Sunday, September 04, 2011

tentang rasa

Sekali ini agak berat juga hal yang ingin kuceritakan. Membicarakan tentang rasa, tentang cinta, betapa rumitnya topik ini. Rasanya lebih baik membicarakan tentang filosofi, teologi, atau sustainable transportasi daripada yang satu ini. Kenapa menjadi berat? Karena membicarakannya membuat kita harus melihat jauh ke dalam-dalam hati, ke salah satu ruangnya yang penuh dengan kenangan, atau ke ruang lainnya yang penuh dengan harapan, serta ornamen-ornamen kepedihan dan kebahagiaan yang mengisinya. Seringkali hati berbicara dengan cara yang berbeda dengan pikiran, sehingga telah habis pun kemampuan otak yang kecil dan terbatas ini untuk memikirkannya, tak keluar juga solusi yang memungkinkan.

Mungkin, itu sebabnya aku belum menikah, belum punya tunangan, dan lebih parahnya tak punya pacar sekarang ini. Karena belum ada sinkronisasi pikiran dengan hati. Mungkin juga aku sendiri yang memperumit masalah yang seharusnya sederhana ini. Seiring waktu, semakin banyak undangan pernikahan datang, satu persatu teman-teman meninggalkan.

Sehingga suatu waktu, terjadi percakapan imaginer di pikiranku antara Pinky yang polos dengan Brain yang jenius, tokoh kartun favorit sewaktu kecil.

Pinky: Sebenarnya, ada masalah apa sih Brain, sehingga kita belum bisa pasang foto bayi di facebook? 
Brain: Kita terlalu sibuk ingin menguasai dunia Pinky.
Pinky: Sebenarnya, buat apa sih Brain, kita menguasai dunia?
Brain: Buat dipersembahkan kepada pujaan hati kita Pinky. 
Pinky: Sebenarnya, yang mana sih Brain, pujaan hati kita?
Brain: Yang perlu kita kasih dunia, baru bisa kita kuasai Pinky.
Pinky: Sebenarnya, ada ga sih Brain, yang bisa kita kuasai tanpa perlu kita kasih dunia?
Brain: Pertanyaanmu itu keluar dari konteks Pinky.
Pinky: Jadi, apa rencana kita malam ini Brain?
Brain: Sama seperti malam-malam sebelumnya Pinky, mencoba menguasai dunia!
Si Pinky Si Pinky dan si Brain Brain Brain Brain..

Yah, ga semua orang bisa menangkap isi dialog ini. Mungkin aku juga yang terlalu berbelit-belit. Sebenarnya ini adalah sebuah sindiran yang diungkapkan dengan sedikit citra rasa humor satire yang menunjukkan perasaanku, betapa aku sudah ingin membangun keluarga, lalu betapa sulitnya menemukan pasangan yang tepat, lalu kebiasaan atau keinginan yang menekankan pada aktualisasi diri sebelum berani menikah, pada sebentuk pencapaian, serta tujuan hidup yang seperti tujuan akhir tapi sebenarnya hanyalah tujuan awal dan kadang tak relevan.

Sebenarnya aku mungkin sudah akan telah berkeluarga sekarang ini, jika saja waktu itu tidak putus dengan seorang yang ku cinta. Seorang pembaca garis tangan yagn tak terpecaya pernah mengingatkanku, untuk tidak menikah sebelum berumur dua delapan, karena dia melihat ada perpisahan atau perceraian, aku waktu itu tidak mempercayainya. Lalu ternyata dua tahun lalu aku kehilangan kekasihku untuk orang lain, dan beberapa bulan kemudian kehilangan ayahku untuk selamanya. Kehilangan dua cinta yang besar, yang membuat ruang-ruang hatiku terluka, yang mengubah arah hidupku, sehingga aku tertatih-tatih untuk merangkai mimpi yang baru. Kupikir saat itu, akan sulit bagikku untuk menemukan cinta yang baru, ya ternyata memang begitu.

Mungkin permasalahan pernikahan ini akan menjadi lebih sederhana jika sekarang adalah zaman siti nurbaya. Dimana yang kita lakukan adalah belajar mencintai setiap hari. Belajar menemukan kebaikan-kebaikan kecil dari pasangan kita untuk bisa dicintai, belajar menerima kenyataan. Tidak kita serahkan kehidupan keluarga pada cinta eksotis yang rapuh, yang seringkali gagal seberapapun kita ingin mempertahankannya. Namun sayangnya sekarang bukan zaman siti nurbaya, sehingga harus kita temukan sendiri pasangan sejati kita.

"Dunia ini rupanya penuh dengan orang yang kita inginkan, tapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya. Kurasa itulah postulat pertama hukum keseimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat." (Andrea Hirata, 2009)

Betapa tidak romantisnya kata-kata di atas, mengungkapkan betapa sulit untuk menemukan pasangan yang tepat, setidaknya buat sebagian orang, salah satunya adalah tokoh dalam cerita Andrea Hirata, salah satunya adalah aku. Mari definisikan tepat itu sebagai saling mencintai dengan sepenuh hati hingga berani memutuskan untuk hidup bersama selamanya. Kenapa itu menjadi sulit buatku? Agak sulit juga buatku untuk jatuh cinta, sehingga aneh juga jika suatu waktu justu harus jatuh cinta pada orang yang sudah punya kekasih. Selain itu, tentunya agak susah juga menemukan yang bisa mencintaiku. Oke oke, mari anggap wajahku yang tidak dalam standar ganteng bukan sebagai variable yang berpengaruh. Tapi agak sulit juga menemukan orang yang siap menerimaku seperti ini, sifat yang keras kepala, perilaku yang sering tidak sesuai standar kebanyakan, pemikiran yang non linear, ditambah lagi salah satu variable yang mungkin berpengaruh adalah belum mapan. Jika ternyata ada kamu di luar sana yang jatuh suka padaku, mari kita sederhanakan permasalahan dengan kembali pada teorema empiris andrea hirata di atas.

Keberanian. Itulah kenapa salah satu yang kebanyakan orang kejar adalah karir, pencapaian, aktualisasi diri. Itulah kenapa orang ingin menguasai dunia, mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit, demi memiliki keberanian untuk bisa datang ke rumah seseorang, dan meminta anak gadisnya. Itulah yang kulakukan, dulu, tapi itu salah.

Sekali waktu ditengah-tengah kegiatan sehari-hari, timbul juga pertanyaan, yang mempertanyakan makna? Apa yang dicari dalam kehidupan? Standar apa yang membuat orang berbahagia dan tidak bahagia dalam hidup? Apa harus seperti Epicurus yang menyamakan kebahagiaan dengan kepuasan, atau seperti Betham yang menemukan menghitungnya dengan menjumlahkan kesenangan dan kesedihan, atau seperti Budha yang meraih dengan melepas keinginan, apa sepeti Al Ghazali yang menyerahkannya tidak untuk kehidupan dunia? (1). Ataukah itu hanyalah seperti burung. Lihatlah keluarga burung yang sedari pagi sudah terbang jauh mencari makan, tidakkah dia akan pulang sore hari menuju sarang, untuk memberi makan anak-anaknya, untuk memberlanjutkan kehidupan generasi penerusnya. Dan untuk tujuan yang sederhana itu, yang dilakukannya setiap hari sambil bernyanyi, burung menjadi salah satu yang mempercantik kehidupan.

Pulang. Sekali waktu kutanyakan juga pertanyaan itu, seperti burung yang memiliki sarang, kemana aku pulang? Kepada hati siapa hatiku merasa tenteram? Kepada siapa akan kuceritakan hari-hari? Kepada siapa akan kuceritakan mimpi-mimpi? Apakah kepadamu? 

Tentunya hanya sekali waktu kutanyakan pertanyaan itu, yaitu saat aku melihat ke dalam hati, ke dalam ruang-ruangnya yang telah ditinggalkan. Selebihnya biarlah hari-hari seperti hari-hari yang biasa. Yang akan kita lalui dengan berseri seiring ketukan sinar matahari pada jendela, yang akan kita tutup dengan selimut malam dan penjagaan bulan. 

Suatu saat nanti, ketika waktunya sudah tiba, kita akan damaikan pikiran dengan hati. Ketika waktu itu tiba, kita akan membicarakan tentang rasa, dengan nada yang bahagia. 

Ref:
(1) Schoch, Richard. 2008. The Secret of Happiness. Hikmah. Indonesia.

Sunday, August 28, 2011

puasa di UK

Sing: lebaran sebentar lagi, lebaran sebentar lagi..
Oh, ternyata lebaran sebentar lagi, sama artinya hari-hari berpuasa juga tinggal sebentar lagi. Puasa di Inggris Raya, khususnya di Leeds ini penuh dengan romantika masa muda yang berbeda dengan puasa di Indonesia.

Yang paling berbeda adalah waktunya, berhubung saat ini daerah Eropa sedang mengalami musim panas maka siang lebih lama daripada malam. Mmm.. mungkin kalimat di atas tak begitu tepat, kemungkinan besar, poros bumi yang miring 23.5 derajat terhadap bidang ekliptika mengakibatkan perubahan musim sepanjang tahun dan perubahan lamanya siang dan malam di berbagai belahan bumi. Saat ini, posisi bumi dalam gerak revolusinya membuat matahari lebih banyak menyinari bumi bagian utara, sehingga bagian utara khatulistiwa mengalami musim panas dan waktu siang yang lebih lama. Jika dilihat dari bumi, perubahan posisi matahari ini dikenal dengan istilah gerak semu tahunan matahari, matahari saat ini terlihat berada di rasi bintang cancer. Berbahagialah kamu yang berzodiak cancer, meskipun tidak cocok dengan air. Tentunya selain pelajaran zodiak kita perlu mengingat sedikit pelajaran geografi? (padahal googling). Cukuplah untuk hal rumit ini, yang penting pada intinya sekarang siang di Leeds mencapai lebih dari 12 jam, yang mana waktu berpuasa menjadi lebih dari 17 jam. 

Leeds City Center
Bagaimana rasanya berpuasa di musim panas seperti ini? Bagaimana berpuasa dengan waktu yang jauh lebih lama daripada di Indonesia, rasanya berbuka puasa menjelang pukul Sembilan? Rasanya.. aku sekaraat.. oke oke ini terlalu berlebihan. Ternyata apa yang disebut musim panas oleh orang-orang kebanyakan ini tidaklah sepanas itu buat orang-orang dari Indonesia, yah, buat kami-kami ini. Bahkan ini adalah musim dingin yang buruk. Suhu udara berkisar di 15 derajat saja. Angin yang sangat dingin bertiup dengan kencang dan terkadang dengan kejamnya menusuk-nusuk muka. Disaat penduduk lokal mengenakan pakaian musim panas dan bergelimpangan di taman untuk mendapat sinar matahari, jika kamu melihat ada sekelompok orang yang memakai seragam musim dingin, tentu itulah kami yang dari Indonesia ini, yang sukses mengalami culture shock.

Namun demikian, dengan waktu siang hari yang panjang bukan berarti lebih berat untuk menahan lapar, tidak seperti di Indonesia yang panas membakar kulit membakar lemak sehingga orang cepat merasa lapar dan haus. Di sini justru cenderung tidak begitu terasa lapar dan haus, biasa aja gitu. Agak susah dipahami juga sih apa istilahnya dalam ilmu kedokteran modern.  

Namun demikian, bukan pula berarti puasa berjalan semulus itu kawan. Banyak godaan yang lebih menantang ibadah puasa kita, kalau tidak mau dikatakan mengalahkan. Ada orang-orang bule jenis kelamin wanita seperti di film-film barat yang berambut blonde atau biru dongker yang menyambut riang musim panas dengan pakaian yang lebih terbuka lebar (mungkin bisa dicatat bahwa setelah kata terbuka itu masih ada kata lebar), juga ada orang-orang cina yang menuruti perilaku sama. Dan ada kami orang Indonesia yang berpuasa yang harus menahan pandangannya. Dilematis antara ingin melihat tapi tidak boleh yang kadang-kadang keliatan juga itulah yang membuat puasa lebih berat, terutama jika dijalani di luar rumah atau saat sedang belanja keliling city center. Yah, semoga saja masih ada pahala yang bisa dipetik.

Jika tiba waktunya berbuka, kemanakah mencari tajil? Ternyata salah satu fakta yang sangat penting untuk dipelajari sebelum berangkat ke inggris adalah: tidak ada yang berjualan kolak pisang, tidak ada tukang bubur kacang ijo atau es shanghai ditambah tidak ada nasi di warung KFC. Alhasil kami harus mempersiapkan sendiri aneka hidangan ala nusantara.

Sungguh baru disadari bahwa ibu yang memasak adalah pahlawan sesungguhnya dari keberlangsungan peradaban. Karena dialah yang telah mengelola berbagai bahan yang tak jelas entah apa  namanya, menjadi hidangan istimewa yang bisa disantap bersama keluarga, yang jelas namanya apa, yang membuat orang terbebas dari rasa lapar dan haus, sehingga Bapak bisa bekerja, anak bisa sekolah, dan petani bisa mengolah sawah. Sehingga Bapak bisa pulang membawa uang, petani bisa memanen padi, dan anak bisa menjadi bermasa depan cerah. Sehingga mereka bisa membeli bermacam bahan yang tak jelas namanya apa untuk dibawa kembali ke dapur, ke hadapan seorang ibu yang mulia, yang akan memasaknya lagi. Demikianlah siklus hidup hidangan istimewa di meja, tanpa seorang ibu yang memasak, tak berjalanlah siklus itu, tak berlangsunglah peradaban.

apapun masakanya..
Belum menemukan ibu yang tepat untuk calon anak-anak, jadilah di Leeds ini pengalamanku memasak untuk yang pertama kalinya. Saat siang hari, browsing menu di internet, lalu sore hari di praktekan. Tentunya memasak ini tidak dilalui sendiri, ada tiga orang rekan lainnya yang disatukan karena kepentingan yang sama: masakan ala Indonesia. Tersebutlah seorang Gom, tidak bisa diandalkan, karena citra rasa lidahnya tidak bisa mengenali rasa lain selain rasa pedas. Pernah suatu ketika, disuruh mencicipi sayu bayam, dan ditunggu komentarnya karena dia satu-satunya yang tidak puasa. Maka jawabnya:
“Kurang pedas.”
Ditambah persepsinya yang sangat salah kaprah, bahwa masakan itu berasal dari kata masak yang sama artinya dengan matang, yang implikasinya apabila sesuatu sudah direbus hingga matang itu artinya adalah sudah masak.

Tersebutlah seorang lainnya bernama Kiki, juga tidak bisa diandalkan. Orang yang gagal mengenali keberadaan daging babi pada roti karena mementingkan kuantitas dengan seharga satu pound padahal diluar dekat label harga sudah ada tulisannya PORK sausages tentunya perlu dicurigai kapabilitasnya. Persepsinya tentang masakan adalah mengandung nutrient yang lengkap, serta berharga murah, tak ada juga unsur rasa di sana.

Tersebutlah seorang lainnya, kali ini berjenis kelamin wanita, yang juga tidak bisa diandalkan, bernama Andin. Sebenarnya orang ini cukup bercitra rasa, bisa mengenali makanan yang enak, dan menyukai seni kuliner. Namun, moodnya untuk memasak setipis embun pagi, sekali waktu antusias untuk memasak dan di banyak waktu tak punya minat sama sekali. Dan sekalinya memasak, yang terlihat cekatan dan mengagumkan, bolehlah ditanyakan “wah, sering ya masak ini?”
“Ngga, ini pertama kali.”
Dan tentunya, menjadi kelinci percobaan agak membahayakan keberlangsungan generasi penerus bangsa.

menu maksimal
Itulah kombinasi tidak sempurna yang saling melengkapi untuk menyiapkan menu buka puasa kami. Tentunya tak boleh berharap terlalu banyak hidangan, selain ada nasi, segoreng-dua goreng ayam, dan sedikit tumis. Tumis, itulah menu andalan kami, sangat sederhana, karena hanya membutuhkan sedikit bawang putih, bawang merah, tambah irisan cabe, tambah goreng teri yang dipadu menjadi satu dalam wujud tumis. Kombinasi yang membuat seorang Spanyol entah siapa namanya terbatuk-batuk parah sampai mukanya merah karena kepedasan oleh aromanya. Katanya:
 “What kind of evil things do you cook? I’am dyiiiing…”

pengumuman
Syukurlah, hari-hari puasa bisa berlalu dengan lancar, hingga sepuluh malam terakhir. Saat reportase ini dibuat, tiga hari lagi menjelang lebaran. Di papan pengumuman tertera undangan untuk pesta, yang katanya dilengkapi dengan tarian ala amerika latin, Cha Cha, Tanggo, Salsa atau apapun itu namanya, kurang paham juga. Sementara di masjid Grand Mosque diumumkan ajakan untuk membaca Quran bersama dalam rangka menyambut kemungkinan datangnya malam Lailatul Qadr, malam yang istimewa yang seperti seribu bulan. Perpaduan informasi ini agak sulit juga untuk dikombinasikan. Agak susah dibayangkan jika pada malam ke-27 ini, ternyata adalah malam Lailatu Qadr dimana ribuan malaikat yang dipimpin oleh malaikat Jibril turun kebumi membawa berkah untuk manusia yang sedang beribadah, salah satu malaikat mungkin akan melihat satu orang Indonesia yang sedang menari Salsa di salah saty bar. Lalu malaikat itu mungkin akan mencatat amalnya sebagai menari salsa selama seribu bulan. Agak susah untuk dibayangkan.. Itulah yang menyebabkan aku atau kami-kami ini memilih tetap berada di kamar. Saat weekend, saat penduduk local atau teman sekampus sibuk dengan kegiatan party sana sini, tentunya kami hanya di rumah, memasak, berbuka puasa sampai jam sepuluh dan kembali ke kamar. Begitu saja hari-hari yang berlalu.

Lebaran sebentar lagi, sebentar lagi lebaran. Sayangnya kita tak akan bisa berjabat tangan saling mengucapkan selamat dan meminta maaf. Sehingga aku hanya bisa mendoakan semoga kita bisa meraih berkah yang sebanyak-banyaknya dari bulan Ramadhan ini. Semoga amal ibadah kita diterima, dan semoga doa-doa kita dijawab dengan jawaban yang terbaik. Salah satu doa beberapa malam yang lalu: "Yaa Rabb, dekatkanlah hamba pada jodoh yang baik bagi hamba, limpahkanlah kepada hamba kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat." Sepertinya cukup kecil kemungkinan untuk bisa mengatakan bahwa doaku melingkupimu atau doamu melingkupiku atau suatu saat kita akan bertemu karena doa-doa kita. Semoga yang terbaik untuk kita semua. Aamiin yaa Rabbal’alamin. 

Sunday, August 21, 2011

harapan


Tahukah kamu apa rasanya merantau ke negeri yang jauh? Rasanya.. seperti merantau ke negeri yang jauh. mm.. agak susah diungkapkan rasa yang satu ini, kompleks.

Di satu sisi, ada perasaan senang, karena akan menemui hari-hari baru, tidak berpijak pada kehidupan statis, yang seringkali membuatku merasa bosan.. ada perasaan tertarik dengan tantangan yang akan datang, yang tak terbayangkan sebelumnya.

Di satu sisi, ada perasaan sedih karena akan meninggalkan status nyaman, hari-hari yang sudah biasa dilalui dan orang-orang yang sudah dikenal baik.

Ada juga terasa harapan, karena mendapat keberuntungan yang cukup langka dalam memenuhi impian masa kecil, dengan biaya nol rupiah bisa sampai sejauh-jauh kaki bisa melangkah. Harus kuucapkan banyak terimakasih kepada Departemen pendidikan nasional dan departemen perhubungan, tentunya pada kesempatan dan tulisan yang lain.

Ada perasaan was-was, bahwa dengan intelegensi yang terbatas dan sering dihinggapi rasa malas, apakah bisa memenuhi harapan dari institusi yang telah membawaku ini, apakah sebanding uang yang mereka keluarkan dengan manfaat yang akan kita dapatkan.

Mendadak teringat kejadian-kejadian sebelum berangkat. Teringat akan perkataan penceramah pada kultum suatu hari menjelang tarawih di langgar:
“Jadi, waktu puasa itu berbeda-beda antara wilayah satu dengan yang lain, ada yang puasanya sebentar ada yang puasanya lama. Kalau di daerah eropa sana, seperti Inggris misalnya, puasanya bisa lebih dari tiga belas jam waktu biasanya berpuasa di Indonesia. Naah, ini kebetulan ada anggota RT kita yang sebentar lagi akan melanjutkan studinya di Inggris, yaitu anak Alm. Pak RT, mari kita doakan semoga kuliahnya lancar. dsb.. dsb..”

Alamak, jadi malu dan tersandung juga dibuatnya. Yah, terharu juga sih, dengan perhatiannya sehingga dikutip di ceramah segala.. Sayangnya, kenapa ga sekalian di iklankan buat jodoh saja Pak? Sepertinya bakal lebih afdol jika ditambahkan kata-kata seperti:
“Jadi, anak kita ini sudah waktunya menikah dan ingin mencari wanita yang cantik dan sholehah.”
Pasti kemungkinan besar sukses deh, menilik hipotesis bahwa probabilitasnya lebih tinggi untuk menemukan wanita cantik dan sholehah di masjid daripada di mall.

Ada harapan yang lebih besar dari keluarga, yang biasanya mengantar ke bandara hanya Bapak, kakak atau adik, kemarin mendadak satu batalion mengantar semua, ditambah keponakan si kembar yang berisik, merantau kali ini terasa agak lebih special karena harus membawa serta harapan mereka semua. Harapan orang-orang yang mendoakan, harapan orang-orang yang mengantar, serta yang lebih berat harapan dari institusi yang mengirimkan kami ini.

Dan apakah harapanmu? Adakah kamu mengharapkanku untuk cepat pulang? Tentu tidak, sepertinya itu adalah harapanku, yang berharap agar kamu berharap aku untuk cepat pulang. Bukankah akan lebih menyenangkan jika pada saat merantau ada seseorang yang menunggu di rumh atau di suatu tempat, terutama dari jenis wanita baik hati, yang menunggu untuk segera dilamar begitu kita pulang? Lalu kenapa pula aku mesti memutuskan hubungan dengan wanita baik hati yang dekat denganku beberapa waktu lalu itu, yang menyanyikan untukku lagu cinta dengan suara yang indah, yang sweater hadiah perpisahannya masih menemaniku mengusir udara dingin.. Kenapa tak kuambil kesempatan yang mudah dibanding dengan memperturutkan keputusan pada perasaan yang tak jelas kemana berakhirnya? Entahlah..

Dan apakah kabarmu? Kamu, siapapun yang membaca tulisan ini. Adakah kamu masih terlelap dengan selimut hangat, adakah kamu bermimpi menari-nari di taman yang berbunga warna-warni, adakah kamu masih menjalani hari-hari yang berseri?

Saturday, August 13, 2011

kisah

Dear someone,
Apa kabar siapakah kamu di sana? Kabarku di sini dalam perlindungan baik, sedang berada jauh di negeri seberang. Ya, negeri seberang, yang untuk mencapainya dibutuhkan menyeberang jalan, menyeberang sungai, menyeberang jembatan, menyeberang laut, menyeberang benua dan samudra. Terlalu banyak menyeberang sampai jauuh sekali rasanya. Jika aku berteriak di sini, tentunya di tempatmu berada tak akan kedengaran. Sehingga rasanya, hanya tulisan ini yang bisa kusampaikan, untuk menjumpai siapakah kamu di negeri kita sana dan menceritakan keadaan siapakah aku di negeri sini.

Apa sih yang membawaku bisa sampai ke negeri ini, negeri Kerajaan Inggris raya, negerinya para bangsawan dan tokoh sepakbola? Akupun terkadang masih terheran-heran. Kenapa aku tidak tinggal saja di tempat yang damai itu, negeri kita, di salah satu sudut kota Jogja yang berhati nyaman. Menjalani hari seperti biasa, dibangunkan oleh matahari yang mulai memanas, menikmati mandi yang terburu-buru, sedikit memacu kecepatan motor demi mendengar dosen ceramah, lalu melayangkan pandang pada seraut wajah rupawan, dan mendapat sebuah senyum yang menawan dari siapakah kamu disana, hingga berlalu satu lagi hari yang indah. Kenapa tidak sesederhana itu saja hidup ini berjalannya.

Sebuah skenario sederhana yang seseorang inginkan, terkadang dipelintir oleh tangan-tangan yang tak terlihat ke arah yang tak terperkirakan. Kira-kira begitu kalimat ringkas untuk menjelaskan keadaan ini. Menjelaskan keberadaanku di sini dan keberadaan siapakah kamu di sana. Aku yang entah kenapa terdampar pada mendekati terwujudnya alam hayal seorang anak SMP yang membual akan kuliah di Universitas Oxford dan kamu yang sedang menyelesaikan satu anak tangga lagi menuju masa depan yang berbahagia. Bolehlah diumpamakan keadaan kita ini sebagai kendaraan yang berpapasan di bundaran, yang bertemu hanya untuk berpisah demi menuju tujuan masing-masing.

Wahai, siapakah kamu di sana, kuharap kamu selalu berbahagia dan masih menyimpan senyuman itu yang menawan dan kurindukan. Pada kesempatan yang akan datang, ingin ku rangkai kisah untuk kuceritakan, jika kamu ada di sana untuk mendengarkan.

Salam

Wednesday, July 27, 2011

menyukai

Kutemukan dia pada suatu senja yang muram, sedang berceloteh tentang apa yang ditautkan seseorang pada perasaannya. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, sepertinya dia hanya ingin berbicara untuk berbicara daripada berbicara untuk didengar. 

“Aku menyukai segala sesuatu yang dalam komposisi yang tepat untuk menyentuh indra dan perasaan. Tapi aku lebih menyukai keindahan yang hakiki, yang berasal dari ruhani dan jasmani yang sinergi.” Begitu dia memulai, lalu melanjutkan. 

“Aku  menyukai melayangkan pandang pada dirinya, seorang wanita yang kecantikannya memancar dari dalam hati.” 

“Aku menyukai perilakunya yang selalu santun, yang anggun dalam membawa dan menjaga diri hingga menjadi seperti seorang putri.” 

“Aku menyukai mendapat senyumnya yang menawan, yang terkadang berubah menjadi tawa riang yang tulus, yang terkadang polos dan kekanakan.” 

“Aku menyukai tatapan matanya, yang jernih, hangat dan bersahabat, yang membawa makna lebih daripada seribu puisi di udara” 

“Aku menyukai mendapati rona merah pada pipinya saat sedang tersipu.” 

“Aku menyukai mendengar suaranya, yang senantiasa penuh kelembutan dan kebaikan, yang sesekali memperdengarkan tawa yang menyenangkan.” 

“Aku menyukai musik yang sering didengarnya dengan serta merta meski aku baru pertama mendengarnya.” 

“Aku menyukai bagaimana dia memulai hari, melakukan sesuatu untuk menjemput cita-cita, dan menutupnya pada malam hari.” 

“Aku menyukai tidur dan kehadirannya dalam mimpi-mimpiku yang begitu intens dan nyata. Satu-satunya tempat dimana tangannya bisa kugenggam dan kutahan dari melangkah pergi.” 

“Aku menyukai jika bisa berada dalam ruang dan waktu yang berbeda yang mempertemukanku dengan dirinya lebih cepat dari yang kini terjadi. Seperti aku menyukai untuk menghabiskan lebih banyak kejapan mata dengan berada dekat dirinya.” 

“Aku menyukai perasaan ganjil ini, pereasaan entah bagaimana bisa menyukai apa saja yang berhubungan dengannya.” 

Terlalu banyak yang dia bicarakan seperti bermonolog, hingga akhirnya aku menjadi tidak sabaran mendengarkan kelanjutannya yang seperti tak berkesudahan itu, hingga kusela perkataannya. 

“Lalu apa masalahmu? Apa yang salah dengan menyukai itu semua?” 

Dia menjawab.

“Aku tak menyukai satu saja dari semua. Tak menyukai akhir yang sudah bisa ditebak dari setiap perasaanku. Aku tak menyukai airmata yang akan menetes bersamaan dengan senyum yang akan kupaksakan saat mendapat sebuah surat undangan darinya, pada saat itu aku harus berbalik, melangkah pergi atau mengerjap seperti yang seharusnya.” 

“Oh ya, kalau begitu kau punya masalah besar.” Sahutku.

“Tapi, aku masih akan menyukai melihat dirinya berbahagia, dengan apapun yang dia pilih atau dipilihkan Tuhan untuknya.”

“Kelihatannya, itu anugerah sekaligus musibah yang kau dapatkan kawan, tetaplah bersabar.”

Dia diam saja, duduk dengan pandangan menerawang menembus apa yang kelihatan demi melihat apa yang tak terlihat. Kutepuk-tepuk bahu teman ini sekedar untuk menguatkan dirinya atau meringankan bebannya. Lalu kutinggalkan dia seorang diri. Karena ku rasa tak ada yang bisa ku perbuat untuk menolongnya. Tak ada obat baginya, kecuali tentunya, orang yang dia bicarakan yang datang sendiri membawakan penawar bagi perasaannya. Bisa menemukan perasaan yang tulus pada seseorang adalah sebuah kebaikan yang patut dirayakan, namun harus melepaskannya pada saat yang bersamaan adalah suatu hal yang menyedihkan. Sungguh anugerah sekaligus musibah yang engkau dapatkan, kawan...  

Tuesday, July 05, 2011

pendidikan dan beasiswa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang  diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Tidak untuk diperdebatkan, betapa signifikan hubungan antara pendidikan bagi upaya Negara ini untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Maka seharusnya semua orang yang ingin sekolah bisa sekolah. Begitu yang selalu kupikirkan. Dengan biaya pendidikan yang semakin mahal, tentunya ini menjadi semakin sulit untuk orang-orang yang kehidupan ekonominya pas-pasan. Namun selalu ada peluang, untuk pelajar yang kurang mampu secara finansial, biasanya ada beasiswa pendidikan.  
Kali ini aku tidak sedang ingin mengkritik penyelenggara Negara, melainkan ingin mengungkapkan rasa terimakasih, dan riwayat kenapa aku harus mengucapkan terimakasih. Riwayat pendidikanku selama sepuluh tahun terakhir ini, tidak lepas dari peran beasiswa. Sebenarnya aku bukan dari keluarga yang sangat miskin, bukan pula keluarga yang berlimpah hartanya, hanya dari keluarga biasa saja. Namun, kurasa aku cukup beruntung untuk mendapatkan semua beasiswa ini.

PART 1
Pertama kali aku mendengar beasiswa atau biaya pendidikan gratis, adalah saat kelas tiga SMP,  SMP N 16 Jambi. Waktu itu, aku cukup sering juara umum, sehingga suatu ketika dipanggil menghadap kepala sekolah. Kupikir ada apa ini? Apa puisi tentang cabe beserta gambar-gambar kecil yang ku pajang di mading sekolah telah mengganggu ketertiban kehidupan bersekolah.
Pak Sarsito, kepala sekolah waktu itu, dengan irama suaranya yang khas, ternyata mengatakan bahwa nilaiku cukup bagus, menyuruhku untuk mempertahankannya, sehingga beliau akan memberikan rekomendasi dan ada kemungkinan aku mendapat beasiswa nanti di SMU. Itulah pertama kalinya aku mendengar berita gembira seputar beasiwa. Kusimpan informasi ini sendiri bersama perasaan harap dan cemasnya yang segera terlupakan dengan kesibukan bermain. 
Tapi tak pernah kudengar kelanjutan berita itu, hingga kami ujian nasional, dan dengan tak terduga nilaiku menjadi yang terbaik di SMP. Meskipun bukan termasuk salah satu SMP terbaik di Jambi, sekitar sepuluh orang dengan nilai terbaik berhak mengikuti seleksi penerimaan siswa SMU Titian Teras jambi, Sekolah yang dikenal juga dengan nama SMU Unggul. 
Aku mengikuti berbagai tes bersama sekitar seribu limaratus orang se-Provinsi, mulai dari kemampuan jasmani, akademik, serta psikotes. Aku ingat sangat menyukai soal-soal psikotes bagian memutar-mutar wujud bangun ruang dan bidang datar. Disana juga ada tes menggambar, satu bidang yang aku cukup punya keahlian. Akhirnya dari SMP, aku bersama seorang teman berhasil mengikuti seleksi penentuan akhir, yang diakhiri dengan wawancara dengan pihak yayasan. Pada saat itu, kami dijejerkan dalam ruangan didepan beberapa panelis, Pak Kaolan menanyakan nilai NEM ku dan nilai matematika, dan tak banyak bertanya lagi. Akhirnya aku lulus meski teman se SMP ku tidak, entah karena alasan apa yang tak pernah kita ketahui sampai saat ini.
Demikianlah awal dimana aku mendapat beasiswa untuk pertama kali. Sekolah di SMU Titian Teras dalam periode itu artinya adalah bersekolah gratis mulai dari biaya pendidikan, uang makan, uang buku dan semua fasilitas lainnya. Karena kondisi keuangan yayasan, kami harus membayar sekitar 600 ribu untuk uang seragam, tapi itu jumlah kecil untuk sebuah sekolah dengan system pendidikan terbaik, gratis selama tiga tahun. Tentunya there’s no such thing like gratis, sebenarnya ada pihak-pihak yang membayar untuk itu, dalam hal ini adalah Yayasan Pendidikan Jambi.

Bolehlah dikutip tujuan Yayasan ini mendirikan SMU TT adalah untuk: (1) Menyiapkan kader pembangunan bangsa yang berkualitas tinggi, mempunyai jiwa nasionalisme dan patriotism yang tinggi. (2) Membina secara khusus potensi-potensi sumber daya manusia di Propinsi Jambi yang mempunyai bakat, minat, dan kecakapan yang tergolong unggul atau di atas rata-rata. (3) Turut berperan serta dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Serta salah satu tujuan khususnya yang perlu dikutip: Menyelanggarakan suatu pola pembinaan generasi muda yang terpadu melalui pembinaan di SMA dan perguruan tinggi, untuk menghasilkan potensi-potensi SDM yang nantinya diharapkan dapat ikut mengembangkan daerah Jambi.
Tentunya untuk mendapatkan sesuatu yang berharga ada sesuatu yang harus dikorbankan. Dalam sekolah yang mengutamakan pembinaan berbagai bidang ini, disiplin yang diterapkan adalah semi militer. Adalah waktu untuk bermalas-malasan yang harus dikorbankan. Subuh sudah memulai aktivitas fisik, pagi sampai malam harus belajar. Harus pula bisa beradaptasi untuk mengatasi tekanan dari lingkungan sekitar. Kebanyakan teman yang kukenal adalah orang-orang cerdas, sehingga belajar sampai botak pun sulit rasanya bagiku untuk menjadi rangking satu. Namun, syukurlah semua bisa dilewati dengan baik.

PART 2
Menjelang ujian akhir, ada pengumuman mengenai tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Syarat yang ditentukan adalah nilai Matematika dan Bahasa inggris minimal tujuh. Kebetulan aku termasuk salah satunya, meski dari segi ranking tidak sebaik teman2 yang mengikuti seleksi. Entah kenapa, pada akhirnya aku dan seorang teman yang bernama nasrudin mendapatkan kesempatan itu. Dibiayai sejak mengikuti tes seleksi, jika kami lulus UMPTN maka SPP selama kuliah akan ditanggung oleh yayasan pemberi beasiswa, yaitu yayasan Supersemar dan Damandiri.
Sempat terjadi dilemma apakah aku akan mengambil Arsitektur atau Teknik Sipil di ITB, mengingat hobiku menggambar serta pelajaran geometri dan ruang aku memilih Arsitektur, namun menimbang luasnya bidang pekerjaan aku akan memilih Sipil. Entah kenapa, setelah sholat semakin kuat dorongan untuk memilih sipil. Setelah mengikuti test di Jambi, akhirnya aku lulus diterima di ITB.  Dan memulai perjalanan ke tanah Jawa.  

Beasiswa yang diberikan yayasan Damandiri adalah SPP dan biaya hidup. Meski pemberian beasiswa selalu terlambat satu semester, namun tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah aku tidak memanfaatkan peluang dengan baik. Setelah mendapat nilai memuaskan pada tahun pertama, serta timbul sedikit perasaan arogan, pada tahun kedua dan ketiga nilai menurun. Sehingga dengan sangat konyolnya, menjelang tahun keempat aku menghadap dosen wali, dan mengatakan bahwa “Sepertinya saya tidak cocok di jurusan sipil.” Dan menanyakan kemungkinan untuk pindah ke arsitek. Untung dosen yang baik ini, tidak serta merta melepas, dia bilang. “Kamu coba lagi satu semester, sayang, tinggal sedikit lagi..”
Syukurlah pada akhirnya semua bisa diselesaikan dengan baik. Lulus kuliah dengan IP lumayan dan segera mendapat pekerjaan.

PART 3
Sesuatu dan lain hal yang terlalu panjang untuk diceritakan membuatku kehilangan minat untuk bekerja. Singkat cerita, kuputuskan untuk menuju ke Yogya, demi dekat dengan akar budaya Alm. Ayah, serta demi merangkai mimpi-mimpi baru setelah mimpi yang sebelumnya hilang, bolehlah untuk disedarhanakan sebagai putus dengan sang pacar. Waktu itu tujuanku masih tidak jelas, antara ingin mencoba mengambil kuliah S2 yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran, ingin mencari pekerjaan baru, atau ingin mencari cinta. Yang jelas satu dan semua saling terangkai, saat aku mendaftar ke teknik transportasi UGM. Sebenarnya aku sudah melirik dan mengambil brosur S2 Arsitek juga dan entah kenapa untuk kedua kalinya kupilih sipil.
Saat itu, aku menyerahkan berkas nilai TOEFL dan TPA ke bagian pendaftaran. Mba administrasi menanyakan nilaiku, belakangan kusadari nilai TPA ku memang paling tinggi dari yang mendaftar, lalu seorang dosen yang dikenal dengan panggilan Ibu Mamah  menawarkan memberiku beasiswa dengan syarat mengikuti tes terlebih dahulu. Aku yang tadinya berniat mendaftar dan membayar sendiri biaya kuliah dari sisa tabungan tentu bersuka ria dengan tawaran itu. 

Lalu kuikuti tes psikotes, wawancara serta akademik yang diselenggarakan. Selang beberapa bulan kemudian ternyata aku diumumkan sebagai salah satu yang mendapat Beasiswa Unggulan dari Kementrian Diknas, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. Dan disinilah aku, saat ini sedang berusaha belajar dengan lebih baik.  Aku mendapat beasiswa SPP penuh, beserta living cost dan uang buku.

PART 3b
Belum selesai pendidikan ini kulalui, ternyata datang lagi kesempatan untuk melanjutkan studi dual degree ke salah satu Universitas di Eropa, dengan beasiswa penuh selama setahun. Peluang itu sudah sangat dekat, sudah terasa dalam genggaman, ketika tiba-tiba ada sebuah kebijakan baru dari kedutaan yang menghambat, dan tidak ada yang tau apa yang akan terjadi berikutnya. Tentu aku berdoa mendapatkannya, karena ini kesempatan yang cukup langka. Tetapi di sisi lain, perlu juga untuk dipertimbangkan, benar-benar sejumlah besar uang yang akan diinvestasikan kepada kami ini. Dengan prinsip jual beli, akankah Negara ini merasa untng atau rugi atas uang yang akan terhambur pada kami ini? Bagaimana untuk membalasnya?

Kupikir aku cukup beruntung, mungkin banyak orang lain yang tidak seberuntung ini dalam mendapatkan pendidikan. Tentulah aku harus senantiasa bersyukur.  Hingga saat ini, aku merasa belum ada satu pemberi beasiswapun yang aku bayar. Sewaktu bekerja di Jambi, aku tak mendapat tempat yang tepat untuk bisa membantu membangun Jambi seperti tujuan Yayasan kami yang mulia itu, sempat terpikir menjadi dosen, tetapi mundur teratur oleh pertimbangan karir dan finansial.
Aku belum mendapat akses ke Damandiri untuk setidaknya melapor atau mengucapkan terimakasih atas beasiswa selama lima tahun di kuliah sarjana dulu. Apalagi untuk membantu melanjutkan keberlangsungan beasiswa untuk tahun-tahun berikutnya.
Sekarang sudah harus mendapat beasiswa lagi, yang syukurlah  punya cara untuk membalas dengan mengikuti ikatan dinas di salah satu Departemen. Terkadang aku berpikir, akan seberapa jauh kontribusiku bagi masyarakat sekitar atau Negara ini nantinya. Ataukah aku hanya akan segera bergabung dengan para apatis oportunis yang bakal mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari setiap kesempatan demi kepentingan pribadi.  
Setidaknya ada sebuah prinsip yang kujadikan sandaran, Jika tidak bisa membantu memperbaiki kehidupan pada umumnya atau Negara ini pada khususnya, setidaknya aku harus tidak jadi bagian yang merusaknya.