Sunday, February 22, 2009
nyanyian sunyi
Dalam irama itu waktu hanya berlalu, hanya aku yang tertawa dalam lara dan tersendu dalam gembira. Tak pernah merangkai sempurna tanpa menyentuh nyata dirimu yang hanya aku inginkan. Tentu saja aku akan bertahan, karena tak ada yang bisa menarik pasukan setia dari kesetiaannya melindungi benteng yang tersembunyi dari penyerang.
Aku hanya bisa memetik dawai dan mendendangkan dengan lirih bait-bait kerinduan, dalam rangkaian melodi yang nadanya adalah kesunyian.
Aku ingin kamu menyempurnakanku
Tak puas dengan itu aku akan mendeklamasikan dengan bingar setiap kenangan agar sepi tak merasuk hanya padaku. Dalam teriak-teriak ku, hanya kamu yang dapat menenangkanku.
Saturday, December 27, 2008
Tradisi tebang pohon
Acara tebang pohon ini hampir selalu terjadi saat ada anak gadis yang dinikahkan. Acara resepsi pernikahan berbiaya beberapa tahun menabung umumnya dilangsungkan di tempat mempelai wanita, karena halaman rumah yang biasanya cukup luas, maka halaman ybs disulap menjadi tenda biru.
Untuk itu, biasanya keluarga si wanita harus merelakan pohon-pohon yang ada di halaman menjadi korban. Itulah yang terjadi di halaman rumahku saat kakak perempuan menikah dengan seorang laki-laki (pastinya). Tetangga-tetangga sebelah berdatangan beberapa hari sebelum hari H untuk prosesi tebang pohon.
Seorang Bapak pemilik pohon yang dalam dilema biasanya tak kuat mengayunkan parangnya.
Bapak : “Yang ini jangan ditebang semua ya..” dengan memelas.
Tetangga : “Sayang sama anak apa sama pohon?” seraya mengayunkan parang dengan tertawa-tawa kejam.
Alhasil sebuah pohon sawo, jambu, rambutan, mangga harus menjadi korban. Selang setahun setelah itu mereka belum bisa berbuah. Si pohon jambu bahkan tidak pernah hidup lagi. Itulah salah satu wujud pengorbanan sebuah keluarga untuk melepas anaknya ke pelaminan.
Kali ini tradisi (atau mungkin tragedi?) tebang pohon dilaksanakan di rumah tetangga sebelah rumahku, maka tetangga-tetangga lain kembali berdatangan, beberapa siap membawa parang dari rumahnya sendiri yang sudah diasah dengan tajam. Tentu saja Bapak yang dua tahun lalu kehilangan pohonnya pun bertindak cukup agresif sebagai wujud balas budi. Ayunan demi ayunan dilayangkan untuk mengubah sebuah taman bunga berikut beberapa pohon sawo dan alpukat menjadi sebuah tenda. Bahkan pohon mangga tetangga lainnya juga harus menjadi korban. Mereka melakukannya dengan tertawa-tawa seraya mengucapkan slogan “Sayang anak apa sayang pohon?”
Aku hanya memperhatikan, dalam hati timbul pertanyaan, “Kapan dan dimanakah ada anak gadis yang keluarganya akan merelakan pohon berikut taman kecilnya untukku?”
Sunday, December 21, 2008
Biji Island
Aku adalah salah satu diantara yang berjuang disana. Seperti juga orang-orang lain, tidak semua hal dalam hidup bisa dipilih, sehingga pilihan untuk menyambung hidup di pulau biji tak bisa dielakkan. Tak lepas dari pengamatan mengenai silih bergantinya warga pulau biji. Hampir setiap bulan ada wajah baru yang datang dan ada wajah lama yang menghilang. Seringkali bahkan wajah menghilang lebih banyak dari wajah yang datang, hingga pontang-pantinglah kami pekerja di pulau biji menerima beban kerja yang lebih banyak.
Ada kisah bung Teme yang sejak hari pertama menginjakkan kakinya disana selalu memikirkan rencananya untuk pergi ke pulau lain yang lebih subur. Bung Teme yang biasa makan siang bersamaku mengatakan di pulau ini tak ada kenyamanan, tak ada tantangan, hanya kebosanan yang hadir setiap hari. Sehingga jika saja kutanyakan kepada Bung Teme “Apa rencana mu hari ini?” dia akan menjawab: “Seperti hari-hari sebelumnya, melarikan diri dari pulau Biji.” Akhirnya beberapa bulan berselang Bung Teme berhasil mewujudkan rencananya, rencana itu terbungkus rapi dalam alasan sakit yang mendera dirinya, padahal dia berlayar ke pulau bali.
Penguasa pulau Biji kehilangan, dan mencari kemana Bung Teme, tapi Bung Teme telah terlalu jauh untuk dikejar. Kalau perasaannya tak bisa ditangkap, apa gunanya mengurung badannya, pikirku mengenai kejadian ini. Akupun merasa sangat kehilangan, tapi turut bergembira untuk keberhasilan Teme, karena tindakannya adalah perwakilan dari perasaan banyak orang di pulau Biji.
Ada juga kisah Bung Koco yang sehari-hari mendapat tekanan luar biasa dari banyaknya Biji yang harus dia hasilkan. Koco yang dibiasakan untuk makan ikan asin setiap hari, sangat gembira ketika datang tawaran serupa bandeng, Berlarilah Koco mengejar ikan Bandeng. Berkurang lagilah warga pulau Biji diikuti bertambahnya beban warga pulau yang tersisa. Pertambahan dan pengurangan selalu ditanggapi alam dengan mencapai sebuah kesetimbangan baru.
Demikian satu persatu warga pulau berkurang, dengan kecepatan yang lebih lambat, satu demi satu juga penguasa pulau menambah warga baru. Ditengah-tengahnya aku mulai merasakan getaran yang ditinggalkan oleh para pendahulu tersebut, getaran bosan luar biasa pada biji imajiner yang harus dikumpulkan setiap hari. Teriakan pendahulu juga terdengar sayup-sayup “bangkitlah!”. “Sekali-kali kita harus mengatakan tidak pada kehidupan statis”, ucapku pelan.
Hingga suatu ketika dimana angin tak bertiup, hujan tak turun, guntur tak terdengar, dan semua terlihat biasa saja. Yang tak biasa adalah sebuah kapal kecil hadir di pinggir pulau, mengajakku naik kesana. Aku tak bisa menahan diri, berjalanlah aku kesana setelah meminta sedikit restu dari penguasa pulau. Tiba dengan berjabat tangan, maka aku pun pergi dengan berjabat tangan, diiringi berbagai tatapan yang entah apa artinya. Suasana haru mungkin akan menyelimuti pulau biji setelah aku tinggalkan, bukan karena aku sangat berarti disana, tapi lebih banyak karena ketiadaanku berarti memberi warisan pekerjaan kepada warga pulau yang masih bekerja disana.
Selamat tinggal warga pulau biji, ketika aku sudah mencapai pulau harapan, akan kukirimkan kapal untuk mengajak kalian serta. Ucapku dalam hati…
Saturday, July 26, 2008
KELILING EROPA 6 BULAN HANYA 1.000 DOLAR!
Pengarang: Marina Silvia K
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tuesday, April 15, 2008
Seuprit Kebijaksanaan dalam Permainan Bola
Jangan pernah meremehkan serangan lawan, meski seberapa remeh pun itu kelihatannya…
Erwin rekan kerja ku menendang bola dari tengah lapangan futsal, pelan. Aku sebagai kiper memperhatikan bola yang menggelinding dengan sangat pelan ke arahku. Sangat pelan, hingga aku tertawa terkikik-kikik. Hihihi
Aku akan menghentikan bola dengan sebelah kaki, berlagak segera menginjaknya dengan
Perjalanan di negeri yang damai
Maka jadilah, meski masih shock karena baru saja tiba di bagian paling ujung indonesia barat, sekian manusia itu langsung disebar ke berbagai daerah lokasi pekerjaan: Pidie, Meulaboh dan Tapak Tuan. Tersebutlah tiga orang yang mendapat kesempatan emas di daerah Pidie, dengan ibukotanya Siglie.
Profil Tim Pidie:
Yows: Tampan, berperilaku santun, berbudi pekerti luhur, berjiwa ksatria, gemar menabung dan cinta keindahan.
Zikri: Hampir tidak tampan, berperilaku hampir ganjil.
Ardha: Tidak tampan, berperilaku ganjil.
Pak Asep: Sangat tidak tampan, dan berperilaku sangat ganjil.
Kota Siglie
Semua makhluk tersebut di basecamp kan (oleh Bos Besar tapi Kecil) di losmen Riza. Losmen yang mendominasi industri penginapan di kota kecil ini. Lokasi sangat strategis dan pelayanan sangat tidak strategis. Siglie adalah kota yang aneh, terlihat terlalu malu untuk dikatakan sebuah kota. Berjalan keliling di pusat kota hanya akan menghabiskan waktu sekitar 15menit.
”Ironis” kata yang sering terucap oleh Pak Asep saat melihat keadaan kota. NAD provinsi kaya. Dan kekayaannya tak tergambar pada keadaan kota yang mereka lihat. Tapi jika hal itu dikaitkan dengan kenyataan bagaimana keadaan NAD saat berada di bawah kekuasaan RI, pernyataan ironis itu telah menemukan jawaban. Pemerintah RI dibawah rezim orde baru telah... telah apa ya? mungkin cukup untuk dikatakan telah berlalu.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan sebuah kota kecil. Hidup di kota kecil seharusnya menyenangkan. Padang rumput yang luas menghampar, sapi-sapi hidup rukun, gunung-gunung hijau berjajar, sungai yang bening mengalir. Tapi, setelah di tinjau lebih jauh lagi, disini tak ada toko buku yang memadai. Itu yang sangat menyedihkan bagi sebuah kota kecil.
Satu hal yang tak lepas dari pengamatan, seperti yang terdapat di kota besar, di daerah ini banyak pengemis, di pinggir jalan, di pom bensin, bahkan yang berdinas dari rumah ke rumah. Salah satu yang paling populer adalah seorang wanita usia produktif yang punya ciri khas kental. Begitu datang ke kamar dia mengucapkan salam, kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang sama rima dan iramanya dari hari ke hari, ”Bisa kakak minta tolong sama adek, Sudah dua hari kk belum makan, tidak punya uang buat beli beras, kalau adek mau membantu insya alloh amalnya diterima.” Kedatangan pertama, mereka memberi ala kadarnya. Tapi begitu besoknya dia datang lagi dengan perkataan yang sama ”Sudah dua hari tidak makan.” bingungnya hendak berbuat apa. Tapi mereka tak bisa menyalahkan diri mereka karena tidak memberi, tidak bisa menyalahkan beliau karena meminta-minta, juga tidak bisa menyalahkan bencana Tsunami yang melanda wilayah ini.
Inspector dan Konsultan Supervisi
Apakah bedanya antara inspector dan inspectur? Pertanyaan itu akan terjawab dalam percakapan berikut ini:
Duri dan Ardha memasuki lapangan (sebuah rumah makan nasi goreng kentucki yang sangat khas dari dari Aceh setelah mie kepiting dan kopi hitamnya). Mereka langsung disambut oleh seorang laki-laki bertubuh besar, ganteng, berkulit hitam dan berhidung mancung layaknya seorang bintang film india.
”Selamat datang, mau pesan apa inspector?” Kata si laki-laki.
”Pesan nasi goreng ayam kentucki inspectur Rajib!”
(Sebenarnya dialog ini hanya memberikan jawaban ambigu)
Ya, itulah bedanya inspector dan inspectur. Dan demikianlah, tiga orang mahasiswa yang hari-hari sebelumnya tak pernah bermimpi akan singgah di negeri daun surga akhirnya mejadi seorang inspector. Mungkin lebih tepat jika dikatakan: menjadi seorang sub-inspector.
Seperti juga kontraktor yang biasa men-subkan pekerjaan, ternyata supervisi juga mengakomodir perilaku yang sama, men-subkan pekerjaan. Hingga nama-nama yang ada di daftar bukanlah nama sebenarnya. Seorang dengan nama Ardha saat dilapangan harus siap memperkenalkan diri sebagai Sukirman, seorang Wahyu dengan nama Mustakin dan seorang Duri dengan nama Sekretaris Asep?
Empat orang tim Sigli di dalam kijang inova merah marun secara rutin berangkat ke proyek sambil bernyanyi-nyanyi lagu Iwan Falls dan Dloyd, sambil cekakan, tak lupa untuk mengklakson inong-inong cantik di pinggir jalan. Begitu rutinnya, sampai Pak Asep bisa membedakan apakah itu anak gadis yang sedang kerja di sawah atau ibu-ibu tua dari bunyi angin yang meniupnya antara Ssssssssst atau Wiir Wiiir... Begitu tiba di proyek, celingak celinguk sebentar, salaman sana sini, sapa sana sini, tunjuk sana sini, sambar air dan rokok jatah trus pulang. Tentu saja ini bukan budaya kerja yang baik, tapi begitulah hari-hari harus berlalu.
Sulit untuk dikatakan apakah masa-masa di Aceh ini merupakan masa bahagia atau masa yang lain. Tapi mereka selalu mewanai hari-hari disana dengan ceria, saat matahari sudah agak tinggi berangkat ke proyek, pulang sebelum matahari turun. Untuk tetap di proyek seharian tidak mungkin karena ada beberapa lokasi yang berjauhan, apalagi dengan kondisi pengawasan tidak lebih sebagai formalitas.
Begitu saja hari-hari berlalu, Tim Siglie sukses menjadi Tim yang jarang kena marah oboz besar, padahal oboz adalah seorang yang terkenal berdarah tinggi. Tentu saja ini terjadi berkat Yows yang berbudi pekerti luhur, Zikri yang berbudi pekerti agak ganjil, Ardha yang ganjil, serta Pak Asep yang sangat Ganjil.
Beberapa bulan berlalu, hingga bulan ramadhan tiba, hingga liburan hari raya tiba. Akhirnya mereka pulang dengan selamat ke kampung halaman masing-masing.
