Sunday, April 29, 2007

Introduction to a Friend Named Sahrial

Sebuah permintaan dari seorang teman,
"Tolong kirimin dong apa yang lo inget dari gw waktu kuliah dulu?"

Dan berikut ini uraiannya,
Gw ga tau kapan pertama kali ketemu ini makhluk. Yang jelas sedari pertama mulai kuliah dan sekelas dengan Rahima indria hanifa dengan bonus sofyan, uun, dan febi febiola, tentu saja mengenal makhluk ini adalah opsi yang terakhir dari semua opsi atau tidak masuk dalam opsi sama sekali. Ya, keberadaannya waktu itu ibarat debu, seperti juga dia ibarat debu bagi wanita-wanita cantik yang sudah punya pacar tampan dan kaya.

Pada suatu hari semasa TPB, pernah ada yang nanya ke gw, ketua angkatan PN 2001.
"Sipil 2001 ya, kenal sahrial ga? Cacat tuh anaknya"
"Sahrial mana? Kayanya si kenal."

Maka gw mulai mengamati, sebagai satu angkatan, akhirnya gw terpaksa harus kenal, atau setidaknya tau. Ternyata makhluk ini yang dimaksud, gw liat punya komunitas sendiri, mungkin genk kelas, dan kayanya kerjaanya merokok terus. Dengan tambahan, rokok yang dihisap sepertinya melulu hasil tebengan saat seorang dua anak selesai Ospek mengeluarkan sebungkus rokok.

Demikianlah, akhirnya dua semester pertama berlalu dengan sukacita mengingat kegiatan ospek hampir berakhir. Kita memasuki acara akhir. Makhluk bernama sahrial ini cukup terkenal karena kejadian yang menyebabkan dia dijuluki KUTABOK (Kuya Takut Boker). Dan image itu masih melekat diantara anak-anak seangkatan hingga saat ini.

Kemudian saat kita di himpunan mahasiswa terbaik se Indonesia raya, gw tetap belum begitu kenal sama makhluk ini. Gw kebanyakan nongkrong di HMS dan makhluk ini adalah tipe-tipe ke himpunan kalau ada keperluan. Misalnya, ngopy master ujian beton, ngutang indomie mang godek, atau ditunjuk jadi koordinator plakat setelah menolak dengan keras, dsb.

Meski demikian, karena kita sesama nim genap, maka interaksi di kelas yang dikelompokkan genap ganjil tak bisa di hindari. Dan itu adalah musibah! Berhubung dia berisik dan pemalas, kuliah beton dan astruk kita sering duduk sama-sama, akhirnya banyakan ngobrol ke utara dan selatan daripada mendengarkan ocehan bu dosen soal bondan yang kekar dan mirip beckam.

Seingat gw waktu itu, yang ga siap buat ujian beton atau anstruk, gw tinggal liat aja tampang ini makhluk, maka ada dualisme keadaan yang akan terjadi gw akan tenang atau gw akan tambah panik. Ya iyalah, tampangnya tertindas penuh tipuan dan dengan tingkah laku grasak grusuk nyari master atau bikin contekan tanda belum belajar. Pasti nilainya lebih rendah daripada gw! Ini yang bikin gw tenang.

Ternyata eh ternyata, nilai keluar dan dia dapat nilai beton A dan gw cuman dapat C! Sial! Bangsat kodok beracun!

Meski begitu kita tetap teman, dan gw akui bahwa makhluk ini termasuk jajaran orang-orang jenius yang setingkat di bawah gw. Hal ini terbukti dari IPK nya yang belakangan lebih kecil sebanyak 0,01 poin dari gw dan terbaca dari begitu seringnya dia nyontek jawaban ujian gw, atau nyalin tugas yang baru saja gw salin dari Master Wong (Oscar).

Kegiatan kita yang rutin adalah ngospek bareng. Kegiatan incidental kita adalah menjelajahi bazaar dan konser, update ke toko kaset, absen ke distro-distro, serta ngeceng ke toko buku-toko buku indie label.

Waktu jadi panitia ospek makhluk ini adalah seorang anggota tim sweeper yang dimotori oleh Uun. Kelebihannya adalah punya motor dan "malas lari" sehingga tergabung dalam tim sweeper. Dan sepertinya Ospek bagi kita adalah untuk "memperhatikan" adek-adek kelas yang lucu serta jurusan lain yang manis-manis yang sering papasan lari pagi. Kadang kita terjebak dalam perdebatan penuh dilematika, pakai si bejot yang sering mogok di lampu merah atau si merry yang pemiliknya sayang bensin, buat cuci mata ke unpar dan melarikan diri dari kegiatan rutin nyiksa adik kelas.

Suatu hari setelah ospek (mungkin), kita (Agung, Sopyan, Uun, Sahrial dan Yows) sedang sibuk (iya, ini adalah kesibukan) membahas sebuah sinetron yang sedang "In". "Inikah rasanya", tentang kisah cinta-cintaan anak SMP. Tersebutlah tokoh yang dianggap sangat ganteng (oleh skrip sinetron) bernama Jason yang kumisan, memiliki sebuah genk bernama Geng Destrol. Dan demikianlah, bagaimana sinetron bisa berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis anak-anak, Sahrial memprakarsai berdirinya Genk Destrol meniru sinetron anak SMP. Yang kemudian nama Destrol disalah ejakan menjadi Destroy.
Kesibukan kita terus berlanjut, diantaranya yang paling sibuk, adalah ngeceng.

Demi ngecengin anak T. Lingkungan 2003, yang cantik-cantik kita menyelundup dalam sebuah kegiatan anak TPB Lingkungan bertajuk hari Ozon. Save the planet. Misi kita adalah mulia, kita tidak rela anak Tl yang manis-manis, kulitnya terbakar akibat pemanasan global karena menipisnya lapisan Ozon. Maka kita mengikuti barisan berkeliling kampus sembari menghapal Yel-yel dan bernyanyi-nyanyi.

"Kalau saja kita mematikan Ac Ozon tak kan begini, piker-piker daripada Ozon jadi bolong lebih baik kita kipas-kipas dong. Yeaah!" Akhirnya berhasil kenalan sama dua cewe diantara rombongan, yang paling cilun, Yows Sipil 2002 dan Iyal Arsitektur 2002.

Hari-hari tingkat tiga memang hari-hari ngeceng tingkat tinggi. Ngeceng berikutnya, bermula dari ajakan sahrial mengikuti gerakan seribu pohon di punclut. Maka, jadilah kita dua orang relawan Teknik Sipil yang berpartisipasi dalam penanaman pohon di daerah rawan longsor tersebut. Kita selalu rela menjadi relawan, kalau berkenaan dengan anak-anak lingkungan…

Makhluk ini penyuka musik spesifikasi koleksi kaset-kaset the best dari setiap band yang telah bubar, mungkin dia punya the best of Stinky. Dia juga termasuk seorang anak yang terjerumus pada aliran anti kemapanan, berbagai band local dan luar yang dia kenal menunjukkan hal itu. Hal ini sedikit banyak diakibatkan oleh pergaulan semasa SMA, dimana dia menjadi orang yang dizhalimi oleh genk yang lebih berkuasa.

Namun, aliran cadas yang disukainya, dinegasikan dengan kefanatikannya pada sebuah band bernama flanela yang liriknya merupakan ungkapan hatinya. "Cinta abadi yang terluka…."
Dulu, kalau bercerita tentang cinta, yang tergambar di otak " full of porn imagination" nya adalah seorang anak Plano 2001 bernama Astri. Semua lirik lagu putus cinta menggambarkan kisah cinta dirinya pada diri Astri. "Kau tercantik dalam hatiku, walaupun orang tak berkata begitu." Yang selalu dilanjutkan dengan "Ingin ku bunuh pacarmu.."

Kedesperate-an akan cinta ini juga berimbas pada selera buku yang dia punya. Saat kita mengunjungi toko buku kecil di Hegar Manah, atau Rumah Buku di Geger Kalong yang dicari adalah seri kisah cinta yang aneh. Misalnya: 10 Kisah cinta yang mencurigakan/Terlarang. Dan begitulah hari-hari yang dilaluinya semasa tingkat tiga. Desperate berteman dengan cinta abadi yang terluka.

Namun lambat laut dipenghujung semester, mulai terjadi perubahan, makhluk ini akhirnya dekat sama cewe yang bisa diajak berasyikmasyuk inisial Puri. Misalnya: "Duduk berdua di bawah pohon, membahas puisi atau sastra, di antara daun yang berguguran." Dan jadilah gw sering berperan sebagai nyamuk-nyamuk nakal.

Lalu tiba-tiba makhluk ini mengakhiri kejombloannya, dengan demikian intensitas ngeceng jadi berkurang, kecepatan motor tinggi dan rem mendadak waktu melihat ada cewe terlihat cantik di pinggir jalan, lalu gas cepat-cepat lagi karena cewe ybs ternyata tidak cantik, juga hilang. Yang krusial, makhluk ini tidak merokok lagi. Itulah dahsyatnya power of love. Tapi ternyata dia sekarang sudah merokok lagi setelah hubungannya berakhir… Itulah dahsyatnya power of desperate… hehe2.

Yah, demikianlah.
Sepercik tentang sahrial yang tertangkap indra dan berbekas dikepala. Selebihnya sangatlah luas yang hanya mampu diulik oleh wanita yang akan beruntung (atau mungkin sial?) mendapatkannya. Wakakak!

Selamat dan Semoga sukses buat Sahrial my bro!

Wednesday, April 04, 2007

cinta pergerakan atau pergerakan cinta?


Ini adalah sekelumit kisah dari masa kuliah dulu.

Alkisah pada suatu hari yang cerah, dimana hati Yows selalu gundah. "Kenapa tak ada yang mau singgah?" Demikian suara hatinya membantah kehidupan yang terasa begitu sampah.

Yows sedang berjalan bersama Edd Corp (pemilik anak perusahaan Yows Corp) melewati gerbang kampus. Terdapat kerumunan orang-orang yang sepertinya sedang ber-aksi (melakukan aksi, aksi = demonstrasi (melakukan demo), demo = pertunjukan jadi mereka sedang mengadakan pertunjukan). Terdapat di antara kerumunan tersebut, seorang wanita cantik putih berseri memakai jilbab, menyebarkan propaganda (Tolong pak polisi, dirinya jangan ditangkap).
"Mayan Edd" kata Yows
Edd no comment.
Mereka menghampiri, dan ketika wanita membagikan selebaran kepada Yows.
"Aksi apaan nih?" Sambil melihat wanita
"Ini, selebaran untuk aksi mengenai advokasi bla2)"
" Advokasi itu apa?" Belum mengerti dan melihat wanita
"Itu adalah Bla2 bla2" Tetap Yows tidak mengerti dan melihat wanita yang menjelaskan dengan canggung, pertanda dia juga tidak begitu mengerti (hehe).
"oo, iya makasih ya."
Kehabisan pertanyaan, Yows pun berlalu sambil tetap menatap wanita, mengerti tak mengerti tak masalah, yang penting bisa ngobrol.

Iringan-iringan yang melakukan pertunjukan akhirnya berjalan dalam beberapa baris hendak menuju Gedung Sate, dan selanjutkan melanjutnya pertunjukan di sana. Satu orang berteriak-teriak menggunakan Towa, yang biasa disebut sebagai Komandan Lapangan. Namun semua ini hanya dianggap pertunjukan bagi kebanyakan mahasiswa ITB, yang kebanyakan self oriented. Dan demikianlah, akhirnya Yows mengerti bahwa ini adalah rombongan dari Sosial Politik KM.

"Cewe yang itu anak mana Edd?" Tanyanya pada Edd Corp, makhluk jalang yang kadang-kadang cukup berpengetahuan.
"Kalo ga salah anak IF bang!" Ucap Edd Corp cukup yakin, padahal diketahui kemudian, jawabannya adalah SALAH!

Hari-hari berlalu,
Pada suatu hari yang sedang berlalu itu, Yows melihat sebuah spanduk : "Seminar Tentang Korupsi. Di Altim". Dengan berbekal harapan akan seperangkat konsumsi yang disediakan panitia, Yows pun melangkahkan kakinya kesana.

Ternyata penjaga meja tamu adalah wanita "mayan" tempo hari. Yows mengisi buku tamu, dan menatap wanita tersebut sekilas. Wanita (terlihat seperti) menatap Yows sekilas juga. Degh!
"Mayan nih cewe, aktif di pergerakan lagi." Ucap Yows dalam hati.

Beberapa bilangan waktu lagi berlalu, Yows bertanya pada Nani (inisial, bukan Nani dalam lagu Harapan Jaya: Kuliah Pagi), seorang adik kelas yang ikut berkecimpung di Sospol.
"Kenalkah dengan anak yang bla bla?"
"Oh, itu ely (inisial, belum tentu asli sunda) anak GX2003. Kenapa?" Katanya
"Oks d, gadapapa." Yows pun menitipkan harapan keselamatan bagi wanita tersebut.

Krisis BBM melanda negeri. Pemerintah, dengan perhitungannya, menerapkan ke(tidak)bijakannya menaikkan harga BBM. Mahasiswa yang memiliki papan nama rakyat kecil marah. Diskusi digelar, dan mereka sepakat untuk kembali ber-aksi. Tetap diprakarsai oleh bagian KM (Keluarga Mahasiswa) ITB. "Kenapa himpunan ga punya prakarsa ya? Mungkinkah, ini sudah kewajiban mereka yang secara struktural pada posisi untuk mengemban kewajiban?" Pikir Yows kala itu kebingungan, tapi bukan untuk memperdebatkan itu cerita ini bergulir.

Yows muda beranggapan bahwa, orang-orang yang sepertinya sedang membela rakyat itu perlu dibela, maka Yows ikut dalam sebuah aksi. Beragam almamater berkumpul di Monumen Perjuangan Bandung untuk kembali berjuang. Di antara mereka Yows tiba-tiba melihat wanita yang menarik hatinya kala itu. "Sambil menyelam minum sari apel nih.*" Pikir Yows.

Diantara kerumunan dan barisan yang sibuk bersuara gaduh, Yows mengambil kesempatan mendekati Ely yang sedang membagi-bagikan selebaran.
"Bagi-bagi selebaran lagi ya? sini dibantuin."
Tidak terjadi percakapan lanjutan di antara mereka, Ely memberikan sebagian selebaran yang isinya menuntut pemerintah membatalkan kenaikan BBM dan mengaudit korupsi di Pertamina, lalu mereka berdua sama-sama menyeberang jalan. Dan ini adalah Teklap (Teknis Lapangan) yang terencana oleh Yows.

Yows tidak berorasi, meskipun pada kapasitas yang seharusnya bisa berorasi (ya iyalah, masa mau mengambil Tows dengan kata-kata "aku padamu!"). Yows malah membagi-bagikan selebaran, sambil curi-curi pandang. Curi ke kiri curi kedepan curi ke belakang? Loh…

Sambil lalu Yows malah mengamati kerumunan berbeda dari Himpunan yang sepertinya membawa bendera bernuansa mahasiswa islam (you know what I mean?), yang malah memisahkan diri dan membakar ban. Banyak diantaranya yang justru berpenampilan ala underground dan punk, petugas kepolisian menertibkan mereka sebelum Yows melakukan sesuatu (Apakah sebenarnya ada yang bisa dia lakukan?). Dan begitulah adanya, ternyata kita tak bisa melihat inti sesuatu dari sebuah bendera, don't judge a thing by it's flag, karena seringkali… (Mari kembali ke inti cerita dan mengesampingkan kajian berbau politis).

Hari berputar-putar, masih dengan hari yang berputar, Yows (tak) sengaja membaca sebuah spanduk bertuliskan seminar (solusi) krisis energi. Dengan harapan mengisi banyak di perut dan sedikit di otak seperti biasa, ditambah harapan bertemu ely lagi tentunya, akhirnya Yows menghadiri.

Ternyata dirinya ada, Yes! Dengan sedikit ria akhirnya Yows bertanya pada pembicara seminar.
"Nama saya Yows (yang sebenarnya, pengucapannya diperuntukkan terutama sekali bagi si wanita) ingin bertanya bla bla…. ? Bagaiman dengan bla bla bla…?"
Brol diobrol obrol yang berlanjut dari pembicara, akhirnya seminar berakhir dan Yows keluar, sambil menenteng konsumsi yang cukup menghemat belanja harian perut, si Ely juga berjalan hendak pulang. Yows menghampiri.
"Ely ya, mau kemana?"
"Mau ke Salman"
"O, sama, bareng yuk" Padahal kalau dia menjawab mau ke BIP, akan dijawab sama juga (Hehehe).
Akhirnya mereka berjalan beriringan, dan brol diobrol obrol akhirnya terjadi perkenalan. What's amazing is, the girl already knows or memorize Yow's name.
Di Salman mereka berpapasan dengan Nani yang terkaget-kaget, dan belakangan mengajukan pertanyaan, "Kok bisa jalan berdua?" dan mengingatkan "jangan sering-sering ya!" (Terima kasih untuk Nani)

Dan demikianlah, hari masih berputar karena belum menemukan tempat pemberhentian. Yows masih mengikuti perputaran hari. Yows mengikutinya bersama semangat baru yang diwarnai dengan keberhasilan sebuah perkenalan.

Tibalah bulan yang dinanti bagi umat islam, bulan ramadhan.
Beberapa hari puasa, Yows mengajak Ely berbuka bersama. Ajakan pertama melalui SMS bertepatan dengan hari ulang tahun Yows, ditolak dengan halus. Ajakan kedua sekitar seminggu kemudian melalui telepon di pagi yang buta.
"Halo. Selamat pagi"
"Halo."
"Dah bangun blom?"
"Udah, ni baru aja bangun."
"Oo, blm sahur dong."
"Iya, blm."
"Eh, tar sore buka bareng yuk."
"Hayu."
"Ya udah, buruan sahur ya, keburu imsak."
"Iya."
Akhirnya Ely menerima ajakan berbuka bersama, padahal kelak diketahui dia pada hari itu tidak berpuasa karena sedang berhalangan. Hehehe.

Bulan ramadhan adalah benar bulan yang penuh berkah. Setidak nya bagi Yows pada bulan itu. Setiap hari berlalu dengan saling sapa, saling membangunkan, berbuka bersama, tarawih bareng. Mengingatkan akan sebuah lagu, bernuansa Jazz yang dinyanyikan seorang wanita. "Pergi tarawih bareng di bonceng naek vespa (lirik seingatnya dan bukan lirik sebenarnya: adakah yang tau lagu ini?)"

Minggu mengejar hari, bulang merangkum minggu, dan tahun merangkai bulan. Akhirnya hingga kini, mereka masih menjalin hubungan.
Terima kasih untuk semuanya.

Kadang-kadang apa yang kita ingat dari masa lalu, belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya (inti cerita film Banyu Biru) dan demikian juga apa yang ditulis disini. Dimana sedikit banyak mengalami distorsi ingatan, dan banyak sedikit dilatat belakangi self oriented. Semua untuk hiburan dan romantisme belaka, tanpa maksud untuk menyinggung satu atau dua pihak. Dan cerita ini belum tentu menyatakan bahwa Yows telah menodai pergerakan kemahasiswaan. (wakakak)

Seiring waktu penulis menyadari bahwa "aktivis" bukanlah orang yang banyak mengkaji berbagai permasalahan di kampus, dan meneriakkan ego komunitas nya agar semua berjalan sesuai sudut pandang kemahasiswaan. Tapi adalah orang-orang yang bisa melihat dan merenungkan sesuatu peristiwa untuk mendapati realitas dibaliknya, dan mengambil porsi untuk berjuang mempertahankan pemikirannya.

Telaga Air Keruh

Mungkin ini cerpen antah barantah:
Seorang pemuda belia menapaki jalan yang cukup panjang. Berbongkah-bongkah batu dan beragam aral ada di sepanjang jalan yang penuh liku dan tanjakan itu, namun terus ia berjalan. Nafas yang tadinya teratur mulai berubah seiring langkah, dirinya mulai terengah-engah merasakan lelah. Bekal yang dibawa pun hampir habis. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang tua yang berdiri di bawah sebuah pohon bramastana.

Si pemuda bertanya, "Kakek, dimanakah saya bisa mendapati sebuah sungai yang berisi air yang baik untuk diminum dan sesuatu untuk dimakan?"
Si kakek tersenyum, lalu menjawab. "Apa yang kamu cari itu, semua orang yang melalui jalan ini selalu mencarinya, sebagian orang menanyakannya padaku. Aku selalu memberi jawaban dengan apa yang aku ucapkan kepadamu ini."
"Apa yang kamu cari itu, tidak ada disini, atau di sekitar sini. Sedangkan apa yang tidak kamu cari tetapi dapat menggantikan apa yang kamu cari, kamu segera menjumpainya dengan melangkah lebih jauh kedepan sana. Disana akan kamu jumpai sebuah telaga yang keruh airnya, tetapi banyak ikannya. Namun, untuk sebuah perjalanan, engkau tidak harus memakan dan meminum dari air tersebut, engkau bisa mengambil buah dengan mengambil dari pohon-pohon yang sedang berbuah dan menyimpan sedikit air dari hujan yang turun. Sedangkan air hujan tidak selalu membasahi daerah ini. Engkau harus menampungnya dengan wadah yang cukup besar untuk mencukupi hingga perjalananmu berakhir. Tapi semua itu terserah padamu."

Si pemuda memikirkan sejenak apa yang dikatakan kakek di hadapannya. Dia percaya, bahwa apa yang dikatakan kakek itu benar adanya, raut mukanya bersih dan menampakkan kejujuran, tentulah dia penunjuk jalan yang baik, yang selalu menunjuki bagaimana cara menyelesaikan sebuah perjalanan.
"Terima kasih kek, atas petunjuk yang diberikan, sekarang saya ingin melanjutkan perjalanan." Ucap pemuda tersebut. Si kakek kembali tersenyum dan mempersilahkan.

Si muda belia kembali melanjutkan perjalanan. Bekal perjalanannya pun telah habis, waktu yang berlalu dan jejak langkah yang dilaluinya membawanya ke sebuah telaga tepat seperti yang digambarkan si kakek. Betapa keruhnya air di telaga itu, tapi si kakek tidak menggambarkan betapa ramainya orang yang berada di sana.

Kepada seorang Bapak yang baru muncul di permukaan setelah sekian lama menyelam, si pemuda bertanya. "Bapak, apakah air ini baik untuk di minum, dan ada ikan di dalamnya untuk dimakan?" Si Bapak kembali hendak menyelam terhenyak mendengar pertanyaan itu,
"Anak muda, kau pikir apa yang kami semua sedang lakukan?" ujarnya seraya menunjuk sekelompok orang, pria dan wanita, tua dan muda yang sibuk menyelam ada juga yang baru meminum air dari pinggir telaga seraya berusaha menangkap ikan yang ada di tepian.
"Kalau tidak dari air ini, bagaimana lagi mereka semua bisa makan, minum dan bertahan. Sudahlah, jangan ganggu waktu saya, lakukan saja seperti yang orang-orang lakukan."
Si Bapak kembali menyelam.

Si pemuda berpikir sejenak dan membenarkan perkataan orang di depannya, meski terbesit sebuah pesan yang orang tuanya selalu sampaikan, jangan pernah meminum air yang keruh selama di perjalanan. Perkataan kakek yang ditemuinya dipinggir jalan juga kembali menggema dalam ingatan, dia tidak harus meminum air dari tempat ini untuk sampai ke tujuan.

Si pemuda diselimuti rasa ragu, untuk mendapatkan lebih banyak pertimbangan dihampirinya seorang pemuda sebaya yang sedang meminum air dari tepian telaga. "Saudara, apakah air ini bisa di minum dan baik untuk menghilangkan dahaga kita?" Tanyanya.

Si pemuda sebaya menoleh sebentar, sebelum melanjutkan minum.
"Siapa bilang air ini tidak bisa diminum, air seperti inilah yang biasa saya minum dan membantu saya melewati hari-hari. Sudah lama hujan tidak turun dan kau akan mati kehausan menunggu airnya. Lagipula kita tidak bisa bertahan hanya dengan meminum air, kita harus menyelam di tengah sana untuk mendapat ikan besar. Hanya ikan kecil yang ada di tepian dan itu tak cukup untuk rasa lapar. Sudahlah, jangan kau tanya aku dengan sebuah pertanyaan bodoh" Ucapnya seraya terjun kedalam air.

Si pemuda bermuram durja dengan kebingungan yang melandanya. Tak ada lagi yang bisa ditanyai, semua orang kini meminum air sambil menyelam. Kerongkongannya sudah haus tak tertahankan dan perutnya sudah melilit memaksanya mengambil keputusan. Tanpa mengambil sesuatu dari telaga ini aku tak akan bisa bertahan. Sebuah bisikan terdengar di hatinya, Mari mengambil sedikit dan segera melanjutkan perjalanan. Bisikan kembali terdengar, kali ini lebih kuat gemanya. Si pemuda kembali berpikir, entah kapan hujan akan turun di tempat ini. Apa yang tersisa adalah yang saat ini di depan mata. Namun hati kecilnya bersuara
"Jangan! Jangan lakukan atau kau akan berkubang disini selamanya" sesuai pemiliknya, suara itu terdengar amat sayup.

Si pemuda mencecoki hati kecilnya dengan isi pikiran dan perkataan orang-orang yang baru saja didengarnya. Si pemuda menguatkan dirinya bahwa inilah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan orang-orang.

Dengan berjongkok, dengan mata yang terpejam, dengan kedua tangannya, diambilnya segenggam air. Perlahan kerongkongannya mulai terbasuh mengisi hingga ke dalam perut.
"Rasanya memang berbeda, dan semakin haus aku setelah meminum air ini." Ujarnya. "Mungkin aku harus meminum lebih banyak dan mencoba di bagian yang lebih dalam!" Ujarnya seraya terjun menyusul orang-orang. Sementara itu, gerimis mulai turun mengiringi usaha yang dilakukan semua orang yang berada di telaga berair keruh.

Friday, December 15, 2006

Resensi: Heavier Than Heaven

Judul Buku: Heavier than Heaven
Penulis: Charles R. Cross
515 halaman
Penerbit: Yogyakarta:Alinea, November 2005
Buku ini adalah sebuah biografi yang menceritakan kehidupan Kurt Cobain, vokalis Nirvana. Kurt mati pada usia yang tergolong muda, saat Nirvana telah mencapai sukses lewat musik yang dikenal dengan sebutan grunge. Banyak misteri yang ingin diketahui oleh orang-orang menyangkut kehidupan dan kematian musisi jenius Kurt Cobain tersebut. Melalui buku ini misteri itu menemukan titik terang.
Dalam buku ini, seperti yang dikatakan oleh penerbit, menampilkan sisi terang dan gelap Kurt, baik didalam, maupun diluar panggung. Seorang Kurt Cobain yang sewaktu di panggung terlihat begitu garang ternyata memiliki sisi lain yang rapuh, sering merasakan kesakitan pada perutnya, serta sering merasa kesepian.
Charles menceritakan kisah hidup Kurt Cobain tanpa prasangka apapun, berbeda dengan media-media yang banyak menulis tentang Kurt berdasarkan tudingan-tudingan dan prasangka yang mengurangi keobjektifannya. Baginya kehidupan Kurt laksana sebuah puzzle yang rumit yang menjadi semakin rumit karena Kurt banyak menyembunyikan bagian-bagian dari hidupnya. Melalui buku ini, dia mencoba untuk merangkai puzzle tersebut menjadi sebuah gambar yang utuh.
Buku ini dimulai dengan menceritakan kelahiran Kurt Cobain pada tanggal 20 februari 1967 di Aberdeen, Washington. Lalu menceritakan kehidupan Kurt dengan ringan, yang membuat pembacanya bisa menikmati seperti membaca sebuah novel. Cerita tentang Kurt dilengkapi dengan kutipan komentar orang-orang disekelilingnya, kutipan surat-surat yang dibuat oleh Kurt, puisi-puisi, serta kutipan catatan hariannya. Pada bagian puncak bahkan Charles membuat sebuah bab dengan penggambaran dari orang pertama, seolah-olah Kurt menceritakan sendiri bagaimana perasaannya saat akan melakukan bunuh diri. Hingga akhirnya dia mati pada 5 april 1994 pada usia 27 tahun dan masuk pada jajaran musisi yang mati pada usia 27 tahun, antara lain Jimmi Hendrix, Jim Morrison serta Janis Joplin.
Dari kehidupan Kurt pembaca akan mendapat sebuah pesan moral, bagaimana kecanduan obat-obatan dapat menghancurkan jiwa seseorang. Bahkan hingga mengakibatkan depresi dan bunuh diri karena merasakan begitu sulitnya melepaskan diri dari kecanduan. Kehidupan miskin spiritual yang dijalani kurt bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mencoba lari dari masalah dengan berteman dengan obat-obatan. Dalam pengantarnya ditulis, buku ini ditujukan untuk orang-orang yang mempunyai keberanian untuk mengatakan kebenaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan, dan membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalu, yaitu para pecandu obat-obatan.
Selain itu, buku ini juga menggambarkan bagaimana kekuatan tekad, kebesaran cita-cita bisa mengantarkan seseorang pada kesuksesan karir. Bagaimana Kurt sejak remaja sudah bercita-cita menjadi seniman, musisi terkenal, dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Hal ini tentunya sangat memotivasi bagi orang-orang yang ingin menjalani karir di Bidang musik, selain memberi peringatan, kesuksesan karir dan kekayaan sebaiknya dilengkapi dengan kematangan spiritual.
Secara umum, buku ini cukup menarik. Terbukti dari predikat Best seller in Newyork yang diperolehnya. Meskipun buku ini tidak melengkapi imajinasi tentang Kurt dengan sisi visual yang cukup. Dalam buku ini hanya ada sedikit dokumentasi foto yang ditempatkan pada bagian lampiran, tidak cukup mewakili perjalanan kehidupan Kurt secara keseluruhan dan tidak disusun dengan urutan yang baik, buku ini tetap layak dibaca.

Perjalanan KP di Suramadu Part II


(sore hari di tepi selat madura)

Masa Kerja Praktek
Satu bulan masa kerja praktek telah berlalu, teman-teman ada yang sudah menyelesaikan kerja prakteknya, ada yang sedang di proyek dan ada yang belum ke proyek sementara waktu libur untuk pelaksanaan KP tinggal satu bulan lagi. Seperti yang aku alami, belum berangkat ke Proyek, dan sedang menghadap dosen pembimbingnya.

”Lho, rekan Kp mu mana?” Tanyanya
”Oh, sekarang sedang di Surabaya pak, ada hal yang harus diurus disana, jadi dia berangkat duluan, asistensinya berharap bisa diwakili.”
”Enak aja, ga bisa seperti itu, jadi kamu mau melangkahi saya sebagai pebimbing KP? Sudah tahu aturannya kan? Asistensi KP harus berdua? Jadi sekarang suruh temen kamu balik ke Bandung, baru kalian menghadap lagi!” 

Itulah perintahnya, tanpa memperhitungkan waktu dan biaya yang dibutuhkan seorang manusia untuk bermobilisasi dari Surabaya ke Bandung dan dari Bandung ke Surabaya lagi. Tanpa memperhitungkan faktor X alias dipalak preman terminal atau penjahat stasiun karena bolak balik Surabaya-Bandung.

Akhirnya setelah berusaha extra keras disertai degradasi mental akibat batas waktu KP yang tinggal sebentar lagi, kami berhasil mendapat restu untuk segera berangkat ke proyek. Kami pun berangkat ke Surabaya.

JEMBATAN SURAMADU
MINGGU I

Hari pertama, (Rabu) 21 juli 2004
Apabila dilihat dari suku bangsanya, yaitu jawa, maka penduduk surabaya bisa dikatakan sebagai jawa bagian edun. Penduduknya terbiasa mengucapkan perkataan seperti Dancok seperti mengucapkan kata halo. Bahasa jawanya bisa dibilang kasar. Surabaya adalah kota metropolitan, kedua terbesar di Indonesia setelah kota Jakarta. Mungkin posisinya yang di pinggir laut menjadikan Surabaya sebagai pelabuhan besar, membuatnya menjadi kota maju seperti ini.

Jembatan Suramada dikerjakan oleh beberapa Kontraktor Nasional dengan pembiayaan APBN APBD dan Investasi dari Cina. Pembangunan jembatan untuk menghubungkan pulau Jawa dengan Madura ini dimaksudkan mempercepat pertumbuhan ekonomi di pesisir selat Madura dan di pulau Madura.

Kami berdua pergi ke daerah Kedung Cowek, Tambak Wedi, Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu. Diantar oleh seorang supir ajudan Purnawirawan Abri, yang selama perjalanan sangat memprofokasi untuk mengunjungi sebuah Gang dengan nama Dolly.

Akhirnya tiba di lokasi proyek. Matahari terasa sangat panas menyengat, debu berterbangan membawa bau lumpur keudara. Kami tinggal di sebuah desa kecil di pinggir pantai Kenjeran.

Kami ditempatkan di Jembatan Suramadu sisi Surabaya. Hari pertama inisiasi KP diisi dengan mengamati pekerjaan hammer test, bersama Rekan Arif dan Erwan yang telah dua minggu menjalani KP. Oleh merekalah, kita diperkenalkan dengan seorang pemuda dengan gelar Jawa Metal. Fredy namanya. Seorang angkatan tua yang berjiwa sangat muda. Memiliki sopan santun kejawaan yang mulai memudar.

Pernah terjadi suatu dialog:
Yows ”Asu e, panas tenan.”
Fredy: ”Hussh! Ngga boleh ngomong asu, kasar, mending ngomongnya Asem!”
Dan jadilah Asem sebagai kosa kata sehari-hari, saat kepanasan bilang asem, saat makan kepedasan bilang asem, saat minum teh pahit bilang asem....

Kamis, 22 juli 04
Kegiatan resmi KP, setelah formalitas melihat proyek pemasangan pelat dan diafragma selama beberapa menit (Benar-benar beberapa menit), selanjutnya acara dilanjutkan dengan duduk-duduk di bawah pohon di tepi pantai, tiduran di bebatuan tepi pantai, jalan-jalan menelusuri pantai, memergoki orang pacaran berbasah-basahan sambil menirukan adegan titanic, melewati perkampungan nelayan, diakhiri dengan makan lontong kupang, es degan, sate kerang dll. KP selama satu hari terasa sangat menyenangkan.

Jumat, 23 Juli 04
Di proyek, mempersiapkan kursi buat tamu dari mentri kimpraswil, diakhiri dengan makan-makan brutal.

Sabtu, 24 Juli 04
Di jalan-jalan menuju lokasi proyek, banyak bertebaran penjual semangka yang murah-murah, tanpa bisa ditahan akhirnya diadakan Pesta Semangka di Mess PU, selanjutnya jalan-jalan ke Tunjungan Plaza.

Minggu, 25 Juli 04
Bersantai ria di Mess, sambil menyusun rencana buat ke Madura mencari souvenir celurit, atau memancing di tepi pantai, atau beli kepiting untuk direbus sendiri. Tak ada realisasi yang mengikuti rencana.

Senin, 26 Juli 04
Ke proyek, pencarian data ke konsultan MK. Berhubung Kepala Konsultan adalah Mr. Bambang, alumnus Sipil ITB maka data dan pencerahan dengan lancar didapatkan.

Selasa, 27 Juli 04
Ke Proyek, tinggal di kosan baru bersama Fredy si Jawa Metal. Kosan baru ini sangatlah murah, hanya 250rb perbulan satu kamar ditempati oleh empat orang. Ibu kos adalah seorang Jawa Madura yang ramah. Semantara anak ibu Kos memiliki keramah tamahan juga dengan cara yang berbeda. Setiap bertemu selalu menawarkan jasa penyediaan Daun surga dengan harga setengah biasa. ”Barangnya dari madura, harga setengah dari yang biasa, sayang sekarang lagi habis.” Padahal dalam hati kami, ”Untung barangnya habis.”

MINGGU II
Rabu, 28 Juli 04
Nasib tinggal disebuah desa yang masih terpencil, tidak ada tempat foto copy. Ketika mendapat data yang harus di foto kopi, mencari mesin foto copy dan rental komputer sangatlah sulit. Tidak ada angkot yang beroperasi, sehingga kita harus jalan sekitar 5km, tetap tak bisa ditemukan, akhirnya kita naek LEN (angkot) yang sudah mulai ada, ke Kota. Akhirnya sampailah di sekitar Universitas Airlangga, yang kawasan sekitarnya memiliki fasilitas lengkap.

Sebagai pendatang baru yang masih seumur anak jagung, akhirnya kita mengalami peristiwa standar anak jagung, tesesat. Tidak tau jalan pulang. Setelah sekian menit terjebak dalam dilematika bertanya atau tidak, kalau bertanya jangan sama tukang becak atau preman setempat, akhirnya kita memberanikan diri bertanya kepada seorang bapak tua yang terlihat konservatif.

”Pak kalo ke tambak Wedi, deket Kenjeran pake apa ya?”
”O, itu naik ini aja, Len N,” Katanya seraya menunjuk mobil yang baru lewat dengan logat Jawa Medok.
”Bukannya naek Len O ya Pak?” Sebab besar dugaan kami, bahwa yang harus dinaiki Len O.
”Eh, sampean ini dibilangin malah ngeyel, ini naek len N. Tuh lewat, berentiin sana.” Si Bapak emosi, langsut menyuruh kami menyetop mobil.
”Makasih pak.” Langsung pamit untuk menghindari hal2 yang tidak di inginkan. Berhubung masih ragu dengan keterangan si Bapak, akhirnya kami bertanya lagi, dan ternyata buat pulang memang harus memakai Len O. 

Kamis, 29 juli 04
Makan brutal gratis diproyek, sukuran dan doa slamat buat proyek. Sore berangkat ke Keputih.

Jumat, 30 Juli 04
Di rumah Budenya Sahrial, entah kami berdua benar-benar aneh, atau budenya yang aneh, seperti kata band The Upstairs, ”apakah kami ada di Mars, atau mereka mengundang orang Mars” (ngga nyambung), Selalu terlontar ucapan dari sang Bude. ”Dasar dua orang anak aneh.....”

Sabtu, 31 Juli 04
Liburan, malam ke Tunjungan Plaza. Banyak wanita-wanita berpakaian seksi, cina, cantik. Sungguh indah di pandang, saat kami dekati terdegar percakapannya.. ” La piye to iki....bletak bletuk....” Toeng toeng, langsung ilfil...

Minggu, 1 Agust 04
Jalan-jalan, ke ITS.

Senin, 2 Agust 04
Melihat pemancangan pier 15 di proyek

Selasa, 3 Agust 04
Punya sedikit niat ke pontoon buat memantau test ultrasonic. Ada sebuah perahu yang biasa mengangkut pekerja ke tengah laut, saat ada perahu kita berjalan pelan-pelan, hingga akhirnya sampai di lokasi perahu, perahu sudah berangkat.
“Wah, kita ketinggalan perahu euy…” Berlagak menyesal. Alhasil cuma di tepi pantai, makan lontong kupang dan es degan.

Saat sedang asik makan dan minum, tiba-tiba datang segerombolan (benar-benar gerombolan) wanita (awalnya kita kira wanita).
Salah seorang bertanya,
“Mas, yang itu lagi ngerjain apa?” Ternyata suaranya memiliki nada Bass, dan selanjutnya teridentifikasi wanita jadi-jadian ini memiliki jakun, alias kecebong.
“ Oh, ini lagi ngerjain Jembatan Surabaya Madura.” Kata Sahrialsang partner KP.
“Oh, kalo mas namanya siapa?” Please dong ah! ternyata segerombolan pria kewanitaan tersebut berniat untuk kenalan, dengan produk memperluas jaringan operasinya.

Dhita, begitulah nama yang selanjutnya mengisi phone book sahrial…. Makhluk ini terkenal antipati menyimpan nomer HP laki-laki, ternyata sekarang dia menyimpan no HP peralihan laki-laki ke wanita. Saat pulang Dhita dan gerombolan selalu mengingatkan.
“Jangan lupa mampir kerumah ya Mas…”

MINGGU III
Rabu, 4 Agust 04
Pemancangan pier 16

Kamis, 5 Agust 04
Menghitung uji hammer test,

Jumat, 6 Agust 04 (jumat)
Mulai merasa bosan dengan rutinitas kehidupan di proyek

Sabtu, 7 Agust 04
Tambah bosan dengan rutinitas kehidupan di proyek

Minggu, 8 Agust 04
Hampir muak dengan rutinitas kehidupan di proyek

Senin, 9 Agust 04
PDA test, sudah jebur ke laut, tapi test dimaksud telah selesai.

Selasa, 10 agust 04
Pemancangan di Pontoon.

MINGGU IV
Rabu, 11 Agust 04
Mengamati pemasangan pipa galvanis, bowplank di pontoon.

Kamis, 12 Agust 04
Lokasi pesisir pantai, sangat strategis bagi muda-mudi yang sedang dirundung asmara. Tersebutlah seorang maestro di bidang kualitas bahan bangunan bernama Mbah Darmaji, Sang mbah memiliki fasilitas lengkap di kantor yang tepat menghadap ke bagian pantai, salah satu alat yang dimilikinya adalah teropong. Apa fungsi teropong dalam pekerjaan ini?? Tidak lain dan tidak bukan, adalah demi melihat ke tempat yang jauh disana dimana muda-mudi sedang bercumbu rayu.

Biasanya pasangan muda mudi mulai beroperasi setelah jam sekolah selesai. Mereka jalan-jalan di tepi pantai, melihat pemandangan berdua, sambil duduk di bebatuan. Setelah sekian menit berduaan, biasanya adegan akan semakin Syur ala film-film Hollywood.

Saat kami mendekati lokasi untuk melihat lebih dekat, biasanya kegiatan mereka berhenti. Sang cowok menatap gusar dengan wajah manyun sedangkan sang Cewek bertingkah malu-malu.

Jumat, 13 Agust 04
Setiap hari yang dijalani dengan sarapan – mandi – ke proyek – pulang sore – mandi – makan malam - tidur, semakin membosankan. Jiwa-jiwa muda yang membutuhkan petualangan dalam diri kami mulai mengambil alih. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kita harus liburan. Ada beberapa alternatif yang telah kami susun, ke Madura, ke Bali atau ke Batu Malang. Madura terlalu dekat, tidak ada sanak saudara. Bali terlalu jauh, ada kakak sepupunya pacar teman, tapi liburan yang cuma sebentar sia-sia dengan perjalanan jauh dan biaya mahal, Batu Malang adalah kota yang tepat. Di Batu malang, ada seorang teman lama mantan anak sipil yang pindah karena terlalu fokus pada bridge sehingga mengabaikan kuliah. ”Kita bisa menghubunginya”, kami sepakat.

Maka sore itu juga dilakukan pencarian telp sang kawan melalui data base angkatan, segera ditelp, yang mengangkat ternyata bapaknya.
”Pak, hendarnya ada?”
”O, lagi keluar, dari siapa ini?”
”Ini dari teman lamanya di surabaya, kita mau ke malang, ke tempat Hendar, kira-kira kapan ya pak pulangnya?”
”Mungkin nanti malam dia pulang”
”Oo, kalau begitu kami berangkat sekarang ya pak..” Tanpa basi-basi.

Dan berangatlah kami ke Malang, tanpa alamat tujuan yang jelas, tanpa izin pemilik rumah yang jelas, dan tanpa sepengetahuan Hendar yang jelas.

TERMINAL
Terminal penuh dengan kehidupan yang keras. Layaknya seorang artis, kami langsung dikerumuni oleh fans. Semua berebut menarik-narik badan kami sekedar ingin bersetuhan kulit dan menarik-narik tas kami sekedar ingin souvenir. Mereka meneriakkan daerah asal mereka agar kami sudi mengunjunginya.
“Mas Semarang mas, Bali mas, Jogja mas!” berbagai daerah mereka sebutkan. Namun kesibukan kami yang padat mengakibatkan kami harus berkelit ketika menjawab permohonan mereka.
“Mas Semarang mas”
“ Ngga, kita ke Bali”
Orang berikutnya datang
“Mas, Bali Mas”
Ora, arep neng Semarang ko
Demikian seterusnya hingga kami berhasil mengatasi kerumunan massa penggemar, dan mendapatkan Bis yang layak untuk ke Malang. Perjalanan pun dimulai…

14 Agust -16 Agust (Tiga hari di Batu Malang)
Batu Malang adalah kota kecil yang dijuluki dengan Agropolitan. Posisi Batu adalah 2 jam dari surabaya naek bus ditambah 1 jam naek angkutan umum. Merupakan daerah subur yang bergunung-gunung. Suhunya dingin, persis suasana Lembang Bandung atau Puncak. Dengan keadaan tanahnya (yang belum diketahui lebih dalam) dan ketinggiannya (yang juga belum diketahui lebih dalam) Batu strategis untuk perkebunan Teh dan Apel. Sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkannya adalah “Kota yang tepat untuk membesarkan anak-anak”.

Akhirnya tibalah kami di terminal malang. Setelah mendapat petunjuk dari beberapa ibu-ibu, sampailah kami di Batu malang. Setelah mengikuti petunjuk yang terpaksa diberikan oleh sang orang tua Hendar, akhirnya kami berhasil menemukan rumahnya.

Hendar adalah seorang teman lama satu angkatan. Dulu kita tidak pernah begitu dekat dengannya. Bahkan tergolong sangat jarang bertemu atau saling berbicara. Dan sekarang kami mencoba untuk mengakrabkan diri demi berliburan secara gratis (hehe, maaf ya Ndar).

Hendar duduk di depan rumahnya menunggu kami tiba. Kami berjalan di depan rumahnya, dan hampir tidak mengenalinya. Dia juga hampir tidak mengenali kami. Akhirnya dengan bersuka cita, kita saling mengenali satu sama lain, berpelukan. Malam mulai larut, hampir jam 11 malam, sangat tidak menyengkan bila kami tiba di Batu dan menjadi gelandangan yang tidur di pinggir jalan.

Rangkaian acara liburan di mulai dengan jalan-jalan subuh ke Jatim Park, sebuah lokasi wisata yang terletak di tempat tinggi, sekilo dari rumah. Ternyata memang, pemandangannya sungguh luar biasa, kami bertiga melihat sunrise dari puncaknya, dengan hawa dingin yang menyejukkan kulit, dengan wewangian apel yang mengharumkan penciuman. Batu adalah tempat yang tepat untuk membesarkan anak…

Agenda liburan berikut adalah melihat perkebunan apel, kami diantar ke lokasi perkebunan. Daerah tinggi yang siang hari pun terasa dingin. Pohon apel tumbuh dimana-mana, dipinggir jalan, di depan rumah, dan di perkebunannya sendiri.

Kami berjalan-jalan melewati tengah-tengah kebun, pohon apel di Batu sangat rendah hingga buahnya bisa dipetik langsung dari batangnya tanpa harus memanjat. Hal ini membuat bayangan Newton yang tertimpa buah apel sangatlah berlebihan, yang ada adalah bayangan Newton duduk di bawah pohon sambil makan buah apel langsung dari pohonnya.

Dengan keramah tamahan ala jawa penduduk lokal, mereka mempersilahkan untuk memetik apel sendiri, gratis. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Kami belajar bagaimana menanam apel, merawat pohonnya, hingga memetik buahnya. Jika nanti pembimbing KP bertanya, “apa yang kalian dapat selama KP?” akan kami jawab spontan “Cara bercocok tanam pohon apel pak!”

Selanjutnya kami melihat gudang apel, dan industri kecil pembuatan Sari Apel malang yang mengambil sari pati buah apel, serta pembuatan jenang apel malang. Semua yang berbau apel adalah wajah kota Batu. Terlintas dalam bayangan, suatu saat membuat rumah di daerah tinggi, terbangun dari tidur, langsung memetik buah apel di halaman rumah untuk sarapan. Terlintas sebuah kesimpulan, “Batu adalah kota yang tepat untuk membesarkan anak…”

Malam harinya wisata kami lanjutkan dengan nongkrong di alun-alun kota Batu, hari ini adalah sabtu malam minggu.

Alun-alun kota Batu sangat indah, dari sana bisa kelihatan jalan-jalan ke gunung bersama lampu-lampu kotanya, banyak tempat duduk di taman, dan orang-orang yang berjualan disekeliling taman. Taman alun-alun kota Batu dipadati oleh orang-orang nongkrong, mulai dari geng bermotor setempat, keluarga, maupun orang yang pacaran.

Anak-anak kecil berlari-larian di taman. Hal ini membangkitkan imajinasi Rial tentang seorang anak perempuan lucu di masa depan, “Apa ya nama yang cocok, kayannya Orange bagus.” Ujarnya sambil menatap anak perempuan yang sedang berlari-lari di taman. Orang tua yang melihat expresinya (Rial), akan segera menangkap gelagat fedofilia, sehingga mengamankan anaknya masing-masing untuk segera pulang.

Suasana Alun-alun memang membangkitkan imajinasi akan cinta romantis dan keluarga yang bahagia. Udara sejuk berhembus, menghembus mimpi tiap-tiap manusia disana ke langit berharap segera dikabulkan.

Perjalanan di alun-alun tidak akan lengkap jika kita tidak mencicipi beberapa jajanan khas disana. Salah satu yang menonjol adalah Burger dan Hot dog murah, Cuma 2500. Hidangan ini akan sangat terasa nikmat dinikmati dengan minuman susu murni khas Batu.

Salah satu masakan khas, yang jadi kebanggaan warga Malang atau Batu lainnya adalah Bakso Cak Man. Ada sebuah dialog yang tak bisa dihindari, antara orang-orang yang pernah pergi ke Batu atau Malang.
“Aku kemarin abis liburan ke Malang lho.”
“Oya, udah makan bakso Cak Man belum.”
“Belum.”
“Huehehe, berarti belum ke Malang dong…”

Dan jadilah kita, mencicipi masakan kebanggan tersebut, memang sangat nikmat, apalagi disajikan dengan pelayanan keramah-tamahan khas Jawa.

Salah satu yang menarik dari wisata di Batu adalah Daerah tinggi (lupa namanya) tempat berdirinya warung-warung di pinggir jalan untuk nongkrong di malam hari sembil melihat city lights di bawahnya. Kita bertiga berangkat dengan skill sopir mobil (inisial Rial) setingkat di bawah pas-pasan, sementara jalan berkelak-kelok menakutkan. Sebuah perjalanan horor.

Akhirnya tiba di tujuan dengan selamat. Hidangan ala kopi susu dan Jagung rebus enak disantap. Sementara musik di Warung memperdengarkan sebuah lagu lawas, “Sabtu malam ku sendiri, tiada tempat berbagi…” Entah terbawa oleh suasana lagu yang melankolik, atau mabuk oleh kopi susu, Hendar menggebrak meja dengan gelas besar berisi kopi susu. “BRAK!” Di ikuti oleh rekan-rekannya. “BRAK!” Suasananya begitu indah, kenapa kita bertiga disini, laki-laki semua. Begitulah kesan yang diciptakan. Sementara disudut lain warung ada Bapak-bapak yang ditemani beberapa wanita…

Masa-masa indah seringkali terasa cepat berlalu, demikian juga dengan tiga hari liburan di Batu Malang. Akhirnya kita berpamitan kepada keluarga Hendar, dengan janji akan mengunjungi lagi di lain waktu. Satu kesimpulan yang terpatri di benak kami, “Batu adalah Kota yang tepat untuk membesarkan anak-anak…”

Selasa, 17 Agust 04
Berangkat kembali ke Surabaya, untuk melanjutkan kegiatan KP. Di sepanjang Jalan, perjalanan diiringi oleh festival 17agustusan, dengan drum band dan pasukan baris berbaris.

MINGGU TAMBAHAN
Rabu, 18 Agust 04
KP lagi, tidak bisa fokus, seolah-olah masih menyesal harus terbangun dari mimpi indah liburan di Malang.

Kamis, 19 Agust 04
KP hari terakhir sambil dan mengajukan surat selesai KP.

Jumat, 20 Agust 04
Mendapatkan surat selesai KP, malamnya menyusuri kehidupan gemerlap kota Surabaya

Sabtu, 21 Agust 04
Pergi ke Proyek untuk say good bye kepada Pak Marwoto, Mbah Darmaji, Mbah Ni dll. Nraktir Fitri dan Fredi. Sore Pulang ke Bandung.

Akhirnya perjalanan memasuki bapak selanjutnya yaitu penyusunan laporan KP, Suka dan duka masih selalu mengiringi. Lorong-lorong yang monoton, kita lewati saat asistensi KP, masa-masa menunggu pembimbing selama satu dua jam untuk mendapatkan jawaban ”maaf, saya sedang sibuk”, hingga sidang KP yang kami kira sukses, tetapi pembimbing menganggap gagal secara gilang gemilang, hingga sidang lanjutan yang bersifat pribadi dan kembali dianggap gagal. Hingga datang sebuah SMS, ”A....g, G....k, xxxxx bangsat, kita cuma dapet B.”

Catatan dan ucapan terima kasih.
Laporan perjalanan ini diambil dari jurnal harian Yows, dengan penyuntingan maupun improvisasi seperlunya. Terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada:
- Sahrial ”Kutabok” Agung Nugroho, atas pengalaman KP yang mengguncang iman.
- Rekan-rekan seperjuangan Fredy si Jawa Metal, Umar dan Kukuk, Arif dan Erwan, Fitri ITM, serta MARIA cinta sahrial yang hilang.
- Hendar sang tuan rumah, atas sambutan yang hangat dan liburan mengesankan.
- Pihak proyek yang memperkenalkan kehidupan di Proyek.
- Anak-anak SMU penghibur di siang hari yang terik.

Tidak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
- Penjual Lontong Kupang yang pada suatu hari bilang: ”Sampean ini kerja di Proyek apa bukan, ko nongkrong di sini terus!”
Mohon maaf apabila ada pihak yang tersinggung atau tidak tersinggung dengan adanya tulisan ini, yang tidak lain, hanyalah media agar peristiwa-peristiwa di dalamnya tidak segera terlupakan.

Monday, December 11, 2006

NEKAT TO JOGJA


sebuah jurnal perjalanan (Karya Edd Corp)
kamar kosan nan nista
selasa, 12 Juli 2005
19:41
Badan sepertinya udah nggak kuat lagi untuk dipake beraktifitas otak juga udah nggak layak pakai untuk sekedar menyumbang usul di sebuah diskusi warung kopi, apalagi diskusi kemahasiswaan
yah, kondisiku mungkin nggak jauh beda dengan kondisi Juli, Binjai, dan Bang Jambi. karena mereka juga merasaka hal yang sama dengan yang kualami beberapa waktu lalu yang menurutku 'menyenangkan dan penuh arti'
---------
Bandung,
Sabtu 09 Juli 2005
pukul sepuluh malam
back ground; presentasi wisudanya adikris ke massa.
percakapan tiada beresensi antara yows, Juli & edd..
mulai dari pembahasan masalah mata kaki sampai pembahasan kemahasiswaan terpusat. Pembahasan kegiatan hura-hura maupun pembahasan keprihatinan rakyat dan nasib bangsa. percakapan yang menyiratkan KEGALAUAN HATI.
dengan kondisi himpunan yang full rapat dan presentasi bikin hati semakin galau. dan kejantanan pun meronta-ronta, ingin terbang melepas diri ke dunia bebas.
"ke gazibu yuk" kataku, "kan jantan bgt tu, duduk malam-malam di tangga gazibu, depan gedung sate itu"
ternyata ucapan tiada niat itu disambut dengan antusias oleh dua makhluk tsb.
maka terjadilah briefing singkat antara 3 manusia tersebut dan menghasilkan keputusan untuk membangunkan seorang makhluk cacat lain yaitu Alex De Binjai.
terjadi masa vakum selama proses membangunkan Binjai. Rasa galau masih menari-nari di kepala dan terucaplah"KE JOGJA AJA YUK!"
sepele memang, namun ucapan ini sangatlah rentan di ucapkan di hadapan manusia galau, sehingga dalam waktu singkat ucapan ini pun di iyakan. dan rapat tingkat tinggi disertai briefing singkatpun terjadi antara edd, yows, binjai, juli.
dan persiapan pun dilakukan
---------
Pasoepati-Bandung,
minggu 10 Juli 2005
pukul 00.30 dini hari
di sebuah mobil (sangat) tua yang sedang melaju.
4 orang galau akhirnya bertekad meninggalkan bandung dengan menumpang sebuah moda transportasi darat yang lebih pantas dijadikan kendaraan perang. TOYOTA CORONA (selanjutnya disebut sebagai Bejit;red) keluaran 1984 yang cukup terkenal reputasinya sebagai raja mogok disegala medan.
dua jam pertama,
percakapan yang terjadi amat sangat monoton.
contoh;
"aku masih nggak habispikir kenapa kita ke jogja?" ujar seorang juli dengan muka yang nggak biasa.
"iya ya? aku juga... awak mana tau ya kan, bangun-bangun langsung diajak ke jogja" timpal binjai dengan muka dan nada yang nggak biasa seolah nggak mau kalah dengan ketidakbiasaan muka juli.
yah... semua pasti heran dan nggak habis pikir, apalagi melihat kondisi keuangan dan kondisi si bejit yang kalo berada di jepang pasti udah di lebur ulang.
beberapa jam berikutnya,
dan kenyataan pun terjadi...
Asap hitam mengepul dari radiator dan terdengar bunyi seperti gerobak kue putu.
panik? pasti!
secara bejit lebih tua dari aku dan dipaksa menempuh perjalanan yang dominan mendaki tsb tentu dia kelelahan. dan kita beristirahat sejenak di sebuah mesjid, entah pukul berapa itu... masih gelap dan tidak ada aktifitas.
setelah memungkinkan dan dirasa aman, perjalanan pun dilanjutkan.
perjalanan berikut, harus dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut:
1. bejit berjalan dengan waktu maksimal 1 jam. setiap 1 jam sekali bejit harus beristirahat mendinginkan mesin dan mengisi air radiator selama 15 menit
2. harus melakukan isi bensin setiap dicurigai bejit kehabisan bensin. setiap pengisian sebesar Rp.50.000,00
3. Untuk Menyalip mobil lain, benar-benar dibutuhkan penerapan ilmu SI-3141 REKAYASA TRANSPORTASI I untuk menghitung jarak siapan minimum. hal ini disebabkan karena si Bejit sudah tak mampu bermanuver ria selincah masa mudanya
4. Jika salah satu personel yang kentut di dalam Bejit, maka harus di hirup bersama secepat mungkin agar penderitaan cepat berlalu disebabkan kaca pintu bejit nggak bisa dibuka kecuali menggunakan tang.
5. Perjalanan Malam akan sangat riskan jika dilakukan dengan high speed disebabkan si bejit nggak punya klakson dan lampu dekat nggak berfungsi secara baik
6. untuk personel yang memilih duduk di depan harus maklum karena sabuk pengaman si bejit sangat menyiksa, keras dan tidak sensitif sehingga mirip kursi lontar pesawat.
7. Meninggalkan bejit jauh dari pengawasan adalah hal haram mengingat si bejit nggak punya kunci dan bisa dibuka siapa saja.
8. melakukan perjalanan ditengah terik matahari dalah sarana untuk menikmati sauna gratis karena si bejit tak lagi memiliki AC yang memadai. AC yang ada hanya cukup untuk menghilangkan kabut di kaca tetapi tak mampu untuk menurunkan suhu mobil yang setara gurun sahara.
semua persaratan yang tersebut diatas harus di penuhi demi mendapatkan kenyamanan sepanjang perjalanan. pelanggaran terhadap aturan tersebut akan mendapat konsekuensi logis.
---------
Gerbang DIY,
minggu 10 Juli 2005
pukul 14.00 (dengan ketidakpastian satu jam)
ada perasaan haru ketika melewati perbatasan jawa tengah dan DIY tersebut.
WELCOME TO JOGJA, NEVER ENDING ASIA
wow kita udah di jogja men!!
---------
Jogjakarta,
minggu 10 juli 2005
pukul 15.00
lokasi; kota jogja dengan jalan yang menyesatkan
huff...
udara kota jogja sore itu...
haru... terasa. sampai sekarang!!
kita akhirnya sampai di jogja.
hal yang pertama dilakukan adalah mencari kos KP 'Bang Uun Si Punk Belajar'. dan ternyata kos bang Uun ada di luar kota. perjalanan pencarian kos bang uun pun dimulai. dan ternyata nggak gampang men, kita nggak ada yang mengenal jogja dengan baik.
dan anugrah dari langit pun turun,
muncul dibalik kegalauan dan kesulitan...
ibarat oase ditengah padang pasir yang menghapus dahaga pengelana...
pengendara mio itu...
cakep, alim, terlihat intelek dan baik hati dan berwawasan luas.
dalam hati berkata;"inilah figur seorang ibu yang cocok membesarkan anak-anak ku nanti"
dia menawarkan bantuan sebagai penunjuk jalan menuju kos bang uun. dan wow... luar biasa, dia sangat mengenal jogja bahkan sampai ke jalan-jalan tikusnya segala. dia mengatar kita sampai jembatan yang tidak kami kenal. ya lumayanlah...
dia baik sekali mau mengantarkan kami manusia galau bertampang kumal yang naik mobil perang.
dan kebodohan terbesar abad ini pun terungkap. kami lupa menanyakan namanya. BODOH..!!!
akhirnya, kos bang uun pun ditemukan. hufff....
cape..cape!! ingin meluruskan punggung. shalat ashar dan tidur sejenak ampe magrib. abis magrib kita berencana jalan2 ke malioboro dan ternyata sial bgt. toko-toko di malioboro udah pada tutup semua. sebelumnya kita sempet makan sop kambing di lesehan. nikmat...
kami tak tau kalo jogja cepet matinya, jadilah kami mengalihkan perhatian ke alu-alun. coba-coba tutp mata, lewat beringin dua dll... ngga ada kerjaan bgt. disana kita liat satu grup musisi jalanan. jadi teringat lirik lagunya KLA yang berjudul jogjakarta.
bosen main di alun-alun, lalu kami pulang dan sebelumnya menghubungi Yang Mulia Dewan Sampah; Momot (MMT) dan kemudian kita diajak nongkrong di gerbang UGM menikmati nasi kucing, dan jahe susu angkringan. nikmat dan terasa jantan..hangat meresap ke dada.
lelah... dan menghabiskan malam di rumah MMT yang ternyata ada sodaranya Ken Watanabe (bokap MMT)...
tidur...
tidur...
zzz..
zzz..
bahkan dewi mimpi pun enggan mengganggu kami.
---------
jl.kakap I rumah MMT
senin, 11 Juli 2005
pukul 07.00 dengan ketidakpastian beberapa jam
minum kopi, mandi, makan pagi dan pamitan
tujuan kali ini, prambanan
sebelumnya ngambil kamera di adiknya MMT.
sampe di prambanan...
foto-foto eh... ternyata baterainya habis dan nggak bisa pake baterai biasa. jadilah kami menggembel di prambanan kehilangan momen penting tanpa kamera. yang ada cuma kamera HP 3200 dan 3220 yang beresolusi sangat rendah. argghh....
yah..tapi kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
coba-coba ngomong ama bule, kasih nama bule.
berikut daftar bule yang udah dikasih nama ama kita2:
1. stefani; bule yang ramah da kelihatan dewasa, terlihat familiar dan enak diajak celetukan. dia sedikit mengerti bahasa yang gw ucapkan
2. caroline; bule cakep dan manis, ini bule tercakep yang pernah gw temuin. umurnya kira-kira 16 tahun. aduh... dia manis bgt.
3. prudence; bule bermuka binal yang dikawal ketat oleh pria berbadan kickboxer
4. jannet; bule cakep, sexy, modis, gaya dan bermuka agak latino
selaen cewe bule ada juga cewe lokal berbaju putih yang lumayan dan diprediksi berasal dari jakarta. kami beri nama 'susi'
arrgggh....
begitu banyak moment
sial..sial...
balik dan nyari apetizer. es doger UGM jadi pilihan. suasana sejuk da nyaman sambil dihibur pengamen
"resah jiwaku menanti.... endapkan laraku disini... bal bla..."
MMT:"ini lagu padi ya?"
Yows:" bukan. ini lagu caffein.."
arrgghh.....
MMT:"Di, iki lagune sopo?" (Di, ini lagunya sapa?)
EDD:"Naff, terendap laraku"
YOWS dan MMT:"hahahaha...!!"
abis apetizer, nyari makanan inti
pilihan soto gerbang UGM...
set dah... makan melulu!!
abis makanan inti tentunya harus ada desert.
ke pakualaman untuk nyobain rujak eskrim.
huehue... ternyata enak beibeh!!
malemnya keliling malioboro blanja ini itu. untuk memenuhi tuntutan dunia yang mengetahui kalau kami ke jogja, maka kami membeli gelang seribu empat dan bakpia standar. pas di malioboro ketemu cewe yang di prambanan.
pas diajak kenalan.... ANJ*NG....
sombongnya mau mati!! tai tuh cewe (yg di prediksi) dari jkt. sombong bgt. beda bgt ama cewe2 yogya yang sopan, santun, ramah, menjunjung norma yang disebutkan diatas. di perjalanan pulang ke Kakap I kami sepakat menghujat cewe JKT tadi.
---------
Kakap I rumah MMT,
selasa, 12 juli 2005
pukul 00.00
mandi, dan persiapan kembali ke bandung
pukul 01.30 dini hari kami bertolak dari jogjakarta menuju bandung.
dalam perjalanan pulang, tantangan yang kami hadapi cukup berat,
kehabisan oli mesin, tanpa uang sepeserpun untuk membeli oli dan hanya harap-harap cemas pada kiriman lewat ATM tang dikirim sesegera mungkin dari kampung karena darurat, air radioator habis ditengah kemacetan tol dan...arrrgghh...
akhirnya
---------
sekre HMS-ITB, Bandung
selasa,12 juli 2005
pukul 18.00
nyampe kembali di bandung dengan selamat.
hore....
-----------
BACK STORY
-----------
TRAGEDI SUSU TUMPE
juli ;"kayanya kita salah jalan deh..!!" (muka datar)
Binjai;"sumpe lo juli?" (muka juga datar)
J ;"sumpe deh gw.." (muka masih datar)
B ;"susu tumpe di muke lo..." (muka udah nggak karuan, nggak kontrol)
dialog yang secara periodik tapi simultan (??) yang bikin otak kiri lumpuh.
---
BRIPDA DADANG POLISI JUJUR
Binjai;"anjis...polisi!!"
Edd ;"Jangan-jangan patwal coy!!"
B ;"hahaha..."
E ;"trus dia bilang gini,-punten A', ini teh mobil yang dai bandung itu yah, bla..bla..bla... saya sudah ngikutin dari bandung euy... saya teh..bla..bla
cerita tentang bripda dadang tokoh fiktif
polisi yang awalnya mengikuti kami sepanjang perjalanan bdg-jogja-bdg
yang selalu muncul mengawasi kami. Bripda dadang yang tak pernah berhasil menangkap kami, hingga akhirnya kami tertangkap tangan di tol masuk pasteur.
dan dia pun berkata
"punten A', ini teh mobil yang berangkat dari bandung beberapa malam yang lalu yah? ini euy, saya sudah ngikuti mobil ini sampai ke jogja, cuma mau ngasih bungkusan ini. ini teh bungkusannya punya Aa' bukan? saya teh nggak berani membukanya. ini saya kembalikan..!!"
dan kami berkata;"pak makasih ya... tapi bungkusan itu sengaja kami tinggalkan karena isinya sampah...&*%#*&^*"
oh akhir yang indah... bripda dadang polisi jujur
---
perjalanan 'spiritual' di saat galau tanpa tujuan
perjalanan disaat finansial tiada memadai
perjalanan spontan tanpa rencana
NEKAT TO JOGJA
aku akan merindukan mu
aku akan mengenangmu
semoga menjadi 'sebuah kisah klasik untuk masa depan'
thx to:
->binjai; sang driver tunggal sekaligus pemilik bejit
->joe; yang bersedia mijemin duitnya utk ini itu
->yows; atas kesediaannya mengasuh 3 makhluk 03 yang galau
->MMT; atas penginapan dan panduan gratisnya
->bang uun dan bang rudi jawa; atas kosnya sebagai tempat transit
->carolin, stefani, jannet, prudence,susi, mariatul...nama-nama dadakan gadis cakep yang tak sempat kami kenali
->gadis cakep, intelek, alim, ramah, santun yang naek mio atas panduannya ke kos bang uun. kami tak tahu namanya dan tak mampu mencari nama dadakan untuknya. oh dia terlalu indah
->penjual makanan sepanjang bdg-jogja, angkringan gerbang UGM, Es Doger UGM, Soto Gerbang UGM, Es krim rujak Pakualaman, soto kambing lesehan, nasi goreng kambing dan semua yang terkait dengan wisata kuliner kami.
->bapak ibu mas mbak penjual souvenir malioboro
->dan semua pihak yang mendukung perjalanan kami
dan tak terlupakan
Syukur yang sedalam-dalamnya pada Allah SWT tuhan semesta alam
diambil dari
catatan harian edd
dengan pengubahan seperlunya

********
Catatan: ada keraguan pada masalah tanggal yang masih perlu dikoreksi