Sunday, November 20, 2011

Sekapur Sirih Pernikahan Sahabat

Boi,
Semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa bersama kita boi.

Berdebar hati awak, ketika sepucuk suratmu itu tiba boi. Telah awak buka surat itu, surat undangan itu yang telah sekian lama kita nanti-nantikan, yang menandai titik baru dalam hidupmu boi. Hari ini, engkau bukan lagi dirimu yang dulu boi, engkau akan mengikat janji, seperti di pilem-pilem dan lagu-lagu itu boi. Seperti teman-teman kita yang terdahulu, dimana kita menghadiri undangannya.

Jika ditanyakan pada awak kapan akan menikah, maka akan awak jawab menunggu Firman. Jika ditanyakan padamu kapan akan menikah, maka akan kau jawab menunggu Wahyu. Sehinggalah dikala itu, di musim kawin yang lalu, terucap juga kutukan dari salah seorang teman kita, kenapa tidak kita berdua menikah saja? Sekarang boi, ketika ditanyakan pada awak pertanyaan itu, apatah lagi jawaban yang bisa awak berikan boi.

Mendadak teringatlah awak pada bermacam pengalaman yang pernah kita lalui, dari pelosok negeri, penjuru sungai, hutan, bukit dan lautan, yang pahit-pahit dan asam-asam, entah kenapa boi, kenangan denganmu jarang terasa manis. Sejak lama kita berteman boi, sejak pertama mendapat seragam merah putih itu.

Kalau saja waktu itu, waktu kita berenang di sungai Auo, berayun dengan akar yang menjuntai, kita terbawa arus yang deras karena konstruksi pada alur sungai, tentu kita telah hilang ditelan zaman boi.

Kalau saja waktu itu, waktu kita bermain bola di lapangan tak berumput, bola yang sedang diam itu kena engkau tendang boi, mungkin engkau sudah akan jadi timnas garuda sekarang.

Kalau saja waktu itu, waktu memancing ikan di sungai kecil di hutan liar di ujung dunia yang kita tempuh dengan berjalan kaki berpuluh kilometer itu kita mendapat ikan boi, mungkin kau sudah akan menjadi seorang nelayan sekarang.

Kalau saja waktu itu, buku cerita yang kita tulis sambil mengabaikan pelajaran berhitung itu tidak ditangkap ibu Liliyanti, mungkin kau sudah menjadi penulis Laskar enam belas sekarang ini boi.

Kalau saja waktu itu, sewaktu mencari buah kemang di pohon tetangga itu kau tidak bertemu Dedek Kusnadi, mungkin pikiranmu tidak akan terganggu seperti ini boi. Bahwa pikiranmu terganggu, sudah lama awak sadar sepenuhnya. Sejak kau bilang akan menjadi presiden untuk menggantikan Pak Harto idolamu itu. Saat itu, kupikir tali enam mu hampir putus boi.

Semua itu boi, hanya sedikit dari kemungkinan-kemungkinan, pilihan-pilihan dan pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui. Meski tak pernah kita ketemu kata sepakat kecuali untuk hal-hal kecil tidak relevan yang berhubungan dengan Dedek Kusnadi yang kehilangan tali enam, Nopi Kohirozi yang perlu mentraktir empek-empek, Ichin dan Andi yang lumayan kribo, Adeks yang perlu mensuplai roti untuk pertandingan catur, serta Arman dsb, tak ada dari hal-hal itu yang esensial. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa engkau adalah salah satu kawan terbaik yang awak punya boi, salah seorang jenius yang awak kenal, tidak salahlah jika engkau menjadi juara umum No.2 seSMP enam belas itu boi. Mari kita asumsikan saja bahwa orang-orang tidak akan menanyakan siapa terbaik no.1 nya..

Sungguh boi, sungguh benar berita yang disampaikan oleh Quran yang kita baca ini boi. Bahwa telah diciptakan pasangan-pasangan untuk segala sesuatu, untukmu pasanganmu. Meski untuk menemukannya pergi juga kau meninggalkan kampung halaman yang jalan-jalannya berlubang sedalam-dalam jurang, yang tanjakannya tidak dihitung oleh insinyur itu boi, menuju kota yang semanis masakan-masakannya ini yang salah seorang penghuninya memikat hatimu. Saat berpamitan, kau kan mencari ilmu, katamu boi. Ternyata selain ilmu ada hal berharga lain yang kau dapatkan, sebuah pembuluh rindu.

Jalin-menjalin dengan waktu, tangan takdir itulah yang telah membawa kita menjadi kita hari ini boi, menjadi engkau, yang sehari ini menjadi raja. Takdir boi, keberadaan kita, keberadaan manusia, sesuatu yang sudah seharusnya tak habis-habis menjadi penyebab rasa syukur kita.

Tentunya engkau sudah hampir lupa pada kutipan dari Hirata (2010) ini boi.. "..betapa memilukan keadaan kami. Dua orang bujang lapuk yang tak mampu berbuat apa-apa selain mengasihani diri sendiri, terpojok di sebuah kamar losmen murahan, di antara kecoak yang berseliweran, gemeretak bunyi tikus, dan gelak tawa para pelaut mabuk di lantai bawah."

Sebentar lagi salah seorang dari bujang lapuk itu akan mengalami transformasi menjadi seorang pemimpin keluarga boi, sungguh bahagia sekaligus sedih hati awak boi, bahagia karena akhirnya satu langkah maju akan kau tempuh untuk membuat hidup lebih bermakna dan sedih karena tinggal seorang saja kini yang terpojok di kamar itu, yang tak mampu berbuat apa-apa selain mengasihani diri sendiri.

Setelah hari ini, tentu awak harus menahan diri dari mendadak muncul di depan pintu rumahmu boi. Untuk segera beredar mencari Syahril yang hilang. Untuk segera meluncur menuju rumah guru mengaji kita. Untuk segera meminta jatah preman dari juragan timah. Atau untuk sekedar mendiskusikan hal-hal remeh seperti relevansi integrasi partisipasi indomi dalam birokrasi dan realisasi desentralisasi. Baiknya saat itu awak nyanyikan saja lagu DLloyd boi, Oh dimana, oh dimana kawan dulu, yang sama berjuang.

Setelah hari ini, kau adalah seorang pemimpin keluarga boi. Awal dari sebuah babak baru dalam kehidupan, hal baru bagimu boi, tentu kau masih harus belajar banyak untuk itu. Caramu mendidik kucing berbulu kuning dengan system militer itu, yang kau tuduh berbulu tapi tidak mau mengaku, dengan kepalan tangan di perutnya, agaknya tidak relevan untuk diterapkan boi. Soal yang satu ini awak pun tak punya pengetahuan, ada baiknya mendengarkan petuah dari ninik mamak dan tuo tengganai di kampung kita.

Ah, sungguh boi, sungguh besar penyesalan awak karena tidak bisa hadir untuk memenuhi undangan ini. Tentulah engkau maafkan awak, karena sedikit banyak ketidakhadiran ini disebabkan oleh satu dan lain hal seperti geografis, sosialis, politis dan ekonomis. Variable-variable itu boi, seringkali berada di luar kuasa kita. Namun, tentulah obat bagi penyesalan ini hanya jika doa dan restu awak bisa sampai:

Agar penikahan ini diberkahi Allah SWT.

Agar keluarga besar yang menyelenggarakannya berbahagia, dan keluarga yang akan didirikan ini menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Yang bisa membuat hatimu tentram, yang penuh cinta dan kasih sayang.

Agar kelak keluarga ini dapat memberlangsungkan keturunan yang sholeh dan sholehah yang membawa kontribusi positif pada bangsa dan negara ini, yang membawa kebaikan bagi umat dan mencegah manusia dari semakin banyak berbuat kerusakan di muka bumi.

Semoga keselamatan dan keberkahan senantiasa bersama kita boi.
aamiin..

Catatan:
Tentunya boleh awak asumsikan bahwa system klakson otomatis berbunyi saat ada wanita cantik di pinggir jalan itu sudah dinonaktifkan dari moda transportasimu..
Satu lagi boi, dengan resmi keluarnya dirimu dan beberapa anggota yang selama ini sangat kontributif bagi Persatuan Bujang Lapuk Nasional (PBLN), maka awak perlu merombak struktur organisasi dan mulai akan memperluas jaringan hingga mancanegara..

Wahyu
Leeds, 20112011.

6 comments:

  1. Anonymous8:12 AM

    speechless.
    congrats deh buat temennya.

    ReplyDelete
  2. hehehe
    thanks atas kunjungannya..
    thanks juga buat ucapan selamatnya..

    ReplyDelete
  3. Tulisan kk sangat-sangat mengingatkan pada Andrea Hirata. I like it

    ReplyDelete
  4. hoo.. jangan-jangan aku harus mengubah gaya tulisan nih.. terimakasih sudah membaca.. :)

    ReplyDelete
  5. bolehkah saya jadi anggota bujang lapuk??walaupun hanya sekedar anggota saya menghargainya..

    ReplyDelete
  6. hahaha kami sambut dengan sukacita dot, kehadiranmu pasti akan berkontribusi positif bagi perkembangan organisasi ini kedepan-kedepannya.. :D

    ReplyDelete