Sunday, May 26, 2013

Euro Trip Barcelona


Hari sudah hampir jam 10 malam ketika kereta dari paris berhenti. Berhenti dimana? Di tempat yang penumpangnya suka, stasiun Barcelona Sants. Kulihat alamat hotel, Ibis Barcelona Molins De Rei, entah dimana itu. Dari Stasiun ini harus naik Metro ke Molins De Rei. Sambil memunggungkan tas, ku songsong udara dingin yang menyergap dari luar.

Seorang ibu-ibu agak gendut agak tua namun masih berusaha seksi yang terindikasi dari tanktop yang dikenakannya telah membantuku menemukan arah menuju hotel. Jalan kaki sepuluh menit, di ujung sana setelah turunan akan ada simpang, ambil kiri dan ambil kanan, maju jalan. Begitu katanya dengan bahasa inggris seadanya. Sambil dia bilang ingin datang ke Indonesia untuk berselancar, surfing di bali. Oke, ibu memang metal, begitu kataku.

Dan, inilah hotel itu. Setulus hati ini mengatakan kamar ini terlalu mewah untuk seorang backpacker yang kesepian, tanpa sanak saudara dan teman untuk berbagi tempat tidur yang double size. Empuk kasurnya membuatku menyesal tidak sedang berbulan madu, berbagi hati.. eaa.. Kamar seharga 50 Euro, setaraf 750ribu rupiah, sebenarnya lumayan murah. 
double bed for a single traveler
Biar tidak menimbulkan skeptisisme publik, bagaimana bisa seorang backpacker tinggal dihotel yang terlalu mewah. Baiklah dijalaskan bahwa hotel ini dibooking tanpa perencanaan, untuk mengganti tiket kereta malam yang ludes di pasaran. Dampak sistemiknya adalah jadwal liburan siang hari di Paris harus diganti kereta siang dan malam tambahan di Barcelona. Malam sudah hari. Segera tidur karena badan menghendaki demikian.  
The view from my window
Esoknya pagi-pagi, matahari tidak terlupa terbit. Aku pun tak lupa untuk check out. Karena kamarku yang sesungguhnya ada di pusat kota Barcelona. Akhirnya tak berapa lama, dengan menunggangi metro, aku sampai lagi di Stasiun Barcelona Sants. Penghuni perut yang berteriak, disumpal dengan chicken wing di McD stasiun, yang harganya murah, cuma 2.5 Euro, yang rasanya enak, ada pedas-pedas krispy begitu. 

Di sana, saat sedang makan chicken wing itu dengan lahap sambil duduk di kursi yang berderet, sadarlah aku bahwa dua orang yang disebelah ini seperti berwajah Indonesia bagian jawa. Khas, tipikal yang hidungnya  tak seberapa mancung, kulitnya tak seberapa gelap, tinginya tak seberapa pula. Maka ku sapa. 

Ternyata memang yang pria orang Indonesia yang sedang mengambil S3 di Paris, dari siapa dia megambilnya? Entahlah. Bahkan namanya pun aku lupa, bisa saja diberi inisial Sukarmanto jika kita suka, karena asalnya dari Surabaya. Sedangkan yang wanita adalah istrinya. Berbincang sejenak sambil makan, si pria memberikanku peta kota Barcelona, memberikan saran-saran mana saja yang sebaiknya dikunjungi. Memberikanku aneka wejangan untuk berhati-hati. Memberiku doa dan jampi-jampi. Sementara yang istrinya memandangi dengan wajah tidak suka, seakan cemburu bahwa Pak Sukarmanto terlalu baik dan terlalu cepat akrab dengan orang tak dikenal. 

Maka aku melanjutkan lagi perjalanan. Sungguh kegiatan berwisata tanpa perencanaan sepertiku ini, yang hanya bermodalkan booking penginapan, tidak patut ditiru dan digugu. Untungnya di stasiun dan pelbagai pelosok kota selalu tersedia tourist information center.

Setelah lagi-lagi menunggangi kereta bawah tanah, maka sampailah diriku di stasiun Passeig De Gracie yang terdekat dengan penginapan. Berjalan beberapa blok melewati jalanan dan pertokoan, sampailah di Barcelona Urban Hostel. Melapor ke resepsionis dan menaiki tangga empat lantai, sampailah di dalam kamar, berjalan melewati beberapa kasur bertingkat dua, sampailah di kasurku yang berada di pojokan. Ternyata satu kamar ini terdiri dari 16 kasur, yang sedang penuh terisi oleh berbagai rupa warna dan kelamin manusia, dari seluruh dunia.

Di kamar ini terdapat loker, itu yang biasanya dipakai menyimpan barang, tetapi tidak ada gemboknya. Sehingga buat menyimpan tas dengan aman agak diragukan. Untuk mendapatkan gembok harus menyewa seharga 2 Euro. Sehingga wajar jika ku tuliskan pesan dalam hati untuk kelak membawa gembok kemana saja akan pergi.

Akhirnya tas backpackerku sudah diikat ke tiang bawah ranjang, diserahkan pada penjagaan malaikat.Setidaknya, jika ada yang mengambil, malaikat akan mencatat.

Ini ceritaku, kenapa pembukaan dan basa-basinya terlalu panjang, mana cerita seputar jalan-jalannya?? Baiklah kita mulai ceritanya..

Jalanan di pusat kota Barcelona ramai seperti tidak biasanya, karena aku tak tau juga biasanya bagaimana. Rata-rata mereka yang berjalan itu bercelana, sebagian lagi ber rok. Tapi tak mengapa, tak mesti semua bercelana. 

Di pinggir jalan itu, diantara pertokoan, terletaklah salah satu karya Gaudi yang terkenal: Casa Batllo maka aku foto dari luar, karena untuk masuk membutuhkan biaya 15 euro.
Casa Battlo
Berjalan lagi ke ujung sana sekitar dua blok, ada lagi karya Gaudi juga yang cukup terkenal juga. Namanaya adalah Casa Mila maka aku foto juga dari luar, karena untuk masuk membutuhkan biaya 15 euro. Teganya mereka menetapkan harga tiket mahal untuk memasuki sebuah gedung antah barantah ini. 

Casa Mila
Kenapa pula antriannya begitu panjang? Emangnya siapa itu Gaudi? Kukira pertanyaan itu akan muncul juga saat menatap bangunan yang berlekuk-lekuk tidak simetris dan warna-warni hiasnya seperti permen itu.
queuing for the ticket
Usut punya usut, cari ku mencari informasi, ternyata Gaudi adalah seorang arsitek kenamaan legendaris dan jenius lintas jaman, tak hanya terkenal pada masanya. Dialah yang mendirikan berbagai bangunan unik di penjuru kota yang sekarang menjadi landmark kota Barcelona. Yang membuat Barcelona juga dijuluki: The city of Gaudi.   

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Sagrada Familia, sebuah katedral “luar biasa” yang saking luar biasanya, sampai saat ini pun pengerjaannya tidak selesai juga.

Maka  berangkatlah aku ke sana, dengan naik Metro ke arah utara, setelah mendapat petunjuk dari sana-sini tentu saja.
The Famous Sagrada Familia
Begitu besarnya Katedral ini sehingga kamera biasa sulit untuk menangkap lebar dan tingginya. Sudah sedemikian luar biasa lebar dan tinggi pun, ternyata bangunan yang tampak ini hanyalah sisi-sisinya saja, sedangkan bagian utama bangunan yang menjulang tinggi ke atas sana belum lagi dibangun. Tak heran di atas sana terdapat beberapa tower crane besar yang seperti sedang akan mengerjakan sesuatu. Namun tak perlu tertipu, sebenarnya tidak ada kegiatan apa-apa. Entah sudah berapa lama Crane ini menganggur di atas sana.
There is only One God
Jadi, sekedar mengulang informasi yang terdapat di buku dan papan inforamsi, pembangunan katedral ini dimulai sejak peletakan batu pertama tahun 1882, lalu arsiteknya mengundurkan diri, yang digantikan oleh Gaudi (31 Tahun) pada 1883 yang mengabdikan hidupnya untuk pembangunan katedral ini sampai buku hidupnya ditutup tahun 1926. Dan Katedral ini pun baru selesai bangunan luarnya saja. Lalu salah satu bangunan terbakar dan semua desain ikut lenyap di dalamnya. Oleh arsitek lainnya, pembangunan terus dilanjutkan sampai sekarang ini. 
the view from the bottom
Sekedar memberikan distorsi, jika Gaudi hidup di masa kini, tentulah dia yang akan bernyanyi dengan irama metal “aku adalah Arsitek! Jreng jreng jreng jreng” bukan grup band yang namanya Koil itu.


tower cranes are available for construction
Untuk masuk sampai ke lantai atas harus membayar lagi-lagi 13 Euro, 16 Euro jika menggunakan lift, sehingga dengan berat hati aku hanya berhasil memasuki bagian lantai dasar tempat biasa orang-orang beribadah.
Miniature of the whole finished cathedral
Motif dan ukirannya pun aneh-aneh. Lihatlah itu patung penyaliban yang dibentuk berwajah kotak. Sungguh aneh selera Gaudi ini, yang katanya ingin membuat bangunan yang bersahabat dengan alam luar dan dalam. 
The strange design by Gaudi
Di bagian luarnya bisa dilihat dari aneka macam reptile katak, buaya, jerapah yang menjadi ornament penghias fasad bangunan. 
snakes, lizzards, frogs ornament
Di bagian dalamnya seperti hutan dengan atap dedaunan tinggi yang disangga oleh tiang-tiang seperti pohon. Berbagai patung yang juga unik menggantung di sana sini. Saat itu, para biarawati sedang menyanyikan lagu rohani. Aku hanya bisa mencermati irama syahdunya tanpa mengerti artinya sambil berjalan keluar. 
the statue of Mary
Di dekat pintu masuk ke stasiun bawah tanah metro itu, bersandar di pagar pembatas, seorang wanita yang sedang berciuman mesra dengan.. wanita lainnya. Mungkin kata mesra kurang cukup mewakili, karena “buas”, “panas”, lebih sesuai untuk situasinya.


kissing ladies
Aku hanya melongo, menelan ludah.. merasa peranku sebagai pria di muka bumi ini tidak lagi dihargai, sehingga wanita lebih memilih wanita lainnya untuk bercumbu. Dan lagi, kenapa melakukannya di tempat yang ramai ini, apakah ini bagian dari objek wisata katedral ini. Maka, kuabadikan saja sambil melangkah menuruni tangga, menuju karya Gaudi selanjutnya.. 

*****

Monday, May 06, 2013

mimpi ikan


Pagi tadi aku mimpi. Mimpi apa aku pagi tadi? 

Aku mimpi berenang, berenang menghindari kejaran. Kejaran entah siapa, aku pun lupa. Tapi tidak sendirian aku berenang, berenangnya bersama kawan-kawan, ada dua orang. Siapa mereka? Aku sudah lupa pula, padahal dalam mimpi mereka begitu nyata.

Berenangnya itu pun belum tentu tepat disebut berenang, itu seperti ikan yang hidup di air. Airnya air sungai, sungainya mengalir. Untuk menghindari kejaran, kami bertiga harus menerjunkan diri ke dalamnya, dan lagi di dalam sungai pun kami masih tetap akan dikejar, karena mereka yang mengejar bisa berenang juga.

Maka kami mengubah diri, mengubah diri jadi bisa menyelam dan jadi bisa hidup di dalam air, yang salah satu cirinya itu bernafas. Entah jadi apa kami itu, ukurannya kecil seukuran jempol tangan, punggungnya bulat agak keras, yang jelas kami di dalam air itu bersama ikan-ikan, mungkin seperti anak kura-kura kecil, kecil sekecil jempol, atau sebesar jempol apabila jempolnya kebetulan besar.

Perubahan itu cukup terasa menyakitkan, harus beberapa kali kami berubah. Dari air kami kembali ke darat, lalu naik, ternyata keadaan belum aman benar, sehingga melompat lagi ke dalam air, ada tiga kali keluar masuk ke air. Saat itu rasanya seperti akan tenggelam, namun harus menguatkan diri bahwa kami bisa berubah. Maka kami mulai menciut. Saat itu rasanya seperti tidak bisa bernafas, tapi harus menguatkan diri bahwa ikan saja bisa bernafas. Maka kami mencoba bernafas dan ternyata memang bisa. Lama-lama bernafasnya berasa nyaman. Lama-lama melayang, melihat aneka ragam ikan. Para pengejar pun tak bisa menangkap kami, karena kami hilang jadi mahluk air yang dia tak mengerti.

Kami terus berenang, meliuk-liuk ke kiri kanan bersama ikan. Lewat dari air terjun yang jatuh dengan deras. Sampai akhirnya kami sampai di suatu tempat, naek ke daratan. Entah dimanapun itu, yang jelas masih di dalam mimpi. 

Di sana, ada kuburan yang dibongkar. Yang membongkar mengambil beberapa lembar kertas dari sosok yang terbaring itu yang pakainnya seperti drakula. Menyuruh anak buahnya membereskan, lalu dia pergi sambil menyimpan kertas itu dibalik mantelnya, lalu kuikuti. Aku tau dialah penjahatnya, dan akulah tokoh utama yang baik hatinya. Bukan karena mukanya yang sangar dan mukaku yang ganteng, tapi karena ini aku yang sedang bermimpi. Kami bertabrakan di tengah suatu jalan setapak itu. Saat bertabrakan itu, kuambil kertas dari balik mantelnya.

Kertas itu lalu kugabungkan bersama sebuah buku, buku apa itu, buku catatan Leonardo Da Vinci. Ternyata itu adalah beberapa lembar yang hilang dari catatannya terkenal itu, yang berisi tulisan dan gambar-gambar yang sedang dia teliti, yang sudah diterbitkan.

Lalu aku bertemu kakek itu, kakek Leonardo Da Vinci, dia kan sudah tidak ada, hidupnya di abad ke 15, bagaimana bisa ada dia bertemu aku. Tidak jelas, karena ini mimpi. Lalu kuberikan buku itu kepadanya. Mungkin di sinilah mimpi berakhir, karena aku tak ingat kelanjutannya. Teman ku sudah tidak ada, entah pergi kemana, mungkin kembali ke mimpinya sendiri.

Mencoba sedikit interpretasi seperti di tafsir mimpi, seperti psikoanalisanya Sigmund Freud, ada beberapa potongan dan elemen terpisah dari pengalamanku yang mendadak bergabung terlibat dalam mimpi ini. Karena waktu kecil aku suka bermain dan berenang di sungai, karena beberapa waktu lalu aku menyelam di laut dan melihat ikan-ikan, karena seharian kemarin aku membaca buku biografi Leonardo Da Vinci, karena malam tadi aku nonton film dokumenter national geographic test your brain, yang mengajarkan cara mengambil barang dari kantung orang lain tanpa diketahui. Namun aku tak tau, apakah ada sesuatu yang sedang mengejarku? Ini semua, hanya mimpi. Mimpi yang membuat tidur jadi lebih dari sekedar istirahat. 

Friday, April 19, 2013

Euro Trip, Paris: Kota para artis 3

Dalam kehidupan manusia nan fana ini, ada yang namanya alam ide dan ada dunia nyata. Sewaktu-waktu ide itu begitu mendesak untuk diwujudkan ke dunia nyata, namun dengan segala kekurangannya terkadang manusia memilih untuk menyerah, membiarkan ide tetap di alam ide.

Metro di Paris
Saat itulah, di dalam metro yang menuju hotel aku berbuat realistis, tidak ingin membuat perkara yang berpotensi membahayakan diri yang seorang diri di negeri antah barantah ini. Aku perlahan beringsut dari tiang di pertengahan gerbong menuju sebuah pojokan dan menyender melanjutkan perjalanan pulang ke hotel. Si lelaki yang kukira adalah pencopet tidak akan mendapatiku dalam jangkauan pandangannya. Aku hanya memperhatikan dari jauh, melihat ke sekeliling beberapa orang yang asyik membaca, melihat peringatan di dinding yang mengingatkan “Pickpockets operate in this area” atau "attention aux pickpockets".
Peringatan mari mencopet
Adakah sebuah kemungkinan, bahwa ketika membaca tulisan itu, beberapa orang justru akan reaktif untuk mulai meraba kantong tempat dompetnya berada memastikan bahwa dompetnya masih ada di situ, dan oleh karena itu memudahkan pencopet juga untuk mengenali dimana dompet sasarannya berada.


Kurang lebih suasana di dalam metro
Keluar di stasiun dekat hotel dengan selamat, jalanan ramai dengan orang-orang yang mencari hiburan yang sedang menuju bar, kulihat ada antrian untuk sebuah pertunjukan teater. Perut mulai terasa lapar. Pilihan untuk makan yang tersedia adalah McD, kebab yang berlogo halal, atau restoran prasmanan cina dengan menu seafood yang banyak tersebar di pelbagai kota.  

Kebab halal yang pekerjanya berbahasa Indonesia
Ketika mampir ke semacam kebab, Le Plaisir Indien, yang membuatku terkejut adalah petugasnya tiba-tiba menyapa.
“Apa kabar? mau makan apa?”
Melihat petugasnya yang berhidung mancung, berkulit legam ala India. Agak lama kurenungkan, apa mungkin India dan Indonesia bahasanya sama..
“Kari kambing dengan nasi, itu 7 euro kan?” kataku.
“Yes brother, Indonesia ya.” 
Lalu diambilkannya nasi guri, setumpuk kari kambing serta sayuran jagung wortel dan buncis dengan porsi yang sangat besar, mungkin baginya aku terlihat sangat kurus atau begitu kelaparannya sehingga harus diberikan porsi sedemikian besar.
“Mau tambahan chili?” Tanyanya kemudian. Kupikir itu semacam saus sambal yang dimaksud, ternyata yang ditambahkannya adalah beberapa cabe rawit besar utuh. Mungkin anggapannya orang Indonesia suka begitu saja makan cabe rawit.. Sut diusut, ternyata Bapak satu ini dulu pernah tinggal lama di Malaysia, dan sesekali mengunjungi Indonesia. Senang hatiku, di tempat yang jauh ini ada yang berbuat ramah mengajak ngobrol dengan bahasa Indonesia, biarpun masih terbata-bata. 


Di hotel, setelah mandi, aku duduk di lobi yang cukup nyaman untuk bermain internet. Saat itulah tiga orang pemuda yang wajahnya kelihatan seperti orang Indonesia check in di hotel. Ku perhatikan dengan seksama, selesai check in, kutegur dengan tanpa ragu bak preman tanah abang menemukan sasaran untuk dipalak.
“Woi! Indonesia ya?” tanyaku. Tepat sekali dugaanku bahwa mereka memang benar orang Indonesia.
 

Kami berkenalan. Ternyata mereka bertiga adalah mahasiswa S1 dari Australia yang baru datang dari Barcelona dan akan menginap semalam di Paris. Malangnya, salah satu dari mereka baru saja kehilangan tas kecil beserta isinya dompet dan paspor di Barcelona, mungkin kecopetan. Peristiwa pencopetan itu bisa berdampak sangat buruk bagi seorang mahasiswa, ada banyak kasus mahasiswa yang kuliah di UK, lalu kehilangan Paspor saat sedang berpergian ke Eropa, lalu ditolak saat hendak kembali ke UK. Alhasil harus di deportasi kembali ke negaranya. 

Kembali ke Paris, malam ini ada pertunjukan kembang api di dekat menara Eifel, tiga turis baru ini akan ke sana, karena letih habis berjalan seharian aku memutuskan untuk tidur saja. 

Salah satu objek wisata yang sepertinya harus dikunjungi di paris adalah istana versailles dan tamannya yang terkenal sangat indah itu, tetapi letaknya termasuk di luar kota, sehingga aku ragu apakah bisa menyempatkan diri ke sana dengan jadwal kereta ke Barcelona jam 1 siang. Maka setengah hari ini, mungkin hanya sempat mengunjungi objek yang dekat seperti katedral Notre Dame yang terkenal itu.

Bersama tiga pemuda Indonesia traveler dari Australia ini akhirnya kami berjalan menelusuri sungai Seine menuju katedral. Pedagang kaki lima menjajakan berbagai cendramata dan oleh-oleh. Kapal-kapal wisata berlalu lalang menelusuri aliran sungai, melewati bagian bawah jembatan.

Tur menelusuri sungai Seine
Tak ketinggalan, kami pun harus berfoto di atas jembatan. Entah kenapa jembatan sering sekali menjadi objek untuk berfoto di belahan bumi mana saja.
Bersama pelajar dari Ausie
Saat katedral Notredame itu kelihatan dari kejauhan kukatakan pada mereka:
“Itu katedral, tempat si orang bungkuk buruk rupa yang menolong si wanita cantik.” Ceritaku, mengutip kisah the hunchback of notredamme.
“Oh iya kah, kok gw ga tau?” sahutnya.
“Iya, itu dari cerita terkenal karangan victor hugo. Itu loh, yang ngarang cerita legendaris les miserables”
“Kok gw ga tau juga..” 
Aku hanya garuk-garuk tembok, kesulitan menjelaskan persoalan sastra kepada para mahasiswa Australia.
Di depan katedral Notredamme
Hari minggu begini, antrian begitu panjang untuk memasuki katedral. Tapi untungnya gratis, sehingga meskipun panjang, tetap saja kami rela mengantri. Bagian luar katedral dipenuhi oleh patung-patung, beberapa terlihat aneh. Di bagian atas sekali, berjejer patung-patung orang suci, mungkin itu patung 25 nabi dan rasul.

(mungkin) rasul rasul di facade katedral

Di bawahnya, terdapat pintu gerbang yang agak sedikit nyentrik. Yaitu pintu the last judgement day, pengadilan terakhir. kelihatannya yang di kiri yang amalannya cukup, sehingga wajahnya mendongak dan sumringah sedangkan yang di kanan yang amalannya sedikit, sehingga wajahnya tertunduk lesu. Kenapa jadi kebalik kanan jahat kiri baik ya?
Pintu pengadilan terakhir
Di dalamnya, ada lilin dimana pengunjung bisa menghidupkan lilinnya sambil berdoa. Seorang wanita cantik menghidupkan lilin yang dilanjutkan dengan berdoa, sambil dia berdoa, sambil kami mengamati wajahnya yang syahdu.


seorang wanita menyalakan lilin
Lalu pengunjung bisa berkeliling, melewati aneka lukisan bertema rohani yang terpajang di kiri kanan lorong. Beberapa lukisan memperlihatkan nuansa kesedihan dan horror, penyaliban yang dianggap sebagai Yesus yang berdarah-darah, banyak juga lukisan bunda maria, dsb. Sementara di tengah tengah berlangung kegiatan, entah misa atau kebaktian atau apa gitu. Dengan turis-turis berjalan melewatinya.

Melewati orang-orang yang sedang ibadah minggu
Mungkin menghabiskan sekitar satu jam lebih untuk antri mengelilingi katedral. Karena jam menunjukkan pukul 11, maka aku harus segera pulang, kembali ke hotel dan ke stasiun Gare du Lyon untuk mengejar kereta.
 

Satu hal yang kusesali adalah tidak sempat melakukan kunjungan ke univeristas Sorbonne yang terkenal itu, yang oleh Andrea Hirata dianggap sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Padahal jaraknya hanya beberapa blok saja dari stasiun metro St Michel yang dekat Notredame ini. Sungguh menyesal aku terlupa untuk berkunjung ke sana sekedar berpose di altar ilmu pengetahuan..
 

Sambil membawa bekal nasi seafood dari toko cina, aku mengejar kereta menuju Barcelona. Sayang sekali bahwa tiket kereta malam sudah habis, sehingga harus berangkat siang, sehingga tak bisa mencicipi kereta yang memiliki kompartemen berisi tempat tidur.


Menu makan siang hemat dari toko cina
Di dalam kereta, kekecewaanku karena mendapati warga paris yang tak begitu bersahabat sirna begitu duduk sebangku dengan seorang wanita cantik nan baik hati ini. Dia kelihatan lincah memimpin rombongan anak-anak SMP yang sedang akan berlibur ke Barcelona. Bersamanya ada seorang pria bertubuh kekar, bertampang sangar yang tadinya kupikir pacarnya atau suaminya. Begitu gadis ini duduk di sebelahku, menjadi terbuka kemungkinan untuk bertanya.
 

Biasanya basa-basi dimulai dengan pura-pura bertanya sesuatu yang tidak esensial. Semakin kompleks sesuatu pertanyaan itu, semakin panjang kemungkinan percakapan yang akan terjadi. Maka aku pun akan berpura-pura bertanya dengan pertanyaan sulit seperti: “Excuse me, I’d like to know whether you are aware of where to find a male cat with three colours here in Paris?” mengingat minimnya kemungkinan untuk menemukan kucing jantan belang tiga itu dari perhitungan genetis, tentu diskusi yang akan terjadi diantara kami akan alot dan berbau ilmiah. Namun pertanyaan itu tak keluar dari mulutku, berganti pertanyaan sederhana ini. 
“Can you speak English?”
“Yes, I speak english a bit.”
“Ooh.. glad to meet someone who speak English here in Paris”


Lalu jadilah kami berkenalan, brol diobrol-obrol, dia bercerita tentang dirinya dengan bahasa inggris yang lancar. Namanya Morgan, dia berasal dari sebuah kota kecil di luar Paris, dia menyelesaikan gelar sarjananya di bidang ekonomi di universitas di kotanya. Katanya biaya kuliah di Sorbonne sangat mahal, sehingga dia tidak sangguh kuliah di sana. Lalu setelah selesai kuliah dia mulai bekerja sebagai pekerja sosial, semacam NGO yang beroperasi di daerah-daerah di Afrika. Sekarang dia sedang bekerja di sebuah agen wisata di Paris yang menyediakan paket liburan berkemah di sekitaran Eropa. Dia sedang membawa rombongan anak-anak SMP liburan ke Barcelona. Dengan berat hati, akhirnya dia juga menceritakan tentang pacarnya yang sedang bekerja di Spanyol.

Saat kubilang bahwa dia sangat mirip Julie Delphy, dia bilang bahwa tidak tau siapa itu Jule Delphy. Padahal sepertinya artis satu ini, yang bermain di Before Sunset yang settingnya di Paris itu cukup terkenal. Mungkin aku yang tak benar melafalkan namanya, karena pengucapan bahasa perancis memang rada-rada.. rada ga jelas. Tapi emang mbak satu ini cukup mirip dengan si Julie Delpy, dari sisi penampakan mandirinya, kegiatannya yang bersifat sosial, dsb. 

Remaja-remaja putri yang dibawanya melirik ke arah kami saat kami melanjutkan ngobrol ngalor ngidul, beberapa diantara mereka tertawa-tawa, salah satunya yang matanya bersinar berwarna kehijauan. Kubilang pada si Morgan, bahwa mata gadis kecil itu cantik..
Gadis bermata biru campur hijau
“She has a beautiful eyes, I’d like to capture the beauty.. and you, you have a beautiful smile” kataku, menerapkan gombalan ala bujang lope melayu. Gadis ABG berambut pirang itu bersama teman-temannya tertawa-tawa sambil sesekali melirik kami, matanya memang hijau kebiruan.
 

Seperti perpaduan langit di luar sana, dengan hamparan hijau perbukitan dan padang rumput di sepanjang jalan menuju Barcelona..