Wednesday, March 06, 2013

Euro Trip, Paris: Kota para artis I

Subuh-subuh sehabis sholat aku berjalan menggendong backpack menembus gerimis dan dinginnya udara pagi dari penginapan menuju Amsterdam Centraal Station, yang jaraknya sekitar satu dua kilometer. Ditengah jalan sering berpapasan dengan berbagai makluk yang baru pulang dari bar. Langsung aku kirim sebuah twit yang berpotensi keren "Berbarengan dengan orang-orang mabuk pulang dari klub malam, awak pergi meninggalkan amsterdam, kota tempat perayaan euforia hidup."

Karena tiket kereta yang langsung menuju Paris sudah habis, berdasarkan informasi yang diberikan oleh ibu-ibu gendut berkacamata jelek berwajak jutek di Amsterdam centraal station (nada tulisan penuh sentimen), maka perjalanan ke paris kutempuh dengan transit di Brussel, Belgia. Dari Amsterdam ke Bruxxelles (demikian nama yang tertera di tiket) sekitar tiga jam perjalanan dengan kereta agak cepat. Sedangkan perjalanan dari Bruxxelles ke Paris cuma 1.5 jam dengan high speed train.
Tak berapa lama, akhirnya aku berada di salah satu kompartemen kereta, dalam gerbong yang terdiri dari beberapa ruang tertutup yang memuat enam seats saling berhadapan. Di depan seorang perempuan cantik berkulit gelap peranakan dari kedua orang tuanya sedang serius memperhatikan ponselnya. Aku lalu minta berfoto, bukan foto dengan dia tapi foto sendirian saja, tentunya dengan kaos berjudul “Amsterdam University” sebagai legitimasi bahwa telah mengunjungi Amsterdam.




Tiap mencapai satu dua stasiun, ada wajah-wajah yang sedang mencari tempat duduk, beberapa orang berkulit hitam yang baru masuk menciptakan suasana sedikit mencekam. Teringat film euro trip dimana seorang pria aneh duduk, dan menggrepe-grepe saat melewati lorong panjang nan gelap. Untunglah pada perjalanan kali ini tidak bertemu yang seperti itu. Kami hanya saling diam dan cuek sepanjang perjalanan hingga sampai di stasiun Bruxxelles Midi. Tidak bisa singgah untuk sekedar melihat-lihat suasana kota yang katanya penuh arsitektur modern karena kereta berikutnya hanya selang setengah jam. Sempat ada kekhawatiran kereta akan terlambat atau susah menemukan kereta berikutnya, tapi ternyata punctuality kereta ini cukup terjamin. Huph, berjalan, berloncat dan berlari akhirnya aku berganti menunggangi kereta cepat TGV. Pertama kali memasuki kereta yang berkecepatan tinggi ini, muncul perasaan sumringah, biasanya cuma mendengar namanya. Entah kapan kereta berkecepatan tinggi bisa eksis di Indonesia, karena kecepatanya tinggi haga tiketnya juga menjadi tinggi. Kereta ini tempat duduknya normal menghadap ke depan. Kereta bergerak sangat laju, terlihat dari silih bergantinya lembaran-lembaran perbukitan hijau pemandangan di jendela. Akhirnya sampailah di stasiun paris Gare du Nord, harus berfoto dengan si high speed train, dengan menggunakan jaket himpunan, lambang supremasi HMS ITB di Paris.



Stasiun penuh dengan turis-turis, terutama turis-turis asal Eropa. Bagi pemegang tiket eurail/interail pass, harus mengantri untuk membeli tiket-tiket kereta sesuai itinerary mereka, termasuk aku yg mengantri untuk membeli tiket ke barcelona. Sejam lebih mengantri, antrian yg mengular ini mengganggu aktivitas liburan, beberapa orang sampai duduk di tiang dan ketiduran saking lamanya waktu pelayanan. Di tengah-tengah ada foto box misterius tempat biasanya Amelie menemukan foto-foto tergunting yang menjadi misteri besar di sepanjang filmnya. Besar kemungkinan wanita yang sedang duduk di photobox itu pasti adalah si Amelie sendiri.

Sekedar informasi selingan, buat traveler yang berencana jalan-jalan keliling Eropa biasanya direkomendasikan untuk membeli Interail Pass, adiknya Eurail Pass, yang harganya 249 euro buat 5 hari perjalanan dalam selang waktu 10 hari. Tetapi setibanya di Eropa harus membooking kereta dan membayar tambahan biaya perjalanan dengan kereta. Entahlah bagaimana nilai ekonomisnya, belum dihitung dengan detail. Tapi agen-agen bilang ini cara terbaik berkeliling eropa dibanding membeli masing-masing tiket untuk setiap perjalanan.

Selesai urusanku, akhirnya mendatangi lokasi tourist information untuk mendapatkan beberapa informasi penting. Pertama untuk meminta peta, kedua untuk menanyakan dimanakah posisi penginapanku di peta tersebut, ketiga untuk menanyakan bagaimanakah cara menuju ke penginapanku tersebut, terakhir untuk bertanya tempat-tempat wisata apa saja di paris ini yg layak dikunjungi selama 2 hari. Semua informasi itu sukses kudapatkan dari wanita cantik petugas informasi, ditambah lagi bahasa inggrisnya bagus dan senyumnya mempesona.

Buat ke penginapan harus naik Paris Metro Subway yang biasa ditandai dengan label m dalam kurung. Untuk perjalanan beberpa hari di paris direkomendasikan membeli 10 tiket, satu tiket harganya 1.7 Euro sedangkan 10 tiket harganya 13.3 euro, sehingga bisa hemat sekitar 20 persen. Satu tiket bisa dipakai untuk sekali perjalanan sampai keluar di stasiun tujuan. Untuk berpergian dengan jarak yang jauh dan berganti-ganti metro, system ini cukup recommended.

Paris Metro sangat efektif dalam menghubungkan berbagai lokasi di kota paris, jarak antar lokasi yang jauh jadi terasa dekat. Objek-objek wisata utama bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari stasiun metro terdekat. Buat seorang turis awam dan sendirian sepertiku, sebuah peta stasiun metro bagaikan malaikat penunjuk jalan, yang menuntun ke jalan yang lurus.

Keluar di ujung stasiun, aku bertanya sana sini, beberapa kali bertanya tak mendapat jawaban karena sebagian besar yang kutanya tak bisa atau tak mau berbahasa inggris. Cukup untuk membenarkan stigma bahwa orang prancis memang anti berbahasa inggris. Akhirnya kutemukan juga paris hotel di pojokan jalan, pelayannya ramah, hotelnya lumayan bersih dengan kamar di sharing buat empat orang, tempat tidur bertingkat, kamar mandi di dalam dilengkapi bath up, lumayan.. Namun sayangnya tidak ada loker untuk menaruh tas, biasanya setiap hotel yang shared room menyediakan loker.

Sampai di kamar, setelah istirahat sebentar yang pertama kali akan kulakukan adalah sungkem ke makam Jim Morrison seperti yang pernah diceritakan ini.

Setelah itu, tiba waktu malam, seorang pelajar pria dan dua wanita asal amerika datang sebagai teman sekamar. Mereka mengajak ke bar cari minum, kutolak dengan alasan ingin cepat istirahat agar besok pagi bisa mendatangi meseum louvre sedari pagi. Sebenarnya seharusnya bisa juga ditolak dengan lugas mengatakan “harom itu brother, harom.”



Si cewek Amerika datang lagi setelah sesaat keluat kamar lalu bertanya “are you sure you don’t want to join us?” Aku mulai curiga bahwa mereka mengajakku serta karena khawatir terjadi apa-apa dengan barang-barang yangg mereka tinggalkan, karena di kamar ini tidak tersedia loker. Aku cuek saja, berkata "I can’t tonight, but it would be nice to join you tomorrow.” lalu tertidur, untungnya tidak bermimpi bertemu Jim Morrison.

Saturday, February 02, 2013

valedictorian


Tak pernah sebelumnya membayangkan akan menjadi wakil wisudawan yang memberi kata sambutan dan mendapat penghargaan sebagai wisudawan terbaik program pascasarjana fakultas teknik, sekaligus juga mewakili menerima ijazah dari rektor. Berikut ini konsep valedictory tersebut, meskipun pada akhirnya yang dibicarakan berbeda dengan yang di konsep.. 


Assalamualaikum wr wb.

Yang terhormat Ketua Program Pasca Sarjana UGM
Yang terhormat Dekan Fakultas Teknik UGM
Yang saya hormati Bapak/Ibu pengelola program studi
Serta rekan-rekan wisudawan yang berbahagia
Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan sambutan pada wisuda fakultas teknik ini. Saya yakin bahwa saya bukan mahasiswa yang paling pintar atau paling berprestasi di sini, namun keberuntungan, berkah Allah SWT sedang memberikan saya ujian untuk senantiasa bersyukur atas karunia yang saya peroleh ini.
Sedikit memperkenalkan diri, saya berasal dari Provinsi Jambi, lulus dari ITB tahun 2006, sudah bekerja selama empat tahun, hingga akhirnya mendaftar di UGM, menjalani perkuliahan dari tahun 2010 hingga akhirnya selesai sehingga kita bisa berkumpul bersama di ruangan ini, pada hari ini.

Bapak ibu dan rekan-rekan wisudawan,
Hari ini hari luar biasa. Hari ini hari milik kita, hari ini kita dilepas dari fakultas teknik tempat kita selama satu dua tahun terakhir menimba ilmu. Untuk memasuki babak selanjutnya dari kehidupan kita. Tak akan ada hari ini tanpa kebaikan, tanpa bantuan, tanpa dukungan, tanpa dorongan dari Bapak Ibu sekalian.
Oleh karena itu, saya mewakili teman-teman dan sebagai pribadi, ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak fakultas teknik serta Program studi MSTT yang telah menerima kami menjadi bagian dari keluarga besarnya, jadi bagian dari salah satu Universitas terbaik di Indonesia.
Terimakasih kepada program beasiswa unggulan Diknas yang telah memberi saya beasiswa sehingga saya bisa memfokuskan usaha saya untuk meraih hasil maksimal.
Terimakasih kepada kerjasama Diknas dan Departemen Perhubungan yang memberi kesempatan beasiswa double degree di University of Leeds, UK selama setahun sehingga saya bisa menimba ilmu dan pengalaman dari sana.
Terimakasih kepada Bapak Ibu dosen yang telah memberikan kami kebaikan, kebajikan, ilmu pengetahuan dan pengalaman untuk membekali kami nanti kembali ke dunia kerja.
Terimakasih kepada teman-teman wisudawan wisudawati dari MSTT, yang sebagiannya masih jomblo, atas kebersamaan, jalan-jalan dan diskusi-diskusi hangat selama kita menjalani perkuliahan.

Bapak Ibu dan rekan-rekan wisudawan.
Ada perbedaan yang saya amati ketika menempuh pendidikan master di UGM ini dengan ketika menempuh pendidikan S1. Jika dikaitkan dengan penerapan tridarma perguruan tinggi, penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat, saya merasa kegiatan master ini lebih menekankan pada pengajaran dan penelitian yang mengarah ke keprofesian, sementara bagian yang terakhir pengabdian masyarakat semakin kurang signifikan atau seolah hanya sebagai pelengkap dari bagian yang lain. Padahal kita adalah harapan bagi perubahan untuk kemajuan bangsa. Masa studi kita ini bermanfaat untuk mendapatkan kesepahaman bersama tentang sebuah system yang baik, lalu sama-sama mengaplikasikannya. Kedepannya kita harus menjadikan ilmu yang kita miliki, mengembangkan kemampuan kita, agar bisa berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara.
Ada bermacam permasalahan yang menjadi tantangan bagi kita di dunia engineering dewasa ini, seperti kemacetan di ibu kota, banjir, krisis energi dsb. Sementara itu, entah kenapa kita para engineering sering dihubung-hubungkan dengan permasalahan daripada solusi, ketika terjadi kemacetan ahli transportasi dianggap tak mampu memberikan system transportasi umum yang memadai, ketika terjadi kebanjiran ahli air dianggap gagal mengelola air, ketika terjadi kegagalan bangunan ahli konstruksi gagal menghitung. Oleh karena itu saya ingin mengingatkan kepada diri saya sendiri dan rekan-rekan wisudawan sekalian, bahwa fitrah kita sebagai engineer, sebagai ahli rekayasa adalah untuk menjadi bagian dari solusi bukan menjadi bagian dari masalah. Mari kita bersama-sama selalu menjadi bagian dari solusi.
Setelah perjuangan yang penuh suka duka onak dan duri, akhirnya kita telah menyelesaikan masa belajar kita. Kita akan kembali ke dunia kerja, sebagian dari kita mungkin masih mencari pekerjaan, sebagian dari kita akan pulang ke instansi masing-masing, sebagian menjadi peneliti, sebagian menjadi pengajar, sebagian menjadi perencana, sebagian menjadi pelaksana, sebagian sebagai pembuat kebijakan. Saya hanya berharap bahwa ada prinsip-prinsip yang bisa kita jadikan pegangan bersama, prinsip-prinsip idealisme, integritas, dan berbagai nilai lainnya.
Jika proses berputarnya kehidupan kita disederhanakan dengan sistem filsafat dialektika Hegel, bahwa dinamisme selalu merupakan pertentangan thesis dan antithesis yang melahirkan sintesis. Maka bolehlah dikatakan bahwa kita telah merumuskan thesis kita selama belajar di fakultas teknik UGM ini, kita akan segera bertemu dengan antithesis nya dari dunia nyata. Pada saat merumuskan sintesis dengan mengakomodir pertentangan keduanya, kita harus berharap bahwa prinsip-prinsip mengutamakan kepentingan umum menjadi panduan utama bagi kita.

Bapak Ibu dan rekan-rekan wisudawan,
Sulit rasanya bagi kita untuk membalas jasa dosen-dosen pengajar dan staf yang selama ini telah membantu kita. Berkaitan dengan ini ada sebuah film yang sangat menginspirasi yang berjudul Pay it Forwards, seorang anak memberi ide bahwa suatu kebaikan yang kita dapat tidak harus kita balas dengan memberi kebaikan yang sama kepada orang yang sudah memberi kebaikan, tetapi kita balas dengan memberi kebaikan kepada orang lain. Pada akhirnya dalam film itu, dari kebaikan yang kecil berlipat ganda layaknya multi level marketing menjadi kebaikan bagi seluruh penjuru kota. Dengan menerapkan konsep ini, kebaikan, kebajikan, ilmu pengetahuan yang telah Bapak Ibu dosen berikan akan kami balas dengan menyebarkannya kepada orang lain, sehingga ganjaran amalnya bisa berlipat ganda kepada Bapak Ibu sekalian.

Rekan-rekan wisudawan yang berbahagia,
Sejak saat ini, kita adalah bagian dari keluarga besar UGM, kita akan tetap menjadi bagian dari UGM sebagai alumni, sementara UGM akan selalu menjadi bagian dari diri kita, UGM ada di pikiran saya, UGM ada di hati saya.
Kepada para wisudawan dan wisudawati, saya mengucapkan selamat atas kelulusan dan prestasinya. Hari ini hari luar biasa, hari ini hari milik kita, semoga hari-hari depan kebaikan selalu bersama kita.
Apabila ada dari perkataan saya ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.
Wassalaamualaikum wr wb.