Monday, January 23, 2012

merokok

Setelah sebelumnya menulis tentang rokok dan bermacam hal yang berkaitan dengannya, kali ini aku akan menulis tentang merokok, berdasarkan pengalaman pribadi. Ada baiknya aku memulai cerita sedari awal.

Sewaktu SD, saat teman-teman mandi di sungai, beberapa orang mulai membawa rokok, entah kebiasaan yang berasal dari mana. Waktu itu aku mencoba, tapi langsung terbatuk-batuk tak menyenangkan. Sewaktu SMP saat beberapa teman semakin banyak yang merokok, aku juga tak mencoba, bahkan termasuk grup anti perokok. Sewaktu SMA, karena disiplin sekolah yang ketat bersama kehidupan asrama, aku pun dijauhkan dari rokok. 

Ada sebuah kecendrungan bahwa anak-anak muda belia yang masih berseragam dan bercelana pendek itu akan kelihatan lebih keren dan lebih berani bila mereka sudah mulai merokok. Anggapan yang sangat konyol memang, saat itu mereka merokok karena pergaulan. Hal yang tidak berlaku buatku. 

Namun, pada hari yang tidak baik itu, sekitar tahun ketiga kuliah di Bandung, aku duduk seorang diri diantara warung-warung makan di Gelap Nyawang. Itu adalah saat aku memikirkan persoalan yang seakan tak memiliki penyelesaian, sedang tak ada seorang teman untuk berdiskusi atau sekedar bercerita. Lalu kuhampiri abang di salah satu kios, membeli sebatang rokok, rokok Gudang Garam (garpit). Untuk yang tidak mengerti rokok, jenis ini ada pada tingkat yang lebih berat, lebih banyak kadar tar dan nikotinnya dibanding rokok seperti Sampoerna atau Marlboro. Kenapa kupilih merek itu? karena aku telah mencoba Sampoerna dan tak merasa ada sesuatu yang istimewa.


Sejak saat itu, rokok telah jadi salah satu teman saat sepi, saat membaca buku sambil menghirup secangkir kopi, saat mengerjakan tugas-tugas di malam-malam panjang, saat memikirkan hal-hal yang nonlinear. Lalu perlahan rokok juga menjadi teman di saat ramai, saat rapat-rapat di himpunan, saat diskusi-diskusi kemahasiswaan, saat obrolan malam-malam di kampus yang tak jelas juntrungan. Salah satu lagu The Doors favoritku kala itu adalah “Soul Kitchen”, dimana salah satu liriknya “Speaking secret alphabets, I light another cigarette, learn to forget”.


Perokok jenis garpit adalah yang terlangka di himpunan di zaman itu, dimana orang-orang selalu membawa rokok jenis Jarum Super dan mild. Tak ada yang menyukai rokok garpit selain orang-orang tertentu, aku menyebutnya rokok dengan idealisme, out of mainstream. Saat rapat dan biasanya orang melempar rokoknya untuk dibagikan ke forum, maka kulempar sebungkus penuh rokok garpit dengan maksud untuk berbagi, akan dilempar kembali kepadaku dengan penuh juga dengan imbalan cercaan.

Singkat cerita, kebiasaan merokok ini terbawa hingga saat bekerja. Semakin berat beban pekerjaan, semakin banyak merokok, sehingga aku tak terlalu menyukai bekerja di ruangan ber AC yang hanya bisa merokok saat istirahat makan. Saat bekerja di lapangan, semakin banyak pula konsumsi rokok, saat itu bisa mencapai dua bungkus sehari. Sebungkus mild dan sebungkus garpit.

Jadilah sebagai seorang Engineer, yang mengurus pekerjaan di kantor dan di lapangan, mengurus apa saja, selalu dengan dua bungkus rokok di kantong. Orang-orang di lingkungan proyek sudah mengetahui kebiasaanku, bahwa saat aku mengeluarkan garpit, berarti pekerjaan sedang sulit dan suasana hati sedang tidak bersahabat. Sedangkan saat aku mengeluarkan rokok mild, berarti pekerjaan lancar, dan pikiran sedang tenang.

Sebenarnya aku ingin berhenti merokok. Waktu itu aku pernah membuat catatan dalam hati, aku akan berhenti merokok jika sang pacar memintaku untuk berhenti, kemauan dari sang pacar mungkin bisa menjadi motivasi yang kuat untuk itu, namun ternyata sang pacar yang baik hati tidak memintaku untuk berhenti, meski juga tidak suka melihatku merokok. Maka, aku mengurangi kegiatan merokok saat sedang bersamanya. Saat berada di dekatnya, setidaknya dia tak akan terkena oleh asap rokok ku.

Aku pernah dengan konyolnya mengatakan bahwa rokok adalah salah satu bahasa universal, ada saat ketika seorang pria bertemu dengan pria lain, mulanya tidak saling tegur sapa. Salah seorang pria akan menghidupkan rokok, dan menawarkan pada pria di sebelahnya. Pria di sebelahnya tak perlu menjawab, hanya dengan memberikan isyarat tangan bahwa dia tak perlu rokoknya, lalu segera mengeluarkan rokok sendiri. Lalu mereka merokok bersama, dan percakapan pun dimulai, suasana menjadi lebih cair. Mereka menjadi bersahabat secepat frekuensi isapan dan hembusan asap dari rokok yang bergemeretak.

Jika di satu sisi faktor kesehatan dan sebagainya memberikan berbagai dasar dan argumen kenapa orang harus berhenti merokok, di sisi lain para perokok selalu bisa memberi berbagai argumen untuk tetap merokok. Ada sekian banyak argumen untuk merokok, sebanyak argumen untuk tidak merokok. 

Saturday, January 21, 2012

rokok

Baru saja bangun tidur tengah malam, membuka komputer dan mendapati postingan pada facebook mengenai rokok: Vanguard: Sex, Lies, & Cigarettes, "Smoking Baby" and Big Tobacco in Indonesia dari link youtube. Vanguard ini serial dokumenter yang mengeksplorasi tentang isu-isu global yang berdampak sosial luas seperti kriminal, perdagangan obat-obatan dan pemberontakan bersenjata. Dan ternyata kasus perokok di Indonesia termasuk salah satu bagian dari hal-hal diatas. 

Tayangan itu dimulai dengan menceritakan pusat kota Newyork yang penuh dengan semua jenis advertising, kecuali satu: rokok, yang sudah dilarang oleh pemerintah. Juga diceritakan bahwa harga sebungkus Marlboro 12 USD. Lalu reporternya terbang ke Indonesia dan mengatakan perjalanan itu seperti perjalanan menembus waktu, dimana dia kembali ke masa lalu di negaranya, masa dimana iklan rokok bertebaran dimana-mana dan industry rokok sangat berkembang. Harga sebungkus rokok hanya 1.2 USD saja. Indonesia adalah the new Marlboro country. 

Diceritakan tentang para perokok yang kebanyakan adalah anak muda, tentang anak usia 2 tahun yang sudah kecanduan rokok, tentang industry rokok yang ingin mendapatkan lebih banyak anak muda merokok sebagai investasi untuk masa depan perusahaan, tentang aturan tentang rokok yang selalu gagal disepakati oleh anggota DPR karena intervensi perusahaan, tentang orang-orang yang berjuang untuk mencegah semua itu terus berlanjut beserta pro dan kontra nya. 

Iklan rokok di Indonesia memang sangat banyak, bertebaran di sepanjang jalan dari perkotaan hingga pedesaan. Di perkampungan kecil antara Aceh dan medan saja balihonya sangat membius: “Ini Panamas Bung!”. Iklan televisinya selalu jadi salah satu yang terbaik, sangat masal dan keren yang tentunya berbiaya besar. Iklan dari setiap event juga tidak kalah banyak, setiap event musik besar selalu disponsori oleh rokok, sponsor untuk acara olahraga juga rokok, tanpa rokok entah bisa atau tidak orang Indonesia mengelar liga sepakbola indonesia atau menonton liga inggris. Sebuah fakta yang.. menggiriskan. 

Industri rokok memang agak susah dihilangkan dari Indonesia. Penyerapan tenaga kerja yang sangat banyak, sekitar 6.1 juta orang bekerja di Industri itu, sekitar 33.2 juta jiwa jumlah orang yang bekerja terkait langsung dengan industry rokok, belum lagi jumlah pedagang asongan yang mendapat penghasilan terutama dari menjual rokok. Dengan kata lain, keberlangsungan hidup banyak orang tergantung di situ. Jumlah para perokok yang terus bertambah, bahkan perkembangan perokok wanita meningkat pesat karena mengikuti perkembangan pergaulan. Pengharaman oleh MUI yang selalu menghadapi pro dan kontra, serta kemungkinan besar adanya campur tangan perusahaan-perusahaan untuk mengatur regulasi melalui anggota DPR. Belum lagi penghasilan Negara yang dihasilkan dari pajak rokok yang katanya mencapai sepuluh persen dari APBN. 

Akhir kata, berhubung pagi sudah menjelang dan perlu tidur lagi, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa permasalah rokok ini, memang adalah permasalahan sulit, dilematis. Seperti dulu setiap kali seseorang mengingatkanku untuk berhenti merokok, aku selalu bilang. “Untuk memikirkan permasalahan-permasalahan sulit gw perlu merokok, untuk berhenti merokok gw perlu memikirkan kenapa dan bagaiman caranya, karena ini adalah permasalahan sulit.” Sehingga makin sering aku ingin berhenti merokok, semakin banyak aku merokok. Dan, begitulah seterusnya.. 

Referensi:
http://www.youtube.com/watch?v=hG8vw3MRRyM&feature=related 
http://current.com/shows/vanguard/93219795_sex-lies-cigarettes-vanguard-sneak-peek.htm
http://www.smallcrab.com/kesehatan/541-demi-uang-indonesia-korbankan-kesehatan-masyarakat
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/11/02/lu16en-industri-rokok-enggan-cantumkan-gambar-akibat-merokok-di-bungkus-rokok

Friday, January 20, 2012

menyayangi kalian

Malam ini, barusan saja tadi.

Aku berjalan-jalan, keliling kota sendirian. Sendirian? ya biasalah, karena kebanyakan teman jauh, dan mantan kekasih juga jauh, sudah biasa aku keliling sendirian. Meski juga kota ini adalah kota kelahiran. Keliling kota sendirian biasanya hanya akan membuat kita merasa gundah, seperti tak punya teman.

Aku bertemu teman, namanya Eca. Teman baru, baru saja berkenalan. Kami bercerita-cerita sebentar, sebentar saja, tak berlama-lama. Dia bercerita tentang pekerjaannya, tentang keluarganya, tentang bagaimana dia merasa bosan dengan pekerjaannya dan ingin berkeluarga, lalu menjadi ibu rumah tangga saja. Umurnya baru 21 mungkin, dia sudah merasakan kegelisahan itu, apalagi aku yang sekarang sudah berumur... entah berapa, tak jadi masalah, hanya belum ketemu jodoh. Kami mempunyai keinginan yang sama, tapi aku tau, kami tidak akan menjalaninya bersama.

Lalu aku pulang, entah kenapa terasa perasaanku berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku mengamati sekeliling, kulihat ada orang-orang berjualan di pinggir jalan. Berjualan apa saja, padahal ini sudah malam, waktunya tidur. Mungkin jam kerja mereka berbeda dengan jam kerja kebanyakan orang lain.

Salah satunya ada yang berjualan martabak bangka, Bangka? Perasaan ku selalu sedikit bergetar mendengar kata bangka, sedikit saja, tak perlu banyak-banyak. Aku hampiri, meski tak begitu lapar, mungkin ada orang-orang lain di rumahku atau di mana saja yang nanti bisa ketemu, yang perlu ku belikan makanan. Kalaupun tak ada, aku tetap akan membeli hanya untuk membuat penjualnya senang.

Yang menjual seorang Bapak memakai kopiah, seorang ibu memakai jilbab yang mungkin isterinya, juga seorang anak perempuan yang sama mungkinnya adalah anak mereka. Mereka bekerjasama dengan sinergis untuk menyediakan pesanan. Aku senang sekali melihat mereka. Mereka berusaha hingga semalam ini, yang kulihat disepakati oleh hampir semua orang sebagai pukul 11 malam. Mereka berusaha mencari penghasilan dengan cara yang baik. Mereka terlihat ceria, dan sepertinya tidak sedang memaki kehidupan yang membuat mereka masih bekerja hingga semalam ini. Dan banyak orang-orang seperti mereka ini. Yang bekerja dari cinta, oleh cinta, untuk cinta. Cinta yang universal maksudku, cinta kepada kehidupan dan pemberi kehidupan, bukan cinta sempit menggebu-gebu yang kurasakan kepada mantan kekasihku sampai saat ini.

Aku seolah-olah mendapat sedikit perasaan dari mereka, tertular sedikit. Aku merasa nyaman, merasa dipenuhi perasaan sayang. Entah fenomena psikologi apa ini namanya. Aku berjalan pulang, mengucapkan terima kasih pada mereka. Aku jadi merasa menyayangi mereka, jadi merasa meyayangi kalian semua yang bekerja untuk untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik, aku menyayangi kalian yang berjuang untuk merawat anak-anak kalian, aku menyayangi kalian yang bekerja demi diri kalian sendiri, aku meyayangi kalian orang-orang yang lewat di jalan, aku meyangi orang yang tadi terlalu ngebut sehingga hampir menabrakku, yang menyadarkanku bahwa hidup perlu disyukuri, aku menyayangi kalian yang malam-malam begini sedang berkumpul di pinggir jalan, entah untuk tujuan apa. Aku meyayangi orang tuaku yang nanti akan terbangun untuk membukakan pintu. Aku meyayangi kalian semua teman-temanku, temanku yang sedang bersama anaknya yang kemarin ku datangi, temanku yang senasib dengan ku yang kemarin sama-sama mendatangi, teman-temanku lainnya yang jauh yang kadang-kadang mengirimkan pesan-pesan untuk menghiburku, juga teman jauh ku yang menceritakan kesedihannya untuk mendapat hiburan dariku. Orang-orang yang telah ku kenal dan yang akan ku kenal. Aku menyayangi kalian semua.

Aku sedang tak membenci kalian, pemerintahku. Karena toh kalian bekerja demi kepentingan banyak orang, dan selalu akan ada hal-hal baik yang kalian hasilkan. Hanya kami saja yang jarang menyadarinya, sehingga selalu mencari hal-hal buruk dari kalian untuk ikut kami sesali, karena sesungguhnya kami menyesali kehidupan kami sendiri, mungkin kami hanya mencari sesuatu dari luar diri untuk melampiaskan sedikit rasa marah. Aku sedang tak membenci artis-artis atau tayangan tentang artis ini artis itu yang sering terasa betapa tak pentingnya, kalian juga manusia yang perlu disayangi, yang perlu pencapaian. Aku sedang tak membenci orang yang telah merebut mantan kekasihku. Aku sedang tak membenci diriku yang tak berhasil menjaga perasaan mantan kekasihku. Aku sedang tak membenci apapun. Karena kita semua sama, hanya sedang menjalani peranan yang sedang dipilihkan untuk kita, jika kita menolak menjalani peran ini, berusaha saja, masih banyak peran lain yang bisa dimainkan.

Entah berapa lama perasan ini akan bertahan, aku sadar, mungkin tak lama. Karena jiwa masih berfluktuasi dan mencari titik kesetimbangannya. Karena selalu akan ada masalah di setiap hari yang kita lalui. Masalah yang selalu saja, jika diurai akan semakin panjang, dan jika digulung akan semakin pendek. Aku masih percaya, semua akan indah, kalau tidak pada saat ini, mungkin sekejap kemudian, atau beberapa kejap kemudian, tak perlulah jumlah kejapan itu kita hitung. Hanya percaya, itu saja yang kita butuhkan.

Aku meyangi kalian semua.

Salam.

Catatan 25 Januari 2010

mimpi

Sedikit saja berbaring, saat sedang lelah, aku segera tersedot dalam pusaran yang meluruhkan diriku dan menyatukannya lagi pada suatu tempat yang baru kuketahui apa setelah aku tak berada di sana. Aku menjelma pada sosok yang tak kuketahui sebagai aku, aku menjadi sesuatu yang hanya kurasakan, bahwa itu aku.

Aku adalah burung, yang terbang mengepak-ngepak sayap menikmati awan, melayang melalui dorongan angin dan sewaktu-waktu memanjakan sayapku. Aku adalah burung itu yang mendadak jatuh berdebam ke rerumputan, dimana seorang anak kecil menemukanku dan membawaku pulang.

Aku adalah anak itu, yang berlari kegirangan membawa seekor burung tak berdaya yang kiranya terjatuh karena terlalu dalam mengukir jejak pada awan. Aku berlari-lari menuju satu arah. Ingin menujukkan apa yang kudapatkan kepada ayah, yang sedang menungguku di rumah.

Di tengah jalan, kulihat pohon-pohon mengembang meninggalkan gerak yang monoton. Mereka berjatuhan saling bersahut-sahutan membuat ku menghindar ketakutan dan menyelamatkan diri pada tempat yang tak pernah terpikirkan. Hanya satu yang ku tahu, aku terselamatkan.

Yang tak kusadari adalah bahwa pada saat berlari tubuhku mengembang menjadi seorang pemuda. Seorang pemuda yang pada saat melihat sekeliling, mendapari ternyata semua ruang, semua ruang yang ku pandang, hanya berwarna abu-abu. Aku tak bisa membedakan apa itu hitam, atau kah itu putih, semua hanya antara hitam dan putih. Sehingga dengan perasaan tak menentu aku mencari dimana sumber warna-warna berada. Siapa yang menyimpannya?

Aku menemukannya, pada seorang wanita, yang memberikanku setangkai kuas dan beberapa helai warna. Perlahan-lahan aku melukis komposisi sebuah pemandangan, tentu aku haru melukis ruang terlebih dahulu sebelum mulai melukis benda dan kata-kata. Tapi justru ku lukis hijau sebagai merah, biru sebagai kuning, dan hitam sebagai putih. Tidak bisa mewarnai sesuatu dengan komposisi yang sama dengan yang dipahami setiap orang lain.

Aku berlari lagi, ketika melihat bunga berwarna hitam yang berdaun jambu datang hendak menerkam. Mimpi apa ini? aku ingin keluar dari mimpi ini, dan memasuki mimpi yang lebih linear. Tentu harusnya aku berhak membuat dekorasi mimpiku dalam sebuah taman dimana suara air berpadu dengan hembusan angin meniup kelopak bunga ditunggangi lebah ke tempat mana saja yang mereka ingin suburkan.

Sampai suatu ketika kulihat seorang tua berwajah kejam, menatapku dengan sorot tajam, diiringi senyuman yang lebih mirip cibiran. Aku pernah melihat wajah itu, si tua penafsir mimpi sebagai Sigmund Freud, yang mendeteksi kegilaan orang lain dari obsesinya pada kegilaan diri sendiri. Apa kepentinganmu dalam mimpiku? Kusingkirkan manusia yang tidak relefan itu dengan kibasan tangan, dan kembali ke jalan. Kemana aku akan pergi? Bukankah aku tadi ingin pulang ke rumah, untuk menjumpai ayah? 

Dialog Isa AS dengan Iblis

Yesus menjawab:  “Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, aku mempunyai rasa welas asih kepada setan, setelah mengetahui keterusirannya dan aku juga mempunyai welas asih kepada umat manusia yang tergoda oleh setan sehingga berbuat dosa. Oleh karena itu, aku berdoa dan berpuasa untuk Tuhan kita, yang telah berfirman kepadaku melalui malaikat-Nya, Gabriel: “Apa yang ingin engkau peroleh, O Yesus, dan apa permohonanmu?” Aku menjawab: ”Rabb, engkau mengetahui apa yang menyebabkan setan berbuat kejahatan, dan bahwa melalui godaan-godaannya, banyak umat manusia yang binasa; dia adalah makhluk-Mu, Rabb, yang telah Engkau ciptakan; oleh karena itu, Rabb, berilah dia Rahmat-Mu.”

Tuhan menjawab:  ”Yesus, perhatikanlah bahwa aku akan mengampuni dia. Hanya dengan mengucap:  “Rabb, Tuhanku, aku telah berdosa, berilah aku rahmat-Mu.” dan Aku akan mengampuninya dan mengembalikannya dalam keadaan semula.”

“Aku merasa sangat gembira,” Kata Yesus, “Ketika mendengar ini, merasa yakin bahwa aku telah membuat perdamaian ini. Oleh karena itu, aku memanggil setan, yang kemudian datang berkata: “Apa yang harus aku lakukan untukmu, O Yesus?”

Aku menjawab: “Engkau akan melakukan ini demi dirimu sendiri, O setan, karena aku tidak menyukai layananmu, tetapi demi kebaikanmu sendiri, aku memanggilmu.”

Setan menyahut: “ Jika engkau tidak menghendaki layananku, maka begitu pula aku, tidak menghendakimu; karena aku lebih mulia daripada engkau, oleh karena itu, engkau tidak layak melayaniku-engkau tercipta dari tanah, sedangkan aku dari ruh.”
“Marilah kita tinggalkan ini,” Ucapku, “dan jelaskan kepadaku apakah tidak sebaiknya jika engkau kembali kepada keindahanmu dan keadaanmu pertama kali. Harus engkau ketahui bahwa Malaikat Michael di hari pengadilan nanti, mau tidak mau, akan menebasmu dengan pedang Tuhan sebanyak seratus ribu kali, dan setiap tebasan akan memberimu rasa sakit yang pedih setasa dengan kepedihan sepuluh neraka.” 

Setan menyahut: “Kita akan lihat nanti, siapa yang dapat berbuat lebih; pastinya, aku mempunyai banyak malaikat di sampingku dan para penyembah berhala yang paling potensial. Yang akan mengganggu Tuhan, dan Dia akan mengetahui betapa besar kesalahan yang Dia buat dengan mengusirku demi segumpal tanah yang hina.”

Kemudian aku berkata: ”O setan, pikiranmu sangat lemah dan engkau tidak menyadari apa yang engkau ucapkan.”
Kemudian setan, dengan nada mengejek, menganggguk-anggukkan kepala, berkata: “Baiklah, sekarang marilah kita buat perdamaian antara aku dengan Tuhan, dan menurutmu, O Yesus, apa yang harus dilakukan, karena engkau berpikiran cerdas.”
Aku menjawab: “Hanya dibutuhkan dua kalimat untuk diucapkan.”

Setan menyahut: “Dua kalimat?”

Aku menjawab: “Begini: Aku telah berdosa; berilah aku rahmat.”

Setan kemudian berkata: “Sekarang, aku akan berdamai jika Tuhan mengucapkan dua kalimat itu kepadaku.”

“Sekarang, pergilah dariku,” kataku, “O makhluk yang terkutuk, karena engkau adalah dalang kejahatan bagi semua ketidakadilan dan dosa, tapi Tuhan-lah yang Maha Adil, tanpa suatu dosa.” Jawab Yesus.

Setan pergi sambil tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Tidak demikian halnya, O Yesus, tapi engkau menjelaskan suatu kebohongan untuk menyenangkan Tuhanmu.”

“Sekarang pikirkan,” kata Yesus kepada muridnya, “Bagaiman dia akan memperoleh Rahmat.”

Catatan:
Dialog ini adalah pengajaran Yesus kepada murid-muridnya, yang dikutip dari buku terjemah Injil Barnabas. 

Saturday, January 14, 2012

A Happy New Year (Sebuah Riset di Edinburgh)

LATAR BELAKANG
Metode perpisahan dengan tahun lama dan penyambutan tahun baru biasanya identik dengan pesta kembang api. Sebuah pernyataan yang mencurigakan, yang perlu dibuktikan secara ilmiah kebenarannya. Benarkah bahwa tahun baru itu dirayakan? Benarkah bahwa perayaannya melibatkan kembang? Dan apa hubungannya semua itu dengan api? Berbagai spekulasi beredar sehubungan dengan masalah ini.

Ada dua pilihan cerdas untuk membuktikan kebenaran keberadaan kembang api di malam tahun baru di Britania Raya, berdasarkan informasi dari data sekunder yang beredar terbatas, pertama di London dan kedua di Edinburgh. Atas pertimbangan bahwa huruf E pada Edinburgh mendahului hurul L pada London dan keharusan memperhatikan urutan itu di halaman daftar pustaka, maka Edinburgh menjadi skala prioritas.

TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti kebenaran keberadaan perayaan kembang api di Edinburgh, dengan batasan biaya yang semurah-murahnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

METODE PENELITIAN
Dalam rangka menjawab tujuan penelitian yang mulia itu, yang tak semua penelitian bersedia menjawabnya, maka diperlukan sebuah pengamatan, pencerapan iderawi, pengolahan data secara kualitatif dan pengambilan kesimpulan secara empiris. Untuk sebuah pengamatan yang obyektif, diperlukan beberapa orang yang berbeda-beda tetapi tetap satu jua untuk menuju ke lokasi studi kasus ini, maka berangkatlah kami berempat ke Edinburgh. Tiga orang penghuni pent house apartemen balti: Tama, Andyka, dan Kiki beserta seorang bintang tamu asal Surabaya Om Irfan.

 
Figure I Research Team Member

Perjalanan dari Leeds memakan waktu cukup panjang, bahkan tak memandang fakta bahwa itu yang mengantarkan kami adalah sebuah mobil Ford Vista baru yang pintu sampingnya cuma ada dua. Mobil cantik berwarna biru ini cukup canggih, saking canggihnya dengan sedikit pencet kiri kanan jadi bisa berbicara, setelah terlebih dahulu mengeluarkan dering telepon. Tidak hanya itu, kecepatan tinggi terasa rendah saja baginya. Untuk mencegah mobil yang  biaya sewanya murah namun berharga tak terjangkau rekening tabungan itu tergores dan kemungkinan susah mencari Ketok magic atau tambal ban, maka kami menambahkan biaya asuransi.

 Figure II Speed CameraSejak awal berangkat, kami mencurigai bahwa kegiatan penelitian ini telah mengundang rasa ingin tahu dari banyak pihak, termasuk paparazzi yang biasa mencari foto-foto bintang tenar. Sehinggalah di sepanjang jalan terlihat kamera-kamera yang memantau kegiatan kami, saat dekat kamera otomatis langsung kita berikan senyum termanis dan ekspresi jari piss. Namun lama-lama karena terlalu banyak kamera di pinggir jalan, akhirnya kami tak acuhkan lagi, biarkan saja mereka mendapatkan foto kami.

Untuk menjadi penunjuk arah, dipergunakan GPS dari sebuah device Samsung Galaxy X2 milik Kiki device “luar biasa canggih yang dibeli dengan benefit maksimal dan harga minimal” (Untuk seorang Kiki the modern devicer, kata-kata dalam tanda kutip itu, tidak bisa dipisahkan, bahkan dengan alasan apapun). Jalanan di Britania raya tidak terlalu berliku seperti jalan menuju puncak gemilang cahaya dimana bertebaran aa vila, sejauh dari Leeds sampai ke Edinburgh terlihat begitu. Dengan papan informasi yang jelas, jalan-jalan besar Motorway yang seperti jalan Tol di Indonesia ini bisa dilalui dengan gratis saja, dengan free flow speed.

Bosan dengan motorway, berbeloklah mobil ke jalanan kecil. Sebentar-sebentar terlihat rambu kurangi kecepatan ketika memasuki kota-kota kecil, berikut tanda bahwa kamera siap mengabadikan. Sebenarnya perlambatan itu bukan tanpa tujuan, karena berdasarkan standard perencanaan jalan raya, sudah diperhitungkan bahwa ini adalah kecepatan maksimum yang sesuai dengan keadaan cuaca, lalu lintas, alignement, aspek geometri jalan serta layout perkotaan. Kota-kota kecil di tengah jalan ini sungguh sangat kecil, memadat di pinggir jalan, mirip dengan kota penuh zombie di film Shaun of the Dead, di kanan kiri terlihat bar-bar kecil dengan kedip lampu warna warni yang juga sepi mencekam.
 
Figure III Shaun of the Death City

Untuk memeriahkan suasana malam, maka diputarlah lagu-lagu mellow yang mengingatkan akan kampung halaman dari IPhone Andyka yang dengan jaringan Bluetooth disambungkan ke speaker mobil. Lagu Michael Buble Home dan Dewa Kangen menjadi hits, membuat Kiki the modern devicer menyanyi-nyanyi penuh penghayatan, rindu kampung halaman, rindu yang dirindukan.

Akhirnya saat-saat memasuki Scotland segera tiba. Hati berdebar-debar rasanya, menunggu gerbang besar di tengah jalan yang bertuliskan selamat datang di Scotland, menunggu tulisan “Scotland berhati Nyaman.” Atau yang semacam “Edinburgh kota berprestasi.” Tentunya diikuti tulisan “Hati-hati anak isteri menunggu di rumah.” Namun harapan itu harus sirna, di pinggir jalan hanya ada papan nama kecil bertuliskan “Welcome to Scottish Borders.” Sangat kecil, sehingga tidak layak dijadikan objek berfoto, padahal berfoto di papan nama itu merupakan salah satu legalitas dari penelitian ini. Sambutan yang agak mengecewakan dari pemerintah kota, mengingat sudah jauh perjalanan kami tempuh untuk meraih perbatasan ini.
 
Figure IV Border Sign

DATA DAN ANALYSIS
Akhirnya sampai juga di Edinburgh, kota yang merupakan salah satu World Heritage. Edinburgh merupakan salah satu kota yang berdasarkan survey, paling layak ditinggali di UK, dimana terdapat Edinburgh University yang terkenal dengan tokoh filsuf sekaligus ekonom nya Mr. Uadam Smith. Dimana JK Rowling biasa duduk di sebuah kafe dan menulis Harry Potter. Penduduk kota ini ternyata sesuai rumor yang beredar bahwa makin ke utara dari Inggris English dialeknya semakin semakin totok, asing, seolah-olah diucapkan dengan kecepatan suara yang tidak terdeteksi manusia Indonesia biasa. Daripada menanyakan alamat penukaran tiket Homanaya ke penduduk local, lebih efektif cari di web site dan gunakan GPS.

Edinburgh merayakan perpisahan tahun lama dengan serangkai acara Homanay Festival, mulai dari Torchlight procession, Hogmanay Stret Festival, Fireworks, hingga Loony Dook. Untuk membatasi lingkup penelitian, kami hanya mengikuti Street Festival dan Fireworks, yaitu sebuah jalan dari ujung ke ujung dimana terdapat berbagai panggung yang menampilkan performa artis-artis lokal sambil menunggu pertunjukan kembang api dari arah Castle. Untuk masuk ke festival ini harus membayar tiket masuk 15 pounds, demi tujuan mulia penelitian ini, biaya itu bisa ditolerir. Menjelang acara, Om Irfan memberikan peringatan untuk berhati-hati, bahwa biasanya di acara malam tahun baru ini, banyak pelukan gratis, Kiki menjadi lebih antusias, terlihat sudah lupa bahwa tadi baru saja menyanyikan lagu kangen dengan mendayu-dayu.

Padat merayap para penonton yang jumlahnya sampai 80ribuan beredar dari ujung ke ujung, dari satu panggung ke panggung lain di sepanjang jalan, beragam warna-warni rupa-rupi suku bangsa dan bahasanya dari berbagai benua, sebut saja nama satu Negara, sepertinya ada semua di sini, tumpah ruah di jalanan.

 Figure V a man and his bottleSuhu udara sekitar 3 derajat saja, entah itu celcius, atau lintang utara, atau lintang selatan, kurang paham juga. Karena keterbatasan dana dan upaya, tidak ada ahli cuaca atau ahli geografi dalam tim peneliti. Dalam udara yang sedingin itu, orang-orang terlihat membawa berbagai macam botol minuman, yang konon katanya bisa menghangatkan badan.

Penelitian ini hanya berlaku untuk suhu itu, karena jika suhu udara 30 derajat seperti di Jakarta, hasil penelitian ini tidak akan berlaku. Namun demikian, kami tak lupa pula membawa botol minuman, coke besar yang bisa membuat badan bertambah dingin, plastik mereknya disobek agar saat meminum bisa menimbulkan efek lebih dramatis seperti orang-orang sekitar.


 
Figure VI Mr Tama, The Ladies and their bottles

Detik-detik tahun baru, setelah semua orang menghitung mundur sampai nol, akhirnya roket-roket meluncur ke udara dan meledak dengan berbagai intensitas warna-warni rupa rupi kembang api, yang berlansung sekitar enam menit.
  
Figure VII FireWorks by Amateur Photographer

Oke, mungkin gambar ini kurang memuaskan. Berikut ini gambar yang lebih indah, dengan penerapan exposure yang tepat pada kameranya.
 
Figure VIII FireWorks by Professional Photographer

Setelah kembang api berakhir, orang-orang saling mengucapkan happy new year dan heboh berpelukan dengan pasangan maupun teman di sekitarnya. Kami hanya bergantian bersalaman, sambil menyaksikan sekeliling. Momen dimana menyaksikan hal-hal terindah dengan perasaan sepi karena tak ada orang spesial untuk berbagi.

Sing.. hening sejanak.. beberapa pertanyaan mengudara.. mana? ga ada pelukan gratis?

Ketika itulah sekonyong-konyon terasa pelukan  seseorang dari belakang. Seseorang.. sayangnya.. pria.. sayangnya.. seraya mengucapkan kalimat.
“You’re my favourite man, happy new year.” Ah, sedih rasanya.. ya sudahlah.. aku pun berbalik, balas menyalami, memeluknya dan mengucapkan.
“Happy new year, mate.”
  
Figure IX You’re my favourite man..

Lalu bergantian menyalami, mengucapkan happy newyear, dan memeluk rombongan teman-temannya. Lalu kami berdelapan, empat indonesian dan empat Scottish saling berpelukan berombongan sambil mengucapkan “HAPPY NEWYEAAR!” sambil melompat-lompat seperti anak kecil kegirangan. Sebuah momen dimana dinding-dinding pertahanan dan perbedaan-perbedaan melebur menjadi rasa bersahabat, dekat, hangat, bersaudara  bahkan dengan orang-orang asing.

Ternyata itu kata kuncinya, “happy new year”.

Pesta pun bubar, perlahan orang-orang berbondong-bondong pulang. Sambil pulang seringkali berpapasan dengan orang-orang yang mengucapkan happy new year, berpelukan, happy new year, berpelukan, serasa menjadi teletubbies. Tapi semua orang riang gembira.

Mendadak ada orang berbadan tinggi besar menarik tangan Om Irfan, dan lagi-lagi mengucapkan happy newyear. Beberapa orang pria wanita juga memeluk ku dan mengucapkan happy newyear, kami melompat-lompat sambil bernyanyi-nyanyi dengan lirik dan diaelek yang sama-sekali tidak jelas. Saat itulah pak Irfan menghilang..

Bahwa dia digendong dan dibawa kabur oleh pria bertubuh besar itu.. bahwa dia dengan pasrah dibawa berlari-lari keliling kerumunan.. kami ketahui kemudian..

Sambil menunggu Om Irfan yang masih menghilang entah kemana, kami menyaksikan pertunjukan musik yang kedengaran sangat irlandia, yaitu dengan dominasi suara biola berketukan cepat, di salah satu panggung, mendengar musik yang indah itu, dan atmosfir sekitar yang sangat ceria penuh dengan orang-orang berdansa, pertama-tama kepala ikut bergoyang, lalu kaki, lalu tangan, lalu badan.. dan resmilah aku dan Andyka berjoget mengikuti music, berputar-putar dengan ciri khas pada hentakan2 kaki.
 
Figure VIII The hilarious performance

 
Figure IX Dancing

Dimana rimba Om Irfan masih belum ketahuan, maka sudahlah kami pulang saja menuju parkiran, dengan pebuh rasa tega. Ternyata di tengah jalan pulang justru bertemu lagi dengan Om Irfan, dengan kondisi yang patut disyukuri, masih selamat. Dalam perjalanan pulang masih selalu saja ada orang-orang yang mengucapkan happy newyear, hingga satu rombongan terakhir. Dimana salah satunya memeluk Om Irfan dan memberikan ciuman manis di pipi, lalu Om Irfan pun digendong, untuk kedua kalinya. Dia hanya meronta-ronta tak berdaya..hahahaha
 
Figure X He likes him, He’d like to take him home

Pagi menjelang, akhirnya bertemu dengan rombongan dari Glasgow dan Newcastle, dan di pagi buta itu, ternyata penelitian harus berlanjut ke St Andrews, tempat dimana Pangeran William dan Kate Middleton dulu kuliah. Maka beriringanlah tiga mobil, dengan muatan peneliti-peneliti dari Glasgow, Newcastle dan Leeds.

Di tengah jalan, karena Kiki sang Navigator tertidur pulas di bangku belakang, mobil sempat salah jalan, tertinggal dari rombongan. Saat baru memasuki jalan yang sepi menuju St Andrew sebuah mobil patroli polisi mengikuti dari belakang. Mobil itu terlihat mencurigakan, karena lampu nya berkedap-kedip, atau mungkin juga mobil kami yang terlihat mencurigakan. Curiga mencurigai sering terbolak-balik belakangan ini. Mobil kami terus melaju, mencoba tak mengacuhkan polisi di belakang. Mendadak mereka itu menghidupkan sirine, seperti akan mengejar penjahat, gawat.

Maka ku pelankan mobil, dan berhenti. Seorang polisi yang muda dan berwibawa keluar dan menghampiri lewat jendela. Kami diam saja, dengan wajah sok polos membuka kaca jendela dan menatapnya. Biasanya polisi Indonesia akan berkata. “Selamat malam pak, bisa saya lihat surat-suratnya?” yang biasanya dilanjutkan dengan “Anda melanggar bla-bla bla-bla, mau diselesaikan di sini apa dilanjutkan ke persidangan?”

Polisi yang ini, yang kemungkinan kecil namanya Kopral Ujang, malah berkata “Apakah kalian tidak apa2, mobil ini tadi terlihat goyang kiri kanan, jangan-jangan kalian mabuk?”
“Oh, tidak pak, kami hanya ragu-ragu karena masih mencari jalan menggunakan GPS.”Kira-kira begitu jawabku yang sedang di belakang setir sambil menunjuk device super canggih di tangan Kiki.
“Kalian mau ke St Andrew?” tanyanya sambil matanya menatap mataku sambil hidungnya mengendus-endus bau mulutku untuk membuktikan bahwa kami bebas alcohol.
“Benar sekali Pak.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Katanya kemudian.
“Happy new year Sir.” Kataku, roda mobil kembali berputar untuk melanjutkan perjalanan. Jalanna yang sepi mencekam, kantuk yang melanda, dinginnya udara, kegelapan di luar, tak mampu menghalangi tujuan mulia kami  untuk meneliti matahari terbit sekaligus juga napak tilas kisah asmara Pangeran William dan Kate Middleton di St Andrew.

 
St Andrew

KESIMPULAN
Berdasarkan riset yang telah diselesaikan ini, maka bisa ditarik kesimpulan adalah benar bahwa ada perayaan kembang api pada malam tahun baru di Edinburgh, bahkan ada dugaan bahwa kata Happy Newyear merupakan sebuah mantra yang membuat orang-orang menjadi lebih bahagia dan berhadiah pelukan atau cium mesra..dari pria..

Hasil penelitian ini masih perlu diuji melalui komparasi studi dengan perayaan-perayaan serupa seperti di London, Amsterdam dan sebagainya. Namun demikian, kesimpulan sementara yang diperoleh sudah cukup untuk memuaskan rasa penasaran akan kebenaran ilmiah dari penyataan-pernyataan yang berkembang di kalangan masyarakat seputaran tahun baru dan perayaannya. Tentunya juga bisa menjadi seuntai kisah modern untuk masa lalu, kisah kontemporer yang diceritakan kepada seseorang di masa lalu.

Juga ada sebuah hipohesis sementara, bahwa rok pakaian tradisional yang biasa dipakai oleh  orang Irlandia dan Scotland itu memiliki fungsi utama, yaitu biar gampang dipakai pipis. Hal ini kami lihat dalam perjalanan pulang, dimana terlihat seorang pria mengenakan rok sedang menuntaskan hasratnya tersebut di pinggir jalan, di keramaian.

Terimakasih:
-        Untuk Andyka, Kiki the modern devicer dan Om Irfan
-        Untuk Aryo, Masagus Eron, rekan-rekan dari Glasgow yang baik hati dan rekan-rekan dari Newcastle yang cantik-cantik, yang telah menyusun acara liburan dan memberikan hiburan yang cukup untuk menurunkan intelegensia
-        Untuk orang-orang local yang memberikan kesan hangat dan bersahabat
-        Untuk Pak Polisi yang masih bertugas di malam tahun baru
-        Dsb

References:
Figure II http://www.navmanwireless.co.uk/speed-cameras-challenged.html
Figure III http://www.avclub.com/articles/shaun-of-the-dead,61446/
Figure IV, VIII http://www.facebook.com/dontbeatourist