Tuesday, April 01, 2008

Pledoi Hati Laki-laki

Anak muda itu duduk seorang diri dalam cahaya remang hati yang meradang. Dia ingin bingar tapi tak ada suara terdengar. Dia tak mengerti, hanya merasa hatinya disakiti. Dengan senyum sinis yang membuat wajahnya meringis, dia lalu mencoba menulis. Dia rasa hanya itu yang dia bisa untuk memberikan terang pada remang sementara untuk berkata-kata dia kan terbata-bata.

"Pledoi hati laki-laki" Dia memulainya.

"Ada hati yang tak mudah mengerti, tapi itu bukanlah keinginannya. Ada hati yang tak ingin disakiti, tapi siapa yang menginginkan menyakiti. Apalagi kepada hati kita sendiri. Jika hati itu telah terbagi, bukankah lebih mudah dia disakiti?"

Si anak muda memejamkan matanya beberapa saat, mengangkat sebelah tangan ke dahi, menyangga kepalanya yang terasa berat.

"Biar, biarkan saja isi kepala jatuh, karena kini hati lebih ingin dihormati." Lanjut si pemuda, sembari menyalakan rokok untuk meringankan bebannya.

"Baik, baiklah, kita menghendaki kebaikan, menginginkan kebenaran. Hentikan bicara tentang sakit menyakiti. Benar, mari biarkan yang benar terlihat benar. Adakah yang tau bagaimana melihat yang benar? Apakah itu dengan perasaan? Apakah itu dengan pikiran? Apabila itu dengan perasaan, bagaimana bisa ada orang berbuat salah tapi merasa dirinya benar? Apabila itu dengan pikiran, betapa banyaknya manusia yang tak bisa berpikir, karena nabi-nabi harus turun menyampaikan kebenaran. Mungkinkah itu dengan hati, tapi bagaimana membedakannya dengan yang lain. Jelas, kita tak tau apa yang benar. Jelas kita masih mencari cara mencari benar. Jelas, terdakwa di persidangan berhak mengajukan pledoi. Karena hakim atau jaksa, atau siapapun belum tentu benar."

Si anak muda menghisap nafas dalam-dalam berbaur nikotin yang membuatnya berat, lalu menghembuskan kuat-kuat agar dadanya terasa lebih kosong. Jiwa dan raganya yang lelah semakin tak bertenaga. Bahkan dia tak tau apakah yang dia lakukan itu benar.

"Sudah, sudahlah, tak perlu kita bicarakan apa yang tak kita tau. Aku akan bercerita apa yang aku tau, meski cerita itu tidak untuk siapapun, walaupun aku tak mendengar apa yang kau tau. Mungkin aku tak boleh memakai kata kita lagi untuk kau dan aku, karena aku tak tau kau"

"Aku tau cinta, aku tau, hanya tau. Tak peduli apakah itu dari pikiran, perasaan atau dari pengindraan. Aku tau ada cinta. Aku tau aku cinta kau. Aku pun tau kau punya cinta, aku pernah menduga bahwa sebagiannya untukku. Tolong beri tau aku jika itu salah. Tapi beri tau aku jika cara mencinta ku tidak kau inginkan. Tapi beri tau jika aku tak kau inginkan! Apakah kau pernah melihat petir di siang bolong, akan ku katakan bahwa aku pernah merasakannya saat malam sunyi dan tak ada awan yang memberi pertanda. Haruskah hukum alam tak berlaku lagi, karena bukankah kejadian alam selalu diiringi pertanda?"

Si anak muda ingin berteriak, tapi tanpa bersuara pun mulutnya terasa kering, kering dalam hening yang membalut perih.

"Dalam diam mu aku terus mencari, haruskah aku pergi atau akan terulang begini. Waktu yang kejam ternyata hanya berputar-putar, kisah yang sama kembali lagi disini. Tentu saja lelah adalah buangannya. Tapi apa artinya usaha jika lelah tak ku hargai. Dalam lelah aku harusnya bertahan, bukan berhenti."

"Bukankah telah kukatakan mimpi yang mengukir masa depan. Bukankah telah kulukis kau pada setiap arah pandang ku, bahkan pada setiap bayangan yang mengikutiku. Bukankah telah kutanam mawar pada jejak yang kutinggalkan. Tentu harus ada duri padanya, atau kita tak akan mencium wanginya. Malangnya aku. Bahkan kata kita yang tak ingin kusebutkan tak mampu kuhindari."

Si anak muda termenung. Diresapinya udara dingin ke dalam tulang. Ditariknya nafas satu dua. Dikerjapkannya cahaya yang remang. Didengarnya detak jantungnya sendiri. Dirasakannya detak kekasihnya yang pergi entah kemana. Detak yang dia inginkan untuk rengkuh dalam pelukan. Detak yang membuat jam seharusnya berhenti berdetak hingga mereka tak terusik oleh waktu.

Si anak muda memejamkan matanya. Lama. Kenangan demi kenangan mengisi. Semua yang tertinggal dalam ingatan hadir kembali. Dia pernah tertawa, pernah hampir menitikkan air mata. Tangannya menggapai mecoba memeluk setiap penggal kenangan, tak bisa. Dia tau itu, tapi terus mencoba. Dalam pada itu dia melihat senyuman yang sangat akrab. Yang membuatnya ikut tersenyum. Tidak sinis seperti saat dia memulai.

Saat itulah dia mulai bisa bersuara, meski parau terdengarnya.
"Aku mengerti kini, aku dan kau punya kenangan. Itu abadi. Dan aku tau, kau masih akan singgah dalam tidurku meski apapun yang terjadi nanti. Sudahlah. Aku memaafkanmu. Aku membebaskanmu meraih bahagia dengan caramu sendiri. Bahagia mu adalah bahagia ku. Aku merelakanmu."

Si pemuda meraih tulisan tangannya, lalu membuangnya ke udara.

***

Sunday, March 30, 2008

The Solitaire Mysteri

Pengarang: Jostein Gaarder
Terbitan Phoenix, London 1996
Jalasutra 2001 "Misteri Soliter"

Sebuah karya memikat dari Jostein Gaarder. Seperti Dunia Sophie, novel ini sangat pekat dengan nuansa filsafat. Dikisahkan dalam novel ini seorang anak laki-laki yang melakukan perjalanan bersama ayahnya yang gemar berfilsafat ke Athena negeri sumber dimulainya filsafat barat untuk mencari ibunya yang telah lama meninggalkan rumah untuk menemukan dirinya.

Ceritanya mengalir dengan banyak ungkapan bijak khas filsafat. Terlontar pertanyaan-pertanyaan seperti siapakah kau? darimanakah kau berasal? yang terkait dalam sebuah cerita yang menceritakan cerita dimana seseorang bercerita tentang cerita yang diceritakan padanya yang berlangsung selama ratusan tahun. Itulah yang ada disini, cerita di dalam cerita di dalam cerita.

Salah satu tema sentral yang diangkat adalah masalah takdir. Apakah sesuatu yang terjadi adalah takdir atau sebuah kebetulan. Sepertinya Gaarder, atau setidaknya dalam cerita ini, tidak percaya pada sebuah kebetulan. Ada takdir yang harus dijalani, begitu seseorang mengetahui takdirnya, dia harus menjalaninya.

Lalu dimana letak soliternya?
Dalam buku ini diselipkan kisah sebuah permainan soliter yang dimainkan seorang yang terdampar disebuah pulau, permainan tersebut menjadi hidup, keluar dari kekangan imaginasinya. Dalam hal ini hidup manusia bisa diibaratkan seperti permainan soliter yang berasal dari ide sang penciptanya. dalam permainan soliter ada aturan, demikian juga dalam kehidupan. Untuk mengungkapkan asal muasal kartu soliter dibutuhkan seorang Joker, dalam kehidupan Joker adalah para filsuf, yang tidak bisa menerima hidup apa adanya tanpa tau apa dan darimana mereka berasal.

Novel ini tidak terlalu berat, setidaknya tidak seberat dunia sophie, tapi sangat bagus, penuh ide segar dan inspiratif.

Jadi, berperan sebagai apakah anda dalam permainan soliter agung ini?

The Ringmasters Daughter

The ringmasters daughter
Pengarang: Jostein Gaarder
Terbitan Oslo 2001
Mizan 2006 "Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Sebuah novel khas Jostein Gaarder. Yang paling saya suka dari semua novel karyanya.

Novel ini menceritakan banyak cerita, yang diceritakan dari sudut pandang Peter si manusia laba-laba. Peter adalah seorang yang sangat kaya dengan imajinasi. Saat seorang penulis bermasalah karena mengalami kebuntuan ide, Peter malah bermasalah dengan begitu banyak ide-ide kreatif dari imajinasinya.

Ide-ide itu mengalir begitu saja di benaknya sejak dia kecil, lalu dengan teratur dia membuang isi kepalanya dengan menuliskannya. Permasalahannya adalah ide-ide tulisannya cemerlang, namun dia tak mau menjadi penulis terkenal.

Maka Peter menjalankan bisnis dengan menjual tulisannya kepada orang-orang yang berniat menjadi penulis serta penulis yang sedang mengalami kebuntuan ide. Bisnisnya yang dinamakan writers aid berkembang dan dia memiliki banyak klien dari berbagai negara. Dari imaginasinya keluar cerita seperi Putri sirkus yang terpisah dari ayahnya sejak kecil, Pembunuhan oleh orang yang sudah mati, Si kembar dalam perang vietnam, Manusia catur, dan sebagainya.

Cerita berlanjut dengan plot yang sangat baik, sampai pada akhirnya Peter mendapat masalah dari bisnis yang dijalankannya. Peter terjebak oleh jaring-jaring yang dijalinnya sendiri yang semakin memuncak dari halaman ke halaman hingga halaman terakhir.

Seperti biasanya, buku ini masih bernuansa filsafat, tapi tidak dalam bahasa yang berat. Sangat bagus. Memotivasi orang-orang yang ingin menjadi penulis untuk mengembangkan imajinasinya.Seperti komentar Kompas, Gaarder adalah garansi bagi bacaan bermutu, buku ini adalah salah satu yang menguatkan pendapat itu. Buku ini juga salah satu mengukuhkan saya sebagai seorang penggemar karya-karya Jostein Gaarder.

Ingin terjebak dalam jaring-jaring karya Jostein Gaarder? Dapatkan di toko-toko buku terdekat.

Saturday, March 29, 2008

istana sendiri

Bejo, itulah namanya.
Berusia hampir empat puluh tahun dan menjalani hidup sebagai sebuah perjuangan panjang. Perjuangan untuk hidup, bersaing dan meraih kemapanan ekonomi. Di sebuah rumah mewah itulah akhirnya Bejo berada.

Dirumahnya yang seperti istana, lengkap dengan kolam renang di halaman belakang dan taman bunga di halaman depan, Bejo mempekerjakan seorang tukang kebun, seorang supir, dan dua orang pembantu rumah tangga, mereka saling berpasangan sebagai suami istri. Namun Bejo belum memiliki istri.

Marni, teman wanita yang disukainya sejak kecil waktu di kampung telah lama menikah, Bejo tak pernah menyatakan perasaannya. Bahkan sampai saat ini dia belum pernah menyatakan perasaan cinta kepada seorang wanita pun. Karena hampir di setiap waktunya, Bejo selalu berjuang untuk hidup, bersaing, dan meraih kemampuan ekonomi. Sendirian di ruangan keluarga yang besar itulah Bejo kini melamun.

Minggu depan usianya genap empat puluh tahun, dia telah mencapai apa yang kebanyakan orang anggap sebagai kesuksesan tentu saja. Dia yang dilahirkan dari keluarga miskin di daerah jawa tengah, ditinggalkan kedua orang tuanya semenjak kecil, telah berjuang, mencari nafkah di ibukota sebagai seorang pekerja bangunan. Karirnya berkembang hingga dia kini memiliki perusahaan sendiri, sebagai kontraktor pelaksana. Dia telah berjuang untuk hidup, bersaing, dan meraih kemampuan ekonomi. Sekarang dia bertekad untuk mendapatkan calon istri sebelum usianya mencapai empat puluh tahun, atau lebih tua lagi.

Didepannya diatas meja, tergeletak sebuah harian ibu kota. Bejo telah menaruh profil dirinya di bagian kontak jodoh. “BEJO SUJOTOKO, pria matang , lima puluh tahun, sukses, punya perusahaan sendiri, mapan, merindukan seorang gadis yang baik untuk menjadi isteri, langsung menikah.” Sudah satu bulan sejak dia menaruh iklan, tapi hingga hari ini belum ada yang menghubungi dirinya.

Bejo mulai berpikir apakah tidak ada orang yang percaya dia seorang pria sukses, karena pria sukses mana yang berumur segitu tapi belum memiliki seorang isteri. Pikirannya jadi lelah memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk mengenai betapa susahnya mendapatkan seorang isteri. Bejo bangkit dan memutuskan untuk menghibur diri dengan melihat-lihat taman bunga di halaman depan.

Bejo duduk di beranda, Kusno si tukang kebun sedang merapikan daun bonsai. Bejo menatap bunga mawar ditengah halaman yang hampir layu. Dibayangkannya bukan si Kusno yang merawat kebun, tetapi isterinya. Dibayangkannya anaknya berlarian diatas rumput mengejar kupu-kupu seperti yang biasa dia lakukan waktu masih kecil. Dibayangkannya dirinya bercanda tawa bersama mereka. Tak terasa air matanya menetes perlahan. “Bagaimana aku bisa bahagia kalau tidak ada seorang yang menemaniku berbagi rasa bahagia.” Gumamnya tak sadar.

Kusno si tukang kebun heran melihat majikannya tiba-tiba menangis.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
Bejo tergagap.
“Tidak ada, tidak mungkin kamu bisa bantu. Sudah, kamu ke dalam saja!”
“Baik pak.”

Bejo menghapus air matanya dengan lengan baju. Lalu mengambil ponsel, mencari seseorang yang bisa menyelesaikan masalahnya dari phone book. Dari A hingga Y diteliti. Tak ada nama wanita di phone booknya, selain sekretarisnya yang telah menikah. Itulah Bejo, yang tak pernah berbicara dengan wanita, kecuali pekerja-pekerjanya. Dia bahkan tak pernah berkenalan dengan wanita-wanita lain diluar lingkup pekerjaannya, dia juga tak mau mengajak bicara para pelacur karena dia tau akan membawa dosa.

Sebenarnya dia sangat menghargai wanita, terlalu menghargai bahkan, hingga dia tak pernah berani untuk mengenal satu dua pribadi lebih mendalam. Sekarang dia mulai mengumpulkan keberaniannya. Karena dia harus, dia harus menikah sesegera mungkin, atau dia tak tahan lagi dengan semua kesendirian dalam malam-malamnya. Kesendirian dalam kebahagiaannya, kesendirian dalam kesedihannya.

Bejo sering memikirkan, sebenarnya dia bisa saja menelepon beberapa rekan kerjanya, dan minta untuk dicarikan seorang istri. Tapi dia merasa malu. Dia akan menjadi bahan tertawaan teman-temannya, karena sudah berusia lanjut, bisa meraih kesejahteraan, menghidupi orang-orang, tapi tidak bisa mencari istri sendiri. Dia tak pernah membicarakan kehidupan pribadi dengan teman-temannya. Bejo merasa harus mencari calon dari orang yang belum dia kenal.

Hari-hari berlalu mengiringi usaha Bejo dan gejolak batinnya yang semakin tak tertahankan. Diberanda yang sama, melihat taman bunga yang sama, pikirannya melayang ke hal yang sama. Seorang wanita untuk menjadi isterinya, bersamanya meneruskan keturunan, membentuk keluarga yang ramai yang memupus rasa sepinya. Besok hari ulang tahunnya, dia sudah tak tahan dengan hari-hari yang dilaluinya tanpa hasil.

Lelah terlalu lama berpikir dan tanpa hasil, Bejo pun membuat keputusan, siapa saja wanita yang lewat di depan pagar rumahnya dan sendirian akan diajukannya pertanyaan. “maukah jadi isteriku” Ya, harus begitu, harus berani. Ujarnya menguatkan diri.

Jalanan di depan komplek rumahnya tergolong sepi, jarang yang lewat, apalagi seorang wanita yang berjalan sendirian. Bejo menunggu hampir selama satu jam di dekat pagar. Akhirnya dilihatnya seorang wanita sendirian, mengenakan baju santai warna merah. Bertubuh gemuk, berparas biasa saja, sedang berjalan santai. Bukan tipe wanita yang dia suka, tapi dia menguatkan hatinya, mungkin saja tidak ada pilihan lain.

Bejo menghampiri.
“Mbak, maaf mbak saya mau nanya, boleh?”
“Oh, boleh.” Jawab wanita itu heran.
“Mbak, sudah menikah?”
“Oh, belum. Kenapa emangnya?” tanya si wanita menatap curiga.
Bejo mulai gugup. “Begini mbak, itu rumah saya, saya punya perusahaan, punya banyak karyawan, tapi belum punya isteri, mbak mau jadi isteri saya? Kalau mau kita bisa menikah minggu ini”
Si wanita kaget diajukan pertanyaan seperti itu. Sembari melotot dia meradang.
“Pak, gini ya, saya ini meski gemuk dan tidak cantik, tapi wanita baik-baik. Bapak anggap apa saya ini? Kalau mau mencari pasangan, itu perlu proses. Bapak belum tau nama saya aja udah nanya yang aneh-aneh. Harus kenalan dulu baik-baik. Apalagi untuk menjadi sebuah keluarga, perlu waktu buat pria dan wanita menyatukan visi. Bapak udah gila ya?” Si wanita mengakhiri ucapannya, dan berjalan tergesa-gesa membawa amarah.

Bejo merasa lemas, terduduk diatas tanah, bahkan wanita yang seperti itu pun tak bisa menjadi isterinya. Bejo menahan sedu.

Kembalinya Super Yow

Salam,
Sungguh, sebenarnya bukanlah hal yang penting untuk diketahui, bahwa saya akan mulai menulis lagi. Tapi rasanya hal ini penting buat saya katakan, meskipun lagi-lagi tak penting untuk diketahui.

Akhirnya aku memiliki sebuah laptop, belum diberi nama, masih mencari nama yang cocok, atau berjenis kelamin apa kira-kira dianya. Dalam hal ini sangat terima kasih untuk janurtech.com
atas Toshiba a215 s4747nya. Sedikit informasi mengenai Janurtech, yang kali ini penting untuk diketahui, adalah situs penjualan notebook online. Sangat bermanfaat. Kita bisa melihat spek laptop dari internet, lalu telepon, negosiasi dan transaksi lalu barangnya bisa tau-tau nongol di depan rumah. Harga bersaing, katanya sih harga buat toko dan buat user sama aja. Jadi kita bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah daripada membeli langsung di toko. Sekali lagi terima kasih kepada Janurtech.

Sebagai dampak kehadirannya, sekarang saya punya media untuk menyalurkan apa-apa yang perlu disalurkan. Bisa browsing, bisa menulis, bisa update blog. Walaupun tulisan-tulisan saya masih sangat self oriented, mohon dimaklumi. Setidaknya saya masih belajar menulis dan mencoba menemukan bentuk penulisan yang tepat.

By the way, saya mendadak ingat seorang tokoh rekaan bernama Super Yow dalam dua jilid buku yang saya tulis bersama teman-teman SMP dan menjadi bacaan selingan satu kelas pada jam-jam pelajaran. Tersebutlah seorang Firman Hadi, adalah rekan sekaligus musuh saya dalam menulis. Teman karena tulisannya cukup membuat cerita di buku jadi berbobot tapi menjadi musuh karena tulisannya tentang dirinya sendiri selalu membuat Super Yow menjadi jelek di mata publik. Tapi Super Yow tetaplah Super Yow, meski hanya dalam imaginasi, tetap mencoba membuat dunia menjadi lebih bisa dinikmati penghuninya.

Saya pun akan mulai mencoba membuat blog ini lebih bisa dinikmati tidak hanya bagi saya sendiri. Tapi itulah, mencoba, saya tak bisa menjamin hasilnya...
Salam.

Sunday, November 18, 2007

Sebenarnya cinta?


Udara sejuk yang menyapu hangat mentari senja tak luput dari membelai wajah mereka berdua, yang tengah duduk menikmati rasa dan aroma secangkir kopi hangat di bilangan Dago atas, Bandung. Suasana yang mengudara sesejuk udara yang mereka resapi.
Suasana, itulah yang ditunggu-tunggu oleh Randi Suranda, remaja pria yang telah sekian lama melakukan pendekatan intensif terhadap (tentu saja) remaja wanita (cantik) di hadapannya, Liyani.
“Suasana, ciptakan suasana yang tepat, dan bidikanmu akan mengenai sasaran.“ Itulah sebuah pesan yang sedang berdengung di telinga Randi, dari seorang teman bernama Dodon yang berprofesi sebagai konsultan cinta kecil-kecilan dan belum pernah (sama sekali) terbukti keabsahannya. Dan Randi tak punya orang lain yang sedikit lebih tepat untuk dimintai saran.
Suasana, inilah dia suasana yang tepat. Pekik hati Randi, sembari menatap pujaan di depannya yang terlihat menikmati dari anggukan-anggukan kecil yang dibuatnya seirama lagu lembut yang sedang di udara.
Saat Arjuna di benaknya menarik busur, Randi memulai kata.
“Yan, terus terang, sejak zaman dulu kala, aku udah nunggu momen ini, momen dimana aku pengen bilang…. Aku cinta kamu, aku padamu, I lop u.” Ucapnya, diikuti diam, berharap apa yang dia katakan akan menuai gema, setidaknya sebuah iklan telah menjanjikan itu, ‘percakapanmu pasti kembali’, katanya, yang membuat Randi tersugesti untuk mengganti kartu ponselnya. Randi memang bukan udang, tapi karena terobsesi oleh cintanya, dia hanya mampu berpikir setaraf teman-teman udang.
Tik tik tik… detik yang berjalan lebih lambat dari detak jantungnya terasa sangat sunyi, di depannya sang penguasa detik-detik yang barusan berjalan, masih terlihat tenang, matanya masih menerawang tak menatap Randi. Masa-masa ini adalah masa-masa wanita memegang kekuatan yang tak seorang pria pun bisa membantahnya. Tidak terdengar gema, Randi segera membuat catatan di hatinya untuk mengganti kartu ponselnya.
“Jadi, kamu gimana, Liyani ?”
Seraya mengembangkan senyum, Liyani malah menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain, yang sangat tidak relevan.
“Kamu tau ngga, lagu ini lagu siapa?”
“Aduh, Yan, jangan mengalihkan pembicaraan dong, aku ngomong serius tadi. Masa pertanyaan dijawab pertanyaan? Jeruk makan jeruk. Lagipula kamu udah tau kan, aku bukan penganut pop musik kaya gini, udah jelas aku penganut aliran the, the beatles, the doors, the strokes, tho jonis, mana aku tau ini lagu siapa, pasti ga ada the nya…”
“Aku suka banget lagu ini, ini lagu letto, sebenarnya cinta.”
“Oke, oke, karena kamu suka lagu ini, aku juga suka deh sama lagu ini, jadi mari kita kembali ke pokok permasalahan?”
“Naah, gini aja, aku bakal ngejawab pertanyaan kamu, setelah kamu bisa ngejelasin ini sebenarnya lagu tentang apa? Satu minggu, oke?”
“Duh Gusti!” Ucap ekspresi Randi.
***
Dan demikianlah, Randi lantas membeli kaset letto, mendengarkannya berjam-jam, berhari-hari, dan mulai mencari teman terdekat untuk berkonsultasi. Dan itulah sebuah kerugian berteman dengan manusia-manusia yang hidupnya semrawut dan membaktikan diri pada aliran musik anti kemapanan, mana mungkin menanyakan arti lagu letto kepada pecinta sek pistol, nirvana, dan saudara-saudaranya. Randi hanya mendapat celaan dari si Dodon,
“Sejak kapan maneh suka ama the letto? Malu dong men, sama mendiang Jim Morrison!”
Sebenarnya Randi tidak terlalu buta dengan puisi, dia pernah membaca Gibran, Rumi, atau penyair lain. Tapi itu sekedar membaca, dan jarang benar-benar mengerti apa yang dia baca. Setidaknya namanya yang khas sunda sudah mengandung puisi, walaupun tak memberi bantuan sama sekali.
Dan Randi pun harus berjuang keras dengan otaknya yang terbatas untuk menterjemahkan lirik lagu sebenarnya cinta tersebut sendirian. Setelah satu minggu kurang satu hari berlalu dengan penuh kontemplasi, akhirnya dia mulai menuliskan interpretasinya.
“Irama lagunya lembut, artinya lagu ini mungkin merupakan sebuah perenungan untuk hati, Randi malah mulai menyukainya, dia lalu memotong-motong menjadi bagian yang diterima akal dangkalnya.
Satu detik lalu
Dua hati terbang
Terlihat indahnya dunia
Membuat hati terbawa
Ini menceritakan kejadian yang baru saja terjadi, dua hati terbang adalah gambaran menyenangkan, seperti burung yang terbang, superman terbang, atau bisa jadi juga ekstase seperti ngefly, seperti yang sering dilakukan si Dodon, ya mungkin yang paling tepat adalah ekstase, mungkinkah ekstase karena pacaran karena yang terbang adalah dua hati? Di dunia memang banyak yang indah-indah, saat sedang terbang atau bahagia hal itu lebih keliatan jelas. Ya ya, artinya pasti dua hati terlena, just like a dandut song, jadi pasangan yang sedang terlena, oh terlena.
Dan bawa ku kesana Dunia fatamorgana
Termanja-manja oleh rasa
Dan ku terbawa terbang tinggi oleh suasana
Si pelaku terbawa ke tempat yang sama, atau sipelakulah satu dari dua hati tadi. Naah lho, kok dunia yang indah tadi dianggap fatamorgana? Sesuatu yang indah seperti yang diinginkan, tapi tidak nyata. Apa karena dunia penuh kebusukan, makanya sesuatu yang indah adalah fatamorgana?
Dari sudut mata
Jantung hati mulai terjaga
Bisik di telinga
Coba ingat semua
Dari sudut mata, artinya adalah sesuatu yang tidak dilihat secara penuh, dilirik, dilihat sekilas. Jantung hati pasti artinya intinya hati, mungkin hati nurani, yang tiba-tiba bicara agar dia kembali ingat untuk bangun dari dunia fatamorgana yang dibangunnya.
Dan bangunkanlah aku dari mimpi mimpiku
Sesak aku di sudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata
“Pada tahap ini dia ingin dibangunkan dari mimpinya, dunia fatamorgananya, untuk kembali ke dunia nyata. Dia sangat menginginkan itu, hingga dunia maya terasa sesak.”
Dan bangunkanlah aku
Dari mimpi indahku
Terengah-engah ku berlari
Dari rasa yang harus kubatasi
Disini dia berkata, bahwa dunia fatamorgananya adalah rasa itu sendiri, yang harus dibatasi, yang sangat ingin dia hindari setelah tersadarkan oleh bisikan hati kecil.
Dan kau menawarkan rasa cinta dalam hati
Kutak tau harus bagaimana untuk raba mimpi atau nyata
Dan bedakan rasa dan suasana dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya
Wah, mulai membingunkan nih, rasa cinta dalam hati apakah rasa tadi, atau rasa yang lain? siapa yang menawarkan, apakah satu dari dua hati tadi, atau sesuatu lain yang memberikannya rasa cinta, atau siapa lagi? Dia tidak tau lagi bagaimana membedakan antara maya atau nyatanya, atau mana rasa sayang atau cinta yang sebenarnya?
Dan bangunkanlah aku dari buta mataku
Jangan pernah lepaskan aku
Untuk tenggelam di dalam mimpiku
Sampai akhir dia masih merasa tidak bisa melihat dengan jelas mana yang harus dijalaninya, apakah dunia seperti mimpi, atau dunia nyata, dan tentu saja itu sepertinya adalah analogi untuk sebuah cinta, cinta yang sebenarnya.
Jadi cinta sebenarnya, cinta seperti apa?
Pasti itu cinta dengan derajat yang lebih tinggi. Lantas, bagaimana sebenarnya derajat-derajat cinta ini? Mungkin saja derajat yang paling rendah adalah mencintai untuk dicintai. Apa aku mencintai Liyani hanya agar dia bisa membalas cintaku dan pada akhirnya cintaku padanya hanyalah cerminan dari betapa aku mencintai diri sendiri? Betapa rendahnya cinta seperti ini saat banyak kisah orang bunuh diri untuk menyusul mati orang yang dicintainya?
Rasa yang sebenarnya, dengan derajat yang lebih tinggi, apakah itu cinta dimana kita mencintai seadanya, tanpa pretensi, tanpa balas budi, tanpa mencintai diri sendiri. Sudah tentu ini adalah lebih baik, layak menjadi perjuangan untuk digapai oleh seorang pecinta, bisa jadi inilah yang dimaksudkan oleh lagu itu.
Tapi mungkin ada derajat yang lebih tinggi lagi, yaitu cinta kepada sang pencipta, dimana Rumi merasakan cintanya? Cinta jenis ini tentu saja punya derajat tinggi, mencintai oleh karena kita sudah diberi cinta sejak diciptakan. Cinta yang universal, cinta kehidupan dan pemberi kehidupan. Mungkin saja. Tapi, ah, jaman sekarang mana ada cinta yang kaya gini, ga relevan. Jadi, apa maksud lagu ini sebenarnya? Kurang ajar siah, bikin ribet pikiran aja… “
Randi bingung dengan sangat, tak mampu menjawab pasti tantangan yang diberikan padanya. Dia jadi termenung, melupakan rutinitasnya, dan justru memikirkan kembali rasa cintanya pada Liyani. Kenapa harus dia jatuh cinta padanya? kenapa dia harus mengungkapkannya? Dan kenapa dia berusaha keras agar bisa mendapatkan ungkapan yang sama dari Liyani? Bahkan setelah merumuskan bagaimana tingkatan-tingkatan dalam cinta, dia belum tau pada taraf mana dia mencintai, selain kenyataan bahwa dia belum berhasil menjawa tantangan dari Liyani.
Besok dia harus memberikan jawaban, namun belum ada jawaban pasti untuk diberikan demi mendengar jawaban yang diinginkan, bahkan dia tak bisa menjawab keraguannya terhadap dirinya sendiri yang secara tiba-tiba. Dia benar-benar butuh jawaban. Larut malam semakin melarutkan perenungan Randi, dia pun tertidur. Menyerahkan semua urusan pada cengkeraman hari esok, dari ketak berdayaan hari ini.
Pagi-pagi, saat hendak keluar untuk bertemu Liyani, si Dodon teman setianya datang tanpa diundang.
“Kemana aja lo men, ga pernah keliatan? Mo kemana lo? Gw nebeng istirahat dong, pengen baca buku baru nih.”
“Biasa bro, gw abis bertapa, sok aja ke dalam, tapi gw mo pergi dulu ketemu Liyani. Lo di dalam aja. Emang buku apaan nih, setebel Gaban?”
“Ini men, bukunya Eco, mantap nih, lo pernah tau interpretasi atas interpretasi? Nah, ini dia salah satu penganutnya, masa dia bilang penulis harusnya mati setelah menyelesaikan tulisannya, agar karnya bebas, bebas diinterpretasi tanpa campur tangan penulisnya”
Randi mengambil buku dari tangan Dodon, membaca sinopsisnya, membolak-balik sebentar, lalu tersenyum.
“Oke bro, thanks, gw tinggal bentar yak, anggap rumah sendiri.”
***
Beberapa saat kemudian di tempat dan waktu yang dijanjikan, Randi memulai penjelasannya pada Liyani.
“Yan, sebelumnya makasih banget kamu udah ngasih aku kesempatan buat ngartiin lagu ini, aku antara suka tidak juga sih nerimanya. Bahkan pada akhirnya aku cuma bisa menyimpulkan kaya gini. Apapun arti yang aku dapat, itu tak terlalu penting untuk kamu atau untuk semua orang, dalam benar atau salah. Karena teks puisi harusnya bebas dalam penafsiran, aku bisa ngartiin begini, kamu bisa begitu, dan orang lain bisa sebagaimana mereka mau. Karena itulah puisi jadi lebih indah, bagi setiap orang, tidak cuma bagi pengarangnya.
Liyani menyimak dengan serius, karena kali ini Randi terlihat serius, berbeda dari kebiasaannya. Randi lalu menceritakan apa yang dia tangkap dan pahami dari lagu sebenarnya cinta tersebut. Liyani hanya mendengarkan, sembari memberikan senyuman kecil yang manis.
“Lalu,” lanjut Randi, “Pada titik aku mengambil kesimpulan ini, aku udah menyimpulkan bagaimana seharusnya cinta yang sebenarnya, tapi aku masih belum tau aku punya cinta yang bagaimana. Dan rasanya ga adil, jika aku pengen kamu balas cinta aku, padahal aku sendiri masih meragukan pada taraf apa aku memiliki cinta. Jadi aku pengen, untuk sementara ini, anggap saja aku ga pernah ngomong cinta sama kamu.”
Randi menyudahi penjelasannya, seraya bangkit.
“Pulang yuk, aku tadi ditungguin temen di rumah.”
Liyani menatap dengan aneh, mukanya mendadak cemberut.
“Randi, tunggu!”