sambil jalan itu kutanyakan juga sesuatu permasalahan yang mengganjal padanya seputar bahasa Cina. 
ali, yang tidak suka dipanggil ali
“Ali, do you understand chinese language, because my friends usually use chinese language that i can’t comprehend.”
“O yea? I understand Chinese, what is it?
 “Yes, they said, wo ai ni, for many times, do you know what does it mean?”
“It means, i love you..” katanya, sambil menatapku dengan tatapan sedikit curiga.
“Ooooh, i see, i love you too, aliiiinaaaaaa.” Kataku sambil menatapnya balik, dengan wajah yang berusaha sangat serius dan menahan tawa.
“You’re bad!” katanya, sambil tertawa, dan sebuah pukulan kecil pun ku terima dengan senang hati..
Kastil St Angelo
Ali adalah seorang yang menyenangkan, sepertinya cukup smart, sehingga pembicaraan kami mengalir dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Sampai aku mengetahui bahwa dia Atheis, tidak punya agama, tidak percaya pada salah satu agama, tidak percaya hidup setelah mati, bahkan tidak percaya Tuhan. Sesuatu hal yang membuatku miris, maka sambil jalan dialog yang terjadi diantara kami adalah seputar ketuhanan itu. Terlalu panjang dialog itu, pada salah satu bagian kukatakan padanya.
“I would really like to introduce you to islam..” kataku “There is only one God, and Muhammad is the last prophet of God.”
penjual merchandise dan papan informasi yang rapi
Seperti kebanyakan manusia modern dari Eropa yang lelah dengan sejarah panjang agama yang sering berwarna hitam seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang sedikit demi sedikit mulai mengikis rasa percaya pada agama yang tidak sejalan dengannya, Ali mendebat dengan panjang lebar sepanjang perjalanan kami menempuh jalan-jalan yang sepi, tepian sungai, jembatan, jalanan yang ramai, gedung-gedung besar yang warnanya melulu kecoklatan, hingga sampai di Spanish Steps.
Jembatan
Sampai di sana, kami memutuskan untuk berpisah, tujuanku adalah Fontana Di Trevi yang legendaris, sementara mereka hendak menuju tempat lain. Sedih juga harus segera berpisah lagi dengan teman-teman yang menyenangkan ini.
Suasana berjalan di kota Roma
Saat sebuah perpisahan, berdasarkan pengalaman, biasanya orang-orang ini tidak mengenal salaman, tetapi lebih suka pelukan. Hal ini aku pahami disebabkan suatu kejadian pada suatu hari di kampus. Waktu itu bertemu dengan seorang teman wanita dari jepang bernama Ana, setelah ngobrol sebentar, saat berpamitan dan ku ajak bersalaman, dia malah terlihat kebingungan dan mengajak berpelukan sambil cipika cipiki. Maka kali ini pun aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama, langsung saja berpamitan sambil mengajak berpelukan..hehehe mungkin saat ini terlihat keluar sedikit tanduk dari kepalaku..
Perpisahan
See you later, gimme a hug, oh im gonna miss you all.. kataku dengan ekspresi sedikit sedih. Berpelukaan, lumayan..
Pemandangan di Spanish Step
Mereka pun pergi. Tinggal aku sendiri, memotret-motret sana-sini di Spanish Step sebelum melanjutkan perjalanan menuju Fontana di Trevi. Sampai tiba-tiba seorang pria menyapaku dengan ramahnya..
“Hi, how are you?”
“Yaa, im fine, thank you.”
“Where do you come from?”
“I come from Indonesia..”
“Really, i like Indonesian people, how do you feel? do you like Rome?”
“Yess, off course, i like this cityy”
Great!! I have this magic gracelet for you.”
Oh ya? thank you..” sahutku dengan girang, waah, orang Roma ramah banget euuy..  Mungkin inilah yang dimaksud dengan keramah-tamahan lokal.. Begitu pikirku dalam hati, sumringah, sambil memberikan lengan, menyilahkan dia memasang sebuah gelang di pergelangan tanganku.

Setelah, selesai, dia mendadak berkata.
“It looks good in you, please pay 10 Euros.” Katanya, sambil menatap tajam.
O ooow, kena deh jebakan betmen..” Aku membatin..

Tak lama kemudian, dari dekatnya, seorang lagi temannya mendatangi, badannya besar, kulitnya hitam, berusaha mengintimidasi sambil mendorongku.
“Hey, you should pay him! Dont run away!”
O ooow.” Ternyata mereka sudah sekongkol, berkomplot menjebak turis yang malang sepertiku. 

Apa akal?? Apa sebaiknya aku lari menuruni atau menaiki tangga ini? dengan kaki mereka yang panjang dan lebar sepertinya bakal sia-sia, bakal terkejar. Apa aku harus teriak “Tolooooong!” menunjukkan histeria pada massa? Sepertinya tidak, jangan-jangan justru bakal dipukuli, atau diteriaki pencopet oleh mereka. Ah sepertinya harus dengan jalur diplomasi.. 

Aku tertunduk sejenak, mengumpulkan kata-kata..
Easy, easy man, you said you like Indonesian..” kataku pada pria pertama. Mungkin dia suka orang Indonesia karena badannya kecil sepertiku, yang lebih memungkinkah untuk diintimidasi dan ditipu..
“I came from Indonesia, I’ve traveled far far far away from here, and this is my first time and maybe my last time to visit Rome.. What do you think about that, do you want me to get a bad impression about this beautiful city, your city? I guess you dont wanna do that..” sebelum mereka berkomentar, segera kulanjutkan. 

“Ten euro is  too much, i don’t have that much, i’ll give you 2 euro!” Kataku.

Ternyata tanpa disangka, mereka setuju. Ya eyalah, buat gelang dari tali-temali tidak jelas begitu, sudah lumayan mereka dapat 2 Euro. Mungkin ini yang dimaksud win-win solustion, mereka bisa senang, aku pun bisa pulang. Lalu kuberikan, sambil segera pamit.
“See you..” kata mereka sambil senyum saat menerima uang recehan itu.
Noo.. I dont want to see you again“ Sahutku, sambil berlalu.. Apes hari ini..  
pemandangan Piazza Di Spagna dari tempat pemalakan
Aku pun melangkah menuruni tangga Spanish Steps, melanjutkan perjalanan menuju Fontana di Trevi. Kenapa harus menuju air mancur ini, karena dia begitu legendaris. Konon kabarnya ada kepercayaan legenda kota setempat untuk melempar koin dengan tangan kanan melalui bahu sebelah kiri di air mancur besar itu. Bila melempar di sana satu koin, maka kita akan kembali lagi ke Roma, jika melempar dua koin maka akan mendapatkan cinta sejati, jika melempar tiga koin, akan segera menikah, menikah? Maka aku bertekad melempar koin sebanyak-banyaknya, sampai sepuluh kali kalau bisa, dengan koin rupiah yang masih kubawa, mengandalkan konsep bisnis dengan modal sedikit-dikitnya untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Jika melempar sepuluh koin, berdasarkan perhitungan matematika yang sederhana, tentu cinta sejati yang kutemukan bisa banyak..  huwoo.. mataku berbinar-binar, bersemangat..

Di kanan kiri jalan banyak terdapat penjual souvenir, lumayan buat cuci mata. Untuk bertanya arah dengan orang-orang di jalan agak sedikit trauma setelah kejadian tadi, sehingga kuputuskan mencari dengan peta sendiri. Saat itu layanan internet tidak punya, blackberry sudah lama tidak berfungsi.   

Setelah lama berjalan, namun Fontana De Trofi yang dicari-cari tak kunjung ditemukan. Aku melihat peta, kemudian berjalan lagi. Belum juga ketemu. Melihat peta, kemudian berjalan lagi, sampai di tikungan antara ke kanan atau kiri, aku memutuskan menuju ke kiri, akhirnya bertemu sebuah air mancur. Air mancur ini biasa saja, tidak seramai dan seheboh yang diperkirakan, mungkinkah ini Fontana yang legendaris itu? Tidak ada koin-koin bertebaran.. Maka aku pun berfoto sejenak, lalu melangkah pergi. Setidaknya sudah ada fotonya.
air mancur sederhana
Namun beberapa waktu kemudian, saat melihat foto orang-orang yang ke air mancur tersebut lewat internet, barulah aku sadar bahwa air mancur barusan tempatku berfoto bukanlah air mancur yang dimaksud. Itu adalah air mancur di Piazza Barberini, pantesan kecil, biasa saja, tidak ramai, dan tidak seruu...

Ternyata aku tersesat, saat di pertigaan itu aku harusnya belok ke kanan, bukan malah ke kiri.. Padahal kemampuan spasialku termasuk tinggi, padahal pelajaran bangun ruang paling suka, padahal membaca peta termasuk jago, inilah kali pertamanya dalam sejarah aku tersesat, inilah pertama kalinya tidak menemukan apa yang kucari. Dan rasanya.. agak keki, sedikit menyesal.. Mungkin karena tidak menemukan Fontana di Trevi ini bisa jadi justifikasi kenapa sampai setahun setelah jalan-jalan Eropa pun aku masih belum menikah.. :p
Fontana di Trevi yang sebenarnya sumber: www.telegraph.co.uk
Apa boleh buat, harus segera kembali ke hotel karena nanti jam 1 sudah harus berada di kereta menuju Florence, sampai dekat hotel, perut menuntutku menghampiri kebab terdekat, membeli roti daging kebab yang dipastikan halal, tetapi rasanya tidak enak. Dilanjutkan berjalan menuju kamar untuk check out.

Di jalan menuju kamar hotel, berpapasan dengan pedagang kaki lima yang aku kenal wajahnya. Dia adalah orang yang semalam berada di lobi penginapan. Asalnya dari Bangladesh, aku lupa namanya, anggap saja bernama Joe

Waktu semalam berbasa-basi, dia mengaku muslim, namun saat aku tanyakan arah kiblat dia tidak tahu. Okey, sungguh anda muslim. Karena bertemu begitu, walaupun sedang buru-buru, masih aku sempatkan untuk bertegur sapa berbasa-basi.
“Hai, Indonesian.” Tegurnya, dengan dialek campuran antara Itali, India dan English.
“Haii Joe” sahutku.
“How’s the girls?” tanyanya.
“The girls? What? What girls?” Tanyaku. 
“The girls from last night, from Rusia, did you have fun with them?”  katanya sambil gestur tangannya ditangkupkan, memaksudkan gerakan making love.
What do you mean?” tanyaku, pura-pura tidak pintar, walaupun sebenarnya pintar. Oke, mungkin kata pintar lebih tepat diganti dengan tahu
“You know, that girls, you can have sex with them, if you want. Have you?”
“Noo! Nooo i don’t want to!” sahutku.
“Yess, really, you can.. just take them to drink, just ask!” sahutnya lagi.
Noo, i’m not that kind of man!” Sahutku lagi berusaha menjelaskan. Pembicaraan mulai tidak menyenangkan, maka aku coba untuk pamit saja.
“I have to go, i want to check out from the hotel.”
Are you getting back to Indonesia?”
“No, i wanna catch a train to florence.” Sahutku.
O i see, you should stay longer in Rome, this city is really nice, you know..”
Really, why?” tanyaku penasaran, setelah kejadian dipalak barusan.  
We can make much money in here. Dont go back to your country, in Italy the salary is good, just like me, i can save money and if i come back to my country, i’m being rich.” Katanya. 

Kupikir-pikir, apa terima saja tawarannya, tak perlu menyelesaikan S2, mendingan bekerja berjualan pernak-pernik di pinggir jalan dan menjadi kaya kalau pulang kampung.
“You dont need passport or visa to stay, just like me, i came here by a ships, without passport or visa. We can make it here.” Katanya. Astaga.. ternyata dia penyelundup, jadi.. menurutnya aku harus naik kapal dari inggris, lalu berenang dari kapal menuju daratan dengan jarak satu kilo, sambil menghindari tembakann atau tangkapan petugas perbatasan..
“Okey, sounds good.” Sahutku sambil mikir.
“And you, my brother.” Lanjutnya lagi.. “You remind me of someone, someone from the past..
Really, Who?”
“Jamela, my wife from Malaysia” katanya “And i miss her so much, she's like you, i remember, her face, her eyes, her skin..” sambungnya lagi, sambil menatapku dengan tatapan aneh.. Tatapan itu terasa.. mendebarkan.
 
Omygoat, aku menangkap aura tidak sedap dari ujung percakapan ini sehingga harus menerapkan jurus langkah seribu, tidak ada diplomasi, cuma boleh lari
“Errhh sorry Joe, i have to go now, am affraid of being late.” 
Aku pun meninggalkannya, berjalan tergesa menuju kamar hotel. Sungguh hari yang aneh, kota yang aneh, sungutku dalam hati.. Sambil memikirkan jalan memutar, agar nanti pada saat ke stasiun kereta tidak bertemu dengannya.. 

Semoga Florence nanti bisa menyembuhkan moodku yang memburuk..

Sunday, February 16, 2014

Euro Trip: When in Rome

Ada sebuah pepatah sakti mandraguna yang mengatakan bahwa banyak jalan menuju Roma. Berbekal petunjuk itulah, akhirnya kutempuh perjalanan menuju ke Roma-Italia dengan menggunakan pesawat, supaya jalan-jalan tersebut bisa terlihat dari atas langit. Pesawatnya adalah bermerek Vueling dari Bandara El Prat Airport di Barcelona, menuju Leonardo da Vinci–Fiumicino Airport di Roma, walaupun panjang dan susah nama bandara ini, namun akhirnya bisa sampai juga, jam empat sore waktu setempat.
Pesawat Vueling di Barcelona
Dari bandara ke pusat kota harus meggunakan kereta. Setelah mencari keterangan kesana kemari barulah menemukan loket penjualan tiket dan kereta Leonardo Express yang dimaksud. Pegawai-pegawai di loket cukup tidak ramah sehingga menimbulkan cukup tidak simpati. Harga tiket 11 Euro, cukup mahal, dua kali lipat harga bis namun masih seperempat harga jika naik taksi, kereta berangkat tiap 30 menit, dengan jarak tempuh juga 30 menit, dengan judul lagu 30 menit aku menunggu. Sambil menunggu kereta tak lupa kusambar sebuah peta dari loket terdekat, harganya 2 euro. Seperti pada kota-kota tujuan perjalananku sebelumnya, ku biarkan diriku bebas dari tujuan, bebas dari pengetahuan akan pergi ke mana. Kubiarkan diriku bebas, hanya terikat pada alamat hotel, karena jika alamat hotel tidak ada, tidak bisa mengurus visa.

Perjalanan dari Bandara menuju Pusat kota dengan kereta berhiaskan pemandangan pemukiman kota yang kumuh dengan dinding di kanan kiri jalur kereta yang penuh dengan coretan-coretan grafiti vandal. Tentunya itu hasil kreativitas tidak pada tempatnya dari Leonardo-leonardo gagal. Setelah Barcelona yang begitu riang gembira, pemandangan ini menimbulkan kesan muram terhadap kota Roma.

Akhirnya sampai juga di stasiun di pusat kota Roma, stasiun Termini. Dari Termini dilanjutkan naek Metro alias kereta bawah tanah ke stasiun Bologna menuju hotelku Youth Station hostel. Berjalan sana-sini tanya sana-sini, tak berapa lama tiba di hotel. Kamar hotel tak terlalu bagus, berderet panjang dengan banyak kasur sepanjang lorong. Satu kamar berdelapan orang. Setelah menaruh barang, mengunci loker, dan sholat, aku segera berangkat melanjutkan perjalanan menuju Colosseum yang terkenal itu, dengan menggunakan Metro menuju stasiun Colosseo.
Suasana Sore di Sekitar Colosseum
Colosseum menjelang magrib cukup ramai (cat: mentari tenggelam sekitar jam 8pm), banyak orang jalan-jalan, bercengkrama dan berfoto di sekitar situ. Biasanya bisa masuk ke bagian tertentu dengan membayar 12 Euro, tetapi sepertinya sesore ini sudah tidak diperbolehkan masuk, menilik dari lorong-lorongnya yang mulai muram, tidak kelihatan ada orang di dalam Colosseum. Yang bukan orang? mungkin banyak, karena Colosseum yang kapasitas penontonnya mencapai 50 ribu orang ini, yang menurut sejarah dibangun sejak 72 M, merupakan arena mengadu binatang, tahanan, gladiator, dsb. Tentunya begitu banyak darah yang tertumpah di dalam arenanya  selama ratusan tahun.  
Colosseum dan lorong-lorong muramnya
Namun demikian, tetap menimbulkan rasa antusias mengelilingi bangunan ini yang pernah jadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini, yang juga jadi seting film Gladiator dan Jumper. Saat dulu waktu SD mempelajari IPS, dan melihat fotonya di buku pelajaran, tak pernah terpikirkan suatu hari akan menjejakkan kaki di sini, akan menyentuh dinding batunya yang berumur ribuan tahun.. Dengan noraknya aku pun menyentuh, menempelkan telinga, mencoba mendengarkan suara-suara sambutan selamat datang dari batu, dan tentunya, tidak terdengar suara apa-apa.. 
tama the explorer was here
Disekitar Colossum terdapat taman dengan reruntuhan bebatuan itu, tentu sangat eksotik untuk ditelusuri dan berfoto di siang hari. Tetapi saat aku mencoba masuk, dilarang petugas karena sudah tertutup bagi pengunjung, karena hari sudah malam. Tak jauh dari situ juga ada berbagai tempat wisata lainnya seperti Arch of Constantine, Palatine Hill, Roman Forum, Piaza Del Campidoglio peninggalan Micheangelo dsb. Menjadi sadarlah, bahwa satu hari tak akan cukup untuk selesai menjelajahi Roma. 
colosseum di waktu malam
Melewati jam 8 pm, setelah mentari tidur dan langit jadi redup. Lampu-lampu berwarna keemasan mulai menyala menerangi Coloseum, membentuk suasana yang syahdu. Tak heran banyak pasangan terlihat sedang pacaran di sekitarnya, serta banyak fotografer dengan tripodnya berusaha megabadikan momen ini untuk membidik hasil foto terbaik. Tanpa tripod, aku hanya berhasil mendapatkan foto seadanya.
colosseum di waktu malam dengan cahaya keemasan
Saat hari semakin gelap, aku putuskan untuk pulang, kabarnya Roma tidak terlalu ramah pada malam hari. Perut terasa lapar, maka mampirlah aku ke salah satu toko di dekat penginapan. Setelah meneliti menu, ada sebuah menu yang seperti nasi goreng yang ditaburi dengan aneka sayuran. Aku pesanlah menu itu, satu-satunya menu yang dipastikan halal.. Dan ternyata.. sungguh luar biasa, rasanya.. itulah menu paling tidak enak yang pernah aku makan seumur hidup, rasanya hambar, kelat, pahit, asem, rasa-rasa aneh tumpah ruah jadi satu. Kelak diketahui bahwa salah satu dari aneka sayurnya itu adalah buah zaitun..
menu yang sungguh wow
Sambil makan seadanya, kutatap orang-orang di sekitar, bagaimana bisa kalian makan makanan seperti ini, bagaimana bisa punya selera makan seperti begini, padahal mereka menyebarluaskan spagheti dan pizza.. Selesai makan seperempat bagian, langsung tidak bisa mengunyah lagi karena mulut jadi aneh, untunglah ada pahlawan pengobat pahit lidah, yaitu eskrim yang manis dan lembut. Di mana-mana di sudut kota terdapat toko eskrim, dan rasanya memang aduhai, enak.
Selesai makan, kembali ke hotel, di dekat tempat tidurku sedang bergerombol pemuda-pemuda turis lainnya. Anak-anak muda ini, diliihat dari penampilannya, sepertinya abege yang baru lulus SMA atau paling banter masih kuliah tingkat satu dua. Terpaksa berkenalan sebentar, mereka sibuk membicarakan tentang pengalaman minum, minuman favorit, kapan terakhir hangover, membanggakan berapa banyak minum sampai jadi mabuk, membuatku bosan membicarakan hal-hal itu, karena tidak punya pengalaman minum minuman keras, tidak bisa berbagi cerita, tidak nyambung..

Akhirnya aku keluar saja, menuju lobby. Di sana terlihat beberapa wanita sedang ngobrol, aku nimbrung di salah satu komputer untuk akses internet. Seorang wanita baik hati menyilahkanku menggunakan komputer yang sedang dipakainya, aku pun browsing mengecek jadwal perjalanan menuju florence untuk besok siang.  
Saat sedang browsing itu, tiba-tiba wanita yang tadi memberikan komputer datang menawarkan minum, orange jus, tumben ada yang minumannya manis begini, bukan sesuatu yang haram untuk ditolak. Maka kami pun berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Mereka ada bertiga, wanita-wanita wisatawan dari Rusia, bernama Alina, Anita dan Yanjima. Besok hari terakhir mereka di Roma sebelum pulang. Brol diobrol-obrol, kami pun memutuskan untuk bersama-sama menjelajah Vatikan sejak pagi.

“Are you sure you can wake up at 7 in the morning?” tanyaku, meragukan tabiat bangun pagi wanita-wanita ini.
“Yes, off course!” kata Alina sambil senyum meyakinkan.
Okey, jadwal untuk besok pagi telah ditetapkan, kembalilah ke kamar untuk beristirahat. Abege labil dari US yang saling membanggakan pengalaman minum sudah tidak ada, mungkin sudah beredar ke bar terdekat, untuk mabuk sampai pagi, kemudian membanggakannya lagi pada siang hari.

Sambil berbaring, terngiang sebuah lagu yang dulu diperkenalkan oleh seseorang yang pernah spesial, lagu berjudul home dari Michael Buble.

Another summer day has come and gone away
In Paris and Rome but I wanna go home

May be surrounded by a million people 
I Still feel all alone I just wanna go home 
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two “I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat and you deserve more than that

Another aeroplane another sunny place
I’m lucky, I know, but I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside, when everything was going right
And I know just why you could not come along with me
This was not your dream, but you always believed in me

Sampai mata semakin berat, sambil terbayang sedikit wajahnya, wanita cantik baik hati yang sudah menikah dengan siapa itu yang aku tak tau bagaimana orangnya, bukankah dulu adalah mimpimu untuk menjelajah Eropa, untuk sampai di Roma, kenapa tinggal aku sendiri yang melanjutkan mimpi itu, dan kenapa pula sudah sampai di Roma pun, aku teringat lagi akan rasa rindu padamu..