Sunday, August 21, 2011

harapan


Tahukah kamu apa rasanya merantau ke negeri yang jauh? Rasanya.. seperti merantau ke negeri yang jauh. mm.. agak susah diungkapkan rasa yang satu ini, kompleks.

Di satu sisi, ada perasaan senang, karena akan menemui hari-hari baru, tidak berpijak pada kehidupan statis, yang seringkali membuatku merasa bosan.. ada perasaan tertarik dengan tantangan yang akan datang, yang tak terbayangkan sebelumnya.

Di satu sisi, ada perasaan sedih karena akan meninggalkan status nyaman, hari-hari yang sudah biasa dilalui dan orang-orang yang sudah dikenal baik.

Ada juga terasa harapan, karena mendapat keberuntungan yang cukup langka dalam memenuhi impian masa kecil, dengan biaya nol rupiah bisa sampai sejauh-jauh kaki bisa melangkah. Harus kuucapkan banyak terimakasih kepada Departemen pendidikan nasional dan departemen perhubungan, tentunya pada kesempatan dan tulisan yang lain.

Ada perasaan was-was, bahwa dengan intelegensi yang terbatas dan sering dihinggapi rasa malas, apakah bisa memenuhi harapan dari institusi yang telah membawaku ini, apakah sebanding uang yang mereka keluarkan dengan manfaat yang akan kita dapatkan.

Mendadak teringat kejadian-kejadian sebelum berangkat. Teringat akan perkataan penceramah pada kultum suatu hari menjelang tarawih di langgar:
“Jadi, waktu puasa itu berbeda-beda antara wilayah satu dengan yang lain, ada yang puasanya sebentar ada yang puasanya lama. Kalau di daerah eropa sana, seperti Inggris misalnya, puasanya bisa lebih dari tiga belas jam waktu biasanya berpuasa di Indonesia. Naah, ini kebetulan ada anggota RT kita yang sebentar lagi akan melanjutkan studinya di Inggris, yaitu anak Alm. Pak RT, mari kita doakan semoga kuliahnya lancar. dsb.. dsb..”

Alamak, jadi malu dan tersandung juga dibuatnya. Yah, terharu juga sih, dengan perhatiannya sehingga dikutip di ceramah segala.. Sayangnya, kenapa ga sekalian di iklankan buat jodoh saja Pak? Sepertinya bakal lebih afdol jika ditambahkan kata-kata seperti:
“Jadi, anak kita ini sudah waktunya menikah dan ingin mencari wanita yang cantik dan sholehah.”
Pasti kemungkinan besar sukses deh, menilik hipotesis bahwa probabilitasnya lebih tinggi untuk menemukan wanita cantik dan sholehah di masjid daripada di mall.

Ada harapan yang lebih besar dari keluarga, yang biasanya mengantar ke bandara hanya Bapak, kakak atau adik, kemarin mendadak satu batalion mengantar semua, ditambah keponakan si kembar yang berisik, merantau kali ini terasa agak lebih special karena harus membawa serta harapan mereka semua. Harapan orang-orang yang mendoakan, harapan orang-orang yang mengantar, serta yang lebih berat harapan dari institusi yang mengirimkan kami ini.

Dan apakah harapanmu? Adakah kamu mengharapkanku untuk cepat pulang? Tentu tidak, sepertinya itu adalah harapanku, yang berharap agar kamu berharap aku untuk cepat pulang. Bukankah akan lebih menyenangkan jika pada saat merantau ada seseorang yang menunggu di rumh atau di suatu tempat, terutama dari jenis wanita baik hati, yang menunggu untuk segera dilamar begitu kita pulang? Lalu kenapa pula aku mesti memutuskan hubungan dengan wanita baik hati yang dekat denganku beberapa waktu lalu itu, yang menyanyikan untukku lagu cinta dengan suara yang indah, yang sweater hadiah perpisahannya masih menemaniku mengusir udara dingin.. Kenapa tak kuambil kesempatan yang mudah dibanding dengan memperturutkan keputusan pada perasaan yang tak jelas kemana berakhirnya? Entahlah..

Dan apakah kabarmu? Kamu, siapapun yang membaca tulisan ini. Adakah kamu masih terlelap dengan selimut hangat, adakah kamu bermimpi menari-nari di taman yang berbunga warna-warni, adakah kamu masih menjalani hari-hari yang berseri?

Saturday, August 13, 2011

kisah

Dear someone,
Apa kabar siapakah kamu di sana? Kabarku di sini dalam perlindungan baik, sedang berada jauh di negeri seberang. Ya, negeri seberang, yang untuk mencapainya dibutuhkan menyeberang jalan, menyeberang sungai, menyeberang jembatan, menyeberang laut, menyeberang benua dan samudra. Terlalu banyak menyeberang sampai jauuh sekali rasanya. Jika aku berteriak di sini, tentunya di tempatmu berada tak akan kedengaran. Sehingga rasanya, hanya tulisan ini yang bisa kusampaikan, untuk menjumpai siapakah kamu di negeri kita sana dan menceritakan keadaan siapakah aku di negeri sini.

Apa sih yang membawaku bisa sampai ke negeri ini, negeri Kerajaan Inggris raya, negerinya para bangsawan dan tokoh sepakbola? Akupun terkadang masih terheran-heran. Kenapa aku tidak tinggal saja di tempat yang damai itu, negeri kita, di salah satu sudut kota Jogja yang berhati nyaman. Menjalani hari seperti biasa, dibangunkan oleh matahari yang mulai memanas, menikmati mandi yang terburu-buru, sedikit memacu kecepatan motor demi mendengar dosen ceramah, lalu melayangkan pandang pada seraut wajah rupawan, dan mendapat sebuah senyum yang menawan dari siapakah kamu disana, hingga berlalu satu lagi hari yang indah. Kenapa tidak sesederhana itu saja hidup ini berjalannya.

Sebuah skenario sederhana yang seseorang inginkan, terkadang dipelintir oleh tangan-tangan yang tak terlihat ke arah yang tak terperkirakan. Kira-kira begitu kalimat ringkas untuk menjelaskan keadaan ini. Menjelaskan keberadaanku di sini dan keberadaan siapakah kamu di sana. Aku yang entah kenapa terdampar pada mendekati terwujudnya alam hayal seorang anak SMP yang membual akan kuliah di Universitas Oxford dan kamu yang sedang menyelesaikan satu anak tangga lagi menuju masa depan yang berbahagia. Bolehlah diumpamakan keadaan kita ini sebagai kendaraan yang berpapasan di bundaran, yang bertemu hanya untuk berpisah demi menuju tujuan masing-masing.

Wahai, siapakah kamu di sana, kuharap kamu selalu berbahagia dan masih menyimpan senyuman itu yang menawan dan kurindukan. Pada kesempatan yang akan datang, ingin ku rangkai kisah untuk kuceritakan, jika kamu ada di sana untuk mendengarkan.

Salam

Wednesday, July 27, 2011

menyukai

Kutemukan dia pada suatu senja yang muram, sedang berceloteh tentang apa yang ditautkan seseorang pada perasaannya. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, sepertinya dia hanya ingin berbicara untuk berbicara daripada berbicara untuk didengar. 

“Aku menyukai segala sesuatu yang dalam komposisi yang tepat untuk menyentuh indra dan perasaan. Tapi aku lebih menyukai keindahan yang hakiki, yang berasal dari ruhani dan jasmani yang sinergi.” Begitu dia memulai, lalu melanjutkan. 

“Aku  menyukai melayangkan pandang pada dirinya, seorang wanita yang kecantikannya memancar dari dalam hati.” 

“Aku menyukai perilakunya yang selalu santun, yang anggun dalam membawa dan menjaga diri hingga menjadi seperti seorang putri.” 

“Aku menyukai mendapat senyumnya yang menawan, yang terkadang berubah menjadi tawa riang yang tulus, yang terkadang polos dan kekanakan.” 

“Aku menyukai tatapan matanya, yang jernih, hangat dan bersahabat, yang membawa makna lebih daripada seribu puisi di udara” 

“Aku menyukai mendapati rona merah pada pipinya saat sedang tersipu.” 

“Aku menyukai mendengar suaranya, yang senantiasa penuh kelembutan dan kebaikan, yang sesekali memperdengarkan tawa yang menyenangkan.” 

“Aku menyukai musik yang sering didengarnya dengan serta merta meski aku baru pertama mendengarnya.” 

“Aku menyukai bagaimana dia memulai hari, melakukan sesuatu untuk menjemput cita-cita, dan menutupnya pada malam hari.” 

“Aku menyukai tidur dan kehadirannya dalam mimpi-mimpiku yang begitu intens dan nyata. Satu-satunya tempat dimana tangannya bisa kugenggam dan kutahan dari melangkah pergi.” 

“Aku menyukai jika bisa berada dalam ruang dan waktu yang berbeda yang mempertemukanku dengan dirinya lebih cepat dari yang kini terjadi. Seperti aku menyukai untuk menghabiskan lebih banyak kejapan mata dengan berada dekat dirinya.” 

“Aku menyukai perasaan ganjil ini, pereasaan entah bagaimana bisa menyukai apa saja yang berhubungan dengannya.” 

Terlalu banyak yang dia bicarakan seperti bermonolog, hingga akhirnya aku menjadi tidak sabaran mendengarkan kelanjutannya yang seperti tak berkesudahan itu, hingga kusela perkataannya. 

“Lalu apa masalahmu? Apa yang salah dengan menyukai itu semua?” 

Dia menjawab.

“Aku tak menyukai satu saja dari semua. Tak menyukai akhir yang sudah bisa ditebak dari setiap perasaanku. Aku tak menyukai airmata yang akan menetes bersamaan dengan senyum yang akan kupaksakan saat mendapat sebuah surat undangan darinya, pada saat itu aku harus berbalik, melangkah pergi atau mengerjap seperti yang seharusnya.” 

“Oh ya, kalau begitu kau punya masalah besar.” Sahutku.

“Tapi, aku masih akan menyukai melihat dirinya berbahagia, dengan apapun yang dia pilih atau dipilihkan Tuhan untuknya.”

“Kelihatannya, itu anugerah sekaligus musibah yang kau dapatkan kawan, tetaplah bersabar.”

Dia diam saja, duduk dengan pandangan menerawang menembus apa yang kelihatan demi melihat apa yang tak terlihat. Kutepuk-tepuk bahu teman ini sekedar untuk menguatkan dirinya atau meringankan bebannya. Lalu kutinggalkan dia seorang diri. Karena ku rasa tak ada yang bisa ku perbuat untuk menolongnya. Tak ada obat baginya, kecuali tentunya, orang yang dia bicarakan yang datang sendiri membawakan penawar bagi perasaannya. Bisa menemukan perasaan yang tulus pada seseorang adalah sebuah kebaikan yang patut dirayakan, namun harus melepaskannya pada saat yang bersamaan adalah suatu hal yang menyedihkan. Sungguh anugerah sekaligus musibah yang engkau dapatkan, kawan...  

Tuesday, July 05, 2011

pendidikan dan beasiswa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang  diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Tidak untuk diperdebatkan, betapa signifikan hubungan antara pendidikan bagi upaya Negara ini untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Maka seharusnya semua orang yang ingin sekolah bisa sekolah. Begitu yang selalu kupikirkan. Dengan biaya pendidikan yang semakin mahal, tentunya ini menjadi semakin sulit untuk orang-orang yang kehidupan ekonominya pas-pasan. Namun selalu ada peluang, untuk pelajar yang kurang mampu secara finansial, biasanya ada beasiswa pendidikan.  
Kali ini aku tidak sedang ingin mengkritik penyelenggara Negara, melainkan ingin mengungkapkan rasa terimakasih, dan riwayat kenapa aku harus mengucapkan terimakasih. Riwayat pendidikanku selama sepuluh tahun terakhir ini, tidak lepas dari peran beasiswa. Sebenarnya aku bukan dari keluarga yang sangat miskin, bukan pula keluarga yang berlimpah hartanya, hanya dari keluarga biasa saja. Namun, kurasa aku cukup beruntung untuk mendapatkan semua beasiswa ini.

PART 1
Pertama kali aku mendengar beasiswa atau biaya pendidikan gratis, adalah saat kelas tiga SMP,  SMP N 16 Jambi. Waktu itu, aku cukup sering juara umum, sehingga suatu ketika dipanggil menghadap kepala sekolah. Kupikir ada apa ini? Apa puisi tentang cabe beserta gambar-gambar kecil yang ku pajang di mading sekolah telah mengganggu ketertiban kehidupan bersekolah.
Pak Sarsito, kepala sekolah waktu itu, dengan irama suaranya yang khas, ternyata mengatakan bahwa nilaiku cukup bagus, menyuruhku untuk mempertahankannya, sehingga beliau akan memberikan rekomendasi dan ada kemungkinan aku mendapat beasiswa nanti di SMU. Itulah pertama kalinya aku mendengar berita gembira seputar beasiwa. Kusimpan informasi ini sendiri bersama perasaan harap dan cemasnya yang segera terlupakan dengan kesibukan bermain. 
Tapi tak pernah kudengar kelanjutan berita itu, hingga kami ujian nasional, dan dengan tak terduga nilaiku menjadi yang terbaik di SMP. Meskipun bukan termasuk salah satu SMP terbaik di Jambi, sekitar sepuluh orang dengan nilai terbaik berhak mengikuti seleksi penerimaan siswa SMU Titian Teras jambi, Sekolah yang dikenal juga dengan nama SMU Unggul. 
Aku mengikuti berbagai tes bersama sekitar seribu limaratus orang se-Provinsi, mulai dari kemampuan jasmani, akademik, serta psikotes. Aku ingat sangat menyukai soal-soal psikotes bagian memutar-mutar wujud bangun ruang dan bidang datar. Disana juga ada tes menggambar, satu bidang yang aku cukup punya keahlian. Akhirnya dari SMP, aku bersama seorang teman berhasil mengikuti seleksi penentuan akhir, yang diakhiri dengan wawancara dengan pihak yayasan. Pada saat itu, kami dijejerkan dalam ruangan didepan beberapa panelis, Pak Kaolan menanyakan nilai NEM ku dan nilai matematika, dan tak banyak bertanya lagi. Akhirnya aku lulus meski teman se SMP ku tidak, entah karena alasan apa yang tak pernah kita ketahui sampai saat ini.
Demikianlah awal dimana aku mendapat beasiswa untuk pertama kali. Sekolah di SMU Titian Teras dalam periode itu artinya adalah bersekolah gratis mulai dari biaya pendidikan, uang makan, uang buku dan semua fasilitas lainnya. Karena kondisi keuangan yayasan, kami harus membayar sekitar 600 ribu untuk uang seragam, tapi itu jumlah kecil untuk sebuah sekolah dengan system pendidikan terbaik, gratis selama tiga tahun. Tentunya there’s no such thing like gratis, sebenarnya ada pihak-pihak yang membayar untuk itu, dalam hal ini adalah Yayasan Pendidikan Jambi.

Bolehlah dikutip tujuan Yayasan ini mendirikan SMU TT adalah untuk: (1) Menyiapkan kader pembangunan bangsa yang berkualitas tinggi, mempunyai jiwa nasionalisme dan patriotism yang tinggi. (2) Membina secara khusus potensi-potensi sumber daya manusia di Propinsi Jambi yang mempunyai bakat, minat, dan kecakapan yang tergolong unggul atau di atas rata-rata. (3) Turut berperan serta dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Serta salah satu tujuan khususnya yang perlu dikutip: Menyelanggarakan suatu pola pembinaan generasi muda yang terpadu melalui pembinaan di SMA dan perguruan tinggi, untuk menghasilkan potensi-potensi SDM yang nantinya diharapkan dapat ikut mengembangkan daerah Jambi.
Tentunya untuk mendapatkan sesuatu yang berharga ada sesuatu yang harus dikorbankan. Dalam sekolah yang mengutamakan pembinaan berbagai bidang ini, disiplin yang diterapkan adalah semi militer. Adalah waktu untuk bermalas-malasan yang harus dikorbankan. Subuh sudah memulai aktivitas fisik, pagi sampai malam harus belajar. Harus pula bisa beradaptasi untuk mengatasi tekanan dari lingkungan sekitar. Kebanyakan teman yang kukenal adalah orang-orang cerdas, sehingga belajar sampai botak pun sulit rasanya bagiku untuk menjadi rangking satu. Namun, syukurlah semua bisa dilewati dengan baik.

PART 2
Menjelang ujian akhir, ada pengumuman mengenai tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Syarat yang ditentukan adalah nilai Matematika dan Bahasa inggris minimal tujuh. Kebetulan aku termasuk salah satunya, meski dari segi ranking tidak sebaik teman2 yang mengikuti seleksi. Entah kenapa, pada akhirnya aku dan seorang teman yang bernama nasrudin mendapatkan kesempatan itu. Dibiayai sejak mengikuti tes seleksi, jika kami lulus UMPTN maka SPP selama kuliah akan ditanggung oleh yayasan pemberi beasiswa, yaitu yayasan Supersemar dan Damandiri.
Sempat terjadi dilemma apakah aku akan mengambil Arsitektur atau Teknik Sipil di ITB, mengingat hobiku menggambar serta pelajaran geometri dan ruang aku memilih Arsitektur, namun menimbang luasnya bidang pekerjaan aku akan memilih Sipil. Entah kenapa, setelah sholat semakin kuat dorongan untuk memilih sipil. Setelah mengikuti test di Jambi, akhirnya aku lulus diterima di ITB.  Dan memulai perjalanan ke tanah Jawa.  

Beasiswa yang diberikan yayasan Damandiri adalah SPP dan biaya hidup. Meski pemberian beasiswa selalu terlambat satu semester, namun tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah aku tidak memanfaatkan peluang dengan baik. Setelah mendapat nilai memuaskan pada tahun pertama, serta timbul sedikit perasaan arogan, pada tahun kedua dan ketiga nilai menurun. Sehingga dengan sangat konyolnya, menjelang tahun keempat aku menghadap dosen wali, dan mengatakan bahwa “Sepertinya saya tidak cocok di jurusan sipil.” Dan menanyakan kemungkinan untuk pindah ke arsitek. Untung dosen yang baik ini, tidak serta merta melepas, dia bilang. “Kamu coba lagi satu semester, sayang, tinggal sedikit lagi..”
Syukurlah pada akhirnya semua bisa diselesaikan dengan baik. Lulus kuliah dengan IP lumayan dan segera mendapat pekerjaan.

PART 3
Sesuatu dan lain hal yang terlalu panjang untuk diceritakan membuatku kehilangan minat untuk bekerja. Singkat cerita, kuputuskan untuk menuju ke Yogya, demi dekat dengan akar budaya Alm. Ayah, serta demi merangkai mimpi-mimpi baru setelah mimpi yang sebelumnya hilang, bolehlah untuk disedarhanakan sebagai putus dengan sang pacar. Waktu itu tujuanku masih tidak jelas, antara ingin mencoba mengambil kuliah S2 yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran, ingin mencari pekerjaan baru, atau ingin mencari cinta. Yang jelas satu dan semua saling terangkai, saat aku mendaftar ke teknik transportasi UGM. Sebenarnya aku sudah melirik dan mengambil brosur S2 Arsitek juga dan entah kenapa untuk kedua kalinya kupilih sipil.
Saat itu, aku menyerahkan berkas nilai TOEFL dan TPA ke bagian pendaftaran. Mba administrasi menanyakan nilaiku, belakangan kusadari nilai TPA ku memang paling tinggi dari yang mendaftar, lalu seorang dosen yang dikenal dengan panggilan Ibu Mamah  menawarkan memberiku beasiswa dengan syarat mengikuti tes terlebih dahulu. Aku yang tadinya berniat mendaftar dan membayar sendiri biaya kuliah dari sisa tabungan tentu bersuka ria dengan tawaran itu. 

Lalu kuikuti tes psikotes, wawancara serta akademik yang diselenggarakan. Selang beberapa bulan kemudian ternyata aku diumumkan sebagai salah satu yang mendapat Beasiswa Unggulan dari Kementrian Diknas, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. Dan disinilah aku, saat ini sedang berusaha belajar dengan lebih baik.  Aku mendapat beasiswa SPP penuh, beserta living cost dan uang buku.

PART 3b
Belum selesai pendidikan ini kulalui, ternyata datang lagi kesempatan untuk melanjutkan studi dual degree ke salah satu Universitas di Eropa, dengan beasiswa penuh selama setahun. Peluang itu sudah sangat dekat, sudah terasa dalam genggaman, ketika tiba-tiba ada sebuah kebijakan baru dari kedutaan yang menghambat, dan tidak ada yang tau apa yang akan terjadi berikutnya. Tentu aku berdoa mendapatkannya, karena ini kesempatan yang cukup langka. Tetapi di sisi lain, perlu juga untuk dipertimbangkan, benar-benar sejumlah besar uang yang akan diinvestasikan kepada kami ini. Dengan prinsip jual beli, akankah Negara ini merasa untng atau rugi atas uang yang akan terhambur pada kami ini? Bagaimana untuk membalasnya?

Kupikir aku cukup beruntung, mungkin banyak orang lain yang tidak seberuntung ini dalam mendapatkan pendidikan. Tentulah aku harus senantiasa bersyukur.  Hingga saat ini, aku merasa belum ada satu pemberi beasiswapun yang aku bayar. Sewaktu bekerja di Jambi, aku tak mendapat tempat yang tepat untuk bisa membantu membangun Jambi seperti tujuan Yayasan kami yang mulia itu, sempat terpikir menjadi dosen, tetapi mundur teratur oleh pertimbangan karir dan finansial.
Aku belum mendapat akses ke Damandiri untuk setidaknya melapor atau mengucapkan terimakasih atas beasiswa selama lima tahun di kuliah sarjana dulu. Apalagi untuk membantu melanjutkan keberlangsungan beasiswa untuk tahun-tahun berikutnya.
Sekarang sudah harus mendapat beasiswa lagi, yang syukurlah  punya cara untuk membalas dengan mengikuti ikatan dinas di salah satu Departemen. Terkadang aku berpikir, akan seberapa jauh kontribusiku bagi masyarakat sekitar atau Negara ini nantinya. Ataukah aku hanya akan segera bergabung dengan para apatis oportunis yang bakal mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap kesempatan demi kepentingan pribadi.  
Setidaknya ada sebuah prinsip yang kujadikan sandaran, Jika tidak bisa membantu memperbaiki kehidupan pada umumnya atau Negara ini pada khususnya, setidaknya aku harus tidak jadi bagian yang merusaknya.

Sunday, June 19, 2011

cerita lalu

“Dia belum pernah secantik hari ini..”
Itulah yang selalu dikatakan oleh Ipul setiap kali seorang wanita berinisial Sari menghilang dari pandangannya. Lalu Ipul mulai bercerita, tentang perkenalannya dengan wanita itu.  

Alkisah pada suatu hari yang tak terlihat cerah, datanglah seorang anak muda yang tidak bisa dikatakan gagah, bahkan disebut orang pun baru beberapa lama ini dia dapatkan.  Sebutlah namanya Ipul, demikianlah, seorang Ipul pada waktu itu sedang akan menghadap dosen untuk penyelesaian proyek akhir, pada saat mengantri di depan ruangan yang menuju ke dosen yang tidak tersebut namanya di atas, Ipul menjumpai seorang wanita yang katanya, menurut penglihatannya, penuturannya, atau bahkan menurut detak jantungnya yang saat itu menggebu, sebagai wanita cantik jelita. 

Ipul memberanikan diri untuk memulai percakapan yang akan berujung kepada perkenalan. Untuk satu hal ini: mengajak kenalan cewek cantik tak dikenal, bukanlah sebuah kebiasaan baginya, bahkan bukan pula sesuatu yang pernah dilakukan. Terlebih lagi lelaki asli sunda ini pernah mengalami pengalaman dimasa lalunya, yang segera terperangkap ke dalam memori dan meresap ke sanubari dalam wujud sebuah trauma. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, baiknya kita kembali ke masa yang lebih jauh lagi dari masa itu. Masa-masa itu, yang diceritakan Ipul dengan wajah menahan kepedihan. 

Waktu itu Ipul punya pacar, di Bandung. Waktu itu dia sedang bermain ke rumah pacarnya, yang tak perlu juga disebut inisialnya karena hanya akan membangkitkan luka lama di hati Ipul berhubung pacarnya itu sekarang sudah menjadi mantan pacar dari pacar barunya, dalam artian sudah menikah dengan pria lain yang tentu saja lebih ganteng dari hanya sekedar Ipul. Waktu itu, teman-teman pacarnya itu sedang pula berkunjung ke sana. Saat itulah Ipul sedang dijumpai mereka sedang duduk dengan malu-malu, diam dan penuh sopan santun. 

Saat itulah seorang wanita yang paling cantik di kelompoknya itu memulai dialog dengan Ipul.
“Eh, kamu pacarnya ini ya, ga usah sok pendiem gitu deh, mending kalo cakep!”
Entah apa yang dilakukan Ipul setelah mendengar perkataan itu, mungkin saja pergi ke sudut untuk memilin jari telunjuk sambil tertunduk dan terseguk. Entahlah, yang jelas Ipul tidak ikhlas menerima pengalaman tragis itu dan segera menjadi salah satu trauma terbesar dalam hidupnya. Trauma dengan cewe cantik. 

Kembali ke masa sebelum masa kini, dimana Ipul merubah kebiasannya mungkin sedikit banyak disebabkan oleh karena terlalu lama menanggung kepedihan menjadi seorang jomblo, dia mengajak bercakap-cakap seorang wanita inisial Sari di depan sebuah ruangan di jurusan teknik universitas terbaik se Indonesia.
“Eh, kamu mau asistensi juga ya?” Tanya Ipul memulai percakapan
“Ngga, lagi mau wawancara.” Jawab wanita itu, yang ternyata sedang mendaftar kuliah magister, yang menurut Ipul penuh kelembutan dan kebaikan hati.
“Oya, namanya siapa?” Tanya Ipul lagi yang cukup tidak relevan namun segera sampai ke tujuan.
“Sari.” Jawabnya, percakapan terus berlanjut. 

Setelah itu, entah ruh halus manalagi yang merasuki pikiran Ipul, dia penasaran untuk mengatahui nomor telepon wanita itu, namun untuk menanyakan secara langsung dia tidak berani, maka diputarlah akalnya yang tidak seberapa dan lagipula tidak sering dimanfaatkan dengan baik itu. Tentunya Ipul sudah mempertimbangkan untuk memakai kostum ayam seperti Agus di novel Jomblo lebih daripada menggunakan kostum nanas yang mobilitasnya lebih rendah itu. Akhirnya Ipul memutuskan menggunakan kostum mukanya sendiri, entah kostum apa itu, dia datang ke Mbak pengurus jurusan, yang inisialnya masih dalam pemikiran, untuk menanyakan no telepon wanita yang sedang mendaftar itu.
“Mba, ada yang dari kota xxx ngga ya yang ngedaftar, yang tadi wawancara?”
“Ada, emangnya kenapa?”
“Iya, ini bukunya ketinggalan, ada nomer teleponnya ga mba, mo saya balikin.”
“Oh ya? Harusnya sih ada, sebentar saya cari dulu.”
Harusnya sih, sebagai seorang pengurus, mba yang inisialnya masih dalam penelusuran ini, harusnya lebih kritis terhadap niat baik mahasiswa setipe Ipul ini. Pasti ada udang di balik batu, pake mau balikin buku. Mungkin mba itu perlu menginterogasi dengan pertanyaan seperti:

“Oh ya? buku apa yang ketinggalan?”
“Oh ya? Mana bukunya?”
“Oh ya? Tinggalkan saja bukunya disini, nanti saya yang mengembalikan.”
Yang mana tentu saja buku itu adalah barang imajiner, tidak pernah eksis. Akhirnya Ipul sukses mendapat no telepon wanita tokoh utama cerita ini. Singkat cerita, mereka mulai bertukas sms.
“Eh, kamu asalnya darimana?” Tanya wanita itu suatu ketika.
“Dari sunda.” Balas sms Ipul.
“Oh ya? pacarku juga orang sunda.” Jawabnya, dengan sesuatu cara yang menurut Ipul, sebuah penolakan yang sangat elegan, sangat berkelas.
“Oh ya? Darimananya?” Ipul melanjutkan percakapan basa-basi, meski patah hati.
Hingga sampai pada waktu diantara masa itu dengan masa sekarang, setelah dipertemukan di dalam kelas, setiap kali si cantik jelita itu menghilang dari pandangannya, Ipul akan selalu mengatakan kepada penulis.

“Wah, dia tak pernah secantik hari ini.”
Penulis dalam rentang waktu itu hanya sanggup mengiyakan, untuk menghibur hati Ipul. Dalam pandangan penulis, pernyataan itu artinya si wanita cantik jelita dalam pandangan Ipul ini bertambah cantik dari hari kehari dan perlu untuk diteliti berapa intensitas peningkatan kadar kecantikannya perhari, dan hingga sejauh mana peningkatan ini terus terjadi? Dimana titik baliknya?
Untuk menjawab pertanyaan yang sangat ilmiah ini, penulis mulai memperhatikan, apa iya wanita ini secantik jelita yang Ipul maksudkan. Apa iya penuh kelembutan hati yang diceritakan. Apa iya seanggun menawan seperti yang kelihatan. Penulis mengamati secara seksama, wajahnya, senyumnya, tutur katanya, tingkah lakunya, hingga sampailah pada masa kini.

Entah kenapa, sosok wanita itu seperti mulai merasuk ke alam bawah sadar penulis, hingga menjelma beberapa kali dalam mimpi. Tentu saja, ini bukanlah suatu hal yang baik. Sepertinya.. memang.. dia belum pernah secantik hari ini..

Sunday, June 12, 2011

No One Here Gets Out Alive (Biografi Jim Morrison)

Judul Buku: No One Here Gets Out Alive (Biografi Jim Morrison)
Penulis: Jerry Hopkins dan Danny Sugerman

Mungkin nama The Doors tidak terlalu banyak dikenal di tanah air, tertutupi oleh nama Kangen Band, Unju, atau Dygta. Di seantero bumi pun The Doors mungkin masih kalah popular dibandingkan musisi seangkatannya The Beatles, Rollingstones, Led Zeppelin, dsb. Meski demikian, The Doors dan Jim Morrison adalah legenda rock n roll terbaik yang pernah ada. Inilah buku yang telah lama ditunggu oleh para penikmat musik The Doors di tanah air, terutama para penggemar Jim Morrison. Buku setebal 498 halaman yang menggambarkan kehidupan Jim Morrison yang ditulis berdasarkan investigasi yang mendalam. Buku ini sudah diterbitkan sejak tahun 1980 di Amerika dan baru diterbitkan edisi terjemahannya di Indonesia sejak April 2010.

James Douglas Morrison, yang dikenal panggilan Jim, dilahirkan pada tanggal 8 Desember 1943 di Florida USA. Jim memiliki ayah seorang perwira angkatan laut yang sering bepergian, kehidupan masa kecilnya dilalui dengan sering berpindah-pindah. Jim memiliki kecerdasan tinggi, IQ nya 149 dan nilainya di sekolah melebihi rata-rata dengan usaha minimal. Buku-bukunya yang dibaca sewaktu SMA mengungkapkan banyak tentang minat pemikirannya, dia melahap Frederich Nietsche, filsuf puitis jerman yang pandangannya tentang estetika, moral, dan dualitas Apollonian-Dionysian selalu muncul dalam pembicaraan, puisi dan lagunya. Dia jatuh cita pada Alexander Agung, membaca Arthur Rimbaud, William Blake, dan berbagai penulis lain. Jim bisa memahami secara intuitif apa-apa yang diberikan oleh karya-karya yang sulit dipahami ini.

Jim lalu melanjutkan kuliah di Florida State University, lalu pindah ke UCLA California dan menamatkan diplomanya pada jurusan cinematografi. Lalu pada Tahun 1965 dia membentuk band bersama Ray Manzarek, dinamakan The doors, nama yang diambil dari judul buku Aldous Huxley yang dimulai dengan kutipan dari penyair William Blake, "If the doors of perception were cleansed everything would appear to man as it is, infinite."

Pada 1967 The Doors, merilis album perdana yang mempopulerkan Light My Fire hingga ke seluruh amerika dan tak lama kemudian menduduki puncak tangga lagu. The Doors memulai konsernya dengan tampil di Club kecil dan meraih popularitas dengan cepat. Beberapa lagu mereka yang panjang, seperti When the Music is Over, lagu yang berlangsung selama sebelas menit, ditampilkan di panggung dengan menggabungkan unsur teatrikal dan musical. Teriakan Jim yang tiba-tiba, serta puisi-puisinya yang mengisi jeda, Ray yang menyelipkan not-not organ yang menusuk, dengan Robbie Krieger yang melengkingkan jeritan gitar dengan irama blues dilengkapi dengan Jhon Densmore yang mengisi hentakan drum dengan metronomic. Semua menyatu dalam pertunjukan yang membuat penonton hanya bisa duduk terpaku, terdiam dan terpesona.

Mereka segera dikenal luas dengan jadwal konser di seantero Amerika ditambah tour ke Eropa. Jim yang kecanduan alcohol dan obat-obatan terlarang selalu memprofokasi para penontonnya, untuk membuktikan teorinya tentang psikologi massa, bahwa massa memiliki neorosis seksual sebagaimana individu, dan gangguan ini bisa didiagnosa dan disembuhkan dengan cepat dan efektif. Sekumpulan manusia sebagai satu kesatuan untuk dikendalikan.

Orang-orang memahami yang bisa mereka dapat dari konser The Doors adalah kerusuhan dan transenden. Selalu terjadi kerusuhan, penonton menyerbu ke panggung yang dijaga oleh polisi hingga terjadi bentrokan. Jim menganggap perilakunya yang memacu hal tersebut sebagai memberikan kesempatan bagi para remaja untuk bersikap kritis terhadap pihak otoritas.

Pada awalnya Jim dan Ray menciptakan The Doors sebagai sebuah karya yang cerdas, perpaduan antara teater, puisi serta musik yang eksploratif dan dimainkan dengan sungguh-sungguh. Konsep ini dimatanya semakin tenggelam di tengah audiens yang sebagian besar hanya tertarik pada sisi sensasionalitasnya. Jim makin menyadari bahwa lirik dan musiknya tidak diperhatikan, ia juga semakin lelah dengan tingginya ekspektasi penonton, dan frustasinya semakin meledak di dalam maupun diluar panggung. Hal ini lalu dimanifestasikan dengan menghina penggemarnya, untuk menolak citra dirinya sebagai sosok gila yang menuntun pada kesesatan.

Jika bukan seorang penggemar musik The Doors, buku ini termasuk buku sulit, disamping terjemahannya yang tidak begitu baik, juga karena sulit untuk mengungkapkan kepribadian Jim yang penuh kompleksitas, disatu sisi dia adalah seorang penyair yang jenius dan disisi lain pengaruh alkohol membuatnya menjadi seorang liar yang tidak megenal aturan, yang tertarik hanya pada chaos and disorder, bahkan terkadang dalam penampilannya dia merasa dirasuki oleh seorang Shaman, dukun suku Indian.  Terlepas dari semua kontroversi dan kelakuan buruk Jim Morrison, musik yang dihasilkan The Doors adalah karya yang kaya akan eksplorasi, special dan tak lekang oleh zaman.

Boleh dikatakan buku ini sejenis atau sangat mirip dengan Heavier than Heaven, biografi Kurt Cobain vokalis dan pencipta sebagian besar lagu-lagu Nirvana. Sebuah perasaan yang kita dapat ketika mendekati bagian akhir dari kedua buku ini adalah perasaan mencekam, penasaran tentang bagaimana mereka mengakhiri hidupnya. Seperti halnya Kurt Cobain, umur Jim berhenti pada usia 27 tahun, dan menjadi legenda. Berbagai spekulasi merebak tentang kematian Jim di Paris pada 3 Juli 1971, disebabkan oleh gagal jantung, overdosis heroin, kebanyakan obat tidur, bahkan ada yang menganggap bahwa Jim memalsukan kematiannya.

Setelah Jim tiada, musiknya masih terus didengarkan, jumlah penggemar setiap tahun terus bertambah di seluruh penjuru dunia. The Doors masih memproduksi beberapa album lagi dan pada Tahun 1991 kisah tentang The Doors diangkat menjadi film oleh Oliver Stone, dengan Jim Morrison diperankan oleh Val Kilmer dan pacarnya Pamela diperankan oleh Meg Ryan. Pada Tahun 2009 sebuah film dokumenter tentang The Doors yang berjudul When You’re Strange dibuat, Jhonny Depp sebagai narrator ysng menceritakan dan membacakan puisi Jim Morrison. Bisa disimpulkan bahwa kehidupan Jim sesuai dengan ekspektasinya yang terangkum dalam kumpulan puisi an American Prayer dengan judulnya The Movie.

The movie will begin in five moments
The mindless voice announced
All those unseated will await the next show.
We filed slowly, languidly into the hall
The auditorium was vast and silent
 As we seated and were darkened, the voice continued.
The program for this evening is not new
You've seen this entertainment through and through
You've seen your birth your life and death
you might recall all of the rest
Did you have a good world when you died?
Enough to base a movie on?