Tuesday, February 21, 2012

ITS Profile

Name: WTA
Nationality: Indonesian
ITS Programme: MSc (Eng) Transport Planning and Engineering
Funding/Scholarship: Scholarship from Ministry of Education and Ministry of Transportation Republic of Indonesia
Undergraduate/Bachelors degree & University: Civil Engineering, Bandung Institute of Technology (ITB)
ITS dissertation topic: Transport in developing countries: Willingness to pay estimates for travel & transport facilities

What is it about transport that interests and motivates you to study it?
Transport is something we find in our daily life and closely related to the economic performance, society and welfare. It is an interesting area because we can manage to provide an efficient use of transport system, which will reduce transport cost for both passenger and goods, so that people can use their money to other purposes such as health, education and entertainment, in other words, it improves their quality of life.

Why did you decide to study at ITS?  [rather than somewhere else]
ITS from University of Leeds is one of the best university in the world for transport studies. Many transport experts and teacher from my former University studied in ITS, in addition to numbers of great transport experts and well known writers from all over the world. I like to follow the paths of those great people and also intended to feel the experience of British educational system, that’s why I chose ITS.

How would you describe the experience of being an ITS Masters student? 
The experience of being ITS master student can be just described as amazing. The lecturers were great, the materials were up to date and the facilities complemented it into an amazing experience. I found the libraries provide a huge collection of books, videos, recordings and other collections. Moreover, the electronic resources were remarkable, where we can find papers, journals and other transport resources related to the study easily by using unlimited access from the university login.

What have you enjoyed most about the first semester and what are you looking forward to in the next semester?
I enjoyed the experience of being a policy maker, we set several objectives to be implemented through many policies and then we got the specific results on several indicators. It gave me the understanding and feeling of being a policy maker where the objectives usually constrained by resources and need to be managed into the effective and efficient way.

I’m looking forward to improve my knowledge about transport infrastructure and modelling technique. I’m also struggling with the time management strategy, to manage my time through dissertation, modules assignment and all other social activities.  

What have the lecture and seminars been like? And the teaching staff?
The lectures and modules have been great; along with the seminars it gave us recent issues of transport applications, how to solve the problems, and how to improve the result after the evaluation. The lectures usually begin with some general understanding to come into small details and examples.

The teaching staffs were the experts of each program. We have a discussion board to get our questions regarding the coursework answered. At the beginning of each module the teaching staffs give their email to contact if we have other inquiries. Sometimes the lecturers deliver the material in a compact way, so that we need to do a lot of self study to understand all the materials.

How have you found living in Leeds and being part of the University?
Leeds is a small city, which is suitable for studying. Living in Leeds has been wonderful, the people were friendly, and many of them were students from all over the world. We have a lot of cultural differences, but people give their respect each other in term of this. Sometimes to see people got drunk made me feel inconvenient, because I’m a Moslem. However, I can easily found halal food in the city center as well as around the university. The university also provide green room for student doing daily praying in the university. It makes me feels comfortable ever since the beginning when I step foot in the University.

What do you aim to do once you’ve completed your Masters? [next steps, career plans etc]
My scholarship is from Ministry of Transportation and Ministry of Education with the requirement to work there after the study, therefore I will try to do my best to implement as much as possible everything that I’ve got from my study. I hope the knowledge will be useful to make a better transport system in order to make better life for people in my country.

Do you have any advice for anyone thinking about studying for a Masters in transport at ITS?
Anyone willing to study in ITS should try harder to get into the university. Prepare for all the new experience, self-discipline and self-study. Get ready for the English accent, which is slightly different to American English. Be prepared for the weather as well, although eventually we don’t mind it.

Saturday, February 18, 2012

daily problem

(21:00:00 GMT) Yeah I'm awesome, I'm feeling great, tonight I'll do the same thing I do every night, try to take over the world!
(21:00:10 GMT) It needs some resources to conduct, a literature would help in determining the methods, stated preference modeling would be perfect..

(21:00:30 GMT) Hmm, the book consists of too many alphabets, need more concentration and convenient position to get a comprehensive understanding..

(21:01:05 GMT) yeah, as i predict, the method to take over the world is not as simple as it seems, it really confusing, i have to carry on reading..

(21:05:10 GMT) No, I just contemplating about one or two things from the book..

(21:11:12 GMT) Zzzzzzttttttttt...... Yeah, I'm dreaming about take over the world.. 

This is my daily problem, the literature, the lights, the musics, the weather, the warm duvet, it just perfect to slips me into unconsciousness.. 

Monday, February 13, 2012

salju

Karena itu salju, sehingga untuk mencarinya kami harus menempuh perjalanan jauh melewati berbagai benua dan samudera.

Karena itu salju, sehingga kami menembus dinginnya udara kota menuju yang lebih dingin lagi di pedesaan dan perbukitan.

Karena itu salju, sehingga dengan mata berbinar akhirnya kami menatap bulir-bulir kecil yang perlahan turun dari langit sebagai sebuah berkah yang menjawab panjatan doa-doa selama musim dingin.

Karena itu salju, sehingga bulir-bulir halus itu berubah menjadi gumpalan-gumpalan perpaduan Kristal dan kapas yang luruh begitu di sentuh, yang mengisi seluruh ruang dan waktu.

Karena itu salju, sehinga kami melangkahkan kaki dengan riang, menapaki karpet putih di jalanan yang terasa lembut dan lumer ditapaki.

Karena itu salju, sehingga kami tergesa mendaki bukit demi melihat lebih jelas peradaban dan segala sesuatu yang memutih serta menimbulkan pesona magis.

Karena itu salju, sehingga tumpukan itu kami raup, dan kami lemparkan kepada orang-orang yang membutuhkan, yang mengakibatkan terjadinya perang.

Karena itu salju, yang membuat orang-orang belajar memaknai momen penciptaan dengan berkreasi mebuat manusia salju yang selalu bisa tersenyum. 

Karena itu salju, yang membuat rumah yang selama ini membosan dan mendingin menjadi terasa lebih hangat dan nyaman.  

Karena itu salju, yang telah lama kami nanti-nantikan, sehingga yang kini kami butuhkan hanyalah seorang puteri, untuk melengkapinya menjadi kue puteri salju.

Friday, February 03, 2012

Edensor

Jika menjejakkan kaki di tanah Inggris, maka salah satu tujuan wisata yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari seorang pembaca karya-karya Andrea Hirata adalah Edensor. Edensor adalah desa yang dideskripsikan Andrea Hirata di novel Laskar Pelangi dengan kutipan-kutipan dari buku If Only They Could Talk karya James Herriot, desa yang diceritakan menjadi tujuan perjalanan Ikal di buku Edensor. 

Edensor berada di wilayah Peak District, dekat kota Sheffield. Perjalanan dari Leeds menuju Sheffield bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kereta yang tiketnya seharga 7 Pounds. Bus yang melewati Edensor bisa didapat di Stasiun Bus yang jaraknya lima menit jalan kaki dari Stasiun kereta Sheffield. Frekuensi bus adalah setengah jam sekali pada hari kerja dan hanya sejam sekali pada hari libur dengan tiket pulang-pergi 5 pounds.  

Perjalanan dengan bus yang berhiaskan pemandangan kota-kota kecil yang di latarbelakangi bukit dan lembah kehijauan berlangsung selama satu jam. Jalan berkelok-kelok persis seperti dalam deskripsi buku Edensor. Semakin lama ditempuh, semakin kota-kota tersebut beralih menjadi desa, semakin kecil, semakin hijau. 

Bus Stop at Chatsworth
Bus berhenti di pemberhentian Chatsworth, dimana terdapat objek wisata Chatsworth House, adalah rumah besar tempat tinggal Dukes of Devonshire. Tempat yang menjadi salah satu setting adegan di film Pride and Prejudice, film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Jane Austen. Bangunan kuno megah yang dikelilingi dengan taman dan air mancur yang indah serta tetumbuhan menjalar yang berbentuk labirin besar merupakan daya tarik wisata utama di sekitar tempat ini. 

Chatsworth House
Namun, bagi orang Indonesia pembaca Laskar Pelangi, menemukan Edensor tetap merupakan prioritas utama, tak tergantikan. Dari Chatsworth House, Edensor bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui sebuah bukit. 

Autumn Leaves
Sejauh mata memandang terhampar landscape hijau diantara pepohonan dengan dedaunan yang memerah menjelang musim gugur. Hidup dari rerumputan hijau itu beribu domba yang bertebaran dan menjalani hidup dengan damai, tanpa beban, hanya perlu makan. Orang-orang yang memiliki penyakit sulit tidur sebaiknya segera datang ke sini dan mulai menghitung domba-domba tersebut. 

count the sheep
Setelah berjalan menelusuri jalan setapak berbatu yang menembus bukit, berpapasan dengan beberapa turis lokal yang ramah, akhirnya sampai di sebuah gereja dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Papan nama gereja itulah satu-satunya bukti formal bahwa ini adalah Edensor. Gerbang desa berukir ayam jantan dan papan nama Edensor tak ditemukan, sehingga menerbitkan niat di dalam hati untuk membuat sendiri papan nama itu di rumah dan memasangnya di salah satu jalan ke arah desa, lalu berfoto di sana. 

Edensor
Edensor Sign
Namun demikian, suasana desa, hawa sejuknya, udara yang sangat segar sehabis hujan, bebukitan yang menghampar tak beraturan, sungai berair tenang yang berliku membelah ladang, rumah-rumah petani yang terbuat dari batu berwarna kelabu, tanaman bunga di pekarangan dan pagar, aneka pohon apel yang bertebaran di antara rerumputan hijau. Semua terangkai dengan bingkai langit biru dan sekelompok awan sisa hujan yang berarak mengejar burung-burung yang terbang bebas, melengkapi gambaran indah yang menciptakan suasana damai. Edensor, sungguh tempat dengan pesona surgawi yang dapat menentramkan hati, layaknya seorang kekasih. 

farm house
Jika memiliki kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan keinginan untuk membawanya duduk dan bercengkrama di bawah salah satu pohon apel itu, di musim dimana bunga-bunga bersemi, mekar berwarna-warni yang harum semerbak mewangi.  

take you to there
Jika telah berpisah dengan kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan berbagai pengandaian bahwa mesin waktu bisa ditemukan untuk kembali ke masa lalu, sekedar menculiknya dan membawanya duduk dan berbagi cerita di bawah salah satu pohon apel itu, di musim dimana bunga-bunga sedang berseri sehingga dapat membuat cinta bersemi kembali. 

the river knows
Jika mempunyai domba, maka tempat ini akan menghadirkan pengandaian untuk membawa domba itu dan melepasnya untuk bergabung dengan domba-domba lain yang sedang berbahagia memakan buah apel yang jatuh sebagai kudapan diantara rerumputan hijau dan tanaman berbuah ceri. 

shaun the peaceful sheep
Jika hanya seorang diri, tidak punya kekasih, tidak punya mantan kekasih, dan tidak punya domba, betapapapun menyedihkannya, cukuplah duduk berdiam diri di bawah salah satu pohon apel itu, dengan kemungkinan menemukan teori gravitasi baru, yang kabarnya ditemukan Newton karena di ilhami kejatuhan buah apel itu. 

to find gravity theory
Edensor, selalu akan menjadi sumber dari berbagai inspirasi. Menjadi inspirasi bagi banyak orang Indonesia untuk berkelana ke negeri Britania Raya, menjadi inspirasi untuk menulis novel dan film romantis, menjadi inspirasi untuk menemukan teori gravitasi, sebagaimana juga menjadi inspirasi untuk menulis cerita perjalanan di blog ini. Suatu saat di musim semi, kita akan ke sana lagi. 

“Sure Love, It’s Edensor.” 

***

Monday, January 30, 2012

seribu kata untuk ayah

Ayahku, sekarang sudah berpulang ke tempat yang dituju semua manusia. Rangkaian peristiwa yang mengiringi kepergiannya berjalan begitu cepat, sehingga kami sekeluarga terkadang masih merasa heran, seperti sedang mengalami mimpi buruk dan berharap akan ada orang-orang yang terjaga yang segera membangunkan.

Ayahku, semasa hidupnya adalah orang yang polos dan sederhana. Beliau selalu berkata-kata dengan lugas. Memaksudkan apa yang dia ucapkan dan mengucapkan apa yang dia maksudkan. Selalu mengajarkan kejujuran dan kerendahan hati. Seorang yang terkadang tak terlalu banyak bicara, tetapi sering mengajak kami bercanda-tawa.


Ayahku, semasa hidupnya seorang yang selalu memiliki teman di mana saja, kemana kami pergi selalu ada satu dua orang yang akan bertegur sapa dengannya, selalu ada satu dua orang yang akan diajaknya berbicara. Selalu ada orang-orang yang memandang suka padanya dan bercanda-tawa. 

Ayahku disamping pekerjaannya yang baru setahun menjalani pensiun, telah didaulat menjadi seorang ketua RT seumur hidup oleh para tetangga, tentu saja bukan karena beliau sangat cocok untuk jabatan itu, tapi sejak beliau terpilih tak direlakan untuk melepas jabatannya dan tak ada yang mau bersusah-susah menggantikannya. Seperti para pemilihnya memilih cuci tangan. Sehingga panggilan Ibu RT masih melekat pada ibu sampai jauh hari setelah kepergiannya.

Ayahku, terlihat seperti sudah ingin memiliki cucu, selalu mengajak bermain anak-anak yang datang ke rumah. Sesekali menyindir abangku kenapa tak segera menikah, juga menanyakan padaku apakah tak ingin segera punya anak. Aku yang tak terlalu menanggapi dan belum sanggup menyanggupi perkatannya dulu.

Ayahku, senang mendengarkan lagu-lagu berirama nostalgia, lagu-lagu berbahasa jawa atau Qur’an Syeikh  Gomidi di waktu senggangnya. Sesekali mendendangkan lagu-lagu itu dengan cara yang sangat kurindukan, sesekali mengikuti melantunkan bacaan-bacaan Qur’an. Sekali waktu dia akan menanyakan padaku ini itu ini itu tentang permasalah agama yang sedang dikajinya, yang kujawab dengan itu ini itu ini sepengatahuanku. Sesekali dia akan menanyakan apa-apa yang ku kerjakan, yang tak selalu ku jawab dengan cara yang benar.

Ayahku, dalam pada itu selalu dalam kondisi sehat. Badannya yang berisi, yang selalu mengisi waktu senggang dengan berkebun. Beliau yang mulai menceritakan mimpinya untuk kembali ke desa tanah kelahirannya yang katanya sangat subur dan hijau, untuk menjadi seorang petani. Sampai kami menyadari, ternyata dalam fisik yang terlihat sehat itu terdapat sebuah penyakit yang berbahaya, yang sudah menggerogoti lima tahun lamanya. 

Ayahku, ketika keluar dari ruang dokter bersama ibu, terlihat tertekan karena diagnose tumor ganas itu. Namun dalam perjalanan pulang beliau hanya mengajak kami bersenda gurau dan tertawa-tawa, sehingga tak terasa pedih lagi hati kami akibat berita itu. Sehingga bisa kami tersenyum meski sebelumnya mata memerah. Sehingga kami belajar bagaimana tegar terhadap suatu masalah.

Ayahku, akhirnya berjuang dengan mencari berbagai pengobatan, tapi tak sabar menunggu hasilnya karena tekanan perasaan sakit itu. Kejadian-kejadian rumit yang sebegitu rupa sehingga pada akhirnya membuat kami menyerahkan semuanya pada ilmu kedokteran modern yang pada kenyataannya selalu mengutamakan opsi operasi dibanding yang lainnya.

Ayahku, akhirnya dirawat di rumah sakit pusat negeri ini. Sampai suatu waktu datang sebuah surat persetujuan operasi yang terpaksa ayah dan aku tanda tangani untuk menerima semua resiko yang bisa terjadi. Hingga akhirnya beliau terbaring lemah tak bisa berbicara lagi setelah operasi yang kelihatannya berhasil itu. Hingga begitu banyak dan macam obat yang harus diterimanya. Sampai ginjalnya gagal berfungsi, sehingga racun menyebar diseluruh tubuhnya. Air matanya menetes dan hanya menggeleng setiap kali ibu usap. Sehingga kami yakin ada dosanya yang diluruhkan karena perjuangan atau kesabarannya menahan perasaan sakit itu, selama dua bulan di rumah sakit itu.

Ayahku, seolah-olah hanya memikirkan kami pada masa terakhirnya, setelah beberapa hari dinyatakan kritis itu. Sehingga ketika ibuku mengatakan merelakannya, beliau baru bersedia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Untuk menghilangkan sama sekali rasa sakitnya, dalam keadaan tenang. Selama masa itu ibu menjaga dan memaninya tanpa pernah merasa lelah, tanpa pernah satu kalipun mengeluh, juga tak pernah menunjukkan rasa putus asa akan sebuah kesembuhan.

Ayahku, mungkin tak tau isi pikiranku, bahwa aku merasa tak mungkin bisa menjadi seorang dokter yang layak untuk merawatnya. Yang sangat menghargai arti sebuah nyawa. Yang bisa menganggap seorang pasien seperti keluarganya sendiri. Yang bersedia meluangkan waktu untuk berbicara seperti seorang teman. Yang tidak membedakan seorang pasien berdasarkan uang yang dimiliki. Yang bersedia memberikan senyum yang tulus bukan karena pekerjaan. Yang bisa memilih kata-kata agar tidak menjadi bualan karena berusaha menentramkan dan tidak pula menyakiti karena menyampaikan kebenaran. Yang tidak memberi solusi dengan memberikan obat bagi setiap gejala secara parsial. Yang memahami ada faktor psikis dalam setiap tindakan fisik. Yang tidak menganggap memahami probabilitas, dan menyampaikannya dengan layak, sebagai kemewahan.

Ayahku, mungkin tak mengetahui perasaan anak-anaknya. Perasaan yang campur aduk karena kehilangan. Yang sedang belajar menerima setiap musibah meski kelihatannya selalu bertambah. Yang berusaha memandang semua dari sudut paling baik yang mungkin dilakukan. Yang terkadang merasa menyesal karena belum bisa mempersembahkan apapun yang terbaik seperti yang beliau inginkan.


Ayahku, mungkin tak bisa melihat. Masa-masa ketika aku memeluk dan menenangkan kakak perempuannya yang meratapi kepergiannya. Masa-masa ketika aku menenangkan ibuku yang menangisi kepergiannya. Masa-masa ketika kami terduduk lesu dan tak berdaya mengubah satu dua tindakan di masa lalu. Masa-masa ketika mereka melamun sejenak ketika membicarakannya. 

Ayahku, tentu tak bisa melihat rumahnya yang ramai didatangi oleh para tetangga selama seminggu penuh setelah kejadian itu. Tamu-tamu yang datang sampai memenuhi halaman pada hari ke-empat puluh sejak kepergiannya. Orang-orang yang membacakan ayat suci Al Quran dan mendoakan kebaikan baginya. Pak Lurah kenalannya yang selalu datang di setiap kesempatan. Teman-teman dekatnya yang turut menyesal merasa kehilangan. Anaknya yang berkelimpahan air mata saat mengingat dan mendoakannya.

Ayahku, pasti mengetahui betapa sempurna dan mulianya agama kami. Bahwa ketika buku hidupnya telah ditutup masih akan ada amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang bisa menambah catatan kebaikannya. Bahwa suatu saat akan ada masanya ketika dia dan keluarganya bisa dipertemukan kembali. 

Ayahku, mungkin bisa merasakan kehadiran anak-anaknya di sekitar pusaranya. Yang terkadang berbicara sendiri seolah-olah beliau ada dan mendengar, yang dalam bicaranta sering mendadak terbata dengan mata berkaca-kaca, yang hanya bisa menyampaikan rindu dengan taburan bunga-bunga yang basah, yang hanya memperlihatkan bakti dengan membersihkan rumput-rumput liar, yang hanya menyampaikan salam dengan doa dan harapan.

Ayahku, boleh jadi bukanlah ayah terbaik di dunia. Tapi tentu saja beliau tetap ayah terbaik untukku, yang telah melimpahkan kasih sayang, perhatian, pengetahuan, harapan dan segala yang dia punya kepada anak-anaknya. Yang menatap anak-anaknya dengan perasaan senang dan bangga, meski tak selalu mengatakannya...


Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Ampunilah kesalahan dan kekhilafannya, dengan ampunan yang menyeluruh
Limpahkanlah rahmat kepadanya, dengan rahmat yang luas
Peliharalah dia dari siksa kubur dan azabnya dengan nikmat, rahmat, cahaya, dan keindahan hingga hari berbangkit nanti.

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Jadikanlah Al-Qur’anul Karim dan amalnya sebagai penghibur di alam kuburnya,
Sebagai pemberi syafaat di hari kiamat
Sebagai sinar, naungan dan penunjuk jalan pada hari perhimpunan semua makhluk
Sebagai pemberat amal baiknya pada hari penimbangan
Sebagai cahaya dan penuntunnya pada shirath
Sebagai penutup dan penghalang terhadap siksa neraka
Dan sebagai temannya di dalam surga.

Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim
Engkaulah sebaik-baik pemberi peristirahatan, sebaik-baik pemberi nikmat, sebaik-baik pemberi rahmat.
Kami memanjatkan doa dengan penuh pengharapan kepadamu agar dia senantiasa mendapatkan syafaat, nikmat, dan rahmat.

Amin, Yaa Rabbal’alamin

Sunday, January 29, 2012

berhenti merokok

Semakin banyak pengetahuan mengenai akibat buruk rokok baik secara global dan lokal membuat banyak orang semakin antipati terhadap rokok. Sulitnya mengupayakan perubahan secara struktural, kultural dan sosial pada akhirnya membuat pergerakan bergerser ke ranah individual, wilayah yang paling kecil, yaitu bagaimana membuat orang per orang berhenti merokok. Ada banyak kisah sukses orang yang berhenti merokok sebanyak kisah gagalnya. 

Buatku, persoalan berhenti merokok ini dulu terasa sangat jauh di mata dekat di hati. Ada keinginan di dalam hati untuk berhenti secepatnya, yang sayangnya selalu berakhir dengan kegagalan. Seorang perokok sering berhenti merokok ketika sakit, ketika batuk, atau sakit yang agak parah seperti gejala tyfus dsb, biasanya rasa rokok menjadi tak enak. Sewaktu kuliah, beberapa kali aku berhenti merokok dengan alasan ini. Beberapa saat setelah sembuh, akhirnya kembali merokok lagi, begitu berulang kali. 

Salah satu yang membuat orang bisa berhenti merokok adalah alasan, latar belakang, motivasi. Motivasi bisa membuat orang melakukan hal yang sulit menjadi mudah, hal-hal yang kelihatan tidak mungkin menjadi mungkin.

Salah satu motivasiku adalah keluarga. Saat pulang ke rumah, di sana ada ayah, yang sudah berhenti merokok selama beberapa tahun terakhir. Beliau tak suka melihatku merokok, meski beliau tak menyuruhku berhenti merokok, beliau hanya mengatakan, “Kurangilah rokok itu, nanti badan terasa lebih enak”. Aku tak terlalu mengerti apa yang membuat ayah dulu secara tiba-tiba berhenti merokok, sementara teman-temannya di lingkungan pekerjaan maupun di sekitar rumah tetap dengan kebiasan merokok. Aku juga tak terlalu mengerti bagaimana caranya beliau dengan serta merta berhenti merokok.

Pernah suatu saat, saat ayah sedang di rawat di rumah sakit, satu ruagn dengannya ada pasien yang dirawat karena kerusakan paru-parunya, yang kelihatan sangat menderita. Ayah mengatakan: “Lihat, itu akibatnya karena kebanyakan merokok.” Lagi-lagi tidak menyuruh berhenti merokok. Akhirnya aku malah berjalan keluar dari gedung, mencari sebuah pojok, dan merokok. Adegan itu tersimpan di benakku dan pada akhirnya menguatkan alasan untuk berhenti merokok.

Setelah motivasi, faktor penting berikutnya untuk berhenti merokok adalah momentum, yaitu kapan kita akan berhenti untuk merokok. Momentum ku datang ketika berhenti bekerja dan memulai kuliah. Berhenti bekerja pada umur dua puluhan mengandung konsekuensi untuk menanggung biaya hidup sendiri berbekal tabungan yang sudah terkumpul.

Kuliah master membutuhkan biaya besar, mulai dari tempat tinggal, transportasi, buku, makan, hiburan dsb. Dengan pola hidup seperti masih memiliki penghasilan, mengerucutnya uang tabungan tetap saja jauh lebih cepat daripada menggelembungnya, hal ini menambah motivasi dan menjadi sebuah momentum yang tepat untuk berhenti merokok.

Akhirnya aku memutuskan untuk mulai berhenti merokok, asbak yang baru seminggu dibeli langsung kusingkirkan. Namun, berhenti merokok ternyata cukup sulit untuk dilakukan dengan serta merta, aku menetapkan dalam hati tidak akan membeli berbungkus rokok seperti biasanya. Akan ku kurangi jumlahnya secara signifikan, jika biasanya sebungkus sehari, menjadi sebatang sehari.

Biasanya keinginan untuk merokok datang paling kuat saat selesai makan, maka setiap kali selesai makan daripada menyalakan rokok, aku mengambil permen. Bermacam jenis permen dengan berbagai warna dan rasa pernah menghiasi meja belajar. Padahal terlalu banyak mengkonsumsi permen tidak baik juga karena dapat merusak gigi.

Merokok juga memiliki hubungan dengan konsentrasi. Semakin rutin dan banyak mengkonsumsi rokok disinyalir akan mengurangi kemampuan berkonsentrasi. Mungkin karena merokok itu adalah kegiatan yang berupa kebiasaan, yang dilakukan dengan menggerakkan tangan tanpa perlu konsentrasi. Sehingga aku mencari cara untuk meningkatkan konsentrasi, dengan menekuni hobi seperti menggambar, menulis dsb.  

Merokok berhubungan erat dengan stress, setiap kali stress hasrat merokok biasa datang. Itulah kenapa kebanyakan orang miskin justru semakin sulit berhenti merokok seberapa mahal pun harganya, karena rokok membantu mengalihkan perasaan stress mereka. Maka aku harus mencari cara mengurangi stress, bisa dengan berbagai hiburan musik, film, buku, dsb.

Untuk membantu konsentrasi sekaligus mengurangi stress biasanya cara yang efektif berzikir, membaca Qur’an secara rutin, serta sesekali membaca Yasin dan Tahlil. Dengan demikian pikiran menjadi lebih tenang, lebih sedikit stress, dan konsentrasi semakin meningkat. Bisa dipakai buat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar dan sebagainya.  

Merokok berhubungan erat dengan pergaulan. Banyak remaja yang memulai rokok dengan alasan pergaulan. Berkumpul dengan perokok akan menyebabkan kita ikut merokok, maka aku kurangi pergaulan. Jika biasanya pada kuliah S1 selesai kuliah segera nongkrong di himpunan melakukan kegiatan apa saja yang ramai-ramai, maka sewaktu kuliah S2 setiap selesai kuliah segera pulang ke rumah, kecuali jika ada ajakan makan siang dari teman-teman.

freedom!
Kesemuanya itu saling bantu-membantu untuk membuatku berhenti merokok. Pada akhirnya, pada hari itu, tanggal 28 Oktober 2010, aku tetapkan sebagai hari behenti merokok, sekaligus untuk memperingati hari sumpah pemuda. Dengan semangat para pemuda yang telah berjuang mempersatukan bangsa aku sepenuhnya berhenti merokok. 

Semua ternyata bisa dilakukan tanpa perlu biaya besar, tanpa perlu konsultasi ke dokter, tanpa perlu menggunakan hipnotherapi, tanpa alat-alat pengganti nikotin. Dan ternyata benar apa yang pernah ayah katakan, bahwa ketika berhenti merokok badan akan terasa lebih enak, lebih tenang, lebih jarang sakit, lebih hemat, aroma mulut lebih baik, dan bermacam kelebihan lainnya. 
Alhamdulillah.