Sunday, June 19, 2011

cerita lalu

“Dia belum pernah secantik hari ini..”
Itulah yang selalu dikatakan oleh Ipul setiap kali seorang wanita berinisial Sari menghilang dari pandangannya. Lalu Ipul mulai bercerita, tentang perkenalannya dengan wanita itu.  

Alkisah pada suatu hari yang tak terlihat cerah, datanglah seorang anak muda yang tidak bisa dikatakan gagah, bahkan disebut orang pun baru beberapa lama ini dia dapatkan.  Sebutlah namanya Ipul, demikianlah, seorang Ipul pada waktu itu sedang akan menghadap dosen untuk penyelesaian proyek akhir, pada saat mengantri di depan ruangan yang menuju ke dosen yang tidak tersebut namanya di atas, Ipul menjumpai seorang wanita yang katanya, menurut penglihatannya, penuturannya, atau bahkan menurut detak jantungnya yang saat itu menggebu, sebagai wanita cantik jelita. 

Ipul memberanikan diri untuk memulai percakapan yang akan berujung kepada perkenalan. Untuk satu hal ini: mengajak kenalan cewek cantik tak dikenal, bukanlah sebuah kebiasaan baginya, bahkan bukan pula sesuatu yang pernah dilakukan. Terlebih lagi lelaki asli sunda ini pernah mengalami pengalaman dimasa lalunya, yang segera terperangkap ke dalam memori dan meresap ke sanubari dalam wujud sebuah trauma. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, baiknya kita kembali ke masa yang lebih jauh lagi dari masa itu. Masa-masa itu, yang diceritakan Ipul dengan wajah menahan kepedihan. 

Waktu itu Ipul punya pacar, di Bandung. Waktu itu dia sedang bermain ke rumah pacarnya, yang tak perlu juga disebut inisialnya karena hanya akan membangkitkan luka lama di hati Ipul berhubung pacarnya itu sekarang sudah menjadi mantan pacar dari pacar barunya, dalam artian sudah menikah dengan pria lain yang tentu saja lebih ganteng dari hanya sekedar Ipul. Waktu itu, teman-teman pacarnya itu sedang pula berkunjung ke sana. Saat itulah Ipul sedang dijumpai mereka sedang duduk dengan malu-malu, diam dan penuh sopan santun. 

Saat itulah seorang wanita yang paling cantik di kelompoknya itu memulai dialog dengan Ipul.
“Eh, kamu pacarnya ini ya, ga usah sok pendiem gitu deh, mending kalo cakep!”
Entah apa yang dilakukan Ipul setelah mendengar perkataan itu, mungkin saja pergi ke sudut untuk memilin jari telunjuk sambil tertunduk dan terseguk. Entahlah, yang jelas Ipul tidak ikhlas menerima pengalaman tragis itu dan segera menjadi salah satu trauma terbesar dalam hidupnya. Trauma dengan cewe cantik. 

Kembali ke masa sebelum masa kini, dimana Ipul merubah kebiasannya mungkin sedikit banyak disebabkan oleh karena terlalu lama menanggung kepedihan menjadi seorang jomblo, dia mengajak bercakap-cakap seorang wanita inisial Sari di depan sebuah ruangan di jurusan teknik universitas terbaik se Indonesia.
“Eh, kamu mau asistensi juga ya?” Tanya Ipul memulai percakapan
“Ngga, lagi mau wawancara.” Jawab wanita itu, yang ternyata sedang mendaftar kuliah magister, yang menurut Ipul penuh kelembutan dan kebaikan hati.
“Oya, namanya siapa?” Tanya Ipul lagi yang cukup tidak relevan namun segera sampai ke tujuan.
“Sari.” Jawabnya, percakapan terus berlanjut. 

Setelah itu, entah ruh halus manalagi yang merasuki pikiran Ipul, dia penasaran untuk mengatahui nomor telepon wanita itu, namun untuk menanyakan secara langsung dia tidak berani, maka diputarlah akalnya yang tidak seberapa dan lagipula tidak sering dimanfaatkan dengan baik itu. Tentunya Ipul sudah mempertimbangkan untuk memakai kostum ayam seperti Agus di novel Jomblo lebih daripada menggunakan kostum nanas yang mobilitasnya lebih rendah itu. Akhirnya Ipul memutuskan menggunakan kostum mukanya sendiri, entah kostum apa itu, dia datang ke Mbak pengurus jurusan, yang inisialnya masih dalam pemikiran, untuk menanyakan no telepon wanita yang sedang mendaftar itu.
“Mba, ada yang dari kota xxx ngga ya yang ngedaftar, yang tadi wawancara?”
“Ada, emangnya kenapa?”
“Iya, ini bukunya ketinggalan, ada nomer teleponnya ga mba, mo saya balikin.”
“Oh ya? Harusnya sih ada, sebentar saya cari dulu.”
Harusnya sih, sebagai seorang pengurus, mba yang inisialnya masih dalam penelusuran ini, harusnya lebih kritis terhadap niat baik mahasiswa setipe Ipul ini. Pasti ada udang di balik batu, pake mau balikin buku. Mungkin mba itu perlu menginterogasi dengan pertanyaan seperti:

“Oh ya? buku apa yang ketinggalan?”
“Oh ya? Mana bukunya?”
“Oh ya? Tinggalkan saja bukunya disini, nanti saya yang mengembalikan.”
Yang mana tentu saja buku itu adalah barang imajiner, tidak pernah eksis. Akhirnya Ipul sukses mendapat no telepon wanita tokoh utama cerita ini. Singkat cerita, mereka mulai bertukas sms.
“Eh, kamu asalnya darimana?” Tanya wanita itu suatu ketika.
“Dari sunda.” Balas sms Ipul.
“Oh ya? pacarku juga orang sunda.” Jawabnya, dengan sesuatu cara yang menurut Ipul, sebuah penolakan yang sangat elegan, sangat berkelas.
“Oh ya? Darimananya?” Ipul melanjutkan percakapan basa-basi, meski patah hati.
Hingga sampai pada waktu diantara masa itu dengan masa sekarang, setelah dipertemukan di dalam kelas, setiap kali si cantik jelita itu menghilang dari pandangannya, Ipul akan selalu mengatakan kepada penulis.

“Wah, dia tak pernah secantik hari ini.”
Penulis dalam rentang waktu itu hanya sanggup mengiyakan, untuk menghibur hati Ipul. Dalam pandangan penulis, pernyataan itu artinya si wanita cantik jelita dalam pandangan Ipul ini bertambah cantik dari hari kehari dan perlu untuk diteliti berapa intensitas peningkatan kadar kecantikannya perhari, dan hingga sejauh mana peningkatan ini terus terjadi? Dimana titik baliknya?
Untuk menjawab pertanyaan yang sangat ilmiah ini, penulis mulai memperhatikan, apa iya wanita ini secantik jelita yang Ipul maksudkan. Apa iya penuh kelembutan hati yang diceritakan. Apa iya seanggun menawan seperti yang kelihatan. Penulis mengamati secara seksama, wajahnya, senyumnya, tutur katanya, tingkah lakunya, hingga sampailah pada masa kini.

Entah kenapa, sosok wanita itu seperti mulai merasuk ke alam bawah sadar penulis, hingga menjelma beberapa kali dalam mimpi. Tentu saja, ini bukanlah suatu hal yang baik. Sepertinya.. memang.. dia belum pernah secantik hari ini..

Sunday, June 12, 2011

No One Here Gets Out Alive (Biografi Jim Morrison)

Judul Buku: No One Here Gets Out Alive (Biografi Jim Morrison)
Penulis: Jerry Hopkins dan Danny Sugerman

Mungkin nama The Doors tidak terlalu banyak dikenal di tanah air, tertutupi oleh nama Kangen Band, Unju, atau Dygta. Di seantero bumi pun The Doors mungkin masih kalah popular dibandingkan musisi seangkatannya The Beatles, Rollingstones, Led Zeppelin, dsb. Meski demikian, The Doors dan Jim Morrison adalah legenda rock n roll terbaik yang pernah ada. Inilah buku yang telah lama ditunggu oleh para penikmat musik The Doors di tanah air, terutama para penggemar Jim Morrison. Buku setebal 498 halaman yang menggambarkan kehidupan Jim Morrison yang ditulis berdasarkan investigasi yang mendalam. Buku ini sudah diterbitkan sejak tahun 1980 di Amerika dan baru diterbitkan edisi terjemahannya di Indonesia sejak April 2010.

James Douglas Morrison, yang dikenal panggilan Jim, dilahirkan pada tanggal 8 Desember 1943 di Florida USA. Jim memiliki ayah seorang perwira angkatan laut yang sering bepergian, kehidupan masa kecilnya dilalui dengan sering berpindah-pindah. Jim memiliki kecerdasan tinggi, IQ nya 149 dan nilainya di sekolah melebihi rata-rata dengan usaha minimal. Buku-bukunya yang dibaca sewaktu SMA mengungkapkan banyak tentang minat pemikirannya, dia melahap Frederich Nietsche, filsuf puitis jerman yang pandangannya tentang estetika, moral, dan dualitas Apollonian-Dionysian selalu muncul dalam pembicaraan, puisi dan lagunya. Dia jatuh cita pada Alexander Agung, membaca Arthur Rimbaud, William Blake, dan berbagai penulis lain. Jim bisa memahami secara intuitif apa-apa yang diberikan oleh karya-karya yang sulit dipahami ini.

Jim lalu melanjutkan kuliah di Florida State University, lalu pindah ke UCLA California dan menamatkan diplomanya pada jurusan cinematografi. Lalu pada Tahun 1965 dia membentuk band bersama Ray Manzarek, dinamakan The doors, nama yang diambil dari judul buku Aldous Huxley yang dimulai dengan kutipan dari penyair William Blake, "If the doors of perception were cleansed everything would appear to man as it is, infinite."

Pada 1967 The Doors, merilis album perdana yang mempopulerkan Light My Fire hingga ke seluruh amerika dan tak lama kemudian menduduki puncak tangga lagu. The Doors memulai konsernya dengan tampil di Club kecil dan meraih popularitas dengan cepat. Beberapa lagu mereka yang panjang, seperti When the Music is Over, lagu yang berlangsung selama sebelas menit, ditampilkan di panggung dengan menggabungkan unsur teatrikal dan musical. Teriakan Jim yang tiba-tiba, serta puisi-puisinya yang mengisi jeda, Ray yang menyelipkan not-not organ yang menusuk, dengan Robbie Krieger yang melengkingkan jeritan gitar dengan irama blues dilengkapi dengan Jhon Densmore yang mengisi hentakan drum dengan metronomic. Semua menyatu dalam pertunjukan yang membuat penonton hanya bisa duduk terpaku, terdiam dan terpesona.

Mereka segera dikenal luas dengan jadwal konser di seantero Amerika ditambah tour ke Eropa. Jim yang kecanduan alcohol dan obat-obatan terlarang selalu memprofokasi para penontonnya, untuk membuktikan teorinya tentang psikologi massa, bahwa massa memiliki neorosis seksual sebagaimana individu, dan gangguan ini bisa didiagnosa dan disembuhkan dengan cepat dan efektif. Sekumpulan manusia sebagai satu kesatuan untuk dikendalikan.

Orang-orang memahami yang bisa mereka dapat dari konser The Doors adalah kerusuhan dan transenden. Selalu terjadi kerusuhan, penonton menyerbu ke panggung yang dijaga oleh polisi hingga terjadi bentrokan. Jim menganggap perilakunya yang memacu hal tersebut sebagai memberikan kesempatan bagi para remaja untuk bersikap kritis terhadap pihak otoritas.

Pada awalnya Jim dan Ray menciptakan The Doors sebagai sebuah karya yang cerdas, perpaduan antara teater, puisi serta musik yang eksploratif dan dimainkan dengan sungguh-sungguh. Konsep ini dimatanya semakin tenggelam di tengah audiens yang sebagian besar hanya tertarik pada sisi sensasionalitasnya. Jim makin menyadari bahwa lirik dan musiknya tidak diperhatikan, ia juga semakin lelah dengan tingginya ekspektasi penonton, dan frustasinya semakin meledak di dalam maupun diluar panggung. Hal ini lalu dimanifestasikan dengan menghina penggemarnya, untuk menolak citra dirinya sebagai sosok gila yang menuntun pada kesesatan.

Jika bukan seorang penggemar musik The Doors, buku ini termasuk buku sulit, disamping terjemahannya yang tidak begitu baik, juga karena sulit untuk mengungkapkan kepribadian Jim yang penuh kompleksitas, disatu sisi dia adalah seorang penyair yang jenius dan disisi lain pengaruh alkohol membuatnya menjadi seorang liar yang tidak megenal aturan, yang tertarik hanya pada chaos and disorder, bahkan terkadang dalam penampilannya dia merasa dirasuki oleh seorang Shaman, dukun suku Indian.  Terlepas dari semua kontroversi dan kelakuan buruk Jim Morrison, musik yang dihasilkan The Doors adalah karya yang kaya akan eksplorasi, special dan tak lekang oleh zaman.

Boleh dikatakan buku ini sejenis atau sangat mirip dengan Heavier than Heaven, biografi Kurt Cobain vokalis dan pencipta sebagian besar lagu-lagu Nirvana. Sebuah perasaan yang kita dapat ketika mendekati bagian akhir dari kedua buku ini adalah perasaan mencekam, penasaran tentang bagaimana mereka mengakhiri hidupnya. Seperti halnya Kurt Cobain, umur Jim berhenti pada usia 27 tahun, dan menjadi legenda. Berbagai spekulasi merebak tentang kematian Jim di Paris pada 3 Juli 1971, disebabkan oleh gagal jantung, overdosis heroin, kebanyakan obat tidur, bahkan ada yang menganggap bahwa Jim memalsukan kematiannya.

Setelah Jim tiada, musiknya masih terus didengarkan, jumlah penggemar setiap tahun terus bertambah di seluruh penjuru dunia. The Doors masih memproduksi beberapa album lagi dan pada Tahun 1991 kisah tentang The Doors diangkat menjadi film oleh Oliver Stone, dengan Jim Morrison diperankan oleh Val Kilmer dan pacarnya Pamela diperankan oleh Meg Ryan. Pada Tahun 2009 sebuah film dokumenter tentang The Doors yang berjudul When You’re Strange dibuat, Jhonny Depp sebagai narrator ysng menceritakan dan membacakan puisi Jim Morrison. Bisa disimpulkan bahwa kehidupan Jim sesuai dengan ekspektasinya yang terangkum dalam kumpulan puisi an American Prayer dengan judulnya The Movie.

The movie will begin in five moments
The mindless voice announced
All those unseated will await the next show.
We filed slowly, languidly into the hall
The auditorium was vast and silent
 As we seated and were darkened, the voice continued.
The program for this evening is not new
You've seen this entertainment through and through
You've seen your birth your life and death
you might recall all of the rest
Did you have a good world when you died?
Enough to base a movie on?

Tuesday, May 24, 2011

Jeff the Atheist

Sebuah percakapan dengan seorang asing sepanjang Bandara Soeta sampai Gambir beberapa waktu lalu membuatku berpikir kembali tentang keberadaan islam di negeri ini. Orang itu kuketahui kemudian bernama Jeff, seorang pria usia sekitar empat puluh yang katanya berasal dari Canada. Dia tidak bisa bahasa Indonesia, sehingga dengan bahasa inggris yang seadanya aku menanggapi berbagai pertanyaanya tentang islam.

Dia berpenampilan resmi, duduk disebelahku dengan kemeja rapi ke dalam celana bahan dan bersepatu kulit. Saat dia itu sedang membaca sebuah buku dari tablet PC nya, sebuah buku filsafat entah apa, yang menjadi awal percakapan kami ketika kutanyakan buku apa yang sedang dibacanya. Kukatakan bahwa aku juga suka membaca buku, beberapa buku filsafat juga kubaca saat waktu senggang. Dia terlihat sedikit terkejut, katanya orang Indonesia tidak suka membaca, dilanjutkan dengan orang Indonesia tidak suka mengajukan pertanyaan. Kukatakan bahwa beberapa orang Indonesia suka membaca dan beberapa mengajukan pertanyaan. Lalu dia menanyakan adakah filsuf yang berasal dari Indonesia, kukatakan bahwa beberapa yang kuketahui mendasarkan filsafatnya pada islam. Dari situlah bermulanya perdebatan kami mengenai islam.

Dia menunjukkan ekspresi heran ketika kukatakan bahwa aku beragama islam. Kenapa? Tanyanya, dia mengatakan bahwa kebanyakan orang Indonesia beragama islam karena orangtuanya islam, itu tidak adil. Kukatakan bahwa pada awalnya memang kami memeluk islam karena keturunan, lalu kami mulai mencari, dan mempelajari agama kami, dan mulai memberi makna pada keberagamaan kami. Kukatakan bahwa aku juga sudah mempelajari agama lain, aku membaca perjanjian lama, perjanjian baru, injil barnabas, juga cerita tentang Budha.

Ketika dia bertanya apakah aku membaca Quran, kata demi kata, kujawab bahwa tentu aku membacanya, secara bertahap. Lalu dia memintaku  untuk memberitahu jika memang ada ajaran moral dalam Quran? Ku kutip salah satunya, bahwa Al Quran menganjurkan untuk menyayangi anak yatim, dan memberi makan orang miskin, seperti dalam surat Al Ma’un. Lalu dia membantah bahwa tanpa membaca Quran dia sudah mengatahui bahwa tidak baik untuk mengambil harta anak yatim, itu ukuran moral yang sudah disepakati banyak orang. Lalu dia mulai mengutip beberapa ayat, yang menurutnya berarti bahwa orang islam dianjurkan untuk membunuh orang yang berbeda keyakinan. Dia mengatakan bahwa agama merupakan salah satu penyebab kehancuran peradaban. Dia mengutip terjadinya pembunuhan terhadap Jemaah Ahmadiyah oleh sekelompok massa baru-baru ini, yang pelakunya tidak diadili.

Permasalah ini membuatku cukup bingung untuk menjawab, karena itu adalah massa yang marah disebabkan oleh sekelompok orang yang dianggap melanggar aqidah, dan mungkin penyebabnya lebih kompleks dari itu. Kukatakan bahwa aku tak akan membunuhnya karena dia berbeda keyakinan. Kukatakan bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang benar terhadap ayat Quran harus dengan cara yang benar, sesuai dengan latar belakang turunnya dengan membedakan makna yang tersirat dan tersurat.

Dia menanyakan, jika dia mengatakan bahwa dia mendengar suara-suara dari Tuhan, dan mengatakan bahwa dia adalah seorang nabi, akankah aku percaya? Kubilang bahwa aku tak mengenalnya, dan tentu tak akan percaya. Dia lalu mempertanyakan berbagai peristiwa yang dipercayai umat muslim, seperti tidak mungkin bahwa bulan pernah terbelah. Hanya sedikit pengetahuanku tentang itu, sehingga kukatakan bahwa, hanya karena belum ada pembuktian menganainya, bukan berarti hal tersebut tidak pernah  terjadi.

Kutanyakan padanya, dalam keberagaman cara pandang dan berpikir manusia, tidakkah dia membutuhkan sesuatu yang benar-benar bisa dipercaya, sesuatu yang mengandung kebernaran universal? Ajaran moral yang universal seperti dalam agama? Dia mengatakan bahwa dia hanya mempercayai apa-apa yang dirasakan oleh indra, logika, dan dibuktikan oleh science. Kutanyakan padanya, apakah dia percaya cinta? Tidakkah dia merasakannya tanpa harus melihatnya? Dia mengatakan bahwa cinta tidak eksis, bahwa itu hanyalah salah satu bagian dari syaraf.

Dia mengatakan bahwa islam tidak mendukung ilmu pengetahuan, hal itu ditunjukkan dengan tingkat illiteracy di Indonesia yang sangat tinggi, perempuan di Iran yang tidak bisa sekolah, dibandingkan dengan di Norwegia yang 98 persen penduduknya mendapat kesenangan dari membaca. Dia juga mengatakan bahwa islam memilih antara fakta sejarah yang diajarkan dan disembunyikan, dia menyinggung teori evolusi Darwin yang disanggah secara tidak tepat atas nama agama, dia menyinggung Averos, membandingkan dengan Socrates dan sebagainya.

Dia lalu menunjuk, lihatlah orang-orang miskin yang dipinggir jalan itu, dan tanyakan apa agamanya. Juga Gayus tambunan, tanyakan apa agamanya. Dilanjutkan dengan mengemukakan bahwa agama tidak membawa kebaikan bagi kehidupan, justru membawa kehancuran dan menghambat ilmu pengetahuan. Aku hanya bisa terdiam, kukatakan bahwa tidak adil membandingkan antara Indonesia yang pada saat di Eropa sudah memulai revolusi industry, Indonesia masih terpecah belah merangkak berjuang dari penjajahan, lantas menyalahkan islam atas itu semua. Kupikir islam bukanlah orang-orang yang ditunjuk itu, atau negara Indonesia, atau negara-negara Arab itu.

Setelah percakapan panjang yang tidak memiliki titik temu itu, sampailah kami di Gambir, dia menganjurkanku untuk membaca sebuah buku berjudul “Why I’m not muslim?” karangan Ibn Warraq. Kukatakan bahwa aku akan mencobanya dan menyarankannya untuk melihat islam dengan lebih baik, dia harus melepas kacamatanya itu. Harus mulai melihat dari sumber-sumber yang bukan hanya berasal dari barat, karena mungkin sejarah agama dan kekuasaan di barat tidak begitu baik, dan orang yang menulis apa-apa yang dibaca orang barat bisa jadi terlalu menggunakan sudut pandang yang mendiskreditkan islam. Dia bahkan belum membaca satupun buku yang ditulis Karen Amstrong.

Nice to meet you.” katanya. Aku turun dari Bus dengan menyisakan banyak pertanyaan dan beban pikiran. Ini bukan pertama kalinya aku berdialog mengenai topic ini dengan orang barat, tapi kali ini aku merasa tidak terlalu berhasil membela agama ini, karena keterbatasan penguasaan bahasa, keterbatasan pengetahuan, karena keadaan beragamaku yang belum baik, serta keterbatasan kondisi dimana memang beberapa hal yang dijadikan acuan adalah hal-hal yang di permukaan terlihat benar.

Lihatlah kondisi di negeri ini sekarang, dengan mayoritas warganegaranya muslim ternyata tingkat korupsinya juga mayoritas. Ditambah dengan pergeseran nilai belakangan ini, dimana kelompok pengajian tertentu malah identik teroris. Orang-orang yang memandang dengan kacamata barat yang skeptis, tentu sulit untuk memahami bahwa agama islam adalah rahmat bagi seluruh alam, karena ciri-ciri yang muncul dipermukaan belum menggambarkan itu semua. Jika kita melihat sebuah rumah yang dari halamannya saja terlihat berantakan bukankah akan berasumsi bahwa bagian dalam akan tidak kalah berantakan. Bukankah kaum muslim di negeri ini perlu meninjau kembali identitasnya sebagai muslim?

Friday, April 01, 2011

Jogja Post: headline News

A candidate for an expertise of transport system arrested for a while by the police due to traffic light violation, as reported by our correspondent today. This man, initial WTA together with his partner initial RRS, were on their way to the location of road safety audit survey. WTA planned to provide a traffic light as a solution to the potency of accident in an unsignalized intersection, while in the middle of the journey he was trapped by a sempritan of the policeman on the roadside.

A young officer with initial ASS, sat in his office comfortably, while he tried his whistle “Priit Priiit” unintentionally along with waving his hand just like an old friend intended for a free lunch. The unfortunate rider, which was riding his motorcycle with the speed around 20mph didn’t realize that he should stop on the red light for this T intersection, because some vehicles before him just keep on moving with such confidence, no vehicle seems to proceed from the right arm of the intersection.

WTA stopped the motorcycle on the left side of the road, despite the fact that he couldn’t run away because he couldn’t exceed maximum speed 20 mph, he done that for safety reason. The ASS came and said “Good day Sir,” as a standard operational procedure (SOP) before the execution process. He brought WTA to the office politely, after bla bla and other platitude explanation said whether WTA had to paid 100 thousand rupiah in his office or in the court. His expression, as reported by RRS lately, was like someone who acted such an honest man but not as successful as Inspector Vijay from the Indian movie, but his face and temperament really show that he was a liar. If WTA paid the fine it would ended up in ASS pocket and not in the state account.

WTA had an idea on his mind actually, while the ASS asked for a SIM he would said “I’m sorry sir, I don’t have a SIM, but I have this SIM SALABIN,” with a five thousand rupiahs from his pocket. But again, from the safety consideration and the bitter fact that he was not married yet, he didn’t do that. It’s for his own-shake. Finally after meaningless argument and such poor student expression, a compromise made by the senior officer  initial HOLE, and he paid 40 thousand rupiah. He should only postpone the desire to buy a new book because of this contingency expenditure and off course he reconsiders the solution to provide traffic light solution to his unsignalized intersection.

Saturday, March 26, 2011

something to write

This month’s almost ends. My intention to post something in this blog at least once a month makes me think, what should I write for this month? I don’t have any interesting stories to tell, I don’t have time actually to write stories, too much books to read, too much assignment to do, with so little time I have.

Early in this month, I got my grade for the first semester. Perfect grade actually, I got A for every subject. Which I thought it’s only possibly to happened once each hundreds of years. Since my first year in my previous college and even in my schools, my grades always under my father’s concern. So when I got this perfect grade, the only one that I thought was my father. How he’d react if I gave him this piece of paper. I remember his expression, I made him proud because I was the best in junior high school. Then I also made him disappointed while I couldn’t keep the value for the next term, I remember his face, his expression. I remember saw him sit on the chair and open my raport. I remember, my motivation since that day, only to made my father proud of me. Although I couldn’t see him again, still I take my time to think of him every day, then i pray for him, which I thought will make him happy for having a son like me.

Oh my, why do I write something grievous like this? I better write something delightful. Okay, I have one. I never thought that i will have any interest to transportation. If only I found it’s interesting, I’d have taken this major in my bachelor degree. Here I’m, now attracted by transport system and love to read many books about it, maybe due to its relationship to the society. Through the transportation we can help people improve their welfare, we understand what’s behind their behavior, and we can get more comprehensive understanding about the civilization. Don’t you know that Ahmadinejad, who’s now a president in Iran, has doctoral degree in transport system? Another delightful story is: I have this little probability to continue study somewhere in Europe or Australia within this year. I hope it will come true.

There it is. I finally write something this month.

Friday, February 04, 2011

pursuit of happiness

Everyone has the right for happiness, every single one. The happiness might depend on something, someone, or anything. The biggest mistake someone can create is laying the major factor of happiness in someone else. There are sort of people who get their happiness by loving someone. Such as the man, who has the feeling of being happy by loving a woman, by staring her smile, by hearing her voice, by seeing her coming, by feeling her inside heart.

Until one bitter day came, when she left him for the second time. He had completed one last year, one year of solitude, one year of faithful while she betrayed him. He has been waiting for so long through the sorrow, until she finally come back to him, and said that she felt sorry about it. And now, she leaves him again, with the same reason she left before. She was afraid of being left by him, and therefore she leaves. It happened twice, while he didn’t do anything wrong as an intention to leave her.

Now, he’ll have to consider whether he has to wait for the same one through unlimited time, with no such probability that she’ll come back again, with the same uncertainty that she will possibly leave again. He just too much in love with her and can’t help falling out of love.

Someone who feels the great loss will try so hard to survive. During the bad times, he will pursue the happiness into small things around the world. He maybe find that by traveling, by the way birds singing, by the way music playing, by a scratch of painting, by the strange book he’s reading, by the way people laughing, by prayer beads circling, by all the small things. He tries to keep his concentration to all of beautiful things in daily life, to distract him from miserable feeling. It’s not good to be depressed, someone should being happy to celebrate the existence of human being. When he believes in something, the true test of his faith is during the bad times, not during the good one. Even after the darkest night, the brightest morning will come. That’s things he believes.

Maybe one day, while he have accomplished the test. He would realize that love doesn’t exist, there’s no such thing as love, that it’s just magical comfort food for the weak and uneducated person or just misguided feelings and emotions. If someone asked what make him think so, he’d probably said it’s from the girl he’s going to marry, but then she smartened up while he stays as dumb as before.